ANALISIS WAYANG GOLEK BOGOR DAN WAYANG POTEHI JOMBANG DALAM STRUKTUR BAHAN PEMBUATAN DAN ALUR PEMENTASAN Ong Peter Leonardo. Ed. Lidwina Jacinda Widiartha Fakultas Bahassa dan Pendidikan Bahasa Jurusan Pendidikan Bahasa Mandarin. Universitas Widya Kartika Jl. Sutorejo Prima Utara II/1. Surabaya 60113 Abstrak Popularitas wayang yang terus berlanjut hingga saat ini menunjukkan pentingnya dan signifikansi wayang dalam kehidupan masyarakat. Wayang Golek dan Wayang Potehi merupakan dua bentuk wayang yang mempunyai ciri khas masing Ae masing. Wayang Potehi yang merupakan keturunan Tiongkok ini menggunakan wayang dan sering menggambarkan cerita tentang tokoh dan legenda Tiongkok. Perkembangan dari wayang kulit, wayang golek terbuat dari kayu dan menceritakan kisah Ramayana dan Mahabharata, warisan budaya Jawa. Kedua jenis wayang ini memiliki kemiripan dari sisi sejarah dan sama Ae sama menggunakan kayu sebagai bahan utama pembuatan boneka. Penelitian ini fokus pada perbandingan dan persamaan Wayang Potehi Jombang dan Wayang Golek Bogor, khususnya dari segi bahan dan alat dalam pembuatan dan juga alur pementasan. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah ada keterkaitan yang kuat antara kedua jenis wayang tersebut dan memahami bagaimana sejarah mereka terkait. Pertanyaan penelitiannya mencakup bahan Ae bahan yang digunakan dalam pembuatan wayang dan bagaimana alur pementasan yang dilakukan pada kedua wayang tersebut. Kata Kunci: Analisis struktur bahan dan alur pementasan, budaya, wayang, wayang golek, wayang potehi. Abstract The continuous popularity of wayang up to the present day demonstrates its importance and significance in people's lives. Wayang Golek and Wayang Potehi are two forms of wayang that have their own unique characteristics. Wayang Potehi, of Chinese descent, uses puppets and often depicts stories about Chinese figures and legends. Developed from wayang kulit, wayang golek is made of wood and tells the stories of the Ramayana and Mahabharata, the cultural heritage of Java. Both types of wayang have similarities in terms of history and both use wood as the main material for making puppets. This research focuses on the comparison and similarities between Wayang Potehi from Jombang and Wayang Golek from Bogor, specifically in terms of materials and tools used in production, as well as the performance flow. The aim is to determine whether there is Universitas Widya Kartika a strong connection between the two types of wayang and to understand how their histories are related. The research questions include the materials used in the making of wayang and the performance flow of both types of wayang. Keywords: Material structure and performance flow analysis, culture, wayang, wayang golek, wayang potehi. Pendahuluan 1 Latar Belakang Dalam perkembangan dari masa ke masa, wayang telah berubah seiring dengan perkembangan budaya masyarakat yang mendukungnya, baik dari segi atribut, fungsi, maupun perannya. Wayang telah melalui berbagai peristiwa sejarah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Budaya pewayangan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia, terutama masyarakat Jawa. Sampai saat ini masih banyak orang yang menggemari wayang menunjukkan betapa tinggi nilai dan berartinya wayang bagi kehidupan masyarakat. Wayang merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional Indonesia yang memiliki banyak jenis, salah satunya wayang potehi dan wayang golek. Wayang potehi merupakan kesenian klasik yang berasal dari tiongkok dan merupakan salah satu warisan budaya khas tiongkok yang ada di Indonesia. Wayang potehi menyerupai boneka yang berbentuk kantong kain. Wayang golek termasuk salah satu jenis kesenian wayang yang merupakan perkembangan dari wayang kulit. Wayang golek menyerupai boneka yang berbentuk dari Perbedaan antara wayang golek dan wayang potehi terletak pada cerita yang dipentaskan dan karakter Ae karakter yang dimainkan. Wayang potehi cenderung lebih fokus pada cerita Ae cerita moral dan mitologi tiongkok, sedangkan wayang golek lebih sering mengangkat cerita Ae cerita Ramayana dan Mahabharata, yang merupakan warisan budaya jawa barat. Selain perbedaan dalam cerita Wayang golek dan wayang potehi juga memiliki persamaan yaitu salah satunya, bahan dasar utama pembuatan wayang golek dan wayang potehi adalah kayu. Oleh karena adanya kemiripan tersebut, maka penulisan tugas akhir ini peneliti ingin meneliti mengenai persamaan dan perbandingan antara struktur bahan pembuatan dan alur pementasan di wayang golek dan wayang potehi. Jika, kemudian ditemukan adanya persamaan antara wayang golek dan wayang potehi, dimanakah