HUBUNGAN POSISI KERJA MAHASISWA PROFESI DENGAN GANGGUAN MUSKULOSKELETAL DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT SARASWATI DENPASAR I Nyoman Panji Triadnya P1*. I Gusti Ayu Ari Agung2. Kadek Arista Dwiputra Sujana3 Bagian Kesehatan Gigi Masyarakat dan Pencegahan. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar *Email Korespondensi: Kadek Arista Dwiputra Sujana. Email: arista2662@gmail. ABSTRAK Pendahuluan: Gangguan muskuloskletal atau musculoskeletal disoders (MSD. merupakan suatu gangguan yang terjadi pada otot, sendi, tendon, saraf perifer, diskus invertebralis, dan sistem vaskularisasi yang dapat berkembang menjadi kronis jika dalam kurun waktu yang lama atau bertahap. Gangguan muskuloskletal ini dapat disebabkan jika seseorang tidak menerapkan sikap atau posisi yang sesuai dengan Gangguan muskuloskletal sering muncul pada praktisi kesehatan yang diakibatkan oleh posisi kerja yang tidak ergonomis. Salah satu praktisi keseahatan yang rentan menderita gangguan muskuloskletal adalah dokter gigi. Metode: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan posisi kerja mahasiswa profesi dengan gangguan muskuloskletal di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar. Penelitian ini menggunakan desain analitic observasional menggunakan pendekatan cross sectional dengan 80 responden menggunalan kuesioner Nordic Body Map. Hasil: Hasil penelitian didapatkan 80% posisi kerja jam 8, 46,2% mengalami gangguan muskuloskletal resiko rendah, dan hasil analisis bivariat dengan Uji korelasi Pearson menunjukkan hubungan yang bermakna antara posisi kerja mahasiswa profesi dengan gangguan muskuloskletal . =0,. Kesimpulan: Dengan hasil ini diharapkan mahasiswa profesi bekerja dengan posisi ergonomis untuk mengurangi menderita gangguan muskuloskletal. Kata Kunci: Gangguan muskuloskletal, mahasiswa profesi kedokteran gigi, posisi ABSTRACT Introduction: Musculoskeletal disorders or MSDs are disorders that affect muscles, joints, tendons, peripheral nerves, intervertebral discs, and the vascular system which can become chronic over a long period of time or gradually. These MSDs can be caused if someone does not adopt an attitude or position that is in accordance with ergonomics. Musculoskeletal disorders often occur in health practitioners because the work position is less ergonomic. Health practitioners that are susceptible to musculoskeletal disorders are dentists. Methods: This study was done to know about the correlation between the work position of dentist profession students and musculoskeletal disorders in Dental Hospital Saraswati Denpasar. The study is an analytic observational study using a crosectional design involving 80 respondents that were conducted using Nordic Body Map. Result: The result was shown 80% worked position at 8 oAoclock, 46,2 % complained of low-risk musculoskeletal disorder and the bivariate test with Pearson Correlation showed meaningful relationships between dentist profession students work position and musculoskeletal disorder . =0,. Conclusion: With this result be expected students will work in an ergonomic position to reduce suffering from a musculoskeletal disorder. Keywords: Dentist student proffesion, musculoskeletal disorder, work position PENDAHULUAN Gangguan muskuloskletal atau musculoskeletal disoders (MSD. merupakan suatu gangguan yang terjadi pada otot, sendi, tendon, saraf perifer, diskus invertebralis, dan sistem vaskularisasi yang dapat berkembang menjadi kronis jika dalam kurun waktu yang lama atau bertahap1. Gangguan muskuloskeletal atau musculoskeletal disoders (MSD. sering terjadi pada tenaga kesehatan dan salah satunya adalah tenaga kesehatan gigi dan mulut. Diketahui bahwa secara umum tenaga kesehatan gigi dan mulut bekerja dengan posisi yang statis dan