Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 PROFIL SENSITIVITAS ANTIBIOTIK TERHADAP ISOLAT BAKTERI SWAB LUKA PENDERITA DIABETES MELITUS Rahmat Budi Nugroho1. Andang Arif Wibawa2. Muhammad Evy Prasetyanto3 Program Studi D3 Analis Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi. Jl. Letjen Sutoyo Mojosongo. Surakarta. Jawa Tengah Kode pos 57127 Program Studi D4 Analis Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi. Jl. Letjen Sutoyo Mojosongo. Surakarta. Jawa Tengah. Kode pos 57127 Universitas Muhammadiyah Semarang Jl. Kedungmundu No. Kedungmundu. Kec. Tembalang. Kota Semarang. Jawa Tengah 50273 Info Artikel: Disubmit: 17-05-2024 Direvisi: 10-06-2024 Diterima: 15-06-2024 Dipublikasi: 30-06-2024 Penulis Korespondensi: Email: bn17@gmail. Kata kunci: Infeksi. Sensitivitas. Swab luka DOI: 10. 47539/gk. ABSTRAK Luka adalah setiap cedera yang terjadi pada tubuh yang disebabkan oleh kecelakaan, benturan, kekerasan, atau pembedahan yang menyebabkan kerusakan pada membran kulit atau jaringan di Infeksi luka dapat disebabkan oleh beberapa jenis Staphylococcus sp. Klebsiella. Proteus sp. Enterobacter sp. Streptococcus sp dan lain-lain. Uji sensitivitas antibiotik dilakukan untuk mengetahui pola resistensi bakteri dan menghindari penyebaran bakteri resisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis bakteri yang ditemukan pada swab luka dan mengetahui apakah bakteri tersebut sensitif atau resisten terhadap Metode penelitian ini adalah penelitian eksperimental diagnostik dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Setia Budi Surakarta. Identifikasi bakteri dengan menggunakan uji biokimia dan alat VITEK 2 . io Myrieux. USA). Ditemukan bakteri Gram positif yaitu Staphylococcus aureus. Staphylococcus epidermidis. Streptococcus agalactie dan Enterococcus faecalis. Sedangkan bakteri Gram negatif yaitu Escherichia coli. Klebsiella pneumoniae, dan Acinetobacter baumannii. Bakteri Gram positif yang ditemukan sensitif terhadap antibiotik vancomycin, tigecycline, linezolid dan resisten terhadap eritromycin, ciprofloxacin, clindamycin, ampicylin. Bakteri Gram negatif sensitif terhadap antibiotik meropenem. Tingkat resistensi mikroba terhadap berbagai jenis antibiotik cukup tinggi, sebagian besar isolat bakteri menunjukkan resistensi terhadap satu atau lebih ABSTRACT A wound is any injury to the body caused by an accident, impact, violence, or surgery that causes damage to the skin membrane or tissue underneath it. Infection of the wound can be caused by several types of microorganisms, including E. Staphylococcus sp. Klebsiella. Proteus sp. Enterobacter sp. Streptococcus sp, and others. Antibiotic sensitivity tests are conducted to determine patterns of bacterial resistance and avoid the spread of resistant bacteria. The study aimed to identify the type of bacteria found in the wound swab and determine whether the bacteria were sensitive or resistant to antibiotics. This method was diagnostic experimental research at the Microbiology Laboratory of the University of Setia Budi Surakarta. They identified bacteria using biochemical tests and VITEK 2 . io Myrieux. USA) Gram-positive bacteria were found: Staphylococcus aureus. Staphylococcus epidermidis. Streptococcus agalactia, and Enterococcus faecalis. Gram-negative bacteria include Escherichia coli. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 Klebsiella pneumoniae, and Acinetobacter baumannii. Gram-positive bacteria were found to be sensitive to the antibiotics vancomycin, tigecycline, and linezolid and resistant to erythromycin, ciprofloxacin, clindamycin, and ampicillin. Gram-negative bacteria are sensitive to antibiotic The degree of microbial resistance to various antibiotics was relatively high, with most bacterial isolates showing resistance against one or more antibiotics. Keywords: Infection. Sensitivity. Swab Wound PENDAHULUAN Infeksi luka dapat terjadi karena keadaan jaringan subkutan . eperti luk. yang menguntungkan bagi pertumbuhan bakteri (Negut et al. , 2. Banyak patogen dan komponen inang dapat berkontribusi pada perkembangan luka menjadi infeksi (Ekawati et al. , 2. (Tarana et al. , 2. Jenis mikroba yang dapat menginfeksi luka adalah jamur, bakteri, parasit, dan virus (Maharjan et al. , 2. Infeksi luka yang disebabkan oleh mikroorganisme termasuk Escherichia coli. Pseudomonas aeruginosa. Staphylococcus aureus (S. Proteus sp. Enterobacter sp. Staphylococcus epidermidis Klebsiella . , dan Acinetobacter spp (Mahat et al. , 2. Beberapa penelitian menunjukkan adanya jenis bakteri berbeda yang diisolasi dari swab luka Penelitian yang dilakukan oleh Tarana . menyimpulkan bahwa bakteri yang sering ditemukan terdiri dari bakteri Gram positif dan Gram negatif. Bakteri yang paling sering diisolasi dari swab luka adalah Staphylococcus aureus sebanyak 68 . 79%), diikuti oleh Escherichia coli sebanyak 30 . 79%). Pseudomonas sebanyak 14 . 37%). Klebsiella sebanyak 6 . 16%). Proteus sebanyak 4 . 10%), dan Acinetobacter sebanyak 2 . 05%) (Tarana et al. , 2. Luka adalah setiap cedera yang terjadi pada tubuh yang disebabkan oleh kecelakaan, benturan, kekerasan, atau pembedahan yang menyebabkan kerusakan pada membran kulit atau jaringan di bawahnya (Baba J et al. , 2. Infeksi pada luka bisa terjadi dari berbagai sumber kontaminan. Selama prosedur operasi, peralatan bedah yang tidak steril dapat membawa bakteri atau virus ke dalam luka. Mikroorganisme juga dapat menyebar melalui udara, air, dan lantai yang terkontaminasi. Selain itu, benda-benda yang tidak steril dan makanan yang tidak steril dapat menyebabkan infeksi. Infeksi juga dapat menyebar antara pasien dan karyawan, terutama jika prosedur kebersihan tidak dilakukan dengan benar (Yobee et al. , 2. Luka yang terinfeksi dapat mengganggu proses penyembuhan dan menyebabkan komplikasi yang serius, yang dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang (Pallavali et al. , 2. Luka ini merupakan salah satu infeksi yang paling umum di rumah sakit dan telah menyebabkan hospitalisasi yang lebih lama, biaya yang lebih tinggi, dan tingkat morbiditas dan kematian yang tinggi, terutama di negaranegara berkembang (Puca et al. , 2. Meskipun beban infeksi luka saat ini di rumah sakit belum dievaluasi secara menyeluruh, tetapi diperkirakan akan tetap tinggi. Selain perawatan luka yang tidak terlatih di rumah yang sering dipengaruhi oleh perspektif medis tradisional, prevalensi diabetes, obesitas, dan penyakit jantung iskemik dapat menghambat proses penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi luka (Robert et al. , 2. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 Keterbaruan dari penelitian ini adalah evaluasi profil mikroba penyebab infeksi luka dan pola Selain itu penelitian ini memberikan informasi baru tentang bakteri yang paling umum ditemukan pada infeksi luka dan tingkat resistensi terhadap antimikroba. Saat ini pengetahuan tentang profil bakteri dan resistensi antimikroba pada infeksi luka masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengisi kesenjangan pengetahuan tersebut dengan mengevaluasi profil mikroba infeksi luka dan