P-ISSN 2559 Ae 2163 E-ISSN 2599 Ae 2155 Vol. No. Januari 2025 http://cjp. Cendekia Journal of Pharmacy ITEKES Cendekia Utama Kudus AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK BIJI DURIAN MONTONG (Durio zibethinus Mur. TERHADAPPERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus PADA FORMULASI SABUN CAIR Lilis Sugiarti1. Dian Arsamti Palupi2*. Hasty Martha Wijaya3. Dwi Susiloningrum4. Bagas Mujoko5 Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus E-mail: dianarsanti68@gmail. ABSTRAK Penyakit infeksi masih banyak diderita oleh penduduk negara berkembang, termasuk Indonesia yang disebabkan karena adanya bakteri yang tumbuh seperti bakteri Staphylococcus aureus. Salah satu alternatif untuk mengatasi penyakit infeksi dilakukan dengan bahan alam yang memiliki aktivitas Biji buah durian montong merupakan tanaman yang memiliki kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang berfungsi sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak biji durian montong terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada sediaan sabun cair. Metode: Ekstrak biji durian montong diformulasikan dalam bentuk sediaan sabun cair dengan variasi perbedaan konsentrasi ekstrak biji durian montong (Durio zibethinus Mur. F0 . F1 . ,1%). F2 . ,1%) dan F3 . ,1%). Sediaan sabun cair diuji sifat fisik seperti uji organoleptic, uji homogenitas, uji pH, uji tinggi busa dan uji iritasi, selanjutnya dilakukan uji antibakteri untuk mengetahui diameter zona hambat pada bakteri Staphylococcus aureus dengan menggunakan metode sumuran. Hasil: penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi ekstrak biji durian montong pada sabun cair mempengaruhi uji organoleptik dan pH. Tetapi tidak mempengaruhi uji homogenitas, tinggi busa dan iritasi. Kesimpulan: semakin besar konsentrasi ekstrak biji durian montong yang diberikan pada formulasi sabun cair maka semakin besar pula diameter zona hambat yang akan dihasilkan. Kata Kunci: ekstrak biji durian montong, formulasi sabun cair. Staphylococcus aureus, uji antibakteri, zona hambat ABSTRACT Infectious diseases are still widely suffered by people in developing countries, including Indonesia, which are caused by the presence of bacteria that grow such as Staphylococcus aureus bacteria. One alternative to overcome infectious diseases is done with natural ingredients that have antibacterial Durian montong fruit seeds are plants that contain active compounds such as flavonoids, tannins, and saponins which function as antibacterials. The purpose of this study was to determine the antibacterial activity of durian montong seed extract against Staphylococcus aureus bacteria in liquid soap preparations. Method: Durian montong seed extract was formulated in the form of liquid soap preparations with variations in the concentration of durian montong seed extract (Durio zibethinus Mur. F0 . F1 . 1%). F2 . 1%) and F3 . 1%). The liquid soap preparation was tested for physical properties such as organoleptic tests, homogeneity tests, pH tests, foam height tests and irritation tests, then antibacterial tests were carried out to determine the diameter of the inhibition zone in Staphylococcus aureus bacteria using the well method. Results: The study showed that differences in the concentration of durian montong seed extract in liquid soap affected the organoleptic and pH tests. But it did not affect the homogeneity, foam height and irritation tests. Conclusion: the greater the concentration of durian montong seed extract given to the liquid soap formulation, the greater the diameter of the inhibition zone that will be