ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat Diterima: 28 April 2026 Direvisi: 12 Juni 2026 Dipublikasi: 26 Juni 2026 DOI: https://doi. org/10. 58518/darajat. PARADIGMA QURAoANI DALAM PENDIDIKAN INKLUSIF: TRANSFORMASI SIKAP PENDIDIK TERHADAP DIFABEL DALAM PERSPEKTIF SURAT ABASA Rendi Karyanto Universitas Sains Al-QurAoan. Indonesia rendisetiyawan84@gmail. Syafiq NiAoamillah Universitas Sains Al-QurAoan. Indonesia ahmadzaffi901@gmail. Ika Nisak Latifah Al-Ayasy Universitas Sains Al-QurAoan. Indonesia firdarachm@gmail. Shafira Ismi Marifah Novalia Universitas Sains Al-QurAoan. Indonesia rinashafira69@gmail. Hidayatu Munawaroh Universitas Sains Al-QurAoan. Indoensia hidayatumunawaroh@unsiq. Abstrak Pendidikan inklusif tidak hanya ditentukan oleh regulasi dan infrastruktur, tetapi sangat bergantung pada disposisi mental pendidik dalam memandang keberagaman peserta didik. Meskipun kerangka hukum telah menjamin kesetaraan akses bagi siswa difabel, praktik di lapangan masih menunjukkan dominasi medical model dan charity model yang berdampak pada marginalisasi terselubung melalui rendahnya ekspektasi akademik. Penelitian ini bertujuan mengkaji transformasi sikap pendidik melalui AuParadigma QuraniAy berbasis Surah AoAbasa. Metode yang digunakan adalah library research dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis, menggunakan sumber primer Surah AoAbasa ayat 1Ae16 serta tafsir otoritatif Tafsir Al-Misbah dan Tafsir Al-Azhar. Analisis data dilakukan melalui content analysis dan triangulasi sumber untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teguran ilahiah terhadap sikap tawalla . dalam Surah AoAbasa mengandung prinsip etis tentang kesetaraan akses ilmu tanpa diskriminasi. Nilai ini berfungsi sebagai dasar dekonstruksi terhadap bias kognitif pendidik terhadap peserta didik difabel. Transformasi sikap diwujudkan melalui penguatan peran pendidik sebagai murabbi yang mengintegrasikan nilai kasih sayang . l-rahma. dan keadilan . lAoad. , sebagaimana dikemukakan Abdullah Nashih Ulwan. Implementasinya meliputi komunikasi ramah difabel, adaptasi kurikulum, serta penciptaan lingkungan belajar yang Simpulan penelitian menegaskan bahwa internalisasi nilai Qurani mampu 67 Paradigma QurAoani dalam Pendidikan Inklusif. | Rendi Karyanto et. Darajat. Volume 9. Nomor 1. Juni 2026 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat membangun sistem pendidikan yang humanis, adil, dan bermartabat sebagai wujud nyata konsep tahdb. Kata Kunci: Murabbi. Paradigma Qurani. Pendidikan Inklusif. Sikap Pendidik. Surah AoAbasa. Transformasi. Abstract The success of inclusive education depends primarily on educatorsAo mental dispositions rather than regulatory compliance or infrastructure. Although legal frameworks guarantee equal access for students with disabilities and special talents, empirical evidence reveals persistent reliance on the medical and charity models, which contribute to subtle marginalization through low teacher expectations. This study employs a library research method with a qualitative descriptive-analytical approach to examine the transformation of teacher attitudes through a AuQurAoanic Paradigm. Ay The primary sources include Surah AoAbasa verses 1Ae 16, supported by Tafsir Al-Misbah (M. Quraish Shiha. and Tafsir Al-Azhar (Hamk. , analyzed using content analysis and source triangulation. The findings indicate that the divine reprimand in Surah AoAbasa, particularly regarding tawalla . urning awa. , offers a strong ethical basis for challenging cognitive biases and stigma toward the intellectual capacities of persons with disabilities. This perspective emphasizes that access to knowledge is universal and not determined by physical condition or social status. The transformation of educator attitudes is realized through their role as murabbi, integrating al-rahmah . and al-Aoadl . , as proposed by Abdullah Nashih Ulwan. Practically, this includes adaptive curricula, inclusive communication, and supportive classroom The study concludes that inclusive education reflects the concept of tahdb, prioritizing sincere intention . to create a just, dignified, and humanistic learning Keywords: Inclusive Education. Murabbi. QurAoanic Paradigm. Surah