Vol. 26 No. FORUM EKONOMI Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi P-ISSN 1411-1713 iC E-ISSN 2528-150X Studi Pemetaan Sosial di Wilayah Kerja Social Mapping Study in Work Area Sonny Sudiar1A. Jauchar2. Silviana Purwanti3. Abdul Gafur4. Fachrizal Anwar5. Nizam Ihsan Fadil6 1Universitas Mulawarman. Samarinda. Indonesia. 2Universitas Mulawarman. Samarinda. Indonesia. 3Universitas Mulawarman. Samarinda. Indonesia. 4Universitas Mulawarman. Samarinda. Indonesia. 5Universitas Mulawarman. Samarinda. Indonesia. 6Universitas Mulawarman. Samarinda. Indonesia. Corresponding author: sonny. sudiar@unmul. Abstrak Artikel ini disintesis untuk memberikan gambaran tentang keberadaan dan kondisi sosial masyarakat di lokasi sasaran yang menjadi objek penelitian. Secara substansial, artikel ini merupakan hasil analisis data yang diperoleh di Pemetaan sosial dimaksudkan untuk memberikan gambaran kondisi sosial di beberapa desa sasaran dan dilakukan secara sistematis. Penelitian ini merupakan pendekatan kualitatif penelitian lapangan yang diterapkan. Data diperoleh melalui observasi partisipan dan wawancara mendalam dengan beberapa informan. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif, dengan penekanan pada proses segmentasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jejaring sosial di desa-desa yang menjadi subjek penelitian sebagai salah satu kawasan buffer zone PT Kruing Lestari Jaya penting untuk dipetakan guna memperoleh gambaran yang komprehensif tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat dan budaya masyarakat setempat. Ada banyak aktor dalam proses interaksi sosial di wilayah ini, baik secara individu maupun dalam kelompok dan institusi. Dalam interaksi mereka, aktor-aktor ini saling terkait, dan masing-masing memiliki karakteristik dan latar belakang sosial yang berbeda. Article history Received 2024-01-05 Accepted 2024-01-15 Published 2024-01-30 Kata kunci Pemetaan Sosial. Kondisi Sosial. Kebutuhan Sosial. Masalah Sosial. Keywords Social Mapping. Social Condition. Social Needs. Social Problems. Abstract This article is synthesized to provide an overview of the existence and social conditions of the community in the target location that is the object of study. Substantially, this article is the result of an analysis of data obtained in the field. Social mapping is intended to provide a description of social conditions in several target villages and is carried out This study is a field research qualitative approach was applied. Data was obtained through participant observation and an in-depth interview with several The data was analyzed using the descriptive method, with an emphasis on the data segmentation process. The result shows that social networks in villages that are the subject of research as one of PT Kruing Lestari Jaya's buffer zone areas are important to be mapped in order to obtain a comprehensive picture of the socio-economic conditions of the community and the culture of the local community. There are many actors in the process of social interaction in this region, both individually and in groups and In their interactions, these actors are interrelated, and each has different characteristics and social backgrounds. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. Copyright A 2024 Sonny Sudiar. Jauchar. Silviana Purwanti. Abdul Gafur. Fahrizal Anwar. Nizam Ihsan Fadil. FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi | 16 Sonny Sudiar. Jauchar. Silviana Purwanti. Abdul Gafur. Fahrizal Anwar. Nizam Ihsan Fadil Pendahuluan Social mapping adalah proses penggambaran masyarakat yang sistematis serta melibatkan pengumpulan data dan informasi mengenai masyarakat termasuk di dalamnya adalah profile dan masalah sosial yang terdapat pada masyarakat tersebut. Social mapping dilakukan untuk memahami karakteristik masyarakat yang akan dibina, selain itu juga untuk mengetahui potensi dan masalah masyarakat sasaran sekaligus yang berkaitan dengan kebutuhan mereka (Nuryati, 2. Perusahaan memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat di sekitar operasi perusahaan. Tanggung jawab ini dalam perundang-undangan dikenal sebagai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau yang saat ini lebih dikenal sebagai Corporate Social Responsibility (CSR). Menurut UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas disebutkan bahwa Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. Senada dengan hal tersebut. UU No. Tahun 2007 tentang Penanaman Modal menyebutkan bahwa setiap penanam modal mempunyai kewajiban untuk melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. Bahkan mekanisme CSR ini juga diatur lebih lanjut dalam PP No. 