E-ISSN: 3109-175X Pasca: Jurnal Ilmu Administrasi. Manajemen SDM. Ilmu Sosial (P-JIAMS) Volume 2 Nomor 2. November 2025 Universitas Bina Taruna Gorontalo KONTRIBUSI PROGRAM MAKANAN BERGIZI GRATIS (MBG) TERHADAP EKONOMI LOKAL DI PROVINSI GORONTALO Yosef P. Koton1. Djefrianto Nusi2. Misbahudin Djaba3 * Program Ilmu Administrasi Publik. Universitas Bina Taruna Gorontalo yosefpkoton@gmail. com1, djefriantonusi@gmail. misbahudindjaba014@gmail. ABSTRAK Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi peserta didik sekaligus berpotensi mendorong pembangunan ekonomi daerah. Artikel ini bertujuan menganalisis kontribusi implementasi MBG terhadap ekonomi lokal di Provinsi Gorontalo. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi literatur dan analisis kebijakan. Data diperoleh dari dokumen kebijakan pemerintah, laporan statistik daerah, serta hasil penelitian nasional dan internasional mengenai school feeding program dan pembangunan ekonomi lokal. Hasil kajian menunjukkan bahwa MBG berkontribusi terhadap ekonomi lokal melalui empat mekanisme utama, yaitu peningkatan permintaan bahan pangan lokal, pemberdayaan UMKM, penciptaan lapangan kerja, dan efek pengganda fiskal pada perputaran ekonomi daerah. Dalam jangka panjang, peningkatan status gizi siswa juga berimplikasi pada penguatan modal manusia yang mendukung produktivitas Namun, optimalisasi dampak ekonomi masih menghadapi kendala berupa keterbatasan kapasitas produksi lokal, sistem logistik, dan koordinasi lintas sektor. Artikel ini merekomendasikan penguatan skema pengadaan berbasis lokal, integrasi MBG dengan strategi pembangunan ekonomi daerah, serta peningkatan tata kelola distribusi agar manfaat ekonomi dapat berkelanjutan. Kata Kunci: Makanan Bergizi Gratis. Ekonomi Lokal. Multiplier Effect. UMKM. Gorontalo. ABSTRACT The Free Nutritious Meal Program (MBG) represents a strategic government policy aimed at improving studentsAo nutritional status while simultaneously stimulating regional economic This article analyzes the contribution of MBG implementation to the local economy of Gorontalo Province using a descriptive qualitative approach based on literature review and policy analysis. Data were derived from national policy documents, regional statistical reports, and international research on school feeding programs and local economic development. Findings indicate that MBG contributes to local economic growth through four principal mechanisms: increased demand for local food commodities, empowerment of local MSMEs, job creation, and fiscal multiplier effects within the regional economy. In the long term, improved student nutrition strengthens human capital and regional productivity. However, the optimization of these impacts remains constrained by limited local production capacity, logistical inefficiencies, and weak intersectoral coordination. The study recommends strengthening local procurement schemes, integrating MBG with regional development strategies, and enhancing Yosef P. Koton. Cs: Kontribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) Terhadap Ekonomi Lokal AA Page. Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Universitas Bina Taruna Gorontalo E-ISSN: 3109-175X Pasca: Jurnal Ilmu Administrasi. Manajemen SDM. Ilmu Sosial (P-JIAMS) Volume 2 Nomor 2. November 2025 Universitas Bina Taruna Gorontalo governance oversight to ensure sustainable economic benefits. Keywords: Free Nutritious Meal. Local Economy. Multiplier Effect. MSMEs Gorontalo. PENDAHULUAN Pembangunan sumber daya manusia merupakan prasyarat utama bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dalam kerangka ekonomi pembangunan, investasi pada kesehatan dan gizi anak dipandang sebagai fondasi pembentukan modal manusia yang menentukan produktivitas jangka panjang (Bhutta et al. , 2013. Martorell, 2. Intervensi gizi pada usia sekolah tidak hanya berkaitan dengan peningkatan status kesehatan individu, tetapi juga memiliki implikasi struktural terhadap kapasitas ekonomi regional melalui peningkatan kualitas tenaga kerja masa depan. Di Indonesia, persoalan gizi anak masih menjadi tantangan serius. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia . menunjukkan bahwa prevalensi stunting nasional masih berada pada angka 21,6%, yang berimplikasi terhadap perkembangan kognitif dan kesiapan belajar anak. Ketimpangan akses pangan bergizi juga masih terlihat antara wilayah perkotaan dan daerah berbasis pertanian. Dalam konteks ini. Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai kebijakan strategis yang bertujuan memperbaiki kualitas gizi peserta didik sekaligus memperkuat agenda pembangunan sumber daya manusia nasional. Sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa program makan sekolah berkontribusi pada peningkatan kehadiran siswa, konsentrasi belajar, dan capaian akademik (Bundy et al. , 2024. Spill et al. , 2024. Wang et al. , 2. Di samping itu, studi lintas negara menegaskan bahwa school feeding program memiliki dimensi ekonomi yang signifikan apabila pengadaan pangan dilakukan berbasis lokal (Wang et al. , 2. Melalui mekanisme permintaan agregat, belanja publik pada program makan sekolah dapat meningkatkan pendapatan petani kecil, mengaktifkan UMKM, dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengolahan serta distribusi pangan (Alderman & Bundy. World Bank, 2. Namun demikian, dalam konteks Indonesia, sebagian besar kajian mengenai MBG masih berfokus pada aspek kesehatan dan pendidikan (Bhutta et al. , 2013. Wang et al. Kajian mengenai dimensi ekonomi lokal, khususnya pada level provinsi, masih relatif terbatas. Padahal, dalam perspektif ekonomi regional, belanja publik pada sektor sosial berpotensi menghasilkan multiplier effect yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah apabila dirancang secara terintegrasi dengan struktur produksi lokal. Provinsi Gorontalo merupakan wilayah dengan karakteristik ekonomi berbasis pertanian, perikanan, dan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Data Badan Pusat Yosef P. Koton. Cs: Kontribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) Terhadap Ekonomi Lokal AA Page. Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Universitas Bina Taruna Gorontalo E-ISSN: 3109-175X Pasca: Jurnal Ilmu Administrasi. Manajemen SDM. Ilmu Sosial (P-JIAMS) Volume 2 Nomor 2. November 2025 Universitas Bina Taruna Gorontalo Statistik Provinsi Gorontalo . menunjukkan bahwa sektor pertanian menyerap proporsi tenaga kerja terbesar dan menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Dalam struktur ekonomi seperti ini, kebijakan pengadaan pangan berskala besar seperti MBG memiliki potensi signifikan untuk menggerakkan rantai pasok lokal dan memperkuat daya tahan ekonomi komunitas. Secara teoritis, hubungan antara MBG dan ekonomi lokal dapat dijelaskan melalui teori multiplier fiskal yang menyatakan bahwa peningkatan belanja pemerintah akan menghasilkan efek lanjutan terhadap pendapatan dan konsumsi masyarakat (Alderman & Bundy, 2. Ketika pengadaan pangan dilakukan dari produsen lokal, maka terjadi sirkulasi ekonomi yang memperkuat basis produksi daerah. Selain itu, peningkatan status gizi siswa berkontribusi terhadap pembentukan human capital yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas regional dalam jangka panjang (Martorell, 2. Meskipun demikian, efektivitas dampak ekonomi MBG sangat bergantung pada kapasitas produksi lokal, sistem distribusi, dan tata kelola program. Studi Locke et al. (Locke et al. , 2. menunjukkan bahwa kelemahan koordinasi lintas sektor dan ketidakefisienan logistik dapat mengurangi manfaat ekonomi program makan sekolah. Oleh karena itu, penting untuk menganalisis bagaimana implementasi MBG di Provinsi Gorontalo dapat dioptimalkan agar tidak hanya berfungsi sebagai kebijakan sosial, tetapi juga sebagai instrumen penggerak ekonomi daerah. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini berangkat dari asumsi bahwa Program Makanan Bergizi Gratis memiliki potensi signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui mekanisme permintaan agregat, pemberdayaan UMKM, penciptaan lapangan kerja, dan akumulasi modal manusia. Namun, optimalisasi potensi tersebut masih dipengaruhi oleh faktor struktural ekonomi daerah dan tata kelola Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah menganalisis kontribusi implementasi MBG terhadap dinamika ekonomi lokal di Provinsi Gorontalo serta merumuskan implikasi kebijakan yang dapat memperkuat dampak ekonomi program secara berkelanjutan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi literatur dan analisis kebijakan publik. Pendekatan ini dipilih untuk memahami secara konseptual hubungan antara implementasi Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan dinamika ekonomi lokal di Provinsi Gorontalo (Creswell & Creswell, 2. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari dokumen kebijakan nasional terkait MBG, laporan resmi pemerintah daerah, data statistik Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo, serta artikel ilmiah nasional dan internasional Yosef P. Koton. Cs: Kontribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) Terhadap Ekonomi Lokal AA Page. Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Universitas Bina Taruna Gorontalo E-ISSN: 3109-175X Pasca: Jurnal Ilmu Administrasi. Manajemen SDM. Ilmu Sosial (P-JIAMS) Volume 2 Nomor 2. November 2025 Universitas Bina Taruna Gorontalo mengenai school feeding program, multiplier effect, dan pembangunan ekonomi lokal. Pemilihan sumber dilakukan secara purposif berdasarkan relevansi dan kredibilitas Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan penelusuran literatur ilmiah. Analisis data menggunakan teknik content analysis dengan mengidentifikasi mekanisme dampak ekonomi MBG, yaitu peningkatan permintaan komoditas lokal, aktivasi UMKM dan rantai pasok, penciptaan lapangan kerja, serta potensi efek pengganda fiskal. Temuan kemudian diinterpretasikan menggunakan kerangka teori multiplier effect dan human capital. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan triangulasi sumber melalui pembandingan dokumen kebijakan, data statistik, dan temuan penelitian terdahulu. Penelitian ini bersifat konseptual-analitis dan tidak melakukan estimasi kuantitatif langsung terhadap nilai multiplier ekonomi daerah. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Peningkatan Permintaan Komoditas Lokal Implementasi Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi meningkatkan permintaan terhadap komoditas pangan utama seperti beras, jagung, ikan, telur, dan Dalam struktur ekonomi Provinsi Gorontalo yang berbasis pertanian dan perikanan, peningkatan permintaan ini memiliki implikasi langsung terhadap pendapatan produsen lokal. Dalam perspektif teori multiplier fiskal, peningkatan belanja pemerintah pada sektor pangan sekolah akan menciptakan efek lanjutan terhadap produksi dan konsumsi masyarakat (Alderman & Bundy, 2. Studi internasional menunjukkan bahwa pengadaan pangan berbasis lokal memperkuat ekonomi pedesaan dan meningkatkan partisipasi petani kecil (Gelli et al. , 2020. World Bank, 2. Temuan ini sejalan dengan kajian nasional mengenai MBG yang menempatkan program tersebut sebagai instrumen ketahanan pangan dan redistribusi ekonomi (Ayuni. Namun, studi nasional tersebut lebih menekankan aspek tata kelola dan dinamika kebijakan, sementara dimensi dampak ekonomi lokal secara spesifik belum dikaji Oleh karena itu, dalam konteks Gorontalo, penguatan pengadaan lokal menjadi kunci agar permintaan agregat benar-benar beredar di dalam wilayah. Aktivasi Rantai Pasok dan Pemberdayaan UMKM Selain meningkatkan permintaan komoditas primer. MBG mengaktifkan rantai pasok sekunder melalui keterlibatan UMKM dalam pengolahan, pengemasan, dan distribusi makanan. UMKM lokal berpotensi memperoleh kontrak yang stabil, sehingga meningkatkan kapasitas usaha dan keberlanjutan produksi. Yosef P. Koton. Cs: Kontribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) Terhadap Ekonomi Lokal AA Page. Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Universitas Bina Taruna Gorontalo E-ISSN: 3109-175X Pasca: Jurnal Ilmu Administrasi. Manajemen SDM. Ilmu Sosial (P-JIAMS) Volume 2 Nomor 2. November 2025 Universitas Bina Taruna Gorontalo Kajian nasional mengenai efektivitas dan tantangan kebijakan MBG menunjukkan bahwa keberhasilan program sangat dipengaruhi oleh dukungan pemerintah daerah, kapasitas distribusi, dan kesiapan pelaku usaha lokal (Agustini, 2. Hal ini memperlihatkan bahwa aspek ekonomi lokal sangat bergantung pada kesiapan institusional dan manajerial di tingkat daerah. Secara empiris. Studi oleh Gelli et al. , . menunjukkan bahwa model homegrown school feeding meningkatkan stabilitas pendapatan rumah tangga dan memperkuat ekonomi komunitas. Integrasi antara temuan nasional dan internasional ini mengindikasikan bahwa MBG di Gorontalo memiliki potensi ekonomi signifikan apabila pelaku UMKM benar-benar menjadi bagian dari rantai pasok utama. Penciptaan Lapangan Kerja dan Efek Pengganda Belanja publik melalui MBG menciptakan peluang kerja dalam sektor pengolahan makanan, distribusi, serta pengawasan mutu. Peningkatan aktivitas ekonomi ini memperluas kesempatan kerja, terutama bagi rumah tangga berpendapatan rendah. Kajian nasional mengenai dampak jangka panjang MBG terhadap kesehatan dan keberlanjutan pendidikan menegaskan bahwa intervensi gizi memiliki efek berlapis terhadap kesejahteraan keluarga (Qomarrullah et al. , 2. Walaupun fokus utama penelitian tersebut adalah aspek pendidikan dan kesehatan, implikasi ekonomi tidak dapat dipisahkan karena peningkatan kesejahteraan keluarga berdampak pada konsumsi dan produktivitas. Dalam teori multiplier fiskal, tambahan pendapatan yang dihasilkan dari aktivitas MBG akan berputar kembali dalam sistem ekonomi daerah melalui konsumsi rumah tangga (Alderman & Bundy, 2. Dengan demikian. MBG memiliki potensi sebagai stimulus ekonomi regional. Akumulasi Modal Manusia dan Dimensi Pendidikan Dimensi ekonomi MBG juga berkaitan dengan pembentukan modal manusia. Studi nasional AuDari Piring ke PrestasiAy menunjukkan bahwa makanan bergizi gratis meningkatkan konsentrasi dan kesiapan belajar siswa sekolah dasar (Hasibuan et al. Hal ini memperkuat argumen bahwa investasi gizi berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Temuan ini konsisten dengan literatur internasional yang menunjukkan hubungan antara intervensi gizi dan perkembangan kognitif (Bhutta et al. , 2013. Wang et al. , 2. Dalam jangka panjang, peningkatan kualitas pendidikan berkontribusi terhadap produktivitas regional dan pertumbuhan ekonomi (Martorell, 2. Dengan demikian, kontribusi ekonomi MBG tidak hanya bersifat jangka pendek melalui perputaran konsumsi, tetapi juga jangka panjang melalui peningkatan kapasitas tenaga kerja masa depan. Yosef P. Koton. Cs: Kontribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) Terhadap Ekonomi Lokal AA Page. Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Universitas Bina Taruna Gorontalo E-ISSN: 3109-175X Pasca: Jurnal Ilmu Administrasi. Manajemen SDM. Ilmu Sosial (P-JIAMS) Volume 2 Nomor 2. November 2025 Universitas Bina Taruna Gorontalo Model Konseptual Hubungan Program MBG dan Ekonomi Lokal serta Penguatan Landasan Empiris Berdasarkan hasil analisis, hubungan antara MBG dan ekonomi lokal di Provinsi Gorontalo dapat dirumuskan dalam model konseptual yang mengintegrasikan teori multiplier fiskal, pembangunan ekonomi lokal, dan human capital. Secara konseptual. MBG berfungsi sebagai belanja publik berbasis pangan