Vol 2 No. 6 Desember 2025 P-ISSN : 3047-3845 E-ISSN : 3047-3225. Hal 55 Ae 60 JURNAL EKONOMI BISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jeber Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/jch0r641 PERAN GURU HONORER SEBAGAI EDUPRENEUR MELALUI KEGIATAN LES PRIVAT DI MADRASAH Anita Khusna Manzila a. Riska Ariyantib. Retno Nurainic*,Aisyah Rahmaliad Tarbiyah dan Ilmu Keguruan/Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. manzila@mhs. Universitas Islam Negeri K. Abdurrahman Wahid. Jl. Pahlawan. Rowolaku Kajen. Pekalongan. Jawa Tengah Tarbiyah dan Ilmu Keguruan/Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. ariyanti@mhs. Universitas Islam Negeri K. Abdurrahman Wahid. Jl. Pahlawan. Rowolaku Kajen. Pekalongan. Jawa Tengah Tarbiyah dan Ilmu Keguruan/Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. nuraini@mhs. Universitas Islam Negeri K. Abdurrahman Wahid. Jl. Pahlawan. Rowolaku Kajen. Pekalongan. Jawa Tengah Tarbiyah dan Ilmu Keguruan/Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. rahmalia@mhs. Universitas Islam Negeri K. Abdurrahman Wahid. Jl. Pahlawan. Rowolaku Kajen. Pekalongan. Jawa Tengah PenulisKorespondensi: Retno Nuraini ABSTRACT This study aims to describe the daily activities and time management strategies employed by teachers between their main tasks and additional work. The subject was an educator at the Muhammadiyah Kauman Wiradesa Elementary School who also teaches at the Al-Qur'an Education Center and provides private tutoring. Through a qualitative descriptive approach using interviews, the findings revealed that the teacher is able to allocate time effectively through structured scheduling, so that additional activities do not interfere with their main duties. The primary motivation for undertaking additional work is not solely to increase income, but rather as a form of devotion and contribution to the welfare of others. Keywords: teacher, side job, time management, motivation Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan kesibukan harian serta strategi pengaturan waktu yang diterapkan oleh guru antara tugas pokok dan pekerjaan tambahan. Subjek penelitian merupakan seorang pendidik di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kauman Wiradesa yang juga melaksanakan pengajaran di Taman Pendidikan Al-Qur'an serta memberikan bimbingan privat. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif dengan instrumen wawancara, diperoleh temuan bahwa guru tersebut mampu mengalokasikan waktu secara efektif melalui penjadwalan yang terstruktur, sehingga aktivitas tambahan tidak mengganggu tugas utama. Motivasi utama dalam melaksanakan pekerjaan tambahan tidak semata-mata bertujuan untuk meningkatkan pendapatan, melainkan sebagai wujud pengabdian dan kontribusi bagi kesejahteraan orang lain. Kata Kunci: guru, pekerjaan sampingan, manajemen waktu, motivasi PENDAHULUAN Teknologi telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan di era digital saat ini, termasuk Dalam perkembangannya, teknologi telah membawa transformasi dalam pendidikan. Transformasi ini tidak hanya mempengaruhi sistem pembelajaran, tetapi juga membuka peluang baru bagi guru untuk berinovasi dalam mengembangkan potensi mereka guna meningkatkan kesejahteraan mereka. Dengan perkembangan yang ada, tidak merubah peran seorang guru sebagai pendidik yang berkarakter. Guru Naskah Masuk 17 November 2025. Revisi 19 November 2025. Diterima 25 November 2025. Tersedia 27 November, 2025 Anita Khusna Manzila dkk / Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 2 No. 55 Ae 60 honorer terutama yang memiliki penghasilan dan status pekerjaan yang terbatas, dapat memanfaatkan ini sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Edupreneurship adalah prinsip kewirausahaan yang digunakan untuk meningkatkan dan mengubah sistem Konsep ini juga dapat dipahami sebagai produk pendidikan atau pengembangan layanan Dalam penerapan edupreneurship, guru dapat menggunakan media digital dan keterampilan pedagogis serta profesional mereka secara mandiri. Selain itu dapat dilakukan dengan berbagai aspek. Selain itu, implementasi edupreneurship dapat diwujudkan melalui berbagai dimensi, mulai dari penyusunan kurikulum yang inovatif, integrasi teknologi digital ke dalam proses pendidikan, peningkatan kapabilitas tenaga pendidik sebagai katalisator transformasi, hingga pengembangan inisiatif bisnis atau produk edukasi yang mendukung otonomi institusi pendidikan. Konsep edupreneurship mendorong terbentuknya sistem pendidikan yang tidak semata-mata menekankan hasil akademik, melainkan juga hasil berupa penguasaan keterampilan dan pembentukan mentalitas wirausaha. Les privat adalah salah satu penerapan edupreneurship yang berfokus pada keterampilan pedagogis dan profesional guru. Les privat adalah jenis pembelajaran yang tidak terjadi di sekolah atau selama jam sekolah formal pada umumnya. Les privat dilakukan sebagai sarana peningkatan kesejahteraan guru honorer dan kesejahteraan bagi orang lain. Sejalan dengan itu, selain menjadi jembatan guru honorer dalam meningkatkan kesejahteranya, kompetensi kewirausahaan menjadi faktor penting dalam mendongkrak kemajuan madrasah (Mahmudi & Yunianta, 2. Banyak potensi sumber daya manusia dan peluang pendanaan alternatif sebenarnya dapat dikembangkan, namun belum dimanfaatkan secara optimal karena kompetensi kewirausahaan para pendidik masih terbatas. Selama ini, kajian mengenai edupreneurship lebih banyak berfokus pada peran kepala madrasah atau pengembangan lembaga secara umum. Sementara itu, peran guru honorer sebagai pelaku edupreneur melalui kegiatan les privat masih jarang diteliti dan belum banyak diangkat dalam kajian akademik. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan kebaruan dengan menyoroti bagaimana guru honorer dapat berperan sebagai edupreneur melalui kegiatan les privat yang memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan dan profesionalisme guru. Penelitian ini berjudul " Peran Guru Honorer sebagai Edupreneur melalui Kegiatan Les Privat di Madrasah" TINJAUAN PUSTAKA Sebagaimana ditunjukkan oleh tinjauan literatur ini, guru, terutama guru honorer, memainkan peran penting dalam sistem pendidikan. Namun, kesejahteraan seringkali menghalangi peran penting ini. Akibat status kepegawaian yang belum permanen, guru honorer terutama menghadapi masalah tertentu. Mereka sering mengalami keterbatasan dalam hal sarana kerja dan kesejahteraan. Karena keadaan ini, mereka secara langsung mencari pekerjaan tambahan, salah satunya adalah mengajar privat. Salah satu manifestasi dari ide edupreneurship adalah aktivitas tambahan yang dilakukan guru di luar jam kerja resmi mereka. Konsep ini dianggap sebagai prinsip kewirausahaan yang digunakan guru untuk mengubah sistem pendidikan secara mandiri di lingkungan nonformal. Oleh karena itu, pengelolaan waktu yang efektif sangat penting jika Anda ingin melakukan dua pekerjaan sekaligus sebagai pendidik utama. Pengelolaan waktu yang efektif membantu guru mengatur prioritas, membuat jadwal, dan menyeimbangkan tuntutan profesional. Penjadwalan yang sistematis sangat penting agar aktivitas sampingan tidak mengganggu tugas pokok. Guru mendorong aktivitas tambahan selain manajemen waktu. Sementara motivasi ekonomi sering dipertimbangkan, tinjauan literatur menekankan kekuatan motivasi altruistik, seperti keinginan untuk membantu orang lain atau pengabdian. Seorang Guru Honorer Guru berperan sebagai elemen krusial dalam sistem pendidikan, bertugas sebagai pendidik, instruktur, mentor, serta model bagi para siswa. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 secara eksplisit menyatakan bahwa tanggung jawab utama guru meliputi pendidikan, pengajaran, pelatihan, pengarahan, pelatihan, serta penilaian terhadap siswa di jalur pendidikan formal. Berdasarkan penelitian Juniarni dkk. , kinerja guru dipengaruhi oleh kompetensi profesional, kemampuan dalam pengelolaan pengetahuan, serta keahlian manajemen waktu yang berkontribusi pada efisiensi pelaksanaan tugas. Lebih lanjut lagi, guru honorer menghadapi tantangan spesifik akibat status kepegawaian yang belum permanen, sehingga sering kali mengalami keterbatasan dalam hal kesejahteraan dan sarana kerja (Rizkya Indah et al. , 2. Pekerjaan Sampingan Seorang Guru Honorer JURNAL EKONOMI BISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN Vol. No. Desember 2025, pp. 55 - 60 Anita Khusna Manzila dkk / Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 2 No. 55 Ae 60 Aktivitas tambahan atau pekerjaan sampingan merupakan opsi bagi sejumlah besar guru honorer untuk meningkatkan penghasilan sekaligus memperluas peran profesional mereka. Berdasarkan penelitian . , kegiatan tambahan seperti pengajaran privat atau kursus nonformal menyediakan peluang bagi guru untuk mengembangkan kompetensi pedagogis dengan cara yang lebih adaptif. Pengajaran privat juga dianggap sebagai manifestasi praktik edupreneurship, yaitu perpaduan antara pendidikan dan kewirausahaan yang memfasilitasi pemanfaatan kompetensi guru profesional dalam lingkungan nonformal . menekankan bahwa pengajaran privat dapat berfungsi sebagai alternatif pendidikan yang efisien dan adaptif, serta berkontribusi pada peningkatan pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran spesifik. Manajemen Waktu Bagi Seorang Guru Honorer Pengelolaan waktu merupakan kompetensi krusial bagi para pendidik, khususnya dalam menjalankan peran multifungsi antara tanggung jawab utama dan aktivitas pelengkap. menguraikan bahwa pengelolaan waktu yang efisien memfasilitasi guru untuk mengorganisir prioritas, menyusun jadwal kerja, serta menyeimbangkan berbagai tuntutan profesional secara harmonis. Dalam skenario guru honorer yang terlibat dalam kegiatan tambahan di luar lingkungan sekolah, penjadwalan yang sistematis menjadi keharusan agar aktivitas sampingan tidak mengintervensi tugas pokok. Oleh karena itu, kapabilitas dalam mengelola waktu akan memberikan dampak yang signifikan terhadap kualitas proses, efisiensi kerja, serta kesejahteraan guru secara komprehensif. Motivasi Guru Dalam Melakukan Pekerjaannya Motivasi berfungsi sebagai elemen intrinsik yang mendorong individu untuk melakukan tindakan tertentu serta mempertahankan dedikasi dalam profesinya. Dalam ranah pendidik, motivasi dapat terwujud sebagai dorongan untuk berkontribusi, aspirasi meningkatkan standar pendidikan, atau keinginan memperbaiki kondisi kesejahteraan. menyatakan bahwa dimensi nilai, empati sosial, serta kesempatan untuk memberikan manfaat turut berkontribusi pada munculnya praktik edupreneurship di antara para guru. Di sisi lain, motivasi ekonomi seringkali menjadi pertimbangan bagi guru kehormatan dalam menjalankan aktivitas Meskipun demikian, dalam berbagai situasi, motivasi altruistik seperti mendukung perkembangan siswa atau memberikan kontribusi positif bagi komunitas menjadi katalisator utama bagi guru dalam terlibat dalam kegiatan pelengkap. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Metode ini dipilih karena penelitian bertujuan untuk memahami secara menyeluruh perspektif, pengalaman, dan makna yang dimiliki oleh partisipan terkait fenomena yang diteliti. Pengalaman, motivasi, dan dinamika guru yang menjalankan pekerjaan sampingan sebagai guru les privat atau bimbel adalah contoh dari faktor-faktor yang memengaruhi pilihan pendekatan ini. Metode kualitatif memungkinkan peneliti mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang situasi yang dihadapi oleh guru dengan mempertimbangkan pendapat mereka sendiri. Pendekatan mendalam ini atau bisa juga disebut in depth interview sebagai metode utama dalam pengumpulan data pada penelitian ini. Pedoman wawancara semi-terstruktur digunakan saat wawancara dilakukan secara tatap muka dan memungkinkan Para peneliti diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi respons informan secara lebih luas, sambil tetap mempertahankan fokus pada topik penelitian yang telah ditentukan. Pedoman ini juga memastikan validitas data dan memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi jawaban informan tanpa mengabaikan fokus utama penelitian. Penelitian dilakukan di rumah guru privat. Subjek penelitian adalah guru yang bekerja sebagai pengajar les privat atau bimbel sebagai pekerjaan sampingan. Pemilihan subjek penelitian dilakukan melalui metode purposive sampling, yang melibatkan seleksi informan yang dinilai memiliki pemahaman paling mendalam mengenai masalah yang sedang diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 HASIL Hasil wawancara dengan seorang guru honorer di salah satu Madrasah Ibtidaiyah mengungkapkan bahwa informan tersebut memiliki peran yang beragam dalam bidang pendidikan. Selai menjalankan tugas sebagai guru di lembaga formal, ia juga mengemban tanggung jawab sebagai kepala Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPQ) dan memiliki kegiatan tambahan berupa pengajaran les privat pada malam hari setelah waktu maghrib. Peran Guru Honorer Sebagai Edupreneurship Melalui Kegiatan Les Privat di Madrasah (Anita Khusna Manzil. Anita Khusna Manzila dkk / Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 2 No. 55 Ae 60 Kegiatan les privat tersebut berawal dari permintaan wali murid setelah guru menyelesaikan pendidikan sarjananya dan mulai aktif mengajar. Wali murid yang menilai kemampuan serta kedisiplinan guru tersebut kemudian meminta agar ia membantu anaknya belajar di rumah. Kesempatan ini menjadi awal mula kegiatan les privat yang hingga saat ini masih dilaksanakan secara konsisten. Temuan ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap kompetensi guru dapat menjadi peluang dalam mengembangkan kegiatan pendidikan di luar jalur formal. Dalam pelaksanaan les privat, guru menggunakan metode pembelajaran berbasis diskusi dan pengulangan Setiap pertemuan dimulai dengan meninjau kembali pelajaran yang telah dipelajari di sekolah, kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab serta latihan soal. Metode ini dianggap efektif karena membuat siswa lebih aktif, terlibat langsung dalam proses belajar, dan memahami materi secara lebih mendalam. 2 PEMBAHASAN Peran guru honorer sebagai edupreneur semakin tampak dalam konteks pendidikan madrasah, terutama ketika guru menjalankan kegiatan les privat sebagai pekerjaan tambahan. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan yang berprofesi sebagai tenaga pendidik di Madrasah Ibtidaiyah Kauman Wiradesa, diperoleh gambaran bahwa kesibukan harian guru honorer cukup intensif, namun tetap terstruktur dengan Informan menjalankan rutinitas utama sebagai pendidik mulai pukul 06. 40 hingga pukul 14. Selanjutnya, beliau memulai kegiatan pengajaran di Taman Pendidikan Al-Qur'an sebagai kepala TPQ dari 00 sampai 17. 00, serta memberikan bimbingan privat kepada siswa di lingkungan sekitar pada malam hari dari pukul 18. 