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. Pada PP ini disebutkan bahwa Tanggung jawab sosial dan lingkungan dilaksanakan oleh Direksi berdasarkan rencana kerja tahunan Perseroan setelah mendapat persetujuan Dewan Komisaris atau RUPS sesuai dengan anggaran dasar Perseroan, kecuali ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. Kewajiban perusahaan terhadap lingkungan ini yang biasanya diwujudkan dengan nama program CSR harus dilakukan secara efektif dan efisien serta tepat sasaran. Salah satu upaya untuk mencapainya adalah diawali dengan Social mapping. PT. Kruing Jaya Lestari yang berlokasi di Kabupaten Kutai Barat berada dekat dengan kawasan pemukiman penduduk. Terdapat beberapa kampung yang berada di wilayah beroperasinya PT. Kruing Jaya Lestari dalam menjalankan aktivitasnya, dengan demikian banyak bersinggungan dengan beragam stakeholder, baik masyarakat maupun pemerintah setempat, serta LSM di wilayah Pemetaan sosial adalah kajian tentang kondisi masyarakat yang dikelompokkan berdasarkan kondisi masyarakat melalui beberapa indikator dan karakteristik sosial dan ekonomi. Laporan pemetaan sosial ini diintesikan untuk memberikan gambaran tentang keberadaan dan kondisi sosial masyarakat di lokasi sasaran yang menjadi objek studi (Handoyo, 2. Secara substansial laporan ini merupakan hasil analisis data yang diperoleh di lapangan. Pelakasanaan pemetaan sosial . ocial mappin. dimaksudkan untuk memberikan deskripsi tentang kondisi sosial kemasyarakatan di beberapa kampung sasaran, dilakukan secara sistematis dengan simultan memasukkan profil dan masalah sosial pada masyarakat kampung-kampung tersebut. Pemetaan sosial ternyata juga perlu dilakukan dalam rangka menjalankan agenda pembangunan nasional, karena pembangunan memang sebuah keniscayaan yang harus dilakukan untuk alasan kemajuan dan perubahan untuk menjadi lebih baik. Dengan demikian pembangunan menjadi sebuah proses yang senantiasa harus dilakukan oleh setiap pemerintahan dari sebuah negara sebagai upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya (Sudiar, 2. Adapun tujuan dari kegiatan pemetaan sosial . ocial mappin. ini adalah untuk menghasilkan sejumlah data dan informasi tentang karakteristik masyarakat, potensi masyarakat, permasalahan sosial, potensi kewilayahan, kebutuhan masyarakat di kampung-kampung sasaran. Seluruh data dan informasi tersebut dikelompokkan dan selanjutnya dianalisis secara komprehensif, kemudian hasil analisisnya dapat digunakan untuk memahami karakteristik masyarakat sasaran. Wilayah kegiatan pelaksanaan pemetaan sosial dilaksanakan di lima lokasi, yaitu Kampung Besiq. Kampung Bermai. Kampung Muara Niliq. Kampung Mantar yang berada di wilayah Kecamatan Damai dan Kampung Muara Begai. Kecamatan Muara Lawa. Semua data dan informasi yang berhasil dihimpun melalui observasi lapangan, indepth interview dan diskusi kelompok terarah kemudian dikelompokkan, dikompilasi dan dianalisis dalam rangka memahami kondisi faktual di seluruh kampung yang menjadi sasaran dalam kegiatan pemetaan sosial ini. Pemetaan sosial ini dilaksanakan selama kurang lebih 45 hari kerja, dimulai dari tanggal 26 November 2019 sampai dengan 31 Desember Studi Pemetaan Sosial di Wilayah Kerja | 17 Sonny Sudiar. Jauchar. Silviana Purwanti. Abdul Gafur. Fahrizal Anwar. Nizam Ihsan Fadil Metode Data potensi sosial dan sumber daya desa . , mencakup: data demografi: jumlah penduduk, komposisi penduduk menurut usia, mata pencaharian, agama, pendidikan, pola penguasaan lahan. Data geografi: letak lokasi ditinjau dari aspek geografis, aksesibilitas lokasi, pengaruh lingkungan geografis terhadap kondisi sosial masyarakat. Data sarana dan prasarana meliputi sarana transportasi, listrik, pendidikan, kesehatan, dan perdagangan. Data psikografi, meliputi nilai-nilai dan kepercayaan yang dianut, persepsi masyarakat, mitos, kebiasaan-kebiasaan, adat-istiadat, karakteristik masyarakat, pola hubungan dan jaringan sosial yang ada, motif yang menggerakkan tindakan masyarakat, pengalaman masyarakat, pandangan dan sikap perilaku terhadap intervensi dari luar, dan kekuatan sosial yang paling berpengaruh. Penelitian ini adalah penelitian untuk mengungkap karakteristik masyarakat yang didominasi oleh data non-fisik . ata yang tidak tampa. Dengan demikian jenis dan pendekatan penelitian adalah penelitian kualitatif, dengan metode etnografi melalui konsep perspektif emik. Subyek penelitian yang diamati oleh peneliti adalah masyarakat yang berada di Kampung Besiq. Kampung Bermai. Kampung Muara Niliq. Kampung Mantar dan Kampung Muara Begai. Proses pengamatan dilakukan dengan penafsiran masyarakat . tentang karakteristik mereka dari berbagai aspek sosial kemasyarakatan. Meskipun demikian, data-data yang tampak . ense of dat. tetap diperlukan, namun diperoleh dari data semi primer dari dokumen Kantor Kampung Besiq. Kampung Bermai. Kampung Muara Niliq. Kampung Mantar dan Kampung Muara Begai. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengamatan yang digunakan adalah teknik pengamatan Spradley . , yang terdiri dari. pengamatan umum, pengamatan terfokus, dan pengamatan Peneliti melakukan wawancara tidak terstruktur yang sangat tergantung dari arah pembicaraan informan kunci. Pedoman wawancara adalah Auperspektif emikAy, yaitu salah satu pedoman wawancara yang menekankan pandangan . atau persepsi dari informan kunci. Teknik dokumentasi digunakan untuk mendukung data yang ditemukan dalam proses pengamatan dan wawancara. Meski dokumen hanya merupakan data yang tampak . ense of dat. , namun berguna sebagai salah satu pengantar peneliti memahami, mendalami dan mengungkapkan sesuatu yang tidak tampak. Data yang dikumpulkan, berasal dari beberapa informan kunci sebagai sampel penelitian, yang ditetapkan secara purposive berdasarkan tujuan atau obyek penelitian. Analisis data terdiri dari komponen reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Empat komponen tersebut saling berinteraksi dan merupakan kegiatan siklus. Hasil dan Pembahasan Profil Kampung Sasaran: Kampung Besiq. Bermai. Muara Niliq. Mantai, dan Muara Begai Kampung Besiq merupakan salah kampung yang berada di wilayah kecamatan Damai, dengan titik ordinat 115o 36Ao 29. 