e-ISSN:2827-9883 e-journal. id/index. php/talim fai@unmuhkupang. Volume 6, . Februari,2026 SPIRITUALITAS DIGITAL TANTANGAN DAN STRATEGI PEMBINAAN AKHLAK GENERASI Z DI RUANG MAYA Husain Abdullah Universitas Muhammadiyah Purwokerto husainabdullahpwt@gmail. Abstract Generation Z, born between 1997 and 2012, has grown up in a digital era characterized by unique traits such as reliance on social media, multitasking, and rapid access to information. This context presents serious challenges in moral development, particularly in instilling Islamic values amidst a diverse and often non-religious digital content flow. This study aims to analyze these challenges and formulate digital spirituality-based moral development strategies for Generation Z. The research method used is library research with a qualitative approach, gathering data from various sources such as journals, books, and articles related to digital spirituality. Islamic religious education, and the psychology of Generation Z. The results indicate that the main challenges include the spread of invalid information, low levels of Islamic digital literacy, and the dominance of entertainment content that displaces spiritual values. Effective strategies include the integration of technology in learning, the use of social media as an interactive daAowah tool, personalized mentoring approaches, and the development of digital spirituality-based curricula. The study concludes by emphasizing the importance of adapting Islamic religious education approaches to align with Generation Z's characteristics, utilizing digital platforms to creatively and contextually internalize noble moral values. Keywords: Digital spirituality. Generation Z, morality. Social media. Islamic education. Abstrak Generasi Z yang lahir antara tahun 1997-2012 tumbuh diera digital dengan karakter unik, seperti ketergantungan pada media social, multitasking, dan kecepatan akses informasi. Kondisi ini menghadirkan tantangan serius dalam pembinaan akhlak, terutama dalam menanamkan nilai nilai keislaman ditengan arus konten digital yang beragam dan tidak selalu sesuai dengan prinsip agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan dan merumuskan strategi pembinaan akhlak berbasis spiritualitas digital bagi Generasi Z. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan . ibrary researc. dengan pendekatan kualitatif. Dimana data dikumpulkan dari berbagai sumber seperti jurnal, buku, dan artikel terkait sepiritualitas digital. Pendidikan agama islam, dan psikologi generasi Z. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama meliputi penyebaran informasi tidak valid, rendahnya literasi digital Islami, serta dominasi konten hiburan yang menggeser nilai Strategi yang efektif mencakup integrasi teknologi dalam pembelajaran, pemanfaatan media social sebagai sarana dakwah interaktif, pendekatan mentoring personal, dan pengembangan kurikulum berbasis spiritualitasw digital. Kesimpulan penelitian menekankan pentingnya adaptasi pendekatan Pendidikan agama islam yang relevan dengan karakteristik Generasi Z dengan memanfaatkan platform digital untuk internalisasi nilai akhlak karimah secara kreatif dan kontekstua. Kata Kunci: Spiritualitas digital. Generasi Z. Akhlak. Media social. Pendidikan Islam. TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola interaksi, pembelajaran, dan pembentukan nilai pada generasi muda, khususnya Generasi Z. Generasi ini tidak hanya akrab dengan gawai dan platform digital, tetapi juga menjadikan ruang maya sebagai bagian integral dari identitas dan kehidupan sosialnya. Fenomena ini menimbulkan tantangan baru dalam pembinaan akhlak, di mana nilai-nilai agama sering kali bersaing dengan konten digital yang cepat, tidak terfilter, dan cenderung instan. Latar belakang penelitian ini didasari oleh keprihatinan terhadap menurunnya kualitas moral dan spiritual Generasi Z di tengah gempuran informasi digital yang tidak Beberapa penelitian terdahulu telah mengkaji dampak media sosial terhadap perilaku remaja, namun masih terbatas dalam menyajikan strategi pembinaan akhlak yang integratif dengan spiritualitas digital. Penelitian ini berupaya mengisi celah tersebut dengan menawarkan pendekatan yang tidak hanya bersifat preventif, tetapi juga transformatif, melalui pemanfaatan teknologi sebagai medium penanaman nilai. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi tantangan pembinaan akhlak Generasi Z di ruang maya, merumuskan strategi pembinaan akhlak berbasis spiritualitas digital, dan memberikan rekomendasi bagi pendidik dan institusi pendidikan Islam dalam menyikapi era digital. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dan praktis dalam penguatan karakter generasi muda Muslim di abad ke METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian pustaka . ibrary researc. dengan pendekatan Metode ini melibatkan pengumpulan dan analisis data dari berbagai sumber yang relevan, seperti buku, artikel jurnal, laporan penelitian serta sumber digital yang membahas tentang spiritualitas digital, tantangan dan strategi pembinaan akhlak, kejahatan media sosial oleh gen Z, gamifikasi, penggunaan media sosial dalam kontek pendidikan islam. Pendekatan ini bertujuan untuk menggali pemahaman mendalam terkait tantangan dan strategi pembinaan akhlak anak didik khususnya generasi Z di era digital. Proses analisis dilakukan dengan membaca, mengelompokkan, dan menganalisis data yang dikumpulkan secara sistematis untuk menemukan pola, tren, dan temuan yang sesuai dengan topik Validitas penelitian didukung oleh triangulasi data melalui perbandingan berbagai sumber akademik yang memiliki otoritas dalam bidangnya, sehingga menghasilkan sintesis yang komprehensif dan aplikatif. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Tantangan Pembinaan Akhlak Generasi Z di Ruang Maya Pembinaan akhlak merupakan hal yang harus dilakukan dengan cara yang tepat, setiap manusia memiliki tabiAoat atau bawaan dari lahirnya yang hakikatnya adalah suci dan baik. Abu Hurairah menyebutkan diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Nabi Bersabda: e AEaO eEAA a aIa aN aOOa aaEaIa aNA a Aa aa a aONa Oa aN aOaIa aN aOOaIA a aI Ia eI aI eOEaO s au acE OaOEaA AuSetiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya penganut agama Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi. Ay Hadist tersebut menunjukan makna yang sangat banyak, salah satunya bahwa setiap anak yang lahir dalam keadaan suci, namun lingkungan setelah ia dilahirkan yang akan membawa dia menuju kehidupan selanjutnya, apakah tetap fitrah suci mengikuti agama Allah dan menjadi orang yang baik berbudi pekerti atau menjadi yang sebaliknya. Perkembangan zaman yang pesat menuntut kita untuk selalu menyesuaikan TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 diri agar tidak tertinggal maupun terjerumus dalam hal buruk. Teknologi yang berkembang begitu cepat menjadikan beberapa hal menjadi sulit terkendali dan membutuhkan perhatian ekstra, terlebih lagi manusia yang sifatnya cenderung lebih menyukai kesenangan sesaat dan hiburan cepat yang menyebabkan hilang minat terhadap kenyataan bahwa dirinya harus melakukan kewajiban sebagai manusia, seperti belajar dan bekerja. Kejadian ini menyebabkan turunnya kualitas sumber daya manusia, mulai dari sikap malas yang selalu dipelihara, sikap menunda pekerjaan hingga perilaku yang kurang baik. Menurut Artikel KPKNL Pontianak . Generasi Z merupakan generasi yang lahir pada rentang tahun 1997-2012. Generasi ini lahir setelah Milenial yang lahir mulai dari 1981-1996. Menurut artikel tersebut, pada tahun 2026 ini, usia GenZ berkisar 14-29 Tahun. Penduduk Usia Produktif merupakan menduduk yang berada pada rentangan umur 15-64 tahun (Goma et al. , 2. Menurut penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa saat ini GenZ berada di awal usia produktif. Hal ini merupkan sebuah anugerah dan sebuah tantangan bagi GenZ disebabkan melihat dari faktor lingkungan dan kondisi sosial saat ini yang cenderung kacau sehingga harus lebih berhati hati dalam bertindak. Usia awal produktif cenderung memiliki emosional yang tidak stabil, tidak jarang rasionalitas terkalahkan oleh keadaan emosional yang menyebabkan rusaknya tatanan kehidupan, hal hal yang seharusnya dilakukan dengan benar malah cenderung menuju arah sebaliknya. Pada kasus ini masuk kedalam ranah akhlak GenZ yang cenderung sulit diatur. Media sosial, dengan