e-ISSN:2614-8072 p-ISSN 2579-3632 Journal of Clinical. Industrial. Social and Educational Psychology DOI: https://doi. org/10. 32492/idea. INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM TERHADAP BODY IMAGE Uswatun Hasanah1. Beti Malia Rahma Hidayati2 Institut Agama Islam Tribakti Kediri psikologi@gmail. com , tulhidayati@gmail. Article Info Article history: Received August 23mo, 2021 Revised September 10fr. Accepted September 20mo. Keyword: Intensity. Social Media. Instagram. Body Image ABSTRACT This research aims to find out whether the Effect of The Intensity of Instagram Social Media Use On Body Image In Darul 'Ulum Jombang University Students. The population in this study was Darul 'Ulum Jombang University Student. The study sample of 100 students and sampling techniques used were Purposive Random Sampling. Body Image Scale and the intensity of Instagram social media use which was then analyzed using the SPSS program (Statistiscal Package For Social Science. , corralate bivariaet program menu obtained correlation index value r rho = 0. 539 Sig by 0. <0. This indicates a positive koleration between Instagram's Social Media Usage Intensity and Body Image. So the hypothesis is accepted. Copyright A 2021 Jurnal IDEA. All rights reserved. Corresponding Author: UIT Universitas Islam Tribakti Kediri Jl. KH. Wachid Hasyimn No. 62 Kediri Email: uit-lirboyo. Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah Pengaruh Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram Terhadap Body Image Pada Mahasiswi Universitas Darul AoUlum Jombang. Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswi Universitas Darul AoUlum Jombang. Sampel penelitian ini berjumlah 100 mahasiswi dan teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Random Sampling. Skala Body Image dan intensitas penggunaan media sosial Instagram yang kemudian dianalisis dengan menggunakan program SPSS (Statistiscal Package For Social Science. , menu program Corralate Bivariaet diperoleh nilai index korelasi r rho = 0,539 Sig sebesar 0. <0,. Hal ini menunjukan adanya kolerasi positif antara Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram dengan Body Image. Jadi hipotesis diterima. Kata Kunci: Intensitas. Media Sosial. Instagram. Body Image Latar Belakang Mahasiswi merupakan individu yang berada pada kategori remaja akhir yang berada pada rentang usia 18 sampai 22 tahun dan menuju dewasa. Mahasiswi merupakan masa transisi dari remaja menuju dewasa dan dalam proses pencarian identitas diri. Mahasiswi saat ini merupakan individu yang berada pada zaman 4. 0 yang termasuk modernisasi dalam segala aspek khususnya dalam bidang komunikasi. Author : Uswatun H. Beti MH 115 | P a g e IDEA: Jurnal Psikologi Vol. 5 No. 2 Tahun 2021 Karena mahasiswi memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan gemar untuk menunjukan diri atau eksis, (Putra dalam Pratama & Parmadi, 2. Mahasiswi yang mengakses Instagram hanya untuk stalking akun seseorang atau idola seperti pemain film atau endorses pakaian atau produk kecantikan . kun khusus menawarkan barang di toko onlin. , sehingga banyak juga remaja khususnya mahasiswi yang melirik akun tersebut agar tidak tertinggal oleh perkembangan idola dan trend fashionnya, atau program/produk kecantikan. Mahasiswi cenderung memandang kurang porposional tubuhnya atau Fashion yang dikenakannya. Field et. al (Serly dkk, 2. menyatakan bahwa remaja perempuan cenderung berupaya mengurangi berat badan agar bisa menyamai tokoh idolanya di media sosial. Sekaligus media iklan gratis dengan eksisnya seseorang didunia maya yang menggunakan produk tersebut, sehingga menarik minat khalayak umum untuk bisa memiliki atau memakai barang atau produk yang sama. Effendi (Ristina, 2. mengatakan bahwa komunikasi interpersonal dapat dilakukan secara tatap muka atau melalui media sosial. Dance (Rakhmat, 2. mengartikan komunikasi dalam kerangka psikologi behaviorisme sebagai usaha menimbulkan respon melalui lambang-lambang verbal, ketika lambang-lambang verbal tersebut bertindak sebagai stimuli. Menurut Raymon S. Ross (Rakhmat, 2. mendefinisikan komunikasi adalah proses transaksional yang meliputi pemisahan, dan pemilihan bersama lambang secara kognitif, begitu rupa sehingga membantu orang lain untuk mengeluarkan dari pengalamannya sendiri arti respon yang sama dengan yang dimaksud. Colin Cherry (Rakhmat, 2. mendefinisikan komunikasi sebagai usaha untuk membuat satuan sosial dari individu dengan menggunakan bahasa atau tanda dapat juga menggunakan perantara media sosial khususnya media sosial Instagram. Komunikasi dibentuk dua jenis yaitu komunikasi secara langsung dan tidak langsung. Komunikasi langsung merupakan suatu aktivitas komunikasi yang dilakukan dengan saling bertatap muka tanpa menggunakan perantara media, sedangkan komunikasi secara tidak langsung merupakan suatu aktivitas komunikasi yang dilakukan tanpa bertatap muka dan menggunakan perantara media Salah satu ciri dari komunikasi melalui internet adalah online disinhibition. Online disinhibition adalah berkurangnya atau bahkan menghilangnya perasaan cemas dan malu ketika berkomunikasi melalui internet (Suler dalam Rozika & Ramdhani, 2. Telekomunikasi, sekarang banyak aplikasi pendukung pihak ketiga yang dapat mempermudah seseorang dalam berkomunikasi bahkan dalam jarak yang sangat jauh Media sosial dapat memperburuk relasi seperti anekdot yang sering terdengar, internet mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat (Akbiyik dalam Rozika & Ramdhani, 2. Effendy (Nuryani, 2. berpendapat hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia yang dinyatakan dalam pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Untuk mempermudah dalam mengartikan makna secara rinci dan mudah dipahami oleh masyarakat luas. Dengan teknologi komunikasi yang sekarang cukup digandrungi oleh kaum muda mudi khususnya mahasiswi pasti tidak asing lagi dengan sebutan media sosial. Menurut Mandlbergh (Prasetyo, 2. media sosial Instagram adalah media yang