Makna Tradisi Naik Dango bagi Masyarakat Suku Dayak Kandayant Dinase Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak Email: dianblandina306@gmail. Abstrak Upacara Tradisi Naik Dango Suku Dayak Kandayant diadakan setiap setahun sekali, di beberapa daerah di Provinsi Kalimantan Barat, antara lain Kabupaten Landak. Kota Pontianak, dan Kabupaten Sanggau. Naik Dango merupakan upacara adat yang dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan hasil panen padi, dan hasil panen lainnya sebagai hasil usaha lainnya selama satu tahun, maka bagi masyarakat suku Dayak merupakan kewajiban untuk dipersembahkan dan disyukuri kepada (Jubat. sebagai Tuhan Sang pencipta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi lapangan, dalam mengkaji fenomena makna Tradisi Naik Dango bagi masyarakat suku Dayak Kandayant di Kabupaten Landak. Melalui hasil wawancara ke dua orang narasumber, diketahui bahwa tradisi Naik Dango memiliki makna yang sangat luhur untuk tetap diwariskan secara turun temurun, kepada generasi penerus suku Dayak Kandayant, karena mengangkat nilai-nilai religi dan semakin menumbuhkan nilai-nilai kesatuan sebagai suku bangsa yang memiliki budaya yang santun. Naik Dango dimaknai sebagai simbol ketaatan masyarakat suku Dayak Kandayant kepada Tuhan, agar tetap terus diwarisi dan dipertahankan sebagai tradisi yang luhur yang memiliki nilai- nilai religi bagi generasi penerus secara regenerasi bagi masyarakat suku Dayak pada Masyarakat Dayak Kandayant kiranya semakin menumbuhkan semangat kesatuan antar suku Dayak dengan suku lainya, sehingga mampu saling menghargai dan memupuk semangat toleransi sebagai suku bangsa yang menjunjung nilai-nilai kesatuan yang berbudaya dan bertakwa kepada Tuhan yang maka Esa. Kata kunci: Dayak Kandayant. Naik Dango Abstract The traditional ceremony of Naik Dango among the Dayak Kandayant tribe is held annually in various regions of West Kalimantan Province, including Landak Regency. Pontianak City, and Sanggau Regency. Naik Dango is a cultural ceremony conducted to express gratitude for the successful rice harvest and other agricultural yields achieved throughout the year. According to the Dayak community, it is an obligation to present and give thanks to Jubata, their creator and God. The research employs a qualitative descriptive method, with data collected through interviews and field observations, focusing on understanding the significance of the Naik Dango tradition for the Dayak Kandayant community in the Landak Regency. Through interviews with two informants, it was revealed that the Naik Dango tradition holds profound meaning, emphasizing the importance of passing it down through generations to the successors of the Dayak Kandayant tribe. This cultural practice serves to elevate religious values and foster unity among the people, contributing to a polite and cultured society. Naik Dango is interpreted as a symbol of the Dayak Kandayant community's devotion to God, aiming to preserve and inherit the tradition as a noble practice with religious values for future generations, ensuring continuity and regeneration within the broader Dayak community. The Dayak Kandayant community seeks to strengthen unity among Dayak tribes and others, promoting mutual respect and nurturing a spirit of tolerance as a culturally rich and Godfearing nation. Key words: Dayak Kandayant. Naik Dango A. PENDAHULUAN Indonesia merupakan sebuah bangsa yang kaya akan kebudayaan. Kebudayaan itu tentu berasa dari banyaknya suku yang menetap di negara ini. Setiap suku yang menetap di masing- masing pulau selalu Memiliki adat istiadat yang berbeda-beda sesuai dengan letak geografisnya. Dalam Bahasa Indonesia terdapat juga istilah lain yang sangat tepat untuk menyebut wujud ideal dari kebudayaan ini, yaitu adat istiadat dalam bentuk jamaknya (Koentjaraningrat, 1986:. Berbagai macam upacara yang terdapat dalam masyarakat, pada umumnya merupakan pencerminan bahwa semua perencanaan, tindakan dan perbuatan, telah diatur oleh tata nilai luhur. Tata nilai tersebut diwariskan secara turun-temurun, dari generasi ke generasi berikutnya sebagai sebuah tradisi (Bratawidjaja, 1988:. Tradisi adat-istiadat yang turun-temurun dari . enek moyan. yang masih dijalankan dalam masyarakat merupakan penilaian, atau tanggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan cara yang paling baik dan benar. Kamus Besar Bahasa Indonesia . 