IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. PEMAHAMAN KONSEP KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA NEGARA ANGGOTA ASEAN DENGAN PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIKULTURAL DI KELAS VI SDN BENDOGERIT 2 KOTA BLITAR Ericca Retna Kusumswati SDN Bendogerit 2. Kota Blitar. Indonesia *Corresponding Email: ericcaretnak@gmail. Diterima: 03 Maret 2022 | Direvisi: 20 Mei 2022 | Disetujui: 09 Agustus 2022 Abstract. Social Sciences (IPS) is one of the subjects starting from SD/MI to university. In the future, students will face challenges because the life of the global community is changing all the time. Therefore. Social Sciences (IPS) is designed to develop knowledge, understanding, and analytical skills on the social conditions of society in entering a dynamic society. Especially learning in Class VI about the socio-cultural life of ASEAN Member States which was carried out at SDN Bendogerit 2. Sananwetan District. Blitar City. The results of learning in social studies learning can be said that the teacher is not successful, as shown by the data, namely from 29 students who achieved completeness as many as 9 students or 31%. Therefore, the teacher conducts research, while the research is used qualitatively on students in social studies learning. The type of research used is Classroom Action Research (CAR). Data analysis techniques used are data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The learning facilities used are multicultural-based learning. Keywords: Socio-Cultural Life. ASEAN Member States. Multicultural Based Learning Abstrak. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang dimulai dari SD/MI sampai perguruan tinggi. Di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki masyarakat yang dinamis. Terutama pembelajaran di Kelas VI tentang kehidupan sosial budaya Negara Anggota ASEAN yang dilaksanakan di SDN Bendogerit 2 Kecamatan Sananwetan Kota Blitar. Hasil pembelajaran pada pembelajaran IPS ini dapat dikatakan guru tidak berhasil, ditunjukkan oleh data yaitu dari 29 siswa yang mencapai ketuntasan sebanyak 9 siswa atau 31%. Oleh sebab itu maka guru melakukan penelitian, adapun penelitian yang digunakan secara kualitatif terhadap siswa pada pembelajaran IPS. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sarana pembelajaran yang digunakan adalah menggunakan pembelajaran berbasis Multikultural. Kata Kunci: Kehidupan Sosial Budaya. Negara Anggota ASEAN. Pembelajaran Berbasis Multikultural Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. PENDAHULUAN Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis atau psikologis untuk tujuan pendidikan (Numan Somantri, 2001:. IPS merupakan hasil kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti geografi, ekonomi, sejarah, sosiologi, antropologi, dan politik. Mata pelajaran tersebut mempunyai ciri-ciri yang sama, sehingga dipadukan menjadi satu bidang studi yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Dengan demikian jelas bahwa IPS adalah fusi dari displin ilmu-ilmu sosial. Pengertian fusi disini adalah bahwa IPS merupakan bidang studi utuh yang tidak terpisahpisah dalam kotak-kotak disiplin ilmu yang ada. Bidang studi IPS tidak mengenal adanya pelajaran geografi, ekonomi, sejarah secara terpisah, melainkan semua disiplin tersebut diajarkan secara terpadu. IPS dikembangkan secara terpadu berpotensi untuk mewujudkan manusia yang memiliki kesadaran sosial dan mampu hidup bersama dalam masyarakat majemuk. Kesadaran sosial akan terwujud apabila siswa memiliki pemahaman konsep-konsep dalam pembelajaran IPS yang meliputi interaksi, saling ketergantungan, kesinambungan, dan perubahan . ontinuity and chang. , keragaman atau kesamaan atau perbedaan, konflik dan konsesus, pola . , tempat . , kekuasaan . , nilai . , kekhususan . , budaya . dan nasionalisme (Etin Solihatin dan Raharjo, 2007: 15-. Pembelajaran IPS diharapkan dapat memberikan pengalaman