Penerapan Rekayasa Serentak Dan Rekayasa Ulang Proses Bisnis Dalam Mengatasi Keterlambatan Perencanaan Proyek Pemboran Sumur Lepas Pantai Erwindo*1. Lukman Sukarma2 1,2Program Studi S2 Teknik Industri. Fakultas Teknik ISTN. Jakarta Jl. Moh. Kahfi II. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Indonesia 12640 e-mail: *1tanjungerwindo@gmail. com, 2lsukarma55@gmail. Abstrak Dalam rangka mengatasi keterlambatan perencanaan proyek pemboran sumur lepas pantai oleh Operator X, yang ditargetkan selesai dalam waktu 28,6 bulan namun terlambat menjadi 31,64 bulan, studi ini menerapkan rekayasa serentak dan rekayasa ulang proses bisnis. Rekayasa serentak dengan strategi diagram tulang ikan digunakan untuk menentukan kendala dan akar permasalahan keterlambatan. Kendala dapat dikelompokkan menjadi kendala internal dan kendala eksternal perusahaan. Yang internal mencakup perubahan proposal proyek, persetujuan anggaran lambat, studi yang berulang, serta temuan cacat material saat penerimaan barang. Sedangkan yang eksternal meliputi keterlambatan perijinan dari pemerintah serta ketersediaan impor bahan baku. Lebih lanjut, pengintegrasian rekayasa serentak dan rekayasa ulang proses bisnis dilakukan untuk menghilangkan kendala dalam proses perencanaan. Di samping itu. Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko (HIRA) juga diterapkan dalam rangka memitigasi kendala yang tidak dapat Rekayasa ulang proses bisnis dibagi dalam tiga skenario yaitu: skenario-1 dengan menggabungkan beberapa aktifitas. skenario-2 dengan membentuk satuan tugas serta menggunakan jasa pihak ke tiga . dan skenario-3 dengan melakukan aktifitas secara parallel dengan cara membentuk online Ketiga skenario disimulasikan menggunakan software dengan pengulangan 1000 kali. Hasilnya menunjukkan bahwa dengan rekayasa proses, kemungkinan tidak terjadinya keterlambatan jauh lebih besar yaitu antara 29. 1% - 39. 2% dibandingkan dengan tidak ada rekayasa proses, yang hanya 8. Selanjutnya, berdasarkan simulasi dari tiga skenario, skenario-2 yang memanfaatkan jasa konsultan menunjukkan waktu perencanaan yang paling cepat yaitu 26,4 bulan atau lebih cepat 2. 2 bulan dibandingkan tidak adanya rekayasa ulang. Mengingat perencanaan proyek pemboran sumur lepas pantai sangat komplek dan dinamis mengikuti industri MIGAS serta regulasi, proses bisnis harus bisa direkayasa menyesuaikan dinamika tersebut. Penelitian ini dapat menjadi panduan dalam melakukan proses rekayasa ulang dengan tingkat kompleksitas yang tinggi. Kata kunci: rekayasa serentak, rekayasa ulang proses bisnis, proyek pengeboran sumur lepas pantai Abstract In order to overcome the delay in planning the offshore drilling project by Operator X, which was targeted to be completed in 28. 6 months but was delayed to 31. 64 months, this study applies concurrent engineering and business process reengineering. Concurrent engineering with a fishbone diagram strategy is used to determine the constraints and root causes of the delay. Constraints can be grouped into internal constraints and external constraints of the company. The internal includes changes to the project proposal, slow budget approval, repeated studies, and findings of material defects when receiving goods. While the external includes delays in licensing from the government and the availability of imported raw materials. Furthermore, the integration of concurrent engineering and business process reengineering is carried out to eliminate constraints in the planning process. In addition. Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) is also applied in order to mitigate constraints that cannot be handled. Business process reengineering (BPR) is divided into three scenarios, namely: scenario-1 by combining several activities. Paper Penerapan Rekayasa Serentak dan Rekayasa Ulang Proses Bisnis Dalam Mengatasi Keterlambatan Perencanaan Proyek Pemboran Sumur Lepas Pantai . Author: Erwindo. Lukman Sukarma Ae Sainstech. Vol. No. : 11-26 DOI : https://doi. org/10. 