Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 1 Ae 14 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index ISLAMIC BORDING SCHOOL: EDUCATION PROSPECT IN MILLENNIAL ERA FOR SOCITY ECONOMIC GROWTH PONDOK PESANTREN: PROSPEK PENDIDIKAN DI ERA MILENIAL UNTUK PERTUMBUHAN EKONOMI MASYARAKAT Moh. Kurdi Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Falah Pamekasan Jl. Sumber Gayam Kadur Pamekasan Email: ad. dhahil@gmail. com, 087872727468 Abstract: This study aims to determine the prospects for education in the millennial era in economic growth. The approach used in this study is a qualitative research approach. Data collection techniques used in this study are: Interviews. Observations and Documentation. The results of the study indicate that in the role of the Al Falah Islamic Boarding School Sumber Gayam Kadur Pamekasan chose to act as a facilitator between sellers and buyers, which means that the Islamic boarding school only allows the community to sell various products that are very much needed by all students and help in providing opportunities to improve the economy of the community in the environment around the boarding school. By motivating the community to produce a product that provides selling value and the Al Falah Islamic Boarding School provides an opportunity for the community to sell the products they In this case, the Al Falah Islamic Boarding School is not a business actor but rather an encouragement and motivation in raising the community to improve its economy. While as a supporting factor, there is media that is a liaison between the Islamic boarding school and the community, so that all Islamic boarding school activities, including economic activities, can be conveyed to the community. Keywords: Islamic Boarding School. Education Prospects. Socity Economic Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prospek pendidikan di era milenial dalam pertumbuhan ekonomi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Wawancara. Observasi dan Diterbitkan oleh LP2M Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 1 Ae 14 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index Dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam peran Pondok Pesantren Al Falah Sumber Gayam Kadur Pamekasan memilih berperan sebagai fasilitator antara penjual dan pembeli yang artinya pihak pondok pesantren hanya memperbolehkan saja. masyarakat untuk menjual berbagai produk yang sangat dibutuhkan oleh seluruh siswa dan membantu dalam memberikan peluang peningkatan perekonomian masyarakat di lingkungan sekitar pondok. Dengan memotivasi masyarakat untuk menghasilkan suatu produk yang memberikan nilai jual dan Pondok Pesantren Al Falah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menjual produk yang Dalam hal ini Pondok Pesantren Al Falah bukanlah sebagai pelaku usaha melainkan sebagai penyemangat dan motivasi dalam membangkitkan masyarakat untuk meningkatkan perekonomiannya. Sedangkan sebagai faktor pendukung, terdapat media yang menjadi penghubung antara pondok pesantren dengan masyarakat, sehingga seluruh kegiatan pondok pesantren, termasuk kegiatan perekonomian, dapat tersampaikan kepada Kata kunci: Pondok Pesantren. Prospek Pendidikan. Ekonomi Masyarakat PENDAHULUAN Negara Indonesia akan mencapai prospek yang luar biasa jika sebuah pendidikan dibangun secara segnifikan dan profesional. Konsep-konsep baru mengenai pendidikan alternatif yang flaksibel sangat diperlukan, mengingat mutu pendidikan di negeri ini dilihat mengalami penurunan. Sektor pendidikan yang dihadapi dewasa ini kalau dilihat dari dimensi fungsional pedagogis terdapat dua problem utama, yaitu: pertama, bagaimana mempersiapkan generasi muda Indonesia supaya mereka