Vol 2 No. 6 November 2025 P-ISSN : 3047-2792 E-ISSN : 3047-2032. Hal 53 - 61 JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jimat Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/crfmh138 PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY. GOOD CORPORATE GOVERNANCE. INTELLECTUAL CAPITAL TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN (STUDI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR SUB INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2021-2. Ariyanto Adi Santosoa*. Surenggonob a Fakultas Ekonomi dan Bisnis/ Jurusan Akuntansi, ariyadis2811@gmail. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Jawa Timur b Fakultas Ekonomi dan Bisnis/ Jurusan Akuntansi, surenggono@uwks. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Jawa Timur Korespondensi ABSTRACT This study aims to analyze the influence of Corporate Social Responsibility (CSR). Good Corporate Governance (GCG), and Intellectual Capital (IC) on financial performance, as proxied by Return on Assets (ROA). The research objects are manufacturing companies in the food and beverage subsector listed on the Indonesia Stock Exchange for the 2021Ae2023 period. The sample consisted of 22 companies determined through purposive sampling, with a total of 66 observations. Data analysis used a quantitative approach through multiple linear regression with the help of SPSS version 26. The results show that CSR. GCG, and IC simultaneously influence ROA. Partially. CSR and GCG have no significant effect on ROA, while IC has a significant positive effect. This finding confirms that Intellectual Capital plays a significant role in improving financial performance, while CSR and GCG have not provided a significant direct contribution. This study implies that companies need to optimize IC management while strengthening CSR and GCG practices to support sustainable performance. Keywords: Corporate Social Responsibility. Good Corporate Governance. Intellectual Capital. Return on Assets. Financial Performance Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR). Good Corporate Governance (GCG), dan Intellectual Capital (IC) terhadap kinerja keuangan yang diproksikan dengan Return on Assets (ROA). Objek penelitian adalah perusahaan manufaktur subsektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2021Ae2023. Sampel terdiri dari 22 perusahaan yang ditentukan melalui purposive sampling, dengan total 66 observasi. Analisis data menggunakan pendekatan kuantitatif melalui regresi linier berganda dengan bantuan SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan CSR. GCG, dan IC berpengaruh terhadap ROA. Secara parsial. CSR dan GCG tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA, sedangkan IC berpengaruh positif signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa Intellectual Capital memiliki peran penting dalam meningkatkan kinerja keuangan, sementara CSR dan GCG belum memberikan kontribusi langsung yang signifikan. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa perusahaan perlu mengoptimalkan pengelolaan IC disertai penguatan praktik CSR dan GCG guna mendukung kinerja berkelanjutan. Kata Kunci: Corporate Social Responsibility. Good Corporate Governance. Intellectual Capital. Return on Assets. Kinerja Keuangan Naskah Masuk 19 Agustus , 2025. Revisi 21 Agustus, 2025. Di terima 27 Agustus , 2025. Tersedia 30 Agustus, 2025 Ariyanto Adi Santoso dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 53 Ae 61 PENDAHULUAN Perusahaan manufaktur, khususnya subsektor makanan dan minuman, merupakan salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Sektor ini tidak hanya berkontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja, tetapi juga berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan dasar Namun, industri ini menghadapi tantangan berupa persaingan ketat, perubahan preferensi konsumen, serta meningkatnya tuntutan pemangku kepentingan. Dalam situasi tersebut, kinerja keuangan menjadi indikator utama untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya secara efektif dan menjaga keberlanjutan usaha. Dalam dekade terakhir, faktor non-keuangan seperti Corporate Social Responsibility (CSR). Good Corporate Governance (GCG), dan Intellectual Capital (IC) semakin mendapat perhatian sebagai penentu kinerja perusahaan. CSR mencerminkan tanggung jawab sosial dan lingkungan. GCG memastikan transparansi dan akuntabilitas, sementara IC menjadi sumber daya strategis berbasis pengetahuan yang mampu menciptakan keunggulan kompetitif berkelanjutan. Meski secara teori ketiganya diyakini memengaruhi kinerja keuangan, hasil penelitian sebelumnya masih menunjukkan temuan yang beragam. Sebagian studi menemukan pengaruh signifikan, sementara lainnya tidak konsisten bahkan kontradiktif. Kesenjangan hasil penelitian ini membuka ruang untuk kajian lebih lanjut, khususnya pada subsektor makanan dan minuman. Industri ini sangat bergantung pada kepercayaan konsumen, inovasi produk, serta efisiensi rantai pasok, sehingga implementasi CSR. GCG, dan pengelolaan IC berpotensi memiliki dampak yang berbeda dibandingkan sektor lain. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk memberikan bukti empiris mengenai bagaimana CSR. GCG, dan IC berkontribusi terhadap kinerja keuangan pada subsektor makanan dan minuman di Indonesia. TINJAUAN PUSTAKA Teori agensi mendeskripsikan hubungan antara prinsipal dan agen, yang mana prinsipal melimpahkan wewenang membuat keputusan pada agen dengan imbalan agen tersebut melakukan layanan atas nama prinsipal, yang umumnya disebut sebagai hubungan keagengan (Jensen & Meckling, 1. Dalam kerangka ini, prinsipal bertindak sebagai otoritas yang menetapkan tujuan strategis dan menyediakan sumber daya, sementara agen bertugas mengimplementasikan tujuan-tujuan tersebut dalam kegiatan Pendelegasian wewenang pengambilan keputusan ini biasanya dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan memanfaatkan keahlian agen, tetapi juga menimbulkan risiko konflik kepentingan jika tujuan kedua belah pihak tidak sepenuhnya selaras. Teori ini muncul ketika prinsipal menunjuk pihak lain untuk mengelola perusahaan. Oleh karena itu, prinsipal dan agen menempati dua kubu yang berbeda. Dengan demikian prinsipal harus menghindari campur tangan dalam tugas-tugas yang dilakukan oleh agen. Untuk melengkapi pandangan tersebut teori stakeholder menurut (Nur & Priantinah, 2. berpendapat bahwa keberlangsungan suatu perusahaan terletak pada pemenuhan kebutuhan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari investor, karyawan, supplier, karyawan hingga masyarakat setempat. Teori ini memposisikan CSR sebagai alat strategis untuk mempertahankan kepercayaan pemangku kepentingan perusahaan dalam jangka panjang. CSR atau Corporate Social Responsibility mencakup komitmen perusahaan dalam pengembangan ekonomi lewat kerja sama antara perusahaan, karyawan, keluarganya, masyarakat, maupun komunitas setempat guna memperbaiki kualitas hidup (Kusumadilaga, 2. Di Indonesia. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) menetapkan agar inisiatif CSR yang awalnya sifatnya sukarela bagi perusahaan menjadi suatu kewajiban yang dilakukan (Rahmawati, dkk. , 2. CSR merupakan bentuk keterlibatan dan tanggungjawab sosial perusahaan yang bertujuan untuk membantu mengatasi kelaparan, mengentaskan kemiskinan, serta memberikan dukungan pendidikan (Kast, 2. Demikian pula. GCG mengacu pada suatu tata kelola yang menetapkan relasi antara pihak-pihak yang memiliki hak dan kewajiban atas suatu perusahaan (Cadbury Committee, 1. GCG berfungsi sebagai struktur yang mengatur peran dewan komisaris, direksi, hingga pemegang saham, dengan menerapkan mekanisme pengecekan dan perimbangan wewenang untuk mencegah penyelewengan aset perusahaan melalui proses yang terbuka dan transparan dalam menetapkan tujuan, pencapaiannya, serta pengukuran kinerja (Dianawati & Fuadati, 2. Prinsip-prinsip GCG di Indonesia meliputi keterbukaan, pertanggungjawaban, responsibilitas, kemandirian, serta keadilan atau kesetaraan, yang semuanya dimaksudkan untuk memastikan proses pembuatan keputusan yang transparan, manajemen yang efektif serta efisien, kepatuhan terhadap hukum yang berlaku, dan perlakuan yang adil terhadap semua pemangku Keberhasilan penerapan GCG dalam suatu perusahaan dapat tercermin melalui beberapa JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 53 - 61 Ariyanto Adi Santoso dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 53 Ae 61 indikator utama, termasuk perlindungan hak pemegang saham, pemberian keadilan kepada seluruh pemegang saham, peran aktif dan keterlibatan pemangku kepentingan, kejelasan dan keterbukaan informasi perusahaan . , dan akuntabilitas dewan direksi dalam memenuhi tugas dan kewajibannya. Elemen-elemen ini bekerja sama untuk menciptakan kerangka tata kelola yang menumbuhkan kepercayaan, meminimalkan konflik kepentingan, dan mendorong keberlanjutan perusahaan jangka panjang. Intellectual Capital (IC) mengacu pada aset tak berwujud perusahaan yang berperan penting dalam meningkatkan kinerja keseluruhan, memperkuat posisi kompetitif, dan meningkatkan kesejahteraan jangka Aset-aset ini yang seringkali mencakup pengetahuan, keahlian, inovasi, dan proses organisasi sering kali berperan sebagai faktor penentu dalam mendorong profitabilitas. Dengan memanfaatkan IC secara efektif, perusahaan dapat mendorong inovasi, menyederhanakan operasi, dan menciptakan proposisi nilai unik yang sulit ditiru oleh pesaing, yang berkontribusi pada kesuksesan dan pertumbuhan IC merupakan perbedaan antara nilai pasar suatu perusahaan dengan nilai buku aset keuangan perusahaan tersebut, yang mencakup pengetahuan, informasi, inovasi, dan pengalaman intelektual yang memberikan keunggulan dan menciptakan nilai tambah bagi perusahaan (Stewart, dalam Sangkala, 2. Metode Value Added Intellectual Coefficient (VAICE) mengevaluasi kinerja IC melalui indikator-indikator seperti capital employed, human capital, serta structural capital. Selaras dengan pendapat ulum . menyatakan bahwa alat untuk mengevaluasi IC dapat menggunakan VAICE. Kinerja keuangan sendiri merupakan gambaran tingkat pencapaian perusahaan dalam mencapai tujuan strategis yang telah diatur dalam perencanaan strategis perusahaan (Wahyuningsih & Widowati, 2. Return on Assets (ROA) merupakan metrik yang sering diterapkan pada riset manufaktur. Metrik ini memberikan informasi tentang tingkat efisiensi suatu perusahaan memanfaatkan aset yang tersedia untuk menciptakan laba bersih. Nilai ROA yang tinggi umumnya menunjukkan bahwa sumber daya perusahaan digunakan secara produktif dan tepat sasaran, sementara nilai yang rendah dapat menunjukkan potensi yang belum dimanfaatkan atau struktur yang tidak efisien. Oleh karena itu, metrik ini tidak hanya berfungsi sebagai indikator kinerja ekonomi saat ini, tetapi juga sebagai panduan untuk keputusan manajemen ROA yang lebih tinggi umumnya menandakan efektivitas operasional dan manajerial yang lebih Sejalan dengan pendapat Kinanti . ROA bisa dijadikan ukuran kinerja keuangan perusahaan. Studi sebelumnya tidak menunjukkan temuan mengenai apakah CSR. GCG, dan IC secara konsisten meningkatkan kinerja keuangan yang di ukur melalui ROA. Meskipun beberapa studi menjelaskan bahwa IC dan CSR secara posirif memengaruhi kinerja perusahaan (Retno & Mulia, 2. , studi-studi lain hanya menemukan efek parsial. GCG berpengaruh dan CSR tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan (Yudistira & Adinda, 2. Perbedaan-perbedaan ini menyoroti pentingnya mengkaji ulang hubunganhubungan ini dalam sektor dan periode tertentu, khususnya dalam industri manufaktur makanan dan minuman Indonesia. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Populasi penelitian adalah perusahaan manufaktur subsektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2021Ae2023. Penentuan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling berdasarkan kriteria: perusahaan terdaftar secara konsisten di BEI selama periode penelitian, . menerbitkan laporan tahunan lengkap, dan . mengungkapkan data CSR. GCG, dan IC. Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh 22 perusahaan sebagai sampel dengan total 66 observasi. Data penelitian berupa laporan tahunan yang diakses dari situs resmi BEI. Definisi Operasional Variabel Definisi operasional variabel penelitian adalah sebagai berikut: Kinerja Keuangan (ROA) Diproksikan dengan Return on Assets (ROA), yaitu: (Fahmi, 2. Pengaruh Corporate Social Responsibility. Good Corporate Governance. Intellectual Capital Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Sub Industri Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2021-2. (Ariyanto Adi Santos. Ariyanto Adi Santoso dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 53 Ae 61 Corporate Social Responsibility (CSR) CSR diukur dengan indeks pengungkapan CSR berdasarkan pedoman Global Reporting Initiative (GRI), meliputi aspek lingkungan, ketenagakerjaan, produk & konsumen, serta keterlibatan sosial. Skor 1 diberikan jika item diungkapkan, dan 0 jika tidak, kemudian dijumlahkan dan dibagi total item (Wibisono, 2007. Kusumadilaga, 2. Good Corporate Governance (GCG) GCG diukur dengan membangun Corporate Governance Index (CGI) berdasarkan empat indikator utama: Kepemilikan Institusional (INST) = Jumlah saham institusional y Total saham beredar Kepemilikan Manajerial (MOWN) = Jumlah saham manajemen y Total saham beredar Dewan Komisaris Independen (INDCOM) = Jumlah komisaris independen y Total dewan komisaris Komite Audit (AUDCOM) = Jumlah anggota komite audit Rumus indeks: CGI=INST MOWN INDCOM AUDCOMCGI=INST MOWN INDCOM AUDCOMCGI=INST MO WN INDCOM AUDCOM (Cadbury Committee, 1992. FCGI, 2. Intellectual Capital (IC)Diukur dengan metode Value Added Intellectual Coefficient (VAICE) (Pulic. Ulum, 2. VAIC=HCE SCE CEEVAIC = HCE SCE CEEVAIC=HCE SCE CEE HCE (Human Capital Efficienc. = VA y HC SCE (Structural Capital Efficienc. = SC y VA CEE (Capital Employed Efficienc. = VA y CE Keterangan: VA = Value Added. HC = Human Capital. SC = Structural Capital. CE = Capital Employed. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Gambar 1. Hasil Uji Normalitas Gambar di atas menunjukkan nilai signifikansi Monte Carlo sig, . -taile. sejumlah 0,158, yang melebihi 0,05. Hal ini menjelaskan bahwa data terdistribusi dengan normal. Dengan demikian, data tersebut memenuhi persyaratan normalitas, yang berarti penerapan uji parametrik tambahan dapat dibenarkan secara JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 53 - 61 Ariyanto Adi Santoso dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 53 Ae 61 Gambar 2. Uji Multikolineritas Berdasarkan gambar 2, dapat di analisi sebagai berikut: Nilai tolerance CSR sebesar 0,766 dan VIF 1,305 Nilai tolerance GCG seebsar 0,796 dan VIF sebesar 1,256 Nilai tolerance IC sebesar 0,953 dan VIF 1,050 Ketiga variabel tersebut masing-masing mendapatkan nilai tolerance di atas 0,10 serta nilai VIF