Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Savitri dkk. , 2025 ANALISIS KETAHANAN PANGAN DAN STRATEGI BERTAHAN HIDUP RUMAH TANGGA NELAYAN DI KABUPATEN PURWOREJO Nurul Savitri. Sri Marwanti. Amalia Nadifta Ulfa. Fakultas Pertanian. Jurusan Agribisnis. Universitas Sebelas Maret Surakarta. Jl. Ir. Sutami No. Kentingan Surakarta 57126. Telp . 637457, *corresponding author: nurulsavitri914@student. * Received for review January 16, 2025 Accepted for publication February 7, 2025 Abstract Food security is a condition where a person can access sufficient, safe and nutritious food to meet daily nutritional needs. Not everyone can meet their food needs, especially poor households such as fishing households. This makes survival strategies important for everyone. The purpose of this study was to determine the amount of food expenditure towards the total expenditure of fishermen's households, calculate the amount of energy consumption of fishermen's households, analyze the food security conditions of fishermen's households, and determine the survival strategies of fishermen's households. The basic method of this research is descriptive method. The research location is in Purworejo Regency. The sample determination method is purposive sampling. The types of data used are primary and secondary data. Data collection methods are observation, interviews, recall, and recording. Data analysis methods are . Analysis of the Proportion of Food Consumption to Total Household Expenditures. Analysis of Energy Consumption Levels. Food Security Analysis. Survival Strategy Analysis. The results of this research are that the proportion of food expenditure by fishermen households in Purworejo Regency is quite good, namely 55% A good level of food expenditure proportion is less than 60%. Fisherman household energy consumption in Purworejo Regency is in the medium category, namely 88,95%. The food security conditions of fishing households in Purworejo Regency are 56,82% food security, 40,91% food vulnerability, 2,27% food shortage, 0% food insecurity. The survival strategies applied are an active strategy by having a side job, and a networking strategy by asking for help from other parties. Keywords: FishermenAos households, food security, survival strategies Abstrak Ketahanan pangan merupakan suatu kondisi seseorang dapat mengakses pangan yang cukup, aman, dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan gizi harian. Tidak semua orang dapat memenuhi kebutuhan pangan mereka, apalagi untuk rumah tangga miskin seperti rumah tangga nelayan. Hal itu membuat strategi bertahan hidup sangat penting diterapkan oleh setiap orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya pengeluaran pangan terhadap total pengeluaran rumah tangga nelayan, menghitung besarnya konsumsi energi rumah tangga nelayan, menganalisis kondisi ketahanan pangan rumah tangga nelayan, dan mengetahui strategi bertahan hidup rumah tangga Metode dasar penelitian ini yaitu metode deskriptif. Lokasi penelitian berada di Kabupaten Purworejo. Metode penentuan sampel yaitu purposive sampling. Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, recall, dan Metode analisis data yaitu . Analisis Proporsi Konsumsi Pangan terhadap Total Pengeluaran Rumah Tangga. Analisis Tingkat Konsumsi Energi. Analisis Ketahanan Pangan. Analisis Strategi Bertahan Hidup. Hasil dari penelitian ini yaitu proporsi pengeluaran pangan rumah tangga nelayan di Kabupaten Purworejo sudah cukup baik, yaitu sebesar 55%. Tingkat proporsi pengeluaran pangan yang baik adalah sebesar kurang dari 60%. Konsumsi energi rumah tangga nelayan di Kabupaten Purworejo masuk dalam kategori sedang, yaitu sebesar 88,95%. Kondisi ketahanan pangan rumah tangga nelayan di Kabupaten Purworejo yaitu tahan pangan 56,82%, rentan pangan 40,91%, kurang pangan 2,27%, dan rawan pangan 0%. Strategi bertahan Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Savitri dkk. , 2025 hidup yang diterapkan yaitu strategi aktif dengan memiliki pekerjaan sampingan, dan strategi jaringan dengan meminta bantuan kepada pihak lain. Kata kunci: Ketahanan pangan, rumah tangga nelayan, strategi bertahan hidup Copyright A 2025 The Author. This is an open access article under the CC BY-SA license PENDAHULUAN Pangan merupakan suatu kebutuhan dasar bagi seluruh masyarakat supaya dapat bertahan Pembangunan pangan dan gizi yang ada di Indonesia sangat erat kaitannya dengan perwujudan ketahanan pangan. Pengertian ketahanan pangan menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 adalah suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik dari jumlah maupun mutu, aman, beragam, bergizi, merata, terjangkau dan tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Ada beberapa aspek yang membentuk ketahanan pangan, yaitu ketersediaan pangan, aksesibilitas pangan, dan pemanfaatan pangan (Hidayat et al. , 2. Aspek-aspek tersebut sangat penting dalam ketahanan pangan, karena apabila salah satu aspek tidak tercapai, maka ketahanan pangan belum dapat diwujudkan. Ketahanan pangan menjadi salah satu topik penting bagi Indonesia karena ketahanan pangan memiliki keterkaitan dengan bidang sosial, ekonomi, dan politik. Menurut Salasa . , ketahanan pangan selalu menjadi isu dalam pembangunan negara Indonesia dari zaman orde lama, orde baru, hingga masa sekarang. Indonesia berada pada peringkat 63 dari 113 negara dengan skor 60,2 berdasarkan penilaian skor ketahanan pangan Global Food Security Index (GFSI) tahun Peringkat tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, bahkan Indonesia masih di bawah beberapa negara di Asia Tenggara seperti Singapura dengan skor 73,1. Malaysia dengan skor 69,9. dan Vietnam dengan skor 67,9. Indeks Ketahanan Pangan (IKP) nasional memiliki peranan yang sangat strategis dalam mengukur capaian pembangunan ketahanan pangan di suatu wilayah. IKP nasional disusun dengan tujuan untuk mengevaluasi capaian ketahanan pangan dan gizi wilayah kabupaten/kota dan provinsi, serta memberikan gambaran peringkat pencapaian ketahanan pangan wilayah kabupaten/kota dan provinsi dibandingkan dengan wilayah kabupaten/kota dan provinsi lain. Provinsi Jawa Tengah termasuk dalam tiga besar provinsi dengan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) yang baik di Indonesia, yang dinilai berdasarkan aspek ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, dan pemanfaatan pangan. Skor tersebut didapatkan dari rata-rata IKP kabupaten atau kota yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Purworejo merupakan salah satu kabupaten yang masuk ke dalam wilayah Eks Karesidenan Kedu yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Purworejo merupakan salah satu penghasil ikan tangkap laut di Provinsi Jawa Tengah. Hal ini disebabkan karena letak Kabupaten Purworejo yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, sehingga sebagian Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Savitri dkk. , 2025 penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Tingkat kesejahteraan nelayan sangat ditentukan oleh hasil tangkapan. Hasil tangkapan tersebut mempengaruhi