memiliki kemampuan menjawab tantangan apa pun yang dihadapi secara memadai di masa depan. Kedua, perluasan sistem, yaitu menambah daya tampung sistem sehingga sistem pendidikan di Indonesia tidak hanya mampu melayani anak-anak usia sekolah melalui sistem pendidikan formal, melainkan mampu juga melayani masyarakat luas melalui sistem pendidikan non-formal (Mochtar Buchori, 1. Pendidikan non-formal yang dimaksud ialah pendidikan di pondok pesantren, tidak sedikit dari sebagian besar sistem pendidikan pesantren Diterbitkan oleh LP2M Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 1 Ae 14 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index menjadi acuan aktualisasi pendidikan di Indonesia atau pendidikan Nasional, salah satu contoh pendidikan karakter. Pendidikan karakter sudah lama dilaksanakan dan diterapkan di dalam sistem pendidikan dipesantren, misal. mempertahan budidaya penanaman akhlak, akhlak menjadi pioner dalam sebuah pendidikan kepada santri atau peserta didik, akhlah juga menjadi dasar untuk menciptakan kader pendidik yang propesional. Didalam era milenial ini, pesantren harus lebih prospek baik secara pengelolaan sistem pesantren atau dalam pengajaran. Kita sebagai kader pendidik tidak dapat menutup mata dengan kemajuan dan ke-modern-an perkembangan pendidikan secara IPTEK, akan tetapi IMTAQ harus juga selalu menyelimuti dan menyeimbangi perkembangan tersebut, solusinya. kita selaku pendidik yang berbasis pesantren harus memegang teguh pada sebuah prinsip yang mengatakan Aual-muhafadzatu Aoala qodim as-sholeh wal ahdzu bil jadidil ashlahAy tetap mempertahankan tradisi lama yang baik, dan mengambil konsep baru yang baik. Lembaga pendidikan di pesantren yang jumlahnya sudah mencapi ribuan di seluruh penjuru negeri tidaklah hendak dibahas secara keseluruhan dalam tulisan ini. Setiap lembaga pendidikan pesantren memiliki keunikannya atau ciri khas masing-masing, sehingga cukup sulit untuk memberikan sebuah kesimpulan yang final tentang khas lembaga pesantren. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang mendidik, mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan melestarikan ajaran Islam dengan menekankan pada pentingnya moral-keagamaan sebagai dasar perilaku sehari-hari. Makna tradisional tersebut bukan berarti senantiasa perkembangan zaman saat ini yang disebut zaman milenial, akan tetapi meliki tujuan bahwa lembaga ini telah berkembang dan eksis sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, sehingga identik dengan budaya pendidikan hampir Diterbitkan oleh LP2M Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 1 Ae 14 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index mayoritas umat Islam Indonesia, khususnya yang hidup di desa. Budaya tersebut sangat memberikan kontribusi peran dalam pembentukan karakter atau sikap keberagamaan yang implikatif dalam kehidupan sehari-hari. Unsur-unsur penting yang terdapat di dalam pesantren adalah: . pelaku: kiai, ustadz, santri, dan pengurus. sarana perangkat keras: masjid, pondok . santri, gedung sekolah, perpustakaan, kantor pengurus, toko koperasi, dan lain sebagainya. sarana perangkat lunak: tujuan, kurikulum, kitab kuning, buku, cara belajar mengajar . orogan, bandongan, halaqah, menghafa. , dan evaluasi belajar mengajar. Metode yang digunakan untuk melakukan sosialisasi tema pembelajaran agama pada seluruh santri dan masyarakat luas, pada umumnya lembaga pesantren menggunakan empat macam model didaktik-metodik dalam program pengajarannya, yaitu: Pertama, sorogan, yaitu belajar secara individual yang dilakukan dengan cara santri berhadapan langsung dengan guru pengajar sehingga terjadi proses interaksi yang kuat di antara keduanya. Kedua, bandongan, yaitu sistem belajar