43Ay - 115o 21Ao 22. 33Ay BT dan 0o 41Ao 31. 39Ay - 0o 30Ao 56. 12Ay LS, luas wilayahnya adalah 565,11 km2 atau sama dengan 32,28% dari keseluruhan total wilayah kecamatan Damai. Jarak Kampung Bermai menuju ibukota kecamatan adalah 41 km, sementara jarak menuju ibukota kabupaten adalah 91 km. Akses menuju Kampung Besiq ditempuh menggunakan transportasi darat melalui jalan hauling milik perusahaan tambang batu bara, sebagian besar kondisi jalan rusak dan saat ini sedang dalam tahap perbaikan/pengecoran jalan. Kampung Besiq terletak di luar kawasan hutan dan secara geografis terletak di lembah/daerah aliran sungai. Kampung Besiq mempunyai ketinggian sekitar 52 m DPL . i atas permukaan air lau. , sumber air minum berasal dari sungai. Jumlah penduduk Kampung Besiq adalah 1624 jiwa dengan komposisi penduduk laki-laki 859 jiwa dan penduduk perempuan 765 jiwa, sehingga seks rasio Kampung Besiq adalah 112,29. Adapun tingkat kepadatan penduduk 0,347974. Sementara jumlah Rumah Tangga atau Kepala Keluarga adalah 410 dengan jumlah penduduk per rumah tangga sekitar 3,96098. Jumlah Rukun Tetangga di Kampung Besiq adalah 7 dan jumlah rumah penduduk di bantaran sungai adalah 487 buah. Terdapat beberapa sub-etnik yang hidup secara berdampingan dalam kerangka sosial kemasyarakatan, diantaranya: Dayak Benuaq . ebagai sub-etnik mayorita. Bugis. Jawa. Batak dan etnis Tionghoa. Sampai saat ini Kampung Besiq belum tersambung instalasi aliran listrik PLN. Studi Pemetaan Sosial di Wilayah Kerja | 18 Sonny Sudiar. Jauchar. Silviana Purwanti. Abdul Gafur. Fahrizal Anwar. Nizam Ihsan Fadil sehingga mayoritas rumah tangga memanfaatkan aliran listrik non- PLN yang dikelola oleh Kampung atau mempersiapkan genset pribadi di masing-masing rumah tangga. Di Kampung Besiq saat ini terdapat 2 SD Negeri dan 3 SD Swasta, serta terdapat 1 SMP Negeri, namun tidak terdapat SMA/SMK atau yang sederajat, terdapat fasilitas kesehatan berbentuk Puskesmas, pos yandu balita dan pos yandu lansia yang menyediakan layanan kesehatan bagi masyarakat Kampung Besiq. Sarana ibadah di Kampung Besiq terdapat 4 buah gereja dan 1 buah langgar. Di sekitar Kampung Besiq juga terdapat sebuah warung makan dan 11 warung kelontong. Fasilitas umum lain yang juga tersedia di Kampung Besiq sarana olahraga seperti: lapangan sepakbola, lapangan voli, dan lapangan bulutangkis. Sebagian besar penduduk Kampung Besiq berprofesi sebagai petani ladang sawah, petani karet dan walet. Kampung Bermai merupakan salah kampung yang berada di wilayah kecamatan Damai, dengan titik ordinat 115A 39A 56. 8" - 115A 31A 22" BT dan 0A 54A 54. 13" - 0A 32A 53. 44" LS, luas wilayahnya adalah 39,56 km2 atau sama dengan 2,26% dari keseluruhan total wilayah kecamatan Damai. Jarak Kampung Bermai menuju ibukota kecamatan adalah 40 km, sementara jarak menuju ibukota kabupaten adalah 80 km. Akses menuju Kampung Bermai ditempuh menggunakan transportasi darat melalui jalan hauling milik perusahaan tambang batu bara, sebagian besar kondisi jalan rusak dan saat ini sedang dalam tahap perbaikan/pengecoran jalan. Kampung Bermai terletak di luar kawasan hutan dan secara geografis terletak di lembah atau daerah aliran sungai. Kampung Bermai mempunyai ketinggian sekitar 52 m DPL . i atas permukaan air lau. , sumber air minum berasal dari sungai. Jumlah penduduk Kampung Bermai adalah 466 jiwa dengan komposisi penduduk lakilaki 234 jiwa dan penduduk perempuan 232 jiwa3, sehingga seks rasio Kampung Bermai adalah 100,67. Adapun tingkat kepadatan penduduk 0,132308. Sementara jumlah Rumah Tangga atau Kepala Keluarga adalah 125 dengan jumlah penduduk per rumah tangga sekitar 3,08247, dengan jumlah rumah sebanyak 89 buah. Jumlah Rukun Tetangga di Kampung Bermai adalah 2. Terdapat beberapa sub-etnik yang hidup secara berdampingan dalam kerangka sosial kemasyarakatan, diantaranya: Dayak Benuaq . ebagai sub-etnik mayorita. Dayak Tunjung. Bugis. Jawa. Sampai saat ini Kampung Bermai belum tersambung instalasi aliran listrik PLN, sehingga mayoritas rumah tangga memanfaatkan aliran listrik non-PLN yang dikelola oleh Pengurus Kampung atau dengan menggunakan genset pribadi di masing-masing rumah tangga. Di Kampung Bermai saat ini terdapat 1 SD Negeri, namun tidak terdapat SMP. SMA/SMK atau yang sederajat. Untuk fasilitas kesehatan berbentuk Puskesmas, pos yandu balita dan pos yandu lansia yang menyediakan layanan kesehatan bagi masyarakat Kampung Bermai. Sarana ibadah di Kampung Bermai terdapat 4 buah gereja dan 1 buah langgar. Di sekitar Kampung Bermai juga terdapat sebuah warung kelontong. Fasilitas umum lain yang juga tersedia di Kampung Bermai sarana olahraga seperti: lapangan sepakbola, lapangan voli, dan lapangan bulutangkis dengan kondisi cukup baik. Namun Kampung Bermai belum memiliki tempat pembuangan sampah. Sebagian besar penduduk Kampung Bermai berprofesi sebagai petani ladang sawah, petani karet dan walet. Kampung Muara Niliq merupakan salah kampung yang berada di wilayah kecamatan Damai, dengan titik ordinat n115A 36A 29. 