letak persamaannya dan apakah wayang golek dan wayang potehi ini masih berkaitan dari sisi 2 Rumusan Masalah Bagaimana perbandingan dan persamaan dari wayang potehi jombang dan wayang golek bogor, dari bahan yang digunakan dalam pembuatan dan alur pementasan dalam wayang potehi Jombang dan wayang golek Bogor? Universitas Widya Kartika 3 Tujuan Menganalisis struktur bahan yang digunakan dalam pembuatan wayang potehi jombang dan wayang golek bogor. Menganalisis alur pementasan dalam wayang potehi jombang dan wayang golek 4 Manfaat Sebagai referensi bagi para peneliti, pembaca dan penggiat seni pertunjukan tradisional dalam memahami perbedaan dan persamaan antara wayang potehi jombang dan wayang golek bogor. Sebagai pengetahuan dalam bidang seni pertunjukan tradisional, khususnya dalam kajian wayang. Metode Penelitian Bedasarkan Tinjauan Pustaka yang telah diuraikan, penelitian ini memiliki hubungan yang erat dengan sejarah dan kebudayaan antara Tiongkok Ae Indonesia. Dengan adanya keterbatasan serta letak kedua negara yang sangat jauh, serta untuk menjamin keakuratan penelitian, maka menggunakan metode penelitian kepustakaan. Metode penelitian studi pustaka atau kepustakaan adalah sebuah teknik yang dimana peneliti mempelajari buku, artikel, jurnal atau surat kabar yang terkait dengan metode dan media yang digunakan oleh penulis. Selain menggunakan metode penelitian kepustakaan atau studi pustaka, peneliti juga menggunakan metode wawancara. Metode wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara dan yang di Peneliti menggunakan metode ini untuk menggali data yang berkaitan dengan proses pembuatan wayang potehi, bahan dan alat yang digunakan dalam pembuatan wayang potehi, pementasan dan alur pementasan wayang potehi. Hasil Dan Pembahasan 1 Pembuatan Wayang Golek Wayang golek adalah boneka kayu yang dibuat dengan cara diukir dan diraut pada bagian kepala, tubuh, dan tangan. Bagian Ae bagian ini, yaitu kepala, tubuh, dan lengan, dapat dipisahkan. Bagian-bagian tersebut dihubungkan oleh sebuah batang kayu kecil berbentuk bulat yang disebut sebagai AugagangAy, yang mana gagang ini berfungsi tidak hanya untuk menyatukan kepala, tubuh, dan lengan, tetapi juga untuk menempatkan wayang di atas AugebogAy . atang pisan. dengan cara ditancapkan. Wayang golek biasanya mengenakan pakaian tenun yang berwarna Ae warni. Bahan dan Alat Pembuatan Wayang Golek Universitas Widya Kartika Berdasarkan studi pustaka jurnal (Rosyadi, 2009:. Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan wayang golek adalah kayu, dengan jenis kayu yang paling sering digunakan yaitu kayu lame atau kayu mahoni. Kayu Ae kayu ini biasanya ditemukan di sekitar daerah Bogor. Peralatan yang digunakan cukup sederhana, yaitu seperti bedog, gergaji, kampak besar, kampak kecil, pisau raut . isau uki. , dan lain-lain. Beberapa pengrajin diketahui juga menggunakan jenis kayu albasia karena kayu ini ringan, mudah dibentuk atau dipahat, serta tahan lama. Bahan lain berikutnya yang dibutuhkan untuk membuat wayang adalah cat Cat yang biasanya digunakan adalah cat kayu dengan warna cerah dan cepat Selain itu, cat duko . at untuk mobi. sering juga digunakan karena memberikan tampilan yang lebih menarik, membuat warna wayang golek lebih cerah, dan lebih cepat kering dibandingkan cat kayu. Bambu adalah bahan lain yang digunakan untuk membuat tuding, alat yang digunakan oleh dalang untuk memegang wayang golek saat dimainkan. Tuding ini digunakan untuk menggerakkan tangan wayang dan menancapkan wayang golek di atas gebok atau dudukan golek. Bahan yang digunakan pada pakaian wayang golek terbuat dari kain beludru berwarna-warni yang dipadukan dengan aksesori dari manik Ae manik plastik yang Bahan yang digunakan dalam pembuatan wayang golek, merupakan bagian sisi kayu bulat Ae torak. Bagian tengah kayu bukan bahan yang baik untuk membuat wayang Kayu yang digunakan yaitu, kayu lame dan jeungjing . Kayu jeungjing atau albasia ini lebih tahan cuaca, tidak mudah retak karena perubahan cuaca. Bahan kayu ini juga lebih ringan yang menguntungkan bagi para dalang. Tuding atau alat untuk menggerakkan lengan golek menggunakan bambu, juga bagian sampurit. Bahan bambu merupakan bahan terbaik untuk tuding dan sampurit. Bahan ini lebih lentur dibanding, misalnya dengan bahan kayu ataupun rotan. Sampurit atau gapit digunakan sebagai pegangan dalang ketika memainkan golek dan untuk menancapkan golek di atas alas gebog . (Drs. Jajang Suryana. Sn, 2020:. Proses Pembuatan Wayang golek dibuat melalui proses perautan dan pengukiran, kemudian proses Sebelum proses diwarnai, wayang golek diberi arsiran untuk menentukan area yang akan