secara kolektif atau berkelompok yang diikuti oleh seluruh santri. Biasanya kiai menggunakan bahasa daerah setempat atau Bahasa Indonesia dalam menerjemahkan redaksi kitab-kitab kuning yang dipelajarinya (Tholhah Hasan, 1. Ketiga, halaqah, yaitu diskusi untuk memahami isi kitab kuning, bukan untuk mempertanyakan kemungkinan benar atau memahami maksud yang diajarkan dan dijelaskan dalam kitab kuning. Para santri yakin bahwa kiai tidak mungkin akan mengajarkan hal-hal yang salah, sekaligus mereka yakin bahwa isi kitab kuning yang dipelajari telah mengandung kebenaran yang haqiqi. Diterbitkan oleh LP2M Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 1 Ae 14 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index Keempat, hafalan, yaitu kewajiban menghafalkan pelajaran kitab kuning khususnya materi yang berbentuk nazham . dengan jumlah syair tertentu yang harus disetor . ke hadapan gurunya. Materi hafalan umumnya terfokus pada materi pelajaran ilmu Nahwu Sharraf . eori tata bahasa Ara. dan ilmu tauhid . lmu ke-Tuhan-a. Dari empat metode ini yang menjadi ciri khas pola sistem pembelajaran di lembaga pesantren yang sampai saat ini tetap diaplikasikan. Dari empat metode ini juga muncul metode akselerasi atau sistem percepatan metode pembelajaran utamanya dalam membaca kitab kuning. Di zaman milenial . aman no. ini lembaga pondok pesantren tidak menghilangkan tradsi pembelajaran trasisional, bahkan memberikan kontribusi konstruktif untuk melakakun pendidikan yang lebih prospek, sehingga pola pembelajaran tidak membosankan melaikan semakin memberikan motivasi yang tinggi pada santri zaman now. Pesantren di Indonesia memiliki peran penting tidak hanya sebagai lembaga pendidikan agama tetapi juga sebagai penggerak pertumbuhan Pesantren telah lama menjadi bagian integral dari kehidupan Muslim Indonesia, menyediakan pendidikan agama yang berkualitas dan menjadi pusat kegiatan sosial dan ekonomi. Pondok Pesantren Al Falah Sumber Gayam Kadur Pamekasan adalah salah satu pesantren yang menonjol dalam peran ini, terutama melalui penerimaan santri baru yang setiap tahun membawa dampak signifikan terhadap perekonomian. Pengembangan perekonomian pesantren didefinisikan sebagai suatu proses mencari potensi pesantren dalam rangka mewujudkan pesantren yang memiliki keunggulan di bidang pengelolaan perekonomian. Pengembangan ekonomi pesantren memiliki nilai strategi untuk meneguhkan pondasi perekonomian syariah dan sebagai implementasi pemberdayaan perekonomian Pesantren tidak hanya membahas satu kitab ke kitab lainnya namun Diterbitkan oleh LP2M Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 1 Ae 14 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index membahas ilmu perekonomian sudah dilakukan dan diterapkan di banyak pesantren di Indonesia, namun dalam kenyataannya lingkupnya masih kecil. Potensi perekonomian dari pesantren sangat besar, yang bisa bersaing dengan perekonomian konvensional. Perlu dilakukan sosialisasi langsung kesantri dan pandangan santri akan pentingnya berekonomi sesuai dengan ajaran Islam atau yang dikenal dengan ekonomi Islam (Saridjo, 1. Basis sosial yang dimiliki pesantren adalah masyarakat, karena hidupnya pesantren juga dari masyarakat, dan untuk masyarakat. Hal inilah yang memperkuat kedudukan pesantren. Selain itu, dalam usaha ini masih perlu dilakukan peninjauan menurut perekonomian Islam. Perekonomian Islam adalah suatu ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari persoalan perekonomian rakyat yang berlandaskan syariat Islam, hal ini sesuai dengan apa yang telah diungkapkan oleh (Latumaerissa, 2. dalam bukunya mengatakan bahwa Perekonomian Islam adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah perekonomian rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam. Dengan potensi perekonomian dan keagaman Pesantren bisa meningkatkan lembaga pengembangan swadaya masyarakat, terutama melalui nilai-nilai luhur seperti kemandirian, keadilan kerja sama dan sebagainya. Kegiatan perekonomian lainnya, bertujuan sebagai penunjang dari tugas utama pondok pesantren yaitu membekali ilmu agama. Sehingga pondok pesantren diharapkan tidak hanya sebagai pencetak generasi intelektual yang produktif dan kompeten secara spiritual, namun juga produktif dan kompeten (Efrina, perekonomian ditentukan oleh kemampuan pengelola pondok pesantren dalam sumberdaya, baik internal maupun eksternal. Berbagai jenis pemberdayaan yang dapat dikembangkan pada pondok pesantren di antaranya adalah bidang agribisnis, jasa, perdagangan, dan industry (Khairul et al. , 2. Diterbitkan oleh LP2M Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 1 Ae 14 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index METODOLOGI PENELITIAN Pendekatan yang penulis gunakan dalam karya ilmiah ini adalah pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran secara individual maupun kolektif. Sedangkan metode analisisnya adalah deskriptif yaitu metode yang digunakan untuk menggambarkan analisis suatu hasil penelitian, tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih Menurut Natzir, tujuan dari pendekatan kualitatif deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Dalam karya ilmiah ini, pendekatan kualitatif deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis konsep-konsep peran pesantren secara produktif serta bagaimana strategi yang digunakan dalam pertumbuhan Data yang digunakan adalah data sekunder berupa catatan atau laporan baik yang terpublikasi maupun tidak terpublikasi, dari situs-situs resmi pemerintah, buku, artikel dan lainya. Adapun metode pengumpulan data yang dilakukan dalam karya tulis ilmiah ini adalah dengan studi kepustakaan, yaitu dengan mempelajari, mendalami, serta mengutip teori-teori dan konsep-konsep menggambarkan fenomena yang terjadi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pesantren sebagai Aset pendidik Mengapa fungsi dan metode-metode pengajaran di lembaga pendidikan pesantren masih terealisasi hingga saat ini? seluruh komponen atau komunitas pesantren secara nyata masih sangat kuat memegang teguh prinsip sistem Diterbitkan oleh LP2M Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 1 Ae 14 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index pendidikan pesantren. Kegiatan apa pun yang dilakukan harus terkategori ibadah . semata kepada Allah SWT, sehingga sistem pendidikan yang dikembangkan menggunakan pendekatan holistik, dan jika dielaborasi memuat nilai-nilai sebagai berikut: (Abdullah Fadjar: 1. Theocentric, yaitu pandangan yang mengatakan bahwa semua kejadian dalam proses sistem pendidikan berasal dan akan kembali pada kebenaran Tuhan. Sukarela dan mengabdi, yakni pilihan yang bertitik tolak dari setiap perilaku dan tindakan dengan sikap mental ikhlas yang hanya berdimensi mengharap ridla . Allah SWT. Kearifan, yaitu bersikap sabar, tabah, rendah hati . , patuh pada ketentuan hukum agama, mampu mencapai tujuan, dan idealisme tetapi tanpa merugikan orang lain, serta berusaha maksimal agar diri atau keluarga bermanfaat bagi kemaslahatan umat secara menyeluruh. Kesederhanaan, . , serta menghindari sikap tinggi hati . Kolektivitas, bahwa sikap kebersamaan jauh lebih urgen dan lebih strategis dari pada sikap lebih mengedepankan diri sendiri . Mengatur kegiatan bersama, bahwa usaha mengaplikasikan program apa pun secara kolektif harus diputuskan berdasarkan kesepakatan musyawarah secara aklamasi, dan kalau perlu tanpa melalui voting. Kebebasan terpimpin, bahwa