bagi siswa untuk mencermati suatu fenomena kehidupan sosial dari berbagai perspektif ilmu Artinya, suatu fenomena kehidupan sosial harus ditinjau berdasarkan kajian berbagai bidang kajian seperti sosiologi, geografi, ekonomi, dan sejarah. Di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (UUDAo. alinea ke-4 salah satu pernyataan berbunyi AuPemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ay. Di dalam salah satu kalimat tersebut ada yang berbunyi ikut melaksanakan ketertiban dunia. Berdasar pernyataan di atas maka dapat diartikan bahwa Bangsa indonesia adalah bangsa Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. mempunyai kewajiban dalam melakukan ikut campur dalam usaha ketertiban dunia. Salah satu usahanya adalah menjadi anggota Persatuan Bangsa-bangsa, selain itu Indonesia merupakan salah satu pendiri ASEAN (Assotiation of Southes Asian Nation. Yang berdiri pada 8 Agustus 1967 yang diprakarsai oleh mentri Luar Negeri dari lima negara dikawasan Asia Tenggara. Pada waktu itu Indonesia diwakili oleh mentri Adam Malik, yang pada waktu itu menjabat sebagai Menteri Luar negeri, yang disebut dengan deklarasi Bangkok. Pada tingkat SD kelas VI dalam salah satu pokok bahasan yang mempelajari peranan Indonesia di kawasan Asia tenggara (ASEAN). Dalam pembahasan ini siswa diajak untuk mengetahui sejauh mana peranan Negara Inadonesia di lingkup ASEAN. Didalam melakukan pembelajaran ini hendaknya dapat dilakukan dengan metode dan pendekatan yang tepat, tetapi dalam kenyataan proses pembelajaran hanya dilakukan dengan metode ceramah, tanya jawab dan mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) saja sehingga pembelajaran hanya monoton, antusias siswa sangat kurang. Kejenuhan yang dialami oleh siswa dapat disebabkan oleh . cara atau metode belajar yang kurang bervariasi, . belajar hanya di tempat tertentu, . suasana belajar yang tidak berubahubah, . kurang aktivitas rekreasi dan hiburan, . adanya ketegangan mental yang kuat dan berlarut-larut pada saat belajar. (Drs. Thursan Hakim, 2000:. Menurut Piaget . alam Dimyati dan Mudjono 2006:. Siswa kelas VI berada pada fase operasional konkrit. Anak dapat mengembangkan pikirannya secara logis dan dapat mengikuti penalaran logis. Berdasarkan pendapat Piaget di atas siswa dapat memahami pemikiran yang logis melalui suatu kondisi yang nyata/konkrit. Hal tersebut menjelaskan alat bantu atau media dalam pembelajaran bagi anak kelas VI SD sangatlah berperan penting, selain itu pengalaman anak secara langsung sangat membantu dalam proses pembelajaran anak. Selain hal tersebut kemampuan guru sangatlah berperan penting dalam pelaksanaan pembelajaran di dalam sekolah. Sebelum melakuan pembelajaran sebaiknya guru mempersiapkan perlengkapan pembelajarn yang diperlukan mulai dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), media, sampai analisis. Dalam menyusun RPP guru harus memperhatikan lingkungan sekitar untuk menyesuaikan dengan pembelajaran yang akan diajarkan tidak hanya menggunakan RPP dari Kelompok Kerja Guru (KKG) saja. Hasil dari KKG merupakan RPP secara minimal yang harus dikembangkan lagi dan disesuaikan dengan lingkungan sekitar sekolah. Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. SDN Bendogerit 2 Kecamatan Sananwetan Kota Blitar yang terletak ditempat yang sangat strategis dimana lokasinya berada dekat dengan tempat wisata Makam Bung Karno. Sebagian besar orang tua/ wali murid SDN Bendogerit 2 ini bekerja sebagai pedagang yang berjualan di sekitar tempat wisata tersebut. Karakter siswa kelas VI ini merupaka siswa yang sangat aktif dan mempunyai potensi dalam prestasi, namun siswa kurang terkendali dalam hal penggunaan media sosial yang semakin marak ini. Dalam hal ini guru sebagai orang tua ke dua bagi siswa harus lebih memberikan pengarahan terhadap siswa tentang dampak kemajuan zaman. Hasil pada pembelajaran IPS ini dapat dikatakan guru tidak berhasil, ditunjukkan oleh data yaitu dari 