1335 J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 PENYULUHAN GANGGUAN PENDENGARAN PADA REMAJA SEBAGAI BENTUK PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 3 SINGARAJA - BALI Oleh Ida Ayu Mirah Agung1*. Ni Ketut Lyra Sakhya Melani2. Anak Agung Sagung Candra Mahesuari3. Ida Ayu Puspa Juwita Manuaba4 1,2,3,4Fakultas Kedokteran. Universitas Mahasaraswati Denpasar. Denpasar,Indonesia Email: 1mirah@unmas. Article History: Received: 19-08-2025 Revised: 16-09-2025 Accepted: 22-09-2025 Keywords: Headset. Ear Health. Teenager Abstract: With the increasing use of personal listening devices (PLD. such as headsets and true wireless stereo (TWS) for digital music devices, constant exposure to loud noise has become a serious threat to the hearing health of the younger generation. While the use of headsets or TWS has become an integral part of teenagers' daily lives, it turns out to pose serious risks to hearing The material presented covered important topics, including: safe volume limits . ot more than 85 dB), recommended listening duration . he 60/60 ruleAilisten at no more than 60% volume for 60 minutes, then take a brea. , and the importance of using noise-canceling headsets or TWS to reduce the need to increase the volume. The education also emphasized that early symptoms such as tinnitus . inging in the ear. should not be ignored, as they can be an early indication of permanent damage to the hair cells in the cochlea. PENDAHULUAN Telinga merupakan salah satu panca indra utama pada tubuh manusia. Telinga memiliki fungsi utama sebagai indra pendengaran yang sangat diperlukan dalam memudahkan komunikasi antar manusia. Penyakit telinga dan pendengaran sangat sering luput dan terlewatkan. Pasien jarang pergi berobat karena menganggap sepele atau bahkan tidak menyadari adanya penyakit di telinga atau pendengarannya, kecuali aktivitas kesehariannya menjadi terganggu atau mengalami gangguan komunikasi. WHO mencatat sekitar 1,57 miliar dari 8 miliar penduduk dunia mengalami gangguan pendengaran. Hal ini menjadikannya penyebab disabilitas terbesar ketiga di dunia. Lebih dari 5% populasi dunia Ae atau 430 juta orang Ae memerlukan rehabilitasi untuk mengatasi gangguan pendengaran yang mereka alami . ermasuk 34 juta anak-ana. Diperkirakan pada tahun 2050 lebih dari 700 juta orang Ae atau 1 dari setiap 10 orang Ae akan mengalami gangguan pendengaran. World Health Organization (WHO) pada tahun 2020 memperkirakan sepertiga dari seluruh kasus gangguan pendengaran dikaitkan dengan kebisingan dan 1,1 miliar remaja dan dewasa muda di seluruh dunia mengalami GPAB akibat penggunaan Personal Listening Devices (PLD. atau lebih dikenal dengan headset ataupun TWS (True Wireless Stere. pada alat musik digital dengan intensitas tinggi atau kebisingan rekreasi lainnya (Wang TC dkk. Hampir 80% orang dengan gangguan pendengaran tinggal di negara-negara http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 berpenghasilan rendah dan menengah. Prevalensi gangguan pendengaran meningkat seiring bertambahnya usia, di antara mereka yang berusia lebih dari 60 tahun, lebih dari 25% mengalami gangguan pendengaran yang menyebabkan gangguan pendengaran (WHO. Jumlah penderita gangguan pendengaran di Indonesia sebanyak 35,6 juta atau 16,8% dari seluruh penduduk. Sedangkan yang mengalami ketulian adalah 850. 000 jiwa atau sekitar 0,4% dari populasi (Martini dkk, 2. Pada era digital yang kian maju, headset telah menjadi perangkat esensial bagi sebagian besar remaja, yang digunakan untuk berbagai aktivitas mulai dari mendengarkan musik, bermain game, hingga berkomunikasi dengan teman. Namun, di balik kemudahannya, penggunaan yang tidak bijak dapat menimbulkan risiko serius, yaitu gangguan pendengaran. Fenomena ini sering kali tidak disadari karena gejalanya muncul secara perlahan dan Paparan suara dengan volume tinggi dan dalam durasi yang lama merupakan kombinasi berbahaya yang dapat merusak sel-sel rambut halus di telinga bagian dalam, tepatnya pada koklea. Sel-sel