ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 Analisis Penyuluhan Sistem Tanam Jajar Legowo Kelompok Tani Ngudi Lancar Desa Singasari Kabupaten Banyumas Analysis of Extension of Jajar Legowo Planting System of Farmer Group Ngudi Lancar Singasari Village Banyumas District Aziz Yulianto1*. Leonard Dharmawan2. Agief Julio Pratama1,3 Program Studi Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian Program Studi Komunikasi Digital dan Media Pusat Studi Agraria. IPB University Sekolah Vokasi. Babakan. Kecamatan Bogor Tengah. Kota Bogor. Jawa Barat, 16128. Indonesia Email korespondensi: azizyuliantoaziz@apps. Diterima: 20-08-2024 Direvisi akhir: 29-11 2024 Disetujui terbit: 30-11- 2024 ABSTRACT Rice (Oryza sativa L. ) is one of the most important staple food crops for the people of Indonesia. The community has a high demand for rice. Increasing productivity requires encouragement of technological innovation such as cultivation methods, superior varieties, use of certified seeds. HPT control, regulation of plant populations, and improvement of plant nutrient management. Extension workers in this case play a role in guiding and teaching farmers about technology and the legowo planting system so that they are able to adopt and implement the system. The purpose of this study was to describe the characteristics of farmers in the Ngudi Lancar Farmer Group. Singasari Village, describe the course of extension and obstacles related to rice productivity in Singasari Village, identify improvements in knowledge and attitudes after the extension of the legowo planting system was carried out. This research was conducted at the Ngudi Lancar Farmer Group. Singasari Village. Karanglewas District. Banyumas Regency. Central Java. Activities were carried out from August 2023 - December 2023. Data were collected through observation, focus group discussions, interviews, and questionnaires with an ordinal scale of 1-4. The results of the study showed that members of the farmer group were adults with 53% elementary school education, with an average work experience of 10-20 years. Farmers' knowledge of the jajar legowo planting system increased by 11. The increase in attitudes towards the jajar legowo planting system was 10. The factors that influence the delivery of innovation consist of farmer characteristics, media, farmer perspectives, and planting workers. Keywords: Behaviour, farmers, jajar legowo, knowledge, rice ABSTRAK Padi (Oryza sativa L. ) menjadi salah satu tanaman penghasil makanan pokok paling penting saat ini bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat memiliki permintaan yang tinggi untuk kebutuhan beras. Peningkatan produktivitas memerlukan adanya dorongan inovasi teknologi seperti cara budidaya, varietas yang unggul, penggunaan benih bersertifikat, pengendalian HPT, pengaturan populasi tanam, dan perbaikan pengelolaan unsur hara tanaman. Penyuluh dalam hal ini berperan guna membimbing serta mengajarkan petani terkait teknologi dan sistem tanam jajar legowo sehingga mampu mengadopsi dan menerapkan sistem tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah menguraikan karakteristik petani di Kelompok Tani Ngudi Lancar Desa Singasari, mendeskripsikan jalannya penyuluhan dan kendala terkait produktivitas padi di Desa Singasari, mengidentifikasi peningkatan pengetahuan dan sikap setelah dilaksanakannya penyuluhan terhadap sistem tanam jajar legowo. Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok Tani Ngudi Lancar. Desa Singasari. Kecamatan Karanglewas. Kabupaten Banyumas. Jawa Tengah. Kegiatan dilaksanakan dari bulan Agustus - Desember 2023. Data dikumpulkan melalui observasi, focus group discussion, wawancara, dan kuesioner dengan skala ordinal 1-4 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa anggota kelompok tani adalah orang dewasa dengan pendidikan 53% tingkat SD, rata-rata pengalaman kerja 10-20 tahun. Pengetahuan petani mengenai sistem tanam jajar legowo meningkat sebanyak 11,3%. Peningkatan sikap terhadap sistem tanam jajar legowo senilai 10,4%. Adapun faktor yang mempengaruhi penyampaian inovasi terdiri atas karakteristik petani, media, perspektif petani, dan tenaga tanam. Keywords: Perilaku, petani, jajar legowo, pengetahuan, nasi Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 PENDAHULUAN Sebagai negara agraris, pertanian pembangunan negara. Pada umumnya masyarakat Indonesia menjadikan sebagai sumber penghasil makanan bagi masyarakat. Saat ini Sektor pertanian menjadi salah satu sumber devisa utama negara. Karena sebagian besar wilayah Indonesia berada di wilayah tropis yang langsung dipengaruhi oleh garis khatulistiwa, sebagian besar pertanian yang ada di negara ini adalah tropika atau tropis. Padi (Oryza sativa L. ) menjadi salah satu tanaman penghasil makanan pokok paling penting saat ini bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat memiliki permintaan yang tinggi untuk kebutuhan beras. Permasalahan yang sering terjadi di lapangan adalah penurunan produksi dan produktivitas budidaya padi. Luas panen di Indonesia pada tahun 2019 mengalami penurunan sebanyak 700,05 ribu ha atau 6,15% dari tahun 2018. Pada tahun 2019 terdapat 10,68 juta ha. Pada tahun 2020 terjadi penurunan sebesar 0,19% dari yang sebelumnya 10,68 juta ha menjadi 10,66 juta ha pada tahun 2021 Indonesia kembali terjadi penurunan luas panen sebanyak 2,3% dari tahun sebelumnya dan hanya seluas 10,41 juta ha. Pada 2022 terjadi kenaikan luas panen sebanyak 0,39% menjadi 10,45 juta ha (BPS, 2. Luas panen di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2023 memiliki total luasan hingga 1,64 Hal mengindikasikan adanya penurunan luas total panen karena pada tahun 2022 di Provinsi Jawa Tengah mempunyai luas panen hingga 1,69 juta hektare. Penurunan yang terjadi mencapai angka 2,68% (BPS. Kabupaten Banyumas pada 2022 memiliki luasan panen padi hingga 52,17 ha dan menurun pada 2023 yang hanya 51,274ha. Terjadi penurunan sebesar 0,894 Persentase penurunan luas panen padi di mencapai 1,71% (BPS, 2. Peningkatan produktivitas memerlukan adanya dorongan inovasi teknologi seperti cara budidaya, varietas yang unggul, pengendalian HPT, pengaturan populasi tanam, dan perbaikan pengelolaan unsur hara tanaman (Wahyuni, 2. Produktivitas merupakan rasio output terhadap input sumber daya yang digunakan dan dapat juga diartikan sebagai rasio antara output terhadap input sumber daya yang dipakai (Yuriansyah et al. , 2. Untuk mengadopsi suatu inovasi, diperlukan jangka waktu tertentu dari mulai seseorang mengetahui sesuatu yang baru hingga terjadi adopsi. Adianto . Inovasi pertanian berperan penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian saat memberikan peluang dalam meningkatkan kesejahteraan hidup (Fatchiya et al. , 2. Proses penyuluhan yang terjadi diharapkan menjadi penerimaan dari suatu inovasi yang disebut adopsi. Inovasi dapat disebut sesuatu yang baru oleh petani yang dapat berwujud suatu teknik atau produk. Penerimaan dalam hal tersebut mengandung arti tidak hanya mengetahui tetapi sampai dapat melaksanakan dan juga menerapkan dengan baik serta selalu diterapkan dalam usaha tani padi. Jika teknologi produksi padi yang diajarkan penyuluh dapat diterapkan oleh petani maka akan terjadi peningkatan produksi padi (Latif et al. , 2. Penyuluh dalam hal ini berperan guna membimbing serta mengajarkan petani terkait teknologi dan sistem tanam jajar legowo sehingga mampu mengadopsi dan menerapkan sistem ini. Jajar legowo adalah metode tanam padi yang dikembangkan dengan mengubah jarak tanam. Peningkatan produksi padi dengan menggunakan sistem ini telah terbukti dibandingkan dengan sistem tradisional (Hiola & Indriana, 2. Sistem jajar legowo sangat perlu untuk diajarkan kepada para petani. Keunggulan sistem jajar legowo antara lain: . semua baris tanaman padi berada di pinggir yang pada umumnya memberikan hasil panen Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 yang lebih baik. dengan adanya barisan yang kosong maka untuk membersihkan gulma dan mengobati hama dan penyakit menjadi lebih mudah, . pengendalian air menjadi lebih optimal karena adanya ruang yang kosong, dan . pengaplikasian pupuk menjadi lebih tepat sasaran dan efektif (Simatupang et al. , 2. Tujuan dari penelitian ini adalah menguraikan karakteristik petani di Kelompok Tani Ngudi Lancar Desa Singasari. mendeskripsikan jalannya penyuluhan dan kendala terkait produktivitas padi di Desa Singasari. mengidentifikasi peningkatan sistem tanam jajar legowo. faktor yang mempengaruhi distribusi inovasi pada kegiatan penyuluhan. METODE PENELITIAN Tempat. Waktu. Populasi dan Sampel Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kelompok Tani Ngudi Lancar. Desa Singasari. Kecamatan Karanglewas. Kabupaten Banyumas. Jawa Tengah. Kegiatan dilaksanakan dari bulan Agustus 2023 Desember 2023. Waktu pelaksanaan kegiatan sesuai dengan kegiatan di Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Karanglewas. Populasi dalam penelitian yang dilakukan merupakan anggota yang tergabung dalam Kelompok Tani Ngudi Lancar. Anggota kelompok tani tersebut berjumlah 117 orang. Pada penelitian ini, sampel sebanyak tiga puluh orang diambil menggunakan metode sampling purposive atau berdasarkan pertimbangan Petani setempat memiliki karakteristik yang relatif sama dalam hal komoditas yang ditanam dan masalah yang dihadapi, dan mereka bekerja sama dengan baik dan sering berbagi informasi. Ini adalah dasar dari Untuk memastikan bahwa data tidak bias, sebanyak tiga puluh sampel mewakili populasi yang Pengumpulan Data Metode pengumpulan data diperoleh FGD, wawancara, dokumentasi. Observasi Observasi memperhatikan secara akurat, mencatat mempertimbangkan hubungan antar aspek dari fenomena tersebut. Observasi merupakan metode pengumpulan data esensial dalam penelitian kualitatif. Agar data akurat dan bermanfaat, observasi harus dilakukan oleh peneliti yang sudah melewati latihan-latihan yang memadai serta telah mengadakan persiapan yang teliti dan lengkap (Setyasari et , 2. Observasi dilakukan untuk pengenalan Desa Singasari dan Kelompok Tani Ngudi Lancar. FGD (Focus Group Discussio. FGD merupakan bentuk diskusi yang didesain untuk memunculkan informasi mengenai keinginan, kebutuhan, sudut pandang. FGD mengumpulkan data mengenai persepsi dan (Paramita dan Kristiana, 2. FGD dilakukan bersama penyuluh dan ketua Kelompok Tani Ngudi Lancar. Wawancara Wawancara merupakan bentuk pengumpulan data yang sering digunakan dalam penelitian Wawancara pada penelitian kualitatif memiliki sedikit perbedaan dibandingkan dengan wawancara lainnya. Wawancara pada penelitian kualitatif merupakan pembicaraan yang mempunyai tujuan dan didahului beberapa pertanyaan informal, peneliti cenderung mengarahkan wawancara pada penemuan perasaan, persepsi, dan pemikiran partisipan (Rachmawati, 2. Wawancara dilakukan dengan penyuluh pertanian, kepala Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 