37277/stch. scenario-2 by forming a task force and using the services of a third party . and scenario-3 by carrying out activities in parallel by forming online monitoring. The three scenarios were simulated using software with 1000 repetitions. The results showed that with BPR, the possibility of no delays is much greater between 29. 1% - 39. 2% compared to existing . efore BPR) which was only 8. Furthermore, based on simulations of the three scenarios, scenario-2 which utilized consultant services showed the fastest planning time which is 26. 4 months or 2. 2 months faster than existing. Considering that offshore drilling project planning is very complex and dynamic following the oil and gas industry and regulations, business processes must be able to be engineered to adjust to these dynamics. This study can be a guide in carrying out reengineering processes with a high level of complexity. Keywords: concurrent engineering, business process reengineering, offshore drilling project, well delivery planning, drilling planning Pendahuluan Dokumen ini adalah template untuk versi Word . Anda dapat menggunakan versi dokumen ini sebagai referensi untuk menulis manuscript anda. Pendahuluan menguraikan latar belakang permasalahan yang diselesaikan, isu-isu yang terkait dengan masalah yg diselesaikan, ulasan penelitan yang pernah dilakukan sebelumnya oleh peneliti lain yg relevan dengan penelitian yang anda dilakukan. jumlah halaman maksimum dari bagian ini tidak boleh lebih dari 20% dari keseluruhan halaman naskah. Proyek pengembangan yang krusial dalam siklus industri MIGAS. Mengingat proyek pemboran melibatkan berbagai macam fungsi baik internal maupun eksternal, dibutuhkan proses bisnis yang sesuai yang perlu dikaji sejak proses perencanaan. Keterlambatan keterlambatan eksekusi proyek pemboran dan dapat berakibat pada terganggunya stabilitas industri MIGAS. Proses bisnis perencanaan proyek pemboran dikenal dengan Well Delivery Process (WDP), yaitu serangkaian aktifitas terstruktur yang dirancang untuk merencanakan sumur dari tahap pengajuan proyek, perancangan sumur, kesiapan sumur untuk dieksekusi, proses eksekusi hingga evaluasi proyek. WDP diperlakukan sebagai sistem yang menyeluruh, karena WDP mencakup struktur fungsi yang saling terkait, jenis perilaku dalam sistem, dan keterhubungan berbagai bagian . e Wardt, 2. Dalam industri MIGAS. WDP memegang peranan penting dalam proyek pengeboran, yaitu memastikan perencanaan yang komprehensif serta mengatasi ketidakpastian dan risiko yang dikelola dalam fase operasional dan pelaksanaan pengeboran (Aird, 2. Operator X yang beroperasi di salah satu daerah lepas pantai di Indonesia selalu mengalami keterlambatan di setiap proyek Tabel 1 menunjukkan bahwa ratarata keterlambatan dari lima proyek 5 bulan. Tabel 1. Daftar Proyek Pemboran Operator X Proyek (Tahu. Sumur A . Sumur C. Sumur D . Sumur E Sumur F. Target Mulai Mei 15 Juni Feb Juli 30 Sept Aktual Mulai Juli 3 Juli 2021 Terlamba 5 bulan Mei Sept Des 5 bulan 5 bulan 5 bulan 3 bulan Metode Penelitian Penelitian ini menerapkan rekayasa serentak (Concurrent Engineering - CE) untuk menganalisa WDP yang ada di Operator X serta menggunakan metode fishbone diagram untuk menentukan akar masalah. Setelah akar permasalahan ditentukan, selanjutnya dilakukan integrasi rekayasa serentak dan rekayasa ulang proses bisnis (Business Process Reengineering - BPR) untuk mengevaluasi keterlambatan yang terjadi di existing WDP, baik kendala aktual maupun kendala fakta yang menyebabkan terjadinya Paper Penerapan Rekayasa Serentak dan Rekayasa Ulang Proses Bisnis Dalam Mengatasi Keterlambatan Perencanaan Proyek Pemboran Sumur Lepas Pantai . Author: Erwindo. Lukman Sukarma Ae Sainstech. Vol. No. : 11-26 DOI : https://doi. org/10. 