besarnya pendapatan yang diterima oleh nelayan supaya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Vibriyanti . mengungkapkan bahwa pendapatan merupakan salah satu komponen yang dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan seseorang atau sebuah rumah tangga. Tidak semua masyarakat mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan. Hal itu membuat strategi bertahan hidup sangat penting untuk diterapkan oleh setiap masyarakat. Azhar dan Bengkel . mengungkapkan bahwa strategi bertahan hidup terbagi menjadi tiga, yaitu strategi aktif, pasif, dan strategi jaringan. Strategi aktif merupakan strategi yang menggunakan semua potensi yang dimiliki oleh setiap individu. Strategi pasif lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dibandingkan dengan keinginan. Strategi jaringan merupakan strategi untuk mengetahui darimana individu memperoleh uang atau kebutuhan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengeluaran pangan terhadap total pengeluaran rumah tangga nelayan di Kabupaten Purworejo, menghitung besarnya konsumsi energi rumah tangga nelayan di Kabupaten Purworejo, menganalisis kondisi ketahanan pangan rumah tangga nelayan di Kabupaten Purworejo, dan mengetahui strategi bertahan hidup rumah tangga nelayan di Kabupaten Purworejo. BAHAN DAN METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Lokasi pada penelitian ini berada di Kabupaten Purworejo. Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Purworejo dipilih secara sengaja . dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Purworejo berbatasan langsung dengan Samudera Hindia sehingga sebagian penduduknya bekerja sebagai nelayan yang dapat dijadikan responden dalam penelitian ini. Sampel nelayan dalam penelitian ini yaitu sebanyak 44 nelayan. Pengampilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan pertimbangan sampel judgment sampling. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data Metode pengumpulan data pada penelitian ini yaitu observasi, wawancara, recall, dan Analisis pertama yang dilakukan yaitu menghitung proporsi pengeluaran konsumsi pangan terhadap total pengeluaran rumah tangga yang dinyatakan dengan rumus berikut: PF = ycU 100% Keterangan: : Proporsi pengeluaran pangan (%) : Pengeluaran untuk belanja pangan (Rp/bula. : Total pengeluaran rumah tangga (Rp/bula. (Rejeki et al. , 2. Proporsi pengeluaran pangan rumah tangga digunakan untuk menganalisis ketahanan pangan rumah tangga dalam klasifikasi silang antara proporsi pengeluaran pangan dengan kecukupan energi dalam rumah tangga. Untuk menghitung kecukupan energi dalam rumah tangga menggunakan rumus berikut: Gej = yaAyc ycu yaAyayayc ycu yayayceyc Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Savitri dkk. , 2025 Keterangan: Gej : jumlah energi yang dikonsumsi dari pangan J : berat bahan makanan yang dikonsumsi dari pangan J BDDj : persentase bahan makanan yang dapat dikonsumsi dari pangan J KGej : kandungan energi dari pangan J Untuk menilai konsumsi pangan secara kuantitatif, dapat menggunakan parameter Tingkat Konsumsi Energi (TKE). Rumus dari TKE adalah sebagai berikut: TKE = Oc yaycuycuycycycoycycn yayceycuyceycyciycn yayaya ycycaycuyci yccycnycaycuycycycycoycaycu ycu 100% Menurut Arida et al. , . dalam Cahyani et al. , . klasifikasi tingkat kecukupan energi adalah sebagai berikut: Baik : TKE Ou 100% AKE Sedang : TKE 81-99% AKE Kurang : TKE 70-80% AKE Defisit : TKE < 70% AKE Setelah mengetahui proporsi pengeluaran pangan dan konsumsi energi rumah tangga, selanjutnya dapat menganalisis