pola kepekaan antimikroba. Pengobatan yang tidak tepat dapat memunculkan resistensi mikroba terhadap antibiotik. Pada kasus tertentu dapat terjadi bakteri menjadi resisten terhadap lebih dari satu antibiotik atau disebut Multi Drug Resisten (MDR). Beberapa bakteri yang resisten terhadap lebih dari satu antibiotik atau Multi Drug Resisten (MDR) merupakan bakteri penyebab infeksi (Mohammed et al. , 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah: . Bakteri apa saja yang ditemukan pada luka penderita Diabetes Melitus, . Apakah ditemukan bakteri yang sensitif dan resisten terhadap Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bakteri pada luka penderita Diabetes Melitus, serta identifikasi bakteri yang sensitif dan resisten terhadap antibiotik. METODE Jenis penelitian ini adalah studi observasional retrospektif yang dilakukan untuk menganalisis profil mikroba infeksi luka penderita Diabetes Melitus dan pola kepekaan antimikroba. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-April 2023. Penelitian ini melibatkan analisis sampel swab luka dari pasien RSUP Dr. Kariadi Semarang dengan bukti klinis infeksi luka penderita Diabetes Melitus untuk mengevaluasi isolat mikroba dan tingkat resistensi antimikroba yang ditemukan. Teknik sampling pada penelitian ini yaitu dilakukan dengan mengumpulkan sampel swab luka penderita Diabetes Melitus dengan tanda-tanda infeksi luka seperti pembengkakan, kemerahan, nyeri, nanah dengan atau tanpa bau, dan demam tinggi. Alur rekruitmen pasien dimulai dari pasien rujukan atau mandiri melakukan pendaftaran. Selanjutnya pemeriksaan awal setelah sebelumnya dilakukan penjadwalan. Prosedur pengambilan swab luka penderita Diabetes Melitus dilakukan di tempat steril untuk menghindari kontaminasi. Identifikasi di laboratorium untuk melihat adanya infeksi dan jenis mikroba penyebabnya. Evaluasi hasil dan perawatan luka serta pemantauan dilakukan berkala. Untuk mendapatkan sampel, kapas steril diputar dengan tekanan yang cukup tanpa menyentuh kulit di sekitarnya. Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien luka penderita Diabetes Melitus dan sampel yang digunakan sebanyak 17 sampel. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu pasien dengan infeksi luka penderita Diabetes Melitus dengan gejala seperti pembengkakan, kemerahan, nyeri, adanya nanah dengan atau tanpa bau, demam tinggi, dan menggigil. Kriteria eksklusi meliputi pasien yang sedang mengonsumsi antibiotik atau telah mengonsumsi antibiotik dalam 2 minggu sebelum pengambilan sampel, serta pasien dengan riwayat penggunaan antibiotik yang tidak sesuai. Alat dan Bahan yaitu Isolat bakteri swab luka penderita Diabetes Melitus, tabung reaksi, cawan Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 petri, jarum ose, jarum ent, lampu spiritus, media Endo Agar, media Mac Conkey Agar, media Blood Agar Plate, reagen erlich A dan B, cat Gram A-D, media BHI, masker, handscoon. VITEK 2 . io Myrieux. USA). Handscoen. Tabung Reaksi. Masker A. Card VITEK 2 GN. Card VITEK 2 GP. Lampu Spiritus. Oshe kolong. Nacl 0,45%. Blue Tip. Yellow Tip. Densi CHEKE Plus. Prosedur Penelitian Isolasi Bakteri dari Swab luka Sampel isolat bakteri dari swab luka penderita Diabetes Melitus dipersiapkan, sebanyak 17 sampel dimasukkan ke dalam media BHI, diinkubasi pada suhu 27o C selama 24 jam. Isolat di goreskan ke media Endo Agar. Mac Conkey Agar, dan Blood Agar Plate. Masing-masing media diinkubasi pada suhu 27 C selama 24 jam. Koloni yang tumbuh pada masing-masing media dilakukan pengamatan. Identifikasi Bakteri