JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire Volume 4. No 1. April 2021 APLIKASI GPS MOBILE UNTUK PEMODELAN AREA RAWAN DEMAM BERDARAH DENGUE Resmiaini1. Andhy Sulistyo2. Rusydi Umar3 1,2 Poltekkes Bhakti Setya Inonesia Yogyakarta, 3Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Jl. Janti Jl. Gedongkuning No. Modalan. Banguntapan. Kec. Banguntapan. Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta 55198 1resmiaini@gmail. com,2andhysulistyo@gmail. com,3rusydi. umar@tif. Abstract In Indonesia, cases of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) are a major public health problem due to transmission from the bite of the Aedes Aegepty mosquito. In 2016. Bantul Regency experienced an increase in dengue cases. Bantul Regency has the highest number of DHF cases in Yogyakarta Province. The height factor of the region greatly affects the development of the Aedes aegepty mosquito. The Global Position System (GPS) mobile application is used to record the breeding location of DHF . reeding ground. and the Geographical Information System (GIS) as a modeling of vulnerable areas. Analysis of spatial data using scoring, buffer and overlay techniques. The purpose of this research is to improve the supervision and control of Aedes Aegypti in a special hilly area in the Dlingo District area. The method used is a descriptive method, namely a description of the natural conditions of Bantul Regency, an experimental method by making a mobile GPS application, an investigative method by finding breeding sites for mosquito nests and a modeling method to analyze spatial breeding places. The results of the investigation of the Dlingo area had at least 11 breeding places, namely 11 location points. This research shows that the altitude factor above 100m above sea level is very influential on the breeding of the Aedes Aegepty mosquito. Dlingo sub-district, which has almost an area above 100 m above sea level, has the smallest mosquito breeding grounds and the potential for dengue fever is very low. Keywords : DHF, breeding place . GPS. GIS Abstrak Di Indonesia kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama akibat penularan dari gigitan nyamuk Aedes Aegepty. Pada tahun 2016 Kabupaten Bantul mengalami peningkatan kasus DBD. Kabupaten Bantul memiliki jumlah kasus DBD tertinggi di Provinsi DIY. Faktor ketinggian wilayah sangat mempengaruhi perkembangan nyamuk Aedes Aegepty. Aplikasi Global Position System (GPS) mobile digunakan untuk merekam lokasi perkembangbiakan DBD . empat berkembang bia. dan Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai pemodelan daerah rawan. Analisis data spasial menggunakan teknik scoring, buffer dan overlay. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pengawasan dan pengendalian Aedes Aegypti di kawasan perbukitan khusus di kawasan Distrik Dlingo. Metode yang digunakan adalah metode diskriptif yaitu gambaran mengenai faktor keadaan alam Kabupaten Bantul, metode experiment dengan membuat aplikasi GPS mobile, metode investigasi dengan mencari tempat berkembang biak sarang nyamuk dan metode modeling untuk menganalisis spasial breeding place. Hasil dari investigasi daerah Dlingo mempunyai titik breeding place paling sedikit yaitu 11 titik lokasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor ketinggian diatas 100m dpl sangat berpengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegepty. Kecamatan Dlingo yang hampir wilayahnya diatas 100 m dpl memiliki tempat berkembang biak nyamuk terkecil dan potensi DBD sangat Kata kunci : DBD, breeding place . GPS. SIG ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire PENDAHULUAN Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Bantul mengalami peningkatan pada tahun 2015 Tahun 2015 sebanyak 1441 kasus, dan pada tahun 2016 meningkat menjadi 2. Kejadian DBD pada tahun 2014 sebanyak 622 kasus ini dibuktikan dengan data data Dinas Kesehatan Bantul. Pada tahun 2016 Kecamatan Dlingo yang biasanya jarang terdapat kasus demam berdarah dengue(DBD), jumlah kasusnya meningkat dua kali dari tahun