37277/stch. Hasil evaluasi kemudian digunakan untuk merekayasa ulang existing WDP agar keterlambatan proyek dapat Hasil disimulasikan dengan 1000 kali pengulangan untuk menghitung waktu penyelesaian WDP yang telah direkayasa. Potensi kendala diperoleh dari dokumen HIRA, proyek dan kajian penelitian terdahulu yang terkait dengan keterlambatan WDP, serta diskusi dengan Pekerja Operator X. Dokumen HIRA merupakan dokumen yang dibuat untuk mengidentifikasikan bahaya dan menilai risiko dalam setiap proyek. Hasil yang didapatkan dengan melakukan HIRA adalah memastikan semua potensi resiko maupun bahaya di semua aktifitas perencanaan proyek telah ditentukan diawal serta di tentukan akar masalah, termasuk penilaian rating atas resiko/bahaya tersebut sehingga mitigasi atau pencegahan dapat resiko/bahaya tersebut atau paling sedikit mengurangi dampak resiko/bahaya tersebut sejak awal perencanaan. Dalam mengintegrasikan CE dan BPR diperlukan input parameter untuk membuat model rekayasa WDP. Input parameter tersebut adalah Parameter Waktu yaitu baik berupa durasi aktifitas dan variasi waktu . robabilistic time delay. , kemudian Parameter Sumber Daya yaitu terkait jumlah tenaga kerja, dan utilisasi sumber daya yaitu berapa % dari kapasitas tim yang digunakan dalam setiap aktifitas. Serta. Parameter Biaya yaitu biaya yang dikeluarkan sebelum dan sesudah rekayasa. Dalam studi ini dilakukan tiga rekayasa, yaitu Skenario-1 dengan Skenario-2 dengan menggunakan task force dan skenario-3 dengan mengerjakan aktifitas secara parallel. Selain simulasi, ketiga skenario tersebut divalidasi melalui perbandingan dengan data masukan/pandangan dari pekerja Operator Apabila ada skenario yang tidak sesuai dengan hasil validasi, skenario harus kembali direkayasa ulang. Skenario yang tervalidasi kemudian disimulasi dan dibandingkan terhadap existing WDP. Skenario yang direkomendasikan adalah hasil simulasi yang mampu lebih cepat yang untuk mengatasi Hasil dan Pembahasan 1 Well Delivery Process (WDP) Secara garis besar sama di setiap Operator MIGAS. WDP adalah tahapan-tahapan proses yang dievaluasi diakhir tahapan sebelum masuk ketahapan berikutnya. Beberapa proses bersifat progresif, yaitu yang penyelesaiannya harus lintas tahapan. Evaluasi tahapan harus mendapatkan dukungan dari korporasi. Gambar 1: WDP Existing WDP adalah proses bisnis yang dilakukan oleh Operator X yang mengalami Fokus pembahasan dari penelitian ini aalah WDP yang berkaitan dengan penyelesaian perencanaan proyek adalah pada empat . tahapan: identify, select, define-1 dan define-2. 2 Akar Permasalahan Akar permasalahan dapat ditentukan melalui analisa kendala. Kendala terdiri dari fakta dan Kendala fakta adalah kendala yang terjadi di proyek Operator X, sedangkan potensi kendala adalah risiko kendala yang teridentifikasi di data proyek Operator X terdahulu atas keterlambatan WDP atau proyek di MIGAS. Berdasarkan laporan akhir proyek Operator X, dapat disimpulkan kendala fakta yang terjadi sebagai berikut: Temuan saat inspeksi Long Lead Item (LLI) Paper Penerapan Rekayasa Serentak dan Rekayasa Ulang Proses Bisnis Dalam Mengatasi Keterlambatan Perencanaan Proyek Pemboran Sumur Lepas Pantai . Author: Erwindo. Lukman Sukarma Ae Sainstech. Vol. No. : 11-26 DOI : https://doi. org/10. 37277/stch. Kesulitan mendapatkan IPKA atas Kapal PSV besar Kurang personnel HSE, serta proses pengiriman terganggu karena pandemi COVID Simulasi ulang 1-D Geomechanic Perubahan signifikan pada SOR . Project Reques. Tertundanya dokumen persetujuan dumping permit Tertundanya persetujuan anggaran LLI Terjadi Perizinan Terjadi perubahan struktur organisasi di pemerintah yang tidak di ketahui sehingga tidak responsive Keterlambatan LLI akibat bahan baku Perbaikan program tepat sebelum operasi dimulai Berdasarkan daftar kendala fakta di atas, ada 10 kendala yang terjadi pada kelima proyek Operator X dikurun waktu 2021-2023. Note: item C dapat dihilangkan karena terjadi saat Berdasarkan dokumen HIRA, yaitu hasil Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko pada ke lima proyek Operator X, potensi kendala dimitigasi adalah: Perubahan geologi berdampak pada desain sumur Rig belum siap digunakan pada saat operasi akan dilakukan Penelitian yang memerlukan waktu lama menjadi tertunda Harga yang diajukan penawar lebih tinggi dibandingkan