mewadahi kerjasama antar penggunanya yang menghasilkan konten (Used Generated Conten. Nasrullah (Ristiana, 2. menyatakan bahwa media sosial Instagram merupakan media yang digunakan untuk mempublikasikan konten seperti profil, aktivitas atau bahkan pendapat pengguna juga sebagai media yang memberikan ruang untuk komunikasi dan interaksi dalam jejaring sosial di dunia maya. Instagram telah menjadi fenomena baru di era globalisasi saat ini, selain itu Instagram menjadi salah satu magnet besar dalam proses pembentukan karakter seseorang. Author : Uswatun H. Beti MH 116 | P a g e IDEA: Jurnal Psikologi Vol. 5 No. 2 Tahun 2021 Widiartanto (Sholikin, 2. mengatakan bahwa jumlah pengguna aktif Instagram di dunia mengalami peningkatan dari 300 juta menjadi 400 juta pengguna aktif Instagram, 75% berasal dari luar Amerika salah satunya Indonesia. Instagram juga dijadikan sebagai media komunikasi, sisi lain jejaring sosial Instagram memiliki fungsi yaitu dengan menunjukkan keunggulan dari segi fisik . antik atau tampa. , gaya berbusana, merek sepatu yang dikenakan, hingga tata bahasa dalam komunikasi yang secara tidak langsung akan menumbuhkan atensi dari khalayak melalui postingan yang diunggah di media sosial Instagram. Instagram selain terkenal dalam kalangan artis dan model yang cantik, juga merupakan wadah tepat untuk melakukan endorse yang trend di toko online. Mahasiswi sendiri terbukti sangat dipengaruhi oleh quantifiable sosial endorsement. Endorse sendiri merupakan aktivitas pengiklanan yang dilakukan oleh model-model cantik untuk memasarkan suatu produk dari suatu perusahaan tertentu. Foto atau video yang dibagikan dalam Instagram tentunya bukan foto atau video diri yang jelek melainkan penampakan yang dapat membuat orang terkagum-kagum dengan pengunggah foto atau video tersebut, karena pasti foto atau video yang diunggah adalah konten terpilih dari beberapa konten yang telah diseleksi terlebih dahulu, salah satu contoh foto atau video model dengan paras cantik, menarik, dan badan yang proporsional akan membuat para pengguna Instagram berlama-lama dalam mengakses Instagram untuk melihat akun model endorse Menurut Mahardika, (Andarwati, 2. bahwa penggunaan media sosial Instagram tentu membawa kemudahan bagi mahasiswi untuk membangun komunikasi namun Instagram juga berdampak negatif seperti krisis kepercayaan diri, persaingan kehidupan mewah, dan tidak mau menatap realita dan kenyataan. Media sosial Instagram juga bisa membawa dampak yang negatif, terutama terkait dengan ketidakpuasan pada tubuh. Media sosial dapat menyebabkan penurunan kepercayaan diri (Sharma & Sahu dalam Rozika & Ramdhani, 2. Menurut Drestya (Syaifullah & Sudarmaji, 2. salah satu motif seseorang menggunakan media sosial Instagram adalah motif convenience yaitu berhubungan dengan bagaimana jejaring sosial Instagram menjadi sebuah alat untuk mewakili suatu perasaan emosi yang dimiliki pengguna dan motif lainnya adalah rasa kepuasan diri ketika dapat menyebar luaskan aktualisasi dirinya kedunia maya. Instagram diminati sebab aplikasi ini tidak boros pulsa (Pratama dalam Pratama & Parmadi, 2. Herman (Prasetyo, 2. berpendapat Instagram adalah media sosial yang berbasis visual untuk berbagi foto dan video. Instagram menawarkan banyak fitur untuk mengedit foto atau video yang membuat foto atau video terlihat tidak realistis sehingga menimbulkan effect cantik berlebih, sehingga dapat membuat penggunanya berlama-lama dalam mengakses Instagram. Menurut Griffiths (Prasetyo, 2. individu dapat dikatakan kecanduan mengakses media sosial Instagram bila aktivitas membuka media sosial Instagram menjadi kegiatan yang mendominasi pikiran, perasaan . dan perilaku. Instagram dinyatakan berdampak negatif bagi kesehatan dan kesejahteraan anak muda dibandingkan dengan media sosial yang lain. Royal Society for Public Health (Evelin & Adishesa, 2. Dalam pengidentifikasian diri yang negatif akan membuat individu depresi dan terdorong untuk banyak melakukan upaya-upaya agar setara dengan teman sebayanya, misal melakukan diet ketat untuk mendapatkan tubuh yang ideal, atau melakukan perawatan kulit atau bahkan melakukan operasi kulit agar dapat tampil cantik dan selaras dengan teman sebayanya. Sebagian besar media sosial memuat gambar-gambar yang seringkali mempromosikan penampilan ideal yang tidak realistis, yang telah dimodifikasi oleh penata gaya dan dimanipulasi secara digital yang sebenarnya tidak bisa dicapai di kehidupan nyata Author : Uswatun H. Beti MH 117 | P a g e IDEA: Jurnal Psikologi Vol. 5 No. 2 Tahun 2021 (NEDC dalam Marizka dkk, 2. Kurangnya kepercayaan atas dirinya sendiri dari setiap individu yang memiliki bentuk tubuh yang kurang ideal, dan ketinggalan zaman akan model berpakaian yang dikenakan atau aura kecantikan yang terlihat kurang atau tidak secantik teman sebaya atau idola. Kecantikan bagi kaum wanita merupakan suatu tolak ukur dalam menilai perempuan. Penampilan fisik yang berpengaruh pada kepercayaan diri seseorang didasarkan bagaimana individu tersebut melihat bagaimana kondisi fisik dapat berupa bentuk tubuh ataupun berat tubuh yang dimiliki serta bagaimana penilaian individu terhadap fisik yang dimiliki dan bagaimana bentuk yang diinginkan (Surya dalam Ifdil dkk, 2. Kecantikan bersifat relatif tergantung masyarakat dan kebudayaan yang berbeda-beda. Kecantikan yang banyak mendapatkan perhatian adalah citra mengenai bentuk tubuh. Di negara non-barat, seperti Afrika, tubuh yang gemuk diinterpretasikan sebagai suatu simbol kematangan seksual, kesuburan, kemakmuran, kekuatan, dan kebijaksanaan (Sheinin dalam Mukhlis, 2. Namun persuasi dari keluarga dan teman sebaya menjadi faktor lain yang menyebabkan perhatian perempuan terhadap bentuk tubuhnya, (Moreno dkk dalam Mukhlis, 2. Wanita tidak puas dengan Body Image mereka sendiri yang tidak sama dengan kebanyakan orang, (Charles dkk dalam Ifdil dkk, 2. Akibatnya sejumlah besar remaja perempuan mendiskusikan tentang berat badan dan perilaku diet dengan teman-teman mereka (Mukai