29 siswa yang mencapai ketuntasan sebanyak 9 siswa atau 31%, masih terdapat 69% siswa yang belum mencapai Sesuai dengan karakter siswa dan hasil belajar siswa diatas, maka diperlukan suatu metode yang tepat dan sesuai dengan materi dan pokok bahasan yang dipelajari oleh siswa, salah stunya dengan menggunakan metode Pendekatan Multikultural. Pendekatan Multikultural adalah memanfaatkan keberagaman latar belakang dari para siswa sebagai salah satu kekuatan untuk membentuk sikap multikultural. Dengan demikian siswa diharapkan mempunyai pengetahuan yang baru dalam membentuk suatu pengetahuan, dan dapat dijadikan objek dalam pembelajaran dengan basis kenyataan yang ada di lingkungan sekitarnya. Tujuan pendidikan dengan berbasis multicultural dapat diidentifikasi: . untuk memfungsikan peranan sekolah dalam memandang keberadaan siswa yang beraneka ragam. untuk membantu siswa dalam membangun perlakuan yang positif terhadap perbedaan cultural, ras, etnik, kelompok keagamaan. memberikan ketahanan siswa dengan cara mengajar mereka dalam mengambil keputusan dan keterampilan sosialnya. untuk membantu peserta didik dalam membangun ketergantungan lintas budaya dan memberi gambaran positif kepada mereka mengenai perbedaan kelompok (Banks, dalam skeel, 1. Pada pembelajaran tematik kelas VI semester 1 Tahun Pelajaran 2022/2023 SDN Bendogerit 2 Kecamatan Sananwetan Kota Blitar ini, mengalami hambatan dalam pembelajaran Kehidupan Sosial Budaya Negara Anggota ASEAN. Kegiatan pembelajaran harus memerlukan metode pembelajaran khusus yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan demikian guru melakukan penelitian dengan mengambil judul Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. AyPemahaman Konsep Kehidupan Sosial Budaya Negara Anggota ASEAN dengan Pembelajaran Berbasis Multikultural di Kelas VI SDN Bendogerit 2 Kota BlitarAy. METODE Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Sugiyono . menyatakan metode penelitian kualitatif adalah metode yang digunakan peneliti pada kondisi objek yang alamiah, peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data secara trianggulasi . , analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah suatu penelitian tindakan . ction researc. yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti di kelasnya atau bersama-sama dengan orang lain . dengan jalan merancang, melaksanakan dan merefleksikan tindakan secara kolboratif dan partisipatif yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu . pembelajaran di kelasnya melalui suatu tindakan tertentu dalam suatu siklus (Kunandar, 2008:. Adapun secara sekema kegiatan penelitian adapat digambarkan sebagai Rencana Refleksi Rencana Tindakan Observasi Tindakan Refleksi Observasi Gambar 1: Rangkaian Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas Dalam penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahap, tahap yang pertama merupakan Pra Tindakan, dalam kegiatan Pra Tindakan ini dilaksanakan kegiatan observasi, penyimpulan hasil observasi, dan refleksi. Hasil dari refleksi kegiatan Pra Tindakan digunakan untuk melaksanakan kegiatan Siklus I, pada siklus I juga dilaksanakan observasi, penyimpulan hasil observasi, dan refleksi. Hasil dari refleksi Siklus I digunakan untuk melaksanakan kegiatan pada siklus berikutnya apabila Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. memerlukan perbaikan pembelajaran. Jadi, hasil refleksi setiap kegiatan pembelajaran dipergunakan untuk memperbaiki pada kegiatan pembelajaran selanjutnya. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN Bendogerit 2 Kecamatan Sananwetan Kota Blitar yang berada pada semester 1 tahun pelajaran 2022/2023. Jumlah siswanya adalah 28 siswa, siswa perempuan 13 siswa dan laki-laki 16 siswa. Karakter siswa kelas VI ini adalah siswa yang aktif dan pandai dan hanya sebagian kecil saja yang lambat belajar. Waktu pelaksanaan penelitaian adalah Pra Tindakan dilaksanakan pada Hari Senin tanggal 25 Juli 2022. Siklus 1 hari Rabu tanggal 27 Juli 2022, dan siklus 2 hari Kamis tanggal 28 Juli 2022, metode pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran berbasis Multikultural. Pendidikan multikultural . ultikultural educasiona. merupakan straregi pendidikan yang memanfaatkan keberagaman latar belakang dari para peserta didik sebagai salah satu kekuatan untuk membentuk sikap multikultural. Strategi ini sangat bermanfaat, sekurang-kurangnya bagi sekolah sebagai lembaga pendidikan membentuk pemahaman bersama atas konsep kebudayaan, perbedaan budaya, keseimbangan, dan demokrasi dalam arti yang luas (Liliweri, 2. Pendidikan multikultural didevinisikan sebagai sebuah kebijakan sosial yang didasarkan pada prinsip-prinsip pemeliharaan budaya dan saling memiliki rasa hormat antara seluruh budaya di dalam masyarakat. Pembelajaran multikultural dapat berpartisipasi dalam mewujudkan kehidupan demokrasi yang ideal bagi bangsanya (Banks, 1. Materi pembelajaran yang digunakan untuk penelitian adalah pelajaran Tematik. Muatan: Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tema 1: Selamatkan Makhluk Hidup. Sub Tema 1: Tumbuhan Sahabatku. Pembelajaran: 2, dengan Tujuan Pembelajaran: Setelah membaca teks tentang ASEAN dan kondisi geografisnya, siswa mampu menyebutkan kehidupan sosial budaya dari dua negara terkait kondisi geografisnya dengan benar. Dalam memperoleh data penelitian adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif merupakan data yang tidak dinyatakan dalam bentuk angka melainkan dalam bentuk Sedangkan data kuantitatif adalah data yang disajikan dalam bentuk angka. Dalam penelitian ini observer menggunakan data kualitatif yang berupa data penilaian siswa setiap akhir pembelajaran dalam bentuk penilaian individu dan penilaian kelompok. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Teknik tes, dan Teknik dokumentasi. Langkah-langkah analisis data yang digunakan sesuai Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. dengan pendapat Sugiyono . 0: . menyatakan, bahwa kegiatan terjadi yang secara bersamaan, meliputi: . reduksi data, . pengajuan penyajian data, dan . penarikan Dengan menggunakan acuan nilai Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM). Adapun SKBM dari mata pelajaran IPA adalah 80, sehingga siswa yang mendapatkan nilai kurang dari SKBM dinyatakan belum tuntas, serta apabila nilai ratarata kelas di bawah SKBM juga perlu pembelajaran perbaikan dengan melanjutkan ke siklus berikutnya hingga mencapai ketuntasan. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar peserta didik setelah mengalami proses belajarmengajar. Menurut Darmadi, . bahwa definisi instrumen adalah sebagai alat untuk mengukur informasi atau melakukan pengukuran. Instrumen pengumpul data menurut Suryabrata, . adalah alat yang digunakan untuk merekam-pada umumnya secara kuantitatif-keadaan dan aktivitas atribut-atribut psikologis. Atibutatribut psikologis itusecara teknis biasanya digolongkan menjadi atribut kognitif dan atribut non kognitif. Sumadi mengemukakan bahwa untuk atribut kognitif, perangsangnya adalah pertanyaan. Sedangkan untuk atribut non-kognitif, perangsangnya adalah pernyataan. Jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kuantitatif dideskripsikan menjadi data kualitatif. Data kuantitatif dalam penelitian deskriptif dapat dianalisis dengan teknik persentase. Data yang sudah dipersentase dikualifikasikan menjadi data kualitatif. Sementara itu data kualitatif merupakan data yang ditampilkan dalam bentuk deskripsi-deskripsi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pembelajaran di kelas VI SDN Bendogerit 2 Kecamatan Sananwetan Kota Blitar di tahun pelajaran 2022/2023 ini menggunakan Kurikulum 2013. Pada Tematik. Muatan: Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tema 1: Selamatkan Makhluk Hidup. Sub Tema 1: Tumbuhan Sahabatku. Pembelajaran: 2, dengan Tujuan Pembelajaran: Setelah membaca teks tentang ASEAN