diwarnai dan cara mengaplikasikan warna tersebut pada hiasannya, yang dilakukan dengan dipulas. Tahap awal pembuatan wayang golek dimulai dengan menggambar bentuk wajah secara rinci. Setelah itu, kayu yang telah dibentuk dihaluskan menggunakan amplas, setelah itu diukir dengan pisau ukir secara cermat untuk membuat bagian kepala. Selanjutnya, dilakukan proses pengecatan. Sambil menunggu cat kering, pengerjaan dilanjutkan dengan membuat bagian badan dan tangan. Untuk membuat bentuk tangan, perlu diukur terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan mahkota di bagian Universitas Widya Kartika kepala. Proses pengeringan cat harus dilakukan pada kondisi cuaca yang tepat, yang mana cuacanya tidak boleh terlalu panas agar cat tidak mudah mengelupas. Kemudan untuk proses pembuatan pakaian, menggunakan kain tenun berwarna Ae warni atau kain beludru yang dijahit. Pakaian ini kemudian dihiasi dengan manik Ae manik plastik yang mengkilap. Pembuatan wayang golek tidaklah mudah. Untuk wayang dengan detail yang tidak terlalu rumit, para pengrajin dapat menghasilkan tiga bagian kepala wayang per hari. Namun, untuk wayang dengan detail rumit, membutuhkan waktu hingga dua hari per Untuk menyelesaikan satu wayang lengkap dengan segala bentuk dan aksesorinya, dibutuhkan waktu sekitar tiga hari (Rosyadi, 2009:. 2 Pementasan Wayang Golek Wayang golek adalah salah satu jenis seni pertunjukan wayang yang sangat populer di daerah Tanah Pasundan. Tanah Pasundan ini merupakan istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan wilayah Jawa Barat. Pada awalnya, pementasan wayang golek dilakukan pada malam hari dan berlangsung sepanjang malam. Baru pada abad ke-16, pementasan ini juga mulai diadakan pada siang hari. Pertunjukan wayang golek diiringi oleh berbagai alat musik tradisional seperti rebab, gambang, kendang, gong, kenong, bonang, siter, peking, saron, slendro, dan gamelan. Wayang golek terbuat dari kayu, dengan kepala yang dihubungkan ke tangkai untuk memudahkan pergerakan kepala ke kiri, kanan, atas, atau bawah, serta dapat dilepas dari tubuhnya. Tangan wayang golek juga dihubungkan dengan benang agar bisa digerakkan oleh dalang. Pada tahun 1980-an, wayang golek berhasil menarik minat penonton muda. Pertunjukan ini diselenggarakan di sekolah, kampus, dan juga televisi. Para dalang menyebut fenomena ini sebagai "gebrakan 80-an". Pementasan wayang golek biasanya diadakan di tempat terbuka seperti lapangan yang cukup luas untuk menampung penonton dan menggunakan panggung agar penonton dapat melihat dengan jelas. Alur cerita yang digunakan dalam pementasan ini mirip dengan pementasan wayang lainnya, yaitu lakon galur dan carangan yang bersumber dari Ramayana dan Mahabharata. Saat ini, pementasan wayang golek sering diadakan dalam acara hajatan seperti pernikahan dan khitanan, serta pada perayaan kemerdekaan atau acara kenegaraan lainnya (Rosyadi, 2009:. (Drs. Jajang Suryana. Sn, 2020:79 Ae . Alur Pementasan Wayang Golek Alur pementasan wayang golek ini, dalang naik ke panggung lalu duduk di balik meja yang ditutupi oleh sebuah kain, posisi dalang berhadapan dengan penonton, di antara dalang dan penonton terdapat batang pohon pisang . yang dibawahnya tertutup kain kemudian, wayang golek ditancapkan pada batang pohon pisang. Setelah itu, dalang akan menyampaikan prolog tentang judul dan cerita yang akan digunakan dalam pementasan atau dalam istilah seni perwayangan disebut nyandra. Kemudian setelah Universitas Widya Kartika dalang menyampaikan prolog atau nyandra, dalang akan melanjutkan cerita dengan memainkan wayang. Wayang ini dimainkan dengan memperlihatkan kedua wayang yang sedang berbicara dengan menggerakan bagian seperti kepala dan tangan. Selain itu, dalang juga akan memperlihatkan wayang sedang terjatuh, berlari, berkelahi dan sebagainya (Muhammad Randhika Muazd R, 2022:. 3 Pembuatan Wayang Potehi Pembuatan wayang potehi berpusat di desa Gudo. Jombang, tepatnya di klenteng Hong Sang Kiong. Toni Harsono (Wawancara, 20 Juni 2. mengatakan bahwa bentuk dari wayang potehi ini, beliau menggunakan contoh dari wayang Ae wayang kuno salah satunya peninggalan kakeknya, lalu patung Ae patung yang ada di kelenteng, dan lain Ae lain. Bahan dan Alat Pembuatan Wayang Potehi Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan wayang potehi yaitu kayu. Jenis kayu yang digunakan adalah kayu waru, terutama bagian dalam kayu waru. Jenis kayu waru ini ringan dan berserat halus. Selain itu, bisa juga menggunakan jenis kayu yang lain seperti, kayu mauning, kayu nangka atau kayu jati. Tapi, kayu waru lebih banyak digunakan karena lebih ringan, kuat, berserat halus, dimaksudkan agar