setiap manusia mempunyai kebebasan memperlakukan kebebasan dan keterikatan . etidak bebasa. sebagai suatu hal yang kodrati yang harus diterima dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya dalam kegiatan belajar-mengajar. Diterbitkan oleh LP2M Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 1 Ae 14 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index Mandiri, yaitu sikap bertanggung jawab dalam mengatur dirinya sendiri, tanpa tergantung atau merepotkan orang lain dari sejak bangun tidur hingga tiba waktunya tidur kembali di malam hari. Pesantren adalah tempat mencari ilmu dan mengabdi, yaitu pandangan bahwa mencari ilmu itu wajib hukumnya dan harus diorientasikan untuk mengabdi pada Allah SWT di mana pun dan kapan pun. Pola berpikir para santri bertitik tolak dari suatu keyakinan dan berakhir . pada suatu kepastian, sedangkan kalangan scientist . berangkat dari suatu keraguan . dan berakhir pada sebuah pertanyaan. Mengamalkan ajaran agama, yaitu suatu pandangan bahwa setiap gerak kehidupan manusia harus selalu berada dalam batas rambu-rambu hukum agama . Perbuatan nyata jauh lebih baik dari pada pernyataan dalam bentuk katakata semata . Tanpa ijazah, bahwa keberhasilan belajar seorang santri bukan terletak pada tingginya angka-angka di atas lembaran ijazah, tetapi sejauh mana santri mempunyai prestasi kerja yang diakui oleh khalayak dan direstui oleh kiai. Belajar di pesantren tidak dibatasi oleh suatu waktu tertentu yang harus ditempuh. Restu kiai, bahwa seorang santri jangan sampai berbuat sesuatu yang tidak disukai atau tidak direstui oleh kiai. Seorang santri harus berusaha selalu berada dalam satu pemikiran dengan kiai, tidak boleh berbeda prinsip kendati dengan alasan yang sangat rasional sekali pun. Kepemimpinan kiai dalam konteks ini tidaklah aneh jika bersifat kharismatik dan nyaris menjadi Ausetengah dewaAy. Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidik harus memiliki karakter yang ikhlas, tabah, menerima keadaan, tidak mengedepankan egosentrik personalia. Oleh karena, pendidikan pesantren adalah wadah untuk mengkader, menciptakan dan membentuk karakter pendidik yang profesional dan agamis. Zaman yang serba digital atau pun juga disebut milenial ini layak Diterbitkan oleh LP2M Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 1 Ae 14 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index pesantren sebagai central pendidikan kareakter utamanya karakter seorang Peran Pesantren di Masyarakat Peran potensi-potensi perekonomian di masyarakat sekitar. Bisanya untuk menghidupkan ekonomi khususnya di wilayah pesantren itu ada warga kemudian ada juga santri, warga dan santri Saling berkebutuhan ekonomi masyarakat dalam islam. Tidak hanya warga pesantren tapi warga sekitar juga kita fasilitasi. Karena sudah jelas bahwa santri-santri akan membeli sesuatu ke kita Insyallah tidak ada yang tidak terjual disini. Makanan, minuman, jajanan, barang kebutuhan sehari-sehari. Jadi perannya kita mencoba mengakomodir potensi-potensi perekonomian yang ada di masyarakat lingkungan di sekitar pesantren sesuai dalam syariat islam. Karena kami melihat di Pondok Pesantren identik dengan pendidikan. Pendidikan tidak bisa menganggap rendah pendanaan. Jadi pendidikan harus ditopang oleh pendanaan yang kuat. Sementara memang pendanaan itu tidak harus mengandalkan pendidikan memang harus punya unit usaha untuk menopang pendidikan tersebut. Di pondok pesantren Al Falah ini potensipotensi ekonomi masih belum berkembang /masih belum besar jadi kita coba membangun itu. Dalam menjalankan peran kita sebagai yang memberikan fasilitas untuk kegiatan usaha atau kegiatan ekonomi ini kita awalnya kita mulai dari yang terkecil dulu, dari hal-hal yang sedikit