8: . Masyarakat Dayak adalah masyarakat yang memiliki banyak tradisi dan adat istiadat, seperti daerah-daerah lainnya di Nusantara. Akan tetapi tidak banyak orang yang tertarik untuk mau menelitinya, sehingga kebanyakan orang Dayak masih asing dengan budayanya sendiri. Suku Dayak mempunyai 450 sub suku, yang tersebar di seluruh Kalimantan. Ada banyak versi tentang kelompok sub suku tersebut. Pada mulanya sub suku tersebut adalah bagian dari kelompok yang sama, tetapi karena proses geografi dan demografi yang berlangsung, kelompok ini menjadi terpecahpecah. Secara historis terdapat berbagai kekuatan yang bekerja membangun dan membentuk pandangan orang tentang orang-orang Dayak, dengan menyertakan embel-embel AuprimitifAy. Orang-orang Barat menggambarkan orang Ae orang Dayak sebagai pemburu kepala, dan sebagai orang Ae orang yang secara komunal dari berburu dan mengumpulkan, dan tinggal di rumah-rumah panjang (Maunati, 2004: . Sub suku Dayak Kandayant, merupakan salah satu sub suku terbesar yang menempati bagian barat pulau Kalimantan, dan tersebar hampir di setiap kabupaten yang ada di Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Landak dan sekitarnya yang dijadikan obyek penelitian ini. Tradisi Naik Dango merupakan bagian dari salah satu ritual yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada AuJubataAy yakni (Tuhan sendir. , yang telah memberi hasil melimpah pada usaha pertanian bagi suku Dayak Kandayant yang telah dilakukan. Upacara Naik Dango bagi orang Dayak Kandayant adalah suatu ungkapan syukur yang diyakini atas berkat yang diterima dari Jubata sang pemberi hidup yang diberikannya berupa hasil panen . yang berlimpah yang dialami suku Dayak Kandayant selama setahun dalam usaha bercocok tanam dalam berladang. Upacara ini rutin dilaksanakn setiap tahun setelah masa panen yang dilaksanakan pada sekitar akhir bulan April berkisar dari tanggal 26-30 April di setiap tahunnya secara bergiliran di setiap kecamatan yang memiliki rumah adatnya, dan selain itu mampu menyediakan dana untuk pelaksanaannya. Upacara Naik Dango dilaksanakan mulai tahun 1985. Alasan penulis mengambil membahas tentang tradisi Naik Dango secara khusus bagi masyarakat suku Dayak adalah untuk mengangkat kembali tradisi dan memperkenalkan kepada generasi penerus suku Dayak kandayant, dan untuk mengingatkan agar masyarakat suku Dayak mampu bersyukur atas anugerah Sang Pencipta lewat tradisi yang sangat luhur dari pendahulu suku Dayak agar tetap eksis dan tetap dilestarikan turun Ae temurun. METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu motode untuk mendeskripsikan dan menjelaskan suatu budaya, kelompok, masyarakat atau sistem. Meskipun makna budaya sangat luas, namun metode tersebut biasanya berfokus pada pola aktivitas, bahasa, kepercayaan, ritual, dan cara hidup dan pengalaman hidup. berupa observasi di alam dan wawancara partisipatif melalui kesempatan, kegiatan, serta pengumpulan data dan informan yang diwawancarai dalam penelitian ini. Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui informasi makna dan nilai-nilai tradisi dari makna Naik Dango yang masih dipraktikkan oleh masyarakat Dayak Kanayatn Kalimantan Barat hingga saat ini (Sukmadinata 2008:. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan empat teknik yaitu : observasi, wawancara, kepustakaan, dan dokumentasi. Teknik wawancara melalui dua . orang narasumber informan. Adapun waktu pengumpulan data adalah pada bulan April tahun 2023. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini dilakukan dengan cara pertama pengumpulan data melalui teknik observasi, adalah melalui pengamatan secara langsung ditempat di mana diadakan kegiatan upacara Naik Dango. Kegiatan upacara naik dango atau gawai di Kabupaten Landak dan wilayah Kuala Dua pada April sampai akhir Mei di setiap tahunnya dan biasanya diadakan di rumah adat. Melalui kedua narasumber orang Dayak, yang dianggap paham tentang tradisi budaya Naik Dango dan gawai, diperoleh keterangan: Bapak Joko yang berasal dari Paroki Kuala Dua. Makna Naik Dango atau Gawai dalam budaya setempat merupakan ungkapan AuSyukur kepada Sang Pencipta atas berkat yang sudah diterima dan dialami selama setahun atas hasil panen padi dan lebih luas atas hasil usaha yang dikerjakan selama setahun karena berkat dari Penompa dalam bahasa setempat atau AoJubataAo bagi masyarakat Dayak yang telah dialami menjadikan semua usaha dan pekerjaan dalam berhasil menghasilkan rejeki bagi keluarga. Dan