dan kondisi geografisnya, siswa mampu menyebutkan kehidupan sosial budaya dari dua negara terkait kondisi geografisnya dengan benar. Penilaian yang digunalkan adalah dalam pemberian soal evaluasi, guru menggunakan pedoman Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM), adapun SKBM Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. pada Kompetensi Dasar ini adalah 75. Apabila siswa memperoleh nilai kurang dari 75, maka siswa tersebut belum mencapai SKBM atau belum tuntas. Pada ketuntasan secara klasikal juga ditentukan apabila dalam klasikal yang sudah mencapai ketuntasan lebih dari atau sama dengan 75% maka pembelajaran sudah terpenuhi dan mencapai ketuntasan sehingga tidak diperlukan pembelajaran perbaikan berikutnya. Pada penilaian menggunakan soal evaluasi dengan memberikan 20 soal isian tentang Kehidupan Sosial Budaya ASEAN, dan pada kegiatan observasi dengan mengirimkan kegiatan studi dokumentasi dari pengarahan guru pada tiap siklusnya yang berhubungan dengan Kehidupan Sosial Budaya di lingkungan sekitar siswa dan dilanjutkan dengan pengembangan di ASEAN. Pada pembelajaran Pra Tindakan yang dilaksanakan pada Hari Senin tanggal 25 Juli 2022, dapat diketahui dari observasi awal bahwa guru kurang persiapan dalam melaksanakan pembelajaran. Media pembelajaran belum nampak menarik minat siswa, metode pembelajaran juga kurang dilaksanakan secara maksimal. Hasil pembelajaran yang dilakukan hanya 31% siswa yang mencapai ketuntasan, sehingga pada kegiatan Pra Tindakan ini diperlukan pembelajaran Perbaikan, yaitu Siklus 1 yang akan dilaksanakan mengacu pada hasil refleksi Pra Tindakan. Siklus 1 dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 27 Juli 2022, yang dilaksanakan dengan beberapa perbaikan-perbaikan diantaranya adalah perbaikan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan metode pembelajaran yang digunakan. Siklus 1 diawali oleh peneliti dengan merubah RPP yang disertai dengan metode pembelajaran Berbasis Multikultural. Kegiatannya meliputi: Kegiatan awal: . Guru menyampaikan salam, berdoa, dan presensi, . Guru memberikan motivasi dan saran agar selalu semangat belajar, dan . Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan hari ini. Kegiatan inti meliputi: . Guru menunjukkan beberapa gambar yang berkaitan dengan materi Kehidupan Sosial Budaya ASEAN melalui media LCD Proyektor, . Guru memberikan penjelasan dari gambar tersebut, . Siswa diajak bertanya jawab tentang beberapa gambar yang ditayangkan pada LCD Proyektor, . Siswa dibentuk kelompok untuk mengamati keragaman budaya negara anggota ASEAN yang sudah disiapkan oleh guru pada lembar kerja kelompok yang terdapat 20 gambar budaya negara anggota ASEAN, . Siswa dalam kelompok menuliskan nama negara pada gambar dan Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. menyebutkan nama-nama keragaman budayanya, . Hasil kerja kelompok ditukar dengan kelompok lain dan dibahas bersama, . Pemberian soal evaluasi yang dikerjakan secara individu dan dilanjutkan pembahasannya, dan . Kegiatan Akhir/Penutup. Hasil pembelajaran siklus 1 pada kegiatan pembelajaran nampak siswa mengamati tayangan pada LCD Proyektor tentang keragaman budaya negara anggota ASEAN, melakukan kerja kelompok, dan aktif dalam melakukan tanya jawab kepada guru tentang hal yang belum dipahami. Kegiatan berkelompok juga sangat aktif saling menemukan informasi terkait lembar kegiatan yang diberikan oleh guru. Pada hasil penilaian secara kelompok dan individu memperoleh hasil, yaitu kerja kelompok dari 8 kelompok terdapat 5 kelompok yang mencapai ketuntasan atau sebesar 63%, dan dalam mengerjakan soal evaluasi secara individu yang mencapai ketuntasan 18 siswa atau sebesar 62% dengan nilai rata-rata klasikal 65. Nilai tersebut sudah baik tetapi belum mencapai ketuntasan yang diharapkan sehingga diperlukan pembelajaran perbaikan Pembelajaran perbaikan siklus 2 dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 28 