sebelumnya. Meskipun angka kasus meningkat, akan tetapi angka kematian akibat DBD relatif rendah. DBD merupakan salah satu penyakit tropis yang sangat mengkhawatirkan dan menyebabkan Nyamuk Aedes Aegypti dengan gigitannya dapat menularkan penyakit antar manusia. Masalah kesehatan paling serius bagi masyarakat di Bantul adalah kasus DBD, karena setiap tahunnya jumlah kasus selalu betambah. Lingkungan memainkan peran yang sangat Kondisi lingkungan dengan genangan air menjadikan perkembangan larva Aedes Aegypti berkembang dan merupakan faktor risiko DBD. Semua obyek yang dapat menjadi perkembangbiakan jentik-jentik nyamuk yang tidak terkendali, sehingga jumlah nyamuknya akan bertambah disebut Breeding place . Ketinggian merupakan faktor penting yang Pada ketinggian di atas 1. 000 meter . reproduksi Aedes aegypti masih sangat baik dan lokasi penelitiannya ada di wilayah Wonosobo dengan ketinggian diatas 500 meter dpl . Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 374 / MENKES / PER / i / 2010 tentang Pengendalian Pengendalian Vektor secara umum mengatur masalah pengelolaan pengendalian vektor (Aedes Aegypt. Saat ini banyak orang yang Keberadaan aplikasi GPS seluler mereka dapat dimasukkan dalam kampanye Pemberantasan Sarang Nyamuk. Konsep inilah yang dinamakan " Juru Pemantau Jentik (Jumanti. " sehingga terbentuk satu rumah satu Mendorong hal tersebut maka penelitian ini perlu dilakukan bahwa smartphone tidak hanya sekedar sebagai alat komunikasi tapi dapat membantu institusi kesehatan dalam menginformasikan wabah DBD. SIG merupakan salah satu yang dapat membantu mengatasi permasalahan yang berhubungan dengan penyakit di suatu wilayah tertentu. SIG dapat memetakan sebaran penyakit. Penyajian informasi sangat membantu dalam bentuk pemetaan penularan penyakit dan ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. Volume 4. No 1. April 2021 untuk mendapatkan data tentang penularan penyakit secara cepat dan akurat. Peta di bidang medis sangat dibutuhkan. Salah satunya adalah peta penyebaran DBD di suatu daerah. Penggunaan data melalui pemetaan dengan aplikasi berbasis SIG akan membantu memudahkan pengambilan keputusan dan pengelolaan penularan penyakit. TINJAUAN PUSTAKA DAN TEORI Sistem operasi Android saat ini paling banyak digunakan terutama untuk smartphone dan sebagai alat komunikasi. Karena sifatnya open source, sistem operasi Android memiliki beberapa kelebihan dari segi hardware maupun software dibanding sistem lain . Keberadaan SIG dalam mengelola data yang memiliki informasi spasial sudah dapat Salah satu sumber data SIG adalah koordinat yang berasal pengelolaan data GPS dalam melakukan pemetaan . Aplikasi android GPS dibuat sebagai alat pengumpulan data ArcGIS 10. 3 berkolaborasi dengan aplikasi GPS android untuk menjalankan pekerjaan pemetaan . Data breeding place yang tersebar di wilayah Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul menggunakant dengan aplikasi android, sehingga deteksi dini terhadap wilayah yang rentan terkena DBD dapat terdeteksi dan dilakukan tindakan yang cepat . SIG menghasilkan data spasial dan data non spasial dalam Model tersebut menghasilkan memahami informasi tentang bumi. Penelitian pengendalian Aedes Aegypti dan diharapkan akan menghasilkan aplikasi GPS mobile yang dapat memantau keberadaan larva Aedes aegypti di lokasi breeding place berdasarkan ketinggian kawasan. Peta zona resiko insiden dengue dihasilkan dengan pemodelan SIG. Peta zona resiko ini membantu dalam menerapkan strategi pencegahan dan mengendalikan insiden demam berdarah secara efektif. Banyak penelitian telah dilakukan mengenai demam berdarah, baik yang berkaitan dengan faktor etiologi seperti faktor pejamu . enis kelamin, usia, mobilita. Faktor lingkungan seperti kepadatan rumah, kepadatan nyamuk. Penelitian sebelumnya digunakan sebagai referensi dalam penelitian ini. Pertama A. Y Chang tahun 2009 . Menghubungkan Google Earth dan GIS JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire untuk pengawasan DBD di Nikaragua dan mengidentifikasi perkembangan larva yang digunakan sebagai pengendalian demam berdarah untuk memprioritaskan lingkungan tertentu untuk intervensi pengendalian yang Kedua M. Chasanah pada tahun 2016 . melakukan penelitian dengan menggunakan SIG dan metode deskriptif Kedekatan dengan sungai dan pemukiman penduduk menjadi parameter dalam penelitian ini. Ketiga Emmenual Reddy 2015 . membuat aplikasi mobile untuk memantau kejadian DBD dan penderita DBD. Keempat Budi Setiawana 2017 . mengalisa kejadian DBD dengan SIG sesuai kondisi Kelima Arwan Putra Wijaya 2017 . estimasi wilayah yang rawan DBD dengan membuat peta zona resiko. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah penerapan aplikasi android dengan menghasilkan suatu analisis yang kritis Volume 4. No 1. April 2021 pembuatan laporan dan mengolah data. Laptop merupakan hardware pokok dalam operasional Spesifikasi laptop yang digunakan adalah Hardisk 1 tera, prosesor dual core dan RAM 4 GB. Software Android Studio 2. 0 diinstall untuk pembuatan aplikasi GPS mobile. ArcGIS 3 merupakan software untuk mengolah data spasial hasil dari aplikasi GPS mobile yaitu berupa titik koordinat dalam suatu wilayah. Tabel 2 menunjukkan data penelitian yang meliputi jenis data beserta sumbernya. Tabel 2. Data Penelitian Nama alat Peta Bantul Jenis Data Gambar Digital Data kasus DBD Tabel Digital Data Ketinggian Wilayah Tabel Digital yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Hasil dari investigasi lapangan bisa langsung ditranfer lewat WhatApps(WA) berupa excel dan diolah dengan software Arcgis. Pemodelan SIG dilakukan untuk memetakan zona risiko DBD pertumbuhan tempat perkembangbiakan jentik nyamuk dikaitkan dengan ketinggian kawasan. METODOLOGI PENELITIAN Populasi penelitian ini berada di Kabupaten Bantul karena adanya peningkatan kasus DBD dari tahun 2013 sampai tahun 2016. Variabel terikat dalam penelitian ini faktor ketinggian kawasan untuk mengetahui tingkat risiko DBD. Variabel bebas yaitu breeding place digunakan sebagai penyebab berkembang biak nyamuk DBD. Peralatan penelitian yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Peralatan Penelitian Nama alat Arc GIS 10. Ms Office 10 Laptop RAM MIN 4GB HP android RAM 4 GB Jenis Alat Software Software Hardware Hardware Tabel 1 menjelaskan nama, jenis dan fungsi alat penelitian yang digunakan yaitu HP android yang mempunyai spesifikasi prosesor core 2, memory internal 32 GB dan RAM 3 GB ada aplikasi Google map dan GPS dan aplikasi GPS mobile yang sudah diinstall yang digunakan untuk menangkap titik koordinat breeding place. Software MS Office 2010 digunakan untuk komputasi yang meliputi ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. Sumber Data Diunduh di http://tanaha Dinas Kesehatan Bantul http://dinkes BPN Kabupaten Bantul https://bantu Tabel 2 dapat dilihat sumber data penelitian pertama peta Bantul sebagai populasi dan merupakan gambar digital yang dibuat Bappeda Bantul 2010. Kedua data kasus DBD Bantul 2016 yang bersumber pada Profil Kesehatan Kabupaten Bantul Dinas Kesehatan Bantul 2016 berupa tabel. Ketiga data Ketinggian Wilayah untuk mengetahui wilayah Bantul berdasarkan letak ketinggian wilayah dan kasus DBD yang bersumber pada BPN Kabupaten Bantul. Bappeda Bantul 2010 berupa tabel dan peta. Metode yang digunakan dalam pembuatan aplikasi GPS mobile pertama metode diskriptif gambaran mengenai faktor keadaan alam Kabupaten Bantul dan peningkatan penyakit demam berdarah tahun 2016. Kabupaten Bantul mencakup 17 kecamatan, 75 desa dan 933 Luas wilayah Kabupaten Bantul 049 meter persegi, termasuk dataran rendah dan perbukitan. Luas daerah yang lebih 100m dpl sebesar 10800 ha dan sisanya masih dibawah 100m dpl. Peta keadaan alam berdasarkan ketinggian Kabupaten Bantul dan Kecamatan Dlingo terletak didaerah perbukitan dan ketinggian diatas 100 m dpl seperti dapat dilihat pada Gambar 1. JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire Volume 4. No 1. April 2021 Layar peta Kecamatan Dlingo Gambar 3. Desain Input Breeding Place Gambar 1. Peta Ketinggian Wilayah Kabupaten Bantul Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul Tahun 2018 Dibandingkan dengan tahun 2017, jumlah kasus DBD di wilayah Bantul pada tahun 2016 mengalami peningkatan yang cukup signifikan, pada tahun 2016 terdapat 2442 kasus DBD (IR 2,62 A), sedangkan pada tahun 2017 terdapat 538 kasus (IR 0,55 A) dapat dilihat Gambar 2. Satu tabel yang dirancang dengan menggunakan SQLlite sudah cukup untuk mendesain database. Tabel dirancang dengan tiga field yaitu, id adalah nomor latitude adalah sumbu x, dan longitude adalah sumbu y dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Struktur Basis Data Field Type Ketiga Metode investigasi dengan mencari tempat berkembang biak sarang nyamuk di seluruh Kabupaten Bantul. Responden diberi pengetahuan tentang breeding place dan cara penggunaan aplikasi GPS mobile. Penelitian survey merupakan cara melakukan pengamatan mengenai variabel bebas dalam hal ini breeding Data yang diperoleh dari lapangan berupa titik koordinat dan hasil tersimpan dalam Proses transfer data koordinat. dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 2. Grafik Demam Berdarah Dengue Angka Kesakitan (IR) dan Kematian (CFR) di Kabupaten Bantu Tahun Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul Tahun 2018 Kedua metode experiment dengan membuat aplikasi GPS mobile dengan software android studio 2 yang digunakan untuk pengambilan titik koordinat breeding place. Desain Input aplikasi GPS mobile dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 4. Responden Mengirimkan Data Ke Administrator ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire Keempat metode modeling untuk menganalisis spasial breeding place yang diperoleh responden seluruh Kabupaten Bantul. Tahapan modeling dapat dilihat pada Gambar 5. Volume 4. No 1. April 2021 responden input breeding place mengirimkan data sampai pembuatan laporan peta seperti dapat dilihat pada Gambar 7. Data Breeding Membuka Program ArcGIS 10. Aplikasi GPS mobile Memotong Peta Administrasi Bantul Clip Peta ketinggian wilayah dengan Peta Dlingo Proses Laporan Breeding Peta zona Buffer dan Teknik Scoring Gambar 7. Data Flow Diagram Proses Pengiriman Data Breeding Place Overlay Layout Gambar 5. Proses Modeling dengan ArcGIS Pengembangan sistem informasi geografi berbasis model simulasi dampak alam merupakan tujuan dari pemodelan dalam hal ini ketinggian wilayah. Objek penelitian yang akan diteliti adalah titik koordinat breeding place yang ada di wilayah Kabupaten Bantul yang dilakukan responden dengan aplikasi GPS mobile yang sudah di install di smartphone. Dimulai dari responden melalui aplikasi dan langsung melakukan pengolahan data dengan export ke excel, pengiriman data excel ke administrator dapat dilihat dalam perancangan antar muka secara garis besar seperti pada Gambar 6. Data Breeding Aplikasi GPS Laporan Gambar 6. Proses Aplikasi GPS Mobile Secara Garis Besar Data flow diagram proses penginputan data breeding place dapat dijabarkan dimulai ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. Titik breeding place yang dihasilkan dari investigasi diproses dengan metode buffering, jarak terbang nyamuk sebagai indikatornya. Langkah skoring dilakukan dengan indikator jarak terbang nyamuk. Nyamuk mempunyai jarak terbang antara 250 - 750 meter. Titik koordinat breeding place . itik pusa. antara 0 sampai 250 meter merupakan daerah sangat rawan kasus DBD sedangkan jarak 250 sampai 750 meter merupakan daerah rawan DBD dan jarak lebih dari 750 meter bisa dikatakan aman terhadap kasus DBD seperti dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Hasil skor jarak terbang nyamuk Jarak . <250 meter 250-750 meter >750 meter sangat Rawan 3D Analyst digunakan untuk membuat peta kontur wilayah Bantul dan untuk mendapatkan data spasial ketinggian. Data spasial dalam ruang tiga dimensi dapat diolah dengan fungsi 3D Analyst. Fungsi interpolasi digunakan untuk fungsi analisis spasial. TIN adalah bentuk data geografis digital berbasis vektor yang dibuat dengan melakukan triangulasi sekumpulan vektor . Vektor dihubungkan dengan serangkaian tepi untuk membentuk jaring Saat membuat TIN, garis penampang dan garis pandang digambar melalui objek dengan ketinggian atau ketinggian yang berbeda JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire di peta. Dalam penelitian ini, menggunakan sejumlah besar titik atau biasa disebut titik massa merupakan ukuran ketinggian titik tersebut dalam jaringan TIN. Titik massal merupakan masukan utama dalam TIN dan Ketinggian wilayah Kabupaten Bantul dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Ketinggian Wilayah Kabupaten Bantul Sumber BPN Bantul, 2010 Kelas Ketinggian. 