43" - 115A 21A 22. 33" BT dan 0A 41A 31. 39" - 0A 30A 56. 12" LS, luas wilayahnya adalah 84,77 km2 atau sama dengan 4,84% dari keseluruhan total wilayah kecamatan Damai. Jarak Kampung Muara Niliq menuju ibukota kecamatan adalah 30 km, sementara jarak menuju ibukota kabupaten adalah 80 km. Akses menuju Kampung Muara Niliq ditempuh menggunakan transportasi darat melalui jalan hauling milik perusahaan tambang batu bara, sebagian besar kondisi jalan rusak dan saat ini sedang dalam tahap perbaikan/pengecoran jalan. Kampung Muara Niliq terletak di luar kawasan hutan dan secara geografis terletak di lembah atau daerah aliran sungai. Kampung Muara Niliq mempunyai ketinggian sekitar 52 m dpl . i atas permukaan air lau. , sumber air minum berasal dari sungai. Jumlah penduduk Kampung Muara Niliq adalah 554 jiwa dengan komposisi penduduk laki-laki 301 jiwa dan penduduk perempuan 253 jiwa, sehingga seks rasio Kampung Muara Niliq adalah 118,95. Adapun tingkat kepadatan penduduk 0,156114. Sementara jumlah Rumah Tangga atau Kepala Keluarga adalah 160 dengan jumlah penduduk per rumah tangga sekitar 3,41509. Jumlah Rukun Tetangga di Kampung Muara Niliq adalah 4. Terdapat beberapa sub-etnik yang hidup secara berdampingan dalam kerangka sosial kemasyarakatan, diantaranya: Dayak Benuaq . ebagai sub-etnik mayorita. Dayak Tunjung. Studi Pemetaan Sosial di Wilayah Kerja | 19 Sonny Sudiar. Jauchar. Silviana Purwanti. Abdul Gafur. Fahrizal Anwar. Nizam Ihsan Fadil Bugis. Jawa. Manado. Sampai saat ini Kampung Muara Niliq belum tersambung instalasi aliran listrik PLN, sehingga mayoritas rumah tangga memanfaatkan aliran listrik non-PLN yang dikelola oleh Pengurus Kampung atau dengan menggunakan genset pribadi di masing-masing rumah Di Kampung Muara Niliq saat ini terdapat 1 SD Negeri, namun tidak terdapat SMP. SMA/SMK atau yang sederajat. Untuk fasilitas kesehatan berbentuk Puskesmas, pos yandu balita dan pos yandu lansia yang menyediakan layanan kesehatan bagi masyarakat Kampung Muara Niliq. Sarana ibadah di Kampung Muara Niliq terdapat 3 buah gereja. Di sekitar Kampung Muara Niliq terdapat sebuah warung makan dan juga terdapat 3 warung kelontong. Fasilitas umum lain yang juga tersedia di Kampung Muara Niliq sarana olahraga seperti: lapangan sepakbola, lapangan voli, dan lapangan bulutangkis dengan kondisi cukup baik. Namun Kampung Muara Niliq belum memiliki tempat pembuangan sampah. Sebagian besar penduduk Kampung Muara Niliq berprofesi sebagai petani ladang sawah, petani karet dan walet. Kampung Mantar merupakan salah kampung yang berada di wilayah kecamatan Damai, dengan titik ordinat 115A 37A 35. 73" - 115A 15A 23. 11" BT dan 0A 34A 56. 3" - 0A 23A 6. 34" LS, luas wilayahnya adalah 61,25 km2 atau sama dengan 3,50% dari keseluruhan total wilayah kecamatan Damai. Jarak Kampung Mantar menuju ibukota kecamatan adalah 30 km, sementara jarak menuju ibukota kabupaten adalah 80 km. Akses menuju Kampung Mantar ditempuh menggunakan transportasi darat melalui jalan hauling milik perusahaan tambang batu bara, sebagian besar kondisi jalan rusak dan saat ini sedang dalam tahap perbaikan/pengecoran jalan. Kampung Mantar terletak di luar kawasan hutan dan secara geografis terletak di lembah atau daerah aliran sungai. Kampung Mantar mempunyai ketinggian sekitar 52 m dpl . i atas permukaan air lau. , sumber air minum berasal dari Jumlah penduduk Kampung Mantar adalah 284 jiwa dengan komposisi penduduk laki-laki 153 jiwa dan penduduk perempuan 131 jiwa, sehingga seks rasio Kampung Mantar adalah 116,79. Adapun tingkat kepadatan penduduk 0,215669. Sementara jumlah Rumah Tangga atau Kepala Keluarga adalah 77 dengan jumlah penduduk per rumah tangga sekitar 3,05376. Jumlah Rukun Tetangga di Kampung Mantar adalah 2. Terdapat beberapa sub-etnik yang hidup secara berdampingan dalam kerangka sosial kemasyarakatan, diantaranya: Dayak Benuaq . ebagai subetnik mayorita. Dayak Tunjung. Bugis. Jawa. Manado. Sampai saat ini Kampung Mantar belum tersambung instalasi aliran listrik PLN, sehingga mayoritas rumah tangga memanfaatkan aliran listrik non-PLN yang dikelola oleh Pengurus Kampung atau dengan menggunakan genset pribadi di masing- masing rumah tangga. Di Kampung Mantar saat ini terdapat 1 SD Negeri, namun tidak terdapat SMP. SMA/SMK atau yang sederajat. Untuk fasilitas kesehatan berbentuk Puskesmas, pos yandu balita dan pos yandu lansia yang menyediakan layanan kesehatan bagi masyarakat Kampung Mantar. Sarana ibadah di Kampung Mantar terdapat 3 buah gereja. Di sekitar Kampung Mantar terdapat sebuah warung makan dan juga terdapat 3 warung kelontong. Fasilitas umum lain yang juga tersedia di Kampung Mantar sarana olahraga seperti: lapangan sepakbola, lapangan voli, dan lapangan bulutangkis dengan kondisi cukup baik. Namun Kampung Mantar memiliki tempat pembuangan sampah. Sebagian besar penduduk Kampung Mantar berprofesi sebagai petani ladang sawah, petani karet dan walet. Kampung Muara Begai merupakan salah kampung yang berada di wilayah kecamatan Muara Lawa, dengan titik ordinat 115A 49A 40. 