Volume 4. Nomor 1 Maret 2025 AN NAHDLIYAH JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM E-ISSN: 2830-5612 e-mail: annahdliyah@stainumalang. PENDIDIK DAN PENGEMBANGAN DASAR MORAL AGAMA UNTUK ANAK USIA DINI Siti Makhmudah. Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul AoUla Nganjuk Jl. KH. Abdul Fattah Kertosono Nganjuk e-mail: makhmudahsiti87@gmail. Abstrak: Pendidik adalah segala bentuk pengalaman belajar yang berlangsung di lingkungan keluarga, sekolah, dan Mengembangkan kemampuan anak seoptimal Peran pembangunan Pendidik sangat membantu terutama dalam strategi pengembangan nilai moral dan agama pada anak usia dini, dimana selain orang tua menjadi pendidik pertama yang didapat anak, lingkungan sekolah terutama peran pendidik dalam pelayanan. , memberikan kontribusi yang besar terhadap bentuk tanggung jawab profesional di bidang pendidik. Anak usia dini khususnya dalam penanaman nilai-nilai dasar akhlak dan pendidik agama, dimana keadaan saat ini sangat maju, berdampak pada krisis moral dan nilai-nilai agama sebagai pembinaan karakter pada tahap selanjutnya. Menciptakan kesadaran diri yang nyata tidak bisa dipaksakan oleh siapa pun. Karena itu hanya bisa muncul dari kemauan dan keinginan dari dalam dan dalam hati setiap manusia. Untuk itu peran pendidik pada posisi ini sangat strategis agar mampu memotivasi setiap siswa dan menumbuhkan kesadaran diri agar dapat mengapresiasi setiap program pengembangan moral bagi kehidupannya. Kata Kunci: Peran Pendidik. Pendidik Moral. Nilai-nilai Agama Abstract: Education is all forms of learning experiences that take place in the family, school, and community. Develop children's abilities optimally according to the strategy. The role of teachers in education development is very helpful. Volume 4. Nomor 1 Maret 2025 especially in the strategy of developing moral and religious values in early childhood, where in addition to parents being the first education children get, the school environment, especially the role of teachers in service. , makes a major contribution to the form of professional responsibility in the field of education. Early childhood, especially in the cultivation of basic moral values and religious education, where the current situation is very advanced, has an impact on a moral crisis and religious values as character building at a later stage. Creating a real self-awareness cannot be forced by anyone. Because it can only arise from the will and desire from within and in the heart of every human being. For this reason, the role of the teacher in this position is very strategic in order to be able to motivate each student and foster self-awareness in order to appreciate every moral development program for his life. Keywords: The Role of the Teacher. Moral Education. Religious Values Pendahuluan Perubahan pandangan dalam dunia pendidikan dan berbagai perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni . berdampak pada berbagai aspek pendidikan, termasuk kebijakan Hasil penelitian longitudinal di bidang psikologi perkembangan menunjukkan bahwa kondisi kehidupan awal mempengaruhi perilaku di masa dewasa. Perilaku tersebut dapat bersifat positif maupun negatif yaitu berupa perilaku pro sosial dan anti sosial. Di bidang pendidikan, hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam penyediaan alat permainan yang sesuai dengan usia anak dan pemberian berbagai rangsangan dalam aktivitas sehari-hari merupakan prediktor perkembangan IQ anak. Pendidik dalam keluarga dan lingkungan diakui sebagai salah satu komponen penting dalam mendidik, terutama dalam menumbuhkan pendidikan akhlak dasar dan nilai-nilai agama dalam membentuk karakter anak bangsa sebagai generasi penerus. Alasan lain mengapa pendidik dalam keluarga dan lingkungan merupakan pendidik pertama dan utama bagi setiap anak. Pendidik dalam keluarga dan lingkungan sebagai pendidik pertama bagi anak, mengandung arti bahwa sejak 1 Ali Nugraha. Badru Zaman. Dina Dwiyana. Program Pelibatan Orang Tua dan Masyrakat, (Tanggerang Selatan,UT,2. Volume 4. Nomor 1 Maret 2025 anak lahir, bahkan sejak masih dalam kandungan, orang tua mengawali pemberian rangsangan untuk kebutuhan tumbuh