Ganesha Civic Education Journal Volume 6. Number 2. Oktober 2024, pp. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 DOI: https://doi. org/10. 23887/gancej. Open Access: https://ejournal2. id/index. php/GANCEJ/index STRATEGI YANG RELEVAN DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN JENJANG SEKOLAH DASAR Kiki Rizkiatul Afifah1 * . Nurul Awaliyah Mukhli2 Universitas Sunan Ampel Surabaya. Indonesia ARTICLE INFO ABSTRAK Article history: Received 01 Juli 2024 Accepted 01 Oktober 2024 Available online 10 Oktober Berbagai permasalahan kenakalan remaja yang terjadi di Indonesia perlu untuk diantisipasi, yaitu dimulai dari jenjang Sekolah Dasar. Pendidikan Kewarganegaraan dijadikan sebagai wahana psikologis-pedagogis utama. Tujuan penelitian adalah mampu menganalisis strategi yang relevan dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar. Penelitian Kata Kunci: menggunakan metode studi pustaka . ibrary researc. , yaitu dengan Pendidikan mengumpulkan data-data penelitian melalui buku-buku, jurnal, surat kabar. Kewarganegaraan. Strategi majalah, berita elektronik, maupun sumber-sumber pustaka yang lain Pendidikan Kewarganegaraan. Sekolah untuk mendukung kelengkapan data-data penelitian. Hasil penelitian Dasar menunjukkan bahwa strategi yang relevan dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar adalah role playing. strategi ini Keywords: Citizenship education. Civic dianggap siswa dapat memahami konsep Pendidikan Kewarganegaraan melalui pengalaman langsung yang didapatnya saat bermain peran. Strategy. elementary school Diharapkan role playing dapat memacu minat dan motivasi siswa, sehingga meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan. Implikasi Penelitian ini dapat menjadi landasan bagi penelitian-penelitian selanjutnya di bidang pendidikan kewarganegaraan. Misalnya, studi lanjutan dapat mengeksplorasi efektivitas strategi yang direkomendasikan di berbagai konteks sekolah, mengukur dampak jangka panjangnya pada siswa, atau mengadaptasi strategi tersebut untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi. ABSTRACT Various problems of juvenile delinquency that occur in Indonesia need to be anticipated, namely starting from the Elementary School level. Civic Education is used as the main psychological-pedagogical vehicle. The purpose of the study is to be able to analyze relevant strategies in learning Civic Education in Elementary Schools. The study uses a library research method, namely by collecting research data through books, journals, newspapers, magazines, electronic news, and other library sources to support the completeness of the research The results of the study indicate that a relevant strategy in learning Civic Education in Elementary Schools is role playing. This strategy is considered that students can understand the concept of Civic Education through direct experience gained when playing roles. It is hoped that role playing can spur students' interest and motivation, thereby improving Civic Education learning outcomes. Implications This study can be a basis for further research in the field of civic education. For example, further studies can explore the effectiveness of recommended strategies in various school contexts, measure their long-term impact on students, or adapt the strategy for higher levels of education. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2024 by Author. Published by Universitas Pendidikan Ganesha. * Corresponding author. E-mail addresses: kikirizkiyatulafifah@gmail. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. Pendahuluan Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, sekolah sebagai wahana pengembangan warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dalam hal ini Pendidikan Kewarganegaraan harus menjadi wahana psikologis-pedagogis yang utama(Chotimah et al. Di lingkup sekolah Pendidikan Kewarganegaraan mengembangkan misi sebagai pendidikan nilai ideologis Pancasila dan menekankan pada pendidikan kewajiban dan hak Pada pasal 37 ayat . Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional ditegaskan, bahwa kurikulum pendidikan dasar wajib memuat diantaranya pendidikan kewarganegaraan. Hal ini berarti pendidikan kewarganegaraan memiliki peran yang sangat penting sebagai pranata atau tatanan sosial-pedagogis yang kondusif atau memberi suasana bagi tumbuhkembangnya berbagai kualitas pribadi peserta didik (Winataputra, 2. Berdasarkan Tujuannya. Pendidikan Kewarganegaraan dijadikan sebagai pembentukan warga negara yang baik. Hal ini kompetensi yang digali tidak hanya pada dimensi pengetahuannya saja, karakteristik lainnya seperti pada dimensi sikap dan keterampilan juga penting untuk diberikan penekanan, antara lain: . Civic intellegency, yaitu kecerdasan dan daya nalar warga negara pada dimensi spiritual, rasional, emosional, maupun sosial. Civic responsibility, yaitu kesadaran terhadap hak dan kewajiban sebagai warga negara yang bertanggung jawab. Civic participation, yaitu kemampuan berpartisipasi sebagai warga negara. Berdasarkan pendapat ini. Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan mampu melaksanakan peran pembelajaran dengan baik untuk mendidik dan melatih peserta didik mengembangkan wawasan dan berfikir kritis pada era yang semakin berkembang ini (Rahmandani, 2. Sebagaimana, untuk menghadapi abad 21 diperlukan delapan karakteristik kewarganegaraan abad 21, yaitu: . Kemampuan melihat dan mendekati masalah sebagai masyarakat global. Kemampuan bekerja sama dengan yang lain melalui cara yang kooperatif dan menerima tanggung jawab atas peran/tugasnya pada masyarakat. Kemampuan memahami dan menerima menghargai dan dapat menerima perbedaan-perbedaan budaya. Kemampuan berfikir secara kritis dan sistematis. Kemampuan menyelesaikan konflik secara damai atau tanpa kekerasan. Keinginan mengubah gaya hidup yang konsumtif menjadi memelihara . Kemampuan bersikap sensitif dan melindungi HAM . Keinginan dan kemampuan untuk ikut serta dalam politik pada tingkat nasional dan internasional (Cogan & Derricott, 2. Untuk dapat mewujudkan karakterisitik warga negara seperti yang disebutkan sebelumnya, maka pembelajaran pendidikan kewarganegaraan hendaknya tidak lagi dibelajarkan secara konvensional yaitu dengan indoktrinasi dan ceramah semata, tetapi perlu diadakan perubahanperubahan yang penting dalam berbagai hal. Salah satu Perubahan yang perlu dilakukan yakni pembelajaran di kelas. Dalam proses belajar mengajar di kelas, tujuan pengajaran merupakan salah satu komponen yang penting. Untuk mencapai tujuan ini, setiap guru dituntut untuk memahami strategi pembelajaran yang akan diterapkan. Setiap guru harus perlu memikirkan strategi yang akan digunakannya. Pemilihan strategi pembelajaran pada dasarnya merupakan salah satu hal yang harus dipahami oleh setiap guru, mengingat proses komunikasi multi arah antarsiswa, guru, dan lingkungan belajar. Strategi pembelajaran yang dipilih oleh guru selayaknya didasari pada berbagai pertimbangan sesuai dengan kondisi, situasi, dan lingkungan yang akan dihadapinya. Dalam proses pembelajaran PKN strategi pembelajaran merupakan hal yang penting bagi seorang guru. Sebagaimana Strategi pembelajaran dimaksudkan sebagai cara yang digunakan oleh guru dalam menetapkan langkah-langkah utama mengajar sehingga hasil dari proses belajar mengajar itu dapat benar-benar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Perlunya strategi juga atas pertimbangan kemampuan peserta didik dalam memahami materi pelajaran dan karakter peserta didik merespon pembelajaran (Isnani, 2. Strategi apapun dapat digunakan pada mata pelajaran PKN, apabila strategi tersebut sesuai dengan materi yang Oleh karena itu, proses pembelajaran pada tingkat SD/MI membutuhkan kesabaran dan kreatifitas guru. Terkadang apa yang disampaikan oleh guru tidak bisa diterima oleh peserta didik dengan baik. Salah satu bentuk kreatifitas guru dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKN) adalah dengan menggunakan strategi. Strategi tentunya akan membantu GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. tercapainya tujuan pembelajaran, karena dengan strategi peserta didik dikelas tidak hanya mendengarkan penjelasan dari guru saja akan tetapi peserta didik diajak untuk berfikir kreatif dan inovatif Metode Penelitian ini merupakan penelitian studi pustaka . ibrary researc. , yaitu dengan mengumpulkan data-data penelitian melalui buku-buku, jurnal, surat kabar, majalah, berita elektronik, maupun sumber-sumber pustaka yang lain untuk mendukung kelengkapan data-data Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-deskriptif, yakni data-data penelitian diperoleh dari berbagai teori di literatur-literatur baik berupa buku, jurnal, surat kabar, ataupun karya ilmiah lain yang berkaitan dengan strategi pembelajaran yang relevan dengan