Jurnal Teologi Pambelum Volume 4. Nomor 2 (Februari 2. : 150-169 ISSN: 2088-8767 (Prin. , 2829-0550 (Onlin. Link Jurnal: https://jurnal. stt-gke. id/index. php/pambelumjtp Published by: Unit Penerbitan dan Informasi STT GKE Doi Artikel: https://doi. org/10. 59002/jtp. Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z Irenza Artanauli Manurung1. Clarita Hukum2. Fredy Kapang3 Aska Aprilano Pattinaja4 Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Ambon apattinaja@gmail. Abstract The phrase "envy" appears only three times in the entire book of Proverbs, namely Proverbs 3:31. 14:30. 23:17, and this sin has a very negative impact on Gen-Z because it can trigger behavior without ethics and morals. In the literature search, there is a research gap in discussing this sin specifically and comprehensively because the discussion is often combined in wisdom advice and book structure. The purpose of this study is to specifically and comprehensively analyze this sin and its negative impact on the spiritual development of Gen-Z. Based on the hermeneutic method of the subgenre of wisdom literature, this study found that there are four negative effects, namely: first, destructive comparisons. second, emotional health problems. third, spiritual deterioration. fourth, damaged relationships. This research is a contribution for counselors and educators to better understand and reach out to Gen-Zs who are bound by the sin of envy. Keywords: Proverbs. Envy. Gen-Z. Implications. Decline. Abstrak Frase Auiri hatiAy hanya muncul tiga kali dalam keseluruhan kitab Amsal, yaitu Amsal 3:31. 14:30. 23:17, dan dosa ini sangat berdampak negatif bagi Gen-Z, karena dapat memicu perilaku tanpa etika dan moral. Dalam penelusuran literatur, maka ditemukan kesenjangan penelitian dalam membahas dosa ini secara spesifik dan komprehensif karena pembahasannya sering digabungkan dalam nasihat hikmat dan struktur kitab. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis secara spesifik dan komprehensif, menyangkut dosa ini serta dampak buruk terhadap perkembangan spiritual Gen-Z. Berdasarkan metode hermeneutika sub genre sastra hikmat, maka penelitian ini menemukan, ada empat dampak buruk, yakni: pertama, perbandingan yang merusak. kedua, masalah kesehatan ketiga, kemerosotan rohani. dan keempat, hubungan yang rusak. Penelitian ini menjadi masukan bagi para konselor dan pendidik untuk lebih memahami dan mengupayakan adanya pemulihan bagi Gen-Z yang terikat dosa iri hati. Kata kunci: Amsal. Iri Hati. Gen-Z. Implikasi. Merosot. Pendahuluan Fenomena iri hati merupakan salah satu isu moral yang terus relevan sepanjang zaman, termasuk dalam generasi modern seperti Gen-Z (Smith & Kim, 2007, pp. Thomas Diterima Redaksi: 20-12-2024 | Selesai Revisi: 21-02-2. Diterbitkan Online: 28-02-2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z Aquinas menjelaskan bahwa iri hati termasuk dalam tujuh dosa pokok Auseven deadly sinsAy yang dianggap sebagai akar perilaku buruk lainnya. Aquinas menjelaskan iri hati merujuk pada perasaan tidak senang melihat keberhasilan orang lain dan keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain (Aquinas, 1925, pp. Sementara Brideges menjelaskan bahwa dalam teologi Alkitab, iri hati dianggap sebagai dosa yang berakar pada ketidakpuasan terhadap kehendak dan anugerah Allah. Perasaan ini muncul ketika seseorang merasa tidak puas dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya, sehingga timbul keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain. Iri hati tidak hanya mencerminkan ketidakpuasan terhadap pemberian Allah, tetapi juga menunjukkan kurangnya rasa syukur dan kepercayaan terhadap rencana-Nya (Bridges, 2017, pp. Dalam Alkitab, dosa iri hati mendapat perhatian serius karena dampaknya yang destruktif, baik secara pribadi maupun sosial. Kumpulan Amsal 3:31, 14:30, dan 23:17 memberikan pandangan bijaksana mengenai bahaya iri hati dan bagaimana sifat ini dapat memengaruhi hubungan antar Ketiga ayat ini menyoroti aspek iri hati yang tidak hanya merusak hubungan dengan sesama tetapi juga membawa kehancuran batin yang lebih mendalam (Lappenga, 2017 pp. Hal ini menjadi sangat penting untuk dibahas, terutama di tengah budaya Gen-Z yang sering kali dipengaruhi oleh persaingan, standar kesuksesan yang tinggi, dan media sosial. Generasi Z, yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, tumbuh dalam era digital yang memberikan akses tanpa batas ke informasi dan kehidupan orang lain (Colmekcioglu et al. , 2. Platform seperti Instagram. TikTok, dan Twitter telah menciptakan lingkungan di mana individu sering kali membandingkan diri mereka dengan pencapaian, penampilan, atau gaya hidup orang lain. Kondisi ini membuat Gen-Z rentan terhadap perasaan iri hati, yang jika tidak ditangani, dapat memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hubungan sosial mereka (Stahl & Literat, 2. Oleh karena itu, penelitian mengenai dosa iri hati dalam kitab Amsal dan implikasinya terhadap pergaulan Gen-Z menjadi sangat relevan untuk memberikan perspektif teologis dan praktis dalam menghadapi tantangan ini (Ellis, 2. Beberapa peneliti juga menyoroti dampak negatif dari iri hati, diantaranya Stahl dan Literat, menyampaikan iri hati adalah salah satu dosa yang paling destruktif karena tidak hanya merusak hubungan dengan sesama tetapi juga menggerogoti kedamaian batin seseorang (Stahl & Literat, 2. Sementara Kannan dan Kumar juga menulis, bahwa GenZ merupakan generasi yang memiliki mental seperti roller-coaster yang terkadang membawa dampak signifikan terhadap psikologis. Mereka mudah marah tersinggung dan sangat merasa iri hati yang jika tidak ditangani dengan baik akan membawa kehancuran (Kannan & Kumar, 2. Selain itu Crusius dan Lange juga mencatat, jika iri hati tidak ditangani maka akan merubah mental seseorang menjadi jahat. Iri hati yang timbul akan memengaruhi kecenderungan untuk seseorang bertindak kasar dan bahkan kejam. Apalagi di kalangan Gen-Z yang memiliki emosi yang masih labil, maka keadaan iri hati akan memicu tindakan-tindakan yang anarkis dan sarkasme kepada orang lain (Crusius & Lange. Mereka menambahkan, bahwa iri hati yang jahat akan selalu berusaha menjatuhkan orang lain yang lebih unggul dengan berbagai cara, termasuk cara-cara kekerasan (Lange & Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z Crusius, 2. Secara khusus Colmekcioglu, dkk menjelaskan bahwa iri hati adalah emosi yang berdampak pada perilaku seseorang. Selain itu, penelitian ini mengindikasikan bahwa budaya memainkan peran penting dalam munculnya rasa iri Gen Z, sehingga memberikan kontribusi pada kumpulan pengetahuan saat ini (Colmekcioglu et al. , 2. Selain itu, penelitian mengenai iri hati dari sudut pandang teologi, diantaranya Ellis, yang menjelaskan bahwa iri hati dalam konteks Perjanjian Lama sering kali dikaitkan dengan ketidakpuasan terhadap rencana Tuhan, sehingga dosa ini juga mencerminkan kurangnya iman dan kepercayaan kepada-Nya (Ellis, 2. Lappenga menambahkan bahwa kitab Amsal memberikan wawasan praktis untuk mengatasi dosa ini dengan menekankan pentingnya kebijaksanaan, pengendalian diri, dan takut akan Tuhan sebagai dasar kehidupan yang sehat secara rohani dan emosional (Lappenga, 2. Implikasi dari dosa iri hati terhadap pergaulan Gen-Z sangat luas. Joubert, menulis bahwa iri hati