dkk dalam Mukhlis, 2. Attie dkk (Mukhlis, 2. menyatakan bahwa perempuan yang merasa tidak puas dengan bentuk tubuh mereka akan berisiko lebih tinggi untuk melakukan diet yang serius dan mengalami gangguan makan dibandingkan dengan perempuan yang telah merasa puas dengan bentuk tubuh mereka. Beberapa studi eksperimental telah membuktikan bahwa pemahaman nilai AukurusAy adalah AuidealAy berhubungan dengan ketidakpuasanya penampilan dalam jangka pendek pada remaja putri terkait dengan media sosial Instagram (Thompson dalam Ratnawati & Sofiah, 2. Penggunaan media sosial Instagram menjadi salah satu hal yang paling menonjol pada individu yang berada pada masa dewasa awal (Coyne dkk dalam Marizka dkk, 2. Mahasiswi merupakan individu yang ingin eksis dalam media sosial khususnya Instagram, mahasiswi juga butuh mengaktualisasikan dirinya di media maya, banyak juga mahasiswi mengaktualisasikan diri bukan seorang diri namun bersama dengan teman sebayanya, hal tersebut juga dapat berpengaruh dengan kepercayaan diri seseorang. Apabila dari teman sebaya yang lain terlihat perfect, cantik dalam berbusana, memiliki kulit putih, tinggi, badan yang proposional, seseorang akan merasa minder jika berlama-lama dengan teman Hal tersebut akan mendorong seseorang memandang diri sendiri merasa berbeda dan tidak secantik teman sebayanya. Orang-orang justru lebih memperhatikan informasi dan aktivitas media sosial Instagram, (Vodel dkk dalam Evelin & Adishesa, 2. Karena mahasiswi cenderung menyukai foto yang memiliki banyak jumlah likes dari teman sebaya sekalipun foto tersebut menimbulkan pro dan kontra, (Sherman dkk dalam Evelin & Adishesa, 2. Mahasiswi yang dipandang tidak selaras dengan model trend atau dengan teman sebaya akan merasa insecure dengan diri sendiri, yang menimbulkan pemikir pemberontak akan kodrat yang telah ditentukan oleh Tuhan, sehingga melaukan suatu tindakan yang cukup beresiko untuk tampil cantik di muka umum. Media Sosial Instagram adalah sebuah media untuk komunikasi dengan menggunakan aplikasi pihak ketiga dengan mempermudah dalam melakukan interaksi sosial jarak jauh atau jarak dekat. Banyak aplikasi yang dapat digunakan untuk membantu komunikasi dalam jarak jauh maupun jarak dekat, salah satu contohnya adalah Instagram. Media Sosial Instagram merupakan salah satu aplikasi pendukung untuk telekomunikasi dari berbagai Author : Uswatun H. Beti MH 118 | P a g e IDEA: Jurnal Psikologi Vol. 5 No. 2 Tahun 2021 Intensitas penggunaan media sosial Instagram dapat menimbulkan dampak positif maupun negatif. Penelitian Loehr (Muklis, 2. menunjukkan bahwa suasana hati yang negatif memungkinkan untuk marah, merasa bersalah, dan memperbesar kesalahan yang telah terjadi. Kecanduan mengakses media sosial Instagram dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental, karena dapat menimbulkan gejala depresi, kecemasan, kecenderungan mengalami tekanan psikologis dan ide bunuh diri. Sampasa (Evelin & Adishesa, 2. Media sosial Instagram tergolong sangat sensitif dalam pembentukan karakter individu, cukup banyak remaja merubah pola mindset agar terlihat seperti idola. Jadi terdapat dua komponen dari Body Image, yaitu komponen perseptual . agaimana seseorang memandang tubuhnya sendir. dan komponen sikap . agaimana seseorang merasakan tentang penampilan atau tubuh yang dipersepsiny. Taylor (Rombe, 2. mengatakan bahwa percaya diri merupakan kunci menuju kehidupan yang berhasil dan bahagia dalam menjalani hidup. Penelitian Stuard & Laraia (Ganecwari & Wilani, 2. mengatakan bahwa Body Image adalah sesuatu yang dinamis. Hal ini tersebut dikarenakan dapat berubah secara berkelanjutan seiring adanya pengalaman dan persepsi yang baru. Hal ini juga didukungg oleh penelitian yang dilakukan oleh Waller & Banner (Ganecwari & Wilani, 2. yang menyatakan bahwa Body Image dapat menjadi suatu konstruk yang dinamis dan bergantung pada faktor sosial dan psikologis individu. Body Image menurut Arthur (Ridha, 2. adalah imajinasi subyektif yang dimiliki seseorang tentang tubuhnya, khususnya yang terkait dengan penilaian orang lain, dan seberapa baik tubuhnya harus disesuaikan dengan persepsi-persepsi ini. Body Image merupakan penilaian individu terhadap tubuhnya, selain penilaian terhadap tubuhnya juga berkaitan dengan pemikiran individu tentang bagaimana penilaian dari orang lain terhadap bentuk tubuhnya. Hemilton (Rozika & Ramdhani, 2. menyatakan bahwa memang kehidupan sekarang dikelilingi dan dipenuhi oleh AuPerfect Body ImageAy atau tipe tubuh yang sempurna. Body Image ideal yang ditampilkan lewat internet khususnya dari media sosial Instagram tidak sama dengan real-self individu, dapat membuat berani untuk mengungkapkan dirinya, (Gonzalez & Hancock dalam Rozika & Ramdhani, 2. Menurut Cash & Pruzinsky (Ratnawati & Sofiah, 2. Body Image merupakan sikap yang dimiliki seseorang terhadap tubuhnya yang dapat berupa penilaian positif atau Sejalan dengan Surya (Handayani, 2. mengatakan bahwa seseorang akan puas jika melihat Body Image dirinya bagus dan itu akan menimbulkan Body Image yang positif, sebaliknya jika seseoorang mengapresiasikan Body Imagenya kearah negatif maka individu tersebut akan merasa memiliki tubuh yang tidak menarik. Cash (Ratnawati & Sofiah, 2. juga menjelaskan bahwa Body Image adalah konstruk yang multidimensional yang terdiri dari persepsi, kognisi, emosi, dan perilaku yang berkaitan dengan atribut fisik. Menurut Smolak & Thompson (Ifdil dkk, 2. menjelaskan bahwa Body Image individu digambarkan dengan seberapa jauh individu merasa puas terhadap bagian tubuh dan penampilan fisik secara keseluruhan serta menambahkan tingkat penerimaan citra raga sebagian besar tergantung pada pengaruh sosial budaya yang terdiri dari empat aspek yaitu: reaksi orang lain, perbandingan dengan orang lain, peranan individu dan identifikasi terhadap orang lain. Istilah yang dibuat oleh para ahli yang terkait dengan fisik, namun para ahli yang lain ada juga yang berpendapat tentang fungsi tubuh, gerakan tubuh, koordinasi tubuh