Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah, Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 4 No. 2 : Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2829-5374, ISSN : 2777-0125 Hal. 28 - 41 ANALISIS PROFESIONALISME GURU Andi Ridwan Akbar1, Madnur2, Muji Heri Hermawan3 1,2,3 Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok ABSTRACK This study aims to determine the professionalism of teachers at Madina Islamic School Elementary School, Tebet. This research uses a qualitative description approach. The data collection techniques used were observation, interview and documentation methods. Interviews were conducted with the principal, vice principal for curriculum, vice principal for student affairs, several teachers and several parents of students at SD Madina Islamic School. The research was conducted for 5 months (February to June 2022) in the 2021-2022 school year. The results of this study indicate that the professionalism of teachers at SD Madina Islamic School has met the standards of teacher professionalism which includes the physical dimension, mental dimension, scientific or knowledge dimension, and skill dimension. With some things that must be considered, namely the existence of support from the school to support the teaching and learning activities of teachers, the holding of ceremonies, and the provision of health checks for teachers. The conclusion obtained is the professionalism of teachers in carrying out their duties and roles as teachers well. Teachers try to fulfill professional criteria from the physical, mental, scientific or knowledge dimensions, and the skills dimension. Teachers' efforts in time management to achieve the specified targets and discipline in the teaching process. School support is very important in supporting the process of increasing teacher professionalism at Madina Islamic School Elementary School. Keyword : Teacher Professionalism ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profesionalisme guru di Sekolah Dasar Madina Islamic School, Tebet. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskripsi kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, beberapa guru dan beberapa orang tua murid di SD Madina Islamic School. Penelitian dilakukan selama 5 bulan (Februari s/d Juni 2022) tahun ajaran 2021-2022. Hasil dari penelitian ini menujukkan bahwa profesionalisme guru di SD Madina Islamic School sudah memenuhi standar profesionalisme guru yang meliputi dimensi fisik, dimensi mental, dimensi keilmiahan atau pengetahuan, dan dimensi keterampilan. Dengan beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu adanya Jurnal Pena Islam : Vol. 4 No. 2 : Juli – Desember 2024 Copyright: ©2024, Andi Ridwan Akbar, Madnur, Muji Heri Hermawan 28 Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah, Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 4 No. 2 : Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2829-5374, ISSN : 2777-0125 Hal. 28 - 41 support dari sekolah untuk menunjang aktifitas belajar mengajar guru, diadakannya upacara, dan pengadaan chek up kesehatan bagi guru-gurunya. Kesimpulan yang diperoleh adalah profesionalisme guru dalam menjalankan tugas dan peran sebagai guru dengan baik. Guru berusaha memenuhi kriteria profesional dari dimensi fisik, mental, keilmiahan atau pengetahuan, dan dimensi keterampilan. Upaya guru dalam manjemen waktu untuk mencapai target-target yang ditentukan dan displin dalam proses pengajaran. Dukungan sekolah sangat penting dalam menunjang proses peningkatan profesioinalisme guru di SD Madina Islamic School. Kata Kunci : Profesionalisme Guru 1. PENDAHULUAN Masih rendahnya kinerja guru tidak terlepas dari masalah kualifikasi, baik kualifikasi akademik maupun kualifikasi non akademik, masih banyak guru yang memiliki kualifikasi di bawah standar (D-4/S-1) dan mengajarkan mata pelajaran yang berbeda dengan kualifikasi pendidikannya sehingga mempengaruhi penguasaan kualifikasi non akademiknya.1 Hal itu berarti seorang guru harus memiliki profesionalitas dalam menjalankan tugasnya. Istilah profesi keguruan di bidang pendidikan mulai hangat dibicarakan pada tahun 2005 setelah terbitnya Undang-Undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pada pasal 1 ayat 1 Undang-Undang tersebut diungkapkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah Lebih lanjut pada pasal 1 ayat 4 diungkapkan bahwa profesional merupakan pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.2 Untuk memahami lebih dalam tentang profesionalitas guru, penulis melakukan penelitian di SD Madina Islamic School Tebet, Jakarta Selatan. SD Madina Islamic School didirikan pada tahun 2004 yang berlokasi di Tebet, Jakarta Selatan. SD Madina Islamic School Tebet memiliki visi “Menjadi lembaga pendidikan terpadu yang mampu menghasilkan generasi dengan kapasitas global dan berkarakter berintegritas sebagai insan kamil yang siap membangun masyarakat yang beradab. 2. TINJAUAN PUSTAKA Jaja Jahidi, “Kualifikasi dan Kompetensi Guru”, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pascasarjana Administrasi Pendidikan, Volume 2 No 1, 2014, hlm. 23 2 Novan Ardy Wiyani, Dasar-dasar dan Teori Pendidikan, (Yogyakarta: Penerbit Gava Media, 2021), hlm. 45 1 Jurnal Pena Islam : Vol. 4 No. 2 : Juli – Desember 2024 Copyright: ©2024, Andi Ridwan Akbar, Madnur, Muji Heri Hermawan 29 Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah, Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 4 No. 2 : Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2829-5374, ISSN : 2777-0125 Hal. 28 - 41 Analisis atau analisa berasal dari kata Yunani kuni analusis yang berarti melepaskan. Analusis terbentuk dari dua suku kata, yaitu ana yang berarti kembali, dan luein yang berarti melepas. Jika digabung berarti melepas kembali atau menguraikan. Kata anulisis ini kemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi analysis, yang kemudian juga diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi analisis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), analisis mempunyai beberapa arti diantaranya sebagai berikut: a. Penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya, dan sebagainya) b. Penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antara bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.3 Secara umum analisis adalah kegiatan yang terencana dan teliti yang dilakukan untuk memperoleh hasil dan kesimpulan terhadap objek yang diteliti. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesionalisme mempunyai makna: mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau yang profesional.4 Kata profesi masuk ke dalam kosa kata bahasa Indonesia melalui bahasa Inggris (profession) atau bahasa Belanda (professie). Kedua bahasa Barat ini menerima kata ini dari bahasa Latin. Dalam bahasa Latin kata professio berarti pengakuan atau pernyataan. Profesionalisme berasal dari kata bahasa Inggris profesionalism yang secara klasikal berarti profesional. Orang yang profesional memiliki sikap-sikap yang berbeda dengan orang yang tidak profesional, meskipun dalam pekerjaan yang sama atau katakanlah berada pada satu ruang kerja. Tidak jarang pula orang yang berlatar belakang pendidikan yang sama dan bekerja pada tempat yang sama menampilkan kinerja profesional yang berbeda, serta berbeda pula pengakuan masyarakat kepada mereka. Profesionalisme dapat diartikan sebagai komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesi itu.5 Dengan demikian profesionalisme merupakan profesi yang diiringi dengan keahlian, keterampilan, kepandaian dalam menjalankan segala tugas pokok profesinya. Menurut Sri Minarti, mengutip pendapat ahli bahasa Belanda, J.E.C. Gericke dan T. Roorda, yang menerangkan bahwa guru berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya berat, besar, penting, baik sekali, terhormat dan pengajar. Sementara dalam bahasa Inggris dijumpai beberapa kata yang berarti guru, misalnya teacher yang berarti guru atau pengajar, educator yang berarti pendidik atau ahli mendidik dan 3 Sri Mulyani, Metode Analisis dan Perancangan Sistem, (Bandung: Abdi Sistematika, 2017), hlm: 38. 4 https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Profesionalisme, 19 Februari 2022, jam 9.40 WIB. 5 Latifah Husein, Profesi Keguruan Menjadi Guru Profesional, (Yogyakarta: PT. Pustaka Baru Press, 2017), hlm. 15 Jurnal Pena Islam : Vol. 4 No. 2 : Juli – Desember 2024 Copyright: ©2024, Andi Ridwan Akbar, Madnur, Muji Heri Hermawan 30 Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah, Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 4 No. 2 : Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2829-5374, ISSN : 2777-0125 Hal. 28 - 41 tutor yang berarti guru pribadi, guru yang mengajar di rumah, atau guru yang memberi les.6 Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyarakatkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Kompetensi di sini meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan profesional, baik yang bersifat pribadi, sosial, maupun akademis. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki visi yang tepat dan berbagai aksi motivasi. Visi tanpa aksi bagaikan hanya sebuah impian saja, sedangkan aksi tanpa visi bagaikan perjalanan tanpa tujuan dan membuang-buang waktu saja. Visi dengan aksi bila diterapkan secara tepat akan mampu mengubah dunia. Dengan kata lain, pengertian guru profesional adalah guru yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan, sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal yang dimilikinya sebagai tenaga profesional yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya. Dari definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa profesionalisme guru adalah kualitas guru yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan baik yang didukung adanya kemampuan maksimal. 7 3. METODE Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, untuk mendapatkan informasi kunci yang tepat sesuai fokus penelitian, maka yang menjadi sumber penelitian utama atau data primer adalah guru di SD Madina Islamic School Tebet, dan sebagai sumber informasi penunjang adalah kepala sekolah SD Madina Islamic School Tebet dengan perincian: 1 kepala sekolah, 6 guru, dan 3 komite sekolah. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara digunakan untuk memperoleh data tentang berbagai kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang profesional. Wawancara juga digunakan untuk memperolah data tentang tanggapan kepala sekolah terkait dengan profesionalisme guru yang berada dalam tanggung jawabnya. Untuk menunjang proses wawancara, peneliti sebelumnya telah mengurus perizinan dengan pihak sekolah dan mempersiapkan peralatan seperti alat tulis, alat perekam suara, dan daftar pertanyaan yang telah dibuat peneliti yang berkaitan dengan pokok permasalahan yang diteliti. Teknik observasi yang dilakukan peneliti adalah pengamatan secara langsung terhadap objek penelitian di tempat terjadinya atau berlangsungnya aktifitas. Observasi dilakukan dengan menggunakan metode pedoman observasi yang berupa catatan-catatan lapangan yang dilihat atau diamati oleh peneliti. Dokumentasi adalah metode pengumpulan data kualitatif dengan melihat dan menganalisis dokumen - dokumen penelitian. Dokumentasi dilakukan untuk memperoleh data tentang profil SD Madina Islamic School Tebet dan data guru. 6 Mujahid, Pengembangan Profesi Guru, (Malang: UIN Maliki Press, 2011), hlm: 33. Aminatul Zahroh, Membangun Kualitas Pembelajaran melalui Dimensi Profesionalisme Guru, (Bandung: Yrama Widya, 2018), hlm. 43 7 Jurnal Pena Islam : Vol. 4 No. 2 : Juli – Desember 2024 Copyright: ©2024, Andi Ridwan Akbar, Madnur, Muji Heri Hermawan 31 Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah, Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 4 No. 2 : Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2829-5374, ISSN : 2777-0125 Hal. 28 - 41 Dokumen-dokumen tersebut digunakan untuk melengkap data penelitian sehingga dapat memberi gambaran tentang objek penelitian. 