pembelajaran PKN di MI yang kemudian dianalisis lebih lanjut sehingga dapat ditemukan hasil serta kesimpulan sebagaimana untuk menjawab rumusan masalah dan tujuan penelitian ini. Hasil dan Pembahasan Proses pembangunan karakter bangsa . ational character buildin. yang sejak proklamasi menjadi prioritas kini perlu direvitalisasi agar sesuai dengan arah dan pesan konstitusi negara Republik Indonesia. PKn sebagai salah satu matapelajaran yang wajib bagi seluruh peserta didik mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, mempunyai peranan yang strategis dalam menerapkan peembangunan karakter nasional. Di Indonesia, arah pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan tidak boleh keluar dari landasan ideologi Pancasila, landasan konstitusional UUD NKRI Tahun 1945, dan landasan operasional Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan mempunyai misi sebagai pendidikan nilai Pancasila dan kewarganegaraan untuk warga negara muda usia. Secara ontologis, mata pelajaran ini berangkat dari nilai-nilai Pancasila dan konsepsi kewarganegaraan. Secara epistemologis, mata pelajaran ini merupakan program pengembangan individu, dan secara aksiologis mata pelajaran ini bertujuan untuk pendewasaan peserta didik sebagai anggota masyarakat, warga negara, dan komponen bangsa Indonesia. Oleh karena itu, secara umum pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di sekolah adalah pengembangan kualitas warga negara secara utuh, dalam aspek-aspek sebagai berikut. Civic Literacy Dalam konteks pendidikan kewarganegaraan dikenal dengan civic literacy . emelekan warg. untuk penguatan kesadaran sebagai warga negara. Dapat dikatakan juga sebagai pemahaman peserta didik sebagai warga negara tentang hak dan kewajiban warga negara dalam kehidupan demokrasi konstitusional Indonesia serta menyesuaikan perilakunya dengan pemahaman dan kesadaran itu. Dalam konteks politik, civic literacy merupakan pengetahuan dan kemampuan warga dalam mengatasi masalah-masalah sosial, politik dan kenegaraan. Civic Engagement Komunikasi sosial kultural kewarganegaraan . ivic engagemen. , yakni kemauan dan kemampuan peserta didik sebagai warga negara untuk melibatkan diri dalam komunikasi sosialkultural sesuai dengan hak dan kewajibannya Civic skill and participation Kemampuan berpartisipasi sebagai warga negara . ivic skill and participatio. , yakni kemauan, kemampuan, dan keterampilan peserta didik sebagai warga negara dalam mengambil prakarsa dan/atau turut serta dalam pemecahan masalah sosial-kultur kewarganegaraan di Civic Knowledge Penalaran kewarganegaraan . ivic knowledg. , yakni kemampuan peserta didik sebagai warga negara untuk berpikir secara kritis dan bertanggungjawab tentang ide, instrumentasi, dan praksis demokrasi konstitusional Indonesia. Civic participation and civic responsibility Kiki Rizkiatul Afifah . Nurul Awaliyah Mukhli . / Strategi Yang Relevan Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Jenjang Sekolah Dasar Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. Partisipasi kewarganegaraan secara bertanggung jawab . ivic participation and civic responsibilit. , yakni kesadaran dan kesiapan peserta didik sebagai warga negara untuk berpartisipasi aktif dan penuh tanggung jawab dalam berkehidupan demokrasi konstitusional. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk persekolahan sangat erat kaitannya dengan dua disiplin ilmu yang erat dengan kenegaraan, yakni Ilmu Politik dan Hukum yang terintegrasi dengan humaniora dan dimensi keilmuan lainnya yang dikemas secara ilmiah dan pedagogis untuk kepentingan pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di tingkat persekolahan bertujuan untuk mempersiapkan para peserta didik sebagai warga negara yang cerdas dan baik . o be smart dan good citize. Warga negara yang dimaksud adalah warga negara yang memiliki kompetensi, diantaranya : Pengetahuan Kewarganegaraan (Civic Knowledg. Kompetensi ini berkaitan dengan kandungan atau apa yang seharusnya diketahui oleh warga negara. Setiap negara mempunyai konsep kandungan materi yang berbeda-beda, dengan menyesuaikan beberapa hal yang mendasar dari negara tersebut, misalnya konstitusi dan ideologi negara indonesia. Sebagaimana pengetahuan yang harus diketahui oleh warga negara berkaitan dengan hak-kewajiban atau peran sebagai warga negara dan pengetahuan yang mendasar tentang struktur dan sistem politik, pemerintahan