Owner Estimate (OE) saat tender. Proses Evaluasi dan Klarifikasi Tender memakan waktu yang lebih lama. Terdapat protes/banding yang diajukan kontraktor terkait proses tender. Keterbatasan ketersediaan peralatan 'spesifik/khusus' yang diperlukan untuk proses pengeboran. Keterlambatan dari pemasok peralatan dalam memenuhi strategi kontrak yang disyaratkan . onten lokal dan perjanjian LLI). Masalah terkait manufaktur Masalah Pengiriman Pengiriman eksplosif dibatasi atau Masalah Persiapan Konten Lokal Keterlambatan Anggaran LLI Masalah Izin Kustom Kemudian, berdasarkan studi literatur atas 16 penelitian terdahulu yang relevan atas keterlambatan penyelesaian proses bisnis didapatkan daftar potensi kendala sebagai berikut: Salama et al, 2008: - Penundaan pada awal pengadaan LLI - Penundaan pada pengiriman alat dan - Kontraktor tidak yang kurang - Manajemen proyek yang buruk oleh - Kekurangan berkualifikasi dan berpengalaman Simanjuntak et al, 2015 - Bidder yang tidak cukup jumlahnya - Evaluasi yang telalu lama terhadap - Kontraktor melakukan protes pada saat proses tender - Tantangan strategi kontraktual - Kekurangan alat tertentu Zaneta Hodeka Sanjiwo, 2015 - Kurangnya integrase dan komunikasi yang efektif antar tim sehingga terjadi revisi dan penundaan - Material dikirim terlambat karena keterlambatan ketersediaan kontrak - Pengiriman logistik yang tidak tepat Indramawan, 2019 - Tahapan peretujua berlapis dan makan waktu lama - Kurang koordinasi menentukan spesifikasi dan kebutuhan material - Evaluasi vendor yang memakan waktu lama - Kesulitan dalam menemukan dan mengeluarkan material Alshibani et al, 2022 - Permasalahan material dari client - Penundaan pada pengiriman alat dan - Perizinan pemerintah - Penundaan Paper Penerapan Rekayasa Serentak dan Rekayasa Ulang Proses Bisnis Dalam Mengatasi Keterlambatan Perencanaan Proyek Pemboran Sumur Lepas Pantai . Author: Erwindo. Lukman Sukarma Ae Sainstech. Vol. No. : 11-26 DOI : https://doi. org/10. 37277/stch. - Penundaan pada persiapan approval of drawings yang dilakukan konsultan Daftar kendala yang ditemukan pada studi literatur memiliki kemiripan atas fakta dan potensi kendala yang terjadi di Operator X, sehingga dapat disimpulkan kendala keterlambatan yang teridentifkasikan sejak 2008 masih terjadi hingga 2023 dan belum ada solusi konkret untuk mengatasi keterlambatan tersebut. Sebelum melakukan rekayasa ulang proses bisnis untuk mengatasi keterlambatan, akar permasalahan harus terlebih dahulu Mengingat WDP dikerjakan bersamaan secara lintas departemen, strategi Rekayasa Serentak (CE) sangat tepat untuk menentukan akar permasalahan. Dalam hal ini, pendekatan kolaboratif selama proses desain dan pengembangan produk/proses dapat diidentifikasikan secara komprehensif dengan lebih akurat dan cepat. Hasil analisa akar permasalahan kemudian dibahas dan disepakati bersama dengan seluruh pihak terkait di Operator X, yang selanjutnya disusun dalam Fishbone Diagram. Hasil kesepakatan bersama berupa diagram tulang ikan, dibuat dalam lima kategori sebagai berikut: Orang/Man - Koordinasi yang kurang di internal Operator X - Produktivitas pekerja rendah - Keputusan diambil cukup lambat Alat/Equipment - Keterlambatan material - Keterlambatan unit Rig - Persiapan logistik terkendala - Keterlambatan perijinan - Temuan catat pada material Proses/Method - Terjadi protes dari peserta tender - Evaluasi Tender memakan waktu - Tender diulang karena nilai perkiraan tender lebih rendah dari pasar Ijin/Permit - Terjadi keterlambatan dan birokrasi dalam proses formalities - Persetujuan permit memakan waktu lama dan tidak pasti - Perubahan proses persetujuan di Lingkungan/Enviromental - Perubahan data lingkungan lokasi 3 Rekayasa WDP Dalam studi ini, pengintegrasian CE dan BPR dilakukan untuk mempelajari aktifitas di setiap tahapan WDP di Operator X yang komplek dan melibatkan multi-stakeholder bahkan pihak external seperti pemerintah dan kontraktor. Diperkirakan, target penyelesaian WDP di fase perencanaan 6 bulan. Berdasarkan akar permasalahan