Vol. No. 2, 2024, pp. DOI: https://doi. org/10. 29210/1202424768 Contents lists available at Journal IICET Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. ISSN: 2476-9886 (Prin. ISSN: 2477-0302 (Electroni. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/jppi Efektivitas layanan konseling kelompok menggunakan teknik behavior contract dalam mengurangi perilaku merokok siswa di sekolah menengah kejuruan negeri Hamzah Al-Farid Harahap*). Fauziah Nasution Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Medang. Indonesia Article Info ABSTRACT Article history: Penelitian ini bertujuan untuk menguji layanan konseling kelompok menggunakan teknik behavior contract untuk mengurangi perilaku merokok pada peserta didik. Metode penelitian menggunakan quasi eksperimen yaitu yang menggunakan dua kelompok . elompok eksperimen dan kelompok Populasi pada penelitian ini sebanyak 62 peserta didik, dengan sampel sebanyak 20 peserta didik. pengumpulan data menggunakan instrumen berupa angket perilaku merokok. Penelitian ini menggunakan uji T. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan skor rata-rata pada sampel eksperimen 94% menurun sebesar 68,6% yang menunjukkan bahwa terdapat keefektifan layanan konseling kelompok dengan menggunakan teknik behavior contract. Sedangkan pada sampel kontrol skor rata-rata pretest pada sampel eksperimen 79,8% menjadi 74,5%, hal ini menunjukkan penurunan sebesar 5,3%, yang menyatakan bahwa layanan konseling kelompok pada sampel kontrol tidak seefektif pada sampel eksperimen jika tidak menggunakan teknik behavior Received Aug 20th, 2024 Revised Sept 26th, 2024 Accepted Oct 13th, 2024 Keywords: Konseling kelompok Perilaku merokok Teknik behavior contract A 2024 The Authors. Published by IICET. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: Hamzah Al-Farid Harahap. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Email: hamzah0303202190@uinsu. Pendahuluan Konseling kelompok merupakan salah satu layanan yang terdapat dalam bimbingan dan konseling (BK) yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang dialami oleh beberapa siswa. Hal ini selaras dengan yang dikatakan oleh imroAoatun bahwasannya konseling kelompok efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa sekolah menengah pertama (ImroAoatun. S, 2. Muwakhidah juga mengatakan layanan konseling kelompok efektif dalam mengurangi keraguan pengambilan keputusan karier siswa sekolah menengah kejuruan (Muwakhidah. , & Pravesti. A, 2. Rahman menyatakan bahwa perilaku merokok dapat dikurangi dengan menggunakan layanan konseling kelompok pada siswa kelas X SMAN 4 Kota Metro tahun ajaran 2014/2015 (Rahman. Giyono&Widiastuti. Sama hal nya dengan pendapat taherong yang menyatakan bahwasannya konseling efektif untuk mengurangi perilaku merokok siswa kelas Vi SMPN 5 Bau-Bau (Taherong. Hidayati. Nurhafifah berpendapat bahwa layanan konseling kelompok efektif dalam menurunkan perilaku merokok pada siswa, pada dasarnya perilaku merokok banyak terjadi didalam dunia pendidikan (Nurhafifah. Baharudin. , & Sriadji. R, 2. Pendidikan adalah kegiatan belajar mengajar atau membimbing yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik yang bertujuan untuk perbaikan moral, melatih intelektual yang Efektivitas layanan konseling kelompok. bermuara menjadi perubahan tingkah laku peserta didik menjadi lebih baik. (Marisyah. Ab. Firman. Rusdinal. Dapat dipahami bahwa pendidikan dan peserta didik adalah dua komponen yang tidak dapat dipisahkan, keduanya saling memiliki peran dalam proses pendidikan. Di dalam lembaga pendidikan banyak peraturan yang telah ditetapkan dan harus dipatuhi oleh setiap peserta didik, namun banyak peserta didik dengan sengaja melanggar peraturan tersebut seperti melakukan tindakan merokok dilingkungan sekolah (Kurniawan, 2. Menurut Latipun (Umar, 2. kontrak perilaku . ehavior contrac. adalah persetujuan antara dua orang atau lebih . onselor dan konsel. untuk mengubah perilaku tertentu pada konseli. Konselor dapat memilih perilaku yang realistik dan dapat diterima oleh kedua belah