kemudian dan sederhana mulai dari jual beli makanan ringan kemudian nanti sampai kedepannya bisa terwujud Memang mulai dari yang kecil dahulu, memang sekarang kita masih merintis usaha-usaha kantin untuk santri dan luar santri kemudian mini market untuk kedepanya. Di pondok pesantren ini fokus untuk melayani masyarakat pesantren dulu, masyarakat sekitaran pesantren dulu, fokus pada mengembangkan yang didalam nanti baru fokus mengembangkan yang ada di Diterbitkan oleh LP2M Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 1 Ae 14 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index Berbuatlah dari diri kita sekarang. Kalau bukan kita siapa lagi. Kalau mengandalkan orang takutnya tidak sesuai dengan keinginan masyarakat sekitar pondok pesantren Al Falah ini. Meskipun kecil dan sederhana yang kita lakukan dari hal-hal kecil yang kita lakukan. Karena yang saya lihat pondok pesantren yang jadi pokok utamanya adalah pendidikan,sosial dan ekonomi belum jadi perhatian di pondok pesantren, jadi kita membangun wacana kalau ekonomi juga penting dalam pondok pesantren itu kita lakukan secara pelan-pelan dalam Pandangan masyarakat terkait kegiatan yang kita lakukan mereka alhamdulilah positif, dan kita kedepannya tidak dibebankan atau di topang biaya SPP atau biaya-biaya yang lain atau bantuanbantuan yang lain. Yang terpenting kita optimis, berdoa dan berusaha sebaik mungkin, kalau sekarang hasilnya belum terlihat nanti pasti akan terlihat. Dari hasil wawancara yang suda saya dapatkan dari santri selaku pembeli dagangan masyarakat, saya mendapatkan gambaran yang berkaitan bahwasahya memang dengan adanya pondok bisa memudahkan masyarakat dalam berekonomi untuk memenuhi kualitas kehidupan keluarga mereka dan pastinya mereka juga berlomba-lombah untuk menjual barang dan jenis dagangan mereka dengan produk yang berkualitas agar santri suka dan senang. Produk yang di jual juga termasuk dalam barang atau makanan yang halal yang tidak memiliki keraguan untuk dijual dan dibeli pada umumnya apalagi bagi para santri. Maka dapat di simpulkan bahwa pedagang disini alhamdulillah sudah mengerti dengan adanya jual beli dalam islam serta meningkatka kesejahteraan ekonomi merka juga dari segi berkidupan, etika, dan moral. Faktor-faktor Pendukung Dan Penghambat Dalam Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Untuk faktor pendukung yaitu jadi peran kita walaupun tidak semua ada juga yang terjun ke masyarakat dan menjadi pengurus masyarakat dan juga Diterbitkan oleh LP2M Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 1 Ae 14 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index sekaligus sebagai penghubung antara pesantren dan masyarakat. Jadi misalnya pesantren punya program ini atau acara ini nanti si penghubung itu yang Dan mengapreasisasikan unit-unit usaha/kegiatan yang kita miliki. Untuk faktor penghambat yaitu seperti ada informasi yang tidak kita sampaikan kepada masyarakat/kurangnya informasi dari kita. Untuk cara mengatasi faktor penghambat itu karena dulu belum ada penghubung informasi antara masyarakat dan pihak pondok pesantren maka itu sekarang bukan menjadi sesuatu hambatan buat kita. Yang sekarang menjadi faktor penghambat adalah kurangnya SDM dari kita dan perlunya perbaikan akan SDM yang kita miliki. Faktor yang menjadi semangat untuk kita yaitu lebih baik tangan di atas dari pada di bawah, jadi intinnya kita harus mandiri dalam hal perekonomian. Berdasarkan hasil penelitian dengan mewawancarai salah satu narasumber kepala dapartemen ekonomi pada pondok pesantren Al Falah maka mengatakan bahwa, faktor pendukung yaitu adanya pengurus dari pondok pesantren Al Falah sebagai penghubung untuk memberikan informasi kepada masyarakat serta penghubung antara