sekolah yang memicu peningkatan permintaan agregat terhadap komoditas lokal. Peningkatan permintaan tersebut mengaktifkan rantai pasok pertanian, perikanan, dan UMKM. Aktivasi ini menghasilkan peningkatan pendapatan produsen dan pelaku usaha, yang selanjutnya menciptakan lapangan kerja serta memperluas perputaran ekonomi daerah. Dalam perspektif empiris internasional. Drake et al. (World Bank, 2. menegaskan bahwa program makan sekolah merupakan salah satu intervensi sosial dengan dampak ekonomi multiplikatif tertinggi di negara berkembang. Gelli et al. (Gelli et al. , 2. menunjukkan bahwa integrasi pengadaan lokal meningkatkan pendapatan petani kecil dan memperkuat ketahanan ekonomi pedesaan. Serta, menemukan bahwa program berbasis home-grown procurement memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi komunitas. Lebih lanjut. Spill et al. menegaskan bahwa peningkatan kualitas gizi siswa berdampak pada perkembangan kognitif dan partisipasi pendidikan. Dalam jangka panjang, peningkatan kualitas sumber daya manusia memperkuat produktivitas regional dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Model konseptual hubungan tersebut dapat dijelaskan secara sistematis sebagai Gambar 1. Model Konseptual Program MBG dengan Ekonomi Lokal Yosef P. Koton. Cs: Kontribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) Terhadap Ekonomi Lokal AA Page. Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Universitas Bina Taruna Gorontalo E-ISSN: 3109-175X Pasca: Jurnal Ilmu Administrasi. Manajemen SDM. Ilmu Sosial (P-JIAMS) Volume 2 Nomor 2. November 2025 Universitas Bina Taruna Gorontalo Model ini menunjukkan bahwa MBG memiliki karakter kebijakan multisektor yang menghubungkan dimensi sosial, ekonomi, dan pembangunan manusia secara Namun, efektivitas model tersebut sangat bergantung pada tata kelola program. Locke et al. menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor dan sistem distribusi yang efisien menjadi faktor penentu keberhasilan. Apabila pengadaan bahan pangan tidak berbasis lokal atau tata kelola tidak transparan, maka efek pengganda ekonomi dapat Dengan demikian, penguatan skema pengadaan lokal, peningkatan kapasitas produksi UMKM, serta integrasi MBG dengan strategi pembangunan pertanian dan perikanan daerah menjadi kunci optimalisasi dampak ekonomi program. SIMPULAN Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Gorontalo memiliki potensi strategis yang melampaui fungsi sosialnya sebagai intervensi gizi sekolah. Penelitian ini menunjukkan bahwa MBG dapat berperan sebagai instrumen pembangunan ekonomi daerah melalui peningkatan permintaan komoditas lokal, aktivasi UMKM dan rantai pasok, penciptaan lapangan kerja, serta efek pengganda fiskal dalam struktur ekonomi Kontribusi ekonomi tersebut bersifat ganda. Dalam jangka pendek. MBG mendorong perputaran ekonomi melalui belanja publik berbasis pangan. Dalam jangka panjang, peningkatan kualitas gizi siswa memperkuat modal manusia yang menjadi fondasi produktivitas regional. Dengan demikian. MBG menjembatani kebijakan sosial dan strategi pembangunan ekonomi berkelanjutan. Namun, optimalisasi dampak ekonomi sangat bergantung pada desain pengadaan berbasis lokal, kapasitas produksi daerah, serta tata kelola yang transparan dan Tanpa integrasi lintas sektor dan keberpihakan pada produsen lokal, efek pengganda ekonomi berpotensi melemah. Secara konseptual, penelitian ini memperluas kajian MBG dari perspektif kesehatan dan pendidikan menuju analisis ekonomi regional berbasis teori multiplier dan human capital. Penelitian lanjutan berbasis data empiris kuantitatif diperlukan untuk mengukur secara langsung besaran kontribusi ekonomi program di tingkat daerah. MBG bukan sekadar kebijakan pemenuhan gizi, melainkan investasi strategis bagi masa depan ekonomi lokal apabila dikelola secara sistemik dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA