JSIP 2 . Journal of Social and Industrial Psychology http://journal. id/sju/index. php/sip HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN SPIRITUAL DENGAN DEPRESI PADA PENYANDANG CACAT PASCA KUSTA DI LIPOSOS DONOROJO BINAAN YASTIMAKIN BANGSRI JEPARA Dame Rizqy Robby A Jurusan Psikologi. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Semarang. Indonesia Info Artikel Abstrak ________________ ___________________________________________________________________ Sejarah Artikel: Diterima Agustus 2013 Disetujui September 2013 Dipublikasikan Oktober Penelitian ini dilatarbelakangi hasil observasi dan studi pendahuluan mengenai depresi yang dialami penyandang cacat pasca kusta di Liposos Donorojo binaan Yastimakin Bangsri Jepara. Gejalanya dilihat dengan ciri-ciri konsentrasinya sering terganggu, kurang percaya diri menghadapi segala sesuatu yang bersifat sosial, sering merasa hidupnya tidak berarti dan rasa ingin bunuh diri. Oleh karena itu, dibutuhkan pengaturan diri berkaitan dengan kecerdasan spiritual yang dimiliki penyandang cacat pasca kusta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan spiritual (X) dengan depresi (Y) pada penyandang cacat pasca kusta di Liposos Donorojo binaan Yastimakin Bangsri Jepara. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah penyandang cacat pasca kusta di Liposos Donorojo binaan Yastimakin Bangsri Jepara. Populasi dalam penelitian ini adalah 150 orang. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 100 orang, teknik sampling digunakan adalah teknik Probability Sampling berupa Simple Random Sampling, yaitu pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Data penelitian diambil menggunakan skala depresi dan skala kecerdasan spiritual. Metode analisis data yang digunakan adalah korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara keduanya adalah positif karena p < 0. Jadi jika kecerdasan spiritual tinggi maka depresi juga tinggi. ________________ Keywords: Spiritual Intelligence. Depression ____________________ Abstract ___________________________________________________________________ This study motivated the observation and preliminary studies on depression after leprosy disabled in Liposos Donorojo built Yastimakin Bangsri Jepara. The symptoms seen with these characteristics are often disturbed concentration, lack confidence to face everything that is social, often feels his life is meaningless and feeling suicidal. Therefore, the necessary arrangements with respect to the spiritual intelligence possessed disabled after leprosy. This study aimed to determine the relationship between spiritual intelligence (X) with depression (Y) on the disabled leprosy Liposos post Donorojo built Yastimakin Bangsri Jepara. This study is correlational. The population is disabled after leprosy in Liposos Donorojo built Yastimakin Bangsri Jepara. The population was 150 people. The number of samples in this study were 100 people, sampling techniques used are techniques such as Simple Random Sampling Probability Sampling, which is taking members of the sample population was randomly without regard to the existing strata in the population. The research data were taken using a depression scale and the scale of spiritual intelligence. Data analysis method used is Product Moment Correlation. The results showed that the relationship between the two is positive for p <0. So if a high spiritual intelligence then depression is also high. A 2013 Universitas Negeri Semarang Alamat korespondensi: Gedung A1 Lantai 2 FIP Unnes Kampus Sekaran. Gunungpati. Semarang, 50229 E-mail: damerizqyrobby@rocketmail. ISSN 2252-6838 Dame Rizqy Robby / Journal of Social and Industrial Psychology 2 . oleh Ariani . menemukan bahwa ada hubungan antara harga diri dengan depresi yaitu, semakin tinggi tingkat harga diri semakin tinggi tingkat depresi yang dialami oleh individu yang menderita diabetes melitus. Pernyataan tersebut cenderung bisa terjadi pada penderita hipertensi karena diabetes melitus dan hipertensi adalah penyakit kronis dan memerlukan proses pengobatan dalam jangka waktu yang lama. Satu hal yang paling penting dalam mengembangkan kehidupan spiritual. Memberi pembentukan kualias hidup, sedangkan tujuan hidup merupakan akhlak, rujukan, dasar pijakan, dan sekaligus hasil yang ingin diraih (Tasmara 2001: . Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis bermaksud mengadakan penelitian dengan mengambil judul AuHubungan antara Kecerdasan Spiritual dengan Depresi pada Penyandang Cacat Pasca Kusta Di Liposos Donorojo Binaan Yastimakin Bangsri Jepara. PENDAHULUAN Bayangan cacat kusta menyebabkan penderita seringkali tidak dapat menerima kenyataan bahwa ia menderita kusta. Akibatnya akan ada perubahan mendasar pada kepribadian dan tingkah lakunya. Akibatnya ia akan berusaha untuk menyembunyikan keadaannya sebagai penderita kusta. Hal ini tidak menunjang proses pengobatan dan kesembuhan, sebaliknya akan memperbesar resiko timbulnya cacat (Kuniarto 2006:. Masalah psikososial yang timbul pada penderita kusta lebih menonjol dibandingkan masalah medis itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh adanya stigma yang banyak dipengaruhi oleh berbagai paham dan informasi yang keliru mengenai penyakit kusta. Sikap dan perilaku masyarakat yang negatif terhadap penderita kusta seringkali menyebabkan penderita kusta merasa tidak mendapat tempat di keluarganya dan lingkungan masyarakat (Kuniarto 2006:. Akibatnya penderita cacat kusta (PCK) cenderung hidup menyendiri dan mengurangi kegiatan sosial dengan lingkungan sekitar, tergantung kepada orang lain, merasa tertekan dan malu untuk berobat. Dari segi ekonomi, keterbatasan ataupun ketidakmampuan dalam bekerja maupun mendapat diskriminasi untuk mendapatkan hak dan kesempatan untuk mencari nafkah akibat keadaan penyakitnya sehingga kebutuhan hidup tidak dapat terpenuhi, apalagi mayoritas penderita kusta berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, padahal penderita kusta memerlukan perawatan lanjut sehingga memerlukan biaya Hal-hal tersebut yang akhirnya akan mempengaruhi tingkat kualitas hidup (Kuniarto 2006:. Depresi merupakan suatu kesedihan dan perasaan duka yang berkepanjangan atau Depresi dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain yaitu faktor biologis, faktor genetika dan faktor psikososial. Faktor genetika merupakan faktor yang penting dalam perkembangan timbulnya depresi (Kurnia, dkk 2011: . Penelitian terdahulu yang dilakukan RUMUSAN MASALAH Berangkat dari pemaparan fenomena pada latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah dari penelitian ini adalah: apakah ada hubungan antara kecerdasan spiritual dengan depresi pada penyandang cacat pasca kusta di Liposos Donorojo binaan Yastimakin Bangsri Jepara? TUJUAN PENELITIAN Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka dapatlah dirumuskan tujuan penelitian ini adalah : Untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan spiritual dengan depresi pada penyandang cacat pasca kusta di Liposos Donorojo binaan Yastimakin Bangsri Jepara. Depresi Chaplin . 2: . mengatakan depresi Aukeadaan berhubungan dengan keadaan emosi pada Dame Rizqy Robby / Journal of Social and Industrial Psychology 2 . manusiaAy. Pada orang normal merupakan keadaan kemurungan . esedihan, kepatahan semanga. yang ditandai dengan perasaan tidak pas, menurunnya kegiatan dan pesimisme menghadapi masa yang akan datang. Selain itu depresi adalah ketidak berdayaan yang berlebihlebihan dan tidak mampu mengambil keputusan pada saat ingin melakukan kegiatan atau tidak mengalami keadaan yang tiba-tiba ingin menangis dan kadang mencoba untuk bunuh kekurangannya dan selalu merasa tidak percaya diri (Atkinson dkk, 1999: . Freud mengatakan bahwa pasien depresi meluapkan kemarahan langsung ditujukkan kedalam diri sendiri