ini berperan penting dalam mengubah gelombang suara menjadi sinyal listrik yang dikirim ke otak. Kerusakan pada sel-sel ini bersifat permanen dan tidak dapat diperbaiki oleh tubuh. Akibatnya, kemampuan pendengaran seseorang akan menurun seiring dengan berjalannya Awalnya, mungkin hanya muncul gejala ringan seperti telinga berdenging atau dikenal dengan tinnitus, yang sering dianggap sepele. Namun, jika kebiasaan ini terus berlanjut, gangguan pendengaran dapat menjadi semakin parah, mempersulit penderitanya untuk mendengar percakapan, terutama di lingkungan yang bising. Selain itu, kondisi ini juga bisa memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan, mulai dari kesulitan belajar di sekolah hingga masalah sosial. Penting bagi remaja untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya ini. Beberapa langkah pencegahan sederhana dapat dilakukan, seperti menerapkan aturan "60/60", yaitu membatasi volume suara hingga maksimal 60% dan durasi penggunaan tidak lebih dari 60 menit dalam sehari. Memilih headset dengan fitur pembatas volume atau peredam bising . oise-cancellin. juga bisa menjadi solusi efektif, karena dapat membantu pengguna mendengarkan suara dengan volume lebih rendah tanpa terganggu suara dari luar. Edukasi dan pemahaman sejak dini adalah kunci untuk melindungi kesehatan pendengaran. Acara penyuluhan ini difokuskan untuk mendukung program Kemenkes RI dalam rangka mencegah dan menanggulangi gangguan pendengaran, dimana fokusnya antara lain adalah: . Promosi Kesehatan. Deteksi Dini. Perlindungan Khusus. Penanganan Kasus. Upaya promosi kesehatan diarahkan agar masyarakat peduli untuk mencegah gangguan indera dengan menyebarluaskan informasi baik melalui media komunikasi, informasi dan edukasi maupun melalui penyuluhan atau kegiatan lainnya serta melibatkan masyarakat ikut berperan di dalamnya. Deteksi dini gangguan pendengaran dapat dilakukan upaya kesehatan berbasis masyarakat melalui Posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan untuk menjaring kasus gangguan pendengaran di masyarakat yang kemudian dirujuk ke FKTP. Pemerintah telah memulai program cek kesehatan gratis di Puskesmas dan rogram ini bisa dimanfaatkan untuk skrining pendengaran. (Kemenkes RI, 2. Penyuluhan diadakan di SMA N 3 Singaraja oleh dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mahasaraswati Denpasar dengan melibatkan siswa-siswi SMA N 3 Singaraja serta perangkat sekolah. Singaraja, sebuah kota di pesisir utara Pulau Bali, menyimpan kekayaan sejarah dan budaya yang tak kalah menawan dari kawasan Bali selatan yang lebih ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 Sebagai ibu kota Kabupaten Buleleng. Singaraja memiliki julukan "Kota Pendidikan" karena reputasinya yang kuat dalam dunia pendidikan, dengan berdirinya berbagai institusi pendidikan ternama. Sebagai Kota Pendidikan. Singaraja diharapkan dapat menjadi tempat dimana ilmu pengetahuan berkembang dan masa depan generasi muda dibentuk. METODE Metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat diawali dengan melakukan survey di masyarakat dan sekolah. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran umum mengenai kondisi sekolah. Informasi diperoleh dengan metode wawancara dengan siswasiswi, petugas dan guru sekolah serta beberapa warga Masyarakat sekitar. Data yang diperoleh digunakan sebagai bahan penyusunan proposal yang dituangkan pada bagian analisis situasi dan kelayakan dari pelaksana dan banjar sasaran. Langkah-langkah yang dilakukan pada kegiatan penyuluhan ini, meliputi Identifikasi Masalah dan Penentuan Tujuan Pada tahap awal: mengidentifikasi masalah utama terkait kesehatan pendengaran, seperti angka kejadian gangguan pendengaran, penyakit telinga yang lebih sering ditemukan seperti serumen blok/serumen obsturans dan penyakit infeksi telinga seperti OMSK. Tujuan dari acara penyuluhan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa-siswi tentang pentingnya kesehatan telinga dan pendengaran. Pengumpulan Data: Data