dapat memunculkan konflik, perpecahan, dan rasa tidak percaya di antara teman atau rekan sejawat. Selain itu, perasaan iri dapat mendorong seseorang untuk mengambil jalan pintas atau melakukan tindakan tidak etis demi mengejar pengakuan atau status sosial yang lebih tinggi. Kondisi iri hati inilah yang membuat Kain mengambil sikap yang keliru dengan membunuh adiknya (Joubert, 2. Senada dengan Joubert. Kotze juga menulis bahwa iri hati Leah telah menimbulkan adanya persaingan yang tidak sehat dalam keluarga Yakub (Kotzy, 2. Dalam konteks implikasi dari pergaulan Gen-Z yang sangat dipengaruhi oleh dunia maya, perasaan ini sering kali diperparah oleh algoritma media sosial yang menonjolkan kehidupan ideal orang lain, sehingga menciptakan siklus perbandingan yang tidak sehat. Berdasarkan beberapa penelitian yang disampaikan, maka pembahasan mengenai iri hati ini, terfokus kepada kondisi mental psikologis Gen-Z dan bagaimana implikasinya secara langsung kepada mengambil jalan pintas, anarkis, sarkasme, dll. Sekalipun beberapa penelitian di atas, telah membahas mengenai faktor iri hati, tetapi penelitian ini menemukan adanya kesenjangan penelitian yang mengkaji mengenai akibat dari bahaya iri bagi Generasi Z dalam kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17. Padahal, kitab Amsal telah memberikan peringatan terhadap dosa iri hati. Untuk itulah lewat penelitian ini Gen-Z perlu diarahkan untuk memahami bahwa nilai diri mereka tidak ditentukan oleh apa yang mereka miliki atau capai, melainkan oleh hubungan mereka dengan Tuhan. Dalam konteks ini, komunitas gereja memiliki peran penting dalam membimbing Gen-Z untuk mengatasi tantangan iri hati dengan membangun nilai-nilai yang berpusat pada kasih, kerendahan hati, dan syukur. Untuk itulah riset ini dilakukan untuk meneliti secara komprehensif dan mengenai akibat bahaya iri hati yang membawa kehancuran dan kejatuhan bagi Gen-Z. Hasil riset ini juga menjadi masukan bagi perkembangan penelitian dalam kerangka studi sastra hikmat. Metode Penelitian Artikel ini menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan hermeneutika sub genre sastra hikmat yang bersifat interpretative design, yang memiliki korelasi erat dengan pendekatan penelitian yang berfokus pada makna, pengalaman, dan konteks, khususnya Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z dalam penelitian kualitatif. (Sonny Eli Zaluchu, 2021, 93-. Kitab Amsal sebagai kitab bergenre hikmat, haruslah disajikan dengan teknik tafsir yang disesuaikan dengan konteks sastranya (Klein et al. , 2017, . Kumpulan Amsal yang diteliti adalah bagian Amsal Salomo yang berdiri sendiri, sehingga masing-masing Amsal bersifat individu, serta tidak memiliki kesinambungan antara konteks dekat, melainkan didasarkan pada konteks antar topik (Sualang, 2023b, 24-. Ditambah dengan studi literatur kepustakaan untuk menemukan informasi dan teori yang lengkap dari artikel jurnal dan buku akademik untuk melengkapi dasar ilmiah penulisan ini (Sonny Eli Zaluchu, 2021, 112-. Hal ini memberikan dasar untuk dapat menganalisis frase Auiri hatiAy sehingga bisa memaparkan suatu interpretasi yang tepat. Berdasarkan pendekatan hermeneutika sastra hikmat, maka beberapa hal yang akan dilakukan dalam penelitian adalah: pertama. Analisis Literal. Analisis ini dilakukan untuk menemukan makna dari konteks ayat yang dimaksud berdasarkan perbandingan terjemahan (Douglas Stuart, 2020, . dan kedua. Analisis Leksikal. Analisis ini dilakukan untuk memahami makna dan konteks frasa Auiri hatiAy (Stuart & Fee, 2021, . Analisis paralelisme, untuk menemukan bentuk struktur kesejajaran dalam ayat yang diteliti serta menggali keunikan nasihat yang terkandung di dalamnya (Sin, 2018 pp. Keempat. Analisis teologis, untuk mengorelasikan dengan nilai-nilai teologi pada Alkitab (Tremper Longman i, 2015, p. dan Kelima, memaparkan implikasi dosa Auiri hatiAy terhadap pergaulan Gen-Z. Hasil analisis yang dikerjakan bisa menjadi rujukan dan masukan bagi pembaca terlebih khusus para Gen-Z untuk dapat menjaga hidup dengan baik dan tidak terpengaruh dengan tawaran dosa iri hati. Hasil dan Pembahasan Amsal 3:31 mengingatkan. AuJangan iri hati kepada orang yang melakukan kekerasan, dan jangan memilih salah satu dari segala jalannya. Ay Ayat ini menyoroti kecenderungan manusia untuk mengagumi atau menginginkan apa yang dimiliki oleh orang-orang yang tampaknya sukses, meskipun melalui cara-cara yang tidak benar. Dalam konteks modern, hal ini sering terlihat ketika Gen-Z terinspirasi oleh figur-figur yang meraih popularitas dengan cara-cara yang tidak etis atau tidak bermoral (Lappenga, 2. Menurut Waltke dan Silva, iri hati menunjukkan semangat untuk harta benda. Iri hati adalah akar dari berbagai macam dosa. Hal itu mendorong Kain untuk membunuh Habel . Kej. Orang yang kejam menggambarkan orang yang berdarah dingin dan melanggar hak-hak orang lain, oleh karena keserakahan dan kebencian (Waltke & De Silva. , 2021 p. Pengaruh media sosial memperkuat masalah ini dengan menampilkan kehidupan yang terkuras, sehingga menciptakan tekanan untuk mengikuti jejak yang sama, meskipun bertentangan dengan nilai-nilai moral. Sementara itu. Amsal 14:30 menyatakan. AuHati yang tenang memberi kehidupan kepada tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang. Ay Ayat ini menjelaskan konsekuensi internal dari iri hati, yaitu kerusakan emosional dan spiritual yang berujung pada kehancuran diri. Penelitian psikologis modern mendukung pandangan ini, menunjukkan bahwa iri hati dapat menyebabkan stres, depresi, dan gangguan kecemasan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z (Smith et al. , 2016 p. Dalam konteks Gen-Z, iri hati sering kali muncul dari perbandingan sosial yang terus-menerus, terutama melalui media digital, yang akhirnya memengaruhi kesehatan mental mereka secara signifikan (Kannan & Kumar, 2022 p. Amsal 23:17 menambahkan dimensi lain dengan berkata. AuJanganlah hatimu iri kepada orang-orang berdosa, tetapi takutlah akan Tuhan senantiasa. Ay Ayat ini menekankan pentingnya fokus pada hubungan dengan Tuhan daripada terjebak dalam perasaan iri terhadap keberhasilan orang Dalam budaya Gen-Z, yang cenderung menempatkan pencapaian material dan pengakuan sosial sebagai ukuran kesuksesan, ayat ini menjadi pengingat bahwa kepuasan sejati hanya dapat ditemukan dalam ketaatan kepada Tuhan (Colmekcioglu et al. , 2023 pp. Analisis Literal Analisa literal yang dimaksudkan adalah untuk mencari arti kata penting dalam Amsal 3:31, 14:30 dan 23:17, tetapi juga dalam beberapa terjemahan-terjemahan lain, yang memiliki Aubahasa persamaanAy (Grant R Osborne, 2021, p. Stuart menulis ada banyak permasalahan yang terjadi dalam terjemahan karena bermakna ganda . (Douglas Stuart, 2020, p. Untuk itulah perlu diteliti secara komprehensif ketiga ayat dimaksud agar lebih memahami konteks dari ayat tersebut. Amsal 3:31 14:30 Tabel 1. Analisis Literal dari Amsal 3:31, 14:30, 23:17 Versi Teks Terjemahan BHS Au Aa c aoA c i a uA A aAJangan iri hati kepada orang yang Aue uoiEA A uc c uAmelakukan kekerasan, dan jangan memilih semua jalannya ESV Do not envy a man of Janganlah iri hati kepada orang yang violence and do not melakukan kekerasan dan janganlah choose any of his memilih salah satu dari jalan-jalannya KJV Envy thou not the Janganlah engkau iri hati kepada orang yang