15" - 115A 36A 48. 18" BT dan 0A 38A 44. 2" - 0A 33A 46. 94" LS, luas wilayahnya adalah 44,77 km2 atau sama dengan 10,07% dari keseluruhan total wilayah kecamatan Muara Lawa. Jarak Kampung Muara Begai menuju ibukota kecamatan adalah 21 km, sementara jarak menuju ibukota kabupaten adalah 60 km. Akses menuju Kampung Muara Begai ditempuh menggunakan transportasi darat melalui jalan hauling milik perusahaan tambang batu bara, sebagian besar kondisi jalan rusak dan saat ini sedang dalam tahap perbaikan/pengecoran jalan. Kampung Muara Begai terletak di tepi kawasan hutan dan secara geografis terletak di daerah Kampung Muara Begai mempunyai ketinggian sekitar 22 m dpl . i atas permukaan air lau. , sumber air minum berasal dari mata air. Jumlah penduduk Kampung Muara Begai adalah 570 jiwa dengan komposisi penduduk laki-laki 260 jiwa dan penduduk perempuan 310 jiwa, sehingga seks rasio Kampung Muara Begai adalah 83,87. Adapun tingkat kepadatan penduduk 12,73. Sementara jumlah Rumah Tangga atau Kepala Keluarga adalah 152 dengan jumlah penduduk per rumah tangga sekitar 3,75. Jumlah Rukun Tetangga di Kampung Muara Begai adalah 3 dan terdapat Studi Pemetaan Sosial di Wilayah Kerja | 20 Sonny Sudiar. Jauchar. Silviana Purwanti. Abdul Gafur. Fahrizal Anwar. Nizam Ihsan Fadil 2 buah Koperasi. Terdapat beberapa sub-etnik yang hidup secara berdampingan dalam kerangka sosial kemasyarakatan, diantaranya: Dayak Benuaq . ebagai sub-etnik mayorita. Dayak Tunjung. Bugis. Jawa. Manado. Sampai saat ini Kampung Muara Begai belum tersambung instalasi aliran listrik PLN, sehingga mayoritas rumah tangga memanfaatkan aliran listrik non-PLN yang dikelola oleh Pengurus Kampung atau dengan menggunakan genset pribadi di masing-masing rumah Di Kampung Muara Begai saat ini terdapat 1 TK swasta, 1 SD Negeri, namun tidak terdapat SMP. SMA/SMK atau yang sederajat. Untuk fasilitas kesehatan berbentuk Puskesmas, pos yandu balita dan pos yandu lansia yang menyediakan layanan kesehatan bagi masyarakat Kampung Muara Begai. Sarana ibadah di Kampung Muara Begai terdapat 1 buah gereja. Di sekitar Kampung Muara Begai terdapat 8 warung makan dan juga terdapat 3 warung kelontong. Fasilitas umum lain yang juga tersedia di Kampung Muara Begai sarana olahraga seperti: lapangan sepakbola, lapangan voli, dan lapangan bulutangkis dengan kondisi cukup baik. Namun Kampung Muara Begai tidak memiliki tempat pembuangan sampah, sehingga masyarakat masih membuang sampah ke sungai. Sebagian besar penduduk Kampung Muara Begai berprofesi sebagai petani ladang, petani karet dan Pemetaan Aktor (Stakeholde. dan Jaringan Hubungan antar Aktor Jaringan sosial pada kampung-kampung yang menjadi subjek penelitian sebagai salah satu daerah buffer zone PT Kruing Lestari Jaya menjadi penting untuk dipetakan agar didapatkan gambaran yang komprehensif tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat dan budaya masyarakat Banyak pelaku . dalam proses interaksi sosial di wilayah ini baik secara individu, kelompok dan institusi. Dalam interaksinya para aktor ini saling terkait dan masing-masing memiliki karakteristik dan latar belakang sosial yang berbeda-beda. Demikian pula dengan wawasan, orientasi dan kepentingan yang melandasi setiap aksi dan aktivitas dari setiap aktor. Output pemetaan jaringan sosial ini akan menghasilkan data dan informasi mengenai kondisi psikografis, pola komunikasi dan kondisi sosial ekonomi masyarakat (Sudiar et al. , 2. Hasil pemetaan diharapkan menjadi pedoman dalam menentukan pendekatan dan pelaksanaan program corporate social responsibility PT. Kruing Lestari Jaya di seluruh Kampung yang menjadi buffer zone, sekaligus menjadi dasar penyusunan rencana kerja yang sifatnya taktis terhadap permasalahan yang dihadapi. Sebagaimana yang telah digambarkan di atas bahwa empat kampung yang terletak di Kecamatan Damai, yaitu: Kampung Besiq. Kampung Bermai. Kampung Muara Niliq, dan Kampung Mantar terletak di luar kawasan hutan dan secara geografis terletak di lembah atau daerah aliran sungai. Sementara Kampung Muara Begai yang berada di Kecamatan Muara Lawa terletak di tepi kawasan hutan dan secara geografis terletak di daerah hamparan. Merujuk pada kondisi tersebut, maka dengan demikian sebagian besar masyarakat yang berdiam di Kampung-kampung tersebut berprofesi sebagai pekebun yang sangat menyandarkan keberlanjutan kehidupan mereka seharihari pada potensi dan hasil hutan, seperti para pencari rotan, petani karet, dan ada juga kelompok masyarakat yang bercocok tanam dan berladang di sawah. Selain itu juga ada yang bekerja sebagai pencari ikan di sungai dan hanya sebagian kecil dari ibu-ibu rumah tangga juga ikut membantu perekonomian keluarga dengan membuat olahan kerajinan tangan. Uraian berikut merupakan deskripsi tentang pemetaan aktor dan jaringan antar aktor di kampung-kampung sasaran. Berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara dengan Kepala Kampung Besiq, maka teridentifikasi sejumlah aktor yang mempunyai peran penting dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, serta dalam interaksi sosial terkait penyebaran informasi yang sifatnya perlu diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat, yaitu