mudah diukir. Alat yang digunakan dalam proses pembuatan wayang potehi ini antara lain, satu set alat ukir, pisau kecil, gergaji, bor, cat emco, tiner A, dan amplas. Kemudian untuk pakaian wayang potehi. Toni Harsono tidak membuat sendiri, beliau hanya membuat designnya saja lalu diberikan ke penjahit. Kain yang digunakan untuk membuat pakaian wayang potehi ini yaitu kain satin. Widodo . awancara, 20 Juni 2. mengatakan bahwa dalam pembuatan wayang potehi, ada berbeda Ae beda pengerajin yang membuat wayangnya. Untuk bagian wajah, ada sendiri yang mengerjakan, untuk bagian tangan dan bagian kaki ada sendiri yang mengerjakan, begitu pula pakaian, topi dan aksesoris lainnya. Proses Pembuatan Wayang Potehi Dalam proses pembuatan wayang potehi ini berbeda Ae beda untuk setiap proses Ada yang membuat dari bagian wajah dulu dan ada juga yang dari bagian kaki dulu. Pembuatan wayang potehi juga tidak boleh dikerjakan sembarangan. Menurut Widodo, ada tahapan Ae tahapan dalam pembuatan wayang potehi. Tahap pengukiran, tahap pewarnaan, tahap pembuatan pakaian bagian dalam, tahap perakitan bagian tangan dan bagian kaki dan tahap pemberian pakaian dan topi. Boneka wayang potehi ini normalnya dibuat dengan tinggi 20 cm dan lebar 20 cm. Pertama, kayu akan diukir sesuai dengan karakter. Pengukiran bentuk wajah ini disesuaikan dengan karakter dalam cerita wayang potehi. Setelah proses pengukiran bentuk wajah, kayu akan di amplas dan di beri cat dasar hingga pori Ae pori tertutup, lalu Universitas Widya Kartika ditunggu hingga kering. Jika pori Ae pori masih terlihat, diamplas lagi dan di beri cat dasar lagi hingga pori Ae porinya sudah membentuk, agar tidak menutupi bagian mata, telinga dan hidung. Setelah itu, bagian wajah di cat emco berwarna putih dan jika cat ini sudah mengering, mulai di cat sesuai dengan karakter. Kemudian mulai melukis bentuk mata, mulut, rambut di cat warna hitam, dan jika karakter atau perannya orang tua, maka dibutuhkan janggut. Lalu janggut atau kumis akan di bor dan di beri rambut, rambut ini menggunakan rambut asli. Kedua, pembuatan pakaian bagian dalam, kain akan diisi dakron, lalu dijahit. Setelah itu, akan disatukan tangan dan kakinya dengan dijahit. Ketiga, pemberian kostum. Kostum atau pakaian pada wayang potehi ini tergantung peran atau karakter apa yang akan dimainkan dalam cerita. Satu wayang bisa menjadi beberapa karakter bila berganti pakaian serta aksesorisnya seperti topi, senjata, dan lain Ae lain. Begitu pula dengan pengukiran bentuk wajah, tergantung peran dan karakter apa yang akan dimainkan dalam cerita. Jika karakter atau peran yang akan dimainkan seorang pangeran, maka bentuk wajah akan diukir dan dibuat agar terlihat tampan, jika peran atau karakternya jahat, maka bentuk wajah akan diukir sesuai dengan Begitu pula dengan proses pewarnaan, dalam proses pewarnaan akan disesuaikan dengan karakter atau peran yang ada pada cerita. Pembuatan wayang potehi ini lumayan rumit. Untuk membuat satu wayang, bentuk wajah, tangan dan kaki, membutuhkan waktu satu hari. Untuk membuat satu wayang potehi utuh dengan pakaian dan aksesoris yang lengkap, membutuhkan waktu 2 Ae 3 hari. Tergantung Tingkat kesulitan motif pakaian dan model pakaiannya. Panggung yang digunakan normalnya berukuran lebar 180 cm. Panjang 50 cm dan tinggi 80 cm. 4 Pementasan Wayang Potehi Tidak ada catatan yang pasti mengenai kapan wayang potehi pertama kali masuk ke Indonesia, tetapi legenda menyebutkan bahwa wayang potehi diperkenalkan oleh para imigran Tionghoa ke Nusantara pada abad ke Ae 16. Saat pertama kali masuk ke Indonesia, wayang potehi umumnya di pentaskan dalam bahasa Tionghoa, dalam dialek Minnan. Kemudian wayang potehi yang awalnya berbahasa mandarin dengan dialek hokkien, setelah di keluarkan PP No. 10/1959, bahasa yang digunakan dalam pementasannya adalah bahasa Indonesia. Ini dimaksudkan agar para penduduk pribumi bisa menikmati cerita yang dimainkan oleh dalang. Cerita yang dipentaskan dalam wayang potehi, biasanya mengenai legenda klasik Tiongkok seperti. Sie Jin Kwi Ceng Tang. Sie Jin Kwi Ceng See. Sam Kok. See Yu, dan Sam Pek Eng Tay. Namun, wayang potehi sempat dilarang pementasannya selama masa orde baru. Instruksi Presiden No. 14 tahun 1967 melarang semua simbol dan lambang yang mengandung unsur Tionghoa, seperti altar dengan motif bunga teratai atau tulisan tionghoa, kemudian juga melarang adanya penggunan bahasa hokkien dengan dialek minnan dalam pertunjukan wayang potehi. Pada tahun 2000. Abdurrahman Wahid (Gus Universitas Widya Kartika Du. mencabut Instruksi Presiden No. 14 tahun 1967 dan mengeluarkan Keputusan Presiden No. 6 tahun 2000. Alur Pementasan