oppressor, and choose menindas, dan janganlah engkau memilih none of his ways NET Envy thou not the Janganlah engkau iri hati kepada orang yang oppressor, and choose menindas, dan janganlah engkau memilih none of his ways NIV Do not envy the Jangan iri pada mereka yang melakukan violent or choose any kekerasan atau memilih salah satu cara of their ways. BHS A oA o c oy uA c A ca i ncAHati yang tenang menyembuhkan tubuh. AaiEA A i Atetapi iri hati merusakan tulang Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z ESV KJV NET NIV 23:17 BHS ESV KJV NET NIV A tranquil heart gives life to the flesh, but envy makes the bones A sound heart is the life of the flesh: but envy the rottenness of the bones revives the body, but envy is rottenness to the bones A heart at peace gives life to the body, but envy rots the bones Auo A a uc o c o caoy uuoA Aayc o a u oi ii uui o iyEA Hati yang tenang memberi kehidupan pada daging, tetapi iri hati membuat tulang-tulang Hati yang tenang adalah kehidupan bagi daging, tetapi iri hati adalah kebusukan bagi Roh yang tenang menghidupkan kembali tubuh, tetapi iri hati adalah kebusukan pada Hati yang damai memberi kehidupan bagi tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang Jangan biarkan hatimu iri kepada para pendosa, tetapi takutlah kepada TUHAN sepanjang hari. Let not your heart Janganlah hatimu iri hati terhadap orangenvy sinners, but orang berdosa, tetapi teruslah takut akan continue in the fear of Tuhan sepanjang hari. the LORD all the day. Let not thine heart Janganlah hatimu iri hati terhadap orangenvy sinners: but be orang berdosa, tetapi hendaklah engkau thou in the fear of the takut akan Tuhan sepanjang hari. LORD all the day Do not let your heart Janganlah biarkan hatimu iri hati terhadap envy sinners, but orang-orang berdosa, tetapi hendaklah kamu rather be zealous in senantiasa takut akan Tuhan. fearing the LORD all the time. Do not let your heart Janganlah biarkan hatimu iri hati terhadap envy sinners, but orang-orang berdosa, tetapi hendaklah kamu always be zealous for selalu bersemangat karena takut akan the fear of the LORD Tuhan. Secara keseluruhan, analisis literal terhadap Amsal 3:31, 14:30, dan 23:17 menunjukkan bahwa perbedaan terjemahan terutama terletak pada pemilihan kata dalam bahasa Inggris yang dapat memberikan nuansa berbeda. KJV menggunakan bahasa yang lebih klasik dan terkadang kurang tepat dalam menerjemahkan kata-kata Ibrani tertentu. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z seperti dalam Amsal 3:31 di mana uAmAs diterjemahkan sebagai "oppressor" . daripada "violent man" . rang yang keja. NET cenderung memberikan penjelasan tambahan yang berguna, seperti dalam Amsal 23:17 di mana "fear of the LORD" diberikan nuansa "zealous" . emangat dalam takut akan Tuha. ESV dan NIV lebih seimbang dalam mempertahankan literalitas sambil tetap natural dalam bahasa Inggris modern. Dari analisis teks Ibrani, terjemahan yang lebih tepat telah diberikan dengan mempertimbangkan makna asli dalam BHS. Secara tematik, ketiga ayat ini berbicara tentang bahaya iri hati dan dorongan untuk tetap setia kepada jalan Tuhan. Amsal 3:31 memperingatkan agar tidak iri kepada orang kejam. Amsal 14:30 menunjukkan dampak negatif iri hati terhadap tubuh manusia, dan Amsal 23:17 menekankan pentingnya mengarahkan hati pada takut akan Tuhan daripada iri kepada orang berdosa. Pesan utama dari ketiga ayat ini adalah bahwa iri hati tidak hanya berbahaya secara moral dan spiritual tetapi juga memiliki dampak negatif pada kesejahteraan fisik dan emosional seseorang. Oleh karena itu, alih-alih iri hati, seseorang harus mencari ketenangan hati dan takut akan Tuhan sebagai prinsip hidup yang utama. Ketiga ayat dalam kitab Amsal ini memberikan peringatan tentang bahaya iri hati serta dampaknya terhadap kehidupan moral dan spiritual manusia. Dalam Amsal 3:31, menunjukkan larangan terhadap rasa iri terhadap mereka yang memperoleh keuntungan melalui ketidakadilan. Kata A( a iAqinAoa. , yang berarti iri hati atau kecemburuan, sekali lagi ditekankan sebagai emosi destruktif yang bertentangan dengan kehidupan yang benar di hadapan Tuhan. Waltke menjelaskan bahwa kata ini menunjukkan hasrat yang mengarah pada tindakan imitasi yang tidak etis. Peringatan ini diperkuat oleh pengajaran dalam Amsal 14:30, yang menyatakan bahwa AuHati yang tenang memberikan kehidupan bagi tubuh, tetapi iri hati adalah kerusakan bagi tulang-tulangAy (Bruce K. Waltke, 2014 p. Fox juga mengamati bahwa metafora fisik dalam ayat ini menyoroti dampak mendalam emosi negatif pada kesehatan fisik, sementara hati yang tenang membawa pemulihan dan vitalitas (Michael V. Fox, 2009 p. Selanjutnya. Amsal 23:17 menekankan pentingnya hidup dalam takut akan Tuhan, bukan iri terhadap keberhasilan orang berdosa. Kata A( a iAqinAoa. , yang berarti iri hati atau kecemburuan, ditegaskan oleh Murphy sebagai perasaan yang merusak hubungan manusia dengan Allah karena mencerminkan ketidakpuasan terhadap providensi-Nya (Murphy, 2000 p. Ketiga ayat ini memiliki kesamaan dalam melarang iri hati, tetapi menyoroti aspek yang berbeda. Amsal 3:31 memperingatkan terhadap iri kepada mereka yang memperoleh kesuksesan melalui kekerasan. Amsal 14:30 menjelaskan dampak fisik dan emosional dari iri hati, sementara Amsal 23:17 mengarahkan fokus kepada kehidupan yang takut akan Tuhan sebagai solusi. Dalam konteks Gen-Z, ayat-ayat ini relevan untuk menekankan pentingnya tidak membandingkan diri dengan orang lain secara negatif, khususnya di era media sosial yang sering kali mendorong perasaan iri hati. Generasi ini sering terpapar pencitraan kesuksesan yang tidak realistis di media sosial, sehingga risiko iri hati meningkat. Sebagai gantinya, mereka diajak untuk mencari Tuhan dan hidup dalam ketaatan kepada Tuhan, sebagaimana ditekankan oleh Davis, bahwa kebijaksanaan Amsal mengarahkan manusia kepada kehidupan yang seimbang dan takut akan Tuhan (Ellen F. Davis, 2000 p. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z Dengan demikian, frasa Auiri hatiAy dalam konteks ini tidak hanya berfungsi sebagai larangan moral tetapi juga sebagai panggilan untuk pengembangan diri yang sehat. Ajakan untuk menghindari iri hati dan memilih hati yang tenang relevan untuk membangun generasi muda yang gigih dan berorientasi pada nilai-nilai ilahi. Analisis literal dari Amsal 3:31, 14:30, dan 23:17 menunjukkan kesatuan tema tentang larangan iri hati yang memiliki implikasi moral, spiritual, dan praktis. Ketiga ayat ini menekankan bahwa iri hati adalah emosi destruktif yang berakar pada ketidakpuasan terhadap kehendak Allah dan dapat membawa kerusakan baik secara fisik maupun relasional. Solusi yang diberikan adalah memilih jalan takut akan Tuhan, hati yang tenang, dan penghormatan terhadap providensi ilahi. Dalam konteks Gen-Z, ajaran ini memberikan arahan yang relevan untuk mengatasi tekanan budaya modern, seperti pencitraan media sosial, dengan mengedepankan pengembangan diri yang berakar pada nilai-nilai alkitabiah. Analisis Leksikal Amsal 3:31 Dalam Amsal 3:31, frase ini disebut Au a AAo( al-teqanneA. Frase ini terdiri dari kata A a uAmerupakan partikel larangan, yang berarti "jangan" (William L. Holladay, 2019 p. Kemudian kata A aberbentuk imperatif dari akar kata A aA, qanah, yang berarti iri atau cemburu (William L. Holladay, 2019 