dan sebagainya. Selaras dengan pendapat Hogan & Strasburger (Rozika & Ramdhani, 2. Body Image adalah persepsi individu terhadap tubuhnya sendiri serta refleksi dan evaluasi Author : Uswatun H. Beti MH 119 | P a g e IDEA: Jurnal Psikologi Vol. 5 No. 2 Tahun 2021 terhadap penampilan fisiknya. Gejala untuk mendapatkan Body Image ideal jika diminati secara kejiwaan merupakan suatu erosi kepercayaan diri yang bisa terjadi pada individu yang hanya berorientasi pada penampilan fisik semata. Individu yang memiliki distorsi pada Body Imagenya akan menyebabkan individu memiliki kesalahan persepsi pada penampilan fisik secara realita, dikarenakan individu ingin memiliki penampilan fisik yang ideal sesuai yang diharapkan. Gamer dkk (Mukhlis, 2. menemukan bahwa ukuran rata-rata berat badan dari perempuan yang dianggap ideal seperti yang digambarkan oleh para model, penampilan yang menjadi kurus dan bertahan pada kisaran 13%-19% di bawah berat badan yang sehat. Kesadaran akan adanya reaksi sosial terhadap berbagai bentuk tubuh menyebabkan remaja prihatin akan pertumbuhan dan perubahan tubuhnya yang tidak sesuai dengn standart budaya yang berlaku. Karena mengetahui bahwa reaksi sosial terhadap bentuk tubuh endomorfik pada laki-laki dan perempuan adalah kurang baik dibandingkan dengan bentuk tubuh ektomorfik dan mesomorfik. Banfield & McCabe (Rozika & Ramdhani, 2. berpendapat bahwa Body Image adalah serangkaian penilaian terhadap tubuh atau penampilan secara fisik yang juga dapat disertai oleh kecemasan seperti ketakutan menjadi gemuk, ketekutan menjadi terlalu kurus, dan ketidakpuasan terhadap tubuh. Peneliti dari University Of Sydney. Macquarie University, dan UNSW Austria menemukan bahwa perempuan lebih cenderung untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Swari (Marthanatasha & Primadini, 2. Ketidakpuasan pada tubuh adalah perasaan tidak puas terhadap bentuk dan ukuran tubuh akibat dari adanya kesenjangan antara persepsi individu terhadap ukuran tubuh yang ideal dengan ukuran tubuh yang sebenarnya, atau sederhananya adalah ketidakpuasan atas ukuran dan bentuk tubuh, (Ogden dalam Marizka dkk, 2. Ketidakpuasan pada tubuh merupakan komponen persepsi dari Body Image dikarenakan perbedaan antara tubuh ideal dan ukuran tubuh yang sebenarnya. Ogden (Marizka dkk, 2. Menurut Cash dan Pruziuzky (Ratnawati & Sofiah, 2. Body Image merupakan evaluasi dan pengalaman afektif seseorang terhadap atribut fisik. Menurut Hoyt (Ridha, 2. Body Image diartikan sebagai sikap seseorang terhadap tubuhnya dari segi ukuran, bentuk maupun estetika berdasarkan evaluasi individual dan pengalaman efektif terhadap atribut fisiknya dan setiap individu memiliki interpretasi sendiri akan tubuhnya. Ketidaksesuaian antara bentuk tubuh yang dipersepsi oleh individu dengan bentuk tubuh yang menurutnya ideal akan memunculkan ketidakpuasan terhadap tubuhnya, (Amalia dalam Ridha, 2. Kristiawan (Ifdil dkk 2. menjelaskan bahwa Body Image mahasiswi banyak dipengaruhi oleh persepsi tentang standart tubuh yang sedang trend dikalangan remaja saat ini. Mahasiswi mulai berlomba-lomba untuk menyesuaikan tubuhnya dengan trend yang sedang terjadi tanpa memandang baik atau buruknya terhadap tubuh sendiri, (Violina dalam Ifdill dkk, 2. Menurut Honigam & Castle (Rombe, 2. gambaran mental seseorang terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya, adalah bagaimana seseorang mempersepsi dan memberikan penilaian atas apa yang dipikirkan dan rasakan terhadap ukuran dan bentuk tubuhnya, dan atas penilaian orang lain terhadap dirinya. Kriteria perempuan, yang harus terlihat cantik, pintar, tubuh tinggi, langsing, dan ideal. Selaras dengan pemikiran Rice (Mukhlis, 2. Body Image adalah gambaran mental yang dimiliki seseorang tentang tubuhnya yang meliputi pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, penilaian-penilaian, sensasi-sensasi, kesadaran, dan perilaku yang terkait dengan tubuhnya. Author : Uswatun H. Beti MH 120 | P a g e IDEA: Jurnal Psikologi Vol. 5 No. 2 Tahun 2021 Gardner (Mukhlis, 2. mendefinisikan Body Image sebagai gambaran yang dimiliki seseorang dalam pikirannya tentang penampilan . isalnya ukuran dan bentu. tubuhnya, serta sikap yang dibentuk seseorang terhadap karakteristik-karakteristik dari tubuhnya. Mayoritas mahasiswi lebih banyak memperhatikan penampilan mereka dibanding aspek lain dalam diri mereka, dan banyak diantara mereka yang tidak suka melihat gambaran dirinya terlihat dicermin. Mahasiswi memiliki perasaan tidak suka yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa, hal ini mencerminkan penekanan kultural yang lebih besar terhadap atribut fisik wanita (Papalia dkk dalam Ifdil dkk, 2. Penafsiran modern yang banyak digunakan oleh mahasiswi bahwasanya penampilan yang menarik dapat mempermudah seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Menurut Baron & Byne (Wirmadani & Putra, 2. orang yang merasa dirinya sangat jauh dari harapan dan gambaran ideal, akan berdampak pada kemampuan menyesuaikan diri dengan orang lain. Perubahan-perubahan fisik yang dialami remaja akan menimbulkan persepsi yang berubah-ubah, hal ini secara tidak langsung akan membangun pola bagaimana definisi cantik menurut diri sendiri. Sejalan dengan pendapat Qaisy (Maulani, 2. bahwa awalnya, wanita hanya kurang puas pada bagian tubuh tertentu yang kemudian membuat mereka mengalihkan fokus ke orang lain, biasanya mereka berfokus pada berat badan, ukuran payudara, jerawat dan bentuk tubuh. Ketika seseorang membandingkan diri dengan orang lain maka secara tidak langsung akan muncul standart tersendiri dan membuat orang tersebut akan terlihat cantik ketika mampu mencapai standart yang telah dibangun. Body Image terbagi dalam beberapa aspek. Menurut Cash (Ratnawati & Sofiah, 2. mengenai Body Image pada umumnya untuk pengukurannya menggunakan Multidemensional Body Self Relation Questionnaire-Appearance Scale (MBSRQ-AS), yang terdiri dari aspek-aspek sebagai berikut: Appearance evalution . valuasi penampila. Evaluasi penampilan