AoAbasa. Teacher Attitude Transformation PENDAHULUAN Pendidikan inklusif pada hakikatnya dapat dipahami sebagai suatu paradigma pendidikan yang menuntut adanya keterbukaan, penghargaan terhadap keberagaman, serta eliminasi berbagai hambatan yang berpotensi mengurangi hak setiap individu dalam memperoleh layanan pembelajaran yang bermutu. Dalam kerangka yuridis, pendidikan inklusif didefinisikan sebagai suatu sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan peluang setara bagi seluruh peserta didik, baik yang memiliki keterbatasan tertentu maupun yang menunjukkan potensi kecerdasan atau bakat istimewa, untuk belajar bersama dalam satu lingkungan pendidikan yang sama dengan peserta didik lainnya. Pergeseran menuju sistem pendidikan yang inklusif ini tidak hanya menuntut penyesuaian pada aspek manajerial maupun penyediaan sarana dan prasarana, tetapi juga mengharuskan adanya perubahan mendasar pada dimensi sikap dan cara pandang Dalam konteks ini, disposisi mental guru menjadi faktor kunci, karena sikap yang inklusif akan menentukan bagaimana interaksi pedagogis berlangsung secara adil dan bermakna bagi seluruh peserta didik tanpa terkecuali. Realitas empiris di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup nyata antara regulasi formal dengan praktik pembelajaran sehari-hari. Meskipun perangkat hukum telah dirancang untuk melindungi hak-hak peserta didik difabel, dalam praktiknya 1 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendikna. Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa. Pasal 1. 68 Paradigma QurAoani dalam Pendidikan Inklusif. | Rendi Karyanto et. Darajat. Volume 9. Nomor 1. Juni 2026 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat masih ditemukan kecenderungan sikap pendidik yang terjebak dalam perspektif medical model yang melihat difabel sebagai individu yang harus AudiperbaikiAy, atau charity model yang memosisikan mereka sebagai objek belas kasihan semata. 2 Situasi ini semakin kompleks dengan adanya orientasi pendidikan yang berfokus pada capaian akademik dan kompetisi, sehingga perhatian pendidik sering kali lebih diarahkan kepada siswa yang dianggap mampu meningkatkan reputasi institusi pendidikan. Akibatnya, peserta didik difabel kerap mengalami marginalisasi secara tidak langsung melalui apa yang dapat disebut sebagai Aupengabaian terselubungAy. Fenomena ini sejatinya mencerminkan sikap berpaling . dalam konteks modern, yang dalam kajian psikologi pendidikan diidentifikasi sebagai rendahnya ekspektasi terhadap kemampuan intelektual peserta didik 3 Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama pendidikan inklusif tidak semata terletak pada kebijakan, tetapi juga pada konstruksi kognitif dan afektif para Penilaian mendalam terhadap hambatan pelaksanaan pendidikan inklusif telah menjadi fokus dalam berbagai literatur terdahulu. Sebagai contoh. Smith . menegaskan bahwa kecemasan profesional serta tingkat efikasi diri yang dimiliki pendidik memegang peran krusial dalam menentukan keberhasilan integrasi siswa berkebutuhan khusus di kelas reguler. Meskipun demikian, mayoritas orientasi riset kontemporer masih tertuju pada paradigma sosiologis positivistik yang memandang perubahan perilaku pengajar secara mekanis. Kelemahan mendasar dari sudut pandang tersebut terletak pada ketidakmampuannya dalam menjangkau aspek keyakinan personal serta tatanan nilai substansial yang dianut oleh pendidik. Fenomena ini memicu lahirnya urgensi akademik yang nyata pada lokus domestik di Indonesia, berupa keterbatasan kajian empiris yang membedah bagaimana transformasi orientasi keguruan terbentuk melalui rekonstruksi nilai transendental berbasis wahyu Al-Qur'an. Keterbatasan teoretis dalam ruang lingkup ilmiah tersebut setidaknya menyisakan dua problematik utama yang luput dari perhatian para ahli sebelumnya. Faktor pertama berkaitan dengan reduksi konseptual yang memosisikan komitmen inklusi guru hanya sebagai bentuk ketundukan formal terhadap kebijakan birokrasi ataupun akumulasi kecakapan praktis pascapelatihan. Pola pikir ini mengesampingkan eksistensi dimensi spiritualitas, etika, dan religiositas pendidik Muslim yang sebenarnya menjadi fondasi utama dalam setiap tindakan instruksional di kelas. Faktor kedua menunjukkan