antara lain: Rodi (Kepala Kampun. Felix Kemas (Sekretaris Kampun. Firmantus (Kepala BPK). Ning (Kepala Ada. Jayan (Eks. Kepala Ada. Budi (Babins. Munir (Kamtibma. Hendi (Ketua RT . Sumarto (Ketua RT . Saltina (Ketua RT . Lajaq (Ketua RT . Geruhaq (Ketua RT . Ateng (Ketua RT . Ilo Matalata (Ketua RT . Roban (Tokoh Pemud. Rosanda Putra (Ketua Karang Tarun. Hasil pemetaan jaringan sosial Kampung Besiq diketahui ada interaksi antar aktor yang sifatnya komplementer atau saling Hubungan yang saling melengkapi tersebut dapat terlihat di hampir setiap garis interaksi antar individu-kelompok-institusi. Hubungan antara individu dan kelompok dengan Studi Pemetaan Sosial di Wilayah Kerja | 21 Sonny Sudiar. Jauchar. Silviana Purwanti. Abdul Gafur. Fahrizal Anwar. Nizam Ihsan Fadil institusi misalnya ditunjukkan oleh peran Kepala Kampung Bapak Rodi . epresentasi institus. sebagai katalisator berbagai informasi dan kegiatan perusahaan kepada kelompok masyarakat. Contoh hubungan yang lain ditunjukkan pada garis interaksi dalam menjaga kondusifitas Kampung Besiq dilakukan oleh aparat keamanan seperti Babinsa dan Kamtibmas bersama tokohtokoh pemuda dan adat di wilayah tersebut. Hubungan positif juga ditunjukkan oleh garis interaksi antara Ning. Jayan. Rosan Putra, dan Roban sebagai tokoh adat dan sekaligus sebagai ketua kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lain seperti Forum RT. Karang Taruna dan lain sebagainya, dalam upaya untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat setempat. Merujuk pada hasil pengamatan langsung ditemukan informasi bahwa kampung Bermai merupakan kampung dengan populasi penduduk yang tidak terlalu banyak dan termasuk dalam wilayah buffer zone PT. Kruing Lestari Jaya, sehingga pengorganisasian kependudukannya hanya dikelompokkan menjadi dua RT saja. Hasil wawancara mendalam dengan Kepala Kampung dan Sekretaris Kampung menginformasikan bahwa terdapat beberapa aktor . penting yang terlibat aktif dalam proses pelaksanaan pembangunan di Kampung Bermai, antara lain: H. Agustinus (Kepala Kampun. Soldiansyah (Sekretaris Kampun. Yudendi (Kepala Ada. Dalmasius (Eks. Kepala Ada. Dones Husen (Kepala BPK). Reken (RT . Markimin (RT . Dalam pola interaksi kemasyarakatan Bapak H. Agustinus mempunyai peran yang sangat sentral dalam setiap upaya pelaksanaan program pembangunan di Kampung Bermai. Beliau menjadi ujung tombak yang mengkoordinasikan setiap fungsi dan peran sosial yang dimiliki aktor-aktor tersebut di atas. Interaksi individu dengan institusi yang ditunjukkan oleh Kepala Kampung dalam upayanya mengakomodir kebutuhan masyarakatnya dalam pelayanan publik. Praktik hubungan komplementer juga terlihat antara Kepala Kampung dengan Tokoh Adat setempat terutama konsultasi masalah sosial kemasyarakatan yang terkait dengan kultur serta adat-istiadat masyarakat Kampung Bermai. Beberapa aktor teridentifikasi sebagai aktor yang mempunyai peran penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan di Kampung Muara Niliq, antara lain: Vusen (Kepala Kampun. Desi . ekretaris Kampun. Melang (Kepala Ada. Kusyadi (Ketua BPK). Artoyo (Tokoh Pemud. Nera (Anggota Karang Tarun. Yani Tulandi (Tokoh Agam. Yosep Rustan (Ketua RT . Siti Kamariah (Ketua Rt . Nebus (Ketua RT . Dewi (Ketua RT . Kolaborasi antara pengurus Kampung dan tokoh adat, tokoh pemuda dan pemuka agama di Kampung Muara Niliq mengindikasikan pola hubungan yang saling mengisi guna mencapai apa yang menjadi kebutuhan masyarakat setempat. Sehingga tidak jarang terjadi komunikasi diantara aktor-aktor tersebut dengan tujuan untuk mendiskusikan hampir semua persoalan sosial kemasayarakatan yang terjadi di Kampung Muara Niliq. Pak Melang sebagai Kepala Adat memegang peran penting yang membantu kepala kampung dalam penyelenggaraan dan melestarikan nilai-nilai kultural yang berkembang di tengah kehidupan masyarakat. Tokoh pemuda seperti Artoyo dan Nera ikut serta membantu dalam pelaksanaan program-program pembangunan terutama yang berkaitan dengan pembangunan sumberdaya manusia, seperti membantu pengajaran pendidikan usia dini di Kampung Muara Niliq. Pemuka Agama Kristen Pendeta Yani Tulandi juga berkontribusi signifikan dalam membantu Kepala Kampung dalam hal membentuk mental masyarakat melalui ceramah siraman rohani di tempat ibadah mereka, dan di setiap ada kesempatan dalam forum masyarakat kampung Muara Niliq. Hasil observasi langsung di Kampung Mantar ditemukan aktor- aktor yang berperan penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan pembangunan, antara lain: Kusni Thamrin (Kepala Kampun. Rusdibiono (Sekretaris Kampun. Idus (Kepala BPK). Ardinus (Kepala Ada. Dalam pola interaksi kemasyarakatan Kusni Thamrin selaku Kepala Kampung mempunyai peran yang sangat sentral dalam setiap upaya pelaksanaan program pembangunan di Kampung Mantar. Beliau senantiasa berupaya untuk mengkoordinasikan setiap kegiatan dan program pembangunan di Kampung Mantar bersama dengan aktor-aktor penting lainnya. Interaksi individu dengan institusi sebagaimana yang ditunjukkan oleh Kepala Kampung dalam upayanya mengakomodir kebutuhan masyarakatnya dalam pelayanan publik. Praktik hubungan komplementer juga terlihat antara Kepala Kampung dengan