yaitu mengukur penampilan keseluruhan tubuh, apakah menarik atau tidak menarik serta memuaskan atau belum memuaskan. Appearance orientation . rientasi penampila. Orientasi penampilan yaitu perhatian individu terhadap penampilan dirinya dan usaha yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan penampilan diri. Body area satisfaction . epuasan terhadap bagian tubu. Kepuasan terhadap bagian tubuh, yaitu mengukur kepuasan individu terhadap bagian tubuh secara spesifik, wajah, tubuh bagian atas . ada, bahu lenga. , tubuh bagian tengah . inggang, peru. , tubuh bagian bawah . inggul, paha, pantat, kak. , serta bagian tubuh secara keseluruhan. Overweight preoccupation . ecemasan menjadi gemu. Kecemasan menjadi gemuk yaitu mengukur kewaspadaan individu terhadap berat badan, kecenderungan untuk melakukan diet, dan membatasi pola makan Self-classified weight . engkategorian ukuran tubu. Pengkategorian ukuran tubuh, yaitu mengukur bagaimana individu menilai berat badannya, dari sangat kurus sampai gemuk. Dalam penelitian ini untuk menggungkap variabel Body Image menggunakan teori yang dikemukakan oleh Cash (Ratnawati & Sofiah, 2. , dikarenakan sangat rinci dalam memetakan aspek-aspek Body Image. Pengertian Intensitas Penggunaan Instagram meliputi dua pengertian yaitu pengertian Intensitas dan pengertian Instagram. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia intensitas adalah keadaan tingkatan atau ukuran intens. Poerwadarminta W . Sedangkan menurut kamus psikologi intensitas adalah kekuatan sebarang tingkah laku atau Author : Uswatun H. Beti MH 121 | P a g e IDEA: Jurnal Psikologi Vol. 5 No. 2 Tahun 2021 sebarang pengalaman (Caplin dalam Prasetio & Hartosujono, 2. Caplin (Nuryani, 2. , mendefinisikan AuintensitasAy berasal dari kata bahasa Inggris AuintensityAy yaitu, suatu sifat kuantitatif dari suatu penginderaan, yang berhubungan dengan intensitas perangsangnya. Intensitas perangsang dapat diartikan dengan kekuatan tingkah laku atau pengalaman. Sedangkan menurut Kartono & Gulo (Nuryani, 2. intensitas berasal dari kata AuintensityAy yang berarti besar atau kekuatan tingkah laku, jumlah energi fisik yang digunakan untuk merangsang salah satu indera, ukuran fisik dari energi atau data indera. Menurut Caplin (Marizka dkk, 2. intensitas merupakan kekuatan untuk mendukung suatu pendapat atau suatu sikap. Sedangkan menurut Azwar (Marizka dkk, 2. intensitas merupakan kekuatan untuk kedalaman sikap terhadap sesuatu. Akun Instagram bukan lagi digunakan secara personal, akan tetapi dipakai untuk menunjang kegiatan bisnis. Istilah Instagram berawal dari kata AuinstaAy yang berarti AuinstanAy, seperti kamera polaroid yang pada masanya disebut dengan Aufoto instanAy, sedangkan AugramAy berasal dari kata AutelegramAy yang pada dasarnya digunakan untuk membagikan informasi kepada orang lain dengan cara yang cepat. Media Sosial Instagram juga memungkinkan penggunanya mengambil foto dan video dan juga dapat menerapkan filter digital untuk mempercantik hasil dan dibagikan ke berbagai jaringan layanan jejaring sosial, termasuk Instagram sendiri. Instagram dapat memungkinkan penggunanya mengunggah foto melalui perantara jaringan internet, dipandang mampu untuk menyampaikan informasi secara cepat kepada orang lain. Utari (Sukmaraga, 2. Instagram merupakan aplikasi pendukung bagi remaja di era modernisasi ini, untuk menyimpan moment - moment tertentu yang dapat diunggah di akun Instagram, dapat berupa foto, maupun video. Media sosial Instagram saat ini menjadi aplikasi yang banyak diminati penggunanya, karena Instagram merupakan sebuah aplikasi microblogging yang mempunyai fungsi utama sebagai sarana mengunggah foto atau video (Burn. Inc dalam Syaifullah & Sudarmaji, 2. Instagram merupakan aplikasi berbagi foto atau video kepada sesama teman pengguna Instagram (Nurbaya dalam Syaifullah & Sudarmaji, 2. Media sosial merupakan aplikasi berbasis internet yang berfungsi untuk berkomunikasi dengan orang lain tanpa dibatasi ruang dan waktu. Media sosial merupakan suatu media aktualisasi Media Sosial Instagram adalah platform aplikasi yang memfokuskan pada ekstensi pengguna yang memfasilitasi penggunaan dalam beraktivitas maupun berkolaborasi (Riyanti dalam Pratama & Parmadi, 2. Instagram adalah sebuah aplikasi media sosial berbasis mobile dan desktop yang memungkinkan penggunanya saling berinteraksi dengan berbagi foto maupun video kepada sesama penggunanya (Frommer dalam Aziz dkk, 2. Instagram juga dapat menjadi ladang untuk berbisnis, dikarenakan Instagram menyediakan fitur update story dan live, selain itu Instagram juga memberikan fitur stories yang dapat digunakan pengguna untuk berbagi foto maupun video dengan durasi 15 detik yang akan terhapus secara otomatis setelah 24 jam (Constine dalam Aziz dkk, 2. Pendapat Valkenburg dkk (Aziz dkk, 2. media sosial dapat membantu seseorang untuk membuat sebuah personal digital yang baik sehingga dapat memengaruhi pandangan orang terhadap Akun penggemar atau orang yang memiliki paras cantik sering melakukan endorse untuk mempromosikan suatu produk, dari hal itu pula banyak orang yang melakukan stalking akun untuk melihat apa saja yang dijual atau dikenakan oleh model, seolah-olah tidak ingin tertinggal dengan apa yang dimiliki oleh akun yang menjadi media promosi. Bahkan bukannya hanya promosi, artis-artis, pebisnis, banyak juga yang memanfaatkan Instagram. Sehingga tidak dapat dihindari banyak juga individu - individu yang menuntut diri sendiri guna menjadi sesuai dengan idolanya. Meike & Young (Sari, 2. mengartikan kata media sosial Instagram sebagai konvergensi antara komunikasi personal dalam arti saling berbagi diantara individu . o be Author : Uswatun H. Beti MH 122 | P a g e IDEA: Jurnal Psikologi Vol. 5 No. 2 Tahun 2021 shared one-to-on. dan media publik untuk berbagi kepada siapa saja tanpa ada batas Instagram adalah sebuah media sosial yang bukan digunakan untuk kepentingan komunikasi atau sharing semata, akan tetapi juga terdapat unsur bisnis dan