bahwa kajian terdahulu belum berhasil merumuskan formulasi berbasis teo psikologis guna mengikis perilaku tawalla atau penolakan implisit serta bias kognitif yang bersumber dari cara pandang medis maupun santunan . edical dan charity mode. Melalui studi ini, celah tersebut dianalisis secara komprehensif dengan meneliti proses penanaman makna ayat Al-Qur'an sebagai instrumen baru untuk mereformasi domain kognisi sekaligus afeksi para Kondisi riil menunjukkan bahwa proses adopsi nilai keagamaan bagi seorang pendidik Muslim memegang kekuatan stimulasi yang jauh lebih masif dalam menggerakkan evolusi perilaku. Kekuatan internal ini melampaui efektivitas instruksi birokrasi ataupun program peningkatan kompetensi yang bersifat prosedural dan formalitas semata. Hubungan etis tersebut menegaskan bahwa pendidikan Islam pada hakikatnya tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan sikap yang tercermin dalam perilaku sehari-hari peserta didik. Penanaman nilai-nilai 2 David J. Smith. Inclusion: Schools for All Students, terj. Enrica (Jakarta: Erlangga, 2. , 145Ae48. 3 Aniza Fitri. AuAnalisis Persepsi Guru terhadap Kemampuan Akademik Peserta Didik Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusi,Ay Jurnal Psikologi dan Pendidikan 12, no. : 210. 69 Paradigma QurAoani dalam Pendidikan Inklusif. | Rendi Karyanto et. Darajat. Volume 9. Nomor 1. Juni 2026 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat religius melalui pembiasaan menjadi salah satu strategi efektif dalam membentuk karakter peserta didik secara berkelanjutan. 4 Transformasi sikap pendidik dalam pendidikan inklusif juga memerlukan pendekatan kontekstual yang berorientasi pada nilai-nilai Guru memiliki peran sentral dalam membentuk karakter peserta didik melalui interaksi yang menghargai keberagaman dan kebutuhan individu, termasuk peserta didik penyandang disabilitas. 5 Dalam perspektif QS. 'Abasa ayat 1Ae10, sikap menghargai individu yang memiliki keterbatasan fisik memperoleh legitimasi teologis yang Teguran Allah kepada Nabi Muhammad SAW ketika mengabaikan Abdullah bin Ummi Maktum menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki hak yang sama untuk memperoleh perhatian, pendidikan, dan penghormatan. Oleh karena itu, paradigma Qur'ani dalam pendidikan inklusif menuntut transformasi sikap pendidik dari pendekatan eksklusif menuju pendekatan yang lebih humanis, empatik, dan nondiskriminatif. Berdasarkan latar belakang itu, penelitian ini penting dan relevan karena berusaha untuk membangun kembali apa yang bisa disebut sebagai Auparadigma QuraniAy dalam pendidikan yang inklusif. Fokus utama dari penelitian ini adalah untuk membongkar bias berpikir yang sering dimiliki oleh pendidik, yang sering kali meremehkan kemampuan siswa dengan disabilitas. Selain itu, penelitian ini juga menawarkan pandangan lain yang berdasarkan pada nilai-nilai yang ada dalam Al-QurAoan. Dengan menggunakan Surah AoAbasa sebagai dasar pemikiran, penelitian ini bertujuan untuk mengubah cara pandang para pendidik dari pandangan yang eksklusif dan diskriminatif ke arah pendekatan yang lebih inklusif, manusiawi, dan adil. Secara teori, penelitian ini memberikan sumbangan ilmiah yang baru dengan menciptakan model teo-pedagogis yang inklusif. Studi ini berhasil menghubungkan teks-teks teologis dari tafsir Surah 'Abasa dengan kenyataan psikologis yang berkaitan dengan cara berpikir dan perasaan pendidik di sekolah inklusi. Integrasi antar disiplin ilmu ini mengisi celah di dunia akademik yang masih sedikit dilakukan dalam kajian Pendidikan Agama Islam. Selain itu, sumbangan praktis dari artikel ini adalah memberikan peta jalan yang jelas untuk mengubah kesadaran para pendidik dengan cara yang bisa diukur. Peta jalan ini mengubah teguran ilahi yang berfokus pada Tuhan menjadi langkah-langkah untuk membuat pendidikan lebih manusiawi dan dapat diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari. Selain itu, peta jalan ini juga menjadi acuan ilmiah bagi para pembuat kebijakan dalam merancang kurikulum pelatihan guru yang menekankan penguatan karakter yang lebih mendalam. Artikel ini tidak hanya berusaha menjelaskan konsep pendidikan inklusif secara filosofis, tetapi juga menggambarkan langkah-langkah