Gram Negatif Koloni bakteri yang tumbuh pada media Mac Conkey dilakukan pengecatan Gram. Hasil pengecatan Gram dilakukan pengamatan dibawah mikroskop. Bakteri Gram negatif ditunjukkan dengan bakteri berwarna merah ketika diamati di mikroskop. Koloni bakteri pada media Mac Conkey agar ditanam pada media uji biokimia yaitu: KIA. SIM. LIA dan Citrat selanjutnya diinkubasi pada suhu 27oC selama 24 jam. Hasil uji biokimia selanjutnya dilakukan pengamatan dan pembacaan hasil. Uji Sensitivitas dengan Vitek 2 Persiapan isolat bakteri dari swab luka penderita Diabetes Melitus. Identifikasi dilakukan dengan alat yaitu VITEKA2 . ioMyrieux. USA) dengan 1 tabung 1 isolat bakteri. Setiap tabung diisi dengan 3 ml larutan NaCl 0,45% pH 5,0. Koloni bakteri diambil dan dibuat suspensi larutan NaCl kemudian Kekeruhan inokulum dilihat dengan alat Densi CHECKE Plus dengan cara sebagai berikut tabung inokulum yang akan diukur dibersihkan terlebih dahulu pada bagian luarnya dengan tisu. Tabung dimasukkan ke tempat pengukuran pada Densi CHECKE Plus, ditunggu selama 2 detik. Angka hasil pengukuran akan muncul dalam satuan McFarland . akteri Gram negatif atau positif = 0,5 Ae 0,63 McFarlan. Apabila kekeruhan kurang maka dapat ditambahkan koloni bakteri Gram negatif atau Gram positif. Jika kekeruhan berlebih, maka diambil sejumlah volume inokulum dan diencerkan dengan menambahkan larutan NaCl. Tabung pertama digunakan untuk identifikasi dengan meletakkan kartu VITEKA 2. Informasi data pasien diinput pada alat Vitek, dengan cara sebagai berikut: software VITEKA 2 dibuka terlebih dahulu dengan klik 2 kali pada gambar software VITEKA 2 di monitor. Username dan password dimasukkan ke dalamnya . ontoh : vitek. Melengkapi data pasien seperti: Pasien ID : no medical record. Nama pasien. Lab ID : No Lab Mikrobiologi dan tipe sampel . contoh : darah, sputum, pus, dll. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 Pembacaan hasil dilakukan menggunakan alat bantu komputer. Hasil identifikasi muncul di monitor yang terhubung dengan VITEKA 2 . ioMyrieux. USA) berupa nama spesies bakteri Gram negatif dan Gram positif yang menjadi penyebab luka pada pasien. Selanjutnya uji sensitivitas antibiotik dilakukan dengan memindahkan suspensi bakteri Gram negatif dan Gram positif dari tabung inokulum pertama ke tabung kedua. Kartu uji vitek diletakkan di kaset . okus kartu vite. , kemudian di-barcode pada setiap kartu uji. Kartu Vitek yang telah di-barcode dimasukkan ke dalam alat VITEKA 2 . ioMyrieux. USA) untuk dibaca atau dianalisis. Hasil uji berupa positif dan negatif akan terlihat di layar vitek. Hasil positif jika bakteri sensitif terhadap antibiotik yang diujikan dan hasil negatif jika bakteri resisten terhadap antibiotik yang diuji. HASIL Pada penelitian ini diperoleh hasil distribusi frekuensi responden menurut jenis kelamin yaitu pasien laki-laki sebanyak 9 pasien atau sebesar 53%. Sedangkan pasien jenis kelamin perempuan sebanyak 8 pasien atau sebesar 47%. Berdasarkan umur pasien terdapat 4 pasien berumur 61-70 tahun atau sebesar 24%. Terdapat masing-masing 3 pasien yang berumur 21-30 tahun, 31-40 tahun, 51-60 tahun atau sebesar 18%. Terdapat 2 pasien yang berumur 11-20 tahun atau sebesar 12%. Selebihnya masing-masing 1 pasien yang berumur 0-10 tahun dan 41-50 tahun atau sebesar 6%. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Umur dan Jenis Kelamin Variabel Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Umur (Tahu. 0Oe10 11Oe20 21Oe30 31Oe40 41Oe50 51Oe60 61Oe70 Total Dari hasil penelitian ditemukan isolat bakteri sebanyak 8 isolat bakteri, dengan bakteri yang paling banyak ditemukan adalah Escherichia coli dan Acinetobacter baumannii masing-masing sebanyak 4 isolat atau sebesar 24%. Sedangkan bakteri Klebsiella pneumonia sebanyak 3 isolat atau Streptococcus agalactie. Stapylococcus aureus. Staphylococcus epidermidis dan Streptococcus pyogenes masing-masing sebanyak 1 isolat atau 6%. Enterococcus faecalis sebanyak 2 isolat atau 12% (Grafik . Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 Bakteri Ditemukan Grafik 1. Hasil identifikasi bakteri Clindamycin Cefotaxime Chloramphenicol Erythromycin Gentamicin Imipenem Streptococcus agalactiae Staphylococcus epidermidis Streptococcus pyogenes Enterococcus faecalis Enterococcus faecalis Acinetobacter baumannii Acinetobacter baumannii Acinetobacter baumannii Acinetobacter baumannii Escherichia coli Escherichia coli Escherichia coli Escherichia coli Klebsiella pneumoniae Klebsiella pneumoniae Klebsiela pneumoniae Vancomycin Ciprofloxacin Trimethoprim Cefepime Tetracycline Cefazolin Rifampin Amoxicillin Staphylococcus aureus Bakteri/Antibiotik Meropenem Ampicillin Linezolid Amikacin Tabel 2. Hasil Sensitivitas Bakteri dengan Kultur S= sensitif. R=resisten. I=intermediet, - = tidak dilakukan pengujian Pengujian dengan antibiotik pada bakteri Gram negatif secara umum menunjukkan bahwa bakteri coli dan Klebsiella pneumonia sensitif terhadap antibiotik Amikacin dan Kloramfenikol. Imipenem. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 dan Meropenem. Bakteri Acinetobacter baumannii sensitif terhadap Amikacin dan Trimethoprim. Dari 4 isolat yang ditemukan 2 bakteri Acinetobacter baumannii sensitif terhadap Imipenem dan Meropenem. Kedua bakteri ini resisten terhadap Ampicilin. Ciprofloxacin dan Trimethoprim. Bakteri Gram positif Staphylococcus aureus juga sensitif terhadap antibiotik Ciprofloxacin. Clindamycin. Erythromycin. Linezolid. Amikacin. Gentamycin. Rifampycin. Trimethoprim dan Vancomycin. Bakteri Enterococcus faecalis sensitif terhadap Ampicilin. Streptococcus pyogenes resisten terhadap Amikacin dan Gentamycin. Staphylococcus epidermidis sensitif terhadap Ciprofloxacin. Clyndamicin. Erythromycin. Linezolid, dan Vancomycin. Bakteri Streptococcus agalactiae resisten terhadap Amikacin dan Gentamicin. BAHASAN Pada penelitian ini jenis kelamin laki-laki paling banyak ditemukan hal ini mungkin karena adanya faktor risiko tertentu yang membuat lebih rentan terhadap infeksi luka, seperti aktivitas fisik yang lebih tinggi atau paparan lingkungan yang berbeda (Alharbi, 2. Hal senada juga disampaikan oleh Mailard et al . bahwa jenis kelamin laki-laki paling banyak ditemukan karena laki-laki memiliki risiko yang lebih tinggi terkena luka dan cedera, seperti luka akibat kecelakaan atau aktivitas fisik yang lebih tinggi (Maillard et al. , 2. Bakteri E. coli dan Acinetobacter paling banyak ditemukan pada penelitian ini daripada bakteri Hal ini senada dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa bakteri-bakteri ini termasuk dalam bakteri yang umumnya ditemukan di lingkungan dan memiliki kemampuan untuk berkembang biak dengan cepat (Maillard et al. , 2. Bakteri E. coli dan Acinetobacter baumannii paling banyak ditemukan karena bakteri ini sebagai bagian dari flora normal kulit dan saluran pencernaan, sehingga mudah menyebar saat terjadi luka atau kerusakan pada kulit atau jaringan lunak (Alharbi, 2. Amikasin aktif terhadap bakteri Klebsiella. coli dan hampir semua strain Acinetobacter (Baba J et al. , 2. Mekanisme penghambatan Amikacin diawali