kaku secara berulang-ulang dalam waktu yang lama di tempat praktik2. Keluhan gangguan otot rangka pada dokter gigi sebagian besar pada area leher, bahu, pergelangan tangan, dan tulang belakang. Perawatan yang kompleks dan membutuhkan motorik halus di mulut pasien, serta posisi gigi yang seringkali sulit untuk diperiksa, menyebabkan postur janggal saat melakukan pemeriksaan ke pasien3. Risiko tinggi yang ditimbulkan serta keluhan umum dokter gigi dalam kesehariannya, menjadi dasar perlunya tindakan pencegahan sedini mungkin yaitu berupa pelaksanaan edukasi terhadap para calon dokter gigi, yaitu mahasiswa preklinik maupun klinik sejak masih berada pada masa pembelajaran di fakultas kedokteran gigi, dan mengetahui hubungan penerapan posisi kerja yang baik saat melakukan perawatan kesehatan gigi dan mulut dengan kondisi otot manusia. Jika posisi kerja yang diterapkan merupakan postur yang salah dan hal ini menjadi kebiasaan, maka akan berhubungan dengan kesehatan dan meningkatkan angka kejadian musculoskeletal disorders (MSD. pada praktisi kesehatan Berdasarkan hal-hal di atas, penulis tertarik untuk mengetahui dan melakukan penelitian terkait AuHubungan Posisi Kerja Mahasiswa Profesi Dengan Gangguan Muskuloskeletal di Rumah Sakit Gigi Dan Mulut Saraswati Denpasar. METODE Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross sectional, dimana penelitian ini dilakukan dengan cara pengumpulan data sekaligus pada satu saat tertentu saja untuk mencari hubungan antara kedua variabel (Posisi kerja dengan gangguan muskuloskeleta. Dalam penelitian ini terdapat sebesar 80 responden yaitu mahasiswa profesi kedokteran gigi di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar. Dengan menggunakan kuesioner Nordic Body Map berisi peta tubuh dan mudah dipahami karena dapat diketahui bagian-bagian otot yang mengalami keluhan dengan tingkat keluhan Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan antara gangguan muskuloskeletal dan posisi kerja mahasiswa profesi di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar, adalah uji korelasi Pearson dengan bantuan program SPSS. HASIL PENELITIAN Tabel 1. Distribusi Frequensi Responden Berdasarkan Umur No. Umur (Tahu. Jumlah Frequensi Persentase (%) Berdasarkan umur didapatkan bahwa sebagian besar umur responden adalah 22 tahun sejumlah 44 responden dengan prosentase 55%, selanjutnya umur 21 tahun sebanyak 24 responden . %), umur 23 tahun sebanyak 9 responden . ,3%) dan umur 24 tahun sebanyak 3 reponden . ,7%). Tabel 2. Distribusi Frequensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No. Jenis Kelamin Laki-laki Frequensi Persentase (%) Perempuan Jumlah Berdasarkan jenis kelamin didapatkan hasil sebagian besar adalah jenis kelamin perempuan sebanyak 56 responden . %) dan jenis kelamin laki-laki sebanyak 24 responden . %). Tabel 3. Distribusi Frequensi Responden Berdasarkan Posisi Kerja No. Posisi Kerja Posisi Kerja Jam 8 Posisi Kerja Jam 9 Posisi Kerja Jam 10 Jumlah Frequensi Persentase (%) Hasil penelitian menunjukkan bahwa terbanyak responden dengan posisi kerja jam 8 sebanyak 33 responden . ,2%), posisi kerja jam 9 sebanyak 28 responden . ,0%), dan posisi kerja jam 10 sebanyak 19 responden . ,8%). Tabel 4. Distribusi Frequensi Responden Berdasarkan Resiko Gangguan Muskuloskletal No. Resiko Gangguan Muskuloskletal Frequensi Persentase (%) Resiko rendah Resiko sedang Resiko Tinggi Resiko Sangat Tinggi Jumlah 100,00 Dari hasil penelitian didapatkan bahwa terbanyak responden mengalami resiko rendah untuk mengalami gangguan muskuloskletal sebanyak 37 responden . ,2%), resiko sedang 18 responden . ,5%), resiko tinggi 17 responden . ,3%) dan risiko sangat tinggi sebanyak 8 responden . ,0%). Tabel 5. Distribusi Frequensi Responden Berdasarkan Hubungan Posisi Kerja Dan Resiko