VOCAT : Jurnal Pendidikan Katolik Vol. No. Tahun 2024. Hal. 1 - 12 Website: https://ejournal. id/index. php/vocat TRANSFORMASI KATEKESE KONTEKSTUAL MENUJU ERA DIGITAL: IMPLIKASI DAN TANTANGANYA Anjeli Sarma1*. Emmeria Tarihoran2 STP-IPI Malang Email: anjelisarma05@gmail. com1,emmeriayohana@gmail. Abstrak : Transformasi Katekese Kontekstual ke dalam era digital menjadi penting dalam menghadapi tantangan yang dihadapi dalam mengadaptasi katekese kontekstual ke dalam konteks digital. Era digital telah mengubah lanskap pembelajaran dan komunikasi dengan mempengaruhi cara orang memperoleh, memproses, dan membagikan informasi. Dalam menghadapi perubahan ini, katekese kontekstual perlu menyesuaikan diri dengan penekanan pada konteks budaya, sosial, dan personal. Implikasi dan tantangan yang signifikan terkait dengan transformasi ini terlihat dalam era digital. Integrasi nilai-nilai iman ke dalam konteks digital juga menuntut keseimbangan yang baik antara teknologi dan tradisi teologis. Untuk menghadapi tantangan ini, diperlukan pendekatan holistik yang menggabungkan keahlian teologis, pemahaman budaya dan teknologi, serta kolaborasi antara gereja dan ahli teknologi. Tujuan dari penelitian ini adalah dengan adanya transformasi yang bijaksana, katekese kontekstual dalam era digital dapat menyampaikan pesan iman yang relevan dan berarti bagi generasi digital saat ini. Metode yang peneliti pakai adalah kualitatif yaitu dari hasil observasi serta mengambil acuan juga dari beberapa sumber karya ilmial seperti, jurnal, artikel, dan sumber ilmiah lainya seperti hasil penelitian yang ditemukan yaitu umat menjadi pasif mengikuti katekese kontekstual karena adanya katekese digital, maka itulah tantangan yang peneliti lihat dalam konteks katekese saat ini. Kata kunci: katekese kontekstual, katekese virtual, implikasi dan tantangan Abstract: The transformation of contextual catechesis into the digital era is important in facing the challenges faced in adapting contextual catechesis to a digital context. The digital era has changed the landscape of learning and communication by influencing the way people obtain, process and share information. facing these changes, contextual catechesis needs to adapt to an emphasis on cultural, social and personal contexts. The significant implications and challenges associated with this transformation are visible in the digital era. The integration of faith values into a digital context also demands a good balance between technology and theological tradition. To face this challenge, a holistic approach is needed that combines theological expertise, cultural and technological understanding, and collaboration between churches and technology experts. The aim of this research is that with wise transformation, contextual catechesis in the digital era can convey messages of faith that are relevant and meaningful for today's digital generation. The method that researchers use is qualitative, namely from the results of observations and taking references also from several sources of scientific work such as journals, articles and other scientific sources such as research results which found that people have become passive in following contextual catechesis because of digital catechesis, so that is the challenge that researchers see in the context of current catechesis. Key words: contextual catechesis, virtual catechesis, implications and challenges PENDAHULUAN Katekese berasal dari bahasa Yunani yaitu katechein artinya bergema. Jadi, katekese adalah sabda yang digemakan keluar agar menjadi kesaksian iman. Dari asal kata ini, katekese menjadi sarana untuk pewartaan sabda Pendidikan iman umat. Untuk itu katekese sering disamakan dengan pembelajaran iman, sharing iman, komunikasi iman dan lain sebagainya. Karena itu katekese sangat diperlukan dan penting dalam mendalami dan mewujudnyatakan iman umat. Dengan begitu katekese akan membuat umat untuk lebih dewasa dalam iman, dalam tindakan, dan juga dalam hidup Itulah mengapa katekese sangat dianggap penting dalam tumbuh kembang iman seseorang apalagi di gempuran era saat ini, di kutip dari artikelnya (Habur, 2. Dalam artikel ini peneliti akan membahas mengenai katekese kontekstual dan perubahanya ke katekese digital. Secara realitanya katekese kontekstual adalah pewartaan sabda yang sudah meresap dalam diri umat di lingkungan sosialnya, artinya katekese ini sudah menjadi budaya bagi hidup sosial umat untuk mewujudnyatakan dan mengembangkan iman dalam hidup sosialnya yang sudah biasa mereka geluti (X. Heryatno Wono Wulung, 2. Dalam hal ini katekese kontekstual adalah sebuah model katekese untuk memberikan pengajaran tentang iman katolik