juga, berkat yang diterima, bukan saja hanya sebatas rejeki yang di perlukan yang berupa hasil padi yang banyak dan usaha lainnya yang meningkat, tetapi juga yang lebih pentingnya adalah atas berat dari AoJubata/PenompaAo yang diyakini sebagai Tuhan yang diterima dan dialami keluarga, berupa kesehatan yang tetap dan baik, itu yang lebih penting dan tinggi nilainya dari pada makna Naik Dango atau gawai itu sendiri. Bapak Vinsensius, asal daerah Ngabang Kabupaten Landak, paroki Salib Suci Ngabang. Yang terpenting dari makna syukuran Naik Dango bagi masyarakat suku Dayak Kandayant ialah. pertama merupakan suatu keunikan tersendiri bagi masyarakat suku Dayak untuk tetap terus melestarikan adat budaya nenek moyang yang sangat bernilai untuk tetap diteruskan dan dipertahankan regenerasi hingga di zaman sekarang ini. Secara khusus bagi orang muda suku Dayak harus banyak mengetahui adat budaya sendiri. Sebab jika orang muda suku Dayak tidak peduli atau kurang mengetahui budaya sendiri cepat atau lambat tradisi Naik Dango yang unik, luhur ini akan bisa kehilangan identitas sebagai oarng Dayak asli yang tidak tahu budaya sendiri. Orang muda Dayak harus memilki pemahaman yang luas dan benar dan kemauan untuk mencintai, memelihara/ merawat adat atau tradisi budaya nenek moyang yang sangat luhur ini. Kedua narasumber mengungkapkan bahwa orang muda Dayak harus memiliki semangat dan daya juang yang tinggi, dengan kreatif dan rajin, mencari informasi atau pengetahuan, yang berkaitan dengan adat budaya Dayak tersebut melalui tokoh-tokoh adat Dayak, yang memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk menggali hal- hal yang berkaitan dengan budaya tersebut. Dengan demikian semakin memperkaya pengetahuan dan pemahaman tentang adat budaya itu sendiri, sehingga dengan demikian tetap mampu eksis dan bertahan agar tetap terpelihara dilestarikan pada generasi yang akan datang sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin berkembang. Selain dari narasumber, penulis juga mengambil sumber dari Kitab Suci Iman Katolik agar semakin memperkuat sumber yang memperjelas makna tradisi Naik Dango bagi masyarakat Suku Dayak Kanayant dikaitkan dalam terang Iman Katolik. Penulis mengambil beberapa sumber dari Kitab Suci, yang dapat memperkuat temuan penulis antara lain: pertama (Ul . 28:1-. AuJika engkau baik- baik mendengarkan suara Tuhan. Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu hari ini, maka Tuhan Alahmu akan mengangkat engkau di atas segala bangsa dibumi, segala berkat ini akan datang kepadamu, dan menjadi bagianmuAy. Kedua (Im. 23:9-. AuTuhan berfirman kepada Musa berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka, apabila kamu sampai ke negeri yang akan kuberikan kepadamu, dan kamu menuai hasilnya, maka kamu harus membawa seberkas dari penuaianmu kepada imam, dan Imam harus menunjukan berkas itu di hadapan Tuhan, supaya Tuhan berkenan akan kamuAy. Ketiga ( Mzr. 67:2-. , kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, supaya jalanmu dikenal di bumi, dan keselamatanmu di antara segala bangsa. Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu ya Allah, kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu. Kiranya suku-suku bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu, ya Allah. Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak sorai, sebab engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun sukusuku bangsa di atas bumi. Dari ketiga kutipan teks kitab Suci ini, penulis menemukan insiparsi sebagai sumber yang akurat dari hasil temuan penelitian ini. Jika dikaitkan dengan makna Naik Dango bagi suku Dayak Kandayant dalam terang iman Katolik sangat sesuai dengan ajaran iman Kristiani, penulis mengambil tiga poin penting yang menjadi inspirasi antara lain: pertama Ausesuai dengan ajaran iman kristiani karena tidak bertentangan iman Katolik, dan memiliki tujuan Ausemakin meningkatkan Iman kepercayaan kepada Tuhan (Jubat. bagi orang Dayak, agar semakin hidup sesuai dengan ajaran iman Kristiani yang memelihara tradisi yang memiliki nilai-nilai luhur, dan melestarikan budaya sebagai identitas orang Dayak yang berbudaya dan berbakti kepada Sang Penciptanya. sehingga dengan demikian dapat memberi makna baru bagi suku Dayak Kandayant, untuk menimba kekuatan iman akan Yesus Kristus sebagai sumber keselamatanya. Kedua: mengenai tradisi Naik Dango tetap diadakan setiap tahun secara turuntemurun dari warisan tradisi