perubahan yang bisa dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar sehari-hari. Dengan begitu, siswa yang memiliki disabilitas dapat diperlakukan dengan setara, bermartabat, dan dihargai sebagai bagian penting dari komunitas belajar. Dalam konteks tersebut. Surah AoAbasa memiliki relevansi yang sangat penting sebagai kerangka analisis sekaligus sumber nilai dalam mentransformasi paradigma pendidikan. Secara historis, surah ini memuat teguran ilahiah yang tegas terhadap Nabi Muhammad SAW ketika beliau, dalam situasi tertentu, menunjukkan ekspresi kurang berkenan dan berpaling dari Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat tunanetra yang memiliki semangat tinggi untuk belajar. 6 Teguran ini tidak hanya bersifat personal, melainkan mengandung pesan universal tentang prinsip keadilan dan kesetaraan dalam proses 4 Muhammad Faiq Muizzuddin dan Nur Hakim. AuUpaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Tanggung Jawab Siswa melalui Pendekatan Kontekstual di MA Tarbiyatul Wathon,Ay Darajat: Jurnal Pendidikan Agama Islam 8, no. : 174Ae81 5 Keivin Suheri Widianto. AuPenanaman Nilai-Nilai Karakter Religius melalui Kegiatan Pembiasaan di MTs Ma'arif Darul Afkar,Ay Darajat: Jurnal Pendidikan Agama Islam 8, no. : 168Ae73 6 M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah: Pesan. Kesan, dan Keserasian Al-Qur'an, vol. 15 (Jakarta: Lentera Hati, 2. , 56Ae58. 70 Paradigma QurAoani dalam Pendidikan Inklusif. | Rendi Karyanto et. Darajat. Volume 9. Nomor 1. Juni 2026 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat Allah SWT menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kondisi fisik maupun status sosial, melainkan oleh kesungguhan hati dan kesiapan untuk menerima pelajaran . Dengan demikian, ayat-ayat awal Surah AoAbasa dapat dipahami sebagai landasan etis yang menegaskan pentingnya sikap inklusif dalam interaksi pedagogis, sekaligus sebagai kritik terhadap segala bentuk diskriminasi yang bersifat halus maupun terbuka dalam praktik pendidikan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini menjadi relevan dan signifikan karena berupaya membangun kembali apa yang dapat disebut sebagai Auparadigma QuraniAy dalam pendidikan inklusif. Fokus utama kajian ini adalah melakukan dekonstruksi terhadap bias kognitif pendidik yang kerap meremehkan potensi peserta didik difabel, serta menawarkan perspektif alternatif yang berakar pada nilai-nilai Al-QurAoan. Dengan menjadikan Surah AoAbasa sebagai pijakan konseptual, penelitian ini bertujuan untuk menggeser cara pandang pendidik dari paradigma eksklusif dan diskriminatif menuju pendekatan yang lebih inklusif, humanis, dan berkeadilan. Lebih jauh, artikel ini tidak hanya berupaya merumuskan konsep pendidikan inklusif pada tataran filosofis, tetapi juga memetakan langkah-langkah transformasi yang dapat diimplementasikan oleh pendidik dalam praktik pembelajaran sehari-hari, sehingga peserta didik difabel dapat diperlakukan secara setara, bermartabat, dan penuh penghormatan sebagai bagian integral dari komunitas belajar. METODE Metode penelitian yang diterapkan dalam artikel ini merupakan penelitian kepustakaan . ibrary researc. , yakni suatu rangkaian aktivitas ilmiah yang berfokus pada pengumpulan, penelaahan, pencatatan, serta pengolahan berbagai sumber literatur tanpa melibatkan pengumpulan data secara langsung di lapangan. 7 Pendekatan yang digunakan bersifat kualitatif dengan corak deskriptif-analitis, di mana peneliti tidak hanya mendeskripsikan konsep pendidikan inklusif secara komprehensif, tetapi juga mengkaji dan menafsirkannya secara kritis dengan menjadikan Surah AoAbasa sebagai kerangka analisis utama. Melalui pendekatan ini, penelitian diarahkan untuk menggali dimensi konseptual sekaligus nilai-nilai normatif yang terkandung dalam teks-teks otoritatif, sehingga mampu memberikan jawaban yang lebih mendalam terhadap persoalan sikap pendidik terhadap peserta didik difabel sebagaimana telah diuraikan pada bagian latar Dengan demikian, metode ini tidak sekadar bersifat deskriptif, melainkan juga interpretatif dan reflektif dalam merumuskan landasan filosofis pendidikan inklusif. Sumber data dalam penelitian ini dibedakan ke dalam dua jenis utama, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder yang saling melengkapi satu sama lain. Sumber data primer merujuk langsung pada Al-QurAoan, dengan penekanan khusus pada Surah AoAbasa ayat 1Ae16 sebagai fokus utama kajian, serta didukung oleh kitab-kitab tafsir yang memiliki otoritas akademik, seperti Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab yang menawarkan perspektif kontekstual-kontemporer, dan Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka yang memberikan pendekatan sosiologis sekaligus pedagogis. 8 Di sisi lain, sumber data sekunder meliputi berbagai literatur pendukung seperti buku teks tentang pendidikan inklusif, artikel jurnal ilmiah bereputasi yang membahas pedagogi difabel, dokumen kebijakan terkait penyelenggaraan pendidikan inklusif di Indonesia, serta hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan isu transformasi sikap pendidik. Keberadaan sumber sekunder ini tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi juga sebagai landasan untuk memperkuat argumentasi, mengidentifikasi kesenjangan penelitian, serta memberikan 7 Mestika Zed. Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2. , 3. 8 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2. , 213. 71 Paradigma QurAoani dalam Pendidikan Inklusif. | Rendi Karyanto et. Darajat. Volume 9. Nomor 1. Juni 2026 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat konteks akademik yang lebih luas terhadap analisis yang dilakukan dalam penelitian ini. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode dokumentasi, yaitu dengan cara menelusuri, mengumpulkan, dan mengorganisasi berbagai dokumen serta literatur yang memiliki keterkaitan erat dengan fokus penelitian, khususnya yang berkaitan dengan konsep AuParadigma QuraniAy. AuPendidikan InklusifAy, dan AuSikap PendidikAy. Setelah seluruh data terkumpul secara sistematis, tahap berikutnya adalah melakukan analisis data dengan menggunakan teknik analisis isi . ontent analysi. dan analisis 9 Dalam proses ini, peneliti melakukan pembacaan intensif . lose readin. terhadap teks Surah AoAbasa guna mengidentifikasi pesan-pesan utama yang berkaitan dengan interaksi antara pendidik dan peserta didik. Selanjutnya, dilakukan proses reduksi data dengan menyeleksi konsep-konsep yang relevan, diikuti dengan tahap interpretasi untuk mengaitkan makna teks dengan realitas pendidikan inklusif kontemporer, khususnya dalam menghadapi tantangan abad ke-21. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menerapkan teknik triangulasi sumber, yaitu dengan membandingkan berbagai penafsiran keagamaan dan teori pendidikan yang berbeda, sehingga diperoleh kesimpulan yang lebih objektif, valid, dan komprehensif terkait transformasi sikap pendidik dalam konteks pendidikan inklusif PEMBAHASAN Analisis Surah Abasa Gambar 1 Surah Abasa Ayat 1-10. Artinya: Dia (Muhamma. berwajah masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta Tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya . ari dos. , atau dia . mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada . atasmu kalau dia tidak membersihkan diri . Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera . ntuk mendapatkan pengajara. , sedang dia takut kepada Allah, maka kamu mengabaikannya. Pandangan para mufasir dalam Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Al-Misbah menunjukkan adanya dinamika interpretasi terhadap kandungan Surah AoAbasa, khususnya ayat 1Ae11, yang sangat relevan bila ditarik ke dalam konteks pendidikan inklusif masa kini. Buya Hamka dan M. Quraish Shihab sebagai penafsir utama menghadirkan perspektif yang dalam beberapa aspek memiliki kesamaan visi humanis, namun pada sisi lain memperlihatkan perbedaan penekanan metodologis. Perbedaan tersebut tidak dapat dilepaskan dari latar belakang keilmuan, pengalaman intelektual, serta pendekatan sosiokultural yang digunakan oleh masing-masing mufasir. Variasi penafsiran ini justru Klaus Krippendorff. Content Analysis: An Introduction to Its Methodology (Thousand Oaks: Sage Publications, 2. , 45Ae50. 72 Paradigma QurAoani dalam Pendidikan Inklusif. | Rendi Karyanto et. Darajat. Volume 9. Nomor 1. Juni 2026 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat memperkaya khazanah pemikiran Islam dalam membaca nilai-nilai inklusivitas, di mana Al-QurAoan diposisikan sebagai sumber utama yang memiliki dimensi makna luas dan terbuka untuk ditafsirkan secara kontekstual sesuai kebutuhan zaman. 