kepada umat yang berangkat dari pengalaman dan situasi konkrit masyarakat setempat saat itu. Setelah itu baru katekese dikaitkan dalam sabda Tuhan dan terang injil untuk menjadi bahan refleksi bagi katekese kontekstual. Untuk itu katekese kontekstual sangatlah penting dalam memahami situasi sosial yang dihadapi oleh masyarakat saat ini dalam merancang perencanaan program katekese yang sesuai dengan situasi sosial, karena dengan begitu umat akan sadar bagaimana mengatasi masalah yang muncul dalam perkembangan imanya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa katekese kontekstual adalah konteks atau situasi di mana umat melakukan katekese tradisional yang sudah menjadi kebiasaan atau mentradisi yang dilakukan oleh umat dan sangat membaharui iman bila dilaksanakan oleh umat secara rutin di lingkunganlingkungan. Sudah banyak ditemui di lingkungan-lingkungan seperti. berdoa bersama, pendalaman iman, kumpul-kumpul latihan koor dan tugas-tugas gereja lainya. Namun, juga masi banyak sekali orang-orang yang masih sibuk dengan pekerjaanya sendiri, sehingga mereka lebih memilih untuk mengikuti katekese itu melalui handphone. Untuk itu Perkembangan era saat ini sangat membawa perubahan bagi pertumbuhan iman setiap umat apalagi anak muda. Pertanyaanya adalah mengapa yang sering kita jumpai di lingkungan-lingkungan saat ini hanyalah orang tua, sedangkan anak muda hanya 3 atau 4 orang tidak lebih. Bahkan para orang tua yang merasa masih terikat dengan pekerjaan kantor terkadang mereka juga tidak datang dalam setiap pertemuan. Bagaimana mengatasi permasalahan transformasi katekese pada era saat ini? Jawabanya adalah mereka boleh saja mendengarkan katekese dari handphone bila memang di perlukan atau dalam keadaan tak menentu yaitu keadaan yang benar-benar darurat untuk tidak bisa mengikuti katekese secara konkrit. Tetapi apakah jadinya bila setiap wilayah lingkungan menggunakan handphone untuk komunikasinya, karena pasti yang terjadi nantinya adalah hilangnya keharmonisan dan juga kebersamaan antar sesama umat. Itulah tantangan yang peneliti temukan saat ini. Dari Sidang Umum Biasa XV Sinode Para Uskup, 27 Oktober 2018, artikel 21 dikatakan bahwa lingkungan digital merupakan tanda yang khas dari dunia era saat ini. Terlihat bahwa manusia semakin tenggelam dengan dunianya sendiri. Karena hampir dari mereka tidak hanya sebatas memakai media atau sarana teknologi lagi, tetapi sudah menjadikan teknologi sebagai kebiasaan hidup budaya era saat ini. Peneliti juga mengakui bahwa dalam hal ini telah mengubah cara hidup umat dalam perspektif waktu, pemikiran, pekerjaan, dan hubunganya terhadap sesama (Sinode Para Uskup, 2. Kemajuan ilmu teknologi saat ini telah merasuki kehidupan manusia, dari segi pekerjaan maupun aktivitas lainya. Manusia era saat ini telah hidup dalam arus internet dalam keseharianya. Konsep gaya hidup jaman ini adalah gaya hidup digital seperti, terlalu bergantung terhadap alat teknologi bahkan sudah tidak bisa lagi terlepas dari teknologi, karena mengikuti arus jaman saat ini manusiapun tidak ingin ketinggalan (Widiatna, 2. Banyak dampak dari kemajuan teknologi saat ini dalam hubungan keseharian hidup manusia, dari dampak yang positif sampai negatif. Dari proses mengakses dan memperoleh informasi, interaksi sampai kepada katekese. katekese kontekstual saat ini juga berkolaborasi dengan berbagai teknologi digital dari menerima Pendidikan atau Pengajaran mengenai iman sampai bisa dilakukan dengan cara jarak jauh dan secara cepat, itulah sisi positifnya digital (Yentri Anggeraini. Abdurrachman Faridi. Januarius Mujiyanto & Bharati,). Teknologi saat ini membawa perubahan besar-besaran dalam tatanan kehidupan manusia (Kasim, 2. Perubahan inilah yang akan menjadi tantangan dari salah satu bentuk kemajuan dunia dewasa ini. Akan tetapi, apakah kemajuan yang luar biasa tersebut sungguh-sungguh membentuk manusia menjadi maju dalam berbagai aspek? Pertanyaan ini begitu menarik untuk membangun sebuah diskursus analitis-teologis yang difokuskan pada aspek pengajaran iman era saat ini atau disebut juga dengan katekese digital (Andreas Jimm. Dari permasalahan tersebut diatas, peneliti menyimpulkan bahwa banyak tantangan yang begitu pesat dalam dunia digital saat ini. Para katekis saat ini juga sedang berjuang mengikuti arus katekese sesuai dengan perkembangan zaman. katekese era saat ini melalui media-media digital, seperti kontenkonten pengajaran yang sudah banyak tersebar di media sosial. Oleh sebab itu peneliti menemukan ada banyak sisi negatif penggunaan media saat ini bila tidak digunakan dengan cara yang baik. Semoga dengan adanya artikel ini pembaca dapat menggunakan katekese digital dengan