30 hingga 20. Rutinitas tersebut mencerminkan kemampuan manajemen waktu yang efektif dan komitmen yang tinggi terhadap bidang pendidikan. Pekerjaan tambahan berupa les privat berasal dari permintaan orang tua siswa yang memerlukan pendampingan pembelajaran yang lebih intensif di luar waktu sekolah. Kepercayaan komunitas ini menunjukkan bahwa guru honorer tetap menjadi figur sentral dalam pendidikan nonformal. Fenomena ini sejalan dengan pandangan Suryadi & Dewi . , yang menyatakan bahwa guru yang terlibat dalam praktik edupreneur mampu membangun interaksi sosial yang lebih intim dengan masyarakat, sekaligus memenuhi kebutuhan pendidikan yang belum terpenuhi oleh institusi pendidikan formalDengan menerima tawaran tersebut. Informan tidak hanya memperoleh penghasilan tambahan, tetapi juga mengaktualisasikan ilmuilmu yang diperolehnya selama menempuh pendidikan Sarjana Pendidikan Agama Islam, serta memperluas fungsinya sebagai pendidik di luar lingkungan kelas. Dalam implementasi pengajaran privat. Informan menerapkan metode diskusi, pengulangan materi, serta latihan soal. Pendekatan ini memperkuat pemahaman siswa secara bertahap dan menyediakan ruang bagi siswa untuk belajar secara aktif. Strategi tersebut konsisten dengan temuan Rosyada dkk. , yang menyatakan bahwa pembelajaran privat memungkinkan guru menerapkan taktik individu yang lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran klasikal. Pembelajaran yang bersifat personal ini mendorong peningkatan kapabilitas siswa dalam dimensi kognitif, afektif, maupun psikomotorik secara lebih mendalam. Dari perspektif waktu pengelolaan. Informan menekankan bahwa seluruh aktivitas berjalan lancar berkat jadwal tetap untuk pekerjaan utama maupun tambahan. Fleksibilitas menjadi elemen krusial dalam kegiatan swasta karena jadwal dapat disesuaikan apabila terdapat kebutuhan mendesak di madrasah. dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa guru yang menjalankan praktik edupreneurship harus memiliki kemampuan mengatur waktu secara optimal agar aktivitas tambahan tidak menginterferensi tugas pokok sebagai pendidik. Dalam konteks ini, informan menjalankan keduanya secara harmonis, menunjukkan bahwa praktik edupreneurship dapat dilaksanakan selama guru memiliki komitmen dan disiplin. Dari perspektif waktu pengelolaan. Informan menekankan bahwa seluruh aktivitas berjalan lancar berkat jadwal tetap untuk pekerjaan utama maupun tambahan. Prinsip nilai ini memperkuat karakter edupreneur sebagai pendidik yang tidak hanya berorientasi pada materi, tetapi juga pada dimensi sosial dan spiritual. Penelitian Ardiansyah . mengungkapkan bahwa edupreneurship tidak hanya mempersiapkan guru menjadi mandiri secara finansial, namun juga membantu guru memperkokoh identitas profesionalnya sebagai agen pemberdayaan masyarakat. Bahkan ketika ditanya mengenai kemungkinan terhentinya aktivitas privat apabila kelak menjadi guru tetap. Informan menyatakan akan tetap melanjutkan pengajaran privat selama diberi kesehatan. Hal ini membuktikan bahwa aktivitas privat telah menjadi bagian dari dedikasi dan passion-nya di bidang Dengan demikian, peran guru honorer sebagai edupreneur mencerminkan integrasi antara JURNAL EKONOMI BISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN Vol. No. Desember 2025, pp. 55 - 60 Anita Khusna Manzila dkk / Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 2 No. 55 Ae 60 keahlian pedagogik, motivasi sosial, serta kemampuan mengelola peluang ekonomi secara kreatif dan Secara keseluruhan, pembahasan ini menunjukkan bahwa guru honorer memiliki potensi signifikan untuk berkembang menjadi edupreneur melalui aktivitas pengajaran