PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 8 No. Oktober 2025 e-ISSN : 2622-6383 Pengaruh Job Demand Terhadap Psychological Wellbeing dengan Burnout Sebagai Variabel Mediasi: Studi Kasus Pada Karyawan Pabrik PT. Semen Padang Muhammad Ikhlas 1* Syukri Lukman 2 Harif Amali Rivai 3 2220522081_muhammad@student. id 1* Magister Manajemen. Universitas Andalas. Indonesia 1,2,3 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh job demand (JD) terhadap psychological wellbeing (PWB) dengan burnout (BO) sebagai variabel mediasi pada karyawan PT Semen Padang. Latar belakang didasarkan pada tingginya tuntutan kerja di industri manufaktur yang berpotensi menurunkan kesejahteraan psikologis karyawan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui kuesioner yang disebarkan kepada 248 responden. Data dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) berbasis Partial Least Squares (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa JD tidak berpengaruh langsung signifikan terhadap PWB, namun berpengaruh positif dan signifikan terhadap BO. BO sendiri berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PWB, serta berperan sebagai mediator penuh dalam hubungan antara JD dan PWB. Implikasi penelitian menekankan pentingnya manajemen JD dan intervensi BO untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis karyawan di lingkungan industri yang menuntut. Kata Kunci: job demand. psychological wellbeing. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Kesejahteraan karyawan atau employee wellbeing telah menjadi isu penting dalam dunia kerja modern karena terkait erat dengan produktivitas, loyalitas, serta daya saing Dalam konteks industri manufaktur, terutama industri semen, karyawan menghadapi tuntutan kerja yang tinggi berupa target produksi, jam kerja panjang, dan risiko lingkungan kerja. Kondisi ini dapat menimbulkan stres berkepanjangan dan burnout, yang pada akhirnya menurunkan psychological wellbeing (PWB) karyawan dan mengganggu kinerja organisasi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan karyawan berkontribusi positif terhadap produktivitas dan retensi tenaga kerja (Watanabe, 2023. Mendoza & Ocasal, 2. Penelitian lain menemukan bahwa burnout berkorelasi negatif dengan psychological wellbeing dan berperan dalam menjelaskan dampak job demand terhadap kesejahteraan (Tawfik, 2019. Khalkhali et al. , 2. Namun, sebagian besar studi berfokus pada sektor jasa, kesehatan, atau pendidikan. Studi di sektor manufaktur berat, khususnya industri semen, masih terbatas. Survei Sucofindo . di PT Semen Padang menunjukkan adanya tekanan kerja kuantitatif maupun kualitatif yang signifikan, sehingga relevan untuk diteliti lebih lanjut. Meskipun model Job Demands-Resources (JD-R) telah banyak digunakan untuk menjelaskan hubungan antara tuntutan kerja, burnout, dan psychological wellbeing, konteks empiris industri semen di Indonesia belum banyak dieksplorasi. Hal ini menimbulkan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 455 kesenjangan penelitian yang perlu dijawab, yaitu bagaimana job demand memengaruhi psychological wellbeing dengan burnout sebagai variabel mediasi. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini merumuskan pertanyaan utama: . bagaimana pengaruh job demand terhadap psychological wellbeing. bagaimana pengaruh job demand terhadap burnout. bagaimana pengaruh burnout terhadap psychological wellbeing. bagaimana peran burnout sebagai mediator dalam hubungan job demand dengan psychological wellbeing. Tujuan penelitian adalah menguji hubungan tersebut secara empiris pada karyawan PT Semen Padang. Kebaruan penelitian terletak pada konteks industri semen di Indonesia yang padat tuntutan kerja dan jarang menjadi fokus studi serupa sebelumnya. Penelitian ini menggunakan kerangka teori Job Demands-Resources (JD-R) yang menekankan keseimbangan antara tuntutan kerja dan sumber daya pekerjaan sebagai determinan kesejahteraan karyawan (Bakker & Demerouti, 2. Burnout dipahami sebagai kondisi kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan pencapaian pribadi yang memediasi hubungan job demand dengan psychological wellbeing (Maslach, 1. Psychological wellbeing merujuk pada kondisi psikologis positif karyawan yang mencakup penerimaan diri, tujuan hidup, otonomi, dan hubungan positif dengan orang lain (Ryff & Keyes, 