baik yaitu tidak melupakan budaya katekese kontekstual, mengenai kebersamaan setiap komunitas yang ada dari anakanak sampai para orang tua, maupun dari golongan atas ataupun bawah. Para calon katekis atau guru agama diajak untuk belajar mengikuti perkembangan era saat ini agar bisa membawa umat kepada pertobatan sejati melalui katekese digital yang lebih efektif (Widiatna, 2. Semoga dengan adanya artikel ini kita bisa menghadapi tantangan-tantangan era digital dan menggunakan alat teknologi dengan lebih bijak lagi serta bisa tetap stabil menjaga keseimbangan diantara kedua era ini yaitu antara budaya dan teknologi. METODE Peneliti menggunakan metode kualitatif yaitu mengambil dari beberapa sumber seperti artikel, jurnal, dan karya ilmiah lainya untuk menambah argumen dari penulis. Metode penelitian ini lebih difokuskan pada permasalahan mengenai transformasi katekese kontekstual ke katekese digital, karena banyak ditemukanya perubahan serta tantangan dalam katekese saat ini. Penelitian ini diambil langsung dari kenyataan hidup sosial umat setempat, yang dilakukan dengan cara observasi secara langsung di lingkungan-lingkungan yang peneliti kunjunggi. Penelitian ini juga mengkonfirmasi bahwa terdapat umat yang sibuk dengan pekerjaanya sehingga tidak bisa datang pada saat kegiatan di lingkungan setempat. Ada juga umat yang mau berkumpul bersama tetapi masih fokus dengan handphone-Nya sendiri, sehingga membuat kesan seperti lebih sibuk dengan urusan pribadinya daripada kebersamaan dengan para anggota umat yang lain. Penelitian ini ditujukan ke pada umat katolik yang melaksanakan katekese di lingkungan-lingkungan, maupun katekese secara virtual melalui konten-konten di media sosial. HASIL DAN PEMBAHASAN Gereja merupakan bentuk nyata dari Kerajaan Allah di dunia. Sementara itu Gereja lambatlaun berkembang, dan mengikuti perkembangan zaman dengan begitu kita mendambakan Kerajaan Allah yang sempurna. Untuk menjalankan tugas perutusan Kristus inilah Gereja itu ada. Maka semua anggota Gereja mempunyai tugas dalam perutusannya untuk mewartakan Kristus, yaitu para pemimpin-pemimpin Gereja sesuai kedudukan dan fungsinya, termasuk umat biasa yang sudah menerima sakramen inisiasi. Berikut bentuk-bentuk kegiatan yang dilaksanakan oleh Gereja di antaranya: ada Pendidikan Agama Katolik di Sekolah. Katekese Sekolah. Pendalaman Iman. Katekese untuk Calon Baptis. Komuni Pertama, dan Krisma. Belajar Misdinar dan masih banyak lagi, sedangkan kegiatan di lingkungan-lingkungan tidak jauh beda ada di antaranya: Katekese Umat. Pendalaman Kitab Suci. Doa Syukuran. Doa Rosario. Koor dan Bina Iman Anak. Ziarah. Kegiatan OMK, dan masih banyak lagi organisasi-organisasi yang lain. Jadi bentuk persekutuan umat di paroki ada di bawah pimpinan Pastor yang mengemban tugas pewartaan ini termasuk juga awam yang mempunyai tanggung jawab dalam tugas perutusanya untuk ikut berpartisipasi aktif dalam mengambil bagian tugas pelayanan-Nya (Sukendar et al. , 2. Peneliti mengutip dari artikelnya Rahayu & X, 2023. Bahwa definisi katekese kontekstual menurut (Heryatn. , adalah Auproses katekese yang benar-benar terintegrasi dan menembus ke dalam lingkungan serta realitas sosial kehidupan umatAy sehingga Aumemberikan dukungan kepada umat agar dapat mengalami dan mengembangkan keyakinan umat dalam realitas sosial yang benar-benar di hidupiAy. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa katekese kontekstual adalah suatu proses yang sepenuhnya terintegrasi dengan lingkungan dan realitas sosial kehidupan umat. Tujuannya adalah memberikan dukungan kepada umat agar mereka dapat mengalami dan mengembangkan keyakinan dalam konteks kehidupan sehari-hari (Agustinus Manfred Habu. Seorang katekis perlu memastikan bahwa pesan-pesan injili yang mereka berikan tetap relevan dan dapat dipahami oleh umat (Nugroho & Firmanto, 2. Katekese secara kontekstual ini akan terasa isi dan maknanya bila dilaksanakan bukan hanya saat di paroki atau saat menerima sakramen inisiasi saja melainkan saat sesudah menerima sakramen baptis dan krisma umat mau ikut ambil bagian aktif dalam perutusan gereja yaitu melalui katekese yang kita lakukan di setiap lingkungan-lingkungan. Seperti dalam pengobservasian peneliti yang menemukan umat di setiap lingkungan mengadakan pertemuan menyangkut: Pendalaman Iman Menurut artikelnya Andi, pendalaman iman mempunyai dua arti, yang pertama AupendalamanAy berarti kegiatan untuk mendalami, menyelami, meresapi, menelaah serta memaknai secara mendalam. Sedangkan AuImanAy adalah jawaban manusia terhadap wahyu Allah atas segala sesuatu yang tidak kita Jadi suatu kegiatan katekese yang membaca kitab suci, merenungkan, mendengarkan, menafsirkan