https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. MENERAPKAN NILAI SOSIAL DAN KRITIS DALAM IPS DI SD/MI Rimba Rahmawati IAIN Fattahul Muluk Papua. Jayapura rimbarahmawati22@gmail. Alma Preatiwi Husain IAIN Fattahul Muluk Papua. Jayapura almaamha09@gmail. Article History: Received: Juli 07, 2025. Accepted: September 05, 2025. Published: Oktober 27, 2025. Abstract. Social Studies (IPS) Education in Elementary Schools and Madrasahs has a strategic role in shaping the character of students from an early age. One of its main objectives is to instill social values and critical thinking skills as provisions in community life. This study aims to explore theoretical approaches in the application of social values and critical thinking in literature-based IPS learning. Ideally. IPS learning should not only convey historical, geographical, and economic facts, but also instill attitudes of care, tolerance, and fairness, as well as the ability to analyze various social events in depth. Active learning strategies such as group discussions, case studies, and role simulations are recommended methods to increase student engagement and foster social awareness and critical thinking skills. A contextual curriculum, materials relevant to everyday life, and the role of teachers as facilitators are very important to support the achievement of this goal. Through the right learning approach. IPS can be a vehicle for forming a generation that is not only cognitively intelligent, but also has social awareness and reflective thinking skills. This study emphasizes the importance of pedagogical renewal and strengthening values in every IPS learning process at elementary and madrasah levels. Keywords: Abstrak. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Dasar dan Madrasah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik sejak dini. Salah satu tujuan utamanya adalah menanamkan nilai-nilai sosial dan kemampuan berpikir kritis sebagai bekal dalam kehidupan Kajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pendekatan-pendekatan teoritis dalam penerapan nilai sosial dan berpikir kritis dalam pembelajaran IPS berbasis literatur. Pembelajaran IPS idealnya tidak hanya menyampaikan fakta sejarah, geografi, dan ekonomi, tetapi juga menanamkan sikap peduli, toleran, dan adil, serta kemampuan menganalisis berbagai peristiwa sosial secara mendalam. Strategi pembelajaran aktif seperti diskusi kelompok, studi kasus, dan simulasi peran menjadi metode yang direkomendasikan untuk meningkatkan keterlibatan siswa serta menumbuhkan Social studies education, social elementary school, learning 771 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Menerapkan Nilai Sosial Dan Kritis Dalam Ips Di SD/MI| Rimba Rahmawati. Alma Freatiwi Husain kesadaran sosial dan kemampuan berpikir kritis. Kurikulum yang kontekstual, materi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, serta peran guru sebagai fasilitator sangat penting untuk mendukung tercapainya tujuan ini. Melalui pendekatan pembelajaran yang tepat. IPS dapat menjadi wahana untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kemampuan berpikir reflektif. Kajian ini menekankan pentingnya pembaruan pedagogis dan penguatan nilai dalam setiap proses pembelajaran IPS di jenjang dasar dan madrasah. Kata Kunci:: Pendidikan IPS, nilai sosial, berpikir kritis, sekolah dasar, strategi pembelajaran. PENDAHULUAN Pendidikan di jenjang Sekolah Dasar dan Madrasah tidak hanya bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa secara kognitif, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian peserta didik secara menyeluruh. Dalam konteks ini, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menjadi sangat strategis karena mencakup berbagai aspek kehidupan sosial yang relevan sehari-hari IPS multidisipliner mencakup sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi, yang keseluruhannya sangat erat kaitannya dengan pembentukan nilai-nilai sosial dan kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, penting untuk memahami secara mendalam bagaimana penerapan nilai sosial dan berpikir kritis dapat diintegrasikan secara efektif dalam pembelajaran IPS di Sekolah Dasar dan Madrasah. Pembelajaran IPS seharusnya tidak sekadar menekankan pada penguasaan materi akademik, tetapi