p. Menurut Brown Driven Bridge, kata ini menyiratkan hasrat untuk memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain, bahkan secara ekstrem kata ini merujuk kepada menggairahkan hingga marah karena cemburu (Brown et al. , 2015 Kata yang berikut adalah A( c aoA cAboAoish kuama. yang terdiri dari kata A( c aoAAboAois. yang artinya "kepada orang" dan kata A( cAkuymy. yang artinya "kekerasan" atau "kezaliman" dari akar kata A A, khamas, yang merujuk pada tindakan kekerasan, perampasan, atau ketidakadilan (William L. Holladay, 2019 p. Kata benda A( Akuymys. AukekerasanA. berfungsi sebagai sebuah genitif atributif. Kata ini sendiri berarti Aukekerasan, salahAy dan menunjuk pada kekerasan fisik, ketidakadilan sosial, perlakuan yang kasar, kekejaman yang liar, kata-kata yang menyakitkan, kebencian, dan kekasaran secara umum (Brown et al. , 2015 Selanjutnya adalah kata Auc A u A( i aAwoAoal-tivkua. , yang terdiri dari kata A( i a uAwoAoa. pengulangan partikel larangan, berarti "dan jangan" dan kata A( uc Ativkua. berbentuk imperatif dari akar kata A( c Abakha. , berarti "memilih" atau "memutuskan" (William L. Holladay, 2019 p. Kata berikutnya A( c uue uoiEAb'khyl-d'raAy. yang terdiri dari kata Ac uuA . 'khy. "dalam semua" atau "salah satu. " Selanjutnya kata A( e uoiAd'raAy. yang artinya "jalannya" dari akar Ae oA, derekh, yang merujuk kepada jalan atau cara hidup. Sementara akhiran "-A( "oiA-y. menunjukkan kepemilikan orang ke-3 tunggal, yakni "jalannya. Ayat ini memberikan peringatan agar tidak iri kepada orang yang berhasil melalui caracara kezaliman atau kekerasan. "Jalan-jalan" mereka melambangkan gaya hidup yang berlawanan dengan prinsip keadilan Allah. Larangan ini bukan hanya tentang tindakan iri hati, tetapi juga tentang pengaruh negatif yang dapat membuat seseorang tergoda untuk Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z meniru gaya hidup tersebut. Dalam hal ini, kata A( aAqanaA. , yang diterjemahkan sebagai "iri hati," mengungkapkan perasaan cemburu terhadap kesuksesan orang lain, terutama jika itu diperoleh dengan cara yang tidak benar. Iri hati dalam konteks ini bukan hanya perasaan sesaat, tetapi juga dorongan untuk meniru jalan hidup yang merugikan atau tidak etis. Sementara itu, kata A( Akuymy. yang berarti "kekerasan" atau "kezaliman," menunjukkan tindakan yang tidak adil atau brutal yang sering kali dilakukan oleh orang yang tidak peduli dengan prinsip moral atau etika. Amsal 3:31 mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam godaan untuk mengikuti orang yang sukses secara instan, tetapi melakukannya dengan cara yang salah atau penuh penindasan. Ayat ini juga mengingatkan kita bahwa cara hidup yang penuh kekerasan dan ketidakadilan seharusnya tidak menjadi model atau pilihan. Bagi Gen-Z, yang tumbuh dalam era digital di mana pencapaian dan kesuksesan sering kali diukur berdasarkan standar eksternal seperti yang terlihat di media sosial, pesan ini sangat relevan. Media sosial sering kali menampilkan kehidupan yang tampak sempurna, yang sering kali didasarkan pada pencapaian material dan penampilan luar. Bagi banyak remaja dan pemuda Gen-Z, ada dorongan kuat untuk meniru kehidupan tersebut, bahkan jika hal itu berarti mengabaikan nilai-nilai moral atau integritas pribadi. Iri hati terhadap orang lain yang tampaknya memiliki lebih banyak kekayaan atau popularitas dapat menjadi godaan yang kuat, yang dapat mendorong mereka untuk memilih jalan yang tidak benar atau tidak sehat untuk meraih tujuan tersebut. Implikasi dari Amsal 3:31 bagi Gen-Z adalah pentingnya mengembangkan kedewasaan emosional dan pemahaman moral untuk menanggapi perasaan iri hati. Sebagai generasi yang sering terpapar pada tekanan untuk memenuhi standar sosial atau popularitas, mereka diajak untuk tidak membiarkan diri mereka dipengaruhi oleh pencapaian yang diperoleh dengan cara yang tidak adil. Amsal ini mengajarkan pentingnya mengejar kehidupan yang jujur dan adil, bukan terjebak dalam perbandingan yang merusak. Ini juga mengingatkan mereka untuk menghargai nilai-nilai integritas, ketekunan, dan keadilan dalam meraih tujuan, meskipun jalan yang ditempuh mungkin lebih sulit atau Oleh karena itu. Amsal 3:31 mengajak Gen-Z untuk lebih selektif dalam memilih panutan dan tidak membiarkan diri terjebak dalam godaan untuk mengikuti jalan hidup orang lain yang tampaknya berhasil, tetapi dengan cara yang salah. Gen-Z diajak untuk memahami bahwa kesuksesan sejati tidak datang dari meniru jalan yang penuh penindasan atau ketidakadilan, melainkan dari memilih jalan yang benar dan penuh integritas. Amsal 14:30 Dalam ayat ini maka kata-kata kunci yang harus dianalisis adalah. A( oA o c oyAuayyei bouAr. yang terdiri dari kata A" oA oAHidup" atau "kehidupan" dari akar A oiA, uayah, berarti hidup atau memberi kehidupan (William L. Holladay, 2019 p. Kata berikutnya adalah A" c oyATubuh" yang dalam bentuk jamak dari Ac A, basar, yang sering merujuk pada daging atau tubuh manusia (William L. Holladay, 2019 p. Frasa ini mengacu pada kesehatan atau vitalitas fisik, dalam berbagai terjemahan (ESV. KJV. NAB. NIV) diterjemahkan Aumemberikan kehidupan. Ay Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z Kata yang berikut adalah A( uA c A caAleN marpe') yang terdiri dari kata A" uA cAHati," yang dalam budaya Ibrani kuno melambangkan pusat emosi, pikiran, dan kehendak (William L. Holladay, 2019 p. Selanjutnya kata A" A caAYang menyembuhkan" atau "kesehatan" dari akar a, rapha, yang berarti menyembuhkan atau memulihkan. Frase Auhati yang menyembuhkanAy berbentuk genitif A amarpe'. AupenyembuhanAy (William L. Holladay, 2019 p. Kata ini berfungsi sebagai kata sifat atributif: Auhati yang menyembuhkan. Ay Istilah A( uAcAlev. AuhatiA. adalah sebuah metonimi untuk keadaan emosional seseorang (Bullinger, 2015, pp. Berikutnya adalah kata A( i i ncAurqab 'aAmo. , yang terdiri dari kata A" i ncADan kerusakan" atau "pembusukan" dari akar A cA, raqab, yang berarti busuk atau hancur (William L. Holladay, 2019 p. Juga kata A" iATulang-tulang" dalam bentuk jamak dari A yA, etsem, yang berarti tulang, sering digunakan secara metaforis untuk menggambarkan kekuatan atau inti seseorang. Istilah Autulang-tulangAy mungkin merupakan suatu sinekdoki yang mewakili seluruh tubuh (Bullinger, 2015, p. Orang yang dikuasai oleh iri hati tidak akan menemukan rasa sehat secara umum baik dalam tubuh maupun Kata terakhir adalah A( aiEAqinAoa. Kata ini diterjemahkan sebagai "Iri hati" atau "cemburu" dari akar A aA, qanakh, yang mencakup perasaan iri, cemburu, atau kemarahan terhadap keberhasilan atau kepemilikan orang lain (William L. Holladay, 2019 p. Istilah A( a iAqin'ak. Auiri hatiAy . erujuk pada semangat yang menggebu-gebu atau AucemburuAy . emikian juga terj. NIV. NLT). Kata ini menggambarkan suatu kegairahan dan keinginan yang kuat dan tidak pernah terpuaskan. Dalam konteks ini. iAqin'ak. , yang diterjemahkan sebagai "iri hati," menunjukkan perasaan cemburu atau keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki oleh orang lain, sering kali dengan cara yang merusak hubungan dan kesehatan batin. Iri hati digambarkan sebagai sesuatu yang merusak "tulang-tulang," yang secara metaforis menunjukkan dampak fisik dan emosional yang merugikan. Goldingay, menjelaskan bahwa dalam dunia kuno, tulangtulang sering dianggap sebagai pusat