Wayang Potehi Wayang potehi biasanya dipentaskan di kelenteng Ae kelenteng. Wayang potehi dipentaskan untuk acara ritual, untuk persembahan kepada dewa dewi di kelenteng. Pementasan wayang potehi ini biasanya satu hari durasi kurang lebih selama empat jam dari dulu sampai sekarang. Pementasan pertama jam 3 Ae 5 sore nanti pementasan kedua jam 7 Ae 9 malam. Pementasan tergantung permintaan kelenteng. Durasi pementasan juga tergantung permintaan dari kelenteng, ada yang sampai tiga bulan, ada yang hanya satu hari, cerita yang dimainkan juga akan ditanyakan ke dewa dewi dan dewa dewi yang akan memilih cerita yang akan dimainkan. Sebelum pementasan, ada sesaji yang diberikan untuk meminta ijin agar pementasan berjalan dengan lancar. Pertunjukan wayang potehi terdiri dari beberapa tahapan/section: Pertama, sebelum pertunjukan wayang potehi di mulai, dalang dan pengurus mempersiapkan sesaji lalu sembahyang bersama ke para dewa dewi dan membakar kertas kim coa . ertas yang digunakan untuk persembayanga. Sembahyang ini dimaksudkan agar pementasan wayang potehi berjalan dengan lancar. Kedua, setelah sembahyang dilakukan, sebelum memasuki alur cerita, musik akan dimainkan, alat musik yang digunakan yaitu, alat musik Setelah itu baru dimulai awal cerita hingga pementasan sampai selesai lalu, ditutup dengan dikeluarkan satu wayang potehi dengan ucapan terima kasih kepada penonton wayang potehi. AuSemoga sekeluarga selalu diberi kesehatan. Panjang umur, usahanya sukses dan banyak rejeki. Ay Yang terakhir, keluar boneka sepasang pengantin untuk memberikan hormat yang menandakan pertunjukan sudah selesai. Alat musik yang digunakan yaitu, dongko . , twalo . , siau lo . embreng keci. , twabak . imbal besar atau kece. , siau bak . imbal keci. , terompet, seruling, erhu, rebab. 5 Persamaan Wayang Golek dan Wayang Potehi Jika dilihat dari sisi sejarah, wayang golek dan wayang potehi muncul pada abad ke Ae 16 dan 17. Menurut Ir. Sri Mulyono, pada saat Kerajaan kediri akan runtuh dan pindah ke Majapahit, datanglah bala tentara Khu Bilai Khan dari Tiongkok ke pulau jawa terutama jawa timur. Kedatangan orang Tiongkok pada abad ke Ae 6 dan ke Ae 13 membawa perubahan besar dalam kebudayaan Indonesia terutama dalam bidang filsafat dan wawasan hidup. Menurut Prof. Liang Liji, seorang guru besar Universitas Beijing (Paulus Haryono, 2. mengatakan berdasarkan catatan dari dinasti Han, pada tahun 131 SM ada hubungan antara Tiongkok dengan Negeri Jawadwipa. Nusantara telah dikenal dengan sebutan Aohuang Ae tseAo pada masa pemerintahan Kaisar Wang Ming atau Wang Ma di abad ke Ae 1 hingga ke Ae 6 SM. Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya, memiliki hubungan dagang dan budaya dengan Tiongkok. Universitas Widya Kartika Pada abad ke Ae 15, dinasti ming memerintahkan Laksamana Cheng Ho berlayar ke Jawa. Pelayaran Cheng Ho ini memicu migrasi orang Tionghoa dari Yunan ke Indonesia, terutama Jawa. Tentu saja terjadi perkawinan antara imigran Tiongkok dengan penduduk di Jawa yang membuat adanya sosiokultural. Setelah orang Tionghoa menikah dengan orang pribumi terjadi sebuah proses pencampuran kebudayaan Tionghoa dan jawa yang akhirnya membuat kebudayaan tionghoa ini lambat laun melebur dengan kebudayaan jawa. Akulturasi budaya ini dapat ditemui di kebudayaan, bahasa, teknologi, religi dan masih banyak lagi. Salah satunya adalah wayang potehi. Sedangkan wayang golek ini muncul pada abad ke Ae 16 dengan cerita panji. Wayang golek dengan cerita panji ini disebut wayang golek menak. Pada tahun 1840, wayang golek dengan cerita Ramayana dan Mahabharata atau wayang golek purwa Wayang golek masa kini berawal dari berakhirnya jabatan Dalem Karang Anyar, ia memperintahkan Ki Darman untuk menyempurnakan wayang golek. Tabel 3. 1 Persamaan Wayang Golek dan Wayang Potehi Persamaan Wayang Golek dan Wayang Potehi Bahan Kayu, cat, pakaian, dan aksesoris Proses Pembuatan Proses pengukiran, pewarnaan, pemberian pakaian dan aksesoris. Alur Pementasan Diiringi musik, alat musik, pementasan dan durasi pementasan. Berdasarkan pembahasan diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa wayang golek dan wayang potehi memiliki kemiripan. Bahan Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan wayang potehi dan wayang golek adalah kayu. Bentuk wajah kedua wayang ini sama Ae sama di ukir agar sesuai dengan peran atau karakter di dalam cerita yang dimainkan. Wayang golek dan wayang potehi ini juga menggunakan pakaian dan menggunakan aksesoris sesuai dengan cerita yang akan Proses pembuatan Universitas Widya Kartika Selain bahan, proses pembuatannya juga memiliki kemiripan. Untuk membentuk wajah kedua