desa, sekretaris desa, dan ketua Kelompok Tani untuk mengetahui profil desa dan kelompok tani serta sejarah kelompok tani. Kuesioner Kuesioner yang diberikan kepada sasaran berupa pengisian identitas, pengetahuan terhadap sistem tanam jajar legowo, dan sikap sasaran setelah dilakukan penyuluhan. Responden dari kuesioner adalah pengurus dan anggota Kelompok Tani Ngudi Lancar. Pertanyaan tertutup dibuat menggunakan skala Ordinal. Penelitian terkait pengetahuan petani sebagai subjek penelitian dilakukan dengan memberikan pernyataan dan pertanyaan benar atau salah, hasil penelitian akan disajikan data baik dan kurang baik. Penelitian terkait sikap petani terhadap penyuluhan menggunakan Skala Ordinal 1 Ae 4. Pada skala ordinal, angka menunjukkan bahwa respon dari Kategori 26 Ae 35 36 Ae 45 46 Ae 55 Ou 55 Total SMP SMA Perguruan Tinggi Total HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi karakteristik petani Karakteristik berdasarkan Usia Umur adalah keterangan berupa ukuran lama hidup seseorang dihitung sejak tahun kelahiran hingga proyek akhir dilakukan. Kategori umur dibagi menjadi dewasa awal . -35 tahu. , dewasa tengah . -45 tahu. , dewasa akhir . -55 tahu. , dan lanjut usia (Ou 55 tahu. Jumlah dan persentase umur Kelompok Tani Ngudi Lancar Desa Singasari Kabupaten Banyumas terdapat pada Tabel 1. Tabel 1. Umur petani Jumlah Usia mayoritas petani di kelompok Tani Ngudi Lancar masuk pada kategori dewasa akhir sebanyak 14 orang, diikuti petani yang masuk kategori lanjut usia sebayak 12 orang. Petani dengan kategori dewasa tengah hanya 3 orang, dan dewasa awal hanya 1 orang. Karakteristik berdasarkan pendidikan Pendidikan mendapatkan pengetahuan secara formal. Pelaksanaan pendidikan di Indonesia memiliki program wajib belajar 12 tahun. Tujuan dari program tersebut diharapkan mendongkrak Kategori responden sangat tidak setuju terhadap pertanyaan atau pertanyaan, sedangkan angka 4 . menunjukkan respon sangat setuju. Untuk pertanyaan atau pernyataan negatif akan dilakukan penilaian sebaliknya. Persentase (%) tingkat pendidikan di usia kerja. pendidikan merupakan pendidikan terakhir yang diemban oleh responden. Tingkat pendidikan dibagi menjadi Pendidikan SD. SMP. SMA, dan perguruan tinggi. Kategori tingkat pendidikan dibagi menjadi rendah dan Rendah meliputi pendidikan SD dan SMP, sedangkan tinggi meliputi SMA dan perguruan tinggi. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan terdapat pada Tabel 2. Tabel 2. Tingkat pendidikan Jumlah Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp Persentase (%) ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan Kelompok Tani Ngudi Lancar Desa Singasari Mayoritas petani di Kelompok Tani Ngudi Lancar masuk dalam kategori rendah dengan jumlah 73%. Petani yang memiliki tingkat pendidikan yang termasuk pada kategori tinggi sejumlah 8%. Kategori > 20 10 Ae 20 < 10 Tabel 3. Pengalaman bertani Jumlah Petani yang memiliki lama bertani masuk dalam kategori sedang menjadi mayoritas di Kelompok Tani Ngudi Lancar, sedangkan petani lama sekitar 33,3%. Petani yang masuk dalam kategori baru hanya sekitar 3,3% dan menjadi minoritas di Kelompok tani Ngudi Lancar. Kegiatan Penyuluhan Sistem Tanam Jajar Legowo Tahap dari kegiatan penyuluhan pola tanam jajar legowo terdiri atas FGD (Focus Group Discussio. FGD mengetahui permasalahan yang terjadi dalam dinamika kelompok terkait budidaya tanaman Pelaksanaan penyuluhan dilakukan untuk distribusi informasi dan inovasi kepada petani Kelompok Tani Ngudi Lancar Desa Singasari Kecamatan Karanglewas. Kegiatan FGD pertama pada 10 Oktober 2023 dilaksanakan bersama Sekretaris