nenek moyang suku Dayak hingga pada saat zaman ini tetap eksis diadakan di masing- masing setiap daerah suku Dayak khususnya yang ada di provinsi Kalimantan Barat ini. Melalui pendapat para ahli dan orang terdahulu yang meneliti tradisi Naik Dango bagi suku Dayak Kandayant tersebut, dapat semakin memberi pengetahuan dan pemahaman yang benar, untuk dapat memahami dan mengerti budaya tradisi naik dango itu sendiri secara khusus bagi penulis sebagai bagian dari suku tersebut, semakin memberi insipirasi yang benar sehingga dengan demikian dapat semakin mencintai budaya sendiri, agar tetap eksis dan bertahan diwariskan hinga saat ini dari zaman ke zaman untuk tetap diwariskan dan dilestarikan karena sungguh memberi makna yang indah, mulia dan agung untuk tetap dipertahankan pada generasi suku Dayak selanjutnya. Ketiga: dengan dilengkapi serta dikuatkan oleh pandangan iman Katolik, mengenai tradisi Aubersyukur atas berkat dan rahmat kehidupan yang diterima dari sang PenciptaAy, dapat semakin memberi arti dan makna yang mendalam, dari tradisi Naik Dango yang diwariskan oleh masyarakat suku Dayak, agar tetap terus dihidupi dan tetap dipertahankan tradisi-tradisi atau kebiasaan baik tersebut, karena tidak bertentangan atau sesuai dengan ajaran iman Katolik, dalam memaknai tradisi Naik Dango bagi suku Dayak Kandayant tersebut, untuk dipersembahkan kepada Tuhan sebagai Sang pencipta selaras dengan sabda-Nya bahwa segala yang diciptakan-Nya di bumi tempat manusia hidup ini semuanya baik adanya. KESIMPULAN Makna tradisi Naik Dango bagi Suku Dayak Kandayant adalah sebagai berikut: Pertama, melalui pelaksanaan kegiatan rutin Naik Dango pada setiap tahunnya bagi suku Dayak, khususnya pada orang muda generasi penerus suku Dayak agar semakin diperkenalkan, diketahui, dan dicintai, dipertahankan, serta dilestarikan turun-temurun agar tetap eksis dalam perkembangan zaman sebagai identitas suku Dayak Kandayant. Di tengah- tengah suku bangsa yang ada, sebagai warga negara kesatuan yang memiliki keanekaragaman budaya yang unik, yang memiliki nilai-nilai luhur yang telah diwariskan para pendahulu dari suku bangsa yang ada di Indonesia ini melalui budayanya masing-masing. Kedua, dari Naik Dango dapat semakin meningkatkan Iman kepercayaan dan ketakwaan kepada Tuhan sebagai Sang pencipta, dan pemberi hidup untuk selalu disyukuri, melalui berkatnya yang melimpah bagi orang yang yang percaya kepada-Nya, dan menjadi suatu kebanggaan bagi suku Dayak dan setiap suku bangsa yang ada di indonesia untuk memiliki budaya yang berbeda dan unik sehingga dapat hidup saling menghargai yang bersatu, rukun, dan damai dalam meningkatkan semangat toleransi yang mempersatukan sebagai satu bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesatuan yang berbudaya dan bermartabat dan semakin mempererat semangat kesatuan yang menjadi cita-cita bangsa indonesia sebagai negara kesatuan. Ketiga, sebagai implementasinya, jika dikaitkan dengan ajaran iman Katolik semakin dapat memberi makna dan inspirasi baru, bagi umat beriman dimana yang notabenenya sebagian besar dari masyarakat suku Dayak di dalamnya sebagai anggota Gereja umat Allah yang beriman Katolik yang memiliki identitas sama sebagai inspirasi yang semakin menumbuhkan iman ketakwaan kepada Sang pencipta-Nya, yang harus dipelihara, dijaga, dan disyukuri sebagai Umat Allah yang mampu menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi beragama di Indonesia sebagai negara kesatuan yang harus dipelihara oleh setiap suku bangsa yang ada di Indonesia sehingga dengan demikian sebagai warga negara Indonesia semakin kuat, dan mampu hidup dalam perbedaan, sebagai satu bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Berdasarkan kesimpulan dari penelitian ini, melalui penulis makalah ini penulis memohon maaf, atas banyak keterbatasan dari pemahaman dan pengetahuan yang masih kurang dan belum lengkap dalam penelitian ini masih jauh dari sempurna, maka penulis dengan terbuka memerlukan masukan-masukan yang bermanfaat serta saran yang berguna dari pembaca untuk menyempurnakan penulisan makalah pada peneliti selanjutnya agar semakin sempurna dan menjadi masukan, yang semakin memperkaya pengetahuan tentang budaya Naik Dango bagi suku Dayak Kandayant, dengan harapan semoga dari tulisan ini dapat sedikit memberi arti dan wawasan baru yang bermanfaat bagi pembaca, untuk semakin mengetahui dan memperdalam budaya Dayak Kandayant tersebut. DAFTAR PUSTAKA