4. HASIL PEMBAHASAN Kondisi Profesionalisme Guru Madina Islamic School Berdasarkan penelitian di lapangan, peneliti menemukan bahwa profesionalisme guru di SD Madina Islamic School memiliki standar yang cukup untuk menjadi tenaga pendidik. Dilihat dari dimensi fisik, calon guru sebelum menjadi mendaftarkan dirinya menjadi tenaga pendidik di SD Madina Islamic School harus melalui beberapa tahap. Mulai dari tahap pemberkasan, tahap ujian psikologi, dan ujian kesehatan. Sehingga calon guru yang diterima menjadi tenaga pendidik atau guru di SD Madina Islamci School adalah guru yang memiliki kesehatan yang prima serta tidak memiliki cacat fisik yang bisa menimbulkan cemoohan atau rasa iba dari peserta didik. Dengan demikian calon guru yang diterima menjadi guru di SD Madina Islamic School benar-benar memenuhi standar kualifikasi sebagai seorang guru ditinjau dari sisi kesehatan secara fisik maupun kesehatan secara psikis. Kesehatan fisik mempengaruhi ‘gerak bebas’ seorang guru agar bisa beraktifitas mengajar tanpa kendala. Kesehatan psikis mempengaruhi kondisi kejiwaan guru ketika melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar. Guru yang memiliki kesehatan fisik dan psikis akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan mampu meningkatkan kemampuan atau profesionalismenya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Sekolah sebagai fasilitator telah menyediakan fasilitas kesehatan dengan cara memberikan cek kesehatan bagi tenaga pendidiknya. Hal ini mampu meningkatkan kesehatan guru secara fisik. Memastikan bahwa semua tenaga pendidik yang berada di dalamnya ada sehat secara fisik dan tidak memiliki cacat tubuh yang bisa menimbulkan rasa iba atau cemoohan dari peserta didik. Dilihat dari sisi pendidikan yang sudah ditempuh oleh guru-guru SD Madina Islamic School, guru-guru SD Madina Islamic School sudah memenuhi standar tenga pendidik yang memenuhi kualifikasi sebagai pendidik dikarenakan semua guru-guru adalah yang mempunyai pendidikan minimal Strata 1 (S1), dan bahkan sebagian guru merupakan lulusan S2 yang masing-masing guru memiliki kualifikasi di bidangnya masing-masing. Hal ini sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru, yang berbunyi, “Guru wajib memiliki Kualifikasi Akademik, kompetensi, Sertifikat Pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Tenaga pendidik SD Madina Islamic School sebagian besar merupakan lulusan S1. Dari lulusan tersebut sebagian besarnya lagi linear antara jurusan pendidikannya dengan mata pelajaran yang diampunya. Dilihat dari sertifikasi baru sebagian kecilnya, sebagian besanya lagi belum tersertifikasi. Sehingga apabila dilihat dari keterangan di atas, sebagian besar tenaga pendidik di SDMadina Islamic School sudah memenuhi kualifikasi sebagai guru apabila dilihat dari lulusan pendidikannya. Jurnal Pena Islam : Vol. 4 No. 2 : Juli – Desember 2024 Copyright: ©2024, Andi Ridwan Akbar, Madnur, Muji Heri Hermawan 32 Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah, Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 4 No. 2 : Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2829-5374, ISSN : 2777-0125 Hal. 28 - 41 Pada dimensi mental, guru-guru SD Madina Islamic School memiliki kepribadian dan jiwa Pancasila yang tinggi, serta memiliki rasa kasih sayang kepada peserta didik dengan memahami karakter setiap muridnya. Berjiwa kreatif, bersifat terbuka, disiplin dan memiliki sense of humor. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Oemar Hamalik bahwa salah satu ciri profesional tentang dimensi mental guru profesional. Guru-guru SD Madina Islamic School memiliki jiwa dan berkepribadian Pancasila yang kuat sehingga mampu menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari bersama murid-muridnya. Hal ini diperkuat dengan adanya respon positif dari orang tua / wali murid yang memandang implementasi nilai-nilai Pancasila dari guru kepada murid mampu dilaksanakan dengan baik oleh guru-guru SD Madina Islamic School. Pentingnya jiwa dan pribadi Pancasila terhadap pendidikan yang dimiliki oleh seorang guru merupakan perwujudan dari kode etik guru Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian, guru-guru SD Madina Islamic School memiliki jiwa dan pribadi Pancasila yang tinggi. Hal itu terwujud dalam implementasinya di dalam proses belajar mengajar, baik ketika sedang di kelas maupun di luar kelas. Hal ini sesuai dengan kode etik guru Indonesia yang pertama, yaitu: “Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila”. Sehingga dalam menjalankan tugasnya guru-guru SD Madina Islamic School mengedepankan asas-asas dan nilai-nilai Pancasila yang pada tahap berikutnya bisa diturunkan kepada peserta didik SD Madina Islamic School. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan di Sekolah Dasar Madina Islamic School, peneliti mendeskripsikan bahwa tingkat pemahaman akan keilmuan dan pengetahuan, penguasaan terhadap ilmu yang akan disampaikan, dan kecintaan terhadap ilmu yang akan disampaikan guru-guru SD Madina Islamic School sudah dalam kadar yang baik. Hal ini terlihat dari respon yang diberikan guru-guru SD Madina Islamic School ketika mendapat pertanyaan tentang seberapa besarkah rasa cinta guru-guru terhadap mata pelajaran yang diajarkan semuanya menjawab dengan yakin dan penuh semangat bahwa guru-guru SD Madina Islamic School mencintai pelajaran yang diajarkan. Peneliti dalam melakukan penelitian terhadap guru-guru SD Madina Islamic School, menemukan bahwa semua guru memiliki rasa kasih sayang kepada peserta didiknya. Namun demikian rasa kasih sayang yang dimiliki oleh seorang guru terhadap muridnya diwujudkan dalam bentuk yang berbeda-beda. Ada yang mendengar setiap keluhan yang dirasakan muridnya, ada yang dengan memberikan reward atau hadiah karena telah berani tampil di depan, atau dengan hal lain yang mendukung proses kegiatan belajar mengajar selama hal itu masih dalam batas wajar, sebagaimana ada batasan antara guru laki-laki dengan guru perempuan maupun sebaliknya, atau antara guru laki-laki dengan murid perempuan maupun sebaliknya. Penelitian yang dilakukan kepada guru-guru SD Madina Islamic School menunjukkan bahwa guru-guru SD Madina Islamic School mencintai mata pelajaran yang diajarkan yang secara tidak langsung menunjukkan kesetiaannya terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Disiplin waktu dan disiplin administrasi juga dipenuhi oleh guru-guru SD Madina Islamic School sebagai bentuk tanggung Jurnal Pena Islam : Vol. 4 No. 2 : Juli – Desember 2024 Copyright: ©2024, Andi Ridwan Akbar, Madnur, Muji Heri Hermawan 33 Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah, Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 4 No. 2 : Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2829-5374, ISSN : 2777-0125 Hal. 28 - 41 jawabnya kepada sekolah dan kepada orang tua. Tanggung jawab kepada sekolah dalam bentuk adminstrasi melengkapi berkas-berkas dan lesson plan yang akan diajarkannya, dan tanggung jawab kepada orang tua dalam bentuk disiplin menyampaikan ilmu yang dimiliki kepada peserta didik. Keberhasilan pencapaian pembelajaran bergantung kepada beberapa aspek. Salah satu aspek yang sangat mempengaruhi adalah bagaimana cara seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran. Kecenderungan pembelajaran pada umumnya adalah berpusat pada guru dengan bercerita atau berceramah. Siswa kurang terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Akibatnya tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran tidak bisa didapat dengan maksimal. Di samping itu, pemanfaatan media jarang digunakan oleh guru. akibatnya bagi guru melakukan pembelajaran tidak lebih hanya sekedar menggugurkan kewajibannya. Asal tugasnya sebagai guru dalam melakukan perintah yang terjadwal sesuai dengan waktu yang telah dilaksanakan tanpa peduli apa yang telah dilaksanakan dan tanpa peduli apa yang telah diajarkan itu bisa diterima dan dicerna oleh peserta didik. 8 Sehingga muncul sebuah anekdot bagi guru yang demikian ini dengan “TIPUS” (tida punya selera), “MUAL” (mutu amat lemah), “KUDIS” (kurang disiplin), “ASMA” (asal masuk kelas), “KUSTA” (kurang strategi), “TBC” (tidak bisa computer), “KERAM” (kurang terampil), “ASAM URAT” (asal sampaikan materi urutan kurang akurat), “LESU” (lemah sumber), “DIARE” (di kelas anakanak remehkan), dan “GINJAL” (gaji minim jarang aktif dan lambat). 9 Namun tidak demikian dengan guru-guru SD Madina Islamic School. Guruguru SD Madina Islamic School memiliki idealitas profesionalisme yang tinggi. Hal ini terlihat dari cara mewujudkan rasa kasih sayang dari guru terhadap muridmuridnya dengan tetap memperhatikan situasi dan kondisi. Misalnya dalam berhumor, para guru memperhatikan batasan-batasan yang ada dan sekaligus membuat humor yang berbobot, jadi tidak hanya yang penting lucu akan tetapi berusaha bagaimana caranya agar humor yang disampaikan tetap mendidik dan berbobot. Guru-guru SD Madina Islamic School juga berusaha untuk membuka pikiran agar masukan-masukan dari lingkungan pendidikan sekitar termasuk orang tua murid bisa dicerna dengan mudah dengan akal yang sehat. Memberi kesempatan kepada guru untuk berkarya merangsang kreatifitas guru sekaligus memberikan stimulus untuk meningkatkan keilmuan atau pengetahuan yang dimiliki oleh seorang guru. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SD Madina Islamic School, guru diberi kesempatan untuk berkarya diantaranya membuat modul sendiri. Dan juga tingkat kreatifitas yang perlu ditingkatkan lagi terutama dalam hal pengunaan alat peraga dan penguasaan kelas ketika pembelajaran dilakukan secara daring. Karena ketika pembelajaran secara daring tidak sama sebagaimana pembelajaran secara langsung atau tatap muka, sehingga guru dituntut untuk lebih kreatif dalam proses belajar mengajar secara daring. Hal ini dimaksudkan agar murid yang sepenuhnya melihat layar monitor (dari HP atau laptop atau komputer) tidak hanya seperti melihat video saja, akan 8 Nurfuadi, Profesionalisme Guru, (Purwokerto: STAIN Press, 2012), hlm: 138 Arbangi, Guru dan Profesionalisme Kajian Sosio-Edukasi Kependidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2020), hlm: 114 9 Jurnal Pena Islam : Vol. 4 No. 2 : Juli – Desember 2024 Copyright: ©2024, Andi Ridwan Akbar, Madnur, Muji Heri Hermawan 34 Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah, Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 4 No. 2 : Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2829-5374, ISSN : 2777-0125 Hal. 28 - 41 tetapi benar-benar bisa merasakan kehadiran gurunya sehingga pembelajaran dan daya tangkap siswa tetap bisa optimal ketika pembelajaran daring. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SD Madina Islamic School, dalam interaksinya terhadap murid guru-guru secara maksimal mampu berinteraksi dengan peserta didiknya ketika belajar tatap muka secara langsung. Guru mampu menggunakan alat peraga yang tersedia di sekolah maupun menggunakan alat bantu ajar dan media yang ada di sekolah. Penggunaan perpustakaan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar sehingga merangsang rasa keingintahuan siswa untuk meningkatkan keilmuan peserta didik dengan memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat menggali sumber-sumber ilmu pengetahuan. Secara umum kondisi profesionalisme guru di SD Madina Islamic School sudah baik. Baik dilihat dari dimensi fisik yang mencakup kesehatan jasmani guru. Dilihat dari dimensi mental yang mencakup jiwa dan pribadi Pancasila yang dimiliki guru SD Madina Islamic School, mencintai bangsa dan sesama manusia serta rasa kasih sayang kepada peserta didik, berbudi pekerti luhur, berjiwa kreatif, bersifat terbuka, peka, dan inovatif, menunjukkan asa cinta kepada profesinya, ketaatannya akan disiplin dan memiliki selera humor ketika proses pembelajaan. Dilihat dari dimensi keilmiahan, guru SD Madina Islamic School dinilai mampu memahami ilmu pendidikan dan keguruan serta mampu menerapkannya dalam tugas sebagai pendidik, memahami, mennguasai dan mencintai ilmu pengetahuan yang diajarkan, dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang bidang-bidang yang lain. Dilihat dari dimensi keterampilan, kondisi profesionalisme guru SD Madina Islamic School mampu berperan sebagai organisator proses belajar mengajar, dan mampu memecahkan dan melaksanakan teknik-teknik mengajar yang baik dalam mencapai tujuan pendidikan. Hambatan dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru SD Madina Islamic School Berdasarkan temuan penelitian, peneliti mendeskripsikan bahwa kondisi kesehatan guru-guru SD Madina Islamic School sudah baik. Hanya dalam menjaga kesehatan perlu diadakannya chek up kesehatan rutin dari pihak sekolah agar mengetahui kondisi kesehatan guru secara real time. Kerjasama antara sekolah dengan guru dalam hal peningkatan kesehatan bisa dilakukan dengan memberikan nutrisi-nutrisi yang bergizi untuk guru yang disediakan oleh sekolah. Dilihat dari sisi mental, dalam penerapan nilai-nilai Pancasila guru-guru SD Madina Islamic School mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di sekolahnya. Pancasila merupakan dasar Negara Republik Indonesia dan menjadi dasar dalam membuat pedoman kode etik guru Indonesia. Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan setia pada UUD NRI tahun 1945 turut bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Sehingga jiwa dan pribadi Pancasila yang dimiliki guru berperan penting dalam membentuk karakter nasionalis peserta didik. Guru-guru SD Madina Islamic School sebagai pendidik memiliki jiwa Pancasila yang kuat. Namun di sisi lain untuk menjaga jiwa Pancasila yang dimilikinya guru-guru SD Madina Islamic School mengalami kendala dikarenakan tidak adanya upacara rutin. Jurnal Pena Islam : Vol. 4 No. 2 : Juli – Desember 2024 Copyright: ©2024, Andi Ridwan Akbar, Madnur, Muji Heri Hermawan 35 Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah, Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 4 No. 2 : Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2829-5374, ISSN : 2777-0125 Hal. 28 - 41 Hal ini diperkuat dengan adanya masukan dari orang tua agar diadakannya upacara bendera rutin setiap 1 pekan atau 2 pekan sekali. Hal ini selain menjaga jiwa Pancasila yang dimiliki guru, juga memunculkan rasa cinta kepada tanah air dari peserta didik. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan bahwa guru mengalami hambatan dalam mengembangkan kreatifitasnya. Salah satu faktornya adalah kurang tersedianya bahan pendukung ajar. Media pendidikan ini merupakan bagian yang integral yang tidak terpisahkan dari proses kegiatan belajar mengajar. Tidaklah mengherankan jika salah satu keberhasilan dalam proses belajar mengajar adalah ketepatan dalam menggunakan media pembelajaran ini. Di samping itu, media ini juga bermanfaat untuk memperjelas materi yang disampaikan guru agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik, tanpa harus menunggu waktu lama karena sudah diperjelas dengan adanya media tersebut. Pengajuan alat yang membutuhkan waktu lama sehingga dalam melaksanakan proses belajar mengajar ketika membutuhkan alat tersebut harus menunggu pengadaan terlebih dahulu. Sehingga secara tidak langsung hal ini menghambat proses kegiatan belajar sekaligus menghambat kreatifitas guru dan murid. Sehingga dalam hal ini guru harus berperan sebagai mediator dan fasilitator dengan baik. Guru - guru SD Madina Islamic School dalam hal mencintai profesinya sebagai guru mengalami hambatan bila bertemu dengan sesama temannya yang berbeda profesi dengan gaji bulanan yang cukup tinggi. Hal itu sedikit banyak mempengaruhi kondisi mental guru tersebut. Namun dalam hal ini guru tersebut mampu mengatasinya dengan cara mensyukuri apa yang ada dan lebih menitikberatkan bahwa profesi guru ini adalah profesi yang mulia yang merupakan panggilan hati. Jadi memiliki profesi sebagai apapun tidak menjadi masalah yang terpenting adalah panggilan dari hati. Pentingnya manajemen waktu bagi guru memegang peranan penting dalam proses kegiatan belajar mengajar. Dengan keterbatasan waktu yang dimiliki seorang guru dituntut harus bisa menyelesaikan target-target yang telah ditentukan dalam rencana pembelajaran. Di sisi lain, guru harus mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya agar ilmu yang dimiliki selalu bertambah seiring dengan perkembangan jaman. Sebagian besar guru-guru SD Madina Islamic School sudah mampu mengatur waktu sehingga target pembelajaran bisa tercapai, sebagiannya lagi masih membutuhkan proses agar bisa mengatur waktu dengan baik. Hal itu dikarenakan selain beraktifitas di sekolah, guru juga beraktifitas di rumah yang membutuhkan sebagian waktunya untuk beraktifitas, sehingga mempengaruhi waktu yang tersedia untuk mencapai target kependidikan yang hendak dicapai. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada guru-guru SD Madina Islamic School, peneliti mendeskripsikan bahwa masih rendahnya minat baca yang dimiliki guru-guru SD Madina Islamic School. Sebagian besar guru memiliki minat baca yang rendah sehingga referensi-referensi yang dibaca pun bukan buku-buku yang seharusnya dijadikan acuan dalam pembelajaran. Sebagian lainnya memiliki minat baca yang tinggi sehingga mampu menambah wawasan sekaligus menamabah referensi dalam ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk mendukung proses belajar mengajarnya di dalam kelas. Meski begitu penguasaan materi pelajaran yang Jurnal Pena Islam : Vol. 4 No. 2 : Juli – Desember 2024 Copyright: ©2024, Andi Ridwan Akbar, Madnur, Muji Heri Hermawan 36 Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah, Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 4 No. 2 : Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2829-5374, ISSN : 2777-0125 Hal. 28 - 41 dimililiki guru SD Madina Islamic School juga sudah baik. Hanya saja masih perlu ditingkatkan lagi untuk pengembangan referensi agar selain menjaga ilmu yang sudah didapat selama masa pendidikannya sebagai seorang guru, juga menambah wawasan keilmuan baru yang bisa mengikuti perkembangan jaman. Peneliti menemukan bahwa minat guru-guru dalam literasi masih kurang dan perlu ditingkatkan. Terlihat dari hasil wawancara bahwa minat untuk membaca bukubuku ilimah sangatlah kurang. Sehingga perlu diadakan atau diberikan solusi tambahan berupa seminar-seminar keilmiahan yang mendukung proses kegiatan belajar mengajar. Dilihat dari dimensi keterampilan sebagian besar guru SD Madina Islamic School sudah mampu memanage proses kegiatan belajar di kelas dengan baik. Namun ketika proses kegiatan belajar berlangsung secara daring atau online, guruguru mengalami kesulitan dalam memanage proses kegiatan belajar mengajar. Hal itu dikarenakan perbedaan pola ajar dari tatap muka menjadi daring maka proses kegiatan belajar mengajar pun membutuhkan kreatifitas dari guru agar pembelajaran tetap bisa berlangsung menyenangkan bagi murid-murid. Hal ini menuntut guru agar memiliki kreatifitas yang tinggi dalam mengajar, meliputi penguasaan materi pelajaran, penguasaan lapangan dalam arti mampu menguasai dan memimpin jalannya proses pembelajaran, dan penguasaan dalam menggunakan alat dan media yang ada. Orang tua wali murid meniliai bahwa guru-guru SD Madina Islamic School dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring atau online kurang bisa menguasai kelas. Terutama bila ada muridnya yang membuat gaduh suasana belajar guru belum bisa optimal mengatur jalannya proses belajar. Hal ini bisa terjadi karena kurang penguasaannya guru dalam menguasai perangkat pembelajaran. Dilihat dari sisi kedisiplinan waktu sebagian besar guru-guru SD Madina Islamic School mampu menyesuaikan keadaan yang ada pada dirinya dengan situai dan kondisi yang ada di sekolah. Namun masih ada guru-guru yang kurang disiplin dalam menjalankan tugasnya sebagia seorang guru. Masih ada yang terlambat datang ke sekolah dan terkadang lupa tidak mengkonfirmasi bahwa dirinya hadir di sekolah padahal sudah hadir. Hal ini tentu harus membuat kepala sekolah turun tangan untuk mengkonfirmasi sekaligus menanyakan alasan keterlambatan guru tersebut hadir di sekolah. Sehingga diperlukan kesadaran agar guru selalu disiplin waktu dalam kehadirannya di sekolah, disiplin waktu dalam proses mengajarnya di kelas, disiplin waktu dalam menyelesaikan target-target pembelajaran, disiplin waktu dalam menyelesaikan aktifitasnya di sekolah, dan disipilin waktu dalam menyelesaikan adminsitrasi sekolah baik yang berupa weekly planning maupun yang lainnya. Sehingga dalam proses belajar mengajar tidak terhambat dengan tidak adanya rencana pembelajaran dan juga mempermudah melihat sudah sampai mana pembelajaran yang sudah dicapai guru dalam prose belajar mengajarnya di dalam kelas. Dari situ nantinya bisa dievaluasi apakah guru sudah memenuhi target pembelajarannya ataukah belum. Peneliti mendeskripsikan bahwa peran orang tua terhadap pendidikan anaknya masih kurang dan perlu mendapat perhatian yang utama. Sebab bagaimanapun juga orang tua tidak bisa melepaskan begitu saja pendidikan Jurnal Pena Islam : Vol. 4 No. 2 : Juli – Desember 2024 Copyright: ©2024, Andi Ridwan Akbar, Madnur, Muji Heri Hermawan 37 Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah, Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 4 No. 2 : Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2829-5374, ISSN : 2777-0125 Hal. 28 - 41 anaknya kepada guru yang ada di sekolah. Apabila guru sebagia partner dalam pendidikan sudah menjalankan tugasnya dengan baik, namun ketika di rumah support atau dukungan dari orang tua kurang maka hasil dari proses pembelajaran tadi tidak bisa optimal. Begitu pula sebaliknya apabila orang tua di rumah menjalankan tugasnya sebagai pendidik utama sudah dilaksanakan dengan baik, akan tetapi guru di sekolah kurang maksimal dalam menjalankan tugasnya sebagai partner, hasil yang dihasilkan dari proses pembelajaran juga tidak bisa maksimal. Maka diperlukan kesadaran dari semua pihak agar proses pendidikan ini tetap berjalan dengan baik dan mampu menghasilkan output yang optimal diperlukan kerjasama yang baik antara orang tua, guru, dan sekolah. Di samping itu, guru juga harus mampu melihat kemampuan setiap siswanya. Karena masing-masing murid memiliki karakteristik yang berbeda, memiliki kemampuan yang berbeda-beda, memiliki bakat yang berbeda-beda. Sehingga guru