Juli 2022, dengan pembelajaran mengacu perbaikan dari siklus 1. Kegiatannya meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Pada kegiatan inti, meliputi: . Guru kembali melakukan tanya jawab tentang keragaman budaya negara anggota ASEAN, . Siswa melakukan tanya jawab terhadap penyampaian materi oleh guru, . Guru membentuk kelompok dan memberikan beberapa lembar kertas yang berisikan budayabudaya di negara ASEAN, . Kegiatan kelompok adalah dengan membuat kliping dari gambar budaya tersebut, setelah gambar-gambar digunting dan ditempel dalam kertas kemudian di sampingnya diberi penjelasan tentang nama negara dan nama budayanya sesuai dengan gambar, . Hasil kerja kelompok ditukar dengan kelompok lain dan dibahas bersama, . Pemberian soal evaluasi yang dikerjakan secara individu dan dilanjutkan pembahasannya, dan . Kegiatan Akhir/Penutup. Pembelajaran siklus 2 dalam kegiatan pembelajaran nampak siswa aktif dalam melakukan tanya jawab dengan guru dan melakukan kerja kelompok membuat kliping dari gambar-gambar yang sudah disiapkan guru. Kegiatan berkelompok juga sangat aktif saling menemukan informasi terkait gambar budaya yang telah ditempelkannya dalam Hasil penilaian secara kelompok dan individu memperoleh hasil, yaitu kerja kelompok dari 8 kelompok terdapat 7 kelompok yang mencapai ketuntasan atau sebesar Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. 88%, dan dalam mengerjakan soal evaluasi secara individu yang mencapai ketuntasan 26 siswa atau sebesar 90% dengan nilai rata-rata klasikal 88. Nilai tersebut sudah sudah meningkat diatas nilai SKBM yang ditentukan sehingga tidak perlu melakukan kegiatan pembelajaran perbaikan selanjutnya. Pembahasan Pendidikan mutikultural merupakan proses penanaman cara hidup menghormati, tulus dan toleran terhadap keragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat Baik itu melalui pendidikan formal . , nonformal . uar sekola. maupun informal . Sehingga implementasi pendidikan multikultural di sekolah tidak perlu dalam bentuk mata pelajaran tersendiri, tetapi dapat direalisasikan dalam bentuk pembelajaran multikultural, yaitu dengan diintegrasikan pada berbagai macam Mata Pelajaran yang sudah ada seperti PKN. Bahasa. IPS. Agama termasuk Akidah Akhlak yang akan menjadi kajian utama dalam penelitian ini. Oleh karena itu, hal yang terpenting dalam pendidikan multikultural adalah seorang guru tidak hanya dituntut untuk menguasai dan mampu secara profesional mengajar mata pelajaran yang diajarkannya lebih dari itu, seorang guru juga harus mampu menanamkan nilai-nilai inti dari pendidikan multikultural seperti demokratis, humanisme, dan pluralisme. Pendidikan multikultural merupakan proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keragaman budaya yang hidup ditengahtengah masyarakat plural. Dengan pendidikan multikultural diharapkan adanya kekenyalan dan kelenturan mental bangsa menghadapi benturan konflik sosial (Musa AsyAoarie, 2. Sebab secara teknis dan teknologi masyarakat Indonesia telah mampu untuk tinggal bersama dalam masyarakat majemuk, namun spiritualnya relatif belum memahami arti sesungguhnya dari hidup bersama dengan orang yang memiliki perbedaan kultur yang antara lain mencakup perbedaan dalam hal agama, etnisitas, kelas sosial (Kisbiyah, 2. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan peneliti pada pembelajaran di Kelas VI SDN Bendogerit 2 Kecamatan Sananwetan Kota Blitar Tahun Pelajaran 2022/2023. Tematik. Muatan: Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tema 1: Selamatkan Makhluk Hidup. Sub Tema 1: Tumbuhan Sahabatku. Pembelajaran: 2, dengan Tujuan Pembelajaran: Setelah membaca teks tentang ASEAN dan kondisi geografisnya, siswa mampu Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. menyebutkan kehidupan sosial budaya dari dua negara terkait kondisi geografisnya dengan benar. Pembelajaran yang digunakan adalah dengan metode pembelajaran berbasis Multikultural, yaitu