lebih jauh dari itu harus mampu menjadi sarana dalam menanamkan nilai-nilai sosial seperti toleransi, gotong royong, kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi dalam kehidupan bermasyarakat dan harus ditanamkan sejak dini. Harahap . menekankan bahwa melalui pendekatan yang tepat seperti model discovery learning, siswa tidak hanya dapat memahami materi tentang berbagai pekerjaan, tetapi juga dapat mengaitkannya dengan nilai-nilai sosial yang terkandung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Pembelajaran yang demikian memungkinkan siswa untuk tidak hanya belajar secara pasif, 772 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. tetapi juga aktif membangun pemahaman melalui pengalaman langsung dan Kemampuan berpikir kritis juga merupakan salah satu kompetensi esensial abad ke-21 yang harus dikembangkan sejak jenjang pendidikan dasar. Dalam konteks pembelajaran IPS, berpikir kritis memungkinkan siswa untuk menganalisis informasi, mengidentifikasi masalah sosial, mengevaluasi berbagai perspektif, dan menyusun solusi alternatif. Hal ini sejalan dengan pandangan Susilowati. Widodo, dan Khaerudin . yang menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran IPAS kelas IV SD dapat secara signifikan meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Dengan PBL, siswa didorong untuk menyelidiki masalah nyata, mendiskusikan bersama teman sebaya, dan menyampaikan hasil pemikiran dalam forum kelas, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran IPS di sekolah dasar masih cenderung bersifat konvensional dan berorientasi pada Guru sering kali masih menggunakan metode ceramah yang tidak memberikan ruang cukup bagi siswa untuk berpikir secara mendalam dan Prasetiyo . menyoroti bahwa banyak guru yang masih mengalami kesulitan dalam mengajarkan IPS dengan cara yang mudah dipahami siswa, pengembangan berpikir kritis. Hal ini tentu menjadi tantangan besar dalam mewujudkan pembelajaran IPS yang ideal. Di sisi lain, pendekatan pedagogis yang inovatif telah terbukti mampu memberikan dampak positif terhadap hasil belajar dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Misalnya. Mayasari . dalam penelitiannya menunjukkan bahwa model Project-Based Learning (PjBL) mampu mengatasi fenomena learning plateau pada siswa SMP dalam pembelajaran IPS. PjBL memungkinkan siswa terlibat langsung dalam proyek nyata yang menuntut kolaborasi, kreativitas, dan pemecahan masalah, yang semuanya adalah bagian integral dari berpikir kritis dan penerapan nilai sosial. Walaupun studi ini dilakukan di jenjang SMP, implikasinya sangat relevan bagi pendidikan 773 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Menerapkan Nilai Sosial Dan Kritis Dalam Ips Di SD/MI| Rimba Rahmawati. Alma Freatiwi Husain dasar karena menunjukkan potensi besar dari pembelajaran berbasis proyek dalam menanamkan nilai-nilai penting secara kontekstual. Model pembelajaran kooperatif juga memberikan kontribusi besar dalam mendukung penerapan nilai sosial. Sekarini . mengungkapkan bahwa penerapan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan. TTW mendorong siswa untuk berpikir secara individual, berdiskusi dengan teman sebaya, dan kemudian menuliskan hasil pemikiran Dalam proses ini, nilai-nilai seperti kerja sama, saling menghargai, dan tanggung jawab muncul secara alami. Strategi seperti ini sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran IPS karena memungkinkan internalisasi nilai sosial secara sistematis. Di era digital saat ini, media pembelajaran juga memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan minat belajar siswa terhadap IPS. Kilawati dan Kasma . menunjukkan bahwa penggunaan video pembelajaran dapat meningkatkan minat belajar siswa SD dalam pelajaran IPS. Media visual yang menarik dan kontekstual mampu menjembatani kesenjangan antara materi abstrak dan dunia nyata siswa. Dengan demikian, penyampaian nilai sosial seperti empati, toleransi, dan tanggung jawab dapat dilakukan dengan cara yang lebih hidup dan menyentuh pengalaman pribadi Selain itu, pendekatan berbasis inkuiri juga terbukti efektif dalam mengembangkan berpikir kritis. Prasanti . menyatakan bahwa model pembelajaran inkuiri mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SD dalam pelajaran IPA. Prinsip inkuiri yang menekankan pada eksplorasi, pertanyaan terbuka, dan penyelidikan mandiri sangat sesuai untuk diterapkan dalam pembelajaran IPS, karena mendorong siswa untuk memahami fenomena sosial secara mendalam dan tidak sekadar menerima informasi secara mentah. Dalam proses inkuiri, siswa belajar untuk mengidentifikasi permasalahan berdasarkan data dan argumen logis. 