dalam bentuk diagram tulang ikan, dicapai kesepakatan bersama dengan seluruh Operator BPR, mengelompokkan tiga jenis permasalahan terbesar yang menyebabkan keterlambatan, sebagai berikut: Beberapa aktifitas memiliki proses yang sama, contohnya perijinan yang diajukan ke satu kementerian. Pencapaian penyelesaian aktifitas dalam tahapan di WDP sering terlambat atau tidak sesuai target kesepakatan. Beberapa aktifitas yang tidak bersifat progresif dapat dikerjakaan secara bersamaan, contohnya aktifitas tersebut dikerjakan oleh tim yang sama. Menindaklanjuti temuan di atas, studi ini melakukan rekayasa dengan memodifikasi Existing WDP sehingga kendala-kendala yang terjadi selama penyelesaian aktifitas atau risiko keterlambatan pada WDP dapat dihilangkan atau dikurangi. Berdasarkan pengelompokan akar permasalahan di atas maka rekayasa atas Existing WDP yang dilakukan adalah sebagai berikut: Skenario-1: menggabungkan beberapa Skenario-2: membentuk task force dan menggunakan tenaga 3rd Party atau Konsultan Skenario-3: melakukan aktifitas secara 4 Simulasi Rekayasa WDP Setiap AuxAy menghitung kecepatan penyelesaian WDP perencanaan secara keseluruhan serta Paper Penerapan Rekayasa Serentak dan Rekayasa Ulang Proses Bisnis Dalam Mengatasi Keterlambatan Perencanaan Proyek Pemboran Sumur Lepas Pantai . Author: Erwindo. Lukman Sukarma Ae Sainstech. Vol. No. : 11-26 DOI : https://doi. org/10. 37277/stch. probabilitas percepatan yang ditimbulkan. Probabilitas berdasarkan persentase kejadian terjadinya kendala pada lima proyek Operator X. Detail aktifitas atas WDP didapatkan dari hasil diskusi dengan pekerja Operator X. Ditambahkan dengan fakta kendala yang menyebabkan keterlambatan dalam software AuxAy, model dasar simulasi dapat ditentukan. Sebelum membuat rekayasa WDP setiap skenario, diperlukan model dasar simulasi berupa simulasi Existing WDP sebagai dasar perbandingan hasil, sebagai berikut: Tender Process Tabel 2. Daftar Aktifitas Pada WDP Operator X dengan Variabel Fakta Keterlambatan Acivities in BPR Model Project Initiatio Define-2 Stage Review Submit SOR Stakehol der AFE (JV & Corporat Delivery LLI QA/QC LLI Equivalent in Process Chart and Causes Desktop re-study & Simulation, caused due Input offset data just before start which leads to rework Draft SOR, caused by LLI AFE. LLI Manufactu supply of by war Local Content of Besi Baja Major Findings Inspection after LLI Time Cost Probability 3 bulan 2 bulan $150k 2 bulan $105k UKL / UPL Dumping Cutting Permit Delivered. SSWH cost for Vessel Procureme nt. PPKA pay import Contract Protest Contractor Specific Pertek & KKPRL Prolonged Pertek Approval Pending, tive change $200k 3 bulan $50k 2 bulan Hasil simulasi dari model Existing WDP tersebut di atas adalah sebagai berikut: Grafik di bawah menggambarkan persebaran terjadinya keterlambatan dalam 1000 kali Keterlambatan yang terjadi pada keterlambatan yang terjadi secara random . erdasarkan probabilitas pada Table . pada setiap simulasi yang dilakukan. Gambar 2. Grafik Persebaran Probabilitas Existing WDP dengan Fakta Keterlambatan Paper Penerapan Rekayasa Serentak dan Rekayasa Ulang Proses Bisnis Dalam Mengatasi Keterlambatan Perencanaan Proyek Pemboran Sumur Lepas Pantai . Author: Erwindo. Lukman Sukarma Ae Sainstech. Vol. No. : 11-26 DOI : https://doi. org/10. 37277/stch. Dapat keterlambatan yang terjadi pada simulasi tersebut yaitu pada rentang waktu 0-2 bulan keterlambatan dengan persentase sebesar 7%, dan probabilitas dengan rentang waktu diatas 2 bulan . -9 bula. secara kumulatif adalah sebesar 77. Probabilitas keterlambatan tertinggi terdapat di rentang waktu 3-4 bulan, yaitu 28. Bahkan dari grafik ini, bisa terjadi probabilitas keterlambatan hingga di rentang waktu 8-9 bulan yaitu 2. Berdasarkan simulasi ini, keterlambatan sangat kecil, jikapun 0-1 bulan dianggap kecil terjadi keterlambatan maka kemungkinannya adalah 8. 7%, sehingga kemungkinan keterlambatan dibawah 2 bulan adalah sebesar 14%. Hasil simulasi memberikan rata-rata waktu yang diperlukan membutuhkan waktu 31. 