Desa Singasari. Kegiatan tersebut untuk mengetahui potensi yang ada di Desa Singasari. Pada kegiatan FGD didapatkan data monografi Desa Singasari terkait profil desa, sejarah desa, keadaan umum desa, keadaan geografis desa, serta keadaan demografi desa. Kegiatan penyuluhan sistem tanam jajar legowo diawali dengan FGD yang membahas permasalahan produktivitas lahan yang ada di Desa Singasari. Karakteristik berdasarkan pengalaman Pengalaman bertani adalah tingkat lama petani melakukan usaha tani. Menurut Manyamsari et al. , . , lama bertani dibagi menjadi 3 kategori yaitu kategori lama (> 20 tahu. , kategori sedang . ntara 10-20 tahu. , dan kategori baru (< 10 tahu. Pengalaman usaha tani pada Tabel 3. Persentase (%) Diskusi selanjutnya dilaksanakan pada 8 November 2023 berlokasi di aula Kantor Kepala Desa Singasari. FGD tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Singasari. Ketua Kelompok Tani Ngudi Lancar, penyuluh pertanian serta Permasalahan yang ditemukan terkait produktivitas dikarenakan terdapat kendala seperti hama musiman, seperti wereng dan penggerek batang padi serta kelangkaan pupuk anorganik subsidi. Sistem tanam jajar legowo dipilih sebagai alternatif lain di luar insektisida dan pupuk karena dapat meningkatkan produktivitas. Peningkatan produktivitas dapat terjadi karena dalam penggunaan sistem tanam jajar legowo dapat memberikan manfaat seperti peningkatan populasi, menekan hama dan penyakit, dan Kegiatan diskusi ditemukan permasalahan lain juga seperti belum adanya minat dalam menggunakan pola tanam jajar legowo, serta petani merasa bahwa penggunaan sistem tanam jajar legowo justru mengurangi produktivitas lahannya. FGD yang dilakukan juga membahas penyuluhan sistem tanam jajar legowo, hasil diskusi disepakati bahwa kegiatan akan dilaksankan bertepatan dengan kegiatan rapat rutin atau salapanan Kelompok Tani Ngudi Lancar pada tanggal 10 November 2023 Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 berlokasi di kediaman salah satu anggota Kelompok Tani Ngudi Lancar. Pada 10 November 2023, penyuluhan sistem tanam jajar legowo dilaksanan. Sekretaris Kelompok Tani Ngudi Lancar memimpin penyuluhan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan petani dan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam penggunaan sistem tanam jajar legowo. Kegiatan penyuluhan diawali dengan pengisian pretest yang disebarkan kepada seluruh anggota kelompok tani. Pretest yang diberikan merupakan 10 soal jawaban AuYaAy dan AuTidakAy yang terdiri 2 topik bahasan, yakni cara budidaya padi dan pengetahuan mengenai sistem tanam jajar legowo. Kegiatan selanjutnya dilakukan pemaparan materi, pemaparan menggunakan metode ceramah dengan menggunakan media powerpoint dan proyektor. Kegiatan pemaparan yang dilakukan oleh mahasiswa. Pemaparan materi dimulai dengan pengenalan pengertian jajar legowo yang sebelumnya ditanyakan kepada petani, sebelumnya ditanyakan secara lisan terkait mengetahui atau pernah mendengar istilah jajar Materi selanjutnya adalah tipe tipe jajar legowo yang terdiri atas jajar legowo 2:1 dan jajar legowo 4:1 tipe 1 dan 2. Materi terakhir yang diberikan adalah keuntungan atau kelebihan jajar legowo. Kegiatan setelahnya adalah berbagi pengalaman antar petani dengan penyuluh dan juga mahasiswa serta tanya jawab terkait sistem tanam jajar legowo. Kegiatan terakhir adalah posttest untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pengetahuan serta sikap petani Tingkat Pengetahuan dan Sikap terhadap Sistem Tanam Jajar Legowo Tingkat pengetahuan Pengetahuan yang menjadi fokus dalam pelaksanaan proyek akhir adalah tentang sistem tanam jajar