1. Dengan kerangka ini, penelitian diharapkan memberikan kontribusi empiris dan praktis bagi pengembangan manajemen sumber daya manusia di industri semen. Metode Analisis Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory Desain ini dipilih karena sesuai untuk menjawab pertanyaan penelitian yang berfokus pada hubungan kausal antara variabel job demand, burnout, dan psychological wellbeing (PWB). Dengan desain ini, penelitian mampu menjelaskan bagaimana variabel independen memengaruhi variabel dependen melalui variabel mediasi. Populasi penelitian adalah seluruh karyawan organik di pabrik PT Semen Padang. Metode purposive sampling digunakan untuk menentukan responden dengan kriteria tertentu, seperti lama bekerja minimal satu tahun dan terlibat langsung dalam aktivitas operasional pabrik. Jumlah responden yang diperoleh dalam penelitian ini sebanyak 247 orang, sehingga cukup memadai untuk analisis statistik multivariat. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan skala Likert. Instrumen penelitian terdiri dari tiga variabel utama, yaitu job demand . , burnout . , dan psychological wellbeing . Instrumen diadaptasi dari skala yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya pada penelitian sebelumnya dengan beberapa penyesuaian Uji validitas dan reliabilitas dilakukan terlebih dahulu pada data awal untuk memastikan bahwa instrumen layak digunakan. Selain itu, data demografis seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, dan jabatan juga dikumpulkan untuk memberikan gambaran Prosedur penelitian dimulai dengan penyusunan instrumen berdasarkan studi Selanjutnya dilakukan uji coba instrumen . ilot tes. , diikuti dengan distribusi kuesioner kepada responden. Pengumpulan data dilakukan secara langsung di lingkungan kerja PT Semen Padang dengan bantuan tim HRD untuk memastikan tingkat partisipasi Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 456 tinggi. Data yang terkumpul kemudian diseleksi, dibersihkan, dan dimasukkan ke dalam perangkat lunak statistik untuk dianalisis. Teknik analisis data yang digunakan adalah Structural Equation Modeling (SEM) dengan pendekatan Partial Least Squares (PLS). Metode ini dipilih karena mampu menganalisis hubungan kausal yang kompleks antara variabel laten, baik secara langsung maupun melalui mediasi. Tahapan analisis meliputi uji validitas konstruk, uji reliabilitas, pengujian model struktural . nner mode. , serta pengujian hipotesis. Semua prosedur dilakukan secara sistematis sehingga penelitian dapat direplikasi. Tabel 1. Variabel Operasional Variabel Job demand ((JD)) Burn Out (BO) Psychological wellbeing (PWB) Dimensi Work pressure Cognitive demands Emotional demands Role conflict Hassles Exhaustion Personal Accomplishment Cynicism Self Acceptance Positive Relations Autonomy Environmental- Mastery Purpose in Life Personal Growth Jumlah Item Skala Likert Sumber Bakker. Likert Widhianingtanti & Luijtelaar . Likert Pradhan and Hati Sumber: data diolah peneliti . Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Deskripsi Responden Penelitian ini melibatkan 248 responden karyawan organik PT Semen Padang dengan tingkat pengembalian kuesioner 100%. Responden didominasi oleh laki-laki . ,7%), mayoritas berusia antara 41Ae50 tahun . ,2%), dan lebih dari separuh memiliki masa kerja Ou21 tahun . %). Dari segi pendidikan, sebagian besar lulusan SLTA . ,1%), sedangkan jabatan mayoritas berada pada level Band 4 . ,8%). Table 2. Karakteristik Responden Variable Measurement Gender Age (Year. Man Woman O30 31Ae40 41Ae50 Variable Measurement Ou51 Senior School Diploma Bachelor Magister O10 11Ae20 Ou21 Education Level Work-length (Year. High Sumber: Data diolah peneliti . Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 457 Uji validitas dan Realibilitas Instrumen Sebelum dilakukan analisis SEM, instrumen diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil uji menunjukkan bahwa seluruh indikator memiliki nilai korelasi item-total di atas 0,30 dan CronbachAos Alpha lebih dari 0,70, sehingga semua item dinyatakan valid dan reliabel. Table 3. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variable Item Job Demand (JD) JD1 Ae JD23 Burnout (BO) BO1 Ae BO22 Psychological PWB1 Ae PWB10 Wellbeing (PWB) Sumber: Data diolah peneliti . r-calculated CronbachAos Alpha Result 446Ae0. 