0-7 meter 7Ae 25 meter 25 Ae 100 meter >100 meter Skor HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Aplikasi GPS mobile Aplikasi GPS mobile dengan nama map-proj dan klik ambil koordinat kalau batal klik button batal dan sudah pasti simpan data dan seterusnya dapat dilihat Gambar 8. Volume 4. No 1. April 2021 Tabel 6. Jumlah Titik Breeding Place Kecamatan Jumlah titik Bambang Lipuro Banguntapan Bantul Dlingo Imogiri Jetis Kasihan Kertek Pajangan Pandak Piyungan Pleret Pundong Sanden Sedayu Sewon Srandakan Gambar 9. Distribusi Sebaran Breeding Place Per Kecamatan Gambar 8. Tampilan Aplikasi GPS Mobile Export excel berfungsi semua data yang sudah tersimpan akan di export ke excel, bisa dikirim lewat device mobile atau aplikasi lain. Hasil survei breeding place untuk tiap kecamatan di Kabupaten Bantul sebanyak 355 titik. Jumlah titik lokasi breeding place di Kabupaten Bantul dapat dibuat tabel seperti dapat dilihat pada Tabel 6 dan dapat dilihat pada Gambar 9. ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. 2 Modeling Tabel 6 menunjukan wilayah ketinggian dataran semakin rendah dari permukaan laut . sangat rentan terhadap perkembangan kasus DBD. Kabupaten Bantul dibagi menjadi empat interval sesuai sumber BPN Bantul. Dataran dengan ketinggian 0 sampai 7 meter dpl dikatakan rendah dan mempunyai skor 4, dataran dengan ketinggian 7 sampai 25 meter dpl dikatakan sedang dan mempunyai skor 3, dataran dengan JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire ketinggian 25 sampai 100 meter dpl dikatakan tinggi dan mempunyai skor 2 dan dataran dengan ketinggian diatas 100 meter dpl dikatakan sangat tinggi dan mempunyai skor 1. Tabel 7. Hasil Ketinggian Kabupaten Bantul Sumber BPN Bantul, 2010 Ketinggian. Deskripsi Skor >100 meter Sangat tinggi 25 Ae 100 meter 7Ae 25 meter 0-7 meter Lokasi breeding place berdasarkan ketinggian tempat dapat dilihat pada Gambar 10. Volume 4. No 1. April 2021 Gambar 11 menunjukkan hasil overlay antara layer breeding place dan layer ketingian mendapatkan jumlah total aman, rawan dan sangat rawan berdasar total skor dari dua layer. Total nilai aman sebesar 253, nilai rawan sebesar 325 dan sangat rawan 50, jadi total keseluruhan 628, seperti dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Hasil pengujian sistem antara overlay ketinggian wilayah dengan breeding Status aman rawan sangat rawan Akurasi Daerah Dlingo yang hampir wilayahnya diatas 100m dpl mempunyai titik breeding place paling sedikit yaitu 11 titik lokasi dapat dilihat pada Gambar 12. Gambar 10. Lokasi Breeding Place Di Kabupaten Bantul Gambar 12. Lokasi Breeding Place Di Kecamatan Dlingo Daerah sangat rawan Kecamatan Dlingo berwarna merah yaitu antara 0 - 250 meter dari titik breeding place. Area rawan berwarna biru yaitu antara 250 - 750 meter dari titik breeding place dan selebihnya bisa dikatakan aman dapat dilihat pada Gambar 13. Gambar 11. Tampilan tabel overlay ketinggian dengan breeding place ISSN. 2620-6900 (Onlin. 2620-6897 (Ceta. JIRE (Jurnal Informatika & Rekayasa Elektronik. http://e-journal. id/index. php/jire Volume 4. No 1. April 2021 sehingga dapat dilakukan tindakan yang tepat dalam mengatasinya. Dlingo mempunyai titik breeding place paling sedikit yaitu sebelas titik dibanding dengan kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Bantul. Faktor mempengaruhi perkembangbiakan nyamuk DBD. Hal ini telah dibuktikan bahwa ketinggian wilayah diatas 100m dpl daerah Kecamatan Dlingo perkembangbiakan nyamuk . reeding plac. paling sedikit. UCAPAN TERIMA KASIH