kembang anak, termasuk menstimulasi beberapa aspek. kecerdasan anak. Adanya keberagaman makna pendidik menjadi bukti banyak pihak yang menaruh perhatian pada pendidik mengingat pentingnya pendidik dalam konteks kehidupan dan kehidupan manusia. Berbagai definisi pendidik perlu kita pahami, karena antara satu pengertian dengan yang lain akan saling melengkapi dalam rangka wawasan pendidik kita (UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2. Dalam melaksanakan tahapan optimalisasi perkembangan tersebut, peran pendidik adalah sebagai pembimbing, pengasuh, dan pemberi kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak. Keterlibatan sensorik merupakan bagian integral dari setiap strategi pembelajaran yang digunakan pendidik, namun implikasinya, strategi pembelajaran lain juga dapat digabungkan untuk membuat strategi pembelajaran yang berbeda fungsi dan bentuknya. Penggabungan strategi pembelajaran sangat penting bagi pendidik untuk mencapai tingkat proses perkembangan anak yang optimal. Menggabungkan beberapa strategi pembelajaran umum menuntut pendidik untuk dapat memodifikasi strategi pembelajaran baru yang lebih menarik dan menantang bagi anak. Strategi pembelajaran khusus meliputi: kegiatan eksplorasi, penemuan terbimbing, pemecahan masalah, diskusi, pembelajaran kooperatif, demonstrasi dan instruksi langsung. Pengertian moralitas menurut kamus besar bahasa Indonesia . , moralitas memiliki arti moral atau perilaku moral, sedangkan moralitas diartikan sebagai moralitas, etika diartikan sebagai moralitas atau cabang filsafat yang menyelidiki nilai-nilai dalam perbuatan manusia atau perilaku . Sesuai dengan tuntutan dan ruang lingkup kajian peneliti pada pendidik anak usia dini khususnya jalur prasekolah, peneliti membahas tahapan perkembangan moral anak usia 3-4 tahun yang bersumber dari tenaga ahli dibidangnya. Banyak tokoh dunia yang prihatin dengan masalah perkembangan moral anak usia dini, termasuk John Dewey. Piaget, dan Thomas Lickona. 2 Ibid hal 2. 3 Masitoh,dkk. Strategi Pembelajaran TK, (Tanggerang Selatan. UT, 2. 4 Ibid hal 1. Ibid hal 7. Volume 4. Nomor 1 Maret 2025 Untuk mengembangkan karakter dasar anak, ada tiga aspek yang mendukung pembinaan moral dan nilai-nilai agama yang harus diperoleh, yaitu pengetahuan, kemauan, dan kemampuan. Orang yang beriman kepada Allah adalah orang yang memiliki ilmu, kemauan dan kemampuan untuk hidup dengan ajaran agama yang berpegang pada Al-Qur'an seperti yang dicontohkan oleh Rosululloh. Oleh karena itu, syarat untuk mencapai keimanan dan pemahaman terhadap isi AlQur'an adalah pembentukan karakter anak dalam memahami nilainilai agama. Dengan demikian strategi mengembangkan keimanan kepada Allah adalah dengan mengembangkan aktivitas, belajar dan bermain secara akademis sesuai tahapan anak. Tujuan pembelajaran nilai-nilai agama tidak hanya sekedar bisa membunyikan huruf, tetapi untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya. Menurut Megawangi . anak akan tumbuh menjadi individu yang berkarakter jika berada dalam lingkungan yang berkarakter pula, upaya pembinaan dan pembinaan akhlak anak dalam arti berkarakter . erakhlak muli. merupakan tanggung jawab dan membutuhkan upaya dari semua pihak termasuk keluarga. sekolah dan seluruh komponen masyarakat. Peran pendidik sebagai praktisi yang hidup di era globalisasi serta mordenisasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidik sangatlah diharapkan bisa tercapai dalam pendidik pengembangan moral anak. Dimana nilai awal tujuan pengembangan moral adalah dasar pembentukan karakter anak usia dini sehingga peran pendidik di harapkan dapat menerapkannya dalam pengembangan pada anak didik melalui konsep dasar, cara penjelasan perkembangan dan penerapan kemampuan moral anak usia dini. Karena peran dan kedudukan pendidik bagi anak adalah orang terdekat selain ayah dan ibunya. Kita semua faham bahwa tidaklah cukup manusia hanya dengan mengenal, mengetahui, memhami hakikat moral. Tidak ada jaminan manusia yang sangat faham dan telah menguasai aturan moral akan mampu menerapkan pemahaman moral tersebut dalam prilakunya sehari-hari bahkan sering kita temukan dalam realitas kehidupan ini orang-orang yang pandai secara akadems justru banyak melakukan pelanggaran terhadap moral tersebut. Orang seperti itu hanya sebatas 6 Ibid 7 Siti Aisyah. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini, (Tangerang Selatan. UT,2014 ) hal 8. 8 Otib Satibi Hidayat. Metode Pengembangan Moral damn Nilai-nilai Agama, (Tangerang Selatan. UT,2. Volume 4. Nomor 1 Maret 2025 menguasai pengetahuan moral belaka, tetapi hampa dari rasa dan nurani yang jujur karena belum memiliki kecintaan dan kesadaran diri untuk menerima aturan moral bagi diri dan kehidupannya. Metode Penelitian Selanjutnya untuk meneliti masalah di atas, penulis menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan berbagai tahap pendekatan. Pendekatan pertama yang perlu dikembangkan adalah memberikan Pendidikakhlak dan nilai-nilai agama . udi pekert. secara sistematis selama 20 menit setiap pagi dengan menanamkan sembilan pilar budi pekerti, yaitu: . Cinta Tuhan dan semua ciptaan-Nya . inta Allah, amanah, hormat, kesetiaa. Tanggung jawab, disiplin dan kemandirian . anggung jawab, keunggulan, kemandirian, disiplin, dan ketertiba. Kejujuran / kepercayaan dan kebijaksanaan . apat dipercaya, kejujuran, dan bijaksan. Respect and courtesy . espek, sopan santun, dan kepatuha. Dermawan, membantu, dan kooperatif . inta kasih, perhatian, empati, kemurahan hati, moderasi, dan kerja sam. percaya diri, kreatif dan pekerja keras . ercaya diri, ketegasan, kreativitas, akal, keberanian, tekad, dan antusiasme. Kepemimpinan dan keadilan . eadilan, kejujuran, belas kasihan, dan Kebaikan dan kerendahan hati . ebaikan, keramahan, kerendahan hati, dan kesopana. Toleransi, kedamaian, dan persatuan . oleransi, fleksibilitas, kedamaian dan Pilar karakter ini dilengkapi dengan K4: kebersihan, kerapihan, keamanan, dan kesehatan. Setiap tema pilar diterapkan selama dua minggu secara bergantian. Pendekatan pembangunan kedua adalah mengintegrasikan proses pendidik dari pilar moral dan nilai-nilai agama di pusat-pusat. Sembilan pilar menurut aspek perkembangan . osial, emosional, kognitif, fisik, dan moral / spiritua. Pusat-pusat tersebut dapat dilihat antara lain: . Imajinasi, membebaskan anak untuk berfantasi, berimajinasi merangsang kreativitas. Rancangan bangunan melalui pusat permainan balok kayu yang bertujuan untuk mengembangkan konsep dasar spasial, logika matematis, dan rasa seni yang mendorong tumbuhnya rasa percaya diri, kreatif, pantang, menyerah, dan Kreasi seni, perkembangan motorik kasar anak. Eksplorasi, terkait dengan perkembangan spiritual, kognitif, sosial, emosional, fisik, motorik halus, kasar dan moral. Berkebun, ikan 9 Otib Satibi Hidayat. Metode Pengembangan Moral dan Nilai-nilai Agama (Tangerang Selatan . UT,2. , hal 2. Volume 4. Nomor 1 Maret 2025 dan ternak, anak-anak belajar mengenal proses bercocok tanam, memberi makan ternak, dengan harapan nilai moral dan religius dapat membangun rasa tanggung jawab, kepercayaan, kepedulian, dan cinta kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan. Persiapan, mengenalkan anak melalui huruf dan angka untuk mempersiapkan anak ke jenjang Keimanan dan ketaqwaan . , aspek perkembangan akhlak spiritual yang meliputi kegiatan yang menyentuh tauhid uluhiyah dan ahlakul karimah sesuai dengan perkembangan kecintaan kepada Allah dan kebenaran yang beriman, mencintai dan menaati Allah SWT. Pendekatan di atas diterapkan dengan menggunakan metode pembelajaran aktif siswa. Pembelajaran kontekstual, pembelajaran yang menyenangkan, praktik yang sesuai dengan perkembangan, dan seluruh bahasa. Dengan cara ini, anak-anak diharapkan dapat mengoptimalkan dan menyeimbangkan perkembangan kepala, hati, dan tangan anak sehingga menjadi kreatif, mandiri, dan berpikir kritis. Pendidik yang baik dalam pandangan pendidik adalah pendidik yang selalu belajar, hal ini wajar karena yang dihadapi pendidik bukanlah benda mati, melainkan manusia yang memiliki hati, perasaan, cita-cita, keinginan, keinginan, kemauan. Pembahasan Manusia dilahirkan melalui tahapan. Proses kelahiran manusia dimulai dengan mutfah . yang diproduksi oleh organ lakilaki. Setelah bertemu dengan buwaidlah . el telu. di dalam rahim wanita, nutfah tersebut dapat meningkat