bacaan itu disebut pendalaman iman. Buah-buah dari pendalaman iman ini, umat akan semakin menumbuhkan dan mengembangkan imanya. Jadi, peneliti menyimpulkan bahwa pentingnya sebuah kegiatan pendalaman iman ini untuk semakin memperdalam dan mendewasakan iman kita melalui sharing pengalaman iman umat dan juga berdiskusi mengenai bacaan alkitab. Dengan ini pertemuan pendalaman iman akan semakin membuat umat lebih saling mengenal anggota lingkunganya, dan juga kesusahan serta kekurangan sesama yang dialami oleh anggotanya. Biasanya di lingkungan yang melaksanakan pendalaman iman ini bertepatan sebelum natal dan juga sebelum paskah. Tetapi bisa juga dilakukan saat memang ada suatu kegiatan yang mengangkat suatu tema permasalahan dalam sebuah paroki atau lingkungan tersebut untuk dijadikan pendalaman iman bersama. Doa Rosario Doa rohani sebagai bentuk penghormatan kepada Bunda Maria ini yang disebut dengan Doa Rosario, doa yang dilaksanakan oleh seluruh umat Katolik pada bulan Maria . ulan Me. serta bulan Oktober . ulan Rosari. di Komunitas Basis Gerejawi ini umat mengadakan kegiatan berdoa Rosario yang dilakukan dari rumah ke rumah. Doa Rosario mendorong setiap umatnya untuk merenungkan serta menekuni setiap untaian permohonannya. Inti dari setiap butir doa rosario ini untuk merenungkan kembali peristiwa suci ke dalam diri umat lalu mengaplikasikanya pada kehidupan, seperti mengunjunggi orang yang sakit, menolong orang yang miskin dan menderita, mendoakan mereka yang berbuat dosa. Dengan demikian buah dari permenungan itu dapat juga dirasakan oleh orang lain, melalui tindakan dan sikap umat secara pribadi. (Muskabe, 2013:. Demikian umat telah melaksankan tugas perutusanya untuk mewartakan sabda Allah kepada seluruh anggota keluargakeluarga katolik (Froriana et al. , 2. Juga dalam penelitian ini disimpulkan bahwa dengan adanya doa bersama di setiap lingkungan ini akan semakin mempererat iman umat satu sama lain. Doa bersama ini tidak hanya menyangkut doa rosario saja tetapi juga bisa doa yang lain seperti: ulang tahun pernikahan, doa pemberkatan rumah, doa arwah, dan juga masih banyak lagi tergantung situasi dan tujuan doa dilaksanakan. Karena dengan begitu umat akan semakin sering untuk bertemu dan berkumpul dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Kegiatan perkumpulan ini akan sangat bermanfaat dan berguna bagi pertumbuhan iman umat Maka dari itu, ini adalah suatu kegiatan yang sampai saat ini tetap harus dijaga dan dilestarikan hingga kepada para generasi muda yang akan datang. Latihan Koor Menurut penelitianya Tamelab, latihan koor merupakan suatu bentuk karya katekese, karena berlatih koor umat diajak untuk berkumpul bersama berlatih nyanyi dengan baik. Dengan begitu koor juga menjadi suatu bentuk sarana untuk mengungkapkan isi doa permohonan kita kepada Tuhan. Dalam bernyanyi bersama sebenarnya umat sedang mengaplikasikan persekutuan ilahi tetapi juga bersifat sosial. Ketika setiap lingkungan mendapat tanggungan koor di paroki setiap hari Minggu, umat yang aktif lebih didominasi oleh para wanita. Sedangkan laki-laki yang hadir hanya 1-2 orang Kehadiran seperti ini tentu mempengaruhi kekompakan sebuah kelompok koor yang baik. Karena koor yang baik terdiri dari kelompok sopran, alto, tenor dan bass. Tetapi sebaliknya yang terjadi ketika saat latihan koor, lebih didominasi oleh suara sopran yaitu suara para perempuan atau ibu-ibu. Sementara itu peneliti menemukan keuntungan juga untuk mengetahui bahwa dalam latihan koor ini didapat secara garis besar siapa yang selalu aktif hadir dan yang jarang hadir serta sama sekali tidak pernah hadir. Keuntungan dari latihan koor ini adalah semakin membawa umat kepada suatu kekompakkan dan Secara konkret nyanyian liturgi dapat berfungsi sebagai berikut: . Sarana pewartaan sabda, yang menyampaikan pesan keselamatan kepada peserta persekutuan litugis, seperti pada lagu mazmur tanggapan, . Sarana renungan membantu para peserta persekutuan untuk merenungkan amanat Tuhan dan meresapkan ke dalam hati, seperti mazmur tanggapan, . Sarana syukur yang dapat membina rasa syukur dalam hati, seperti Gloria, . Sarana permohonan, yang bisa berupa belas kasihan Tuhan seperti kyie dan Agnus Dei, . Sarana pengungkapan iman (Tamelab, 2. Kunjungan Kepada Orang yang Sakit Menurut Prosper Derico Antonio Gepa, kunjungan kepada orang sakit merupakan suatu bentuk kegiatan pastoral yang dilakukan dengan cara berkunjung di rumah orang yang menderita sakit. Dalam kunjungan tersebut biasanya umat. Pastor Paroki dan para pekerja pastoral mempersiapkan doa bersama para keluarga dan orang yang sakit tersebut. Doa ini biasanya berisi tentang pemberian sakramen ekaristi dan juga sakramen pengurapan orang sakit yang dilakukan oleh Romo Paroki. Dalam kunjungan itu umat juga memberikan sumbangan kasih tidak hanya secara rohani melainkan juga secara fisik seperti bentuk yang bisa dilihat yaitu sumbangan makanan, obat, pakaian, uang untuk membantu biyaya pengobatan, serta yang tak terlihat yaitu sumbangan doa, membaca alkitab, motivasi, semangat suka cita untuk menghibur orang yang sedang sakit agar bisa memperkuat dan mendukung kesembuhanya. Karena Gereja hadir untuk melayani dan mengasihi sesama kita seperti yang Tuhan Yesus sendiri ajarkan. Dalam hal ini Romo maupun umat sudah memberikan katekese pendampingan kepada orang sakit yaitu pastoral care (Carolus Boromeus, 2. Dengan penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa setiap kunjungan ini memberi makna akan aksi nyata sosial umat dalam mengaplikasikanya di kehidupan sehari-hari. Ini akan semakin membentuk sikap saling menolong dan juga mewartakan kasih di dalamya tanpa kita sadari. Jadi ini juga sebagai sebuah kesadaran pada umat bahwa kunjungan ini bukan hanya dilakukan oleh para imam, dan biarawan/biarawati. tetapi justru umatlah yang seharusnya lebih berperan aktif dalam menanggapi permasalahan sosial ini. Karena tugas kita sebagai awam adalah sama yaitu demi mewartakan kristus melalui tindakan kita terhadap sesama. Semoga artikel ini menjelaskan bahwa kita semua terpanggil mempunyai tugas tersebut dan bukan hanya para kaum tertahbis saja. Ziarah ke Taman Doa Tempat taman doa atau ziarah umat Katolik biasanya ada di Gua Maria. Tempat doa ini juga sudah banyak dibangun di berbagai tempat dan penjuru kota, agar memudahkan umat katolik untuk berziarah bersama dan tidak perlu jauh-jauh ke Lourdes di perancis. Gua ini juga dibangun menyerupai sebuah taman yang ada gua-nya dan patung Bunda Maria, serta bunga-bunga yang mengelilingi gua dan juga ada tersedia barang-barang rohani yang dijual seperti: Rosario. Baju. Buku Doa, dll. Dengan begitu setiap umat Katolik yang datang ke Gua ini bukan hanya berziarah, berbelanja, tetapi juga berdoa untuk mendekatkan diri pada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria (Sunaryo, 2. Pada pengobservasian peneliti, melihat bahwa seringkali umat di lingkungan juga mengadakan Dengan adanya ziarah bersama ini umat terbentuk kebersamaanya dan semakin membawa kebahagiaan tersendiri di setiap pribadi umat tentunya. Dengan begitu umat bisa meluangkan waktu kerjanya untuk mau berziarah dengan tujuan juga agar semakin peduli dengan diri sendiri dan bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk kunjungan ziarah bersama di Gua Maria, juga terbentuknya momen atau kenangan umat bersama pada lingkup lingkungan tersebut. Dengan pergi membawa para keluarga nya masing-masing bersama-sama menelusuri tempat peziarahan merupakan kegiatan yang bijak untuk dilakukan saat waktu cuti maupun senggang. Sedangkan Katekese secara virtual yaitu Katekese yang sudah membuming saat ini melalui konten-konten katekese digital. Menurut Charlie Gere . 8, . , yang mengatakan bahwa aplikasi yang membuming saat ini ada banyak seperti aplikasi You tube. Intagram. Telegram. Twiter, dan lainlain. Dengan kemajuan teknologi ini menjadi banyak perubahan pada diri umat terlihat dari cara pola berpikir serta berperilaku. Kemajuan alat-alat teknologi era saat ini seperti: handphone, laptop, aipad, dan teknologi lainya, menyebabkan komunikasi saat ini lebih bersifat maya atau virtual. Untuk itu teknologi lebih cepat digunakan di berbagai kalangan saat ini. Karena dengan adanya teknologi seseorang tidak perlu bersusah-susah untuk bertemu sekalipun dengan jarak jauh, sebab itu tidak lagi menjadi halangan seseorang untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain di manapun dan kapanpun orang itu berada. Bahkan sudah banyak terbukti di kota-kota besar, yaitu mereka yang tidak bisa lagi hidup tanpa internet atau handphone untuk berkomunikasinya (Habur, 2. Aplikasi yang digunakan saat ini di konten katekese digital You tube Adanya Misa Online. Adanya Homili Online. Adanya Pengetahuan Katolik yang diwartakan secara Dalam artikelnya Andreas Jimmy. You tube adalah the biggest platform yang paling digemari di seluruh dunia. Di mana di dalamnya memuat begitu banyak tawaran konten, mulai dari hiburan, olahraga, kuliner, edukasi dan tanpa terkecuali konten rohani atau pengembangan iman umat beragama (Sinaga & Firmanto, 2. Seperti pada saat covid-19, bahwa aplikasi You Tube ini sangat berguna bagi semua orang untuk belajar secara jarak jauh, bahkan mengikuti misa melalui aplikasi ini. Tik tok Adanya Renungan Online. Nyanyian Rohani. Adanya Kata Motivasi dari beberapa Injil. Menurut