pihak. Setelah perilaku dimunculkan sesuai dengan kesepakatan, ganjaran dapat diberikan kepada konseli (Latipun, 2. Putri berpendapat bahwasannya teknik behavior contract efetif dalam mengurangi tingkat perilaku phubbing pada siswa kelas Vi di SMPN 1 Tanjung Tiram, maka dari itu teknik behavior contract ini dapat dikatakan efektif dalam mengurangi perilaku maladaptive menjadi adaptif (Putri. A, & Siregar. Merokok adalah menghisap bahan-bahan yang berbahaya bagi tubuh (Prasetya Lukyta, 2. Menghisap asap tembakau yang dibakar ke dalam tubuh dan menghembuskannya kembali keluar disebut sebagai merokok (Armstrong, 1. Danusantoso mengatakan bahwa asap rokok selain merugikan diri sendiri juga dapat berakibat bagi orang-orang lain yang berada disekitarnya (Danusantoso, 1. Pendapat lain menyatakan bahwa perilaku merokok merupakan sesuatu yang dilakukan seseorang berupa membakar dan menghisapnya serta dapat menimbulkan asap yang dapat terhisap oleh orang- orang disekitarnya (Levy, 1. Aspek-aspek perilaku merokok menurut aritonang . alam nasution, 2. antara lain: pertama, jumlah rokok yang dikonsumsi, yaitu seorang perokok yang dinilai berdasarkan banyaknya rokok yang dihisap. Kedua, aktivitas merokok yaitu individu yang menggambarkan perasaan yang dialami oleh seorang perokok didalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, penyebab merokok, yakni perbuatan yang menyebabkan individu merokok . aktor psikologis yaitu perasaan stress, cemas, bosan, ingin tahu, serta tekanan teman sebay. Keempat, tempat merokok, berdasarkan tempat ada 2, yakni merokok ditempat umum seperti cafe, halte, dan merokok ditempat yang bersifat pribadi seperti rumah, kamar mandi. (Nasution, 2. Ogden mengatakan dampak positif merokok sangat sedikit ditimbulkan bagi kesehatan, ogden menyatakan bahwa dengan merokok dapat menghasilkan mood positif dan dapat membantu individu menghadapi keadaankeadaan yang sulit (Ogden, 2. Smet menyebutkan keuntungan merokok terutama bagi perokok yaitu dapat mengurangi ketegangan, membantu berkonsentrasi, dukungan sosial dan menyenangkan (Smeet, 1. Sedangkan dampak negatif merokok sangat berpengaruh bagi kesehatan. Merokok bukanlah penyebab suatu penyakit, tetapi dapat memicu suatu jenis penyakit sehingga boleh dikatakan merokok tidak menyebabkan kematian, tetapi dapat mendorong munculnya jenis penyakit yang dapat mengakibatkan kematian (Ogden. Fakta yang ada dilapangan saat ini bahwasannya banyak terdapat perilaku merokok yang terjadi dikalangan siswa menengah atas, salah satunya yaitu peserta didik di sekolah SMKN 1 tanjung tiram yang banyak ditemukannya peserta didik yang menyimpan rokok disaku celana mereka maupun didalam tas mereka. Tidak dapat dipungkiri hal ini terjadi dikarenakan pengaruh tekanan dari teman sebaya, berteman dengan perokok usia muda, status sosial ekonomi rendah, mempunyai orang tua yang merokok, saudara kandung, lingkungan sekolah seperti guru yang merokok, dan tidak percaya bahwa merokok mengganggu kesehatan (Setiyanto, 2013. Sutha, 2. Metode Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif, metode penelitian menggunakan quasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group. Penelitian menggunakan dua kelompok, yakni kelompok eksperimen merupakan kelompok yang mendapatkan layanan dan juga teknik, sedangkan kelompok kontrol merupakan kelompok yang mendapatkan layanan tetapi tidak mendapatkan teknik. (Sugiyono, 2. Penelitian dilakukan di SMKN 1 tanjung tiram yang terletak di jalan istana lima laras desa guntung, kec. tanjung tiram, kab. batubara, sumatera utara. Populasi penelitian terdiri dari kelas XI-A TSM dan XI-B TSM sebanyak 62 siswa. Penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan memenuhi karakteristik tertentu, karakteristik yang harus dipenuhi yaitu peserta didik yang berperilaku merokok tinggi. Dalam pengumpulan data menggunakan instrument berupa angket. Angket di adopsi dari skripsi Komang candrapatni tahun 2023 dengan judul efektivitas konseling cognitive behavior teknik latihan asertif untuk mereduksi perilaku merokok pada siswa SMA. Angket dalam penelitian disediakan pada siswa untuk mengukur perilaku merokok. Angket disajikan dalam penyataan favorable dan unfavorable. Untuk item favorable diberi Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Harahap. & Nasution. Vol. No. 2, 2024, pp. nilai 4 untuk jawaban AuSLAy, nilai 3 untuk jawaban AuSRAy, nilai 2 untuk jawaban AuKKAy, dan nilai 1 untuk jawaban AuTPAy. Sedangkan untuk item unfavorable diberi nilai 1 untuk jawabanAySLAy, nilai 2 untuk jawaban AuSRAy, nilai 3 untuk jawabanAyKKAy, dan nilai 4 untuk jawaban AuTPAy. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji T dengan bantuan program SPSS 27. Dalam penelitian ini menggunakan uji prasyarat yakni uji normalitas, uji homogenitas, dan uji linier dengan tujuan uji tersebut agar dapat melihat data yang digunakan oleh peneliti efektif atau tidak. Hasil dan Pembahasan Penelitian dilakukan disekolah SMKN 1 Tanjung Tiram pada bulan juni-juli, peneliti memberikan angket kepada peserta didik kelas XI-A TSM dan XI-B TSM sebanyak 62 peserta didik. 31 peserta didik sebagai kelompok eksperimen dan 31 peserta didik lainnya sebagai kelompok kontrol. Sampel dari penelitian ini terdiri dari 10 peserta didik dari kelompok eksperimen dan 10 peserta didik sebagai sampel kontrol. Tabel 1 Kategori Selalu Sering Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah nilai Interval <52 Frekuensi Tabel diatas menyatakan bahwa terdapat 3 atau sebanyak 15% peserta didik yang selalu (SL) melakukan perilaku merokok, dan 17 atau sebanyak 85% peserta didik yang sering (SR) melakukan perilaku merokok. Indikator yang sering muncul pada item angket pilihan peserta didik yaitu tempat merokok, yang dimana individu melakukan perilaku merokok ini yang bergantung dengan tempat . empat umum dan tempat pribad. Tabel 2 Kategori Selalu Sering Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah nilai Interval <52 Frekuensi Dari pelaksanaan layanan konseling kelompok dengan teknik behavior contract dalam penelitian ini dapat mengurangi perilaku merokok terhadap peserta didik. Hal ini ditandai dengan postest pada sampel eksperimen, yang dimana menunjukkan 10 atau sebanyak 100% peserta didik melakukan perilaku merokok yang berada dalam kategori kadang-kadang (KK), sehingga hal ini menunjukkan adanya penurunan rata-rata hasil postest pada sampel eksperimen sebesar 68,6 %. Adapun indikator yang sering muncul pada penyebaran postest eksperimen yaitu tempat merokok Tabel 3 Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Kelas Statistic Df Sig. Hasil PerilakuMerokok Pretest Eksperimen . Postest Eksperimen . Pretest Kontrol Postest Kontrol This is a lower bound of the true significance. Lilliefors Significance Correction Tabel 5 Levene Statistic Hasil Perilaku Merokok Based on Mean Based on Median Based on Median and with adjusted df Based on trimmed mean Sig. Sig. Berdasarkan pengambilan keputusan data dapat dikatakan homogen jika nilai >0,05. Uji homogenitas levene statistic menghasilkan nilai . ig based on mea. diatas >0,05 terdapat nilai signifikan 0,433 >0,05 seperti yang terlihat pada tabel diatas yang menunjukkan bahwa variansi data bersifat homogen. Tabel 6 Sum of Squares Hasil Perilaku Merokok Peserta Between Groups (Combine. Linearity Deviation from Linearity Within Groups Total Mean Square Sig. Berdasarkan pengambilan keputusan jika nilai sig deviation from linearity >0,05 maka data tersebut mempunyai hubungan linear antara kedua variabel X . ehavior contrac. dan variabel Y . erilaku meroko. Dan nilai uji linieritas menghasilkan nilai sebesar 0,614 pada sig deviation from linearity, yang artinya kedua variabel mempunyai hubungan yang linier. Tabel 7 Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Error Difference Mean Lower Upper Std. Mean Deviation Pair Hasil Perilaku Merokok - PretestPostest Eksperimen Sig. Dasar pengambilan keputusan jika nilai sig. <0. 05, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pretest dan postest sampel eksperimen. Diketahui bahwa nilai sig. sebesar 0,000 <0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara sampel eksperimen sebelum dan sesudah diberikan layanan dengan menggunakan teknik. Dasar pengambilan keputusan, jika nilai Sig. -taile. <0,05, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil sampel eksperimen dan sampel kontrol, dan jika nilai Sig. -taile. >0,05, maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil sampel eksperimen dan sampel kontrol. Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai sig. sebesar 0,004 maka lebih <0,05 dan dapat disimpulkan bahwasannya terdapat perbedaan yang signifikan pada sampel eksperimen dan sampel kontrol. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Harahap. & Nasution. Vol. No. 2, 2024, pp. Tabel 8 Levene's Test for Equality ofVariances Sig. Hasil Perilaku Merokok t-test for Equality of Means Equal Equal not assumed Sig. % Confidence taile. Mean Std. Error Interval of the Difference Difference Difference Lower Upper Pembahasan Penelitian ini menggunakan 20 siswa untuk di jadikan sebagai sampel penelitian dengan menerapkan layanan konseling kelompok dengan teknik behavior contract. Peneliti memberikan angket kepada sampel eksperimen dan sampel kontrol sebagai pretest. Sebelum peneliti memberikan layanan konseling kelompok pada sampel eksperimen dengan menggunakan teknik behavior contract dan layanan konseling kelompok pada sampel Pertemuan pertama peneliti memberikan pretest pada kelompok eksperimen dan juga kelompok kontrol. Sebelum pretest diberikan peneliti memperkenalkan diri dan tujuan memberikan angket, peneliti juga menjelaskan terlebih dahulu tentang tata cara pengisian angket dan permasalahan yang ada didalam angket tersebut, permasalahan dijelaskan secara detail baik itu dari sebab timbulnya masalah hingga dampak yang Pertemuan kedua peneliti memberikan behavior contract kepada sampel eksperimen hingga pertemuan ke lima dengan menggunakan layanan konseling kelompok dengan waktu 30 menit setiap pertemuan, sedangkan pada sampel kontrol hanya menggunakan layanan koseling kelompok. Tujuan behavior contract diberikan kepada sampel eksperimen agar siswa tersebut dapat mengurangi perilaku merokok dan meninggalkan rokok ketika berkumpul bersama dengan teman-teman. Pada pertemuan kedua ini juga peneliti memberikan layanan konseling kelompok dengan teknik behavior contract dengan membahas materi pengertian merokok dan dampak negatif perilaku merokok. Levy berpendapat perilaku merokok adalah sesuatu yang dilakukan seseorang berupa membakar dan menghisapnya serta dapat menimbulkan asap yang dapat terhisap oleh orangorang disekitarnya (Levy, 1. Perlu diketahui juga bahwasanya rokok memberi pengaruh terhadap psikologis seseorang (Aulia, 2. Merokok dapat menimbulkan berbagai dampak negatif yang sangat berpengaruh bagi kesehatan (Ogden, 2. Berbagai jenis penyakit yang dapat dipicu karena merokok dimulai dari penyakit di kepala sampai dengan penyakit di telapak kaki, antara lain: penyakit kardiolovaskular, neoplasma . , saluran pernafasan, peningkatan tekanan darah, memperpendek umur, penurunan vertilitas . dan nafsu seksual, sakit mag, gondok, gangguan pembuluh darah, penghambat pengeluaran air seni, ambliyopia . englihatan kabu. , kulit menjadi kering, pucat dan keriput, serta polusi udara dalam ruangan . ehingga terjadi iritasi mata, hidung dan tenggoroka. (Sitepoe, 2. Sedangkan pada sampel kontrol dengan memberikan layanan konseling kelompok yang membahas materi layanan yang sama, dimana mereka memberikan pendapat mengenai materi yang sedang dibahas tentang pengertian merokok dan dampak negatif merokok. Pertemuan ketiga dengan pemberian layanan yang kedua pada sampel eksperimen dengan menggunakan layanan konseling kelompok menggunakan teknik behavior contract dan juga sampel kontrol yang menggunakan layanan konseling kelompok yang membahas materi mengenai tipe perilaku merokok. Smet berpendapat bahwa ada tiga tipe perokok yang dapat diklasifikasikan menurut banyaknya rokok yang dihisap yaitu perokok berat yang menghisap lebih dari 15 batang rokok dalam sehari, perokok sedang yang menghisap 5-14 batang rokok dalam sehari, dan perokok