menjadi 'alaqah . emacam darah penggumpa. kemudian menjadi mudghah . emacam gumpalan Selanjutnya dilengkapi dengan tulang dengan berbagai organ. Setelah organ biologis lengkap, roh dimasukkan ke dalamnya, saat bayi Kelahiran bayi tidak hanya menyangkut organ biologis, tetapi juga fisik dan psikis. Pada dasarnya seorang anak lahir tanpa pengetahuan. Itu hanya dilengkapi dengan kualitas bawaan dari pendengaran, penglihatan dan alat indera lainnya. Dari fasilitas ini, manusia dapat merespon 10 Ibid hal 2. Volume 4. Nomor 1 Maret 2025 informasi dan pengaruh yang ada di lingkungannya. Segala sesuatu di lingkungannya yang pada gilirannya mempengaruhi sikapnya. Merujuk pada sistem pendidik anak usia dini khususnya ditinjau dari jalur-jalurnya diketahui ada satu jalur yaitu jalur informal. Salah satu definisi utama Pendidik informal tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidik Nasional pasal 28 yang menyebutkan bahwa pendidik informal adalah pendidik yang diselenggarakan dalam lingkungan keluarga dan lingkungan. Dimana ada dua arti, yang pertama adalah pengakuan akan pentingnya pendidik dalam keluarga dan lingkungan harus mengikuti standar atau ketentuan yang sesuai. sedangkan pendidik dalam keluarga dan lingkungan merupakan pendidik utama bagi anak. Keberhasilan membina anak sejak dini merupakan keberhasilan masa depan anak disisi lain kegagalan dalam memberikan bimbingan, pendidik, pengasuhan dan pengobatan akan menjadi bencana bagi kehidupan anak dimasa yang akan datang, karena anak adalah aset keluarga dan penerus bangsa. Ada bayi, balita, balita, anak usia taman kanak-kanak, hingga anak sekolah dasar. Semua kategori usia anak-anak ini diklasifikasikan sebagai fase anak usia dini. Pendidik dasar yang harus diperoleh dan dikembangkan melalui pemberian rangsangan Pendidik untuk membantu tumbuh kembang jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan memasuki Pendidik lanjutan (Depdiknas, 2. Dan sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidik Nasional pada pasal 1 ayat 14. Tujuan merupakan salah satu hal yang penting dalam kegiatan Pendidik anak, sehingga tujuan Pendidiktidak hanya memberikan arahan kemana tujuan Pendidik harus dituju, tetapi juga memberikan ketentuan yang pasti dalam pemilihan bahan, metode, alat, evaluasi dalam kegiatan yang dilaksanakan (Suryosubroto 1990: . Pendidik anak usia dini lebih menitikberatkan pada peletakan dasar menuju pertumbuhan dan perkembangan semua kecerdasan. Howard Gardner, anak lahir dengan 8 kecerdasan yang paling banyak dikuasai antara lain: . kecerdasan linguistik, . kecerdasan logika matematika, . kecerdasan visual-spasial, . kecerdasan musikal, . kecerdasan 11 Ali nurdin. Syaiful Mikdar. Wawan Suharmawan. Pendidikan Agama Islam , (Tangerang Selatan. UT,2. 12 Ali Nugraha. Badru Zaman. Dina Dwiyana. Program Pelibatan Orang Tua dan Masyarakat, (Tangerang Selatan. UT,2. 13 Siti Aisyah,dkk. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini(Tangerang Selatan UT,2. Volume 4. Nomor 1 Maret 2025 kinestetik, . kecerdasan naturalis, . interpersonal, . kecerdasan Beberapa definisi dalam Pendidik antara lain: Pendidik dalam arti luas, adalah semua pengalaman hidup dalam perkembangan individu yang berlangsung seumur hidup (Rupert S. Lodge: 2. Pendidik berlangsung untuk siapa saja, kapan saja, dan di mana saja, tidak sebatas sekolah . , bahkan sejak lahir sampai akhir hayat. Berlangsung di lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas. Pendidik dalam arti sempit, adalah Pendidik yang hanya berlangsung di sekolah atau lembaga Pendidik tertentu yang diperlukan dengan sengaja. Dan dalam bentuk kegiatan pembelajaran yang terprogram dan terencana serta formal. Pendidik menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, dalam Undang-Undang Sistem Pendidik Nasional . menyatakan bahwa Pendidik adalah upaya sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian. kecerdasan, akhlak mulia. , serta keterampilan yang dibutuhkan olehnya, rakyat bangsa dan negara. Pendidik berpijak pada pendekatan sistem. Pendidik sebagai suatu kesatuan atau kesatuan yang terdiri dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan secara fungsional