dengan ikatan dengan subunit ribosom bakteri 30 S dan mengganggu pembacaan kode genetik dan penghambatan sintesis protein. Hal ini menyebabkan penghentian protein dini dan penggabungan asam amino yang tidak tepat (Ramirez and Tolmasky, 2. Amoksisilin, sebuah penisilin semisintetik, memiliki aktivitas antibakteri berspektrum luas dan rentan terhadap penisilinase. Dengan menjadi inhibitor beta-laktamase, asam klavulanat mencegah betalaktamase menghidrolisis amoksisilin. Kombinasi keduanya akan membuat jangkauan aktivitas yang lebih luas (Rhoads et al. , 2. Spektrum aktivitas antibiotik Imipenem mencakup bakteri Gram-positif dan Gram-negatif aerobik dan anaerobik serta bersifat bakterisida. Obat ini tidak terpengaruh oleh beberapa betalaktamase, termasuk yang dimediasi plasmid dan kromosom. Imipenem sangat aktif terhadap Gramnegatif seperti Acinetobcter baumannii. coli dan Klebsiella pneumonia serta bakteri lain yang menghasilkan beta-laktamase (Puca et al. , 2. Antibiotik kloramfenikol memberikan efek penghambatan pada bakteri E. coli dan Klebsiella pneumonia. Kloramfenikol menghambat sintesis Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 protein melalui ikatan dengan subunit ribosom 50S (Smirnova et al. , 2. Antibiotik kloramfenikol bekerja dengan ribosom selama proses sintesis protein. Kloramfenikol mencegah pembentukan ikatan peptida dengan mencegah aminoasil-tRNA mengakomodasi ke ribosom A (Syroegin et al, 2. Pada uji sensitivitas dengan antibiotik terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis diperoleh hasil resisten untuk antibiotik ampicillin. Sedangkan terhadap antibiotik linezolid, ciprofloxacin, clindamycin, erythromycin dan vancomycin kedua bakteri Gram positif tersebut hasilnya sensitif. Pada antibiotik refampisin hanya bakteri S. aureus yang hasilnya sensitif sedangkan pada bakteri S. epidermidis hasilnya intermediet. Bakteri Staphylococcus aureus melepaskan enzim beta-laktamase dalam jumlah besar, yang memiliki kemampuan untuk menghentikan atau mencegah antibiotik merusak dinding sel bakteri. Salah satu jenis antibiotik yang memiliki mekanisme kerja spektrum luas, amoksisilin, memiliki resistensi terhadap Acinetobacter baumannii. Amoksisilin menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan mengikat pada Penicillin-Binding Proteins (PBP. , yang mengganggu pembentukan peptidoglikan yang diperlukan untuk kekuatan dan kestabilan dinding sel bakteri (Maillard et al. , 2. Antibiotik ciprofloxacin memiliki kemampuan untuk menghambat pembentukan asam nukleat, yang membuat bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis menjadi sensitif terhadap antibiotik tersebut. Antibiotik ini dapat masuk ke dalam sel melalui difusi pasif, yang terjadi di membran luar bakteri melalui saluran protein yang berisi air yang disebut porin. Selain itu, ciprofloxacin memiliki potensi untuk menghambat replikasi DNA bakteri. Ini terjadi melalui penghentian aktivitas topoisomerase II, yang merupakan enzim yang bertanggung jawab atas pembentukan dan replikasi DNA bakteri (Shariati et al. , 2. Dibandingkan dengan antibiotik lain, antibiotik Gentamicin sangat sensitif terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Secara farmakodinamik, antibiotik Gentamicin membunuh bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis (Tam et al. , 2. Gentamicin bekerja dengan cara menghambat sintesis protein pada bakteri, sehingga mengganggu pertumbuhan dan reproduksi bakteri tersebut (Maharjan et al. , 2. Gentamicin menghambat sintesis protein bakteri dengan mengikat pada