sebagai identifikasi dengan Kaplan . menganggap depresi adalah emosi yang timbul dari tekanan kedalam ego antara aspirasi dan Pada saat menyadari segala sesutau tidak sesuai yang diharapkan maka akan merasa tidak berdaya dan tidak berguna. Jenis-Jenis Depresi Depresi Ringan Pada depresi ringan ini harus ada sekurangkurangnya dua dari gejala depresi yang khas, selain itu juga ditambah sekurang-kurangnya dua dari gejala depresi yang lainnya dan tidak boleh ada gejala yang berat dalam depresi, biasanya lamanya berlangsung adalah kurang lebih sekitar dua minggu. Pada umumnya orang yang mengalami depresi ringan akan mengalami keadaan resah, serta sukar untuk melakukan pekerjaan dan kegiatan sosial, namun pada depresi ringan ini seseorang atau individu masih mampu untuk melakukan kegiatan. Depresi Sedang Harus ada sekurang-kurangnya dua dari gejala yang khas dari depresi, kemudian ditambah sekurang-kurangnya tiga dari gejala depresi lainnya. Beberapa dari gejala depresi sedang ini tampa terlihat atau menyolok. Lamanya dari depresi sedang ini adalah minimal dua minggu. Pada penderita depresi sedang biasanya individu sulit untuk melakukan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah Depresi Berat Pada depresi berat ini biasanya individu mengalami ketegangan atau kegelisahan yang amat nyata. Kehilangan harga diri dan perasaan dirinya tidak berguna sangat nyata terlihat, dan bunuh diri merupakan hal yang sangat nyata dialami oleh penderita depresi berat ini. Faktor-Faktor Penyebab Depresi Faktor Biologis Penderita gangguan depresi menunjukkan berbagai macam abnormalitas metabolisme biogenikamin pada darah, urin dan cairan Keadaan tersebut mendukung bahwa gangguan depresi berhubungan dengan disregulasiamin yang heterogen. Faktor Genetik Faktor genetik merupakan faktor yang sangat bermakna sebagai penyebab timbulnya Penelitian keluarga generasi pertama mempunyai resiko delapan sampai 18 kali lebih banyak dibandingkan kontrol subyek normal oleh penderita deprsi. pada kembar homozigot untuk dapat terkena depresi sekitar 50% sedangkan untuk kembar dizigot 10-25%. Faktor Psikososial . Peristiwa Kehidupan dan Stres Lingkungan Stres dalam kehidupan dapat menimbulkan episode depresi pertama kali dan mempengaruhi neurotrarumiter dan sistem intra neuron untuk jangka lama dan menetap. Dengan dampak stres dalam kehidupan memegang peran penting dalam hubungannya dengan onset depresi. Faktor Kepribadian Pramorbid Semua orang dengan berbagai pola kepribadian yang mempunyai resiko tinggi untuk menderita depresi adalah kepribadian dependen, histerionok dan obsesif-kompulsif. Faktor Psikoanalisis dan Psikodinamika Dame Rizqy Robby / Journal of Social and Industrial Psychology 2 . Kecerdasan Spiritual Menurut Nggermanto kecerdasan spiritual mampu mentrasformasikan kesulitan menjadi suatu medan penyempurnaan dan pendidikan spiritual yang bermakna. Semakin mematangkan kecerdasan spiritual. Dengan demikian kecerdasan spiritual justru memicu seseorang maju, ketika yang lainnya mungkin Zuhri . alam Nggermanto 2001:. mengatakan bahwa kenikmatan-kenikmatan duniawi, seperti makanan, mendukung dimensi fisik manusia berkembang. Makanan bergizi, suplai oksigen yang memadai membuat otak fisik manusia, terutama IQ bekerja optimal. Sedangkan Dengan kesulitan kecerdasan spiritual lebih tajam dan matang. Menemukan dan mengatasi rintangan Menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju Tetap menyadari bahwa ada banyak jalan HIPOTESIS Berdasarkan uraian teoritis yang telah dikemukakan, maka hipotesis dalam penelitian ini yaitu AuAda hubungan negatif antara kecerdasan spiritual dengan depresi pada penyandang cacat pasca kusta di Liposos Donorojo binaan Yastimakin Bangsri JeparaAy. Semakin tinggi kecerdasan spiritual semakin rendah depresinya, begitu pula spiritualnya maka semakin tinggi depresi pada penyandang cacat pasca kusta di Liposos Donorojo binaan Yastimakin Bangsri Jepara. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunkan pendekatan pelaksanaannya mencari data sebanyakbanyaknya dan kemudian berusaha untuk mendeskripsikan sejelas-jelasnya. Penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif data-data numerikal . yang diolah dengan metode statistika (Azwar, 2012: . Subjek dari penelitian ini adalah penyandang cacat pasca kusta di Liposos Donorojo binaan Yastimakin Bangsri Jepara yang sejumlah 150 orang. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 orang. Teknik digunakan adalah menggunakan skala. Skala digunakan untuk mengukur depresi dan kecerdasan spiritual. Hasil penelitian dianalisis menggunakan SPSS versi 17 untuk menetapkan validitas dan reliabilitas alat ukur. Hasil analisis diperoleh bahwa validitas untuk skala depresi yang terdiri dari 32 item terdapat 24 item yang valid dan 8 item yang tidak valid. Skala kecerdasan spiritual yang terdiri dari 25 item yang valid. Aspek-Aspek Kecerdasan Spiritual Menurut Zohar dan Marshall . , tanda- tanda dari kecerdasan spiritual yang telah berkembang dengan baik adalah sebagai: Kemampuan bersikap fleksibel Tingkat kesadaran diri yang tinggi Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu Berpikir secara holistik Menurut Zohar . alam Efendi 2005:. , ada pula tujuh langkah praktis mendapatkan kecerdasan spiritual yang lebih baik antara lain: Menyadari dimana saya sekarang Merenungkan apakah pusat saya sendiri dan apakah motivasi saya yang paling Menetapkan hati saya pada sebuah jalan Merasakan dengan kuat bahwa saya ingin Dame Rizqy Robby / Journal of Social and Industrial Psychology 2 . Reliabilitas skala depresi diperoleh koefisien alpha cronbach reliabilitas sebesar 0,860, sedangkan skala kecerdasan spiritual diperoleh koefisien alpha cronbach reliabilitas sebesar 0,820. Untuk. Kedua reliabilitas ini termasuk tinggi dan layak untuk digunakan dalam penelitian. Analisis data dimulai dengan memahami seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber pengumpulan data sebelumnya. Analisis dilakukan agar peneliti segera dapat menyusun strategi selanjutnya sehingga memperoleh menyebabkan penurunan variabel lain, dengan kata lain semakin tinggi kecerdasan spiritual maka semakin tinggi pula depresi pada penyandang cacat pasca kusta di Liposos Donorojo binaan Yastimakin Bangsri Jepara, begitupun sebaliknya. Meskipun menunjukkan bahwa hipotesis penelitian ditolak, dan ada hubungan positif antara kecerdasan spiritual dengan depresi pada penyandang cacat pasca kusta di Liposos Donorojo binaan Yastimakin Bangsri Jepara, dimana semakin tinggi kecerdasan spiritual maka semakin tinggi depresi. Hal ini juga dikarenakan faktor psikososial dimana stigma yang terjadi dimasyarakat masih banyak menganggap penyakit kusta tidak dapat disembuhkan dan masih gampang menular, akibatnya penyandang cacat pasca kusta dijauhi dan dikucilkan dari masyarakat atau orangorang sekitar, oleh karena itu penyandang cacat pasca kusta masih dapat mengalami depresi meskipun mereka juga memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi. Depresi dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah faktor psikososial. Setelah dilakukan obesrvasi dan wawancara dengan subjek penelitian, peneliti mendapatkan hasil bahwa depresi yang terjadi pada penyandang cacat pasca kusta di Liposos Donorojo binaan Yastimakin Bangsri Jepara lebih dominan disebabkan karena faktor Faktor psikososial merupakan kondisi dimana seseorang dalam lingkungan keluarga yang broken home, jumlah saudara banyak, status ekonomi orangtua rendah, pemisahan orangtua dengan karena meningal atau perceraian serta buruknya fungsi keluarga (Mardya 2009: . Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahayu . meneliti mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penderita kusta di Kabupaten Pekalongan terhadap depresi, diperoleh hasil bahwa faktor psikososial paling banyak mempengaruhi penderita kusta mengalami depresi dibanding faktor penyebab depresi yang lain. Salah satu kemampuan yang dapat menghindarkan individu mengalami depresi HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang menyatakan bahwa hipotesis ada hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan spiritual dengan depresi pada penyandang cacat pasca kusta di Liposos Donorojo binaan Yastimakin Bangsri Jepara tidak terbukti. Hasil penelitian ini diperoleh nilai koefisien korelasi . sebesar 0,342. Angka tersebut mengandung arti bahwa dalam penelitian ini, kecerdasan spiritual memberikan sumbangan efektif sebesar 68% terhadap depresi. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa tingkat konsistensi variabel depresi sebesar 68% dapat diprediksi oleh variabel kecerdasan spiritual, sedangkan sisanya sebesar 32% ditentukan oleh faktor psikososial seperti stigma negatif yang terjadi dimasyarakat dan lingkungannya bahwa cacat akibat penyakit kusta masih dapat menular meskipun sudah dinyatakan sembuh sehingga penyandang cacat pasca kusta dijauhi dan dikucilkan masyarakat dan lingkungan sekitar. Nilai signifikansi pada penelitian ini adalah 0,000 < 0,05 yang berarti ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan spiritual dengan depresi pada penyandang cacat pasca Nilai hubungan yang terjadi adalah hubungan positif, yaitu ada hubungan positif antara kecerdasan spiritual dengan depresi. Kenaikan suatu variabel akan menyebabkan kenaikan variabel lain, sedangkan penurunan suatu variabel akan Dame Rizqy Robby / Journal of Social and Industrial Psychology 2 . Chaplin. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Pelajar. Ariani. Hubungan Harga Diri Dengan Depresi pada Penderita Diabetes Militus. Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kaplan. Sadock. Sinopsis Psikiatri. Alih bahasa oleh Widjaja Kusuma. Jakarta: Binarupa Aksara. Kurnia. Saputri. Perbedan Kejadian Depresi Pada Narapidana Usia Muda dan Usia Tua Beserta Gambaran Sidik Jari Di Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto. Mandala of Health. Vol. 5, nomor 2. Kurniarto. Penderita Cacat Kusta. Kesehatan Kompas. Februari. http://kesehatan . com /read /2012 /04/11/ penderita cacat kusta. Mardya. Faktor-Faktor Penyebab Depresi. Jurnal Klinis Vol. 4 No. Nggermanto. Agus. Quantum Quotient (Kecerdasan Quantu. Cara Cepat Melejitkan IQ,EQ, dan SQ Secara Harmonis. Bandung: Nuansa. Rahayu. Desi Aryana. Dukungan Psikososial Keluarga Penderita Kusta di Kabupaten Pekalongan. Seminar Hasil Penelitian. LPPM UNIMUS. Tasmara. Pembentukan Kualitas Hidup Melalui Kecerdasan Spiritual. Jakarta. Arga. Zohar. Danah dan Marshall. (Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan. Bandung: Penerbit Mizan. akibat faktor psikososial adalah kecerdasan Sesuai dengan pendapat Zohar dan Marshall dalam Agustian . , kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. SIMPULAN Berdasarkan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sesuai dengan perumusan masalah sebagai berikut: Hasil uji hipotesis AuAda Hubungan Negatif Antara Kecerdasan Spiritual Dengan Depresi Pada Penyandang Cacat Pasca Kusta Di Liposos Donorojo Binaan YastimakinAy AuTidak TerbuktiAy . 0,342. dengan sig < 0,. antara variabel kecerdasan spiritual dengan variable depresi penyandang cacat pasca kusta yaitu 0,000 dan nilai signifikansinya Sig. -taile. adalah dibawah atau lebih kecil dari 0,05 atau 0,01 . ilainya adalah 0,. Berdasarkan analisis deskriptif ditemukan bahwa kecerdasan spiritual dan depresi pada penyandang cacat pasca kusta di Liposos Donorojo binaan Yastimakin Bangsri Jepara sama-sama berada dalam kategori sedang. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh beberapa hal yang penting bahwa faktor psikososial yang lebih dominan mempengaruhi depresi pada penyandang cacat pasca kusta di Liposos Donorojo binaan Yastimakin Bangsri Jepara. DAFTAR PUSTAKA