berkaitan untuk mencapai tujuan. Komponen tersebut meliputi: tujuan pendidik, peserta didik atau siswa, pendidik, muatan atau kurikulum pendidik, fasilitas pendidik, interaksi pendidik. Pendidik pada hakikatnya berkaitan dengan anak dimana pada usia dini terdapat beberapa periode yang perlu diketahui oleh seorang pendidik anak agar dapat memberikan rangsangan dan stimulasi yang tepat kepada siswanya, yaitu: . Masa kepekaan, merupakan masa munculnya berbagai potensi . idden potenc. atau keadaan di mana fungsi mental memerlukan rangsangan tertentu untuk berkembang. Masa egosentris, yang ditandai seolah-olah dia yang paling benar, keinginannya harus dipenuhi dan ditaati dan ingin menang sendiri. Masa imitasi, saat ini proses meniru anak terhadap segala sesuatu 14 Widarmi Wijana, dkk, (Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini, (Tangerang Selatan,UT,2. 15 Masitoh,dkk. Strategi Pembelajaran TK, (Tangerang Selatan. UT,2. Volume 4. Nomor 1 Maret 2025 yang ada di sekitarnya nampaknya semakin meningkat. Periode berkelompok, biarkan anak bermain di luar rumah bersama temantemannya, jangan terlalu membatasi anak dalam pergaulannya sehingga anak mampu bersosialisasi dan beradaptasi sesuai dengan perilaku lingkungan sosialnya karena periode ini adalah kelompok. Selama masa eksplorasi, orang tua dan Pendidik lainnya harus memahami pentingnya eksplorasi bagi anak. Pada masa pembangkangan, orang tua dan Pendidik (Pendidi. disarankan untuk tidak selalu memarahi anak ketika sedang berkembang, karena masa inilah yang akan dilalui setiap anak. Pendidik memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan Pendidik kecerdasan spiritual . piritual intelligenc. yaitu kemampuan mencintai ciptaan Tuhan yang dapat dirangsang melalui penanaman nilai moral dan agama sehingga memudahkan anak dalam memahami benar dan salah. Peningkatan kapasitas kecerdasan spiritual akan mempengaruhi setiap aspek kehidupan anak saat ini dan juga kualitas hubungan anak di masa yang akan datang. Ciri-ciri yang ditanamkan melalui kecerdasan spiritual akan bertahan selamanya dan akan berpengaruh penting setelah anak beranjak dewasa. Landasan kecerdasan spiritual melalui pengembangan Pendidikan moral dan nilai-nilai agama yang diberikan kepada anak usia dini akan membentuk reputasi sebagai manusia yang berwatak terpelajar dan bermartabat untuk masa depan. Berdasarkan tinjauan terhadap aspek psikologis didaktik, tujuan utama Pendidik Anak adalah: . Tanamkan dan kembangkan iman dan pengabdian . anak mampu mengatur ketrampilan tubuh termasuk otot kasar dan halus. meningkatkan ketrampilan anak yang memanfaatkan fisik dan mental . melatih dan mengembangkan kepekaan. Agar Pendidik akhlak berjalan dengan baik, pembahasan Pendidik akhlak berkaitan dengan pembentukan dan Pendidik karakter bangsa secara umum. Menurut Lickona et al. ada 11 prinsip untuk Pendidik karakter yang efektif: . Mengembangkan nilai-nilai inti etika dan nilai-nilai penunjang kinerja sebagai landasan karakter yang Definisi karakter komprehensif yang mencakup pikiran, 16 Widarmi Wijana ,dkk. Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini, (Tangerang Selatan. UT,2. 17Otib Satibi Hidayat. Metode Pengembangan Moral dan Nilai-nilai Agama(Tangerang Selatan,UT,2. 18 Widarmi Wijana. Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini, (Tangerang Selatan. UT, 2. Volume 4. Nomor 1 Maret 2025 perasaan, dan perilaku. Gunakan pendekatan komprehensif pada tujuan dan proaktif dalam pengembangan karakter. Ciptakan komunitas sekolah yang peduli. Beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral. membuat kurikulum akademik yang bermakna yang menantang, yang menghargai semua siswa, mengembangkan karakter, dan membantu anak-anak untuk sukses. Cobalah untuk mendorong motivasi diri anak. melibatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab untuk Pendidik karakter dan upaya untuk berpegang pada nilai-nilai inti yang sama dan yang membimbing Pendidikanak. Memupuk kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang untuk inisiatif Pendidik karakter. Libatkan anggota masyarakat dan anggota sebagai mitra dalam upaya pembentukan karakter. Evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai Pendidik karakter, dan sejauh mana siswa mewujudkan karakter yang baik. Strategi yang perlu disiapkan untuk usia 4-5 tahun: . Menyiapkan lingkungan yang kondusif, . kolaborasi, terutama orang tua dan Pendidik untuk terlibat dalam pengorganisasian, . Mengembangkan program bermain yang bernuansa moralitas, . Mengembangkan program habituasi, . Melakukan penilaian terhadap proses perkembangan moral, . Menekankan keseluruhan strategi perkembangan moral. Strategi yang perlu disiapkan untuk usia 5-6 tahun pada prinsipnya sama, namun kualitas isi strategi perlu ditingkatkan: . Menyiapkan kegiatan yang dapat merangsang kerjasama, toleransi dan saling loyalitas dari teman, . Siapkan media pendukung yang memungkinkan anak untuk bekerja sama, . Membawa anak ke dalam situasi nyata . eal tim. untuk mengenalkan Pendidikmoral . , . Menyusun program kepemimpinan kelompok sebagai dasar pembinaan sikap dan tanggung jawab kepemimpinan dalam menyelesaikan tugas. Metode / tahap kedua . ekitar usia 10 tahun ke ata. , anak telah menyadari bahwa aturan dan hukum diciptakan oleh manusia. Anakanak yang berpikir secara moral pada tahap ini juga telah menyadari bahwa dalam menilai tindakan seseorang harus diperhatikan niat 19 Ibid hal Volume 4. Nomor 1 Maret 2025 pelaku dan akibatnya. Piaget menyebut tahap pemikiran moral ini sebagai moralitas otono. Yang menentukan baik dan buruknya sesuatu adalah pikiran manusia Plato. Aristoteles. Spinioza. Hegel, dan pandangan bahwa baik dan buruk diukur dengan kebahagiaan, tetapi kebahagiaan menurut kebanyakan orang yang merasakannya. Aliran ini diprakarsai oleh John Stuart Miil . Ia mengatakan bahwa kebaikan tertinggi . umun bonu. adalah "kegunaan adalah kebahagiaan untuk sejumlah besar makhluk sentimen" . ebahagiaan untuk sejumlah besar oran. Dan aliran tradisionalisme berpendapat bahwa sumber baik dan buruknya adalah tradisi atau adat istiadat. Sumber utama moralitas adalah akal dengan variasi yang berbeda satu sama lain. Karena akal manusia terbatas dan relatif, manusia modern telah kehilangan cengkeraman mutlak. Dalam kondisi tersebut, ia mengalami krisis moral yang dalam bentuk ekstrim akhirnya bunuh diri. hubungan ini Muhammad Qutb menulis Aujanganlah kita mudah tertipu oleh pemikiran-pemikiran yang canggih dan tidak mengetahui masalah, karena selama akhlak telah diputuskan ikatannya dengan keimanan kepada Allah, maka tidak akan teguh . di atas tanah. bumi ini dan memiliki tempat untuk bergantung pada konsekuensi, konsekuensi yang menyertainya Ay. Atas dasar itulah, agama memainkan peran penting dalam upaya memberantas krisis moral ini dengan menjadikan agama sebagai sumber moral. Allah SWT telah memberikan agama sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia ini agar mendapatkan kebahagiaan sejati, salah satunya pedoman moral. Melalui kitab suci dan rasul. Allah telah menjelaskan prinsip-prinsip moral yang harus dijadikan pedoman oleh umat manusia. Dalam konteks Islam, sumber moral itu adalah Al-quran dan Al-hadits. Agama merupakan sumber moralitas dan pembentukan akhlak istimewa dan akhlak mulia dalam kehidupan. Dengan pemahaman sebagai manusia yuridis . adar huku. tetapi juga manusia yang etis . adar akan etik. Agama memang membawa aturan, hukum yang harus ditaati, kuasai dan dituntut untuk taat kepada Tuhan dengan menjalankan ajarannya, dan menjalankan kewajiban yang jika tidak dilaksanakan akan menjadi hutang yang akan mendapatkan cicilan yang baik yang taat memberi pahala buruk bagi yang tidak. 20 Ibid 21 Ali Nurdin,Syaiful Mikdar,Wawan Suharmawan, (Tangerang Selatan. UT,2. Pendidikan Agama Islam Volume 4. Nomor 1 Maret 2025 Dalam pendidikan, nilai-nilai dasar agama perlu ditanamkan sejak dini secara strategis dan terstruktur. Kemudian perlu juga dukungan dari unsur keteladanan / teladan baik dari pendidik maupun orang tua. Strategi yang dibutuhkan untuk program rutin, program kegiatan terintegrasi, dan program kegiatan khusus. Melalui kegiatan rutin, adalah kegiatan sehari-hari yang dilakukan secara terus menerus secara terus menerus, namun terprogram dengan pasti. Kegiatan rutin pengembangan nilai-nilai agama antara lain memberi salam, menunjukkan