subunit 30S ribosom, sehingga mengganggu proses translasi mRNA menjadi protein (Maillard et al. , 2. Prevalensi bakteri Gram-negatif dalam infeksi luka, jenis bakteri yang umum ditemukan adalah Acinetobacter baumannii. Escherichia coli dan Klebsiella pneumonia. Selain itu, hasil menunjukkan tingkat resistensi antimikroba yang cukup signifikan, di mana lebih banyak isolat bakteri yang resisten terhadap satu atau lebih antibiotik. Hal ini menunjukkan pentingnya pemantauan teratur terhadap profil mikroba dan pola kepekaan antimikroba guna mengendalikan resistensi antimikroba dan memastikan pengobatan yang efektif terhadap infeksi luka (Alharbi, 2. Pada penelitian ini antibiotik yang paling sensitif terhadap beberapa bakteri sekaligus adalah antibioitk Amikasin. Amikasin paling sensitif terhadap banyak bakteri karena memiliki efektivitas yang tinggi terhadap sejumlah bakteri Gramnegatif, termasuk Klebsiella pneumoniae. Pseudomonas aeruginosa, dan Escherichia coli (Alharbi. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. com/gk Volume 16. Nomor 1. Juni 2024 Amikasin sensitif terhadap banyak bakteri karena memiliki spektrum aktivitas yang luas terhadap berbagai jenis bakteri Gram positif dan Gram negatif, termasuk bakteri resisten terhadap antibiotik lainnya (Maillard, et al. , 2. (Maharjan et al. , 2. Penelitian ini memberikan informasi tentang profil mikroba penyebab infeksi pada luka dan pola kepekaan antimikroba. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai panduan untuk terapi antimikroba pada infeksi luka. Selain itu di penelitian ini memberikan wawasan baru terkait prevalensi isolat bakteri yang paling umum ditemukan dan tingkat resistensi antimikroba. Keterbatasan pada penelitian ini karena minimnya data tentang profil pasien sehingga informasi yang disajikan terbatas pada data yang Jumlah sampel yang diuji terhadap beberapa isolat bakteri dan kombinasi antibiotiknya terbatas, sehingga membatasi interpretasi hasil penelitia. Penelitian ini dilakukan dengan sampel yang relatif kecil dan untuk periode waktu yang singkat, sehingga generalisasi hasil penelitian menjadi terbatas. Manfaat klinis dari penelitian ini yaitu memberikan panduan tentang terapi antimikroba pada infeksi luka berdasarkan profil mikroba dan pola kepekaan antimikroba yang ditemukan. SIMPULAN DAN SARAN Bakteri Gram positif ditemukan yaitu Staphylococcus aureus. Staphylococcus epidermidis. Streptococcus agalactie dan Enterococcus faecalis. Bakteri Gram negatif yaitu Escherichia coli. Klebsiella pneumoniae, dan Acinetobacter baumannii. Bakteri Gram positif yang ditemukan sensitif terhadap antibiotik vancomycin, tigecycline, linezolid dan resisten terhadap eritromycin, ciprofloxacin, clindamycin, ampycilin. Bakteri Gram negatif sensitif terhadap antibiotik meropenem. Infeksi luka sering disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, dengan Escherichia coli. Klebsiella pneumoniae, dan Acinetobacter baumannii sebagai isolat yang paling umum ditemukan. Tingkat resistensi mikroba terhadap berbagai jenis antibiotik cukup tinggi, sebagian besar isolat bakteri menunjukkan resistensi terhadap satu atau lebih antibiotik. Saran dari penelitian ini adalah melakukan penelitian lebih lanjut dan surveilans yang diperlukan untuk mengelola resistensi antimikroba secara efektif pada infeksi luka. Memperluas cakupan penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar dan periode waktu yang lebih panjang untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang resistensi antimikroba pada infeksi luka. RUJUKAN