di bawah 10, dengan demikian model regresi tidak mengalami multikolinearitas. Gambar 3. Uji Heteroskedastisitas Sebagaimana ditunjukkan pada gambar di atas, nilai signifikansi semua variabel yang diteliti berada di atas ambang batas 0,05, yaitu 0,252 untuk CSR, 0,328 untuk GCG, dan 0,140 untuk IC. Hasil ini menunjukkan tidak adanya heteroskedastisitas dalam model regresi ini. Dengan kata lain, varians residual relatif konstan di semua nilai variabel independen, sehingga memenuhi asumsi homoskedastisitas dan menjamin reliabilitas hasil pengukuran statistik. Pengaruh Corporate Social Responsibility. Good Corporate Governance. Intellectual Capital Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Sub Industri Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2021-2. (Ariyanto Adi Santos. Ariyanto Adi Santoso dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 53 Ae 61 Gambar 4. Uji Autokorelasi Berdasarkan hasil uji, nilai Durbin-Watson ditetapkan sejumlah 1,851. Nilai ini terdapat pada rentang yang dapat diterima antara 1,5 dan 2,5, yang mengindikasikan tidak ada permasalahn autokorelasi pada model Ini berarti residual sebagian besar independen satu sama lain dan tidak terdapat ketergantungan sistematis antar observasi yang berurutan, sehingga memenuhi persyaratan analisis regresi yang valid. Gambar 5. Uji Koefisien Determinasi Berdasarkan gambar di atas, nilai R Square yaitu 0,312 berarti bahwa 31,2% variasi perubahan Return on Assets (ROA) mampu diterangkan dari variabel independen, yaitu Corporate Social Responsibility (CSR). Good Corporate Governance (GCG), serta Intellectual Capital (IC) secara simultan. Sementara sisanya yaitu 68,8%, dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak berada pada model penelitian ini. Gambar 6. Uji F Berdasarkan gambar di atas, nilai Fcount pada hasil uji ANOVA diketahui 9. 369 dengan nilai signifikansi (Sig. ) 0. 001 (< 0. Hal ini mengindikasikan bahwa secara simultan, variabel CSR. GCG, serta IC secara signifikan memberikan pengaruh terhadap kinerja keuangan. JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 53 - 61 Ariyanto Adi Santoso dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 53 Ae 61 Gambar 7. Uji T Berdasarkan gambar uji t di atas, nilai signifikansi setiap variabel yaitu sebagai berikut: CSR 0,914 . > 0,. GCG 0,792 . > 0,. , dan IC 0,000 . < 0,. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa secara parsial. CSR dan GCG tidak signifikan memengaruhi kinerja keuangan, sementara IC secara signifikan memengaruhi kinerja keuangan. 2 Pembahasan Hasil pengujian regresi menunjukkan bahwa secara simultan CSR. GCG, dan IC berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan (ROA). Namun secara parsial, hanya IC yang berpengaruh signifikan, sedangkan CSR dan GCG tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Hasil uji t untuk CSR . = 0,109. Sig. = 0,. menegaskan bahwa CSR tidak memberikan efek parsial terhadap ROA. Temuan ini selaras dengan penelitian Yudistira & Adinda . dan Allan dkk. yang menyatakan bahwa kontribusi CSR terhadap kinerja keuangan tidak selalu signifikan karena berbagai faktor, seperti biaya yang tinggi dengan hasil tidak pasti, inisiatif yang tidak tepat sasaran, hingga hubungan sebab-akibat yang ambigu. Meskipun secara teoritis CSR diyakini dapat meningkatkan reputasi, loyalitas pelanggan, dan inovasi, implementasi yang kurang efektif membuat manfaatnya tidak langsung tercermin dalam profitabilitas. Hal ini juga sejalan dengan Kusumadilaga . yang menemukan bahwa dampak CSR lebih bersifat jangka panjang. Hasil uji t pada GCG . = -0,265. Sig. = 0,. juga menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan terhadap ROA. Kondisi ini mendukung penelitian Anggreini & Hariyanto . , bahwa perbaikan tata kelola saja tidak cukup meningkatkan profitabilitas tanpa keunggulan operasional yang mendukung. Bahkan dalam praktiknya, adanya asimetri informasi dapat membuka peluang manajemen laba yang justru bertentangan dengan prinsip-prinsip GCG. Dengan demikian, penerapan GCG tidak serta-merta meningkatkan kinerja keuangan jika tidak disertai praktik manajerial yang sehat. Sebaliknya. Intellectual Capital (IC) terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap ROA . = 5,143. Sig. = 0,. Hasil ini memperkuat pandangan Pulic . Ulum . , dan Subiyanto . bahwa IC merupakan aset strategis yang mampu meningkatkan efisiensi, inovasi, dan keunggulan kompetitif Perusahaan yang mampu mengoptimalkan human capital, structural capital, dan relational capital lebih adaptif terhadap dinamika pasar serta mampu menjaga profitabilitas jangka panjang. Temuan ini memberikan pesan penting bagi pengelola perusahaan dan investor. Bagi manajer, fokus pada penguatan human capital (SDM terampi. , structural capital . istem & inovas. , dan relational capital . aringan dengan pemasok & pelangga. akan lebih efektif mendorong kinerja keuangan jangka pendek. Sementara CSR dan GCG tetap penting, namun berperan lebih sebagai investasi reputasi dan keberlanjutan jangka panjang. Bagi investor. IC dapat dijadikan indikator utama dalam menilai prospek perusahaan subsektor makanan dan minuman, karena terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap profitabilitas. Investor sebaiknya lebih cermat menilai efisiensi pengelolaan modal intelektual daripada hanya berfokus pada laporan CSR dan praktik GCG formal. Pengaruh Corporate Social Responsibility. Good Corporate Governance. Intellectual Capital Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Sub Industri Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2021-2. (Ariyanto Adi Santos. Ariyanto Adi Santoso dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 53 Ae 61 Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa Intellectual Capital merupakan faktor kunci dalam meningkatkan profitabilitas perusahaan subsektor makanan dan minuman, sedangkan CSR dan GCG lebih berfungsi mendukung keberlanjutan jangka panjang dibandingkan meningkatkan kinerja keuangan secara KESIMPULAN DAN SARAN Hasil studi ini menunjukkan bahwa Corporate Social Responsibility (CSR). Good Corporate Governance (GCG), dan Intellectual Capital (IC), secara semultan memiliki dampak signifikan pada kinerja keuangan perusahaan manufaktur makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) antara tahun 2021 dan 2023. Namun, jika masing-masing variabel dikaji secara terpisah atau parsial, terlihat bahwa baik CSR maupun GCG tidak memiliki dampak yang signifikan secara statistik. Sebaliknya. IC menunjukkan hubungan yang positif serta signifikan dengan ROA, yang memperlihatkan bahwa efisiensi penggunaan sumber daya tak berwujud berperan penting dalam profitabilitas perusahaan-perusahaan tersebut. Berdasarkan temuan ini, direkomendasikan agar perusahaan lebih menekankan pengembangan dan pemanfaatan strategis modal intelektual atau IC, sekaligus mempertahankan praktik tata kelola perusahaan yang kuat (GCG) serta inisiatif CSR yang kuat untuk memastikan kinerja bisnis yang berkelanjutan. Cakupan penelitian ini terbatas karena periode observasi yang relatif singkat, hanya tiga tahun . 1Ae Oleh karena itu, penelitian pada masa mendatang bisa memperluas cakupannya untuk memasukkan sektor industri lainnya, memperluas periode pengamatan untuk menangkap tren jangka panjang, dan memasukkan indikator kinerja tambahan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang keterkaitan antara CSR. GCG. IC, dan hasil keuangan perusahaan. DAFTAR PUSTAKA