arus informasi cepat dan tren yang terus berganti, kini menjadi salah satu ruang dominan pembentuk persepsi benar salah dan pantas tidak pantas bagi remaja. Kondisi ini menghadirkan tantangan baru bagi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), yang secara tradisional berperan sebagai pendidik, pembimbing moral, dan teladan akhlak di lingkungan sekolah. (Nasyfa & Khasanah, 2. Generasi Z sebagai generasi digital memiliki karakteristik unik seperti kemampuan teknologi tinggi, multitasking, dan ketergantungan pada media sosial, yang menjadi tantangan tersendiri dalam proses pendidikan, khususnya dalam penanaman nilai-nilai keislaman. (Hidayati et al. , 2. Menurut dua penelitian diatas bahwa digital dan terutama sosial media berdampak besar terhadap kehidupan GenZ, keadaan ini dapat menambah karakteristik unik bagi Genz namun juga memiliki dampak negative apabila salah dalam penerapannya. Kondisi ketergantungan dan terpengaruh hal buruk sering kali menjadi tantangan bagi guru PAI terutama dalam mendidik akhlak para peserta didik. Media sosialdapat berfungsi sebagai alat yang efektif untuk dakwah jika kontennya didasarkan pada prinsip syariah, akidah, dan akhlak. Namun, tantangan muncul berupa penyebaran informasi yang tidak valid, minimnya literasi digital Islami, serta dominasi konten hiburan yang dapat menggeser nilai spiritual. (Syahgita & Aripin, 2. Madrasah dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana menjaga warisan nilai-nilai tradisional sambil tetap relevan dengan kemajuan teknologi dan tuntutan (Januaripin et al. , 2. Sudah cukup banyak penelitian yang menunjukkan dampak positif dan negatif digital terhadap peserta didik. Sosial media yang berisi konten campuran ada disana, budaya baik dan buruk mudah tersebar melalui platform tersebut. Dalam hal ini sebagai guru harus lebih memperhatikan hal yang seharusnya dilakukan dan dihindari serta ikut berperan aktif menjadi contoh yang baik terutama di dunia maya. TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 Strategi Pembinaan Akhlak Generasi Z Berbasis Spiritualitas Digital Melihat begitu banyak tantangan pada zaman sekarang, sebagai guru, kita tidak hanya mengajarkan ilmu dikelas namun juga harus memperhatikan akhlak perilaku karakter setiap peserta didik. Oleh karenanya strategi pendidikan terutama pembinaan akhlak Genz dengan mengikuti perkembangan digital yang semakin maju harus dilakukan dengan maksimal. Strategi pendidikan Islam yang terbukti efektif meliputi integrasi teknologi dalam proses belajar, pendidikan nilai berbasis proyek, serta sistem mentoring yang membina karakter melalui relasi personal. (Aulia Ihsan et al. , 2. Strategi internalisasi akhlak karimah melalui pendidikan Islam dalam merespon disrupsi moral akibat penggunaan teknologi digital yang tidak tepat. bahwa guru PAI turut membentuk karakter siswa di era digital dengan menanamkan nilai-nilai agama yang relevan, seperti literasi digital, etika bermedia sosial, dan pembentukan kepribadian berdasarkan nilai Islami. (Nasyfa & Khasanah, 2. Menurut dua penelitian diatas menunjukkan strategi pendidikan islam terbukti efektif ketika mengintegrasikan teknologi dalam proses pedidikan, dapat melalui proyek yang selalu diawasi melalui mentoring untuk membina karakter peserta didik dan juga melakukan internalisasi akhlak karimah melalui pendidikan agama islam yang sudah berbasis dengan teknologi. Pemanfaatan media sosial sebagai platform dakwah merupakan kemajuan dalam pendidikan melalui teknologi, pembahasan karakter islami dan akhlak karimah dapat disebarluaskan melalui platform tersebut. Di tengah arus digitalisasi ini, muncullah figur-figur pendakwah muda yang mencoba mengisi ruang dakwah digital dengan pendekatan yang lebih segar dan Salah satunya adalah Husain Basyaiban, seorang pendakwah muda yang aktif menggunakan TikTok dan Instagram untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman melalui konten-konten video yang singkat, ringan, dan mudah diterima oleh kalangan muda. Husain Basyaiban memanfaatkan fitur khas TikTok seperti durasi pendek, narasi yang cepat, serta gaya penyampaian yang akrab dan tidak (Lubis, 2. Pada studi kasus tersebut, platform digital dapat