ketahanan pangan rumah tangga dengan menggunakan klasifikasi silang Jonsson dan Tolle . sebagai berikut: Tabel 1. Klasifikasi Silang Ketahanan Pangan Serapan kalori ekuivalen orang Pangsa Pengeluaran Pangan Rendah (< 60% Tinggi (Ou 60% pengeluaran tota. pengeluaran tota. Cukup (> 80% angka kecukupan Tahan Pangan Rentan Pangan (Vulnerabl. (Secur. Kurang (O 80% angka kecukupan Kurang Pangan Rawan Pangan (Insecur. (Less Secur. Sumber: Jonsson dan Tolle . dalam Nanda et al. , . Strategi bertahan hidup rumah tangga nelayan dianalisis menggunakan pendekatan strategi aktif, strategi pasif, dan strategi jaringan. Strategi aktif merupakan strategi yang memanfaatkan segala potensi yang ada di dalam keluarga. Strategi pasif merupakan strategi yang dilakukan dengan cara mengurangi pengeluaran keluarga. Strategi jaringan merupakan strategi yang dilakukan dengan cara mencari bantuan kepada pihak lain. Strategi bertahan hidup dan aspek yang diteliti pada rumah tangga nelayan tersaji dalam tabel berikut ini. Tabel 2. Jenis Strategi Bertahan Hidup dan Aspek yang Diteliti Jenis Strategi Strategi aktif Aspek yang diteliti Melakukan pekerjaan lain di luar nelayan Anggota keluarga lain yang ikut bekerja Pengoptimalan aset produktif yang dimiliki Strategi pasif Mengurangi pengeluaran rumah tangga Menyisihkan sebagian hasil tangkapan Strategi jaringan Meminta bantuan dari keluarga terdekat Sumber: Rosiana dan Nurjannah, . Saleh . Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Savitri dkk. , 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Rumah Tangga Karakteristik rumah tangga responden merupakan sebuah informasi mengenai rumah tangga responden. Responden merupakan rumah tangga nelayan, yaitu sebuah rumah tangga yang di dalamnya terdapat satu atau lebih orang yang bekerja sebagai nelayan. Pada penelitian ini, diambil sebanyak 44 sampel rumah tangga nelayan untuk dianalisis. Karakteristik rumah tangga responden terdapat pada Tabel 3. Tabel 3. Karakteristik Responden Menurut Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Jumlah . Tidak sekolah Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Diploma/Sarjana Sumber: Analisis Data Primer, 2024 Persentase (%) 15,90 84,10 Berdasarkan Tabel 3, diketahui bahwa tingkat pendidikan responden paling banyak adalah tamatan SMA sebanyak 37 orang dengan persentasi sebesar 84,10%. Tingkat pendidikan responden sebagai kepala rumah tangga sudah cukup baik. Susanto dan Pangesti . menyatakan bahwa pendidikan merupakan salah satu cara untuk menigkatkan kualitas sumber daya manusia karena dengan melalui pendidikan, pengetahuan seseorang akan bertambah yang akan bermanfaat untuk mempelajari keterampilan yang berguna dalam dunia kerja Pendapatan Rumah Tangga Pendapatan rumah tangga merupakan sejumlah uang yang diperoleh oleh semua anggota rumah tangga yang didapatkan dari hasil bekerja. Pendapatan rumah tangga dapat diperoleh dari hasil pendapatan pekerjaan utama dan pendapatan pekerjaan sampingan. Dalam melakukan pekerjaan, nelayan sangat dipengaruhi oleh cuaca dan juga iklim. Pada saat musim panen, nelayan mendapatkan banyak hasil tangkapan sehingga pendapatan mereka meningkat, begitu pula sebaliknya, saat musim paceklik, pendapatan nelayan juga menurun dan berdampak pada kesejahteraan rumah tangga nelayan. Perbandingan pendapatan nelayan saat musim panen dan musim paceklik disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Perbandingan Pendapatan Rumah Tangga Nelayan pada Musim Panen dan Musim Paceklik No. Jenis Rata-rata Pendapatan Pendapatan/Musim (Rp/bula. Musim Panen Musim Paceklik Sumber: Analisis Data Primer, 2024 Persentase 74,43 25,57 Berdasarkan data pada Tabel 4, dapat diketahui bahwa rata-rata pendapatan nelayan pada musim panen adalah sebesar Rp 13. 