Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 4. Oktober 2019, 276-284 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 FORMULASI KRIM EKSTRAK ETANOL BETATAS UNGU (Ipomoea batatas L. Sulistianingsih*. Ravika Ramli. Herlando Sinaga Farmasi. FIKES. Universitas Sains dan Teknologi Jayapura Email : tiansulis3@gmail. Artikel diterima: 29 Desember 2018. Disetujui: 22 Oktober 2019 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formulasi terbaik dari krim ekstrak etanol umbi betatas ungu (Ipomoea batatas L. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan eksperimen laboratorium. Sampel umbi betatas ungu (Ipomoea batatas L. ) yang digunakan berasal dari Arso 3 Kabupaten Keerom. Metode ekstraksi yang digunakan yaitu metode maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 70%. Pada penelitian ini ekstrak etanol umbi betatas ungu dibuat krim dengan tiga formula menggunakan variasi konsentrasi asam stearat yaitu: F1-6%. F2-12%, dan F3-18%. Evaluasi sifat fisik dan kestabilan krim meliputi uji organoleptis, uji pH, uji homogenitas, uji iritasi, uji kestabilan Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi krim terbaik dari ekstrak etanol umbi betatas ungu yaitu F3 dengan variasi konsentrasi asam stearate . %). Krim F3 mempunyai warna merah keunguan, berbau khas, konsistensi kental, homogen, pH 7, tidak mengalami perubahan setelah penyimpanan selama A 3 minggu. Kata kunci: betatas ungu (Ipomoea batatas L. ), formulasi, krim. ABSTRACT This research aims to determine the best formulation from the cream of a purple sweet potato (Ipomoea batatas L. ) ethanol extract. This type of research is descriptive with a laboratory experimental approach. Samples of purple sweet potato (Ipomoea batatas L. ) used were from Arso 3 Keerom Regency. The extraction method used is the maceration method using 70% ethanol solvent. this research, ethanol extract of purple sweet potato was made a cream with three formulas using variations of stearate acid concentration, namely: F1-6%. F212%, and F3-18%. The cream will be evaluated including the organoleptic test, pH test, a homogeneity test, irritation test, accelerated stability test. The results showed that the best cream formulation for ethanol extract of purple sweet potato was F3 with variations in stearate acid concentration . %). Cream F3 has a purplish red color, has a distinctive odor, thick, homogeneous consistency, pH 7, and does not change after storage for A 3 weeks. Keywords: purple sweet potato (Ipomoea batatas L. ), formulation, cream. Sulistianingsih, dkk | 276 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 4. Oktober 2019, 276-284 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 PENDAHULUAN mencegah dampak radikal bebas. Kulit merupakan organ tubuh Oleh karena itu, kulit membutuhkan yang berperan sebagai pelindung tubuh dari kerusakan dan pengaruh antioksidan yang berfungsi sebagai penghambat radikal bebas dan sinar radikal bebas berupa sinar UV (Ultraviole. Dalam kondisi yang UV. Betatas ungu (Ipomoea batatas ) biasa disebut Ipomoea batatas blackie karena memiliki kulit dan daging umbi yang berwarna ungu kehitaman . ngu peka. Betatas dalam waktu lama menyebabkan ungu mengandung pigmen antosianin resiko kanker (Wasitaatmadja, 1. yang lebih tinggi daripada betatas Radikal jenis lain, yaitu berkisar antara 110 mg Ae 210 mg/100 gram. Menurut merusak pertahanan