legowo. Pengetahuan diidentifikasi dari pretest dan posttest yang diberikan kepada petani. dalam hal tersebut adalah anggota Kelompok Tani Ngudi Lancar Desa Singasari. Tingkat pengetahuan hasil dari pelaksanaan penyuluhan terdapat pada Gambar 1. Berpeluang bagi pengembangan sistem produksi padi-ikan . ina pad. atau parlebek . ombinasi padi, ikan, danA Dapat mempermudah dalam perawatan tanaman Dapat meningkatkan produktivitas padi hingga mencapai 10-15%. Apabila terdapat dua baris tanam per unit legowo maka disebut legowo 2:1, sementara jika empat baris tanamA Kebutuhan benih pada sistem jajar legowo lebih banyak dibandingkan sistem tanam tegel . Sebagai salah satu komponen PTT pada padi sawah yang apabila dibandingkan dengan sistem tanam lainnya Kelebihan dari teknik budidaya jajar legowo jumlah anakan lebih banyak bila dibandingkan dengan sistim tanam tegel Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dapat mengurangi kesuburan tanah Pemupukan dilakukan sesuai anjuran dari dinas pertanian setempat, baik dosis maupun teknis pemberian. Pengolahan dan pemupukan tanah sebelum penanaman Sebelum Penyuluhan (%) Sesudah Penyuluhan Gambar 1. Tingkat pengetahuan petani Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 Berdasarkan Gambar 1 di atas diketahui bahwa pengetahuan petani tentang jajar legowo meningkat. Dimana skor pengetahun sebelum dilakukan penyuluhan sebesar 77% menjadi 88,3%, yang artinya adanya peningkatan sebesar 11,3%. Dari seluruh aspek yang di ukur, pada umumnya mengalami pengingkatan setelah dilakukan Secara teknis petani sudah mengetahui terkait budidaya tanaman dengan sistem jajar legowo. Hanya saja pegetahuan petani tentang kebutuhan benih Petani menganggap kebutuhan benih dengan sistem tanam jajar legowo lebih sedikit dibandingkan dengan sistem tanam tegel. Namun menurut Suharno . , sistem tanam jajar legowo membutuhkan waktu, tenaga dan kebutuhan benih yang lebih banyak maka membutuhkan biaya lebih banyak dibandingkan dengan budidaya tanpa menggunakan sistem tanam jajar legowo. Hasil produksi lebih berkualitas dari sistem tanam tegel . Lebih baik dari sistem tanam tegel . Menyulitkan tenaga tanam* Meningkatkan produktivitas Dibutuhkan dalam penerapan sistem jajar legowo dalam Sikap Petani Tingkat Sikap menjadi tolak ukur dari langkah yang akan diambil oleh petani. Sikap yang diambil dari proyek akhir berdasarkan kemauan petani atau minat terhadap inovasi yang diberikan pada saat penyuluhan. Sikap petani terhadap sistem tanam jajar legowo hasil dari pelaksanaan penyuluhan terdapat pada Gambar 2. Memberi kemudahan petani dalam pengelolaan Sebelum Penyuluhan Sesudah penyuluhan Gambar 2. Tingkat sikap petani Berdasarkan Gambar 2 diketahui bahwa peningkatan sikap petani secara keseluruhan keseluruhan tidak terlalu signifikan, tetapi untuk tingkat kesulitan tanam naik secara drastis dari 45% menjadi 72% . ,5%). Petani berpendapat dengan menggunakan sistem tanam jajar leowo akan menajdikan proses tanam semakin lama, dan jika manambah tenaga kerja akan menambah jumlah biaya produksi petani. Menurut Irawan Besarnya biaya usahatani padi jajar legowo sebesar Rp 116. 496, dan biaya usahatani konvensional Rp 97. penerimaan usahatani jajar legowo sebesar Rp 352. 500 dan konvensional sebesar Rp 193. 000 pendapatan usahatani jajar legowo sebesar Rp. 004,- dan konvensional sebesar Rp 95. 054,- per satu kali musim tanam. Namun Teknik budidaya yang paling menguntungkan adalah Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 usahatani jajar legowo jika dilihat dari Faktor yang mempengaruhi distribusi inovasi pada kegiatan penyuluhan Tentang jajar Legowo Kelompok Tani Ngudi Lancar Berdasarkan sebelumnya, didapatkan keterkaitan dengan pengetahuan dan sikap yang diambil terhadap inovasi dalam penyuluhan yang Karakteristik yang memiliki keterkaitan antara lain umur, pendidikan terakhir, dan pengalaman bertani. Faktor lain juga ditemukan dalam penelitian juga didapatkan faktor lain diluar karakteristik petani seperti media penyuluhan, pola pikir petani, dan tenaga tanam. Umur anggota Kelompok Tani Ngudi Lancar dominan pada kategori dewasa akhir, sedangkan anggota yang termasuk kategori dewasa awal pada responden penelitian hanya ada 1 orang, hal tersebut mengartikan bahwa petani di Desa Singasari memiliki sedikit petani muda. Petani dengan usia produktif lebih bekerja dengan baik dibandingkan petani dalam usia non Perbedaan antara petani muda dan tua secara pola pikir yakni petani muda akan lebih mementingkan aspek kompetensi jiwa kewirausahaan, sedangkan petani berumur tua lebih mementingkan aspek kompetensi kombinasi cabang usaha (Manyamsari dan Mujiburrahmad, 2. Petani Kelompok Tani Ngudi Lancar walaupun terbilang produktif tetapi usia dari sebagian besar petaninya sudah tidak lagi muda. Adanya faktor usia tersebut mempengaruhi petani dalam mengadopsi inovasi tetapi tidak mengurangi kemampuan transfer pengetahuan atau teknologi baru, ditandai dengan peningkatan Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Manyamsari dan Mujiburrahmad . , petani seiring bertambahnya umur maka akan berubah cara pola pikirnya. Petani Ngudi Lancar dengan mayoritas pada usia dewasa akhir sehingga dalam penyaluran teknologi terbilang lambat. Petani di Kelompok Tani Ngudi Lancar terbiasa menggunakan cara tradisional akan lebih terbiasa dengan cara budidayanya walaupun memiliki keinginan untuk meningkatkan produktivitas budidaya tanaman padi. Petani Kelompok Tani Ngudi Lancar yang sudah nyaman dalam melakukan budidaya yang mengadopsi sistem tanam jajar legowo karena mereka merasa sulit untuk Berkaitan dengan kerumitan tersebut didukung dengan pernyataan Maramba . yang menyatakan bahwa petani yang memiliki umur yang semakin tua (>50 tahu. biasanya semakin lambat dalam mengadopsi pengetahuan baru atau inovasi baru yang disampaikan penyuluhan serta lebih condong hanya melakukan kegiatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat setempat sehari hari. Gusti et al. , . menyatakan bahwa petani yang lebih tua memiliki pemahaman inovasi terbaru yang relatif kurang, namun memiliki kelebihan dalam pengetahuan lahan. Tingkat pendidikan anggota Kelompok Tani diketahui mayoritas masuk dalam kategori rendah dengan jumlah 73%. Petani yang memiliki tingkat pendidikan kategori tinggi sejumlah 8%. Petani yang memiliki pendidikan yang tinggi memiliki tingkat pola pikir yang berbeda karena akan lebih terbuka serta lebih mudah menerima informasi yang baru berupa inovasi Petani yang memiliki tingkatan mempertahankan yang biasa dilakukan dan lebih sulit untuk menerima inovasi inovasi baru yang masuk. Anggota Kelompok Tani Ngudi Lancar walaupun memiliki usia pada kategori dewasa akhir, tetapi masih dapat mengikuti kegiatan penyuluhan dengan baik ditandai dengan peningkatan pengetahuan dan sikap terhadap minat sistem tanam jajar Hal tersebut berbanding terbalik dengan pernyataan Burano et al. , . Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 yang menyatakan bahwa faktor seperti pendidikan para petani sulit menerima inovasi-inovasi baru dan bertani dengan Pendidikan belajar, yang menanamkan pengertian sikap pembangunan praktik pertanian yang lebih modern (Maramba, 2. Mereka yang berpendidikan tinggi lebih cepat melakukan Begitu juga sebaliknya mereka yang melaksanakan adopsi dan inovasi. Menurut Gusti et al. , . , juga menyatakan bahwa petani dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi seringkali lebih berpikiran terbuka dalam menerima inovasi baru dan lebih cepat memahami penerapan teknologi baru untuk mampu mengembangkan dan Lama berpengaruh pada tingkat pengalaman serta kemampuan petani. Petani yang sudah lama dalam berkegiatan akan lebih selektif dan tepat dalam memilih jenis inovasi yang akan diterapkan dan akan lebih berhati-hati dalam proses pengambilan keputusan. Petani yang sudah lama dalam kegiatan pertanian dapat mengambil keputusan lebih cepat karena umumnya mereka akan mengambil risiko lebih besar (Aghata et al. , 2. Media pendorong penyebaran informasi sistem tanam jajar legowo. Proyek akhir tersebut menggunakan metode ceramah dan media berupa pemaparan informasi dengan Media audiovisual memiliki kaitan paling kuat dengan penyuluhan, hal tersebut ditandai dengan nilai pengetahuan petani sebelum dan sesudah penyuluhan didapat nilai signifikan (Pasaribu et al. , 2. Faktor lain yang berpengaruh terhadap adopsi inovasi sistem tanam jajar legowo yang diketahui dalam temuan penelitian yakni adanya perspektif petani terhadap sistem tanam jajar legowo dan sulitnya menemukan tenaga tanam yang memiliki kemauan untuk melakukan sistem tanam jajar legowo. Sejalan dengan pernyatan Hasan . , ketersediaan tenaga kerja dan keterbatasan modal dalam peningkatan produksi dan produktivitas tidak mudah untuk dipenuhi. Saat ini sudah terdapat tenaga kerja upah, tetapi petani masih tidak mudah memanfaatkan tenaga kerja harian secara penuh. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan uraian hasil penelitian dapat diambil kesimpulan berdasarkan rumusan masalah serta tujuan yang tertera, yakni: . Karakteristik Kelompok Tani Ngudi Lancar diketahui untuk umur didominasi oleh kategori dewasa akhir dengan umur antara 46 hingga 55 tahun, pendidikan diketahui bahwa anggota Kelompok Pendidikan Tani Ngudi Lancar didominasi oleh kategori rendah, dan pengalaman bertani antara 10 hingga 20 tahun yang termasuk dalam kategori sedang. Kendala dalam penyuluhan sistem tanam jajar legowo adalah pada pengetahuan petani yang masih menganggap sistem tanam jajar legowo sebagai inovasi yang rumit dan tidak berpengaruh pada budidaya tanaman padi. Kendala lain terdapat pada tenaga tanam yang kebanyakan tidak mau beralih dari sistem tanam tegel ke sistem tanam jajar Terdapat pengetahuan petani sebesar 11,3% dan sikap sebesar 14% terhadap sistem tanam jajar legowo. Dan . Faktor yang mempengaruhi adopsi inovasi jajar legowo pada penyuluhan Kelompok Tani Ngudi Lancar antara lain umur, tingkat pendidikan, dan pengalaman bertani, serta faktor yang yang menjadi temuan penelitian yakni media, perspektif petani dan kesulitan dalam mencari tenaga tanam. Setelah dilakukan penelitian ini maka disarankan penyuluhan selanjutnya perlu menggunakan media yang sesuai dengan komunitas, penyuluhan Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 dilakukan secara rutin untuk petani pemilik lahan dan tenaga tanam. Dilakukan praktek seperti demonstrasi plot dan bimbingan digunakannya system tanam jajar legowo. UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih kepada Pimpinan Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Karanglewas dan staff yang sudah memberikan saran dan bantuan selama penelitian berlangsung. Sekretaris Desa dan Ketua Kelompok Tani Ngudi Lancar Desa Singasari beserta anggota yang telah memberikan izin dan membantu jalannya kegiatan dan telah bersedia menjadi sasaran dan membantu jalannya kegiatan. DAFTAR PUSTAKA