045/bulan atau 74,43% dan pada musim paceklik yaitu sebesar Rp 4. 390/bulan atau 25,57%. Perbedaan pendapatan yang cukup signifikan disebabkan karena cuaca dan musim ikan. Musim panen ikan di Kabupaten Purworejo biasanya terjadi pada bulan Februari-Agustus, sedangkan musim paceklik biasanya terjadi pada bulan September-Januari. Menurut Ridha . , pendapatan nelayan sulit untuk ditentukan karena hasil tangkapan yang bergantung pada musim. Pendapatan yang tidak menentu membuat rumah tangga Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Savitri dkk. , 2025 nelayan harus bijak dalam mengelola keuangan. Misalnya saat musim panen, rumah tangga nelayan sebaiknya dapat menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung dan dapat digunakan pada saat-saat mendesak. Pengeluaran Pangan dan Nonpangan Rumah Tangga Pengeluaran pangan dan nonpangan rumah tangga merupakan sejumlah uang yang dikeluarkan oleh rumah tangga responden untuk keperluan konsumsi pangan maupun konsumsi non pangan dalam satu bulan. Pengeluaran pangan rumah tangga dikelompokkan menjadi 14 kelompok pangan, yaitu padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayur-sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, minuman, bumbu-bumbuan, konsumsi lain, makanan dan minuman jadi, serta tembakau dan sirih. Pengeluaran non pangan rumah tangga dikelompokkan menjadi 8 kelompok nonpangan, yaitu perumahan, aneka barang dan jasa, biaya pendidikan, biaya kesehatan, sandang, barang tahan lama, pajak dan asuransi, serta keperluan Pengeluaran pangan dan nonpangan yang tersaji dalam penelitian ini adalah pengeluaran pada saat bulan penelitian dilaksanakan, yaitu bulan Juni tahun 2024. Tabel 5. Pengeluaran Pangan Rumah Tangga Responden No. Kelompok Pengeluaran Pangan Padi-padian Umbi-umbian Ikan Daging Telur dan susu Sayur-sayuran Kacang-kacangan Buah-buahan Minyak dan lemak Minuman Bumbu-bumbuan Konsumsi lain Makanan dan minuman jadi Tembakau dan sirih Jumlah Pengeluaran Pangan Sumber: Analisis Data Primer, 2024 Rata-rata (Rp/bula. Persentase (%) 18,97 0,72 2,73 4,82 7,71 5,38 2,56 1,24 2,27 8,44 4,24 1,96 36,64 Peringkat Berdasarkan data pada Tabel 5, dapat diketahui bahwa pengeluaran pangan paling besar adalah pengeluaran untuk kelompok tembakau dan sirih, yaitu sebesar Rp 487. 463/bulan atau sebesar 36,64%. Pengeluaran pangan paling besar selanjutnya yaitu pengeluaran untuk kelompok padi-padian, yaitu sebesar Rp 252. 182/bulan atau sebesar 18,97%. Jumlah rata-rata pengeluaran pangan rumah tangga adalah sebesar Rp 1. 597/bulan atau sebesar Rp 333. 149/bulan/anggota rumah tangga yang diperoleh dari jumlah pengeluaran pangan dibagi dengan jumlah anggota keluarga, yaitu 4 orang, dengan proporsi sebesar 55% dari total pengeluaran rumah tangga. Jumlah rata-rata pengeluaran pangan responden ini lebih rendah dari rata-rata pengeluaran pangan penduduk Indonesia bulan Maret 2024 yakni sebesar Rp 751. 789/bulan. Pengeluaran pangan responden bisa lebih rendah karena pendapatan yang dialokasikan untuk pengeluaran pangan juga tidak terlalu banyak. Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Savitri dkk. , 2025 Tabel 6. Pengeluaran Nonpangan Rumah Tangga Responden Kelompok Pengeluaran Nonpangan No. Perumahan Aneka Barang dan Jasa Biaya Pendidikan Biaya Kesehatan Sandang Barang Tahan Lama Pajak dan Asuransi Keperluan Sosial Jumlah Pengeluaran Nonpangan Sumber: Analisis Data Primer, 2024 Rata-rata (Rp/bula. Persentase (%) 26,45 24,14 12,58 2,59 2,09 2,11 6,87 Peringkat Berdasarkan data pada Tabel 6, dapat diketahui bahwa pengeluaran nonpangan terbesar adalah pengeluaran untuk kelompok aneka barang dan jasa dengan pengeluaran sebesar Rp 591/bulan atau sebesar 26,45%. Pengeluaran nonpangan terbesar selanjutnya yaitu pengeluaran untuk kelompok biaya pendidikan yaitu sebesar Rp 273. 409/bulan atau sebesar 24,14%. Total pengeluaran nonpangan rumah tangga adalah sebesar Rp 1. 477/bulan atau sebesar Rp 283. 120/bulan/anggota rumah tangga dengan proporsi sebesar 45% dari total pengeluaran rumah tangga. Jumlah rata-rata pengeluaran nonpangan responden ini lebih rendah dari rata-rata pengeluaran nonpangan penduduk Indonesia bulan Maret 2024 yakni sebesar Rp 767/bulan. Pengeluaran nonpangan responden bisa lebih rendah karena alokasi pendapatan yang dikeluarkan untuk kebutuhan nonpangan lebih sedikit daripada pengeluaran penduduk Indonesia pada bulan Maret 2024 yang dikeluarkan oleh BPS. Proporsi Pengeluaran Pangan Rumah Tangga Proporsi pengeluaran pangan merupakan perbandingan antara jumlah pengeluaran pangan rumah tangga dengan jumlah pengeluaran total rumah tangga. Cahyani . menyatakan bahwa semakin rendah persentase pengeluaran untuk pangan terhadap total pengeluaran, maka semakin baik pula tingkat perekonomian suatu rumah tangga, begitu pula sebaliknya. Proporsi pengeluaran rumah tangga responden terdapat pada Tabel 7 berikut. Tabel 7. Proporsi Pengeluaran Rumah Tangga Responden Pengeluaran Rata-rata (Rp/bula. Proporsi (%) Pengeluaran Pangan Pengeluaran Nonpangan Jumlah Sumber: Analisis Data Primer, 2024 Berdasarkan data pada Tabel 7, dapat diketahui bahwa pengeluaran responden untuk kelompok pangan adalah sebesar Rp 1. 597/bulan, sedangkan pengeluaran untuk kelompok nonpangan adalah sebesar Rp 1. 477/bulan. Berdasarkan data pengeluaran pada Tabel 7, proporsi pengeluaran pangan adalah sebesar 55% dan proporsi pengeluaran nonpangan sebesar Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Savitri dkk. , 2025 Responden lebih banyak menghabiskan uang untuk memenuhi kebutuhan pangan daripada kebutuhan nonpangan. Proporsi pengeluaran pangan yang lebih besar berarti bahwa rumah tangga memiliki tingkat kesejahteraan yang cukup rendah. Melgar-Quinonez et al. , . dalam Siallagan et al. , . mengatakan bahwa jika pengeluaran suatu rumah tangga untuk konsumsi pangan lebih besar daripada konsumsi nonpangan, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa tingkat kesejahteraan dalam rumah tangga menjadi lebih rawan. Hasil penelitian ini senada dengan hasil penelitian Septiadi dan Yusuf . dimana proporsi pengeluaran pangan adalah sebesar 53,97% sedangkan proporsi pengeluaran nonpangan sebesar 46,03%. Tingkat Konsumsi Energi Rumah Tangga Tingkat Konsumsi Energi (TKE) responden didapatkan dari makanan dan minuman yang dikonsumsi secara individu dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan energi. TKE dihitung dengan cara membandingkan konsumsi energi aktual rumah tangga dengan Angka Kecukupan Energi (AKE) yang dianjurkan. AKE yang dianjurkan mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia berdasarkan umur dan jenis kelamin. Angka Kecukupan Energi (AKE), konsumsi energi, dan Tingkat Kecukupan Energi (TKE) rumah tangga responden dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Angka Kecukupan Energi. Konsumsi Energi, dan Tingkat Konsumsi Energi Rumah Tangga Responden. Keterangan