marketing Media sosial Instagram dilengkapi oleh fitur-fitur interaktif yang berbeda dari media sebelumnya dan juga memiliki pengaruh psikologis yang berbeda bagi pengguna terkait dengan Body Image. Fardouly & Vartanian (Marizka dkk, 2. Instagram tidak hanya aplikasi foto melainkan cara baru berkomunikasi melalui media gambar dan merupakan komunikasi yang berbeda karena pengelola foto adalah sebuah alat. Atmoko (Syaifullah & Sudarmaji, 2. Intensitas penggunaan media sosial Instagram adalah keterlibatan seseorang terkait aktivitas penggunaan media sosial Instagram seperti frekuensi menggunakan media sosial Instagram, lama penggunaan media sosial Instagram dalam sekali akses dan jumlah petermanan yang dibentuk. Sandya (Pratama & Permadi, 2. Menurut Ajzen (Ardari, 2. aspek-aspek intensitas penggunaan media sosial sebagai berikut: Perhatian. Merupakan ketertarikan individu terhadap objek tertentu yang menjadikan target perilaku. Penghayatan. Merupakan pemahaman dan penyerapan terhadap informasi sebagai pengetahuan yang baru bagi individu yang bersangkutan. Durasi. Merupakan kebutuhan individu dalam selang waktu tertentu untuk melakukan perilaku yang menjadi target . amanya selang waktu dalam satu ja. Frekuensi. Merupakan banyaknya pengulangan perilaku menjadi terget . alam kurun waktu satu har. Berdasarkan uraian di atas aspek-aspek intensitas penggunaan media sosial Instagram yang telah dikemukakan oleh Ajzen digunakan oleh sebagai dasar oleh peneliti dalam menyusun skala, dikarenakan sangat rinci dalam memetakan aspek-aspeknya. Intensitas merupakan suatu aktifitas yang sering dilakukan dan lama kelamaan akan menjadi suatu habbit. Menurut Yanica (Andarwati, 2. intensitas merupakan kegiatan seseorang mempunyai hubungan yang erat dengan perasaan. Perasaan senang terhadap kegiatan yang akan dilakukan dapat mendorong orang yang bersangkutan melakukan kegiatan tersebut secara berulang - ulang. Kebanyakan mahasiswi jika memiliki waktu luang yang singkat seminimal mungkin selalu membuka sosial media mereka, bisa WhatsApps. Facebook ataupun Instagram, jika memiliki waktu yang cukup lama akan selalu aktif dalam media sosial mereka khususnya media sosial Instagram. Dalam penggunaan media sosial tersebut selalu melihat konten-konten yang menarik menurut mereka, yang dapat mencuci pandangan. Konten dalam media sosial Instagram berupa semua aktifitas yang menarik yang dialami oleh individu untuk menunjukan eksistensinya dalam dunia virtual atau dunia maya. Tidak sedikit juga mereka meluangkan waktunya untuk melihat keseharian dari sang idola atau surfing melihat-lihat toko online. Lamanya waktu yang diluangkan untuk berselancar di media sosial Instagram juga untuk menghilangkan kejenuhan dalam aktifitasnya. Penggunaan Instagram yang terlalu berlebihan juga dapat berdampak terhadap persepsi individu mengenai Body Imagenya sendiri, dengan terlalu sering terpapar oleh berita atau konten yang tidak sesuai dengan bentuk tubuhnya dan juga apabila teman sebaya mendukung atas ketidak puasan terhadap penilaian suatu bentuk tubuh seseorang maka akan menimbulkan perasaan tidak senang, cemas, khawatir, bahkan juga dapat menimbulkan depresi yang berat. Body Image bukanlah suatu konsep yang statis, melainkan berkembang melalui interaksi dengan orang lain dan lingkungan sosial, serta mengalami perubahan sepanjang Author : Uswatun H. Beti MH 123 | P a g e IDEA: Jurnal Psikologi Vol. 5 No. 2 Tahun 2021 rentang kehidupan sebagai tanggapan terhadap umpan balik dari lingkungan, (Freedman dkk dalam Mukhlis, 2. Ketidakpuasan pada Body Image menimbulkan banyak masalah bagi remaja perempuan. Menurut Attie dkk (Mukhlis, 2. , perempuan yang merasa tidak puas dengan bentuk tubuh mereka akan berisiko lebih tinggi untuk melakukan diet yang Dalam beberapa penelitian yang telah dilakukan masalah ketidakpuasan Body Image ternyata dapat menimbulkan masalah terhadap sikap mental remaja, sehingga menimbulkan rasa was-was yang berlebihan jika memiliki bentuk tubuh, warna kulit atau dalam bertata busana yang berbeda dengan sebayanya. Remaja putri merasa mereka tidak dapat mencapai apa yang diinginkan oleh lingkungan sekitarnya kemudian mereka menjadi ekstrem untuk berusaha menyesuaikan dengan tuntutan lingkungan sekitar. Hasil penelitian. Alidia (Ifdil dkk, 2. bahwa Body Image mahasiswi lebih rendah dibandingkan dengan Body Image mahasiswa. Dari uraian di atas diketahui bahwa intensitas penggunaan media sosial Instagram berpengaruh terhadap Body Image, sehingga banyak individu yang selalu mengkoreksi diri sendiri dan dapat merubah gaya berperilaku dan berbusananya. Metode Pelaksanaan pengambilan data penelitian dengan Skala Intensitas penggunaan media sosial Instagram dan Skala Body Image yang dilakukan dengan menyebar Skala pada 100 mahasiswi yang memiliki media sosial Instagram dan berstatus mahasiswi aktif di Universitas Darul AoUlum Jombang. Responden dihubungi oleh peneliti berdasarkan informasi dari teman atau kenalan yaitu siapa saja yang memenuhi kriteria dan diberi link Skala Intensitas penggunaan media sosial Instagram dan Skala Body Image. Penyebaran Skala tersebut dilakukan peneliti dan dibantu oleh teman. Pada saat membagikan link Skala penelitian, sebelumnya peneliti harus menawarkan kesediaan responden agar pengisian tidak dilakukan secara terpaksa. Selain itu, peneliti harus menjelaskan kepada responden mengenai penelitian yang dilakukan agar responden melakukan pengisian Skala sesuai dengan tujuan yang dimaksud. Setelah pengisian skala selesai, peneliti juga harus memeriksa kembali untuk memastikan kedua link Skala sudah terisi sesuai dengan instruksi dan kedua skala memiliki nama yang sama atau nama responden sudah ada dikedua hasil skala. Kemudian, jika seluruh skala telah memenuhi target yaitu 100 responden lalu jawaban dari responden diunduh dan akan dilakukan skoring sesuai dengan pedoman yang telah ada. Kemudian tahap selanjutnya melakukan uji validitas dan reliabilitas menggunakan SPSS 2018, setelah melakukan uji