produced. Keywords: durian montong seed extract, liquid soap formulation. Staphylococcus aureus, antibacterial test, inhibition zone LATAR BELAKANG Penyakit infeksi disebabkan karena adanya bakteri yang tumbuh. Bakteri adalah mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, namun perlu bantuan alat seperti mikroskop (Radji, 2. Berbagai jenis bakteri Gram positif seperti Staphylococcus aureus. Salmonella typhi, dan Pseudomonas aeruginosa yang rutin menempel di tangan melalui kontak fisik merupakan salah satu penyebab penyakit menular (Aliviameita & Puspitasari, 2. Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang termasuk dalam famili Micrococcaceae, berbentuk bulat dan membentuk koloni mirip anggur yang berwarna keabu-abuan hingga kuning tua. Staphylococcus aureus terdapat di hidung, kulit, dan tenggorokan manusia (Brooks et al. , 2. Infeksi Staphylococcus dapat menyebabkan penyakit seperti infeksi pada folikel rambut, kelenjar keringat, bisul, infeksi pada luka, meningitis dan pneumonia (Entjang, 2. Menurut data dan informasi Studi Kesehatan Indonesia 2019, jumlah penyakit menular yang terjadi di Indonesia sebanyak 270 kasus per 1. 000 penduduk. Ini menunjukkan jumlah infeksi pada semua kelompok umur. Namun, untuk anak kecil, angkanya 843 per 1. 000 orang. (Dharmayanti & Tjandrarini, 2. Menjaga kebersihan diri dengan selalu mecuci tangan dengan menggunakan sabun cair merupakan salah satu upaya dalam menekan pertumbuhan bakteri (Chan et al. , 2. Sabun cair merupakan sediaan cair yang digunakan untuk membersihkan kulit dan juga dapat digunakan untuk mandi tanpa mengiritasi kulit, dibuat dari bahan dasar sabun yang ditambahkan surfaktan, pewangi, pengawet, penstabil busa, dan pewarna yang diperbolehkan (SNI, 1. Sabun cair mempunyai kelebihan yaitu pembuatannya lebih mudah, biaya pembuatannya lebih terjangkau, lebih terjaga kebersihan serta keamanannya dan juga kelembaban sabun cair lebih tinggi dibadingkan dengan sabun padat (Fauzi et al. , 2. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai sabun cair adalah biji durian montong (Durio Zibethinus Mur. Ekstrak metanol biji buah durian montong (Durio zibethinus Mur. mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA, yang merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus yang sudah tidak dapat lagi diatasi dengan berbagai golongan antibiotik (Aliviameita & Puspitasari. Aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi . dan metode dilusi untuk menentukan nilai MIC (Minimum Inhibitory Concentratio. dan MBC (Minimum Bactericidal Concentratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak mentanol biji buah durian montong (Durio zibethinus Mur. pada konsentrasi 1000mg/mlL memiliki aktivitas antibakteri dengan zona hambat 18 mm dengan nilai MIC didapatkan pada konsentrasi 31,25 mg/mL dan nilai MBC didapatkan pada konsentrasi 500 mg/mL (Affandi. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan tujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri sabun cair ekstrak biji buah durian montong (Durio zibethinus Mur. terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian dilakukan menggunakan metode rancang acak lengkap dengan variasi konsentrasi. Alat dan Bahan Alat yang dibutuhkan pada penelitian ini yaitu alat ekstrasi Ultrasonic Assisted Extraction (UAE) . erk Jinyuanb. , peralatan gelas (Herma. Pyre. Rotary evaporator (Biobase tipe RE100- Pr. , mikropipet dan tip, autoklaf (Allamerica. Laminar Air Flow (LAF), jarum ose, spatula drigalski, perforator, hotplate magnetic stirrer (Win. , vortex (Thermo scientifi. , pH meter (Ohau. , pH universal (Suncar. , inkubator (Yenac. , spektrofotometer UV-Vis(Shimadz. , waterbath, jangka sorong, penggaris, piknometer . , object glass. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu biji buah durian montong, metanol. H2SO4. CH3COOH. HCl 2N, pereaksi Bouchardat, pereaksi Dragendorff, pereaksi Mayer, etanol 96%. NaOH 10%, serbuk Mg. HCl pekat, aquadest. FeCl3 3%, kloroform. CH3COOH anhidrat. H2SO4 pekat, media cair PDL (Potato Dextrose Liqui. , media PDA (Potato Dextore Aga. , bakteri Staphylococcus aureus Determinasi Deteminasi tanaman buah durian montong (Durio zibethinus Mur. dilakukan di Laboratorium Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Tujuannya untuk memastikan bahwa bahan yang digunakan benar dan mengetahui keaslian tanaman yang akan digunakan dalam Pembuatan Simplisia Biji durian montong dikeringkan menggunakan lemari pengering pada suhu 40 oC. Simplisia yang diperoleh diserbukkan dan diayak menggunakan ayakan nomor 40 mesh. Ekstraksi Biji Durian Montong Serbuk biji buah durian montong (Durio zibethinus Mur. diekstraksi menggunakan UAE dengan frekuensi 40 KHz dan suhu 40oC selama 20 menit. Pelarut yang digunakan yaitu metanol dengan perbandingan serbuk dengan pelarut yaitu 1:10. Skrining Fitokimia Alkaloid: identifikasi alkaloid menggunakan 3 pereaksi yaitu Wegner. Mayer dan Dragendorff. Flavonoid: identifikasi flavonoid menggunakan 3 pereaksi yaitu Wilstater. Bate Smith dan NaOH 10%. Saponin: identifikasi saponin menggunakan pereaksi aquadest yang dipertegas dengan HCl 2N. Tanin: identifikasi tanin menggunakan pereaksi FeCl3 3%. Formulasi Sabun Cair Ekstrak biji buah durian montong (Durio zibethinus Mur. Tabel 1. Formulasi Sabun Cair Ekstrak biji buah durian montong (Durio zibethinus Mur. Kontrol Kontrol Bahan Fungsi Negatif Positif Ekstrak Biji Durian Zat Aktif Montong 1,55 3,55 5,55 Asam Pengawet Sitrat Carbopol Pengental Dinatrium Penstabil 0,25 0,25 0,25 0,25 EDTA Metil Sabun dettol Pengawet Paraben Pengental Gliserin Natrium LaurifilSulfat TEA Aquadest ad Surfaktan 1,25 1,25 1,25 1,25 Pengemulsi Pelarut Pembuatan Sabun Cair Natrium lauril sulfat dilarutkan dalam aquadest, diaduk hingga homogen kemudian ditambahkan Carbopol, diaduk sampai tercampur merata . Asam sitrat dilarutkan dengan gliserin dalam beaker glass, dipanaskan hingga meleleh, kemudian dimasukkan dinatrium EDTA dan TEA, ditambahkan metil paraben diaduk hingga homogen . assa Massa 1 ditambahkan kedalam massa 2 lalu diaduk sampai homogen, didiamkan pada suhu ruangan beberapa menit kemudian dimasukkan ekstrak biji durian montong yang telah disaring, aduk hingga homogen, setelah itu masukkan kedalam wadah. Uji Fisik Sabun Cair Uji organoleptik: pengamatan secara makroskopis meliputi bentuk, bau dan warna dari sabun cair. Uji homogenitas: diambil 1 mL sabun cair dioleskan pada objek glass. Uji tinggi busa: diambil 1 g sabun cair dan 10 mL aquadest dimasukkan dalam tabung kemudian digojog selama 20 detik dan diukur tinggi busa yang terbentuk. Uji pH: dilakukan menggunakan alat pH meter digital (ATC). Uji Antifungi Sabun Cair Sebanyak 100 AAL bakteri uji S. aureus di-pour plate dengan 30 ml media Nutrient Agar (NA) di cawan petri dan dihomogenkan lalu tunggu sampai memadat. Kemudian dibuat 4 sumuran dengan menggunakan cork borer berukuran 6 mm. Sumuran yang telah dibuat masing-masing diisi dengan formulasi sabun cair ekstrak biji durian sebanyak 50 AAL. Kemudian diinkubasikan dengan suhu 37AC dalam waktu 24-48 jam, selanjutnya diamati serta diukur diameter zona hambat yang muncul dengan menggunakan jangka sorong. Uji Iritasi Sabun Cair Pengujian iritasi formulasi sabun cair dilakukan