64 bulan. Menggunakan proses yang sama. Existing WDP direkayasa dengan menggabungkan beberapa aktifitas (Skenario-. seperti pada tabel 3 berikut: h dan QA/QC & Delivery LLI QA/QC Delivery Rig Other Services Tabel 3. Rekayasa Daftar Aktifitas Skenario-1 Impacted Acivities In BPR Model Project Action Meeti Implication Waktu, submit SOR Time Probabilit an waktu OSCP HSE Mgt. Plan Dumping Cutting Permit Dilaku QA/Q C yang if serta Dilaku h dan Probabilit atau alat belum siap atau perlu saat sudah tiba di site Hasil simulasi dari model rekayasa Skenario1 tersebut diatas adalah sebagai berikut: Persiapan Tender LLI Persiapan Tender Rig Other Services Dilaku Probabilit Paper Penerapan Rekayasa Serentak dan Rekayasa Ulang Proses Bisnis Dalam Mengatasi Keterlambatan Perencanaan Proyek Pemboran Sumur Lepas Pantai . Author: Erwindo. Lukman Sukarma Ae Sainstech. Vol. No. : 11-26 DOI : https://doi. org/10. 37277/stch. Gambar 3. Grafik Persebaran Probabilitas Skenario-1 Grafik di atas menggambarkan persebaran terjadinya keterlambatan dalam 1000 kali Keterlambatan yang terjadi pada keterlambatan yang terjadi secara random . ergantung probabilitas yang sudah di set di awal berdasarkan penilaia. pada setiap simulasi yang dilakukan. Dapat dilihat, dengan melakukan usaha BPR skenario -1 keterlambatan bisa dimungkinkan sebesar Kemungkinan keterlambatan di bawah 2 bulan . 33 Ae 2. adalah sebesar 51%, sedangkan kemungkinan keterlambatan di atas 2 bulan . 64 bula. adalah sebesar 19. Tingkat kemungkinan keterlambatan tertinggi terjadi pada rentang waktu 1. 64 bulan yaitu sebesar Juga dapat simpulkan dalam skenario1 ini bahwa maksimum kemungkinan keterlambatan dapat turun hingga ke rentang 64 bulan sebesar 15. Hasil simulasi skenario-1 ini memberikan rata-rata waktu yang diperlukan membutuhkan waktu 36 bulan. Dengan proses yang sama. Existing WDP direkayasa dengan membentuk task force dan menggunakan 3rd party/konsultan untuk menyelesaikan sebagian besar aktifitas (Skenario-. seperti pada tabel 4 berikut: Tabel 4. Rekayasa Daftar Aktifitas Skenario-2 Impacted Acivities In BPR Model Preidentify nt/Proje Initiatio Well Design Options Base Case Action Implication Tim Pemb Special juga meliputi party/konsulta Outso (Thir Part. Penambahan 1 orang tenaga Pengg Konsu Probabilit Select Stage Review Outso (Thir Part. Well Constru Freeze Pengg Konsu DWOP CWOP Pengg Konsu Well Pengg Konsu Geotech Docume Pengg Konsu QA/QC LLI QA/QC Rig and Other Services EBA Oil Spill Conting Plan Dumpin g Cutting Permit Outso (Thir Part. Outso (Thir Part. Outso (Thir Part. Outso (Thir Part. Outso (Thir Part. Penambahan 1 orang tenaga Penambahan 1 orang tenaga Penambahan 1 orang tenaga Penambahan 1 orang tenaga Penambahan 1 orang tenaga Penambahan 1 orang tenaga Probabilit Re-work Probabilit Re-work Hasil simulasi dari model rekayasa Skenario2 tersebut diatas adalah sebagai berikut: Probabilit Re-work Grafik di bawah menggambarkan persebaran terjadinya keterlambatan dalam 1000 kali simulasi yang dilakukan. Keterlambatan yang terjadi pada simulasi ini merupakan akumulasi keterlambatan yang terjadi secara random . ergantung probabilitas yang sudah di set di awal berdasarkan penilaia. pada setiap simulasi yang dilakukan. Paper Penerapan Rekayasa Serentak dan Rekayasa Ulang Proses Bisnis Dalam Mengatasi Keterlambatan Perencanaan Proyek Pemboran Sumur Lepas Pantai . Author: Erwindo. Lukman Sukarma Ae Sainstech. Vol. No. : 11-26 DOI : https://doi. org/10. 37277/stch. Tender LLI dan Rig and Other Services Delivery LLI dan Rig and Other Services QA/QC LLI QA/QC Rig Other Services Aktifitas n secara n secara qa/qc, qa/qc Persiapan Tender Supplier Klarifika si RFI ke Gambar 4. Grafik Persebaran Probabilitas Skenario-2 Dapat dilihat, dengan melakukan usaha BPR skenario -2 maka probabilitas tidak terjadi keterlambatan bisa dimungkinkan sebesar Kemungkinan keterlambatan dibawah 2 bulan . Ae 1. adalah sebesar 45. 1%, sedangkan kemungkinan keterlambatan diatas 2 bulan . 