dan sistem sosial yang ideal sebagaimana terdokumentasi dalam Pancasila dan UUD 1945, maupun yang telah menjadi konvensi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta nilai-nilai universal dalam masyarakat demokratis serta cara Ae cara kerjasama untuk mewjudkan kemajuan bersama dan hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat internasional. Keterampilan Kewarganegaraan (Civic Skill. Kecakapan-kecakapan intelektual dan kecakapan berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan untuk warga negara dan masyarakat demokratis harus difokuskan pada kecakapan-kecakapan yang dibutuhkan untuk berpartisipasi. Kecapakan intelektual melatih warga negara untuk memiliki kemampuan berpikir kritis . erpengetahuan, efektif, dan bertanggung jawa. Sebagaimana dijelaskan Baranson dalam jurnal Arif bahwa The National Standards of Civic and Government dan The Civic Framework for 1998 National Assessment of Educational Progress (NAEPP), kategori keterampilan-keterampilan ini meliputi: identifying and describing . engidentifikasi dan mendeskripsika. explaining and . enjelaskan dan menganalisi. , and . evaluating, taking and defending positions on public issues . engevaluasi, menarik dan mempertahankan posis. dalam isu-isu publik (Arif. Sikap/watak kewarganegaraan (Civic Dispositio. Menurut Branson dalam jurnalnya Mulyono bahwa civics disposition sebagai AuAthose attitudes and habit of mind of the citizen that are conducive to the healthy functioning and common good of the democratic systemAy atau Ausikap dan kebiasaan berpikir warga negara yang menopang berkembangnya fungsi sosial yang sehat dan jaminan kepentingan umum dari sistem demokrasiAy (Mulyono, 2. Civics disposition mengisyaratkan Sikap ini muncul melalui pembiasaan atau melakukan berulang-ulang. Kebiasaan ini terwujud secara perlahan-lahan sepanjang waktu dan sebagai hasil dari apa yang dipelajari dan dialami seseorang di rumah, sekolah, masyarakat, dan organisasiorganisasi masyarakat yang demokratis. Pengalamanpengalaman tersebut harus menghasilkan pemahaman bahwa demokrasi memerlukan pengaturan diri secara bertanggung jawab dari setiap individu, dan seseorang tidak dapat hidup tanpa orang lain. Ciri-ciri watak pribadi, seperti tanggung jawab moral, disiplin diri, dan rasa hormat terhadap nilai dan martabat kemanusiaan dari setiap individu sangat diperlukan. Demikian pula, ciri-ciri watak kemasyarakatan tidak kurang pentingnya. Ciri-ciri, seperti semangat kemasyarakatan, sopan santun, rasa hormat terhadap peraturan hukum, berpikir kritis, hasrat untuk mendengarkan, bernegosiasi, dan berkompromi sangat diperlukan juga bagi keberhasilan demokrasi STRATEGI PEMBELAJARAN PKN DI MI Kata strategi berasal dari bahasa Latin strategia, yang diartikan sebagai seni penggunaan rencana untuk mencapai tujuan. Strategi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai pola kegiatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan guru secara kontekstual, sesuai dengan karakteristik GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. siswa, kondisi sekolah, lingkungan sekitar serta tujuan khusus pembelajaran yang dirumuskan. Dalam hal ini guru menganggap siswa sebagai individu yang bisa berkembang sendiri, dan individu yang tidak mungkin bisa berkembang secara optimal kalau tidak dibantu guru. Strategi Pembelajaran adalah suatu pola umum pembelajaran siswa yang tersusun secara sistematis berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran, melalui langkah-langkah yang sistematis dan strategis untuk bisa mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Strategi terkait dengan kebijaksanaan guru dalam memilih pendekatan, metode, teknik pembelajaran, dan model pembelajaran. R David. Wina Senjaya . menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2. mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, diantaranya . Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil . ut pu. dan sasaran . yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama . asic wa. yang paling efektif untuk mencapai sasaran. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah . yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur . dan patokan ukuran . untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan . Strategi pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yaitu suatu siasat atau kiat yang digunakan, memilih, memobilisasikan dan mengimplementasikan segala teori, pendekatan, teknik, metode, model, media, materi dan sumber-sumber belajar dalam proses bembelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKN) untuk mencapai tujuan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan yang telah ditetapkan (Maridjo, 2. Pada dasarnya tidak ada strategi pembelajaran yang dipandang paling baik, karena setiap strategi pembelajaran saling memiliki keunggulan masing-masing. Strategi pembelajaran yang dinyatakan baik dan tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu belum tentu baik dan tepat digunakan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang lain. ltulah sebabnya, seorang pendidik diharapkan memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam memilih dan menerapkan berbagai strategi pembelajaran, agar dalam melaksanakan tugasnya dapat memilih alternatif strategi yang dirasakan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Berikut ini dikemukakan berbagai strategi pembelajaran yang dapat digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di MI (Sanjaya, 2. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu: exposition-discovery learning dan 2. group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya. Exposition-discovery learning pada dasarnya terdiri dari dua strategi yang berbeda, yaitu strategi penyampaian atau ekspositori. dan discovery learning yang berupaya pada pembelajaran Strategi exposition AekspositoriA adalah strategi pembelajaran langsung . irect instructio. dengan menyajikan materi pelajaran yang sudah jadi dan siswa diharapkan menguasai secara penuh. Strategi ekspositori menempatkan guru sebagai penyampai informasi. Berbeda dengan strategi discovery, dimana siswa mencari dan menemukan materi pelajaran sendiri melalui berbagai aktivitas. Tugas guru dalam strategi discovery yaitu guru sebagai fasilitator dan membimbing siswa dalam pembelajaran. Strategi discovery disebut juga strategi pembelajaran tidak langsung. Strategi group-individual learning merupakan strategi pembelajaran kelompok dan strategi pembelajaran individual. Strategi pembelajaran individual adalah perancangan aktivitas belajar mandiri bagi siswa. Kemampuan individu menentukan tingkat kecepatan keberhasilan penguasaan materi pembelajaran. Materi pembelajaran disajikan atau didesain untuk belajar sendiri, seperti halnya modul pembelajaran. Adapun strategi pembelajaran kelompok yaitu menyajikan pembelajaran dalam bentuk klasikal atau siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Strategi ini menempatkan siswa sebagai individu yang sama. Strategi pembelajaran ditinjau dari cara menyajikan materi dapat dibagi dua, yaitu: . strategi pembelajaran deduktif. strategi pembelajaran induktif. Strategi pembelajaran deduktif berupaya menyajikan materi secara umum ke khusus, atau dimulai dari hal-hal yang abstrak menuju ke hal- hal konkret. Adapun strategi induktif menyajikan materi yang konkret selanjutnya Kiki Rizkiatul Afifah . Nurul Awaliyah Mukhli . / Strategi Yang Relevan Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Jenjang Sekolah Dasar Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. diarahkan pada materi yang kompleks, atau dimulai dari hal khusus menuju ke hal umum. Dalam proses pembelajaran sebagai salah satu komponen utama dalam strategi pembelajaran. Proses belajar merupakan aktifitas pada diri peserta didik, baik aktifitas mental, emosional, maupun aktifitas fisik. Jika dalam proses pembelajaran peserta didik dapat berpartisipasi secara aktif maka proses dan hasil belajar akan meningkat. Sehingga seorang guru harus dengan cermat memilih dan memilah strategi pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran di Adapun beberapa macam strategi pembelajaran yang lebih cocok untuk digunakan di kelas rendah dan kelas tinggi dalam pembelajaran PKN di MI, antara lain: Strategi pembelajaran pkn untuk kelas rendah (Kelas 1, 2, dan . Strategi ekspositori. Strategi ini menekankan kepada proses penyampaiaan materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapar menguasai materi. Contextual Teaching Learning (CTL). Contextual teaching and learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Strategi pembelajaran pkn untuk kelas tinggi (Kelas 4, 5, dan . Strategi pembelajaran inquiry. Strategi Pembelajaran Inquiry (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawabannya dari suatu masalah yang ditanyakan. Strategi Pembelajaran Afektif. Strategi Pembelajaran Afektif merupakan suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Strategi pembelajaran ekspositori. Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Contextual Teaching Learning. Contextual teaching and learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari STRATEGI YANG RELEVAN PEMBELAJARAN PKN DI MI Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hakhak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 (BSN, 2006: . Visi mata pelajaran PKn adalah mewujudkan proses pendidikan yang integral di sekolah untuk pengembangan kemampuan dan kepribadian warganegara yang cerdas, parsitipatif dan bertanggung jawab yang pada gilirannya akan menjadi landasan untuk berkembangnya masyarakat Indonesia yang demokratis (Purwanti, 2. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan adalah: Berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab serta bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan pada karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsabangsa lainnya. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Penyebab rendahnya hasil belajar PKn antara lain adalah karena strategi atau model pembelajaran yang digunakan guru tidak variatif dan membosankan. Pada umumnya guru masih GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. mengandalkan strategi pembelajaran dengan menggunakan ceramah sebagai strategi utama. Strategi pembelajaran tersebut mengakibatkan kurangnya minat dan motivasi siswa dalam pembelajaran PKn, karena proses pembelajaran di dominasi oleh guru dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran rendah. Berdasarkan permasalahan tersebut maka dibutuhkan strategi pembelajaran alternatif, yaitu salah satunya dengan penggunaan stategi role playing. Model role playing sesuai dengan karakter siswa yang aktif dan masih suka bermain. Dengan role paying siswa dapat memahami konsep PKn melalui pengalaman langsung yang didapatnya saat bermain peran. Diharapkan role playing dapat memacu minat dan motivasi siswa, sehingga meningkatkan hasil belajar PKn (Alpusari & Antosa, 2. Pelaksanaan proses pembelajaran terdiri dari 9 langkah yang mengacu pada langkah-langkah pembelajaran role playing. Langkah ke- 1 pemanasan, pertama-tama guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan mengabsensi siswa, kemudian guru memberikan pertanyaan kepada siswa sebagai apersepsi berdasarkan pengalaman untuk mengkontruksikan pengetahuan awal Guru meminta seorang siswa membaca wacana yang telah dibagikan guru sehari sebelumnya di depan kelas. Agar siswa memahami jalan cerita guru mengajukan beberapa pertanyaan tentang cerita dan siswa menjawab pertanyaan guru, sehingga terjadi interaksi yang baik antara guru dan siswa. Kemudian guru menyampaikan judul materi, menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran untuk memotivasi siswa. Setelah itu, guru kembali menjelaskan model pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran serta langkah-langkah kegiatannya. Langkah ke-2 memilih partisipan atau pemain, guru dan siswa membahas tentang karakter dari setiap pemain berdasarkan wacana yang dibaca, dilanjutkan dengan guru memilih pemain untuk bermain peran. Setelah memilih pemain peran, guru meminta siswa membentuk kelompok belajar seperti pertemuan sebelumnya, kemudian guru membagi LKS kepada tiap kelompok. Langkah ke-3 menata panggung, yaitu guru bersama siswa menata panggung, mempersiapkan alat bermain peran, dan mendiskusikan jalan cerita yang akan . Langkah ke-4 menyiapkan pengamat, guru menjelaskan siswa yang tidak bermain peran bertugas menjadi pengamat dan harus sungguh-sungguh menjalankan tugasnya sebagai Guru meminta siswa untuk tidak melakukan kegiatan lain saat kegiatan bermain peran berlangsung, tetapi siswa diminta mengamati secara aktif dan kritis. Langkah ke-5 memainkan peran, yaitu guru meminta siswa yang bertugas sebagai pemain maju ke depan kelas untuk bermain peran. Sebelum memulai kegiatan guru memberikan arahan tentang jalan cerita yang akan diperankan. Siswa yang bertugas sebagai pemeran memerankan skenario yang telah dirancang. Guru dan siswa yang bertugas sebagai pengamat mengamati jalan cerita dengan seksama. Selain itu, guru juga memberikan bimbingan selama kegiatan bermain peran berlangsung. Langkah ke-6 diskusi dan evaluasi, yaitu guru menghentikan permainan peran saat cerita