pesantren dan masyarakat. Yang sekarang menjadi faktor penghambat adalah kurangnya SDM dari kita dan perlunya perbaikan akan SDM yang kita miliki. Faktor yang menjadi semangat untuk kita yaitu lebih baik tangan di atas dari pada di bawah, jadi intinnya kita harus mandiri dalam hal perekonomian. Maka berdasarkan hasil penelitian yang menjadi faktor penghambat hubungan masyarakat dan pihak pondok pesantran adalah kurangnya sumber daya manusia yang menjalankan atau mengelola usaha-usaha yang diberikan kepada masyarakat. Karena pihak pesantren Al Falah adalah sebagai fasilitator maka sumber daya manusia sangat di perlukan agar bisa menampung semua jenis-jenis usaha yang dimiliki oleh masyarakat sekitar pondok pesantren Al Falah. Sedangkan untuk faktor pendukung adalah adanya sebuah media yang dimana oknum atau pengurus pondok pesantren Al Falah sebagai penghubung Diterbitkan oleh LP2M Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 1 Ae 14 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index antara pihak pesantren dan masyarakat, jadi semua kegiatan pondok pesantren bisa di sampaikan kepada masyarakat termasuk dalam kegiatan ekonomi yang berfungsi meningkatkan perekonomian masyarakat. KESIMPULAN Aktualisasi pendidikan pesantren merupakan salah satu upaya yang harus dilestarikan didalam mengarahkan dan membimbing potensi-potensi kader pendidik yang kharismatik dan berkarakter. Pendidikan pesantren dapat menentukan kader pendidik masa depan yang bertanggung jawab. Prospek pendidikan pesantren di era milenial ini juga membutuhkan perhatian pemerintah dalam mengambil bagian keikutsertaan dalam memikirkan pendidikan pesantren masa depan. Disamping itu, empat metode yang membantu eksistensi prosepek pendidikan pondok pesantren diantaranya adalah metode sorogan, bandongan, halaqah, menghafal. Di era milenial saat ini harus tetap dipertahankan sebagai bentuk proteksi hilangnya budaya pesantren yang tradisonal. Pondok pesantren modern pun yang menganut metode modern juga tidak menghilangkan metode tradisional tersebut, empat metode tradisional itu sebagai pondasi atau basik melakukan perkembangan pendidikan pesantren saat ini. Pendidikan pesantren sebagai aset pendidik yang berkarakter, karena didalam pendidikan pesantren diberikan pendidikan yang mengutamakan akhlah yang didalamnya pendidikan penuh keikhlasan dalam pengabdian, kesabaran, ketawadduan, dan kemandirian. Pendidikan yang demikian itu yang sangat diharapkan di era milenial ini yang serba sesuatu diukur dengan materi Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam peranan pondok Pesantren Al Falah memilih sebagai fasilator antara penjual dan pembeli yang artinya pondok pesantren hanya membolehkan masyarakat dalam menjual berbagai produk yang sangat di butuhkan oleh semua santri dan Diterbitkan oleh LP2M Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan ISSN: 2797-6505 P. ISSN: 2807-2383 Vol. 5 No. 1 Maret 2025: 1 Ae 14 https://ejournal. id/madura/index. php/IDEALITA/index membantu dalam memberikan peluang untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di lingkungan sekitar pondok. Dengan memotivasi masyarakat agar bisa menghasilkan suatu produk yang memberikan nilai jual serta pondok pondok pesantren Al Falah memberikan sebuah kesempatan atau peluang untuk masyarakat dalam menjual produknya yang mereka hasilkan. Dalam hal ini pondok pesantren Al Falah bukan sebagai pelaku usaha tapi lebih sebagai meningkatkan perekonomian mereka. Sedangkan untuk faktor pendukung dengan adanya sebuah media yang berperan sebagai penghubung antara pihak pesantren dan masyarakat, jadi semua kegiatan pondok pesantren termasuk dalam kegiatan perekonomian bisa di sampaikan kepada masyarakat. DAFTAR PUSTAKA