10 Keluasan makna tersebut kemudian membawa kajian ini pada penelusuran struktur spesifik dari wahyu yang menjadi dasar teologis inklusivitas dimaksud melalui refleksi kesadaran kemanusiaan pada ayat 1Ae4. Surah AoAbasa sendiri merupakan surah Makkiyah yang terdiri dari 42 ayat, namun fokus kajian ini terletak pada ayat 1Ae11 karena muatan teologisnya yang mengkritik bias kognitif pendidik. Surah ini memuat istilah penting seperti as-safarah yang merujuk pada pembawa pesan ilahi, serta al-aAoma . i but. yang menggambarkan individu dengan keterbatasan fisik. Analisis terhadap ayat 1Ae4 mengupas pentingnya menghilangkan "pengutamaan" atau bias terhadap seseorang berdasarkan status sosial maupun kondisi Kandungan surah ini secara implisit memberikan dorongan kepada setiap individu untuk terus mengoptimalkan potensi diri melalui pendidikan sejak dini hingga sepanjang Pesan ini menegaskan bahwa proses pendidikan tidak dibatasi oleh kondisi fisik, melainkan merupakan kewajiban berkelanjutan yang menuntut pendidik untuk memiliki kesadaran kemanusiaan yang utuh dalam menerima setiap peserta didik. Dalam perspektif pendidikan Islam, aktivitas menuntut ilmu memiliki nilai spiritual yang tinggi dan disejajarkan dengan fi sabilillah, sehingga aktivitas ini bukan sekadar proses intelektual melainkan ibadah yang memiliki implikasi moral. Surah AoAbasa mempertegas prinsip kesetaraan dan keadilan akses . yat 5Ae. dengan mengkritisi kecenderungan pendidik yang terkadang hanya berfokus pada peserta didik yang "dianggap unggul" secara sosial atau kognitif dan mengabaikan mereka yang membutuhkan perhatian khusus. Prinsip ini menjadi fondasi utama dalam konsep pendidikan inklusif yang menolak segala bentuk diskriminasi. Ketegasan mengenai kesetaraan hak ini menjadi semakin nyata apabila menelaah sosok Abdullah bin Ummi Maktum sebagai subjek historis yang memicu turunnya teguran ilahi tersebut, yang menekankan bahwa hak atas ilmu adalah hak prerogatif setiap manusia tanpa terkecuali. Menurut penafsiran M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah. Surah AoAbasa kerap dikaitkan erat dengan Ibnu Ummi Maktum sebagai simbol kaum marginal yang memiliki ghirah . belajar yang tinggi. Penamaan "Abasa" yang berarti Aubermuka masamAy mencerminkan kritik terhadap ekspresi psikologis pendidik yang mungkin tidak disadari namun berdampak pada mentalitas peserta didik difabel. Teguran Allah SWT dalam peristiwa ini mengandung hikmah mendalam mengenai larangan membeda-bedakan manusia berdasarkan aspek lahiriah. Hal ini mengarahkan pada pentingnya empati dan penghormatan martabat . yat 8Ae. , di mana esensi mendidik harus dilandasi dengan semangat kasih sayang tanpa memandang keterbatasan fisik. Nilai seseorang di hadapan Allah tidak ditentukan oleh fisik, melainkan oleh kualitas iman dan kesungguhannya dalam mencari kebenaran. Implementasi manajemen pendidikan inklusif dalam perspektif ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak dapat direduksi semata-mata sebagai proses mekanistik 10 Moh. Sofwan. AuPendidikan Inklusif dalam Al-Qur'an (Telaah Surat 'Abasa Ayat 1Ae16 dalam Tafsir Al-Azhar dan Al-Misba. Ay . Pascasarjana, 2. , 42Ae45. 11 Maisura. Maitanur, dan Muhammad Syahrial Razali Ibrahim Implementasi Manajemen Pendidikan Inklusif dalam Perspektif Tafsir Al-Mishbah Q. 'Abasa Ayat 1Ae10. Jurnal Pendas - Journal Unpas 11, no. 1 (Januari 2. : 112. 12 Muh Anshori dan Abdul Ghofur Nilai Pendidikan Islam dalam Kisah Ibnu Ummi Maktum (Telaah QS 'Abasa Ayat 1Ae. ,Ay Jurnal Al-Fikrah 5, no. : 78. 13 M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah: Pesan. Kesan, dan Keserasian Al-Qur'an, vol. 15 (Jakarta: Lentera Hati, 2. , 58Ae60. 