mencapai klimaks. Guru meminta siswa yang bermain peran kembali duduk ke kelompok Guru bersama siswa mendiskusikan dan mengevaluasi tentang permasalahan yang terjadi pada saat bermain peran. Siswa yang bertugas sebagai pengamat menyampaikan pendapatnya. Selanjutnya guru meminta siswa berdiskusi mengerjakan LKS dengan teman sekelompoknya. Saat diskusi berlangsung, guru mengamati jalannya diskusi dan guru membimbing kelompok yang menemui kesulitan. Langkah ke-7 permainan peran ulang, selanjutnya siswa yang bermain peran diminta kembali maju ke depan kelas untuk bermain peran ulang, yaitu melanjutkan cerita yang belum selesai diperankan. Setelah permainan peran ulang selesai, guru mengajak siswa yang lain untuk mengapresiasi para pemain telah yang menjalankan tugasnya dengan cukup baik. Langkah ke-8 diskusi dan evaluasi kedua, yaitu guru memberi waktu 5 menit pada tiap kelompok untuk membahas/mendiskusikan LKS dengan dengan kelompok belajar Kiki Rizkiatul Afifah . Nurul Awaliyah Mukhli . / Strategi Yang Relevan Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Jenjang Sekolah Dasar Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2024, pp. berdasarkan permainan peran ulang. Setelah itu, guru meminta siswa mengumpulkan LKS. Kemudian guru memberikan evaluasi pada tiap siswa. Tiap siswa diminta mengerjakan evaluasi secara individu. Waktu yang diberikan untuk mengerjakan evaluasi adalah 15 menit. Setelah waktu yang ditetapkan habis, guru meminta siswa mengumpulkan jawaban evaluasi ke depan kelas. Langkah ke-9 berbagi pengalaman dan kesimpulan, setelah mengerjakan evaluasi guru dan siswa berbagi pengalaman dan menyimpulkan pembelajaran melalui diskusi kelas. Guru meminta siswa menceritakan apa yang diketahuinya tentang materi yang dibahas dalam kehidupan sehari-hari Simpulan dan Saran Berdasarkan pemaparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Pembelajaran Pancasila dan kewarganegaraan di MI bertujuan untuk mempersiapkan para peserta didik sebagai warga negara yang cerdas dan baik . o be smart dan good citize. Warga negara yang dimaksud adalah warga negara yang menguasai pengetahuan . , keterampilan . , sikap /watak kewarganegaraan (Civic Dispositio. yang dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Untuk dapat mewujudkan tersebut, strategi yang relevan dalam pembelajaran pkn di sd adalah role playing. strategi ini dianggap siswa dapat memahami konsep PKn melalui pengalaman langsung yang didapatnya saat bermain peran. Diharapkan role playing dapat memacu minat dan motivasi siswa, sehingga meningkatkan hasil belajar PKn. Daftar Rujukan Alpusari. , & Antosa. Penerapan Model Pembelajaran Role Playing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pkn Siswa Kelas Ii Sd Negeri 136 Pekanbaru. Jurnal Online Mahasiswa, 1Ae11. Arif. Pengembangan komponen kompetensi kewargaan dalam buku teks Pendidikan Kewarganegaraan SMP/MTs. Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan, 13. https://doi. org/10. 21831/civics. Chotimah. Aisyah. , & Meryansumayeka. MEMPERKUAT KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS HOTS PADA PEMBELAJARAN PPKn. Bhineka Tunggal Ika: Kajian Teori Dan Praktik Pendidikan PKn, 7. , 55Ae67. https://doi. org/10. 36706/jbti. Cogan. , & Derricott. Citizenship for the 21st Century: An International Perspective on Education. kogan page. Isnani. Penerapan Strategi Point Counterpoint pada Pembelajaran PKN Kelas V di MIN 13 Banjar Kabupaten Banjar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. VII. Mulyono,B. Reorientasi civic disposition dalam kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan sebagai upaya membentuk warga negara yang ideal. Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan, 14. , 218Ae225. https://doi. org/10. 21831/civics. Purwanti. PENERAPANMETODEROLE PLAYINGSEBAGAI METODE PEMBELAJARANBIDANG STUDI PKn DI SD GIRISUKO PANGGUNG GUNUNG KIDUL. Journal of Academy Education Pancasila. Pendidikan Vol. Kewarganegaraan, 4. , 49Ae Rahmandani. Strategi guru pkn dalam penguatan literasi digital peserta didik guna Https://w. Researchgate. Net/Publication/338393354. Sanjaya. Strategi Pembelajaran. Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Winataputra. Hakikat,Fungsi. Dan Tujuan Pendidikan Kewarganegaran Di Sd. Pembelajaran PKN SD. Universitas Terbuka. http://repository. id/4011/1/PDGK4201-M1. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304