kekuatan fisik dan sumber kehidupan tubuh. Jadi, kerusakan pada tulang mengindikasikan dampak mendalam dan merusak yang dapat ditimbulkan oleh perasaan iri hati terhadap tubuh dan jiwa seseorang. Sebaliknya, hati yang tenang disebutkan sebagai sesuatu yang menyegarkan tubuh, menggambarkan dampak positif dari kedamaian batin dan kepuasan diri. Ini menunjukkan bahwa memiliki perasaan yang sehat dan bebas dari kecemburuan atau perbandingan sosial dapat membawa kedamaian dalam hidup seseorang (Goldingay, 2013 p. Bagi generasi Z, yang tumbuh dalam era digital dengan banyaknya tekanan untuk tampil sempurna di media sosial, pesan dari Amsal 14:30 sangat relevan. Media sosial sering kali menjadi tempat di mana perbandingan diri yang tidak sehat terjadi, dengan banyaknya gambar dan cerita yang menggambarkan kehidupan orang lain yang tampaknya lebih sukses atau lebih bahagia. Gen-Z, yang cenderung sangat terhubung dengan dunia digital, sering kali merasa cemas atau iri hati terhadap pencapaian orang lain, baik dalam hal kekayaan, penampilan, atau status sosial. Perasaan iri hati yang terus-menerus dapat menyebabkan gangguan emosional yang merusak, seperti stres, kecemasan, dan depresi, yang pada Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z gilirannya dapat mempengaruhi kesehatan fisik (Wildan Yudha Pranata, 2023, pp. (Armalita & Helmi, 2018, pp. Amsal 14:30 memperingatkan bahwa perasaan ini dapat menjadi "kerusakan bagi tulang-tulang," mengindikasikan bahwa dampaknya bukan hanya psikologis, tetapi juga fisik. Gen-Z perlu menyadari bahwa hidup yang terus-menerus dipenuhi oleh perasaan iri hati terhadap orang lain dapat menghancurkan kedamaian batin mereka dan, pada akhirnya, berpengaruh buruk pada kesehatan mereka secara keseluruhan. Sebaliknya, dengan menjaga hati. Gen-Z dapat menciptakan ruang untuk kebahagiaan dan kedamaian yang lebih dalam. Ini bisa dicapai dengan fokus pada pengembangan diri, menerima diri sendiri, dan bersyukur atas apa yang mereka miliki, daripada membandingkan diri mereka dengan orang lain. Amsal 14:30 mengajarkan bahwa kedamaian batin membawa kesejahteraan, sedangkan iri hati hanya membawa kehancuran. Amsal 14:30 mengajarkan pentingnya menjaga hati dengan baik sebagai kunci untuk mencapai kesejahteraan fisik dan emosional, sementara menghindari perasaan iri hati yang merusak. Bagi Gen-Z, yang hidup dalam budaya media sosial yang sering kali memperburuk perbandingan sosial, pesan ini sangat relevan. Dengan menghindari iri hati dan fokus pada kedamaian batin. Gen-Z dapat mengurangi dampak negatif dari perasaan tersebut, menjaga kesehatan emosional dan fisik mereka, serta meraih kehidupan yang lebih seimbang dan bahagia. Amsal 23:17 Kata kerja dalam baris ini adalah Ao a-AAo( 'a uAal-yeqanneA. , bentuk Piel jussive yang Kata ini terdiri dari A" a uAJangan" . artikel laranga. Kata yang berikut Ao A aA "Biarkan iri hati" atau "biarkan cemburu, bersemangat. " Bentuk jussive dari akar A aA, qanah, yang berarti iri atau cemburu. Bentuk ini menunjukkan perintah atau anjuran. Kata kerja ini menggambarkan intensitas yang menggebu-gebu untuk sesuatu. Dalam bahasa Inggris, kata "envy" dan "zeal" memiliki makna yang berbeda dan tidak saling terkait. "Envy" mengacu pada perasaan ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain, seringkali disertai dengan ketidakpuasan atau kebencian. Sementara itu, "zeal" berarti semangat atau antusiasme yang kuat terhadap sesuatu . eovista, 2. Perlu dicatat bahwa "jealousy" dan "envy" sering digunakan secara bergantian, meskipun ada perbedaan halus di antara keduanya. "Jealousy" biasanya melibatkan rasa takut kehilangan sesuatu yang sudah dimiliki, sedangkan "envy" berkaitan dengan keinginan memiliki apa yang dimiliki orang lain (Hinks, 2. Di sini peringatannya adalah untuk tidak iri kepada orang-orang berdosa. Tanda titik dua yang kedua dapat menggunakan kata kerja dalam arti positif yang berarti Autetapi biarlah semangatmu menyala karena takut akan TUHAN. Ay Kata yang berikut adalah A( uc oAlibbek. yang terdiri dari A" uc oAHatimu" berasal dari AuAcA, lev, berarti hati, sering mewakili pikiran, emosi, dan kehendak. Akhiran "-A "oAmenunjukkan kepemilikan ("hatimu"). Kata berikutnya adalah A( c o caoyAbauaoi. terdiri dari A" cAKepada" atau "di dalam. " Dan kata AAu o caoyAPendosa" merupakan bentuk jamak dari A o aA, uaa, merujuk pada mereka yang berbuat dosa atau melanggar hukum Allah. Konjungsi A( uuo ayAki i. yang menjelaskan kata A" uuoATetapi" atau "melainkan. " Kemudian kata A" ayAJika" atau "melainkan. " Kata ini menggunakan ungkapan tegas untuk menunjuk pada suatu alternatif Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z yang positif: hidup/terus/tetap . ata kerjanya hanya tersirat di sini, dan tidak benar-benar ad. dalam takut akan Tuhan sepanjang hidupmu. Ini adalah panggilan untuk membangun dasar kebenaran dalam hidup, yaitu memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan (Ams. 1:7. dan untuk menghindari setiap godaan kebodohan (Ams. 9:13-. (Lindsay Wilson, 2017 240-. Motivasi untuk berdiri teguh diberikan dalam ayat 18, dengan sebuah jaminan . agi-lagi ky-'im, di sini sering diterjemahkan dengan past. bahwa ada waktu setelah masa sekarang . asa depa. , dan bahwa pengharapan yang pasti yang datang dari membangun di atas fondasi yang benar . ang benar takut akan Tuha. akan menang dan bukannya terputus. Kombinasi ini sering digunakan untuk kontras atau pengecualian. Kata berikutnya adalah A( c o a u oi iiAbeyirAoat-Yahwe. Dibentuk dari kata A" cAdi dalam" atau "dengan. " Kemudian frase A" o a u oi iiATakut kepada TUHAN" berasal dari Ao a iA, yirah, berarti rasa takut yang penuh hormat, dan AoiA. Yahweh. Nama Kudus Allah (William L. Holladay, 2019 p. Frase terakhir adalah A( uui o iyAkol-hayyo. yang terdiri dari AuuA "Sepanjang" atau "seluruh. " Kemudian kata A" i o iyAhari" . ari AoiyA, yom, berarti har. (Brown, 2016, p. Gabungan ini berarti "sepanjang hari" atau "setiap hari. Frasa dalam Amsal 23:17 mengandung dua perintah utama: larangan terhadap rasa iri dan ajakan untuk hidup dalam takut akan Tuhan. Dalam konteks dosa iri hati, ayat ini menggarisbawahi bahaya iri terhadap keberhasilan duniawi orang berdosa, yang dapat mengalihkan fokus seseorang dari prioritas spiritual yang sejati. Ayat ini adalah peringatan moral agar tidak terpengaruh oleh kesuksesan atau cara hidup para pendosa. Iri hati kepada mereka bisa mengarahkan seseorang pada dosa yang sama. Sebagai gantinya, penulis Amsal mendorong pembaca untuk memelihara rasa takut akan Tuhan secara terus-menerus, yang merupakan dasar hikmat dan kebijaksanaan dalam kitab Amsal. Kata A. iAqinAoa. , yang diterjemahkan sebagai "iri hati," menyiratkan perasaan tidak puas terhadap apa yang dimiliki orang lain. Alter mencatat bahwa iri hati adalah tanda ketidakpuasan terhadap providensi Allah, yang pada akhirnya mengganggu hubungan seseorang dengan-Nya (Robert Alter, 2017, p. Dalam perspektif Amsal 23:17, solusi terhadap rasa iri adalah "takut akan Tuhan," yaitu sikap hormat dan ketaatan yang terusmenerus kepada Allah. Pattinaja, menjelaskan bahwa takut akan Tuhan berfungsi sebagai pengarah hidup yang membebaskan seseorang dari tekanan perbandingan sosial dan memberikan kepuasan batin (A. Pattinaja & Suhun, 2. Dalam implikasinya kepada Gen-Z. Amsal 23:17 menjadi sangat