sikap berdoa dalam setiap kegiatan. Dan program ini harus menjadi kebiasaan yang terprogram dan sejalan dengan pembelajaran anak yang terintegrasi. Misalnya lewat makan bersama. Kegiatan terpadu, kegiatan pengembangan materi nilai-nilai agama yang disisipkan melalui pengembangan keterampilan dasar lainnya. Program ini meliputi pengembangan pengayaan materi nilai-nilai agama yang disesuaikan dan terhubung dalam menjelaskan pengembangan bidang keterampilan dasar lainnya. Sebagai contoh, pengenalan ciptaan Allah seperti tumbuhan Pendidik diharapkan menjadi kreatif dalam menyampaikan pembelajaran bertema tumbuhan dalam mengembangkan pembelajaran seni, daya pikir, ilmu pengetahuan, bahasa, dsb. Kegiatan khusus, yaitu program kegiatan pembelajaran yang memuat pengembangan kemampuan dasar nilainilai agama yang pelaksanaannya tidak termasuk atau tidak boleh dikaitkan dengan pengembangan keterampilan dasar lainnya sehingga Perlu waktu dan penanganan khusus. Ini istimewa karena pengembangan materi tentang nilai-nilai agama harus diberikan pada waktu-waktu tertentu, membutuhkan pendalaman pembahasan, dan terkait dengan dukungan media yang memadai. Misalnya menghafal hadits, surat pendek, amalan shalat, amalan wudlu. pengorbanan, dan di bulan ramadhan, dll. Materi pengembangan nilai moral dan religius Taman Kanak-kanak menurut beberapa sumber seperti isi pesan garis besar program kegiatan pembelajaran taman kanak-kanak, kurikulum berbasis kompetensi, dan menu pembelajaran anak usia dini memiliki ruang lingkup sebagai berikut. Studi: . Latih hidup teratur dan teratur. Aturan dalam sosialisasi pelatihan. Kembangkan toleransi dan Mendorong keberanian, kebanggaan dan rasa syukur serta tanggung jawab. Latihan kontrol emosional. Latih anak untuk bisa mendidik dirinya sendiri. 22 Otib Satibi Hidayat. Metode Pengembangan Moral dan Nilai-nilai Agama (Tangerang Selatan,UT,2. , hal 6. Volume 4. Nomor 1 Maret 2025 Sebagai pendidik, dasar-dasar yang sangat perlu diperhatikan dalam implikasi materiil pengembangan nilai-nilai agama bagi anak Taman Kanak-kanak antara lain sebagai berikut: . Prinsip penekanan aktivitas anak sehari-hari adalah sesuai dengan kebutuhan pembentukan kepribadian dalam peletakan landasan kehidupan anak di bidang kehidupan beragama. Prinsip pentingnya keteladanan dari lingkungan dan orang tua / keluarga anak. Program-program yang diselenggarakan sekolah harus didukung dengan partisipasi aktif Pendidik . rang tu. dalam memberikan keteladanan dan pengembangan nilai-nilai agama yang konsisten kepada anak, agar tidak sia-sia. Prinsip kesesuaian dengan kurikulum spiral ketika Pendidik menyampaikan materi harus disampaikan secara bertahap mulai dari penjelasan yang mudah dipahami anak hingga hal yang paling sulit dipahami anak. Prinsip praktik sesuai perkembangan (DAP). Pendidik harus memperhatikan proses penyajian materi yang ingin disampaikan yaitu materi yang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan anak. Prinsip psikologi perkembangan anak hendaknya Pendidik menyampaikan materi sesuai dengan landasan psikologi perkembangan anak didik. Prinsip pemantauan rutin. Untuk mendapatkan kesuksesan yang baik, diperlukan kegiatan monitoring secara berkala untuk memantau proses perkembangan dan kemajuan anak dalam mengikuti program yang telah peneliti siapkan. Garis besar program kegiatan pembelajaran anak dalam hal pembinaan akhlak diistilahkan dengan materi program pembentukan tingkah laku melalui pembiasaan yang diwujudkan dalam kegiatan sehari-hari (GBPKB TK, 1995: 5-. Pokok pokok dan ruang lingkup materi meliputi: . Berdoa sebelum dan sesudah memulai aktivitas. Katakan halo saat bertemu orang lain. Tolong bantu sesama teman. Rapi dalam berakting, berpakaian, dan bekerja. Berlatihlah untuk selalu tertib dan mematuhi aturan serta bersedia menerima tugas, menyelesaikan tugas, dan memusatkan perhatian dalam jangka waktu tertentu. Pertimbangkan keadaan orang lain. Berani dan ingin tahu. merasa puas dengan prestasi yang diraih. Bertanggung jawab atas tugas yang diberikan. Bekerja sama dengan sesama teman. Cintai tanah air. Merawat diri sendiri termasuk membersihkan diri, mendandani diri, makan sendiri, dan mendidik