menggunakan metode uji Draize dengan tikus Swiss Webster sebagai hewan uji. Penelitian ini melibatkan dua belas mencit, dibagi menjadi empat kelompok yang masing-masing berisi tiga mencit. Rambut pada bagian punggung mencit dicukur berbentuk kotak dengan ukuran 3 cm x 3 cm, yang akan diberikan Kelompok I diberi sediaan sabun cair tanpa ekstrak biji durian montong (F. , kelompok II diberi sediaan sabun cair 3,1% (F. , kelompok i diberi sabun cair 7,1% (F. , dan kelompok IV duberi sabun cair 11,1% (F. Setengah gram setiap sampel sabun dioleskan ke punggung tikus yang dicukur, ditutup dengan kain kasa steril, dan diamankan dengan Setelah 24 jam, lepaskan perban dan diamkan selama satu jam. Setelah pengamatan, ditutup lagi dengan perban yang sama dan diamati lagi setelah 72 jam. Analisis Data Data pengukuran zona hambat ekstrak biji durian montong sebagai antibakteri Staphylococcus aureus dianalisis secara statistik menggunakan program SPSS pada tingkat kepercayaan 96% ( = 0,. Data yang diperoleh dari hasil penelitian terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas. Uji yang dilakukan adalah uji Shapiro-Wilk. Apabila data yang diperoleh ternyata berdistribusi normal dan homogen, maka akan dilanjutkan uji ANOVA satu arah. Dan melanjutkan pengujian post-hoc dengan Tukey HSD. HASIL DAN PEMBAHASAN Determinasi Identifikasi tanaman durian montong dilakukan untuk mengetahui keaslian tanaman yang diteliti. Identifikasi botani yang dilakukan mengungkapkan bahwa sampel yang digunakan sebenarnya adalah tanaman Durian Montong dengan nama latin Durio zibethinus Murr. Hasil Pembuatan Simplisia Sebanyak 5 kg biji durian montong menghasilkan simplisia kering sebanyak 976 gram. Persentase susut pengeringan yaitu 80,4 % yang artinya bahan simplisia tersebut kehilangan 80,4% dari berat awalnya selama proses pengeringan yang disebabkan oleh penguapan air atau cairan lain yang ada dalam biji durian montong. Serbuk halus yang telah diayak dengan ayakan mesh 40 . lubang per 1 inci perseg. diperoleh sebanyak 855 gram. Hasil Ekstraksi Biji Durian Montong Hasil rendemen dari proses ekstraksi yang telah dilakukan, memperoleh nilai rendemen biji buah durian montong sebesar 11,3 %. Semakin besar nilai rendemen menunjukkan nilai ekstrak yang dihasilkan semakin banyak. Syarat rendemen ekstrak kental yaitu nilainya tidak kurang dari 10% (Farmakope Herbal Indonesia, 2. Dari hasil penelitian dinyatakan bahwa hasil rendemen biji durian montong menghasilkan rendemen yang mampu menarik zat aktif secara maksimal. Hasil Uji Iritasi Sabun Cair Menggunakan mencit Swiss Webster sebagai hewan percobaan, uji iritasi formulasi sabun cair dilakukan menggunakan metode uji Draise. Bulu punggung mencit dicukur persegi berukuran 3x3 cm. Kelompok I diberikan sabun cair tanpa ekstrak biji durian montong (F. , kelompok II diberi sabun cair 3,1% (F. , kelompok i diberikan sabun cair 7,1% (F. , dan kelompok IV diberikab sabun cair 11,5% (F. Setengah gram setiap sampel sabun dioleskan ke punggung mencit yang dicukur, ditutup dengan kain kasa steril, dan perban. Setelah 24 jam, lepaskan perban dan diamkan selama satu jam lalu amati. Setelah pengamatan, ditutup lagi dengan plester yang sama dan diamati lagi setelah 72 jam. Hasil Analisis Data Data pengukuran zona hambat ekstrak biji durian monton sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dianalisis secara statistik menggunakan program SPSS dengan tingkat kepercayaan 95% ( = 0,. , terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas Apabila data yang diperoleh berdistribusi normal dan homogen, dilanjutkan uji ANOVA satu arah dan tes post hoc