73 Paradigma QurAoani dalam Pendidikan Inklusif. | Rendi Karyanto et. Darajat. Volume 9. Nomor 1. Juni 2026 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat penyampaian materi, melainkan sebagai arena internalisasi nilai kemanusiaan. Berdasarkan analisis asbabun nuzul dalam Tafsir Al-Azhar. Hamka menyebutkan tokohtokoh terpandang seperti Utbah bin RabiAoah dan Abu Jahal yang saat itu menjadi fokus perhatian Nabi, sementara Quraish Shihab menambahkan kemungkinan al-Walid ibn Mughirah. Terlepas dari perbedaan tokohnya, keduanya sepakat bahwa pengabaian terhadap individu difabel demi mengejar tokoh yang dianggap "berpengaruh" adalah tindakan yang dikoreksi secara total oleh wahyu. Hal ini memberikan pelajaran bagi pendidik modern bahwa keberpihakan harus diberikan kepada mereka yang datang dengan kesungguhan, bukan mereka yang memiliki status sosial tinggi. Pada akhirnya. QS AoAbasa menghadirkan pesan pendidikan yang melampaui konteks historisnya menjadi sebuah landasan normatif bagi pendidikan inklusif universal. Peristiwa ini menuntut sistem pendidikan untuk terbebas dari stigma, prasangka, serta praktik eksklusi dalam segala bentuknya. Dari sini lahir nilai-nilai pendidikan seperti kesetaraan, inklusivitas, koreksi diri, serta pengakuan terhadap kapasitas epistemik penyandang disabilitas. Pendidikan inklusif dalam kacamata Qurani bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan manifestasi dari tahdb . enyempurnaan akhla. pendidik untuk menjunjung tinggi martabat manusia dan memiliki sensitivitas terhadap kelompok yang sering terpinggirkan, sehingga tercipta lingkungan belajar yang adil bagi semua peserta didik. Transformasi Sikap Pendidik Dalam pandangan Abdullah Nashih Ulwan, pendidik diposisikan sebagai seorang murabbi, yakni figur yang tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi berperan aktif dalam membina dan mengembangkan kepribadian anak secara utuh. Tugas utama seorang murabbi adalah menumbuhkan karakter peserta didik melalui pendekatan yang berlandaskan kasih sayang . l-rahma. dan keadilan . l-Aoad. Pergeseran paradigma ini menuntut pendidik untuk mengubah pola pikir . dari sekadar "mengasihani" yang bersifat charity-based menjadi sikap "menghargai" yang berbasis pada hak asasi manusia . uman-rights base. Dengan demikian, relasi antara pendidik dan peserta didik tidak bersifat mekanistik, melainkan humanis dan penuh empati. Pendidik dituntut untuk memahami kondisi psikologis, sosial, dan spiritual anak, sehingga proses pendidikan menjadi sarana pembentukan manusia yang berakhlak, bukan sekadar individu yang cakap secara intelektual. Konsep pendidikan berbasis kasih sayang . t-tarbiyah bi al-rahma. menjadi salah satu pilar utama dalam pemikiran Ulwan yang sangat relevan dengan praktik pedagogis Ia menegaskan bahwa kasih sayang bukan sekadar pelengkap, melainkan instrumen esensial dalam proses mendidik untuk menciptakan iklim kelas yang inklusif secara psikologis dan sosial. Dalam konteks pendidikan inklusif, perhatian yang diberikan kepada peserta didik difabel merupakan manifestasi dari tanggung jawab moral untuk memenuhi hak anak atas rasa aman dan penghargaan. Kasih sayang yang tulus berperan penting dalam membangun kepercayaan diri peserta didik difabel, sehingga potensi perasaan rendah diri dapat diubah menjadi motivasi untuk berkembang. Dimensi afektif ini menjadi krusial dalam mendukung aksesibilitas psikologis bagi siswa yang memiliki keterbatasan fisik. Selain aspek afektif. Ulwan menekankan pentingnya prinsip keadilan dalam 14 Hamka. Tafsir Al-Azhar, jil. 10 (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1. , 7945. 15 Sofwan. AuPendidikan Inklusif dalam Al-Qur'an,Ay 89. 16 Abdullah Nashih Ulwan. Tarbiyatul Aulad fil Islam, jil. 1 (Kairo: Darus Salam, 1. , 155. 17 AuTransformasi Nilai Keagamaan Islam untuk Mendukung Aksesibilitas Pendidikan Inklusif,Ay Jurnal Social Studies in Education (UINSA). Vol. No. , hal. 74 Paradigma QurAoani dalam Pendidikan Inklusif. | Rendi Karyanto et. Darajat. Volume 9. Nomor 1. Juni 2026 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat menghapus stigma dan diskriminasi melalui komunikasi yang menghargai dan ramah Ia secara tegas menolak praktik pilih kasih . l-muhabbat al-mutaqashira. yang menciptakan ketimpangan perlakuan. Dalam kerangka pendidikan inklusif, keadilan berarti memberikan akses, kesempatan, serta perhatian yang proporsional kepada seluruh siswa tanpa memandang latar belakang fisik mereka. Pendidik dituntut memandang keberagaman sebagai sunnatullah dan secara aktif menghilangkan label negatif atau stigma di lingkungan sekolah. Implementasi