Gangguan Muskuloskletal Posisi Kerja Resiko Gangguan Muskuloskletal Rendah (%) Sedang Tinggi Sangat (%) (%) Tinggi (%) Jumlah Posisi Kerja Jam 8 Posisi Kerja Jam 9 Posisi Kerja Jam 10 Jumlah 23 . Hasil penelitian didapatkan bahwa posisi kerja jam 8 mengalami resiko gangguan muskuloskletal dengan kategori rendah sebanyak 23 responden . ,7%), sedang sebanyak 7 responden . ,3%), tinggi sebanyak 3 responden . ,0%). Posisi kerja jam 9 mengalami resiko gangguan muskulosletal dengan kategori risiko rendah sebanyak 5 responden . ,8%), resiko sedang sebanyak 5 responden . ,8%), resiko tinggi sebanyak 11 responden . ,3%) dan resiko sangat tinggi sebanyak 7 responden . ,0%). Posisi kerja jam 10 mengalami risiko gangguan muskuloskeletal dengan kategori resiko rendah sebanyak 9 responden . ,4%), resiko sedang sebanyak 6 responden . ,6%), resiko tinggi sebanyak 3 responden . ,8%) dan resiko sangat tinggi sebanyak 1 responden . ,2%). Gambar 1. Hasil Uji Korelasi Pearson Hasil uji statistik korelasi pearson menunjukkan nilai p sebesar 0,036 (<0,. yang menunjukkan ada hubungan bermakna antara posisi kerja dan gangguan Nilai koofesien korelasi sebesar 1 menunjukkan hubungannya sangat PEMBAHASAN Hasil penelitian di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati menunjukkan bahwa posisi kerja yang paling umum adalah posisi jam 8, dimana operator berada di samping kanan pasien membentuk sudut 35A. Posisi ini digunakan untuk perawatan gigi bagian anterior rahang atas dan bawah. Untuk perawatan gigi bagian lingual dan palatum, operator memerlukan pandangan langsung, sedangkan untuk perawatan gigi bagian labial, pandangan dilakukan melalui kaca mulut dengan membuka mukosa labial secara Ergonomi adalah disiplin ilmu yang berkaitan dengan interaksi manusia dengan unsur-unsur lain dalam suatu sistem. Penerapan ergonomi dalam praktik dokter gigi sangat penting untuk mengoptimalkan kenyamanan dan kesehatan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa sikap kerja dokter gigi sering kali tidak ergonomis, dengan kecenderungan punggung terlalu membungkuk, leher menunduk, posisi badan memutar, dan pergelangan tangan menekuk5. Hal ini mungkin disebabkan oleh tuntutan tugas, alat kerja yang tidak sesuai, atau stasiun kerja yang kurang mendukung. Mahasiswa profesi kedokteran gigi juga mengalami risiko tinggi terhadap gangguan muskuloskeletal, terutama pada posisi kerja yang tidak ergonomis seperti yang dilakukan pada dokter gigi profesional. Studi menunjukkan bahwa posisi kerja jam 9, dimana operator berada di samping kanan pasien membentuk sudut 45A, merupakan posisi yang paling berisiko tinggi untuk mengalami gangguan muskuloskeletal6. Pencegahan gangguan muskuloskeletal melalui pendekatan ergonomik, perilaku, dan organisasi menjadi sangat penting. Latihan peregangan otot di tempat kerja adalah salah satu intervensi yang umum dilakukan untuk mengurangi gangguan muskuloskeletal karena dianggap praktis dan efektif7. Dengan demikian, pendekatan ini dapat membantu meningkatkan kenyamanan, produktivitas, dan kesehatan dokter gigi serta mahasiswa profesi kedokteran gigi di masa depan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian hubungan posisi kerja mahasiswa profesi dengan gangguan muskuloskletal di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar dapat ditarik simpulan yaitu, posisi kerja Mahasiswa Profesi di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati paling banyak posisi kerja jam 8 . ,2%), gangguan Muskulosletal yang dialami oleh Mahasiswa Profesi di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati paling banyak resiko rendah . ,2%), ada hubungan yang kuat antara Posisi Kerja Mahasiswa Profesi di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati dengan Gangguan Muskuloskletal . = 0,. DAFTAR PUSTAKA