wayang ini perlu melalui proses pengukiran, pewarnaan, dan di akhir akan diberi pakaian. Proses yang pertama, kayu akan diukir membentuk wajah yang sesuai dengan peran atau karakter di dalam cerita, kemudian akan dihaluskan atau diamplas sampai halus sehingga pori Ae pori pada bentuk wajah tertutup lalu akan di beri cat dasar, ditunggu hingga kering lalu akan diberi warna menggunakan cat sesuai dengan warna karakter atau peran yang ada di dalam cerita. Kedua wayang ini pembuatannya tidak mudah dan tidak sembarangan, karena dalam mengukir bentuk wajah wayang harus detail. Pembuatan kedua wayang ini membutuhkan waktu yang hampir sama 2 Ae 3 hari. Alur Pementasan Alur pementasan wayang golek dan wayang potehi ini juga memiliki kemiripan, dalam pertunjukan wayang golek dan wayang potehi yang diiringi oleh musik. Wayang potehi dalam satu hari umumnya dipentaskan sebanyak dua kali, sore dan malam. Namun, pementasan wayang potehi ini dipentaskan sesuai dengan permintaan, berapa kali pementasan juga tergantung dengan permintaan, cerita yang dibawakan juga tergantung Jika pementasan wayang potehi di kelenteng, maka dalang akan mementaskan cerita yang diminta oleh dewa dewi penjaga kelenteng seperti Sie Jin Kwi, jika pementasan wayang potehi di gereja, maka cerita dan wayang akan disesuaikan sesuai permintaan seperti, cerita kelahiran Tuhan Yesus. Wayang golek juga awalnya hanya dipentaskan saat malam hari dan memakan waktu semalam penuh, namun sejak abad ke Ae 16 diadakan pula saat siang hari, dan itu berlangsung hingga saat ini. Sama seperti wayang potehi, wayang golek juga dipentaskan disaat tertentu, tergantung permintaan. Alat musik yang digunakan juga ada yang mirip salah satunya seperti kendang. Dari persamaan diatas, wayang potehi merupakan akulturasi budaya dari wayang Bisa di simpulkan dari bentuk, bahan pembuatan, proses pembuatan dan alur pementasannya yang mirip. Selain itu, jika dilihat dari sejarahnya, wayang potehi dan wayang golek ada sejak abad ke Ae 16 dan ke Ae 17 tapi, jauh sebelum munculnya wayang golek, kedatangan orang Tiongkok sudah ada sejak abad ke Ae 6 di zaman Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. 6 Perbedaan Wayang Golek dan Wayang Potehi Perbedaan Wayang Golek Bogor Wayang Potehi Gudo Universitas Widya Kartika Bahan Jenis kayu, jenis cat, bentuk boneka, pakaian dan aksesoris. Kayu lame atau kayu mahoni, kayu Cat duko . at untuk Bambu membuat tuding. Pakaian karakter cerita yang Kayu kayu mauning, atau kayu jati. Cat emco. Pakaian sesuai karakter cerita Proses Pembuatan Proses pakaian dan aksesoris. Pengukiran disesuaikan dengan karakter dalam cerita yang dimainkan. Pewarnaan juga disesuaikan dengan karakter. Pakaian juga disesuaikan dengan karakter, motif pakaian juga berbeda, jika wayang potehi identik dengan simbolik Tiongkok, jika wayang golek, identik dengan adat jawa, begitu pun dengan aksesorisnya. Alur Pementasan Awal alur pementasan, tempat pementasan, alat musik, dan cerita. Cerita: Mahabharata dan Ramayana. Lapang dan televisi. Cerita: Sie Jin Kwi Ceng Tang dan Sie Jin Kwi Ceng See. Kelenteng. Tabel 3. 2 Perbedaan Wayang Golek dan Wayang Potehi Wayang Potehi dan Wayang Golek memang memiliki persamaan dalam bahan pembuatan, proses pembuatan dan alur pementasan tapi, wayang potehi dan wayang golek juga memiliki perbedaan, yaitu: Bahan Memang bahan utama dalam pembuatan wayang golek dan wayang potehi adalah Namun, jenis kayu yang digunakan dalam membuat kedua wayang ini berbeda. Dalam membuat wayang potehi, jenis kayu yang digunakan yaitu kayu waru, terutama bagian dalam kayu waru. Selain jenis kayu waru, untuk pembuatan wayang potehi juga bisa menggunakan jenis kayu lain yaitu, kayu mauning, kayu nangka dan kayu jati. Toni Harsono dan para pengerajin wayang lebih banyak menggunakan jenis kayu waru ini karena lebih ringan, kuat, berserat halus dan mudah diukir. Sedangkan, jenis kayu yang digunakan untuk membuat wayang golek yaitu, kayu albasia. Jenis kayu albasia ini ringan, mudah dibentuk atau dipahat dan juga tahan lama. Dalam proses pewarnaan, cat yang Universitas Widya Kartika digunakan juga berbeda, wayang potehi menggunakan cat emco sedangkan wayang golek menggunakan cat duko . at untuk mobi. dikarenakan cat ini lebih cerah dan cepat kering jika dibandingkan dengan cat kayu. Bentuk boneka antara wayang golek dan wayang potehi juga sangat berbeda mulai dari bentuk mata, hidung, mulut, kaki dan tangan, meskipun keduanya terbuat dari kayu. Warna yang digunakan oleh kedua wayang ini juga berbeda, mengikuti karakter dalam cerita. Untuk pakaian dan aksesoris yang digunakan juga berbeda menyesuaikan dengan karakter di dalam