Ikanubun & Wea. Tik Tok merupakan aplikasi video musik pendek yang dikembangkan oleh Tautio dari Cina (Taubah,2. Pemakaian aplikasi ini sekarang sudah membuming hingga dari yang remaja sampai yang ke tua pun juga mempunyai serta memainkan aplikasi ini. Menurut Warini, dkk . Tik tok juga merupakan aplikasi yang dapat digunakan sebagai media hiburan, untuk itu aplikasi ini sangat disenanggi oleh banyak kalangan. Diantaranya isi dari konten aplikasi ini adalah: video bernyanyi, menari, berkatekese, dan masih banyak lagi konten-konten yang menarik, menurut Dewadan Safitri. Karena itu Tik tok merupakan platform media sosial yang amat popular di kalangan saat ini. Para pemakai aplikasi Tik Tok menggunakan aplikasi ini untuk membuat video pendek dengan durasi minimal 15 detik dan maksimal 15 menit. Melalui aplikasi ini juga dapat digunakan sebagai bentuk katekese yang mengandung banyak pesan yang mau disampaikan, baik secara langsung maupun secara simbolik, yang dikemas dalam sebuah video dengan animasi atau gambar yang menarik dan mengesankan. Tik tok adalah media kreatif dan inovatif yang dapat diolah menjadi media pembelajaran penyampaian katekese yang menarik dan lebih diminati oleh generasi era saat ini (Zubaidi, dkk, 2. Menurut peneliti Tik Tok bukan hanya untuk menampilkan dunia hiburan semata melainkan juga digunakan sebagai katekese umat beriman saat ini. Instagram dan Facebook Adanya Grup-Grup Rohani Katolik. Dalam artikelnya Florentina & X, 2021. Facebook adalah aplikasi yang sudah lama popular di kalangan anak muda. Petunjuk penggunaan aplikasi ini pun sangat gampang yang pertama mendaftarkan akun email atau nomer handphone ke Facebook, lalu setelah itu bila sudah terdaftar bisa masuk dan memakainya. Kegunaan dari aplikasi ini sangat banyak yaitu tidak hanya untuk media komunikasi tetapi juga bisa untuk berkatekese dengan cara membuat cerita kehidupan Yesus Kristus yang bersumber dari kitab suci, membagikan gambar-gambar rohani, membagikan ajaran mengenai tradisi gereja, bisa juga digunakan dalam membuat grup-grup rohani katolik mileneal saat ini (Cahyadi, 2. Katekese Menggunakan Instagram Aplikasi intagram ini sama persis dengan Facebook, karena cara pendaftaranya juga sama yaitu memasukkan alamat email untuk membuat akun tersebut. Berikut beberapa video pendek mengenai katekese secara online bisa dibagikan melalui aplikasi ini seperti membagikan renungan, kata-kata motivasi yang bersumber dari biblis dan katekese lainya karena aplikasi ini mirip seperti tik tok juga, tetapi untuk Instagram biasanya video berdurasi 5 menit lebih singkat daripada video di tik tok. Katekese Menggunakan Zoom Dalam artikelnya Florentina & X dikatakan bahwa petunjuk penggunaan aplikasi zoom, yaitu yang pertama admin harus membuat link untuk bisa dibagikan dan diakses oleh pengguna zoom sehingga mereka bisa masuk hanya dengan cara menekan linknya atau memasukkan kode passwordnya. Jadi, proses katekese dapat dimulai dan dilaksanakan melalui zoom ini, menurut peneliti dalam pengobservasianya saat mengikuti seminar online bahkan undangan zoom untuk melakukan doa bersama, pendalaman iman, belajar agama, dan lain-lain. Perkembangan teknologi informasi membawa sebuah perubahan dalam diri umat. Di era saat ini pengguna media sosial bisa dengan mudah ikut berpartisipasi membuat konten katekese atau pengajaran lainya melalui jejaring sosial. Dari perkembangan jaman inilah manusia mengalami dampaknya seperti perubahan cara berpikir dan berprilaku, contohnya seperti: cara berpikir umat yang lebih instan dalam menghadapi permasalahan, karena tidak mau berproses melainkan ingin langsung bisa seperti hal-Nya latihan koor di lingkungan, mereka memilih untuk tidak datang berlatih karena sudah bisa bernyanyi lagunya masing-masing di rumah dengan mendengarkan lagunya di you tube. Dalam berprilakupun umat saat ini lebih dominan egois karena mementingkan urusan pribadinya masing-masing. Perubahan tersebut dapat terjadi secara cepat maupun lambat secara luas maupun sempit tetap dapat memengaruhi manusia dalam proses penyesuaian perkembangan zaman, menurut Soerjono Soekanto. Implikasi yang ditimulkan dari katekese era digital saat ini Pertama. Katekese digital semakin memudahkan umat untuk berintaksi dengan sesamanya melalui aplikasi seperti: facebook, instagram, you tube, watshap dan masih banyak lagi alat media sosial Namun di sisi lain kita jadi jarang berinteraksi dengan orang-orang terdekat kita. Biasanya yang terjadi saat pertemuan adalah berkumpul Bersama tetapi malah asik menatap handphone nya masing-masing. Kedua. Jarak dan waktu untuk melakukan katekese digital ini bukanlah menjadi penghalang lagi, tetapi justru