64 bula. adalah sebesar 18. Tingkat tertinggi terjadi pada rentang waktu 1. bulan yaitu sebesar 44. Probabilitas pada rentang waktu di skenario-2 ini turun Sedangkan maksimum keterlambatan di skenario-2 ini sama dengan skenario-1 yaitu di ke rentang waktu hingga 4. 64 bulan sebesar 10. Hasil simulasi skenario-1 ini memberikan rata-rata waktu yang diperlukan membutuhkan waktu 44 bulan. Menggunakan proses yang sama. Existing WDP direkayasa dengan menyelesaikan beberapa aktifitas secara parallel (Skenario. seperti pada tabel 5 berikut: Semua data dan Tabel 5. Rekayasa Daftar Aktifitas Skenario-2 Impacted Acivities In BPR Model Dumping Cutting Permit UKL/UPL Activities OSCP Action Implication Aktifitas n secara Perlu tenaga kerja, tapi waktu tidak perlu Time Lebi Probability Performan ce Based Contractin Dashboa an data an setiap Pemberi aan yang i target Perlu n realokasi tenaga kerja, tapi waktu tidak perlu Aktifitas Pembuatan Perumusan kontrak dan . ktifitas Probability terjadi rework atau ada QA/QC yang gagal Memperke OE tidak harga asli Memperke data dan Probabilita s kelalayan atan pada Hasil simulasi dari model rekayasa Skenario3 tersebut diatas adalah sebagai berikut: Paper Penerapan Rekayasa Serentak dan Rekayasa Ulang Proses Bisnis Dalam Mengatasi Keterlambatan Perencanaan Proyek Pemboran Sumur Lepas Pantai . Author: Erwindo. Lukman Sukarma Ae Sainstech. Vol. No. : 11-26 DOI : https://doi. org/10. 37277/stch. Exis Ske Gambar 5. Grafik Persebaran Probabilitas Skenario-3 Grafik di atas menggambarkan persebaran terjadinya keterlambatan dalam 1000 kali Keterlambatan yang terjadi pada keterlambatan yang terjadi secara random . ergantung probabilitas yang sudah di set di awal berdasarkan penilaia. pada setiap simulasi yang dilakukan. Dapat dilihat, dengan rekayasa ulang skenario -3, probabilitas tidak terjadi keterlambatan bisa dimungkinkan sebesar 39. Kemungkinan terjadinya keterlambatan dibawah 2 bulan . 50 Ae 2. 0 bula. adalah sebesar 49%, sedangkan kemungkinan keterlambatan diatas 2 bulan . 64 bula. adalah Tingkat kemungkinan keterlambatan tertinggi terjadi pada rentang 64 bulan yaitu sebesar 40. Juga dapat simpulkan dalam skenario-3 ini bahwa maksimum kemungkinan keterlambatan dapat turun hingga ke rentang waktu 3. bulan sebesar 4. Hasil simulasi skenario3 ini memberikan rata-rata waktu yang diperlukan membutuhkan waktu 28. 5 Perbandingan Existing WDP vs Rekayasa WDP Berdasarkan hasil simulasi Existing WDP dan ketiga skenario rekayasa WDP, maka perbandingannya sebagai berikut: Tabel 6. Perbandingan Existing WDP Dan Rekayasa WDP Action Waktu Proyek Ideal Tanpa Keterla Probabil Tidak Terjadi Keterla Probabil Terjadi Keterla Bulan Proba Terjad Keterl an > 2 Bulan Ske Ske Norm Denga Fakta Keterl Pengg Aktifit Task Force. Outso Aktifit Tidak disimulasikan Skenario-1 penyelesaian perencanaan proyek lebih lama . ,36 bula. dibandingkan kedua skenario lainnya . kenario-2 sebesar 26,44 bulan dan skenario-3 sebesar 28,21 bula. , namun lebih cepat sedikit dibandingkan waktu existing WDP . ,6 bula. Selain itu, skenario-1 menunjukkan peningkatan yang cukup baik dalam hal menaikkan probabilitas tidak terjadinya keterlambatan dengan nilai 1% dibandingkan dengan hasil simulasi awal 8. Probabilitas proyek dibawah 2 bulan pada skenario-1 merupakan yang paling tinggi dibanding skenario lainnya . %), di mana skenario-2 dengan probabilitas 45. 1%, dan skenario-3 dengan probabilitas 49% . alam konteks analisis ini, skenario-1 merupakan yang paling buruk dibandingkan skenario lai. Namun pada probabilitas ini, semua rekayasa menunjukkan hasil simulasi lebih tinggi dibandingkan existing WDP yaitu 14%. Hasil keterlambatan diatas 2 bulan adalah . dibandingkan skenario-2 . 8%) dan . 8%). Ketiga menunjukkan peningkatan signifikan dalam hal probabilitas yaitu jauh turun dari existing Pemilihan skenario bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda berdasarkan diskusi dengan pekerja Operator X, sehingga dalam Paper Penerapan Rekayasa Serentak dan Rekayasa Ulang Proses Bisnis Dalam Mengatasi Keterlambatan Perencanaan Proyek Pemboran Sumur Lepas Pantai . Author: Erwindo. Lukman Sukarma Ae Sainstech. Vol. No. : 11-26 DOI : https://doi. org/10. 