dengan Tukey HSD. Hasil Skrining Fitokimia Tabel 2. Skrining Fitokimia Hasil Ekstrak Kental Metabolit Sekunder Pereaksi Uji Kualitatif Saponin Tanin FeCl3 HCl 2N Terbentuk busa stabil Terbentuk warna hijau kehitaman Flavonoid Willstater Terbentuk warna jingga Bate Smith Terbentuk warna ungu NaOH 10% Terbentuk warna kuning Mayer Terbentuk warna kuning atau putih Wegner Terbentuk warna coklat kehitaman Dragendorff Terbentuk warna jingga Alkaloid Berdasarkan tabel 2 senyawa metabolit sekunder yang terkadung dalam ekstrak kental biji durian montong (Durio zibethinus Mur. yang positif adalah saponin, tanin dan Hasil Uji Fisik Sabun Cair Formula Formula 0 Formula 1 Formula 2 Formula 3 Dettol Tabel 3. Uji Fisik Sabun Cair Uji Uji Organoleptk Cair agak kental. Homogen putih bening, tidak Cair agak kental. Homogen coklat muda, bau Cair agak kental. Homogen coklat muda, bau Cair agak kental. Homogen coklat tua, bau Cair agak kental. Homogen hijau muda, wangi Uji Tinggi Busa 40 mm Uji 40 mm 40 mm 40 mm 150 mm Hasil uji mutu fisik organoleptis, diketahui bahwa pada dettol. F0. FI. FII dan Fi memiliki bentuk cair agak kental. Dettol memiliki bau yang wangi sedangkan untuk F0 nya tidak berbau. Formulasi FI. FII dan FII memiliki aroma yang menyengat. Aroma yang menyengat disebabkan karena ekstrak kental biji durian berasal dari senyawa-senyawa sulfur seperti tiol dan disulfida (Lasekan et al. , 2. Warna dari sabun Dettol sangat menarik yakni hijau muda dan untuk F0 nya memiliki warna putih bening. Untuk warna sabun cair pada FI. FII berwarna coklat muda sedangkan pada Fi berwarna coklat tua. Warna coklat pada sabun cair terjadi ketika ekstrak disertakan sebagai bahan aktif, sehingga sabun cair memiliki warna coklat. Perbedaan warna antara FI. FII, dan Fi disebabkan oleh perbedaan jumlah ekstrak yang digunakan dalam setiap formula. Sebagai hasil uji kualitas fisik untuk homogenitas. Dettol. F0. FI. FII dan Fi dinyatakan homogen karena tidak ada partikel kasar yang diamati setelah penerapan formulasi pada kaca. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Kaban et al. menyatakan bahwa formulasi sabun cair dianggap homogen jika tidak ada partikel kasar yang muncul setelah diaplikasikan pada kaca. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, formulasi sabun cair F0. FI. FII dan Fi mempunyai uji mutu fisik yang baik dari segi keseragaman. Pengujian pH pada sabun cair ekstrak biji durian montong yaitu diperoleh hasil pH untuk basis sabun yaitu 8,1. F1 yaitu 8,4. F2 yaitu 8,6 dan F3 yaitu 8,9 yang sesuai dengan pH sabun cair yaitu 8-11 (SNI, 1. Hasil mutu fisik tinggi busa, diketahui bahwa pada F0. F1. F2, dan F3 memiliki tinggi busa yang sama yakni 40 mm. Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa tinggi busa sediaan sabun cair yang dihasilkan telah sesuai dalam kriteria tinggi busa yang Syarat tinggi buih/busa dari sabun cair yaitu 13-220 mm (SNI 1. Busa yang dihasilkan pada formulasi sabun cair berasal dari natrium lauril sulfat yang berfungsi sebagai surfaktan dalam formulasi sabun cair. Hasil Uji Antibakteri No. Tabel 4. Uji Antibakteri Sediaan Diameter Zona Keterangan Sabun Cair Hambat . Dettol 72 A0. Sangat kuat 81 A0. Lemah 19 A0. Sedang 84 A0. Sedang 69 A0. Sedang Sumber: Data primer yang sudah diolah . Zona hambat bakteri Staphylococcus aureus dengan konsentrasi F0 yaitu 9,81 mm A0. 299082 atau bisa dikatakan zona hambatnya lemah. Pada konsentrasi F1 memiliki zona hambat sebesar 10,18 mm A0. 855271 atau bisa dikatakan zona hambatnya sedang. Pada konsentrasi F2 memiliki zona hambat sebesar 12,84 mmA0. 