cerita. Wayang Golek Cepot (Punakawa. Sumber: w. Wayang Potehi Universitas Widya Kartika Sie Jin Kwi Sumber: Ardian Purwoseputro (Wayang Potehi of Jav. Proses Pembuatan Proses pembuatan wayang potehi dan wayang golek memang mirip, yang membedakan adalah pengukiran bentuk wajah, pengukiran bentuk wajah atau membentuk wajah wayang harus sesuai dengan karakter atau peran di dalam cerita. Untuk pakaian dan aksesoris yang digunakan juga sangat berbeda. Untuk proses Pewarnaan dalam wayang golek dan wayang potehi ini juga mengikuti karakter atau peran di dalam cerita. Cerita yang dimainkan dalam wayang potehi dan wayang golek sangatlah berbeda. Kepala wayang golek ini dihubungkan dengan tangkai sehingga kepalanya dapat digerakan dan dapat dilepas dari badannya. Kepala dalam wayang potehi tidak dapat dilepas karena dijahit dengan badan, tangan dan kakinya. Alur Pementasan Dalam sisi alur pementasan, wayang golek dan wayang potehi di pentaskan di saat yang berbeda. Wayang potehi dipentaskan di acara ritual keagamaan, sedangkan wayang golek dipentaskan di acara hajatan seperti, pernikahan, kemerdekaan, atau kenegaraan. Dalam pementasan wayang golek, dalang naik ke panggung lalu duduk di balik meja yang ditutupi sebuah kain, wayang golek ditancapkan pada batang pohon pisang dan kemudian dalang menyampaikan cerita. Namun, dalam pementasan wayang potehi, dalang akan melakukan sembahyang terlebih dahulu bersama dengan para pengurus kelenteng ke para dewa dewi untuk meminta ijin dan menanyakan mengenai cerita apa yang akan dimainkan, berapa lama pementasan akan berlangsung sebelum memulai pertunjukan, di akhir Universitas Widya Kartika pertunjukan keluar wayang sepasang pengantin untuk memberikan hormat yang menandakan bahwa pertunjukan sudah selesai. Cerita yang dipentaskan juga sangat berbeda, wayang golek menceritakan Mahabharata dan Ramayana sedangkan wayang potehi lebih menceritakan cerita legenda klasik Tiongkok seperti. Sie Jin Kwi Ceng Tang dan Sie Jin Kwi Ceng See. Tempat pementasannya pun berbeda, wayang potehi kebanyakan dipentaskan di kelenteng atau sesuai dengan permintaan orang seperti, gereja saat acara natal. Sedangkan wayang golek di tempat terbuka seperti lapang yang luas, di acara hajatan, di sekolah, kampus dan televisi. Alat musik yang digunakan juga ada yang sama dan ada yang berbeda. Dari perbandingan diatas, dapat disimpulkan bahwa wayang potehi dan wayang golek tidaklah sama. Dari jenis bahan yang digunakan, proses pembuatan, alur pembuatan hingga cerita yang dipentaskan juga sangat berbeda. 7 Hubungan Antara Wayang Golek dan Wayang Potehi Hubungan antara wayang Wayang Golek dan Wayang potehi jika dilihat dari persamaannya, dapat disimpulkan bahwa kedua wayang ini memiliki kemiripan. Dari segi bahan utama, proses pembuatan hingga alur pementasannya. Tapi, apakah wayang potehi dan wayang golek berkaitan atau apakah wayang golek merupakan akulturasi budaya dari budaya Tiongkok atau sebaliknya. Jika dilihat dari sisi sejarah, kedua wayang ini muncul pada abad ke Ae 16 dan mulai terkenal pada awal abad ke Ae 20. Pada abad ke Ae 20, wayang potehi berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur, . U 2. Au20 nOyUEUOaAusoEOeNeUuOeNuUaciUooIsaO oOioaOuUiNUoUnUooisaiIeAAOn UCAuUiUiAIyEOIosaesAOUCAosaUi NoEIIAouEUOaOusanAIosuU iAyAC Yang Artinya. Pada awal abad ke Ae 20, pertunjukan wayang potehi berkembang di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Indonesia. Pertunjukan ini sebagian besar dilakukan dalam rangka kegiatan upacara keagamaan di kelenteng Ae kelenteng. Selain itu, pertunjukan juga diadakan diatas undangan dari took Ae took, komunitas, atau keluarga Tionghoa. Pada masa ini. Sebagian besar pemain wayang potehi adalah orang Tionghoa, dengan penonton yang sebagian besar orang Tionghoa. Isi pertunjukan terutama terdiri dari cerita Ae cerita tradisional wayang potehi tiongkok, yang dibawakan dalam bahasa Tionghoa, terutama dalam dialek Hokkian. Dari kedua pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa adanya peran sunan Ae sunan dalam perkembangan wayang ini. Wayang golek di jawa barat, dikatakan bahwa sudah Universitas Widya Kartika ada cicit Sunan Gunung Jati yang disebut dengan Wayang Golek Menak pada tahun 1540 Ae 1650. Namun, apakah ide dari pembuatan wayang golek ini meniru wayang potehi? Menurut Ir. Sri Mulyono . menyangkal bahwa wayang golek merupakan akulturasi dari budaya Tiongkok. AuDi dalam tata teknisnya terdapat banyak perbedaan yang penting. Kita tidak mempunyai suatu bukti bahwa di zaman dulu orang Ae orang Tiongkok dalam jumlah yang cukup besar menetap di Jawa. Dan apa yang mereka pergunakan diambil alih oleh