validitas dan reliabilitas tahap berikutnya adalah uji normalitas dan linieritas dan terakhir melakukan uji hubungan. Tabulasi data dilakukan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji signifikansi korelasi antara Intensitas penggunaan media sosial Instagram dengan Body Image maka model analisis statistik yang tepat adalah korelasi product moment dan menggunakan uji Rho Spearman. Agar hasil analisis dapat digeneralisasi dengan tepat dan benar pada populasi maka perlu dipenuhi beberapa asumsi di bawah ini: Pengambilan sampel secara random Sebaran gejala variabel tergantung mengikuti distribusi kurva normal. Hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung adalah hubungan linier atau garis lurus. Untuk memenuhi asumsi pertama pengambilan sampel penelitian menggunakan Purposive random sampling. Sedangkan untuk memenuhi asumsi ke-2 dan ke-3 dilakukan uji asumsi dengan hasil sebagai berikut: Author : Uswatun H. Beti MH 124 | P a g e IDEA: Jurnal Psikologi Vol. 5 No. 2 Tahun 2021 Uji normalitas Body Image diperoleh Kolmogorov-smirnov = 0,156 dengan signifikansi 0,00 . < 0,. yang berarti sebaran gejala variabel Body Image berdistribusi tidak Hasil uji linieritas hubungan antara Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram dengan Body Image diperoleh deviation from linearity F = 1,101 dengan signifikansi 0,370 . > 0,. yang artinya terdapat hubungan yang linear antara Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram dengan Body Image. Karena salah satu uji asumsi tidak terpenuhi yaitu variable Body Image tidak mengikuti distribusi normal maka yang semula direncanakan untuk uji hipotesis menggunakan kolerasi product moment diubah menjadi korelasi Rho Spearman. Hasil Hasil penelitian berupa hasil analisa statistik deskriptif dan uji hipotesis korelasi Rho Spearmen Correlation. Adapun hasil analisis perhitungan analisis tersebut dapat dilihat pada table 10 dibawah ini: Tabel 1 Deskriptif Nilai Skala Body Image No Batas nilai Kategori Frekuensi Persentase Ou 127 Sangat Tinggi 103 Ae 110 Tinggi 94 Ae 102 Cukup 76 Ae 93 Rendah O 76 Sangat Rendah Jumlah Tabel 1 menyajikan data tentang deskripsi nilai Skala Body Image, dari hasil di atas dapat dilihat bahwa kategori Body Image subjek penelitian berada dalam kategori sangat rendah sebanyak 3%, kategori rendah sebanyak 20%, kategori cukup sebanyak 18%, kategori tinggi sebanyak 8% dan kategori sangat tinggi sebayak 51%. Tabel 2 Deskriptif Nilai Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram Batas nilai Kategori Frekuensi Persentase Ou 120 Sangat Tinggi 65 Ae 75 Tinggi 57 Ae 64 Cukup 32 Ae 56 Rendah O 32 Sangat Rendah Jumlah Tabel 2 menyajikan data tentang deskripsi nilai Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram, dari hasil di atas dapat dilihat bahwa kategori Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram subjek penelitian berada dalam kategori sangat rendah sebanyak 0%, kategori rendah sebanyak 7%, kategori cukup sebanyak 10%, kategori tinggi sebanyak 17% dan kategori sangat tinggi sebanyak 66%. Tabel 3 Hasil Analisis Korelasi Rho Spearman Author : Uswatun H. Beti MH 125 | P a g e IDEA: Jurnal Psikologi Vol. 5 No. 2 Tahun 2021 Spearman's rho X Correlation Coefficient Sig. -taile. Correlation Coefficient Sig. -taile. Berdasarkan hasil analisis korelasi Rho Spearmen memperlihatkan bahwa nilai koefisien korelasi r rho = 0,539 dengan Sig. 0,000 . < 0,. , artinya ada korelasi positif yang sangat signifikan antara Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram dengan Body Image. Arah positif artinya semakin tinggi Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram maka semakin tinggi Body Image mahasiswi, dan sebaliknya. jadi hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat diketahui bahwa terdapat hubungan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dengan body image. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa nilai signifikansi indeks kolerasi r rho = 0,539 . <0,. yang menunjukan adanya kolerasi positif antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dengan Body Image. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menguji hipotesis yang menyatakan bahwa adanya hubungan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram terhadap Body Image pada mahasiswi. Artinya semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial maka semakin tinggi pula Body Image. Sebaliknya semakin rendah intensitas penggunaan media sosial maka semakin rendah pula Body Imagenya. Dengan demikian hipotesis menyatakan ada hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dengan Body Image dikalangan mahasiswi dapat diterima. Banyak ahli yang memberikan definisi tentang intensitas penggunaan media sosial. Dalam definisi tersebut terdapat adanya perbedaan definisi yang dipengaruhi oleh adanya perbedaan sudut pandang dari masing-masing ahli. Terbuktinya hipotesis ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Prasetyo, 2. dalam penelitiannya mengatakan bahwa hubungan penggunaan media sosial Instagram dengan perilaku hedonisme pada mahasiswi bimbingan dan konseling Universitas Negeri Yogyakarta angkatan 2017, intensitas penggunaan media sosial adalah suatu tingkat penggunaan media sosial Instagram untuk mengakses suatu informasi yang ingin diterima. Individu dapat dikatakan kecanduan media sosial Instagram salah satunya bila aktivitas membuka media sosial Instagram menjadi kegiatan yang mendominasi pikiran, perasaan . dan perilaku, (Kuss & Griffiths dalam Prasetyo, 2. Menurut Andarwati (Oktaria & Harefa, 2. bahwa kepopuleran situs jejaring sosial dalam hal ini Instagram harus dipergunakan secara cerdas untuk membangun self image . itra dir. maupun interaksi yang sehat, sesuai dengan hasil penelitian mengenai citra diri dari intensitas penggunaan media jejaring sosial Instagram pada siswa kelas XI SMA Negeri 9 Yogyakarta yang menunjukan terdapat hubungan yang positif dan signifikasi antara intensitas penggunaan media jejaring sosial Instagram dengan