tubuh dengan Desnita akibat kerusakan sel dan penuaan penelitian tentang formulasi topikal Radikal bebas yang berlebih dapat merusak senyawa lemak yang sebagai antioksidan dengan nilai IC50 dapat menghilangkan elastisitas atau 38,25 ppm. Antosianin merupakan kekencangan kulit sehingga dapat antioksidan, dapat menyerap polusi udara, racun, hasil oksidasi pada kulit (Darwati, 2. ekstrak etanol ubi Penampilan merupakan salah sel-sel percaya diri yang tinggi, meskipun umur seseorang tidak muda lagi. Pigmennya lebih stabil penampilan kulit indah juga menjadi dari sumber lain seperti kubis merah, satu aspek yang bisa membuat rasa (Wasitaatmadja, 1. Perlindungan terhadap kulit perlu dilakukan untuk (Yoshimoto et al, 2. Sulistianingsih, dkk | 277 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 4. Oktober 2019, 276-284 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Tumbuhan obat yang terdapat karena mampu menaikkan gradient di Indonesia khususnya di Papua konsentrasi zat aktif yang menembus sangat beragam, salah satunya adalah kulit sehingga perkuatan absorbsi buah betatas ungu. Secara tradisional menjadi meningkat. Formulasi krim penelitian ini dibuat dengan variasi konsentrasi emulgator asam stearat. Kandungan yang terdapat pada buah Hal ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi asam stearat terhadap stabilitas fisik krim. (Yusuf, 2. Papua, dievaluasi untuk mengetahui sediaan Tanaman betatas ungu banyak Krim persyaratan kestabilan fisik krim yang baik atau tidak (Engelin, 2. khususnya di daerah pelosok-pelosok METODE PENELITIAN seperti Arso. Pemanfaatan betatas Jenis ungu sejauh ini hanya digunakan digunakan adalah metode deskriptif Oleh karena itu penulis tertarik melakukan penelitian tentang dilaksanakan selama A1 bulan mulai formulasi krim ekstrak umbi betatas dari tanggal 1 Mei sampai dengan 1 ungu (Ipomoea batatas L). Juni Lokasi Wilayah Arso i setengah padat mengandung satu Kabupaten Keerom. Papua atau lebih bahan obat terlarut dalam penelitian dilakukan di Laboratorium bahan dasar yang sesuai. Kelebihan Farmasi krim minyak dalam air (M/A) antara Kesehatan Universitas Sains dan lain adanya efek dingin pada kulit Teknologi Jayapura. Krim adalah bentuk sediaan Waktu Fakultas Ilmu-Ilmu Sulistianingsih, dkk | 278 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 4. Oktober 2019, 276-284 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Populasi dalam penelitian ini adalah semua dipotong tipis dan dikeringkan di dalam oven, setelah itu di blender. tanaman buah betatas ungu yang ada Penarikan senyawa kimia ke di Arso i Kabupaten Keerom. dalam ekstrak tergantung cairan Sampel yang digunakan adalah buah penyari dan metode ekstraksi yang betatas ungu sebanyak 5 kg. Betatas Cairan penyari yang Ungu yang didapatkan, dikupas, dibersihkan dengan air mengalir, lalu (Supomo, 2016. Ayuchecaria et al. Tabel 1. Formula Sediaan Krim Ekstrak Umbi Betatas Ungu (Ipomoea batatas L. Konsentrasi Krim % Bahan Ekstrak Umbi Betatas ungu Asam Stearat Trietanolamin (TEA) Setil Alkohol Gliserin Propilenglikol DMDM Hydantoin Fenoksi Etanol Oleum Rosae Aquadest 3,8% Ad20 3,8% Ad20 3,8% Ad20 HASIL DAN PEMBAHASAN menunjukkan warna hijau, bau yang Berdasarkan hasil penelitian khas dan konsistensi kental dengan yang telah dilakukan diperoleh hasil nilai pH 6,55 dan menunjukkan krim seperti pada Tabel 2. Tabel 2 yang homogen, sedangkan