dikumpulkan melalui wawancara, diskusi serta observasi langsung dilakukan di lapangan untuk memahami kondisi kesehatan telinga siswasiswi. Analisis Data: Hasil analisis data digunakan untuk mengidentifikasi pola masalah pada warga sekolah, terutama siswa-siswi. Intervensi dan Aksi: Kegiatan penyuluhan dilaksanakan dengan memaparkan mengenai kesehatan telinga seperti gangguan pendengaran beserta jenis-jenis gangguan pendengaran, penyebab terjadinya gangguan pendengaran, tips dan metode yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan pendengaran. Evaluasi dan Refleksi: Evaluasi dilakukan untuk menilai pelaksanaan kegiatan dan untuk merencanakan langkah-langkah lanjutan. Penyuluhan Kesehatan Telinga ini dilaksanakan dengan pendekatan edukatif yang melibatkan berbagai metode interaktif untuk memastikan pemahaman yang maksimal pada Kegiatan ini dimulai dengan tahap persiapan dan sosialisasi, di mana informasi tentang acara disebarluaskan melalui brosur dan pengumuman di sekolah. Sosialisasi ini bertujuan untuk mengundang peserta dari berbagai kalangan, juga mencakup penjelasan mengenai waktu pelaksanaan, materi yang akan disampaikan dan manfaat yang didapat oleh HASIL Acara penyuluhan mengenai kesehatan telinga dilaksanakan di SMA N 3 Singaraja dihadiri secara antusias oleh sebagian besar siswa-siswi SMA N 3 Singaraja dan perangkat sekolah, dengan pemaparan oleh dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (THT-BKL). Acara diisi dengan pemateri memberikan penyuluhan mengenai kesehatan telinga, seperti gangguan pendengaran beserta jenis-jenis gangguan pendengaran, penyebab terjadinya gangguan pendengaran, tips dan metode yang dapat dilakukan untuk http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 mencegah terjadinya gangguan pendengaran. Penyuluhan kesehatan telinga ini dapat mencapai tujuan yang telah direncanakan. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong siswasiswi untuk lebih peduli terhadap kesehatan telinga dan pendengarannya. Penyuluhan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, disertai dengan quiz yang dimeriahkan dengan pemberian doorprize bagi peserta penyuluhan yang dapat menjawab pertanyaan dari Secara garis besar, kegiatan penyuluhan ini dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan siswa-siswi serta perangkat sekolah mengenai pentingnya menjaga kesehatan telinga dan pendengaran. Keberhasilan dapat dilihat dari antusias tinggi siswa-siswi yang hadir dan ikut berpartisipasi memberi timbal balik berupa pertanyaan dalam sesi tanya Peserta kegiatan dapat menambah pengetahuan mengenai metode 60/60 yang dapat membantu dalam pencegahan penurunan pendengaran akibat penggunaan headset. Gambar 1. Pelaksanaan Penyuluhan Gangguan Pendengaran pada Remaja KESIMPULAN Program Pengabdian kepada Masyarakat berupa Penyuluhan Gangguan Pendengaran pada Remaja oleh tim pelaksana terhadap siswa-siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Singaraja telah berhasil menambah wawasan dan pengetahuan siswa-siswi mengenai pentingnya menjaga pendengaran. Secara umum pengetahuan tentang kesehatan pendengaran di kalangan siswa-siswi dianggap masih cukup rendah, sehingga sangat perlu dilakukan kegiatan penyuluhan untuk remaja luas secara berkesinambungan dengan harapan dapat mengurangi prevalensi penurunan pendengaran dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. UCAPAN TERIMA KASIH Tim penyuluhan kesehatan telinga mengucapkan terima kasih yang banyak kepada siswa-siswi Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Singaraja (SMA N 3 Singaraj. serta Pak Jaya selaku petugas di SMA N 3 Singaraja atas izin, waktu, antusias serta fasilitas yang diberikan agar acara kegiatan ini berjalan dengan lancar. Ungkapan terima kasih yang sebesarbesarnya juga diucapkan kepada Rektor Universitas Mahasaraswati dan Ketua LPPM atas ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 dana dan dukungan yang diberikan kepada tim pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat REFERENSI