ringan yang menghisap 1-4 batang rokok dalam sehari (Smet. MuAotadin juga menggolongkan tipe perilaku merokok yang mencerminkan pola perilaku merokok, bedasarkan tempat-tempat dimana seseorang menghisap rokok diantaranya merokok di tempat-tempat umum/ruang publik dan merokok di tempat-tempat yang bersifat pribadi (MuAotadin, 2. Pertemuan keempat dengan pemberian materi layanan yang ketiga pada sampel eksperimen dengan menggunakan layanan konseling kelompok dengan teknik behavior contract dan juga sampel kontrol yang menggunakan layanan konseling kelompok dengan materi pembahasan berjudul faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok. Perilaku merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu. Artinya, perilaku merokok selain disebabkan faktor-faktor dari dalam diri juga disebabkan faktor lingkungan. Komasari Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Efektivitas layanan konseling kelompok. dan helmi berpendapat bahwa ada tiga faktor penyebab perilaku merokok pada remaja yaitu kepuasan psikologis, sikap permisif orang tua terhadap perilaku merokok remaja, dan pengaruh teman sebaya (Komalasari & Helmi, 2. Faktor lain yang berhubungan dengan perilaku merokok pada masa remaja karena mereka memiliki teman yang merokok, ditawarkan rokok oleh teman-teman dan juga akses untuk mendapatkan rokok yang sangat mudah (Pereira. Oliano. Aranda. Mallol & Sole, 2017. Riyandi. Wiyono, & Candrawati. Pertemuan kelima dengan pemberian materi layanan yang keempat pada sampel eksperimen dengan menggunakan layanan konseling kelompok dengan teknik behavior contract dan juga sampel kontrol yang menggunakan layanan konseling kelompok dengan materi pembahasan berjudul cara mengurangi perilaku Menurut Emilia terdapat tiga cara untuk menurunkan perilaku merokok yang berpusat pada individu yaitu: Pertama, pendidikan, metode pendidikan individu biasanya dikaitkan dengan upaya pencegahan sekunder . encegah berkembangnya gejala dini penyaki. atau pencegahan tersier mencegah berkembangnya penyakit yang sudah ad. Kedua, intervensi terhadap faktor risiko, penilaian faktor risiko dalam perjalanan alamiah penyakit termasuk metode pencegahan sekunder, namun pada beberapa hal dapat juga dipakai dalam pencegahan primer agar individu tetap sehat. Ketiga, materi pendidikan (Informasi Kesehata. Memberikan informasi terkait dengan kesehatan merupakan suatu cara untuk mengubah kebiasaan yang dilakukan oleh individu (Emilia, 2. Pertemuan keenam peneliti memberikan posttest kepada sampel eksperimen dan juga sampel kontrol, posttest diberikan dengan tujuan untuk mengetahui apakah perilaku merokok pada sampel eksperimen berkurang atau sebaliknya, sama halnya dengan sampel kontrol apakah ayanan konseling kelompok berpengaruh tanpa adanya teknik behavior contract. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan sebelum dan sesudah diberikan konseling kelompok menggunakan teknik behavior contract dan hasil analisis data diperoleh rata-rata nilai pretest kelas eksperimen sebesar 94%, dan rata-rata nilai postest sebesar 68,6%. Berdasarkan hasil tersebut bahwasannya konseling kelompok menggunakan teknik behavior contract efektif dalam menurunkan perilaku merokok peserta didik. Simpulan Berdasarkan hasil dan juga pembahasan dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwasannya layanan konseling kelompok menggunakan teknik behavior contract efektif dalam menurunkan perilaku merokok pada peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari skor rata- rata penyebaran pretest dan postest pada peserta didik. Adapun skor rata-rata pretest pada sampel eksperimen 94% menurun sebesar 68,6% yang menunjukkan bahwa terdapat keefektifan layanan konseling kelompok dengan menggunakan teknik behavior contract. Sedangkan pada sampel kontrol skor rata-rata pretest pada sampel eksperimen 79,8% menjadi 74,5%, hal ini menunjukkan penurunan sebesar 5,3%, yang menyatakan bahwa layanan konseling kelompok pada sampel kontrol tidak seefektif pada sampel eksperimen jika tidak diterapkan teknik behavior contract didalamnya. Referensi