relevan karena generasi ini hidup dalam dunia yang sangat dipengaruhi oleh media sosial. Platformplatform ini sering kali menciptakan ekspektasi yang tidak realistis, yang dapat memicu rasa iri terhadap pencapaian atau gaya hidup orang lain. Pattinaja juga menegaskan bahwa hikmat Amsal memberikan jalan keluar dari tekanan ini dengan mengarahkan fokus kepada Allah, bukan kepada pencapaian duniawi. Generasi muda diajak untuk menggantikan rasa iri dengan rasa syukur dan membangun kehidupan berdasarkan nilai-nilai ilahi, sehingga menjauhi kejahatan (A. Pattinaja, 2. Generasi Z, yang sering mengalami tekanan akibat pencitraan diri di media sosial, dapat mengambil pelajaran dari Amsal 23:17 untuk melepaskan diri dari perasaan kompetitif Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z yang tidak sehat. Sebaliknya, mereka didorong untuk mengembangkan rasa takut akan Tuhan sebagai landasan identitas mereka. Amsal 23:17 menyampaikan pesan yang mendalam tentang bahaya iri hati dan menawarkan solusi yang berbasis pada hubungan dengan Allah. Dalam konteks modern, terutama bagi Gen-Z, ayat ini relevan sebagai pedoman untuk mengatasi tantangan emosional dan spiritual yang muncul dari budaya Melalui rasa takut akan Tuhan, generasi ini dapat menemukan kepuasan dan arah hidup yang bermakna, terlepas dari pengaruh negatif perbandingan sosial. Analisis Paralelisme Dari ketiga ayat yang diteliti, bentuk paralelisme hanya ditemukan secara spesifik dalam Amsal 14:30, yang memperlihatkan paralelisme antitesis . , yaitu hubungan di mana dua bagian ayat menyampaikan gagasan yang saling berlawanan. Bentuk ini lazim dalam kitab Amsal untuk menyoroti sebuah kontras moral atau kehidupan (Sualang, 2. (A. Pattinaja et al. , 2. Tabel 2. Analisis Paralelisme Antitesis Amsal 14:30 Stich A. Hati yang tenang Frase a menyembuhkan tubuh. Frase b Stich B iri hati Frase aAo merusakkan tulang. Frase bAo Dari tabel di atas, terlihat struktur paralelisme antitesis yang membagi ayat ini dalam dua bagian, di mana frase a Auhati yang hidupAy dikontraskan dengan frase aAo Auiri hati,Ay selanjutnya menggambarkan akibat yang terjadi, frase b Aumenyembuhkan tubuhAy yang dikontraskan dengan frase bAo Aumerusakkan tulang. Ay Pada bagian pertama berbicara mengenai kehidupan dan kesehatan bermakna Aupositif. Ay Frasa ini menggambarkan efek positif dari "hati yang menyembuhkan" (A uA c A caA- leN marpe'). Hati yang menyembuhkan: Secara metaforis, ini mencakup hati yang tenang, yang berdampak terhadap kesehatan fisik dan mental (Bullinger, 2015 pp. Hidup bagi tubuh: Kehidupan (A ) oA oAadalah simbol vitalitas, yang dihubungkan dengan kondisi kesehatan fisik (A c oyA- bauaoi. Pada bagian kedua berbicara mengenai kehancuran dan penyakit yang bermakna Negatif. Bagian ini memperlihatkan efek destruktif dari "iri hati" (AaiA A A- qinAoa. Kerusakan tulang berbicara mengenai metafora yang melambangkan kehancuran fisik dan emosional akibat iri hati, yang menggerogoti kekuatan internal seseorang (Bullinger, 2015 pp. Hubungan paralel yang terbentuk dalam ayat ini adalah . Kontras tematis. Bagian pertama menyampaikan kesehatan dan kehidupan yang dihasilkan oleh hati yang tenang, sementara bagian kedua menggambarkan kehancuran tubuh yang disebabkan oleh iri hati. Efek berlawanan pada tubuh. Hati yang tenang menghasilkan vitalitas bagi tubuh sementara iri hati menyebabkan kehancuran fisik dan mental, yang digambarkan melalui tulang yang membusuk. Hati sebagai pusat keadaan moral dan fisik. Dalam bagian Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z positif, hati yang tenang menjadi sumber kesehatan, sementara dalam bagian negatif, iri hati yang berasal dari hati menjadi akar kehancuran fisik. Ayat ini menunjukkan hubungan antara kondisi emosional dan kesehatan fisik. Dalam pandangan teologis, emosi negatif seperti iri hati tidak hanya berdampak pada jiwa tetapi juga pada tubuh, menegaskan konsep holistik dalam Alkitab tentang manusia. Hati yang tenang, yang sering dipuji dalam kitab Amsal, menghasilkan kesehatan. Sebaliknya, iri hati menunjukkan kurangnya hikmat dan takut akan Tuhan, yang membawa kehancuran. Amsal 14:30 menggunakan paralelisme antitesis untuk menekankan pilihan moral: apakah hidup dengan hati yang tenang . idup yang diberkat. atau terjebak dalam iri hati . ehidupan yang Pesan ini relevan secara universal, menunjukkan pentingnya menjaga hati sebagai sumber kehidupan . Ams. Keffer menjelaskan bahwa iri hati menggerogoti etika moral seseorang sehingga, kehidupannya menjadi sandungan dan berdampak negatif bagi sekelilingnya (Jan Keefer, 2021 pp. Analisis Teologis Iri hati, dalam pandangan teologi Alkitab, adalah dosa yang mengakar pada ketidakpuasan terhadap kehendak dan anugerah Allah (Bridges, 2017, pp. Dalam kitab Amsal, iri hati digambarkan sebagai emosi destruktif yang menghambat hubungan manusia dengan Allah dan sesama. Amsal 3:31, 14:30, dan 23:17 secara kolektif menawarkan wawasan yang relevan tentang bahaya iri hati serta solusinya, yang berpusat pada takut akan Tuhan, ketenangan hati, dan integritas moral. Amsal 3:31: Larangan terhadap Iri kepada Orang yang Tidak Adil Dalam Amsal 3:31, frasa AuJanganlah iri hati kepada orang yang melakukan kekerasanAy memperingatkan bahaya meniru jalan hidup orang berdosa yang tampaknya sukses. Kata A( aAqana. dalam konteks ini mencerminkan keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain, yang dapat mendorong kompromi terhadap nilai-nilai moral. Secara teologis, ayat ini mengajarkan bahwa iri hati terhadap keberhasilan duniawi sering kali mengabaikan realitas penghakiman Allah atas ketidakadilan (Bruce K. Waltke, 2014 p. Implikasi bagi Gen-Z adalah memperingatkan terhadap godaan membandingkan hidup mereka dengan pencitraan di media sosial, di mana kesuksesan sering kali ditampilkan tanpa konteks moral. Mereka diajak untuk mencari nilai kehidupan berdasarkan kebenaran ilahi, bukan standar Longman menulis nasihat ini mengakui bahwa ada daya tarik permukaan bagi mereka yang menggunakan kekuasaan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang bijak memperingatkan agar tidak bertindak berdasarkan kesan permukaan ini, karena jalan itu tidak mengarah pada kehidupan, seperti yang terlihat, melainkan kematian (Tremper Longman i, 2017 p. Amsal 14:30: Iri Hati sebagai Penyebab Kerusakan Amsal 14:30 menyoroti dampak fisiologis dan spiritual iri hati: AuHati yang tenang memberikan kehidupan bagi tubuh, tetapi iri hati adalah kerusakan bagi tulang-tulang. Ay Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z Frasa A( c iAreqav atzamot. Aukerusakan bagi tulang-tulangA. menggambarkan bagaimana iri hati secara simbolis menghancurkan esensi kehidupan seseorang. Fox menunjukkan bahwa iri hati tidak hanya merugikan hubungan spiritual tetapi juga kesehatan fisik dan emosional (Michael V. Fox, 2009 p. Koptak, menulis, kesehatan atau kesembuhan disebutkan satu kali dalam setiap pasal dari Amsal 12-15 (Ams. 12:18. 13:17. 