orang Ae orang Jawa. Kecuali itu lebih lanjut kita dapat meneliti, bahwa pertunjukan bayang Ae bayang di Tiongkok tidak pernah sangat populer. Jadi jelas, anggapan bahwa wayang dari Tiongkok diambil alih oleh orang Jawa, sangat tidak Ay Memang wayang golek dan wayang potehi terlihat sangat mirip, bahkan tahun munculnya kedua wayang ini juga sama yaitu, pada abad ke Ae 16. Tapi, bukan berarti wayang golek merupakan akulturasi budaya dari wayang potehi. Dapat disimpulkan bahwa wayang potehi yang merupakan akulturasi budaya dari Jawa. Dari sisi sejarah yang Panjang, bahwa Indonesia telah melestarikan seni wayang ini sejak dari zaman prasejarah hingga saat ini. Pada masa sejarah islam, terbentuklah wayang dengan berbagai jenis, termasuk wayang golek. Sedangkan wayang potehi, berasal dari Fujian. Tiongkok Selatan. AuSaat Cheng Ho tiba di Jawa, dia menemukan bahwa pedagang Tiongkok sudah datang sejak akhir abad ke Ae 14, meskipun pada masa itu Kaisar Zhu Yuanzhang melarang rakyatnya untuk berdagang dan bepergian ke luar negeri. Di kota Gresik, yang terletak di pantai utara Jawa, ada sekitar 1. 000 keluarga Tiongkok. Selain itu, orang-orang Tiongkok juga bisa ditemukan di SurabayaAy (Paulus Hariyono, 2006:. Berdasarkan tinjauan pustaka, dapat disimpulkan bahwa ketika perantauan orang Tiongkok tinggal di Jawa dan merindukan tanah air mereka, yang membuat orang Ae orang Tiongkok ini terinspirasi oleh pertunjukan wayang beber yang disaksikan bersama masyarakat setempat. Pertunjukan tersebut memotivasi mereka untuk menciptakan wayang yang mirip dengan wayang orang . pera Beijin. Wayang yang mereka buat ini dibentuk dari kayu dan diukir sedemikian rupa agar menyerupai wayang orang dari Tiongkok, dan inilah yang menjadi cikal bakal wayang potehi. Selain itu, wayang golek diciptakan agar bisa dipentaskan pada siang dan malam hari, mengingat wayang beber dan wayang kulit umumnya ditampilkan pada malam hari untuk memanfaatkan efek bayangan dari cahaya. Dengan demikian, muncul ide untuk membuat wayang dari kayu yang berbentuk seperti boneka, yang dapat dipertunjukkan di siang hari dan dinikmati oleh penduduk setempat. Kesimpulan dan Saran Universitas Widya Kartika 1 Kesimpulan Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Wayang Golek dan Wayang Potehi memiliki sejumlah persamaan, perbedaan, serta hubungan sejarah dan budaya yang Dari segi persamaan, kedua jenis wayang ini menggunakan bahan utama kayu dengan proses pembuatan yang serupa, yang meliputi pengukiran, pewarnaan, dan pemberian pakaian. Kedua wayang juga dipentaskan dengan iringan musik, meskipun terdapat perbedaan dalam rincian pementasannya. Dari segi perbedaan. Wayang Potehi dan Wayang Golek berbeda dalam jenis kayu yang digunakan, teknik pewarnaan, dan bentuk fisik boneka. Wayang Golek, misalnya, memiliki kepala yang dapat dilepas, sedangkan Wayang Potehi tidak. Selain itu, cerita yang dipentaskan dalam kedua wayang ini juga sangat berbeda, di mana Wayang Golek cenderung menampilkan kisah dari Mahabharata dan Ramayana, sedangkan Wayang Potehi menampilkan legenda klasik Tiongkok. Dalam hal hubungan sejarah dan budaya, meskipun ada kemiripan dalam teknik dan waktu kemunculan keduanya pada abad ke-16. Wayang Golek dan Wayang Potehi berkembang dalam konteks budaya yang berbeda. Wayang Golek lebih terikat dengan tradisi lokal Jawa dan seni Islam, sementara Wayang Potehi menunjukkan pengaruh budaya Tiongkok yang lebih kuat di wilayah Jawa Timur. Penelitian menunjukkan bahwa Wayang Golek bukan merupakan hasil akulturasi dari budaya Tiongkok, tetapi lebih sebagai evolusi dari tradisi wayang lokal yang ada. Sebaliknya, menurut tinjauan pustaka Wayang Potehi terinspirasi oleh seni wayang lokal seperti wayang beber, mencerminkan proses interaksi budaya yang dinamis antara komunitas Tionghoa dan masyarakat lokal. 2 Saran Adapun saran yang dapat penulis sarankan setelah melakukan penelitian ini: Setelah mengetahui begitu banyaknya warisan budaya Tiongkok dan telah melebur dalam kehidupan sehari Ae hari, salah satunya wayang potehi, maka harus kita lestarikan agar kebudayaan ini tetap terus ada dan tidak punah. Dengan adanya penelitian ini, penulis berharap agar para pembaca bisa dapat mengetahui dan memahami bahwa banyak sekali kebudayaan Tiongkok yang ada di Indonesia salah satunya adalah wayang potehi ini. Tidak banyak orang mengetahui tentang wayang potehi, termasuk di generasi saat ini, maka dari itu penulis berharap dengan adanya penelitian ini, wayang potehi lebih di kenal oleh masyarakat dan kita bisa sama Ae sama saling membantu untuk melestarikan budaya yang sangat indah ini. Universitas Widya Kartika DAFTAR PUSTAKA