F3 hasil menunjukan hasil evaluasi fisik F1, uji organoleptis menunjukkan warna F2. F3 yang disimpan selama A3 bentuk semi padat dengan nilai pH 6,27 dan mempunyai krim yang Untuk hijau, bau khas, bentuk agak encer, 6,21 Tabel 3 menunjukkan hasil uji menunjukkan krim yang homogen, stabilitas dipercepat bahwa hasil untuk F2 hasil uji organoleptis pengamatan organoleptis untuk F1 Sulistianingsih, dkk | 279 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 4. Oktober 2019, 276-284 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 dan F2 memiliki warna hijau, bau organoleptis meliputi warna ungu khas, bentuk kental dan memiliki kemerahan, bau khas, bentuk kental nilai pH 6 untuk minggu pertama dan dan memiliki nilai pH 6 selama penyimpanan A2 minggu. Untuk uji ketiga pada F1 dan F2 yaitu dengan F1. F2, nilai pH 6. Untuk F3 hasil uji menunjukkan homogen. Tabel 2. Hasil Uji Organoleptis. Uji pH, dan Uji Homogenitas Minggu Krim Organoleptis Warna Bau Hijau Khas Hijau Khas Hijau Khas Hijau Khas Hijau Khas Hijau Khas Hijau Khas Hijau Khas Ungu kemerahan Khas Ungu kemerahan Khas Ungu kemerahan Khas Ungu kemerahan Khas Konsistensi Agak cair Agak cair Agak cair Agak cair Kental Kental Kental Kental Semi padat Semi padat Semi padat Semi padat Homogenitas 6,21 7,03 5,81 6,10 6,55 7,08 7,03 5,55 6,27 6,21 5,64 6,75 Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Tabel 3. Hasil Uji Stabilitas Formulasi Krim Dengan Kondisi dipercepat Selama Penyimpanan A2 Minggu Formula Siklus Warna Hijau Hijau Hijau Hijau Hijau Hijau Ungu kemerahan Ungu kemerahan Ungu kemerahan Hijau Hijau Hijau Organoleptis Bau Konsistensi Khas Agak cair Khas agak cair Khas agak cair Khas Agak kental Khas Agak kental Khas Agak kental Khas Semi padat . Khas Semi padat . Khas Semi padat . Khas Agak cair Khas agak cair Khas agak cair Homogenitas Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Tabel 4 menunjukkan hasil betatas ungu ini aman untuk usia pengujian iritasi untuk F1. F2 dan F3 remaja ataupun dikalangan orang tua. bahwa tidak terdapat efek iritasi pada Tabel 5 menunjukkan hasil uji ketiga relawan jadi formulasi krim daya sebar dan daya lekat untuk F1 yang terbuat dari ekstrak umbi memiliki daya sebar 4,8 cm dan daya Sulistianingsih, dkk | 280 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 4. Oktober 2019, 276-284 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 lekatnya 68 detik. F2 memiliki daya detik, dan F3 memiliki daya sebar sebar 5,2 cm dan daya lekatnya 74 5,7 cm dan daya lekatnya 87 detik. Tabel 4. Hasil Uji Iritasi Formulasi krim Formulasi Relawan I Tidak Iritasi Tidak Iritasi Tidak Iritasi Relawan II Tidak Iritasi Tidak Iritasi Tidak Iritasi Relawan i Tidak Iritasi Tidak Iritasi Tidak Iritasi Tabel 5. Hasil Uji Daya Sebar dan Daya Lekat Formulasi Sediaan Krim Betatas Ungu Pada Formulasi Daya Sebar . Daya Lekat . fisik dengan mendeskripsikan warna, sediaan krim ekstrak umbi betatas Sediaan krim sebaiknya (Ipomoea memiliki warna yang menarik dan bau yang menyenangkan dengan Tabel Formulasi terbaik adalah F3 hasil uji digunakan (Voight, 1. Pengujian organoleptisnya mempunyai warna ungu kemerahan, bau yang khas, bentuk kental dan pengujian pH digunakan sehingga tidak iritasi pada kulit (Erawati, 2. 