37277/stch. tulisan ini dibuat kemudahan dan kesulitan masing masing scenario menurut kondisi proses bisnis di Operator X. Kemudahan Skenario-1: - Pembuatan agreed action dan way forward dapat dilakukan secara praktis bekerja di satu perusahaan . ollaborative wor. - Penggabungan OSCP. HSE management plan serta perijinan dumping cutting permit berada dibawah satu dept. HSE sehingga dapat di implementasikan dengan Skenario-2 - Pembentukan task force dapat dilaksanakan dengan cepat dan mudah, dikarenakan di Operator X PIM (Project Integration Managemen. bertugas untuk mengintegrasikan antar departemen. - Tenaga party/outsourcing pemboran tersedia di market Skenario-3 - Aktifitas perijinan untuk Dumping Permit. UKL/UPL serta OSCP dapat dilakukan secara parallel - Aktifitas QAQC atas LLI bisa di parallel kan dengan procurement process hingga penerimaan barang - Penambahan aktifitas atas persiapan tender dapat dilaksanakan karena terdapat tender komite di Operator X Kesulitan Skenario-1 - LLI memiliki waktu pengantaran 8-10 membutuhkan persetujuan yang panjang karena ada biaya komitmen sehingga penggabungan tender dan QAQC antara LLI dan Rig akan menyebabkan risiko besar tunggutungguan Skenario-2 - Personnel di departemen PIM tidak Pemboran. - Tupoksi Departemen PIM selama ini hanya operasional rutin atau nonproyek. Skenario-3 - Aktifitas QAQC atas rig & services lainnya tidak bisa diparallelkan dengan procurement, dikarenakan rig serta services lainnya sedang beroperasi di Operator lain - Pembuatan dashboard membutuhkan perijinan dari IT korporasi, mengingat setiap software harus persetujuan - Performance based contract tidak bisa diterapkan karena bertentangan dengan regulasi pemerintah Kesimpulan . Dalam segi percepatan penyelesaian WDP. menunjukkan waktu proyek setelah direkayasa ulang lebih cepat 7% daripada waktu proses awal sebelum merupakan pengurangan waktu terbesar diantara skenario lain. Dalam segi probabilitas keterlambatan, 36,1% probabilitas tidak terlambat . tau terjadi pengurangan kemungkinan terlambat sebesar 27,4% dari kondisi awal sebelum Dalam keterlambatan dibawah 2 bulan, skenario-2 menunjukkan lebih lama dari kondisi awal sebelum rekayasa, yaitu 45,1% versus 8. namun paling baik dibandingkan skenario-1 . %) & skenario-3 . %). Pada hasil simulasi probabilitas lebih lama di bandingkan Existing WDP dikarenakan focus dari keterlambatan melebihi 2 bulan sehingga probabilitas keterlambatan penyelesaian perencanaan proyek di atas 2 bulan, skenario-2 menunjukkan penurunan menjadi 18. 8% . erhadap kondisi Existing WDP 77. 3%). Dalam ketiga skenario rekayasa WDP. Paper Penerapan Rekayasa Serentak dan Rekayasa Ulang Proses Bisnis Dalam Mengatasi Keterlambatan Perencanaan Proyek Pemboran Sumur Lepas Pantai . Author: Erwindo. Lukman Sukarma Ae Sainstech. Vol. No. : 11-26 DOI : https://doi. org/10. 37277/stch. terjadinya keterlambatan di rentang waktu 0 Ae 2 bulan, namun penurunan kemungkinan terjadinya keterlambatan di rentang waktu diatas 2 bulan. hal ini menandakan semua risiko tidak bisa dihindari terutama kendala external. mengingat ada beberapa mitigasi yang memiliki probabilitas atau tingkat kemungkinan untuk menghilangkan risiko tidak 100%. sehingga masih memunculkan factor uncontrollable, dan dipindahkan dampak risikonya pada rentang waktu 0-2 bulan, menghindari pada rentang waktu diatas 2 bulan. Potensi terjadi keterlambatan dibawah 2 bulan masih dapat terjadi karena masih terdapat kendala external yang diluar kontrol, sehingga simulasi menekankan usaha menurunkan keterlambatan diatas 2 bulan. Penelitian ini berhasil melakukan penerapan rekayasa serentak (CE) dalam menentukan akar permasalahan serta integrasi rekayasa serentak dan rekayasa ulang proses bisnis dalam menentukan rekayasa proses bisnis untuk mengatasi keterlambatan secara simulasi di fase perencanaan atas proyek pemboran sumur lepas pantai. Daftar Pustaka