lebih mudah dan cepat dengan menggunakan alat-alat teknologi. Namun sebaliknya juga akan menjadi kecanduan terhadap internet karena apapun pekerjaan bisa menggunakan teknologi yang sudah ada, lebih praktis, cepat dan instan yaitu tanpa usaha tapi sudah bisa bekerja dan yang penting ada internetnya. Untuk itu katekese untuk pendalaman iman di lingkungan pun umat sudah terlihat semakin malas untuk datang, karena mereka merasa bahwa bisa melalui zoom. Begitupun juga dengan latihan koor umat tidak lagi tertarik untuk datang latihan karena di you tube mereka sudah bisa mendengar dan berlatih sendiri-sendiri. Ketiga. Lebih leluasa dan bebas dalam mengungkapkan isi hati melalui media sosial. Dengan cara mengaploud sebuah masalah hidup agar dunia tau bahwa kita sedang gembira, berduka, bersuka cita. Tanpa disadari kita telah hanyut dalam sifat duniawi kita, karena bukanya datang kepada Tuhan tetapi malahan kepada media yang mungkin sifatnya hanya sementara dan bahkan ada yang tambah memperumit keadaan. Bahkan pada sebuah pertemuan katekese mereka malah sebaliknya merasa tertutup dengan permasalahan hidupnya ketika ada sharing iman, tukar pengalaman iman ini di karenakan lebih suka terbuka kepada media dengan cara mengapluod kata-kata di dunia maya. Padahal bila seseorang bisa mensharingkan kepada sesamanya, mereka akan merasa lebih ringan terhadap beban dan juga masalah yang diembanya, bisa juga pengalaman yang disharingkan menjadi pelajaran bagi yang lain (A. Rafiq, 2. Perilaku Yang Kurang Baik dalam Menghadapi Tantangan pada Era Digital Umat menjadi lebih susah untuk mau berkumpul bersama lagi dikarenakan sibuk masing-masing dengan handphone ataupun pekerjaanya. Berkumpul bersama disini peneliti mengambil contoh di sebuah kegiatan katekese seperti pendalaman iman dan kegiatan lainya. Dalam artikelnya (Andi et al. katekese melalui pendalaman iman inilah yang menjadi salah satu cara untuk sabda Allah semakin dihidupi di Gereja. Itulah sebabnya pendalaman iman menjadi salah satu upaya Gereja, agar kitab suci semakin luas untuk dibuka, dibaca, didengarkan dan direnungkan bersama dalam sinode para uskup 2008. Begitu pula dengan cita-cita para Bapa Konsili Vatikan II yang mau diwujudkan. Demikian pula Gereja Katolik untuk membawa umat agar lebih berpartisipasi aktif dalam mengikuti semua kegiatan-kegiatan yang ada di lingkungan maupun lingkup Gereja, karena itulah tugas kita sebagai awam yaitu sebagai murid yang Yesus utus di tengah dunia. Menjadikan diri sebagai murid Yesus adalah pengakuan iman yang sempurna karena mau menjadi saksi atas diri manusia yang lain. Apalagi bila umat mau menjadikan diri sebagai katekis ataupun guru agama. Dengan begitu sebagai katekis atau guru agama yang mengemban tugas bukan hanya sebagai pengajar agama dan ajaran gereja saja, melainkan juga menghantar umat ke pada Yesus sepenuhnya, mengambil hati dan pikiran orang untuk menyatukan dia dengan Yesus. Dalam hal ini semangat pelayanan dan perutusan dalam diri umat akan semakin membara untuk mewujudkan kerajaan Allah. Semua itu sudah masuk dalam misi perutusan guru agama atau katekis yang peranya sebagai pembawa kabar gembira bagi yang menerima pewartaan tersebut, menurut (Andreas Acin & Sutami, 2. Dengan bantuan para katekis ini tentunya untuk bisa menghidupkan kembali semangat umat dalam mengemban tugas sebagai anggota tubuh Gereja. Karena dengan begitu keterlibatan umat secara fisik maupun mental menjadi sebuah tujuan dari kegiatan yang dilaksanakan (Derung, 2. keaktifan dalam mengikuti kegiatankegiatan tersebut seperti pendalaman iman ini, umat akan semakin lebih diteguhkan dalam imanya, saling menguatkan, memupuk kebersamaan juga serta menjalin persaudaraan dengan sesama di era gempuran digital saat ini. Lalu seberapa banyak umat yang melibatkan dirinya untuk mengikuti kegiatan yang ada di lingkungan-lingkungan serta yang benar-benar menghayati panggilan imanya untuk menuangkan hasil karya pada hidup keseharian umat di tenggah masyarakat ini sangat penting dan sangat di perlukan hingga saat ini (Goa, n. Jadi, kesimpulan yang dapat peneliti ambil dari penjabaran tantangan di atas adalah mengenai pendalaman iman, atau kegiatan katekese lain yang mengundang umat untuk berkumpul bersama agar semakin mempererat relasi, melibatkan diri untuk aktif, serta menghayati iman akan panggilanya akan semakin sulit dijalankan bila adanya teknologi membuat manusia era saat ini menjadi pribadi yang mager . alas gera. dan ego yang mementingkan diri sendiri. Untuk itu katekese kontekstual juga senantiasa menyesuaikan ke dalam katekese era digital saat ini. Jadi inti dari sebuah permasalahan ini hanya satu yaitu iman yang sudah diwartakan