harus mampu menangkap kelebihan setiap muridnya. Selain itu guru harus mampu mengembangkan bakat setiap muridnya dengan tetap memberikan motivasi belajar dan mendorong muridnya untuk fokus terhadap apa yang menjadi kelebihannya sekaligus menutup kekurangan-kekurangan yang dimiliki muridnya. Secara umum, hambatan-hambatan yang dijumpai guru-guru SD Madina Islamic School dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik, apabila dilihat dari sisi fisik tidak terlalu menjadi hambatan karena sebagian besar guru dalam kondisi kesehatan yang baik. Dilihat dari sisi mental guru sudah memiliki pribadi dan jiwa Pancasila yang kuat, hanya saja perlu diadakan upacara rutin agar memupuk kembali jiwa Pancasila-nya sehingga bisa menurun ke anak didiknya, kurangnya kreatifitas dalam mengajar secara daring. Solusi dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru SD Madina Islamic School Peneliti mendeskripsikan bahwa kesehatan guru-guru SD Madina Islamic School sudah sangat baik. Pihak sekolah sudah mampu memberikan fasilitas kesehatan berupa check up kesehatan ketika pertama kali mendaftar menjadi tenaga pendidik, dan dengan memberikan vitamin-vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh guru agar tetap mampu menjalankan tugasnya sebagai seorang guru dengan baik. Dilihat dari dimensi mental, dari sisi jiwa dan pribadi Pancasila yang dimiliki guru SD Madina Islamic School, guru-guru menilai bahwa dengan diadakannya upacara bendera secara rutin mampu meningkatkan pribadi dan jiwa Pancasila yang dimiliki guru, terlebih lagi rasa cinta dengan tanah air ini akan menular kepada peserta didiknya. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Oemar Hamalik bahwa salah satu karakteristik guru profesional dilihat dari sisi mental adalah berkepribadian dan berjiwa Pancasila.10 Selain dengan mengadakan upacara, penanaman nilai-nilai Pancasila yang dilaksanakan guru-guru SD Madina Islamic School juga dinilai baik oleh orang tua murid. Hal itu terlihat dari adanya respon positif terhadap implementasi nilai-nilai Pancasila di sekolah. Tentunya hal ini karena guru-guru SD Madina Islamic School 10 Ibid, hlm. 44 Jurnal Pena Islam : Vol. 4 No. 2 : Juli – Desember 2024 Copyright: ©2024, Andi Ridwan Akbar, Madnur, Muji Heri Hermawan 38 Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah, Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 4 No. 2 : Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2829-5374, ISSN : 2777-0125 Hal. 28 - 41 mempunyai jiwa dan pribadi Pancasila yang kuat. Sehingga orang tua menilai jiwa dan kepribadian Pancasila yang dimiliki oleh guru-guru SD Madina Islamic School sangat baik. Beberapa cara untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam bidang keilmuan diataranya adalah melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, aktif mengikuti KKG (Kelompok Keja Guru) dan Komunitas guru, mengikuti pelatihan yang mendukung kualitas pembelajaran, banyak membaca, dan membuat karya tulis. Peneliti melihat bahwa guru-guru SD Madina Islamic School mampu melihat peluang ini sehingga kemauan untuk belajar tumbuh secara baik di lingkungan guru-guru. Dengan diadakannya seminar-seminar kependidikan, ikut pro aktif dalam mengikuti kegiatan kependidikan, dan mengirim delegasi atau utusan untuk mengikuti seminar apabila kondisi tidak memungkinkan untuk ikut semua guru. Guru yang ikut kegiatan seminar bisa memberikan ilmu yang didapat kepada guru yang tidak ikut seminar, sehingga guru yang tidak ikut seminar bisa mendapatkan ilmu dari guru yang ikut seminar. Kerjasama tim antar guru juga menjadi solusi dalam meningkatkan profesionalisme guru dari sisi keterampilan. Pentingnya kerjasama kelompok dalam membangun keilmuan mampu dilaksanakan oleh guru-guru SD Madina Islamic School, sehingga hal-hal yang belum ada pada dirinya mampu didapat dari learning community tadi sebagai wadah mempersatukan tujuan pendidikan sekaligus sebagai upaya upgrading guru-guru SD Madina Islamic School dalam upaya peningkatan kemampuan keterampilan guru. Peneliti mendeskripsikan guru-guru di SD Madina Islamic School mampu memberikan solusi yang tepat ketika murid sudah mulai pada titik jenuh, yaitu memberikan humor yang bisa menggugah semangat belajar kembali murid-murid. Dan tentu saja humor yang diberikan masih dalam batas yang wajar dan tidak berlebihan. Terlebih lagi diungkapkan oleh seorang guru bahwa salah satu guru bahwa guru tidak harus selalu humor dalam setiap pembelajarannya kepada murid. Adakalanya guru harus bersikap serius, adakalanya juga bersikap humoris. Hal yang harus diperhatikan guru ketika bersikap humor adalah harus memperhatikan batasan-batasan yang ada. Guru-guru SD Madina Islamic School mampu berhumor dengan sangat bagus dengan cara memperhatikan materi humornya agar humornya ini hampa tanpa bobot sama sekali. Bahkan humor yang disampaikan tetap pada batasan ilmu sehingga guru-guru SD Madina Islamic School mampu berhumor dengan materi yang berbobot. Secara umum solusi yang bisa meningkatkan profesionalisme guru SD Madina Islamic School apabila dilihat dari sisi fisik adalah dengan meningkatkan kesejahteraan bagi guru-gurunya melalui pengadaan nutrisi-nutrisi yang disediakan oleh sekolah untuk guru-gurunya. Solusi dalam ruang lingkup dimensi keterampilan diantaranya adalah dengan mengadakan pelatihan-pelatihan khusus misalnya pelatihan penggunaan media ajar seperti penggunaan laptop dan komputer, belajar teknik-teknik mengajar yang baik dalam mencapai tujuan pendidikan, dan pelatihan perencanaan kegiatan pendidikan sekolah. Jurnal Pena Islam : Vol. 4 No. 2 : Juli – Desember 2024 Copyright: ©2024, Andi Ridwan Akbar, Madnur, Muji Heri Hermawan 39 Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah, Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 4 No. 2 : Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2829-5374, ISSN : 2777-0125 Hal. 28 - 41 KESIMPULAN Profesionalisme guru di SD Madina Islamic School sudah berjalan dengan baik dilihat dari dimensi fisik dengan kesehatan guru yang optimal, dimensi mental dengan kuatnya jiwa sosial dan displinnya guru, dan dimensi keterampilan, akan tetapi dari sisi keilmiahan atau pengetahuan masih harus ditingkatkan lagi. Dari hasil penelitian ini diketahui, dalam upaya meningkatkan profesionalisme guru di SD Madina Islamic School terdapat hambatan diantaranya: tidak diadakannya jadwal check up kesehatan secara rutin bagi guru-gurunya, tidak adanya upacara bendera setiap hari Senin, ketersediaan waktu yang sangat terbatas dengan target-target yang harus dipenuhi, dan birokrasi komunikasi antara guru, wali kelas, dan manajemen dengan orang tua murid, serta kurangnya penguasaan mengajar guru ketika mengajar secara daring. Upaya mengantisipasi kendala tersebut adalah sekolah mengadakan fasilitas check up kesehatan bagi gurunya, mendukung kebutuhan perangkat ajar yang dibutuhkan guru, mengadakan upacara bendera setiap hari Senin, dan dengan memfasiilitasi guru untuk upgrading kemampuan yang dimiliki dalam mendukung proses belajar mengajar. DAFTAR PUSTAKA Buku-buku A.M Sardiman. 2018. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Depok: Rajawali Pers. Akadji, Adam M. 2018. “Upaya Meningkatkan Profesionalisme Guru”. Skripsi. Depok: STAI Al Qudwah Depok. Aqib, Zainal. 2020. “Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran”. Bandung: Yrama Widya. Arbangi. 2020. Guru dan Profesionalisme Kajian Sosio-Edukasi Kependidikan Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya. Ayu Puspita Sari. 2012. Profesionalisme Guru Ditinjau dari Kompetensi Pedagogik dan Kompetensi Kepribadian di SMA Negeri 1 Sragen. Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Bachtiar, Meyakinkan Validitas Data…, JurnalTeknologiPendidikan,Vol.10No. 1,April2010 Djollong Andi Fitriani. 2017. Kedudukan Guru sebagai Tenaga Pendidik. Istiqra’. 4 (2). 126-127 Husein, Latifah. 2017. Profesi Keguruan Menjadi Guru Profesional, Yogyakarta: PT. Pustaka Baru Press. Iskandar Agung. 2014. Mengembangkan Profesionalitas Guru (Upaya Meningkatkan Kompetensi dan Profesionalisme Kinerja Guru), Jakarta: Bee Media Pustaka. Iwan Wijaya. 2018. Professional Teacher; Menjadi Guru Profesional, Sukabumi: CV Jejak. Jaja Jahidi. 2014. Kualifikasi dan Kompetensi Guru: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pascasarjana Administrasi Pendidikan. 2 (1). 2014. Kusumawardani Erma dan Sujarwo. 2020. Analisis Kebutuhan Masyarakat. Depok: PT Rajagrafindo Persada. Jurnal Pena Islam : Vol. 4 No. 2 : Juli – Desember 2024 Copyright: ©2024, Andi Ridwan Akbar, Madnur, Muji Heri Hermawan 40 Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah, Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 4 No. 2 : Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2829-5374, ISSN : 2777-0125 Hal. 28 - 41 La Sulo S.L. & Tirtarahardja Umar. 2018. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Mujahid. 2011. Pengembangan Profesi Guru. Malang: UIN Maliki Press. Mulyani, Sri. 2017. Metode Analisis dan Perancangan Sistem. Bandung: Abdi Sistematika. Muri Endrawati Handayani. 2009. Analisis Kompetensi Profesional Guru Matematika dalam Interaksi Belajar Mengajar Di Sma Negeri I Sukoharjo Tahun Pelajaran 2008 / 2009. Skripsi. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Namsa, M Yunus. 2006. “Kiprah Baru Profesi Guru Indonesia Wawasan Metodologi Pengajaran Agama Islam”. Jakarta: Pustaka Mapan. Nurfuadi. 2012. Profesionalisme Guru, Purwokerto: STAIN Press. Octavia, Shilphy Afiattresna. 2019. Sikap dan Kinerja Guru Profesional, Yogyakarta: Deepublish. Pramitha, Ricky dkk. 2013. Sisi-sisi Lain Kebijakan Profesionalisme Guru. Malang: Universitas Brawijaya Press Sarosa, Samiaji. 2021. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: PT Kanisius. Suprianto, Sapto Edy. 2015. Analisis Pengembangan Profesionalisme Guru Berkelanjutan di SMK Negeri 2 Sragen. Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Warsono. 2017. Guru Antara Pendidik, Profesi, dan Aktor Sosial, The Journal of Sosiety & Media. Vol. 1.(1) Wiyani, Novan Ardy. 2021. Dasar-dasar dan Teori Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit Gava Media. Yamin, Marintis. 2013. Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia. Ciputat: Referensi GP Press Group. Zahroh, Aminatul. 2018. Membangun Kualitas Pembelajaran Melalui Dimensi Profesionalisme Guru. Bandung: Yrama Widya. Sumber Internet https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Profesionalisme, 19 Februari 2022. https://sekolah.data.kemdikbud.go.id/index.php/chome/profil/e0a9a995-2bf5e011-a63a-c17b5e86bc0c, 12 Februari 2022. Konsultan Analis Data. Gama Statistika, Jasa Olah Data berupa Interpretasi. diakses dari https://gamastatistika.com/2020/03/09/gama-statistika-jasaolah-data-berupa-interpretasi/, pada tanggal 16 Maret 2022. M Prawiro. Pengertian Wawancara Secara Umum, Tujuan, Jenis, dan Ciri-ciri Pewawancara. diakses dari https://www.maxmanroe.com/vid/ karir/pengertian-wawancara.html, pada tanggal 16 Maret 2022. Nita Oktifa. 6 Cara Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru. diakses dari https://akupintar.id/info-pintar/-/blogs/6-cara-meningkatkan-kompetensiprofesional-guru. pada 12 Juli 2022 Parta Ibeng. Pengertian Data, Fungsi Data, dan Macam Jenisnya. diakses dari https://pendidikan.co.id/pengertian-data/. 16 Maret 2022. Jurnal Pena Islam : Vol. 4 No. 2 : Juli – Desember 2024 Copyright: ©2024, Andi Ridwan Akbar, Madnur, Muji Heri Hermawan 41