Pendidikan multikultural . ultikultural educasiona. merupakan straregi pendidikan yang memanfaatkan keberagaman latar belakang dari para peserta didik sebagai salah satu kekuatan untuk membentuk sikap multikultural. Strategi ini sangat bermanfaat, sekurang-kurangnya bagi sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat membentuk pemahaman bersama atas konsep kebudayaan, perbedaan budaya, keseimbangan, dan demokrasi dalam arti yang luas (Liliweri, 2. Dalam observasi kegiatan Pra Tindakan dapat diketahui hal-hal yang terjadi dalam pelaksanaan pembelajaran antara lain: pembelajaran yang dilakukan guru kurang menarik, guru tidak menggunakan pendekatan, metode yang digunakan tidak sesuai, tidak menggunakan media pembelajaran, pemberian evaluasi kurang sesuai, kurang kreatif dalam mengkondisikan kelas, dan hasil belajar siswa sangat rendah untuk muatan IPS. Kegiatan pembelajaran sangat didominasi oleh siswa yang pandai saja, sedangkan siswa yang kurang pandai kurang aktif untuk menunjukkan kemampuannya. Disisi lain guru belum menyesuaikan kegiatan dengan pembelajaran yang dilakukan agar bisa terpadu antara siswa yang pandai dan kurang pandai. Pada pembelajaran perbaikan siklus 1 dan siklus 2 yang merupakan perbaikan pada pembelajaran pra tindakan difokuskan pada pelaksanaan pembelajaran berbasis Multikultural. Dimana guru mengenalkan berbagai budaya negara-negara anggota ASEAN dengan menggunakan media gambar yang ditayangkan pada LCD proyektor dan juga dengan media gambar di kertas. Selain itu guru harus menguasai sebelumnya materi tentang budaya negara anggota ASEAN, agar pada saat melakukan tanya jawab dengan siswa dapat menjelaskannya secara lancar. Pada pelaksanaannya dengan merode berbasis Multikultural, siswa sangat antusias untuk mengetahui keanekaragamannya dan saling menemukan informasi terkait dengan gambar budaya yang diberikan pada saat kerja Hasil pada pembelajaran Siklus 1 dan Siklus 2 ini dapat digambarkan dalam sebuah grafik. Adapun grafiknya sebagai berikut: Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. Kegiatan Kelompk Kegiatan Individu Nilai rata-rata Nilai rata-rata Kegiatan Individu Kegiatan Kelompk SIKLUS 1 SIKLUS 2 Gambar 2 Grafik hasil belajar IPS dengan Metode Berbasis Multikultural pada Siklus 1 dan Siklus 2 Grafik diatas menunjukkan bahwa pada setiap pembelajaran mengalami peningkatan dalam tiap siklusnya, yaitu peningkatan dalam kerja kelompok, mengerjakan soal evaluasi, dan nilai rata-rata kelasnya. Hasil ketuntasan dalam kerja kelompok di siklus 1 mencapai 63%, dan siklus 2 naik menjadi 88%. Pada hasil ketuntasan mengerjakan soal evaluasi secara individu dari 29 siswa, pada siklus 1 mencapai ketuntasan sebesar 62% dan siklus 2 mencapai 90%. untuk nilai rata-rata klasikal juga mengalami peningkatan, pada siklus 1 mencapai nilai 65 atau 65%, dan siklus 2 mencapai nilai 88 atau 88%. Dengan demikian pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis Multikultural dapat dikatakan berhasil dalam mencapai KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: Peningkatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) melalui Pembelajaran Berbasis Multikultural dapat dilakukan dengan cara siswa mengali pengetahuan dari keberagam siswa dan memanfaatkan lingkungan yang beragam yang ada di sekitar kegiatan pembelajaran berlangsung. Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. Pembelajaran Berbasis Multikultural membawa pengaruh terhadap hasil belajar Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan hasil belajar siswa setelah Hasil ketuntasan dalam kerja kelompok di siklus 1 mencapai 63%, dan siklus 2 naik menjadi 88%. Pada hasil ketuntasan mengerjakan soal evaluasi secara individu dari 29 siswa, pada siklus 1 mencapai ketuntasan sebesar 62% dan siklus 2 mencapai 90%. untuk nilai rata-rata klasikal juga mengalami peningkatan, pada siklus 1 mencapai nilai 65 atau 65%, dan siklus 2 mencapai nilai 88 atau 88%. REFERENSI