774 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. Penguatan pembelajaran kontekstual. Bela . menunjukkan bahwa model Contextual Teaching and Learning (CTL) memiliki pengaruh positif terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV SD. CTL menekankan pentingnya mengaitkan materi pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata siswa, sehingga siswa lebih mudah memahami relevansi materi dengan kehidupan mereka. Dalam pembelajaran IPS, pendekatan ini sangat penting karena berbagai konsep sosial yang dipelajari akan lebih bermakna jika dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari siswa di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Transformasi digital dalam pendidikan juga membuka peluang untuk penerapan model blended learning. Kirana . dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa model blended learning tipe flipped classroom memberikan dampak positif terhadap hasil belajar kognitif siswa dalam mata pelajaran IPAS. Model ini memungkinkan siswa untuk mengakses materi pembelajaran secara mandiri di rumah melalui video atau modul daring, kemudian memanfaatkan waktu tatap muka di kelas untuk berdiskusi, menganalisis, dan memecahkan masalah. Dengan pendekatan ini, guru memiliki lebih banyak waktu untuk membimbing siswa dalam berpikir kritis dan memahami nilai-nilai sosial yang terkandung dalam materi pembelajaran. Selain pendekatan pedagogis dan media pembelajaran, kompetensi guru juga menjadi faktor penentu dalam keberhasilan penerapan nilai sosial dan berpikir kritis dalam pembelajaran IPS. Fitriyani . menekankan bahwa kompetensi pedagogik guru memiliki hubungan signifikan dengan hasil belajar Guru yang memiliki kompetensi pedagogik yang baik akan mampu merancang pembelajaran yang tidak hanya efektif secara akademik, tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai kehidupan dan mendorong siswa untuk berpikir kritis. Guru bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai fasilitator, pembimbing, dan teladan dalam membentuk karakter Secara keseluruhan, kajian pustaka ini menunjukkan bahwa penerapan nilai sosial dan berpikir kritis dalam pembelajaran IPS di Sekolah Dasar dan 775 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Menerapkan Nilai Sosial Dan Kritis Dalam Ips Di SD/MI| Rimba Rahmawati. Alma Freatiwi Husain Madrasah memerlukan pendekatan yang holistik dan terintegrasi. Berbagai model pembelajaran seperti discovery learning. PBL. TTW, inkuiri. CTL, hingga flipped classroom telah terbukti secara empirik mampu mendukung pengembangan dua aspek penting tersebut. Selain itu, peran guru, media pembelajaran, dan konteks sosial siswa menjadi faktor pendukung yang tidak dapat diabaikan. Implementasi yang sukses membutuhkan sinergi antara kurikulum yang kontekstual, strategi pembelajaran yang tepat, dan lingkungan belajar yang mendukung. Penting juga untuk melakukan pelatihan dan pengembangan profesional guru secara berkelanjutan agar mereka memiliki keterampilan dalam menerapkan pendekatan-pendekatan yang inovatif dan kontekstual. Dengan demikian, pembelajaran IPS tidak lagi dipandang sebagai pelajaran yang membosankan dan berorientasi pada hafalan, tetapi sebagai sarana strategis dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia, peduli sosial, dan memiliki kemampuan berpikir reflektif serta kritis. Oleh karena itu, pengembangan pembelajaran IPS yang menekankan pada nilai sosial dan berpikir kritis merupakan sebuah kebutuhan mendesak dalam sistem pendidikan nasional. Penerapannya secara konsisten dan berkelanjutan di jenjang pendidikan dasar akan memberikan fondasi yang kuat bagi tumbuhnya warga negara yang aktif, kritis, dan bertanggung jawab. Pendidikan IPS harus menjadi ruang dialektika sosial yang hidup, tempat di mana siswa belajar bukan hanya tentang masa lalu dan struktur masyarakat, tetapi juga tentang bagaimana menjadi bagian dari perubahan sosial yang lebih METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka . ibrary researc. sebagai pendekatan utama dalam menggali, menganalisis, dan menyintesis berbagai sumber yang relevan untuk membahas penerapan nilai sosial dan berpikir kritis dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah 776 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. Dasar dan Madrasah. Studi pustaka dipilih karena topik yang dikaji bersifat konseptual dan teoritis, dengan tujuan utama untuk memahami secara mendalam berbagai pendekatan, strategi, serta model pembelajaran yang telah diterapkan dan dikaji dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengakses beragam sumber ilmiah seperti disertasi, artikel jurnal, prosiding seminar, dan buku yang memiliki relevansi kuat dengan topik kajian. Proses pengumpulan data dilakukan dengan mengidentifikasi, membaca secara kritis, dan mengklasifikasikan informasi dari sumber-sumber pustaka yang telah dipublikasikan dalam beberapa tahun terakhir, terutama yang berkaitan dengan integrasi nilai sosial dan kemampuan berpikir kritis dalam konteks pendidikan IPS di tingkat dasar. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif, dengan menekankan pada proses interpretasi terhadap isi dan makna yang terkandung dalam masing-masing sumber pustaka. Setiap temuan dikaji berdasarkan dengan fokus kemudian dibandingkan dan dihubungkan untuk membangun pemahaman yang utuh dan sistematis. Proses sintesis dilakukan dengan cara mengelompokkan temuan-temuan dari berbagai literatur ke dalam tema-tema utama, seperti model pembelajaran yang efektif, peran guru, pengaruh media pembelajaran, dan kompetensi berpikir kritis siswa. Validitas kajian dijaga melalui pemilihan sumber yang kredibel dan mutakhir, serta dengan mempertahankan objektivitas dalam proses analisis. Dengan pendekatan studi pustaka ini, penelitian diharapkan mampu memberikan kontribusi teoritis yang kuat serta menjadi dasar bagi pengembangan praktik pembelajaran IPS yang lebih kontekstual dan transformatif di Sekolah Dasar dan Madrasah. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada tingkat Sekolah Dasar dan Madrasah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan mendorong kemampuan berpikir kritis siswa sejak usia dini. Kajian pustaka menunjukkan bahwa model pembelajaran yang inovatif tidak hanya 777 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Menerapkan Nilai Sosial Dan Kritis Dalam Ips Di SD/MI| Rimba Rahmawati. Alma Freatiwi Husain meningkatkan pengetahuan kognitif siswa, tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai sosial seperti toleransi, keadilan, kerjasama, dan empati. Hal ini ditegaskan oleh Harahap . yang menyatakan bahwa penerapan model discovery learning pada materi berbagai pekerjaan di kelas IV SD Negeri 200507 Padangsidimpuan mampu meningkatkan hasil belajar kognitif serta membangun kesadaran sosial siswa terhadap kontribusi setiap jenis pekerjaan dalam masyarakat. Melalui proses discovery, siswa dilatih untuk aktif mengamati, bertanya, menyimpulkan, dan menghargai perbedaan peran setiap individuAilangkah-langkah inilah yang memicu munculnya nilai-nilai sosial dan mengasah kemampuan berpikir kritis. Dalam konteks yang sama. Prasetiyo . menekankan bahwa pengajaran IPS akan lebih efektif jika guru menerapkan pendekatan sederhana, ramah anak, dan interaktif, misalnya melalui storytelling, diskusi kelompok kecil, atau permainan peran. Strategi ini tidak hanya membantu siswa memahami konsep-konsep abstrak dengan lebih mudah, tetapi juga mendorong mereka untuk berefleksi dan mengevaluasi tindakan serta dampaknya terhadap orang lain, proses yang secara alami menumbuhkan nilainilai sosial seperti kejujuran dan tanggung jawab. Penanaman nilai tersebut bukan terjadi secara pasif, melainkan melalui interaksi aktif yang menuntut siswa berpikir kritis terhadap situasi yang disajikan. Penggunaan model Problem-Based Learning (PBL) juga terbukti efektif dalam melatih siswa IPAS untuk berpikir kritis. Susilowati. Widodo, dan Khaerudin . melaporkan bahwa melalui PBL, siswa kelas IV SD di Banioro berhasil meningkatkan keterampilan berpikir kritisnya. Prosesnya melibatkan analisis masalah nyata, eksplorasi data, diskusi kolaboratif, dan penyusunan solusi berdasarkan argumen logis. Aktivitas kolaboratif ini tidak hanya menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menghargai pendapat teman, tetapi juga kemampuan untuk mengevaluasi berbagai pendekatan solusi secara kritis. Mayasari . menunjukkan bahwa model Project-Based Learning (PjBL) mampu menurunkan learning plateau pada siswa SMP dalam pelajaran 778 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. IPS. Walaupun konteksnya SMP, prinsip dasarnya relevan untuk SD. PjBL melibatkan siswa dalam proyek nyata, seperti kampanye lingkungan atau simulasi masyarakat mini. Dalam pelaksanaan proyek ini, siswa tidak hanya bekerja sama secara aktif dan kreatif, tetapi juga dihadapkan pada tantangan nyata yang mengharuskan mereka berpikir kritis dan mempertimbangkan dampak sosial suatu tindakan. Relevansi pendekatan kooperatif dalam menanamkan nilai sosial serta berpikir kritis juga diperkuat oleh Sekarini . , yang menemukan bahwa model Think Talk Write (TTW) meningkatkan hasil belajar PKN siswa SD. Dalam TTW, siswa berpikir mandiri, berdiskusi dalam kelompok kecil, kemudian menuliskan pemikirannya. Proses ini membangun internalisasi nilai-nilai seperti kerja sama dan rasa hormat kepada pendapat orang lain, pengorganisasian pemikiran dalam wujud tertulis. Di era digital, media memiliki peran krusial dalam menjembatani pengalaman belajar siswa dengan kehidupan nyata. Kilawati dan Kasma . menunjukkan bahwa video pembelajaran meningkatkan minat siswa terhadap IPS. Video yang mengangkat tema kehidupan masyarakat, profesi lokal, atau nilai kemasyarakatan menjadi media efektif untuk menyampaikan konsep Ketika siswa menyaksikan kehidupan nyata lewat video, mereka tidak hanya memahami kontennya, tetapi juga dapat merenungkan aspek sosial seperti empati, penghargaan terhadap perbedaan, dan solusi kritis terhadap persoalan di masyarakat. Pendekatan pembelajaran inkuiri juga memberikan landasan kuat dalam menumbuhkan berpikir kritis siswa. Prasanti . menemukan bahwa model inkuiri dalam pembelajaran IPA terbukti meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SD. Prinsip-prinsip inkuiriAiseperti penyusunan pertanyaan terbuka, eksplorasi data, dan refleksiAisangat sesuai diterapkan dalam IPS. Ketika siswa dituntut untuk memahami fenomena sosialAiseperti sebab-akibat kemiskinan, sistem gotong royong, atau struktur keluargaAi 779 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Menerapkan Nilai Sosial Dan Kritis Dalam Ips Di SD/MI| Rimba Rahmawati. Alma Freatiwi Husain mereka dihadapkan pada proses berpikir kritis untuk mencari jawaban dan menilai berbagai alternatif solusi sosial. Lebih lanjut, model Contextual Teaching and Learning (CTL) terbukti efektif dalam membangun pemahaman siswa karena menghubungkan pembelajaran dengan konteks kehidupan mereka. Bela . mencatat model CTL meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SD. Dengan mengaitkan materi IPS dengan pengalaman lokalAiseperti kegiatan ekonomi keluarga, adat lokal, atau organisasi masyarakatAisiswa belajar memahami relevansi materi, sekaligus menumbuhkan nilai sosial seperti tanggung jawab terhadap komunitas dan kebanggaan budaya. Blended learning, terutama tipe flipped classroom, juga membuka peluang signifikan bagi penguatan nilai sosial dan berpikir kritis. Kirana . menemukan penerapannya meningkatkan hasil kognitif IPAS. Dalam konteks IPS, materi bisa diberikan lewat video atau modul daring sebelum pertemuan tatap muka. Saat di kelas, siswa menggunakan waktu tersebut untuk berdiskusi, menganalisis kasus, dan membahas nilai-nilai bersama teman. Proses ini mendorong keterlibatan sosial aktif, penghargaan terhadap pendapat teman, dan berpikir kritis untuk mempertajam pemahaman materi. Peran guru sebagai fasilitator sekaligus teladan dalam memfasilitasi pembelajaran IPS sangat menentukan hasil integrasi nilai sosial dan berpikir Fitriyani . menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik guru memiliki korelasi signifikan dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI. Guru yang kompeten dapat merancang lingkungan pembelajaran yang kondusif, memilih strategi yang tepat, dan memberikan umpan balik yang Mereka menciptakan budaya kelas yang menghargai perbedaan pendapat, mendorong siswa untuk bertanya kritis, dan merefleksikan tindakan serta nilai di balik suatu konsep sosial. Dari semua kajian pustaka tersebut, terlihat jelas bahwa integrasi nilai sosial dan berpikir kritis dalam pembelajaran IPS bukanlah akibat tunggal, melainkan hasil dari sinergi antara model pembelajaran inovatif, media ajar yang relevan, kompetensi guru, serta konteks lokal siswa. Discovery learning 780 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. mendorong siswa aktif menemukan konsep. PBL dan PjBL memberikan pengalaman kolaboratif dan kritis terhadap masalah sosial. TTW memperkuat refleksi personal dan tulisan, media video memberi contoh konkret, inkuiri menuntut proses penyelidikan. CTL mengaitkan materi dengan realitas, dan blended learning menyediakan ruang diskusi mendalam. Semua elemen ini membentuk suatu kesatuan pedagogis yang mampu mendidik siswa menjadi agen sosial yang kritis dan peduli. Implementasi pemaduan ini di lapangan tentu tidak lepas dari Faktor utama antara lain kesiapan guru, ketersediaan fasilitas, waktu pembelajaran yang terbatas, dan paradigma pendidikan konvensional yang masih mengedepankan hafalan. Untuk mengatasinya, perlu diadakan pelatihan berkelanjutan bagi guru terkait model-model pembelajaran, penyusunan modul tematik IPS yang mengintegrasikan nilai sosial, dan dukungan kurikulum yang memfasilitasi inovasi. Selain itu, penyediaan akses terhadap teknologiAiseperti perangkat untuk video dan platform daringAiakan mendukung penerapan blended learning dan metode inkuiri digital. Dampak jangka panjang dari penerapan pendekatan ini akan terlihat mengembangkan literasi sosial, serta menjaga nilai bangsa. Ketika siswa sejak dini terbiasa berpikir kritis, menghargai pendapat berbeda, dan peduli terhadap lingkungan sekitar, mereka akan tumbuh menjadi warga negara yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bertanggung jawab, toleran, dan mampu Keberlanjutan inisiatif ini perlu didukung oleh kebijakan pendidikan, alokasi anggaran untuk pelatihan guru, dan pengembangan modul berbasis nilai sosial yang adaptif. Dengan komprehensif berdasarkan studi pustaka tentang bagaimana pembelajaran IPS yang terintegrasi nilai sosial dan berpikir kritis dapat diwujudkan melalui berbagai model inovatif dan dukungan system pendidikan. Jika Anda membutuhkan versi lebih panjang . 000 kat. atau tambahan 781 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Menerapkan Nilai Sosial Dan Kritis Dalam Ips Di SD/MI| Rimba Rahmawati. Alma Freatiwi Husain penjelasan mendalam pada masing-masing referensi serta kutipan langsung, saya siap membantu. KESIMPULAN Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Dasar dan Madrasah memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter peserta didik serta menumbuhkan keterampilan berpikir kritis sejak dini. Melalui pendekatan yang tepat. IPS tidak hanya menjadi sarana pemahaman terhadap konsep-konsep sosial dan budaya, tetapi juga menjadi wahana internalisasi nilai-nilai seperti gotong royong, toleransi, keadilan, dan tanggung jawab Nilai-nilai tersebut sangat penting dalam membentuk pribadi siswa yang siap hidup bermasyarakat dan mampu menilai realitas sosial secara rasional dan bijak. Dalam penerapan pembelajaran IPS, terbukti bahwa pendekatan berbasis model pembelajaran inovatif sangat efektif dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan sosial. Berbagai model seperti discovery learning, problembased learning, project-based learning, contextual teaching and learning, hingga blended learning tipe flipped classroom telah menunjukkan kontribusi yang besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran IPS. Model-model tersebut mampu membangun kemandirian belajar, mendorong siswa untuk berpikir logis, serta menciptakan lingkungan belajar yang menekankan kerja sama dan komunikasi yang sehat antar peserta didik. Keberhasilan integrasi nilai sosial dalam pembelajaran IPS terletak pada bagaimana guru mampu mengaitkan materi pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata. Ketika siswa diberi kesempatan untuk memahami persoalan sosial dari lingkungan mereka sendiri, proses belajar menjadi lebih bermakna. Pembelajaran tidak lagi bersifat abstrak, melainkan dekat dengan realitas yang mereka hadapi sehari-hari. Hal ini memudahkan siswa untuk menanamkan nilai sosial dalam sikap dan perilaku, sekaligus memahami peran mereka dalam masyarakat. REFERENSI