14:30. Kontras antara hati yang "tenang" dan "iri hati" . i mana hasrat dan kecemburuan adalah antara apa yang mendorong kehidupan dan apa yang merenggutnya. Dengan cara ini, pemikirannya mirip dengan Amsal 14:27, di sini difokuskan pada kebajikan Kekurangannya dapat mengarah pada niat yang pada akhirnya membawa Mengingat gambaran kehidupan batin yang ditawarkan dalam amsal-amsal sebelumnya tentang hati (Amsal 14:10, . , tampaknya orang dahulu tahu bahwa kecemburuan, nafsu dan iri hati menggerogoti seseorang dari dalam ke luar, sehingga membusukkan tulang-tulangnya . Ams. 6:34. (Koptak E, 2013 p. Dalam konteks Gen-Z, yang sering kali menghadapi tekanan untuk memenuhi standar sosial yang tinggi, ajaran ini menekankan pentingnya ketenangan hati sebagai solusi terhadap kecenderungan iri hati. Kesehatan mental dan spiritual generasi ini dapat dipulihkan melalui fokus pada pemeliharaan hubungan yang sehat dengan Allah dan sesama. Amsal 23:17: Takut akan Tuhan sebagai Solusi terhadap Iri Hati Amsal 23:17 memberikan solusi eksplisit terhadap iri hati: AuJanganlah hatimu iri terhadap orang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN sepanjang hari. Ay Konsep Ao a oiA . irat-Yahweh, takut akan Tuha. adalah pusat dari teologi hikmat, yang mengajarkan bahwa hubungan dengan Allah adalah landasan kehidupan yang penuh makna. Koptak menjelaskan hikmat pertama-tama memandang kepada Yahweh, kemudian kepada kemakmuran orang lain dengan visi yang lebih baik. "Iri hati" dan "semangat" keduanya berasal dari kata yang sama . inAoa. yang berarti perasaan cinta yang kuat dan hasrat yang kuat. Karena emosi ini sering dinyatakan sebagai kecemburuan, kita dapat berbicara tentang cemburu kepada orang lain (Ams. 24:1, . yang bisa mengakibatkan perilaku yang salah (Koptak E, 2013 p. Murphy menegaskan bahwa takut akan Tuhan membebaskan seseorang dari ketidakpuasan yang dihasilkan oleh iri hati (Murphy, 2000 p. Bagi Gen-Z, ajaran ini relevan dalam membantu mereka mengalihkan perhatian dari perbandingan sosial menuju pengembangan identitas spiritual yang kokoh. Melalui takut akan Tuhan, mereka dapat menemukan ketenangan hati yang tidak tergantung pada keberhasilan atau pengakuan duniawi. Ketiga ayat ini secara kolektif menekankan bahwa iri hati adalah dosa yang merusak hubungan manusia dengan Allah dan sesama. Solusinya adalah takut akan Tuhan, yang membawa kedamaian hati dan mengarahkan seseorang pada jalan kehidupan yang benar. Dalam konteks Gen-Z, yang sering terpapar perbandingan sosial melalui media digital, hikmat dari Amsal ini memberikan pedoman untuk membangun kehidupan yang berakar pada nilai-nilai rohani dan bukan pada standar dunia yang berubah-ubah. Dengan demikian, mereka dapat menghindari perangkap iri hati dan menjalani kehidupan yang bermakna, penuh syukur, dan selaras dengan kehendak Allah. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z Implikasi AuIri HatiAy Terhadap Pergaulan Gen-Z Berdasarkan hasil seluruh analisis di atas, maka bisa dipaparkan empat implikasi dosa iri hati terhadap pergaulan Gen-Z, yaitu : Pertama. Perbandingan yang Merusak. Iri hati dalam kehidupan Gen-Z masa kini sangat erat kaitannya dengan budaya media sosial, di mana banyak orang memamerkan versi terbaik dari diri mereka. Platform seperti Instagram. TikTok, dan Snapchat sering menjadi panggung untuk memamerkan pencapaian, penampilan, atau gaya hidup yang tampaknya Gen-Z, sebagai generasi yang sangat terhubung secara digital, cenderung membandingkan kehidupan mereka dengan apa yang mereka lihat di media sosial, meskipun kenyataan di balik unggahan tersebut sering kali berbeda. Hal ini menciptakan standar kesuksesan yang tidak realistis dan mendorong perasaan rendah diri serta iri hati. Akibatnya, mereka lebih fokus pada apa yang tidak mereka miliki daripada bersyukur atas apa yang telah mereka capai. Kondisi ini relevan dengan peringatan Amsal 3:31, yang mengajarkan untuk tidak iri terhadap cara hidup yang tampak menarik tetapi tidak bermoral. Kedua. Masalah Kesehatan Emosional. Kesehatan emosional Gen-Z sangat terpengaruh oleh tekanan sosial yang muncul akibat perbandingan yang tidak sehat. Media sosial tidak hanya menjadi sarana hiburan tetapi juga sumber stres karena terus-menerus memaparkan mereka pada standar kecantikan, gaya hidup, dan kesuksesan tertentu. Dampak emosional ini diperburuk oleh kecenderungan mereka untuk merasa kurang memadai. Sebuah penelitian oleh Twenge dan Campbell menemukan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkontribusi pada peningkatan kecemasan dan depresi pada remaja dan dewasa muda (Twenge & Campbell, 2010 p. Dalam konteks ini. Amsal 14:30 relevan karena mengajarkan bahwa hati yang tenang membawa kehidupan, sementara iri hati hanya merusak kesehatan fisik dan mental. Ketiga. Kemerosotan Rohani. Dalam kehidupan modern. Gen-Z sering menghadapi tantangan untuk mempertahankan nilai-nilai spiritual mereka di tengah arus materialisme dan individualisme. Iri hati dapat mengalihkan fokus mereka dari hubungan dengan Tuhan kepada pengejaran duniawi, seperti popularitas, kekayaan, atau pengakuan sosial. Dalam banyak kasus, iri hati terhadap keberhasilan orang lain dapat membuat mereka mempertanyakan keadilan atau rencana Tuhan dalam hidup mereka. Hal ini berisiko menurunkan kualitas hubungan mereka dengan Tuhan. Dalam Amsal 23:17, hikmat alkitabiah mengingatkan bahwa solusi untuk iri hati adalah hidup dalam takut akan Tuhan. Pesan ini penting untuk membantu Gen-Z menata ulang prioritas mereka, yaitu mengutamakan kedekatan dengan Tuhan daripada pencapaian duniawi. Keempat. Hubungan yang Rusak. Di era komunikasi digital, hubungan antar Gen-Z sering kali dangkal dan rentan terhadap konflik. Iri hati dapat menyebabkan mereka merasa tidak nyaman terhadap pencapaian teman-temannya, sehingga menimbulkan persaingan yang tidak sehat atau bahkan memutuskan hubungan. Perilaku seperti ini sering kali diperburuk oleh komentar atau unggahan yang tidak sengaja memicu rasa iri di media sosial. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z Akibatnya, hubungan yang seharusnya mendukung satu sama lain menjadi penuh dengan kecemburuan dan ketidakpercayaan. Amsal 14:30 mengajarkan pentingnya ketenangan hati untuk menjaga kesehatan emosional dan hubungan sosial yang harmonis. Dalam konteks ini. Gen-Z diajak untuk menggantikan rasa iri dengan rasa syukur dan upaya untuk saling mendukung dalam komunitas mereka. Kehidupan Gen-Z masa kini berada di persimpangan antara dunia nyata dan dunia Budaya digital menciptakan banyak kesempatan tetapi juga memperbesar potensi iri hati melalui eksposur terhadap kehidupan orang lain. Pesan-pesan hikmat dari kitab Amsal menjadi sangat relevan sebagai penuntun untuk menanggapi tantangan ini dengan sikap yang sehat dan spiritual. Dengan menerapkan prinsip seperti rasa syukur, takut akan Tuhan, dan ketenangan hati. Gen-Z dapat mengatasi dampak negatif iri hati sekaligus membangun karakter yang kokoh di tengah tekanan budaya modern. Rekomendasi untuk Penelitian Lanjutan Penelitian ini dapat ditindaklanjuti dengan mengeksplorasi pelanggaran nilai-nilai etika moral yang lain, yang bisa saja terjadi kepada Gen-Z sebagai akibat dari pengaruh perkembangan media sosial, teknologi komunikasi dan informatika. Kesimpulan Iri hati adalah dosa yang tidak hanya berdampak pada kehidupan spiritual, tetapi juga pada aspek emosional, sosial, dan fisik. Dalam konteks Gen-Z, fenomena ini semakin relevan di era digital, di mana budaya perbandingan sosial dan tekanan media sosial menjadi pemicu utama. Pembahasan dari Amsal 3:31, 14:30, dan 23:17 menunjukkan bahwa hikmat alkitabiah memberikan panduan yang relevan dan aplikatif untuk menghadapi tantangan ini. Amsal 3:31 memperingatkan untuk tidak iri kepada orang yang memperoleh kesuksesan melalui cara yang tidak bermoral. Amsal 14:30 menyoroti dampak destruktif iri hati terhadap kesehatan emosional dan fisik, sedangkan Amsal 23:17 menekankan pentingnya hidup dalam takut akan Tuhan sebagai solusi untuk melawan perasaan iri. Keempat dampak buruk iri hati yang diuraikanAiperbandingan yang merusak, masalah kesehatan emosional, kemerosotan rohani, dan hubungan yang rusakAisemakin mempertegas relevansi ajaran Amsal dalam membantu Gen-Z mengatasi tekanan hidup mereka. Melalui hikmat Alkitab. Gen-Z dapat belajar untuk menggantikan iri hati dengan rasa syukur, menjaga kesehatan emosional, memperdalam relasi spiritual dengan Tuhan, dan membangun hubungan yang Dalam dunia yang sering kali mempromosikan pencitraan yang tidak realistis dan mengejar pengakuan duniawi, pesan kitab Amsal menawarkan jalan menuju kehidupan yang diberkati dan berorientasi pada nilai-nilai ilahi. Daftar Rujukan Brown. Driver. , & Briggs. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, with an Appendisx Containing The Biblical Aramaic (F. Brown. Driver, & Charles A Briggs . 5th ed. Oxford University Press. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z Bruce K. Waltke. The Book of Proverbs Chpter 1-15 (The New International Commentary on the Old Testamen. (R. Harrison & J. Robert L Hubbard . )). William B. Erdmans Publishing Company. Bullinger. Figures of Speech Used in the Bible: Explained and Illustrated. Anderson (Ed. The American Journal of Theology. Messrs. E & J. Young & Co. https://doi. org/10. 1086/477604 Colmekcioglu. Dedeoglu. , & Okumus. Resolving the complexity in Gen ZAos evy occurence: A cross cultural perspective. Journal Psikology & Marketing, 40. , 48Ae72. https://doi. org/https://doi. org/10. 1002/mar. Crusius. , & Lange. What catches the envious eye? Attentional biases within malicious and benign envy. Journal of Experimental Social Psychology, 55. , 1Ae11. https://doi. org/10. 1016/j. Douglas Stuart. Eksegese Perjanjian Lama . nd ed. Gandum Mas. Ellen F. Davis. Proverbs. Ecclesiastes. Song of Songs (P. Miller & D. Bartlett . 1st ed. Westminster John Knox Press. Ellis. The Rot of the Bones: A New Analysis of AAu( aiAEnvy/JealousyA. in the Hebrew Bible. Journal of Biblical Literature (JBL), 142. , 385Ae408. https://doi. org/https://doi. org/10. 15699/jbl. Goldingay. Old Testament Theology: IsraelAos Life. IVP Academic. Grant R Osborne. Spiral Hermeneutika - Pengantar Komprehensif Bagi Penafsiran Alkitab (Stevy Tilaar . )). Momentum. Greenstone. The Wisdom Literature and the Psalms: A Theological Introduction. Harper & Row. Jan Keefer. The Book of Proverbs and Virtue Ethics - Integrating the Biblical and Philosophical Traditions. In Eton College (Ed. The Book of Proverbs and Virtue Ethics . st Cambridge University Press. https://doi. org/10. 1017/9781108885119 Joubert. Genesis 4:8 : why did Cain murder his brother? The Journal of the South African Theological Seminary, 26. , 99Ae113. Kannan. , & Kumar. Social MediaAiThe Emotional and Mental RollerCoaster of Gen Z: An Empirical Study. In B. Rajagopal (Ed. Managing Disruptions in Business. Palgrave Studies in Democracy. Innovation, and Entrepreneurship for Growth. 82Ae. Palgrave Macmillan. Cham. https://doi. org/https://doi. org/10. 1007/978-3-030-79709-6_4 Klein. Blomberg. , & Hubbard. Introductionn Biblical Interpretation 2 (C. Jusuf . 2nd ed. Literatur SAAT. Koptak E. PROVERBS - The NIV Application Commentary. Zondervan. Kotzy. LeahAos AosoftAo eyes: Unveiling envy and the evil eye in Genesis 29:17. HTS : Theological Studies, 80. https://doi. org/https://doi. org/10. 4102/hts. Lange. , & Crusius. Dispositional Envy Revisited. Personality and Social Psychology Bulletin, 41. , 284Ae294. https://doi. org/10. 1177/0146167214564959 Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z Lappenga. James 3:13Ae4:10 and the Language of Envy in Proverbs 3. Journal of Biblical Literature (JBL), 136. , 989Ae1006. https://doi. org/https://doi. org/10. 15699/jbl. Lindsay Wilson. Proverbs An Introducton and Commentary (Tyndale Old Testament Commentarie. (D. Firth & Tremper Longman i . 17th ed. Inter Varsity Press. Michael V. Fox. The Ancor Bible Proverbs 10-31 A New Translation with Introduction and Commentary (The Anchor. Issue 18B). Yale University Press. Murphy. The Tree of Life: An Exploration of Biblical Wisdom Literature. Doubleday Published. Pattinaja. Keterkaitan Autakut akan tuhanAy dan Au membenci kejahatanAy terhadap pembentukan karakter: kajian hermeneutik berdasarkan amsal 8:13. Ekklesia: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani, 3. , 1Ae20. https://ojs. id/index. php/ekklesia/article/view/73 Pattinaja. , & Suhun. Antitesis Orang Jujur dan Orang Fasik Dalam Pembentukan Karakter Pemimpin: Studi Eksegesis Amsal 11:11. VIEWS : Jurnal Teologi Biblika, 2. , 80Ae99. https://penerbitviekawahanasemesta. com/index. php/views/article/view/aska_2024 Pattinaja. Puryana. , & Sualang. Antitesis Pola Perkataan KarakterKonsekuensi pada Amsal 28:20 sebagai Kualitas Hidup Orang Percaya dalam Mengatasi Judi Online. SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI, 13. , 113Ae134. https://doi. org/10. 46495/sdjt. Robert Alter. The Wisdom Books . st ed. W W Norton & Company. Inc. https://doi. org/10. 5040/9780567701145. Sin. Pendekatan topikal dalam menafsirkan kitab amsal. Jurnal Theologi Aletheia, 20. , 1Ae27. Smith. , & Kim. Comprehending envy. Psychological Bulletin, 133. , 46Ae64. https://doi. org/10. 1037/0033-2909. Smith. Parrott. Diener. Hoyle. , & Kim. The psychology of envy. Journal of Personality and Social Psychology, 111. , 800Ae816. Sonny Eli Zaluchu. Metode Penelitian di dalam Manuskrip Jurnal Ilmiah Keagamaan. Jurnal Teologi Berita Hidup, 3. , 249Ae266. https://doi. org/https://doi. org/10. 38189/jtbh. Stahl. , & Literat. GenZ on TikTok: the collective online self-Portrait of the social media generation. Journal of Youth Studies, 26. , 925Ae946. https://doi. org/https://doi. org/10. 1080/13676261. Stuart. , & Fee. Hermeneutik - Menafsirkan Firman Tuhan Dengan Tepat (Yosua Setio Yudo . 4th ed. Gandum Mas. Sualang. Prinsip-Prinsip Hermeneutika Genre Hikmat dalam Kitab Amsal: Suatu Pedoman Eksegesis. Jurnal PISTIS, 93Ae112. https://doi. org/10. 31227/osf. io/xmk6h Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dosa AuIri HatiAy dalam Kumpulan Amsal 3:31. 14:30. 23:17 serta Implikasinya terhadap Pergaulan Gen-Z Sualang. Suatu Kajian Mengenai Keterkaitan Faktor-Faktor Pembentukan Karakter dalam Kitab Amsal. HUPERETES: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen, 4. , 91Ae108. https://doi. org/10. 46817/huperetes. Tremper Longman i. Hikmat dan Hidup Sukses (Paul Hidayat . )). Scripture Union Indonesia. Tremper Longman i. Proverbs - Baker Commentary on the Old Testament Wisdom and Psalms (Tremper Longman i . )). Baker Academic Publishing Group. Twenge. , & Campbell. The Narcissism Epidemic: Living in the Age of Entitlement. Free Press. Waltke. , & De Silva. Proverbs: A Shorter Commentary. William B. Erdmans Publishing Company. https://doi. org/10. 5325/bullbiblrese. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament . rd ed. William B. Erdmans Publishing Company. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025