Tokoh Adat setempat terutama konsultasi masalah sosial kemasyarakatan terkait dengan kultur serta adat-istiadat masyarakat Kampung Mantar. Studi Pemetaan Sosial di Wilayah Kerja | 22 Sonny Sudiar. Jauchar. Silviana Purwanti. Abdul Gafur. Fahrizal Anwar. Nizam Ihsan Fadil Hasil identifikasi lapangan, terdapat banyak aktor yang berpengaruh di Kampung Muara Begai yang terdiri atas tokoh adat, tokoh pemerintahan, aparat desa, pemuka agama dan tokoh pemuda, yaitu: Antonius (Petinggi Kampun. Yohandi (Sekretaris Kampung merangkap sebagai ketua Karang Tarun. Nurdiansyah (Ketua BPK). Herison (Ketua RT . Sioalvinus (Ketua RT . Duardus Kalder (Ketua RT . Agustinus (Kepala Ada. Pemuka Agama: Yusuf Elkana (GKAA). Kosmas Kabelen (Katholi. Alfian (GPDI). Seluruh aktor tersebut di atas mempunyai kontribusi yang siginifikan sesuai dengan peran masing-masing, dan pola jaringan sosial dalam masyarakat di Muara Begai dijalankan secara komplementer oleh masing-masing aktor. Hubungan positif juga terlihat antara pengurus Kampung dengan tokoh adat dan tokoh pemuda dalam rangka merealisasikan program- program pembangunan di kampung Muara Begai. Sementara pemuka agama berperan untuk membantu dalam membentuk mental rohani masyarakat. Berdasarkan ilustrasi di atas terdapat 43 orang tokoh masyarakat yang teridentifikasi dalam pemetaan jaringan sosial di Kampung Besiq. Kampung Bermai. Kampung Muara Niliq. Kampung Mantar, dan Kampung Muara. AktorAeaktor ini memiliki peran besar dalam kehidupan sosial masyarakat baik secara individu maupun sebagai tokoh dari kelompok masyarakat. Jika dilihat dari posisi sosial aktor individu memiliki peran ganda di masyarakat. Aktor individu ini antara lain adalah tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, pengusaha, aparat hukum, dan tokoh Sementara aktor institusi dapat diklasifikasikan sebagai lembaga pemerintahan. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), institusi adat/tradisional, dan institusi lainnya. Identifikasi potensi adalah salah satu langkah penting yang perlu dilakukan secara komprehensif dalam setiap upaya pemecahan masalah di suatu wilayah (Gunawan & Sutrisno, 2. Masyarakat dan lingkungannya sudah pasti dapat dikatakan menyimpan potensi yang dapat digali dan dimanfaatkan agar dapat meningkatkan kondisi kehidupan mereka. Pemetaan sosial di buffer zone PT Kruing Lestari Jaya telah berhasil mengidentifikasi beberapa aspek yang bisa dimanfaatkan sebagai kekuatan masyarakat, yaitu: Potensi sumberdaya manusia di Kampung-kampung yang berada di wilayah kerja PT Kruing Lestari Jaya dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: potensi kuantitatif dan kualitatif. Potensi kuantitatif meliputi jumlah penduduk dan fasilitas yang tersedia, sedangkan potensi kualitatif dilihat dari jenis pekerjaan yang saat ini digeluti oleh masyarakat. Analisis Kebutuhan Masyarakat di Lokasi Sasaran Potensi sumberdaya dan potensi yang ada di wilayah buffer zone PT. Kruing Lestari Jaya bisa dijadikan sebagai modal untuk mengetahui kerangka penghidupan berkelanjutan masyarakat (Firdaus et al. , 2. Tujuannya adalah agar setelah potensi wilayah berhasil dipetakan, perusahaan bisa merumuskan peluang pengembangan untuk penghidupan berkelanjutan yang lebih baik dan mengurangi permasalahan kemiskinan di daerah tersebut. Masalah kemiskinan merupakan salah satu persoalan mendasar yang menjadi pusat perhatian pemerintah di negara manapun. Salah satu aspek penting untuk mendukung strategi penanggulangan kemiskinan adalah tersedianya data kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran (Sudiar, 2. Tabel 1. Analisis Kebutuhan Masyarakat Konsidi Saat Ini Akses menuju kampung jalan tanah/batu Tandon air bersih belum dialirkan ke warga Kebutuhan Masyarakat Kampung Semenisasi/Aspal Muara Begai Pipanisasi air bersih ke rumah warga Muara Begai Listrik Non PLN . Listrik PLN Listrik CSR Perusahaan . Listrik PLN Jumlah Pengangguran besar Pelatihan Keterampilan/Wirausaha Tingkat pendidikan rata-rata lulus SD/SMP Tingkat pendidikan rata-rata lulus SMA Dataran rendah, rawa, gambut Kejar Paket Tersedia tenaga kerja unskilled bagi Pemberdayaan masyarakat petani padi Besiq. Bermai. Muara Niliq. Mantar Muara Begai Besiq. Bermai. Muara Niliq. Mantar. Muara Begai Besiq. Bermai. Muara Niliq. Mantar. Muara Begai Besiq. Bermai. Muara Niliq. Mantar. Muara Begai Besiq. Bermai. Muara Niliq. Mantar Studi Pemetaan Sosial di Wilayah Kerja | 23 Sonny Sudiar. Jauchar. Silviana Purwanti. Abdul Gafur. Fahrizal Anwar. Nizam Ihsan Fadil Konsidi Saat Ini Daerah hutan/lahan belum dikelola masih luas Kebutuhan Masyarakat Pemberdayaan masyarakat petani/peternak BUMK Tidak Efektif Pelatihan Manajemen Bisnis Kampung Besiq. Bermai. Muara Niliq. Mantar. Muara Begai Besiq. Bermai. Muara Niliq. Mantar. Muara Begai Identifikasi Jenis-jenis Kerentanan dan Kelompok Rentan Beberapa jenis kerentanan yang muncul di masyarakat Kampung Besiq. Kampung Bermai. Kampung Muara Niliq. Kampung Mantar, dan Kampung Muara Begai terbagi atas dua jenis, yaitu, kerentanan fisik dan non fisik. Deskripsi singkat jenis- jenis kerentanan ini adalah: Kerentanan Fisik. Masyarakat secara umum menghadapi berbagai masalah seperti: penerangan, air bersih, akses antar