privat. Praktik ini tidak hanya mendukung peningkatan kesejahteraan guru, tetapi juga memberikan kontribusi besar dalam mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan nonformal. Guru yang menjalankan peran multifungsi ini pada dasarnya telah memperkuat eksistensinya sebagai agen transformasi sosial di lingkungan madrasah dan masyarakat. Implikasi praktis kegiatan les privat mencakup berbagai aspek positif serta tantangan, baik bagi guru honorer maupun lembaga pendidikan. Bagi pengembangan profesional guru honorer, les privat berfungsi sebagai sumber pendapatan tambahan yang substansial, yang membantu mengatasi defisit dari gaji pokok yang seringkali tidak memadai. Selain itu, pengajaran dalam format privat memungkinkan guru untuk mengembangkan pendekatan instruksional yang lebih personal, memahami gaya pembelajaran individu siswa, dan meningkatkan kemampuan adaptasi mereka. Proses persiapan materi untuk les privat mendorong guru untuk memperdalam pemahaman mereka terhadap mata pelajaran yang diajarkan. Keberhasilan dalam les privat dapat membangun reputasi guru di kalangan orang tua dan siswa, yang berpotensi membuka peluang karier alternatif. Oleh karena itu. Kegiatan ini tidak semata-mata menyediakan manfaat ekonomi, melainkan juga berkontribusi pada penguatan kompetensi pedagogis serta pengembangan jaringan profesional bagi para guru honorer. KESIMPULAN DAN SARAN Guru tersebut menunjukkan kemampuan manajemen waktu yang efektif dalam melaksanakan beragam tanggung jawabnya, yang mencakup pengajaran di Madrasah Ibtidaiyah MIM Kauman Wiradesa, kepemimpinan kegiatan di Taman Pendidikan Al-Qur'an, serta menyediakan les privat pada malam hari. Setiap aktivitas diatur dengan jadwal yang terstruktur secara ketat, sehingga menghindari konflik antar Rutinitas yang intensif tidak menjadi kendala, karena guru mampu menjaga keseimbangan antara tugas pokok dan pekerjaan tambahan. Hal ini mencerminkan adanya tanggung jawab, komitmen, serta dedikasi yang tinggi terhadap profesi pendidikan. Melalui perencanaan waktu yang matang, guru dapat menjalankan seluruh aktivitasnya dengan efektivitas dan produktivitas yang optimal. Selain itu, motivasi yang mendorong guru dalam menjalankan pekerjaan tambahan tidak semata-mata bertujuan untuk meningkatkan pendapatan, melainkan juga sebagai wujud pengabdian dan upaya memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Prinsip hidup yang dianut, yakni Ausebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain,Ay menjadi landasan bagi setiap kegiatan yang dilakukan. Melalui pengajaran di berbagai institusi, guru tidak hanya mentransfer pengetahuan yang dimilikinya, tetapi juga berkontribusi pada pencerahan intelektual lingkungan sekitar. Fleksibilitas pekerjaan tambahan ini memberikan nilai tambah, karena dapat disesuaikan dengan jadwal utama tanpa mengganggu kewajiban Dengan demikian, kegiatan tambahan tersebut justru memperkuat peran guru sebagai pendidik yang melestarikan, bermanfaat, dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. SARAN Rekomendasi yang diperoleh dari penelitian ini meliputi, agar para pendidik dapat meniru kemampuan manajemen waktu dan semangat pengabdian yang ditunjukkan oleh informan. Pekerjaan tambahan seharusnya tidak semata-mata dipersepsikan sebagai sarana untuk meningkatkan pendapatan. Kegiatan ini tidak semata-mata menyediakan manfaat ekonomi, melainkan juga berfungsi sebagai wadah untuk pengembangan potensi individu serta penyediaan kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat para guru dapat mencapai keseimbangan antara tugas profesional dan kegiatan tambahan tanpa mengorbankan kualitas kinerja mereka sebagai pendidik. DAFTAR PUSTAKA