nilai ini menuntut pendidik untuk mewujudkan keadilan bukan hanya secara normatif, tetapi dalam praktik nyata pembelajaran seharihari yang menjamin setiap anak dapat berpartisipasi penuh dalam interaksi sosial di Transformasi sikap ini kemudian harus bermuara pada adaptasi kurikulum yang menghormati keberagaman kemampuan peserta didik. Ulwan menekankan bahwa setiap anak memiliki fitrah dan potensi unik yang harus dikembangkan secara optimal, sehingga fokus pendidik harus bergeser dari "kekurangan" menuju "kemampuan". Secara praktis, hal ini diwujudkan melalui modifikasi kurikulum, seperti memecah materi menjadi bagianbagian kecil yang mudah dipahami serta penggunaan media bantu audio-visual bagi siswa Pendidik perlu merancang strategi pembelajaran yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan individu, sehingga setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai kapasitasnya. Dengan demikian, pendidikan inklusif berfungsi sebagai wahana pemberdayaan manusia secara holistik yang menggabungkan nilai keagamaan dengan aksesibilitas pendidikan yang nyata. KESIMPULAN Pendidikan inklusif dalam praktiknya kerap menghadapi hambatan yang bersumber dari ketidaksesuaian antara regulasi formal dengan kondisi psikologis dan cara pandang pendidik yang masih mengandung bias. Meskipun kebijakan telah dirancang untuk menjamin kesetaraan akses pendidikan, implementasinya sering kali belum optimal karena adanya paradigma lama yang belum sepenuhnya berubah. Berdasarkan pendekatan penelitian kepustakaan, dapat dipahami bahwa perubahan sikap pendidik tidak cukup dicapai melalui instruksi administratif semata, melainkan membutuhkan transformasi paradigma yang lebih mendalam dan berakar pada nilai-nilai transendental. Transformasi ini menjadi penting untuk menggeser cara pandang terhadap peserta didik difabel, dari yang semula diposisikan sebagai objek belas kasihan menjadi subjek pendidikan yang memiliki hak, potensi, dan martabat yang setara dalam proses Kajian terhadap Surah AoAbasa memberikan fondasi etis yang kuat dalam membangun paradigma pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Teguran Allah SWT terhadap sikap eksklusivitas dan pengabaian yang tercermin dalam perilaku AuberpalingAy dan Aubermuka masamAy mengandung pesan universal yang melampaui konteks historisnya. Paradigma Qurani yang terkandung dalam surah ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kondisi fisik maupun status sosial, melainkan oleh kesungguhan hati dalam menerima dan mengamalkan ilmu. Dengan demikian. Surah AoAbasa berfungsi sebagai instrumen kritis untuk mendekonstruksi stigma serta bias kognitif yang masih melekat dalam praktik pendidikan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mendorong terciptanya sistem pendidikan yang memberikan akses setara bagi setiap individu, tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun. 18 Abdullah Nashih Ulwan. Tarbiyatul Aulad fil Islam, op. , hal. Muhammad Syahrial Razali Ibrahim. AuImplementasi Manajemen Pendidikan Inklusif dalam Perspektif Tafsir Al-Mishbah QS AoAbasa Ayat 1Ae10,Ay Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 10, no. : 234Ae47. 75 Paradigma QurAoani dalam Pendidikan Inklusif. | Rendi Karyanto et. Darajat. Volume 9. Nomor 1. Juni 2026 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat Lebih lanjut, transformasi sikap pendidik diwujudkan melalui penguatan peran sebagai murabbi, yakni pendidik yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membina kepribadian peserta didik secara menyeluruh. Peran ini menuntut integrasi nilai kasih sayang . l-rahma. dan keadilan . l-Aoad. sebagaimana dikemukakan oleh Abdullah Nashih Ulwan. Dalam implementasi praktis, nilai-nilai tersebut tercermin melalui penggunaan komunikasi yang ramah terhadap peserta didik difabel, penciptaan lingkungan kelas yang inklusif dan suportif, serta pengembangan kurikulum yang adaptif terhadap keberagaman potensi dan kebutuhan peserta didik. Pada akhirnya, pendidikan inklusif dapat dipahami sebagai manifestasi dari konsep tahdb, yaitu upaya penyempurnaan akhlak dalam membangun sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, keadilan, dan pemberdayaan seluruh peserta didik secara holistik. DAFTAR PUSTAKA