434Ae0. Valid & Reliable Valid & Reliable 489Ae0. Valid & Reliable Hasil Analisis Deskriptif Variabel Job Demand (JD) berada pada tingkat sedang . ean = 2,. Indikator tertinggi adalah tuntutan konsentrasi dan ketelitian, sedangkan terendah adalah konflik Burnout (BO) juga pada kategori sedang . ean = 3,. Dimensi kelelahan emosional cukup tinggi, namun depersonalisasi rendah, dan prestasi pribadi relatif Psychological Wellbeing (PWB) tergolong baik . ean = 3,. , ditunjukkan oleh rasa pencapaian, hubungan positif, serta kemampuan adaptasi. Hasil analisis SEM-PLS Model penelitian dianalisis menggunakan SEM-PLS dengan tahapan uji outer model dan inner model. Outer model menunjukkan semua indikator memenuhi kriteria validitas konvergen, validitas diskriminan, serta reliabilitas komposit. Hasil uji inner model menunjukkan hubungan antarvariabel sebagai berikut: Table 4. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Relationship Path Coefficient () JD i BO BO i PWB JD i PWB JD i BO i PWB Sumber: Data diolah peneliti . t-statistics p-value Result Significant Significant Not Significant Significant Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 458 Figure 1. Path diagram hasil SmartPLS Sumber: hasil SmartPLS . Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa job demand berpengaruh positif signifikan terhadap burnout, artinya semakin tinggi tuntutan kerja yang dialami karyawan, semakin besar potensi mengalami kelelahan emosional. Selanjutnya, burnout terbukti menurunkan psychological wellbeing, yang berarti kondisi stres kerja yang tinggi berdampak pada penurunan kesejahteraan psikologis. Namun, pengaruh langsung job demand terhadap psychological wellbeing tidak Hal ini memperkuat bukti bahwa burnout menjadi mediator utama yang menjembatani hubungan keduanya. Dengan kata lain, tingginya tuntutan kerja tidak secara langsung menurunkan kesejahteraan, melainkan melalui proses burnout terlebih Temuan ini mendukung model Job DemandsAeResources (JD-R), yang menjelaskan bahwa ketidakseimbangan antara tuntutan kerja dan sumber daya akan meningkatkan risiko burnout, sehingga mengurangi kesejahteraan psikologis. Implikasi praktisnya adalah perusahaan perlu memperhatikan keseimbangan beban kerja dengan dukungan sumber daya . isalnya pelatihan, pengembangan, serta dukungan sosia. agar kesejahteraan karyawan tetap terjaga. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 459 Simpulan dan Saran Simpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa job demand memiliki pengaruh positif signifikan terhadap burnout, yang berarti semakin tinggi tuntutan kerja maka semakin besar pula potensi karyawan mengalami kelelahan emosional. Selanjutnya, burnout terbukti berpengaruh negatif signifikan terhadap psychological wellbeing, sehingga kondisi kelelahan yang tinggi akan menurunkan kesejahteraan psikologis, baik dalam aspek rasa pencapaian, kemampuan adaptasi, maupun kualitas hubungan interpersonal. Menariknya, job demand tidak berpengaruh langsung terhadap psychological wellbeing, melainkan secara tidak langsung melalui burnout. Dengan demikian, burnout terbukti menjadi mediator penting yang menjelaskan hubungan antara tuntutan kerja dan kesejahteraan psikologis karyawan PT Semen Padang. Saran Berdasarkan hasil tersebut, perusahaan perlu melakukan pengelolaan beban kerja agar lebih proporsional dengan kapasitas karyawan, misalnya melalui perencanaan kerja yang lebih realistis serta pembagian tugas yang adil. Perusahaan juga perlu memperkuat dukungan organisasi dengan menyediakan pelatihan, program kesehatan mental, maupun layanan konseling untuk meminimalkan risiko burnout. Selain itu, penciptaan lingkungan kerja yang kondusif dan komunikatif akan sangat membantu menjaga psychological wellbeing karyawan. Dari sisi individu, karyawan diharapkan mampu mengembangkan strategi koping yang sehat seperti manajemen waktu, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta memanfaatkan fasilitas kesejahteraan yang disediakan perusahaan. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan menambahkan variabel lain seperti job resources, resiliensi, atau dukungan sosial guna memperluas pemahaman tentang faktor-faktor yang memengaruhi psychological wellbeing, serta menggunakan desain longitudinal agar dapat mengamati dinamika hubungan antarvariabel dalam jangka panjang. Referensi