kampung/jalan . ntar daera. , dan batas kampung di sekitar lokasi perusahaan PT. Keruing Lestari Jaya. Kurangnya akses masyarakat kampung terhadap faktor ekonomi . anah, input pertanian, dan moda. dan kurangnya alternative usaha ekonomi selain petani dari pencari rotan menjadi petani sawit. Selain itu masyarakat juga rentan terhadap dampak lingkungan seperti air sungai yang tercemar akibat aktivitas perusahaan PT. Keruing Lestari Jaya. Kerentanan Nonfisik, masyarakat secara individu menghadapi kerentanan nonfisik berupa perilaku negatif, yang disebabkan adanya kecenderungan reaktif terhadap perubahan, tergantung pada bantuan pihak luar, cenderung menyalahkan pihak lain. Selain itu, masyarakat juga memiliki kerentanan nonfisik secara sosial yang disebabkan masih kurangnya partisipasi masyarakat, dan adanya anggapan ketidakadilan terhadap masyarakat setempat dalam akses terhadap peluang kerja, serta adanya anggapan diskriminasi etnik. Kelompok rentan yang ada di kampung didefinisikan sebagai mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumberdaya dan sensitif terhadap perubahan ekonomi yang sifatnya mendadak (Rela, 2. Kelompok ini dideteksi dari kelompok masyarakat yang tergolong kedalam tingkat pendidikan rendah. Dimana rata- rata tingkat pendidikan yang dicapai oleh masyarakat kampung sebagian besar hanya mencapai Sekolah Dasar (SD). Deskripsi Masalah Sosial Masalah sosial dapat didefinisikan sebagai kondisi yang tidak diharapkan atau tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat. Kondisi ini diharapkan dapat segera diatasi karena sifatnya bisa merugikan kehidupan masyarakat baik secara fisik maupun sosial (Syahrani, 2. Ada beberapa hal yang patut diperhatikan terkait kondisi masyarakat di buffer zone PT Kruing Lestari Jaya terkait potensi timbulnya masalah sosial, antara lain: Perbedaan Etnis, bisa dikatakan bahwa daerah Kubar adalah daerah yang disebut sebagai cultural mosaic dimana semua etnis yang datang dan bertempat tinggal di daerah ini menyatu sebagai satu kesatuan namun tetap membawa identitas daerah mereka masing- masing. Meskipun demikian dengan segala perbedaan karakter, adat istiadat dan norma yang diyakini oleh masingmasing individu tentu saja potensi timbulnya gesekan antar individu atau kelompok tetap dimungkinkan untuk mengemuka. Menyadari hal ini perusahaan sudah sewajarnya tetap membina dan menjaga hubungan baik dengan seluruh entitas yang ada di wilayah operasionalnya dengan tujuan agar situasi tetap kondusif dan kebutuhan implementasi program bisa tetap berjalan. Penduduk Tidak Bekerja, seperti disebutkan sebelumnya jumlah penduduk usia produktif yang tidak memiliki pekerjaan di buffer zone PT Kruing Lestari Jaya mencapai hampir 30%. Tingginya angka pengangguran ini membutuhkan perhatian baik dari pemerintah maupun perusahaan karena berpotensi menimbulkan permasalahan sosial di lingkungan masyarakat dan perusahaan. Simpulan Keberhasilan suatu program sangat ditentukan oleh ketepatan dalam menentukan bentuk dan jenis, serta sasaran dan pendekatan program. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam membuat program dari hasil pemetaan sosial di Kampung Besiq. Kampung Bermai. Kampung Muara Niliq. Kampung Mantar, dan Kampung Muara Begai adalah: Studi Pemetaan Sosial di Wilayah Kerja | 24 Sonny Sudiar. Jauchar. Silviana Purwanti. Abdul Gafur. Fahrizal Anwar. Nizam Ihsan Fadil . Keseluruhan masyarakat telah menjadi tanggungjawab dan kewajiban pemerintah. Perusahaan hanya mengambil sebagian program saja dari masyarakat sasaran. Berdasarkan karakteristik sosial masyarakat digolongkan dalam kategori masyarakat berpendidikan rendah. Kelompok masyarakat dalam kategori pendidikan rendah dalam hal pendidikan formal sudah mendapat sentuhan dari pemerintah melalui program rutin, sementara masyarakat berpendidikan rendah untuk pendidikan nonformal sulit disentuh melalui program tersebut. Program dapat dikategorikan atas program fisik, program nonfisik, dan program gabungan fisik dan nonfisik. Program fisik adalah program yang hasilnya dapat dilihat secara fisik, seperti fisik bangunan atau fisik fasilitas sarana dan prasarana. Sebaliknya program nonfisik adalah program yang hasilnya tidak dapat dilihat secara fisik, seperti peningkatan kepercayaan diri, motivasi, dan kemandirian. Namun demikian tidak jarang program nonfisik juga harus melibatkan program fisik, seperti program nonfisik meningkatkan tingkat pendapatan individu maupun institusi, perlu didukung oleh program fisik berupa penyediaan sarana dan prasarana ekonomi. Program sejenis ini disebut sebagai program gabungan. Pendekatan program pada umumnya terdiri atas tiga kelompok besar, yaitu pendekatan personal, kelompok, dan komunitas. Pendekatan personal adalah pendekatan yang memungkinkan perusahaan untuk berinteraksi langsung dengan sasaran program . arget Pendekatan kelompok adalah pendekatan yang masih memungkinkan interaksi antara perusahaan dengan sasaran, namun dengan intensitas yang terbatas. Pendekatan komunitas adalah pendekatan yang tidak memerlukan hubungan interaksi antara perusahaan dengan Idealnya pendekatan tersebut adalah pendekatan yang didominasi oleh pendekatan personal dan pendekatan kelompok. Daftar Pustaka