299778 atau bisa dikatakan zona hambatnya sedang. Sedangkan untuk aktivitas penghambat paling tinggi diantara F1 dan F3 terdapat pada konsentrasi F3 sebesar 14,68mm A0. Zona hambat pada control positif . sebesar 20,72 mm A0. 256645 atau bisa dikatakan zona hambatnya sangat kuat. Hasil menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak biji durian montong (Durio zibethinus Mur. yang diberikan pada formulasi sabun cair maka semakin besar pula diameter zona hambat yang akan dihasilkan (Affandi et al,. Hasil Uji Iritasi Sabun Cair Tabel 5. Uji Iritasi Sabun Cair Selama 24 Jam Mencit Mencit Mencit Kelompok Kelompok Kelompok Parameter Mencit Kelompok Eritema (Skor 0 - . Edema (Skor 0 - . Sumber: Data primer yang sudah diolah . Keterangan: 0 = tanpa eritema/edema, 1 = sangat sedikit eritema/edema, 2 = eritema/edema ringan, 3 = eritema/edema sedang, dan 4 = eritema/edema berat (Arief & Fauzan, 2. Tabel 6. Uji Iritasi Sabun Cair Selama 72 Jam Mencit Mencit Mencit Mencit Kelompok Kelompok Kelompok Kelompok Parameter 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 Eritema (Skor 0 - . 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Edema (Skor 0 - . Sumber: Data primer yang sudah diolah . Keterangan: 0 = tanpa eritema/edema, 1 = sangat sedikit eritema/edema, 2 = eritema/edema ringan, 3 = eritema/edema sedang, dan 4 = eritema/edema berat (Arief & Fauzan, 2. Pengujian iritasi formulasi sabun cair dilakukan menggunakan metode uji Draize dengan mencit Swiss Webster sebagai hewan uji. Uji iritasi dilakukan untuk menentukan efek iritasi dari formulasi setelah aplikasi sehingga tingkat keamanannya dapat ditentukan sebelum formulasi dijual kepada masyarakat. Uji iritasi ini dilakukan untuk mencegah reaksi kulit yang merugikan, sedangkan tujuan pengamatan 24 dan 72 jam adalah untuk menentukan kemungkinan tertundanya reaksi iritasi (Sulaksmono, 2. Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa formulasi sediaan sabun cair tidak menimbulkan iritasi pada kulit mencit karena tidak terjadi kemerahan maupun pembengkakan pada kulit tikus akibat eritema maupun oedema. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Ekstrak biji durian montong memiliki efek antibakteri terhadap Staphylococcus aureus secara in vitro. Kandungan senyawa aktif yang teridentifikasi dalam biji durian montong yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus yakni flavonoid, tannin, dan Uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus menggunakan metode sumuran, menunjukkan adanya peningkatan luas diameter zona hambat seiring dengan meningkatnya konsentrasi ekstrak sehingga yang paling optimal menghambat adalah F3 dengan konsentrasi ekstrak 11,1%. Terdapat pengaruh besarnya konsentrasi ekstrak biji durian montong yang diberikan pada sabun cair terhadap diameter zona hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, yaitu semakin tinggi konsentrasi ekstrak biji durian montong, semakin luas juga zona hambat yang terbentuk terhadap Staphylococcus aureus. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai peningkatan konsentrasi ekstrak biji durian montong agar dapat diketahui konsentrasi yang efektif dalam menghambat bakteri staphylococcus aureus melebihi kontrol positif. Pada penelitian dibutuhkan sabun cair yang sama-sama berasal dari herbal antara formulasi sabun cair dengan control positifnya sehingga diameter zona hambatnya formulasi sabun cair tidak terpaut jauh atau dapat mengimbangi control positif. Penelitian belum dilakukan uji pendahuluan formulasi dimana tidak menambahkan pewangi sehingga terdapat bau yang menyengat. Sebaiknya dilakukan uji pendahuluan terlebih dahulu. DAFTAR PUSTAKA