Energi . kal/har. Rumah Tangga Per orang per hari AKE yang Dianjurkan 270,45 156,69 Konsumsi Energi Responden 419,63 921,34 TKE (%) 88,95 88,95 Sumber: Analisis Data Primer, 2024 Berdasarkan data pada Tabel 8, dapat diketahui bahwa nilai TKE yang diperoleh dari rumah tangga responden adalah sebesar 88,95% atau termasuk dalam kategori sedang menurut klasifikasi Tingkat Konsumsi Gizi Departemen Kesehatan Tahun 1990 (Arida et al. , 2015 dalam Cahyani et al. Rumah tangga responden masuk dalam kategori sedang karena memiliki nilai AKE di antara 81-99% dari AKE yang dianjurkan. Nilai AKE yang dianjurkan untuk rumah tangga adalah sebesar 270,45 kkal per hari, konsumsi aktual rumah tangga responden hanya sebesar 7. 419,63 kkal per Nilai AKE per kapita yang dianjurkan adalah sebesar 2. 156,69 kkal per orang per hari, sedangkan konsumsi aktual per kapita hanya sebesar 1. 921,34 kkal per orang per hari. Konsumsi energi responden masih lebih rendah dari angka kecukupan energi yang dianjurkan karena kebutuhan energi rumah tangga responden sebagian besar hanya dipenuhi dari kelompok padipadian terutama beras sebagai sumber energi utama dan pemenuhan nutrisi yang lain masih Ketahanan Pangan Rumah Tangga Klasifikasi ketahanan pangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah klasifikasi ketahanan pangan dari Jonsson dan Tolle . Pengukuran ketahanan pangan rumah tangga adalah dengan membandingkan konsumsi energi dengan proporsi pengeluaran pangan terhadap total pengeluaran rumah tangga. Klasifikasi silang menurut Jonsson dan Tolle . membagi Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Savitri dkk. , 2025 ketahanan pangan dalam empat tingkatan, yaitu tahan pangan, rentan pangan, kurang pangan, dan rawan pangan. Kondisi ketahanan pangan responden terdapat pada Tabel 9. Tabel 9. Kondisi Ketahanan Pangan Responden Kriteria Kategori Ketahanan Pangan Tahan >80% kecukupan energi, <60% Pangan proporsi pengeluaran pangan Rentan >80% kecukupan energi. Ou60% Pangan proporsi pengeluaran pangan Kurang O80% kecukupan energi, <60% Pangan proporsi pengeluaran pangan Rawan O80% kecukupan energi. Ou60% Pangan proporsi pengeluaran pangan Jumlah Sumber: Analisis Data Primer, 2024 Jumlah RT Persentase (%) 56,82 40,91 2,27 Berdasarkan data pada Tabel 9, dapat diketahui bahwa rumah tangga yang berada dalam kriteria tahan pangan memiliki jumlah paling besar yaitu sebanyak 25 rumah tangga atau dengan persentase sebesar 56,8% dari total keseluruhan atau lebih dari setengahnya. Rumah tangga rentan pangan menempati posisi kedua dengan sebanyak 18 rumah tangga nelayan atau sebesar 40,91% dari total keseluruhan. Rumah tangga kurang pangan menempati posisi ketiga dengan jumlah rumah tangga sebanyak 1 rumah tangga atau sebesar 2,27% dari total keseluruhan. Rumah tangga rawan pangan berada dalam peringkat keempat karena tidak ada rumah tangga nelayan yang berada dalam kriteria rawan pangan. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar rumah tangga nelayan di Kabupaten Purworejo berada pada kategori tahan pangan yaitu sebanyak 25 rumah tangga . ,82%). Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwa pemenuhan gizi responden sudah cukup baik sehingga dapat mencapai ketahanan pangan rumah tangga. Proporsi pengeluaran pangan yang kurang dari 60% juga menunjukkan bahwa kesejahteraan rumah tangga sudah cukup Strategi Bertahan Hidup Strategi bertahan hidup merupakan sebuah cara yang dilakukan oleh rumah tangga ketika menghadapi permasalahan dalam upaya peningkatan perekonomian untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Strategi bertahan hidup dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu strategi aktif, strategi pasif, dan strategi jaringan. Strategi yang diterapkan oleh responden adalah sebagai berikut. Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Savitri dkk. , 2025 Tabel 10. Penerapan Strategi Bertahan Hidup Rumah Tangga Nelayan Jenis Strategi Aspek yang Diteliti Melakukan pekerjaan lain di luar Anggota keluarga lain yang ikut Aktif Pengoptimalan aset produktif yang Mengurangi pengeluaran rumah Pasif Menyisihkan Jaringan Meminta bantuan kepada pihak lain Sumber: Analisis Data Primer, 2024 Jumlah RT yang Menerapkan Strategi Berdasarkan data pada Tabel 10, dapat disimpulkan bahwa pada strategi aktif, sebagian besar rumah tangga nelayan sudah menerapkan strategi aktif, baik dengan menambah jumlah anggota keluarga yang bekerja, melakukan pekerjaan lain atau pekerjaan sampingan, maupun mengoptimalkan aset yang dimiliki, seperti pekarangan, sawah, kebun, dan hewan ternak. Sebagian besar rumah tangga nelayan tidak menerapkan strategi pasif berupa pengurangan frekuensi pembelian rokok dan juga menyisihkan sebagian hasil tangkapan. Sebagian rumah tangga nelayan juga menerapkan strategi jaringan ketika mereka mengalami kesulitan. Rumah tangga nelayan akan meminta bantuan kepada pihak lain ketika berada dalam keadaan yang mendesak. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai Analisis Ketahanan Pangan dan Strategi Bertahan Hidup Rumah Tangga Nelayan di Kabupaten Purworejo, maka dapat diperoleh kesimpulan yaitu pengeluaran rumah tangga untuk pangan adalah sebesar Rp 1. 597/bulan dengan proporsi pengeluaran pangan sebesar 55% dari total pengeluaran. Konsumsi energi rata-rata adalah 921,34 kkal/orang/hari dengan tingkat konsumsi 88,95% sehingga termasuk dalam kategori Kondisi ketahanan pangan rumah tangga nelayan di Kabupaten Purworejo adalah tahan pangan sebanyak 56,82%, rentan pangan sebanyak 40,91%, kurang pangan sebanyak 2,27%, dan rawan pangan sebanyak 0%. Strategi bertahan hidup yang diterapkan oleh rumah tangga nelayan adalah strategi aktif dengan memiliki pekerjaan sampingan. Rumah tangga nelayan belum menerapkan strategi pasif dalam kehidupan sehari-hari. Strategi jaringan yang diterapkan oleh rumah tangga nelayan yaitu dengan meminta bantuan kepada pihak lain, seperti meminjam uang. Rumah tangga nelayan sebaiknya tetap melakukan penganekaragaman pangan supaya energi harian terpenuhi dan ketahanan pangan rumah tangga dapat selalu tercapai. Nelayan juga sebaiknya dapat mengoptimalkan dalam melakukan pekerjaan sampingan karena pendapatan rumah tangga sangat bergantung dari hasil melaut saja. Pemerintah Kabupaten Purworejo dan Kecamatan Purwodadi juga diharapkan untuk dapat memberikan penyuluhan mengenai bahaya merokok supaya para nelayan dapat mengurangi frekuensi merokok dan diharapkan dapat meningkatkan tingkat kecukupan energi harian. Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Savitri dkk. , 2025 UCAPAN TERIMA KASIH Penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman yang sudah terlibat dalam penelitian ini. Terima kasih kepada Universitas Sebelas Maret yang telah memfasilitasi pendanaan penelitian melalui Hibah Riset Grup dengan nomor kontrak 2/UN27. 22/PT. 03/2024. Demikian pula saya sampaikan terima kasih kepada para responden yang sudah bersedia untuk di wawancarai sehingga pengumpulan data dapat berjalan dengan baik, dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan dan tutur kata yang kurang berkenan. DAFTAR PUSTAKA