citra diri pada siswa kelas XI SMA Negeri 9 Yogyakarta. Sejalan juga dengan hasil penelitian dari Nuryani . bahwa terdapat hubungan antara intensitas mengakses facebook dengan motivasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 2 Tenggaring Seberang. Menurut Wood (Martanatasha & Primadini, 2. informasi diri perbandingan sosial dapat memengaruhi perasaan, tujuan, tindakan, serta bagaimana seseorang melihat dan mengevaluasi diri sendiri dengan orang lain. Berdasarkan hasil analisis data dan penelitian Author : Uswatun H. Beti MH 126 | P a g e IDEA: Jurnal Psikologi Vol. 5 No. 2 Tahun 2021 yang telah dilakukan, maka hasil penelitian tersebut dapat dikatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat terpaan media sosial Instagram dengan tingkat persepsi mengenai Body Image. Individu yang cenderung membandingkan penampilan dirinya dengan orang lain akan merasa tidak puas dengan dirinya sendiri. Irmayanti (Marizka dkk, 2. , sesuai dengan penelitian dari Marizka dkk . menunjukan bahwa interaksi antara intensitas penggunaan media sosial sosial dan self compassion meningkatkan tingkat ketidakpuasan pada tubuh dewasa awal. Artinya semakin sering individu menggunakan media sosial dan semakin tinggi self compassionnya maka tingkat ketidakpuasan pada tubuhnya akan semakin tinggi. Intensitas penggunaan media sosial Instagram adalah keterlibatan seseorang terkait aktivitas penggunaan media sosial seperti frekuensi menggunakan media sosial akses dan jumlah perteman yang dibentuk. Sandya (Pratama & Permadi, 2. dan individu yang sering mengakses media sosial maka individu tersebut hanya akan didorong oleh motif sosial seperti ingin mendapatkan suatu pengakuan, penghargaan, dan lingkungan dimana individu tersebut berada. Rizki (Pratama & Permadi, 2. Penelitian Pratama & Permadi menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dengan kecenderungan sikap apatis. Penggunaan media sosial Instagram jika dipergunakan secara berlebihan dan tanpa ada pembatas akan menimbulkan suatu kondisi emosi yang cukup krusial jika dihubungkan denga Body Image seseorang, sesuai dengan penelitian Ratnawati & Sofiah . bahwa terdapat hubungan negatif antara Body Image dengan kecenderungan anorexia nervosa pada remaja putri, ada hubungan negatif antara Body Image dengan kecenderungan anorexia nervosa pada remaja putri. Waller & Benner, (Ganecwari & Wilani, 2. menytakan bahwa citra tubuh dapat menjadi suatu kontruk yang dinamis dan bergantung pada faktor dan psikologi individu. Sejalan dengan hasil penelitian dari Ganecwari & Wilani bahwa terdapat hubungan antara citra tubuh dengan kecenderungan body dysmorphic (BDD) pada remaja laki-laki di Denpasar. Al-Mighwar, (Rombe, 2. mengatakan bahwa remaja yang merasa gelisah akan tubuhnya yang berubah dan merasa tidak puas dengan penampilan dirinya akan sulit untuk menerima dirinya sendiri. Remaja yang memiliki Body Image yang positif mereka akan merasa puas dengan Body Imagenya begitu juga sebaliknya jika remaja memiliki Body Image yang negatif maka akan merasa tidak puas dengan penampilan tubuhnya. Menurut Hakim, (Rombe, 2. mengatakan pemahaman yang negatif dari seseorang terhadap dirinya sendiri cenderung akan selalu memikirkan kekurangan tanpa pernah meyakinkan dirinya memiliki kelebihan sehingga akan membentuk rasa tidak percaya diri. Hal ini sejalan dengan penelitian dari Rombe yang mengatakan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara Body Image dengan kepercayaan diri. Hal ini berarti semakin positif Body Image maka semakin tinggi kepercayaan diri. Botta (Ridha, 2. komparasi sosial yang dilakukan oleh remaja perempuan dan laki-laki tentang apa yang desebut Body Image yang indah, yaitu memperhatikan dengan seksama citra diri di lingkungan maupun masyarakat, serta media informasi yang Body Image yang baik akan berdampak pada penerimaan diri yang baik, kemampuan seseorang untuk bergaul dengan masyarakat akan sangat mudah bagi individu sehingga mahasiswi merasa puas terhadap diri sendiri dan lingkungannya. Terbukti dengan penelitian dari Ridha bahwa terdapat hubungan positif antara Body Image dengan penerimaan diri. Artinya yang memiliki Body Image yang baik secara penampilan fisik maka semakin baik pula individu bisa menerima dengan penerimaan diri positif. Kesimpulan Author : Uswatun H. Beti MH 127 | P a g e IDEA: Jurnal Psikologi Vol. 5 No. 2 Tahun 2021 Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dalam penelitian ini, menunjukan adanya korelasi positif yang sangat signifikan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dan Body Image. Artinya semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial Instagram maka semakin tinggi Body Image karena berarah positif begitu juga sebaliknya jika intensitas penggunaan media sosial Instagram rendah maka Body Image akan rendah jika berarah negatif. Saran Bagi Mahasiswi. Tetaplah menyaring semua sumber informasi dari sosial media atau internet karena tidak semua akan berdampak baik untuk kesehatan mental pribadi. Tetaplah memiliki konsep akan diri sendiri, standart akan kualitas diri dan berusaha tidak minder dengan sesuatu hal yang tidak sesuai dengan diri kita atau realita. Bagi peneliti selanjutnya disarankan dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai kajian dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang psikologi dan memberikan kontribusi teoritis khususnya mengenai hubungan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dengan Body Image. Penelitian selanjutnya dapat mengembangkan penelitian yang lebih luas dengan melipatkan jumlah variable yang lebih banyak. Misalnya ditambah variable konsep diri sebagai variable bebas atau sebagai K0-prediktor . ikontrol secara Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam proses pengambilan data yang tidak langsung kepada subjek penelitian. Saran saya peneliti selanjutnya setidaknya melakukan pengambilan data secara langsung kepada subjek penelitian supaya validitas data dapat dipertanggung jawabkan. Referensi