dimanfaatkan untuk keperluan dakwah dan mendapatkan penonton atau secara tidak langsung peserta didik yang jauh lebih banyak ketimbang hanya melakukan pengajaran, pendidikan atau pengajian di satu tempat. Hal ini merupakan kemajuan teknologi yang positive dan harus dijaga serta dikembangkan. Husain Basyaiban adalah salah satu contoh dari banyaknya pendakwah media sosial yang berhasil menyebarluaskan pendidikan agama islam mulai dari karakter islami hingga tauhid dan disiplin ilmu yang lainnya melalui media sosial. Implikasi dan Rekomendasi Setelah melihat tantangan dan juga strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasi tantangan pendidikan karakter akhlak islami. Implikasi dan rekomendasi untuk selanjutnya merupakan hal yang tak kalah penting untuk ditelusuri dan ditelaah lebih dalam. Salah satu pendekatan yang menarik adalah melalui pendidikan yang berbasis pada kurikulum berbasis spiritualitas, di mana siswa diajarkan untuk tidak hanya memahami ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk memperdalam pemahaman agama dan moralitas mereka. Pendekatan ini terbukti dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pembentukan karakter siswa, terutama dalam menghadapi TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 tantangan zaman. (Soraya & Aripin, 2. Implementasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Generasi Z memerlukan pendekatan yang inovatif, relevan, dan sesuai dengan karakteristik unik generasi ini. Generasi Z dikenal sebagai generasi yang sangat akrab dengan teknologi, cenderung kritis, berpikir cepat, dan menyukai pengalaman belajar yang Maka tak heran jika cara pendekatan yang diberikan juga berbeda. (Rivai et al. , 2. Menurut penelitian yang sudah dilakukan terhadap implikasi dan rekomendasi pendidikan karakter akhlak islami kususnya pada generasi Z adalah berbasis teknologi spiritulitas yang tidak hanya mengajarkan dan memahami ilmu pengetahuan namun juga memperdalam agama dan moral. Selain itu Genz juga memerlukan pendekatan yang inovatif, relevan dan sesuai dengan karakteristik unik GenZ yang sangat akrab dengan teknologi dan cenderung kritis serta berfikir cepat dan menyukai pengalaman belajar yang interaktif. Smart dakwah sebagai strategi adaptif era Society 5. 0, dengan penekanan pada penyajian konten yang moderat dan inklusif oleh daAoi virtual agar tidak terseret konten eksklusif atau ekstrem. Melalui literasi digital yang moderat, generasi Z tidak hanya mampu mengakses dan menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran kritis dalam menyaring informasi keagamaan secara etis. Dengan demikian, mereka dapat menghasilkan dan menyebarkan konten dakwah yang sehat, beretika, dan terhindar dari hoaks. Sebuah fondasi penting untuk menjaga keseimbangan spiritual di tengah kompleksitas dunia digital. (Mutia Hasanah, 2. Smart dakwah seperti yang sudah disebutkan tadi menjadi hal yang wajib dilakukan pada zaman sekarang, terutama apabila menargetkan untuk kalangan GenZ yang cenderung memiliki kehidupan 50 50 antara dunia nyata dan dunia maya. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pembinaan akhlak Generasi Z di era digital memerlukan pendekatan yang adaptif, kreatif, dan berbasis nilai spiritualitas. Tantangan utama terletak pada rendahnya literasi digital Islami, dominasi konten hiburan, dan penyebaran informasi tidak valid yang memengaruhi persepsi moral generasi muda. Strategi yang efektif mencakup integrasi teknologi dalam kurikulum pendidikan agama Islam, pemanfaatan media sosial sebagai sarana dakwah yang interaktif dan kontekstual, serta pendekatan mentoring yang personal. Selain itu, peran guru Pendidikan Agama Islam sebagai agen perubahan perlu diperkuat melalui penguasaan teknologi dan kemampuan menyajikan konten keislaman yang relevan dengan dinamika Generasi Z. Implementasi Ausmart dakwahAy yang moderat dan inklusif menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan spiritual di tengah kompleksitas dunia Dengan demikian, spiritualitas digital bukan sekadar respons terhadap tantangan zaman, tetapi juga peluang untuk mentransformasi pendidikan akhlak menjadi lebih dinamis, aplikatif, dan berdampak positif bagi Generasi Z. DAFTAR PUSTAKA