harta benda sendiri. Menjaga kebersihan lingkungan, termasuk membantu membersihkan lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya. Menyimpan mainan setelah digunakan. Mengendalikan emosi, misalnya saat berpisah dari ibu tanpa 23Ibid hal 10. Volume 4. Nomor 1 Maret 2025 menangis, sabar menunggu giliran, berhenti bermain tepat waktu, dibujuk untuk menangis, tidak menjadi cengeng, mampu membedakan antara diri sendiri dengan orang lain, dan menunjukkan reaksi emosional yang normal karena kemarahan, kegembiraan, kesedihan, ketakutan dan kecemasan. Sopan untuk mengucapkan terima kasih dan mohon maaf jika Anda melakukan kesalahan dengan baik atau meminta bantuan dengan baik. Menjaga keamanan diri, termasuk menghindari obat-obatan berbahaya dan menghindari benda Kesimpulan Metode pendekatan pertama melalui pengembangan pendidikan moral dan nilai-nilai agama dapat di wujudkan dalam 9 pilar : cinta Tuhan, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian, kejujuran/amanah dan arif, hormat dan santun, dermawan, percaya diri dan kreatif serta bekerja keras, kepemimpinan dan keadilan, baik dan rendah hati, toleransi dan kedamainan serta kesatuan, dan metode yang kedua yaitu mengintegrasikan proses pendidik moral dan nilai-nilai agama dalam sentra - sentra : imajinasi,rancangan bangunan, seni kreasi, eksplorasi, kebun, ikan dan ternak ,persiapan, keimanan dan Melalui pendidik anak dapat mengembangkan dirinya lingkungan bermain dan belajar menitik beratkan dasar peletakan seluruh kecerdasan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Arti pendidik dalam anak usia dini meliputi pendidik dalam arti luas dan arti sempit, pendidik menurut UU sistem pendidikan 20 tahun 2013, pendidik pendekatan menurut sistem. Menurut Lickona et al . ada 11 prinsip Pendidik karakter yang efektif: . Mengembangkan nilai-nilai inti etika dan nilai-nilai penunjang kinerja sebagai landasan karakter yang baik. Definisi karakter komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku. Gunakan pendekatan komprehensif pada tujuan dan proaktif dalam pengembangan karakter. Ciptakan komunitas sekolah yang peduli. Beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral. Membuat kurikulum akademik yang bermakna yang menantang, yang menghargai semua siswa, mengembangkan karakter, dan membantu anak-anak untuk sukses. Cobalah untuk mendorong motivasi diri Melibatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan upaya untuk berpegang pada nilai-nilai inti yang sama dan yang Volume 4. Nomor 1 Maret 2025 membimbing pendidik anak. Memupuk kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang untuk inisiatif pendidik karakter. Libatkan anggota masyarakat dan anggota sebagai mitra dalam upaya pembentukan karakter. Evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa mewujudkan karakter yang baik. Anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan seluruh Yaitu aspek moral dan nilai-nilai agama,sosial, emosional dan kemandirian,kemampuan bahasa, kognitif, fisik/motorik,serta seni. strategi yang perlu di persiapkan untuk usia 4-5 tahun: . Menyiapkan lingkungan kondusif, . Kolaborasi khususnya orang tua dan Pendidik untuk terlibat dalam penyelenggaraan, . Menyusun program bermain bernuansa moralitas, . Menyusun program pembiasaan, . Melakukan penilaian proses perkembangan moral, . Menitik beratkan seluruh strategi pengembangan moral. Agama merupakan sumber moral dan pembentukan karakter khususya ahlak mulia dalam kehidupan. Dengan pemahaman akan menjadi manusia yuridis ( sadar huku. akan tetapi juga manusia etis . adar Pendidik sebagai suri tauladan dan contoh bagi anak didiknya selain orang tua untuk mendukung program rutinitas, terintegritas, dan program kegiatan khusus . Program kegiatan pembelajaran Taman Kanak-kanak, kurikulum berbasis kompetensi, dan menu pembelajaran anak usia dini memiliki ruang lingkup kajian sebagai berikut: . Latih hidup teratur dan Aturan dalam sosialisasi pelatihan. Kembangkan toleransi dan toleransi. Mendorong keberanian, kebanggaan dan rasa syukur serta tanggung jawab. Latihan pengendalian emosi. Latih anak untuk bisa mendidik dirinya sendiri Volume 4. Nomor 1 Maret 2025 Daftar Pustaka