6,27 dilakukan untuk mengetahui Menurut Swastika dkk. Pengujian homogenitas dilakukan untuk melihat apakah terhadap efektivitas terapi karena berhubungan dengan kadar obat yang tercampur sempurna. Homogenitas berpengaruh pada penyebaran krim Pengujian organoleptis, pengujian di kulit (Kartikasari dkk. , 2. Pengujian menunjukkan bahwa F2. F3 masih dilakukan untuk melihat tampilan menunjukkan krim masih dalam Sulistianingsih, dkk | 281 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 4. Oktober 2019, 276-284 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Sharon sedangkan untuk minggu ke 3 adalah . , yaitu memiliki sediaan krim 7, hal ini kemungkinan dipengaruhi yang memenuhi syarat kestabilan oleh asam stearat terkandung lebih A3 Menurut penelitian Kurniasih Hasil uji iritasi dari F1. F2. F3 . , asam stearat yang terkandung menggunakan ekstrak umbi betatas ungu (Ipomoea batatas L. semakin meningkat. Semakin banyak Tabel 3 tidak menunjukkan adanya jumlah asam stearat yang diberikan iritasi pada kulit, sehingga krim ini maka pH cenderung rendah karena baik digunakan sehari-hari untuk adanya gugus asam yang terdapat semua kalangan. Menurut penelitian Sharon . , krim yang memiliki formula sediaan masih dalam kisaran nilai pH tidak boleh terlalu asam jumlah pH yang sama, karena adanya karena dapat mengiritasi kulit dan bahan lain seperti trietanolamin yang tidak boleh memiliki sifat basa, rentang pH yang terlalu basah karena Namun diperoleh untuk penyimpanan suhu Hasil penelitian ini juga ruang dan suhu dingin adalah pH 7, sesuai dengan Widodo . , yang sehingga masih masuk dalam rentang pH normal untuk sediaan krim memenuhi persyaratan yaitu stabil, lunak, mudah dipakai, terdistribusi persyaratan SNI tentang rentang pH merata, dan tidak mengiritasi kulit. Hasil SNI. Berdasarkan persyaratan yaitu 3,5-8. Hasil pengujian organoleptis A2 F3 memiliki warna merah keunguan. Tabel 3 untuk F1 dan F2 hasil berbau khas, bentuk kental, dan pH yang konsisten dari minggu pertama hijau, bau yang khas, dan bentuk hingga minggu ketiga yaitu pH 6, kental, dan mempunyai nilai pH pada dan memiliki homogenitas sudah minggu pertama dan kedua adalah 6 sesuai standar. Sulistianingsih, dkk | 282 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 4. Oktober 2019, 276-284 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Berdasarkan Tabel 5 diameter warna merah keunguan, berbau khas, penyebaran krim dikatakan baik daya konsistensi kental, pH 7, dan tidak sebarnya pada F2 dan F3, karena sesuai standar daya sebar topikal dengan kondisi dipercepat 3 siklus adalah 5-7 cm (Wibowo dkk. , 2. selama penyimpanan 2 minggu dan Pengujian daya lekat pada Tabel 5 tidak mengalami perubahan selama bahwa semua sediaan krim yang penyimpanan 3 minggu pada uji dibuat sesuai syarat daya lekat untuk sediaan topikal adalah lebih dari 4 detik (Wibowo dkk. , 2. Persyaratan daya lekat yang baik Hasil pengujian homogenitas, pengujian UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih penulis ucapkan kepada Laboratorium Farmasi USTJ Papua yang telah memberikan izin tempat penelitian dan juga kepada semua pihak yang terlibat. iritasi, pengujian stabilitas dengan penyimpanan A2 minggu, pengujian daya sebar dan pengujian daya lekat yang terbaik pada krim adalah pada sediaan krim formulasi ke 3 . KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa formula terbaik dari krim ekstrak umbi betatas ungu (Ipomoea batatas L. ) adalah krim F3 dengan variasi konsentrasi asam stearat 18%. Krim F3 mempunyai DAFTAR PUSTAKA