baik secara konkret maupun virtual semoga tersampaikan dan membawa umat menuju Yesus. Umat mengalami perjumpaan sendiri dengan Yesus itulah yang seorang katekis perjuangkan. Di era digital saat ini teknologi telah mengubah cara hidup dan berinteraksi secara signifikan. perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memberikan dampak yang besar dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam konteks keluarga Kristen. Ibarat kata ketika seseorang membangun rumah maka diperlukanya sebuah fondasi agar rumah tersebut dapat berdiri kokoh kuat dan dapat menahan segala hantaman yang menyebabkan rumah tersebut menjadi runtuh, menurut Lewar & X, 2024. Jika dilihat dari sisi interaksi sosial pengaruh perubahan sosial di masyarakat terjadi karena semakin mudahnya manusia berinteraksi melalui media sosial, maka interaksi sosial di dunia nyata akan turut berkurang. Manusia tidak perlu lagi saling bertemu secara langsung untuk berkomunikasi, sehingga hal ini akan membentuk pola hidup masyarakat yang semakin tertutup, menurut A. Rafiq, 2019. Dari pendapat di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa fondasi yang kuat dapat menepis segala dampak negatif yang terjadi pada katekese digital saat ini, dengan cara umat harus bisa menjaga keseimbangan di antara keduanya, dengan tetap bertahan pada prinsip yang sudah ada. Artinya bahwa meskipun kita sudah mengikuti perkembangan katekese digital yang ada tetapi kita sadar bahwa itu hanyalah sebuah media yang membantu mengiplikasikan sebuah kegiatan kita untuk terlihat lebih mudah dan menarik tetapi bukan berarti kita bergantung sepenuhnya kepada media-media digital Dengan tidak terlalu menggantungkan diri pada digital ini, peneliti yakin bahwa umat bisa melestarikan budaya katekese ini secara kontekstual. Dengan tujuan katekese sendiri yaitu membawa umat untuk berjumpa dengan Yesus sendiri secara mempersonal, bukan hanya melalui bayang-bayang atau virtual saja. Kesadaran dalam bermedia ini tergantung pada suara hati setiap pribadi. Untuk itu biar kita lebih memahami dan mendengarkan suara hati kita ada baiknya kita membina diri untuk lebih menanamkan nilai-nilai etis dan religius di tengah keluarga kita. Pembinaan itu berawal dari keluarga sendiri seperti: doa bersama, meluangkan waktu untuk keluarga, bersenda gurau bersama, agar tidak fokus dengan kepentingan sendiri-sendiri, diperlukanya untuk me time Bersama keluarga. Untuk itu sangat pentingnya hidup spiritualitas keluarga yang harus tetap dijaga dan dirawat dengan cara mendekatkan diri pada Tuhan, memahami diri sendiri, dan mempunyai waktu untuk hening Bersama Tuhan di tengah keluarga (Agustinus, 2. KESIMPULAN Dari artikel di atas, peneliti menyimpulkan bahwa katekese kontekstual adalah katekese yang sudah biasa umat lakukan di lingkungan-lingkungan, tetapi telah mengalami transformasi ke katekese digital. Sedangkan katekese digital adalah katekese melalui berbagai konten yang menggunakan media sosial saat ini. Untuk itu dari kedua katekese ini pasti memiliki dampak dan tantangan secara positif maupun Dari dampak negatif inilah yang akan menjadi suatu tantangan bagi para umat untuk melawan kemajuan teknologi saat ini. Dengan demikian agar tetap stabil dalam aktivitas keseharianya umat harus bisa menjaga dirinya dari penggaruh perkembangan jaman. Dan semoga dengan adanya artikel ini umat menyadari akan perilaku yang sudah menjadi kebiasaan bagi mereka seperti: terlalu mementingkan pekerjaan, mementingkan handphone untuk berinteraksi sehingga membuat jarak antara orang di sekitarnya atau terdekatnya maka jarak inilah yang akan menjadi kebiasaan dan pengaruh yang buruk bagi diri umat. Jadi, peneliti berharap dalam artikel ini dapat membawa umat mampu menyesuaikan perkembangan jaman dengan mengikuti transformasi katekese kontekstual ke era digital dengan menjaga keseimbangan dalam tradisi dan dalam perkembangan teknologi, karena pada dasarnya semua itu terletak pada diri umat masing-masing antara bagaimana cara kita memakai teknologi digital itu dengan baik dan benar atau malah merugikan pada diri kita sendiri dan orang lain. Katekese yang baik adalah katekese yang di lakukan dengan niat dan kemauan untuk bertumbuh bersama Yesus sampai mencapai kepada kepenuhanya. Maka dengan memperbaiki kesalahan yang sekarang berarti kita juga telah memperbaiki para generasi muda yang akan datang untuk melanjutkan misi kita. Ingat bahwa katekese ini juga merupakan visi dan misi Gereja dalam mewujudkan panggilanya untuk mewartakan kabar gembira di seluruh dunia. Maka jadilah nomer satu untuk meluruskan yang benar kepada generasi penerus selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA