Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 6 . , 2026 p-ISSN: 2774-6291 e-ISSN: 2774-6534 Available online at http://cerdika. id/index. php/cerdika/index Diskursus Digital dan Penjualan Kendaraan Listrik di Indonesia: Pendekatan Netnografi Muhammad Farouq Rosyadi*. Donny I Maramis. Revi Alvino. Ovalia Rukmana Universitas Bakrie. Indonesia Email: farouqrosyadi@gmail. Donny. maramis@bumiresources. alfino96@gmail. com, ovalia. rukmana@bakrie. Abstrak Pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dan kesiapan industri, tetapi juga oleh persepsi masyarakat yang terbentuk melalui media digital. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran video reviu mobil listrik di YouTube dalam membentuk persepsi konsumen serta kaitannya dengan perkembangan penjualan kendaraan listrik di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan netnografi dengan menganalisis kolom komentar pada tiga video reviu mobil listrik di YouTube, yang dikombinasikan dengan data penjualan kendaraan listrik dari GAIKINDO periode 2023Ae2025 dan wawancara dengan pemilik kendaraan listrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diskursus di YouTube didominasi oleh pertimbangan yang bersifat praktis dan rasional, seperti harga, biaya kepemilikan, jarak tempuh, dan ketersediaan infrastruktur pengisian daya. Meskipun pasar otomotif nasional mengalami perlambatan, pangsa pasar kendaraan listrik tetap menunjukkan peningkatan. Hasil wawancara mengonfirmasi bahwa video reviu di YouTube berperan sebagai sumber informasi dan pembanding antar merek, sementara keputusan pembelian akhir lebih banyak dipengaruhi oleh kebutuhan mobilitas, kebijakan pemerintah, serta pertimbangan jangka panjang terhadap teknologi kendaraan Penelitian ini menyimpulkan bahwa video reviu mobil listrik di YouTube berperan sebagai pendukung proses pengambilan keputusan, namun bukan sebagai faktor utama yang secara langsung mendorong penjualan. Kata kunci: kendaraan listrik, youtube, netnografi, penjualan kendaraan Abstract The growth of electric vehicles in Indonesia is influenced not only by government policies and industrial readiness, but also by public perceptions shaped through digital media. This study explores the role of electric vehicle review videos on YouTube in shaping consumer perceptions and their relation to the development of electric vehicle sales in Indonesia. The study employs a netnographic approach by analyzing comment sections from three electric vehicle review videos on YouTube, combined with official sales data from the Indonesian Automotive Industry Association (GAIKINDO) for the 2023Ae2025 period and interviews with electric vehicle The findings show that YouTube discussions are largely driven by practical and rational considerations, such as price, total cost of ownership, driving range, and charging infrastructure. Although the national automotive market experienced a slowdown, the market share of electric vehicles continued to grow. Interview results indicate that YouTube review videos mainly serve as information sources and tools for brand comparison, while final purchase decisions are more strongly influenced by mobility needs, government policies, and longterm considerations regarding electric vehicle technology. This study concludes that YouTube electric vehicle review videos support the consumer decision-making process, but do not directly determine sales growth. Keywords: electric vehicles, youtube, netnography, vehicle sales PENDAHULUAN Perkembangan kendaraan listrik . lectric vehicle / EV) di Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang semakin nyata dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan dorongan kebijakan pemerintah terkait transisi energi dan pengurangan emisi karbon, serta pemberian berbagai insentif fiskal dan nonfiskal. Kendaraan listrik diposisikan sebagai bagian dari strategi nasional untuk membangun sistem transportasi yang lebih berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil (International Energy Agency, 2. Namun demikian, pertumbuhan pasar kendaraan listrik di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh aspek kebijakan dan kesiapan industri, melainkan juga sangat bergantung pada bagaimana Diskursus Digital dan Penjualan Kendaraan Listrik di Indonesia: Pendekatan Netnografi masyarakat memaknai, mempersepsikan, dan menerima teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai teknologi yang relatif baru, kendaraan listrik masih dipersepsikan mengandung berbagai ketidakpastian dibandingkan kendaraan berbasis mesin pembakaran internal . nternal combustion engine / ICE) yang telah lama mapan (Rezvani et al. , 2018. Hardman et al. , 2. Kekhawatiran terkait jarak tempuh . ange anxiet. , keamanan baterai, biaya penggantian komponen utama, serta keterbatasan infrastruktur pengisian daya kerap muncul dalam diskursus publik dan memengaruhi sikap konsumen terhadap adopsi kendaraan listrik (Li et , 2020. IEA, 2. Selain faktor teknis, persepsi konsumen juga dipengaruhi oleh dinamika pasar dan strategi produsen, terutama masuknya pemain baru dengan pendekatan harga dan ekosistem yang lebih agresif, yang turut membentuk ekspektasi dan rasionalitas konsumen dalam menilai kendaraan listrik (Maulana et al. , 2. Dalam kondisi ketidakpastian tersebut, konsumen cenderung mencari informasi tambahan dari berbagai sumber nonformal yang dianggap lebih kontekstual dan merepresentasikan pengalaman nyata pengguna (Dikdik Harjadi & Dewi Fatmasari, 2025. Pramiarsih, 2024. Setiawan et al. , 2. Seiring dengan meningkatnya penetrasi internet dan media sosial. YouTube berkembang menjadi salah satu sumber informasi utama dalam proses pengambilan keputusan pembelian produk dengan tingkat keterlibatan tinggi, termasuk kendaraan bermotor. Video reviu mobil listrik yang disajikan oleh reviewer otomotif menampilkan pengalaman penggunaan secara langsung, perbandingan antarmerek, serta penilaian subjektif yang sering kali dipersepsikan lebih autentik dibandingkan iklan resmi produsen (Kotler & Keller, 2. Selain konten video itu sendiri, kolom komentar YouTube juga berfungsi sebagai ruang interaksi sosial digital tempat audiens saling bertukar opini, berbagi pengalaman, dan menegosiasikan makna terkait kendaraan listrik (Amrita et al. , 2024. Setyawan, 2. Interaksi yang berlangsung di kolom komentar tersebut membentuk diskursus publik yang bersifat organik dan kolektif, serta berperan sebagai bentuk electronic word of mouth . WOM). Diskursus ini berpotensi memperkuat minat beli melalui legitimasi sosial, tetapi juga dapat memperbesar resistensi terhadap kendaraan listrik apabila narasi negatif lebih dominan (Cheung & Thadani, 2012. Chen et al. , 2. Dalam konteks pasar kendaraan listrik Indonesia yang semakin kompetitif, diskursus digital tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan faktor struktural seperti strategi harga, persepsi kualitas merek, dan kesiapan ekosistem kendaraan listrik yang ditawarkan produsen (Maulana et al. , 2. Oleh karena itu, pemahaman terhadap peran media sosial perlu ditempatkan dalam konteks pasar yang lebih luas. Data penjualan kendaraan listrik di Indonesia yang dirilis oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan EV bersifat fluktuatif dan tidak selalu bergerak seiring dengan meningkatnya eksposur media atau popularitas konten digital tertentu (GAIKINDO, 2. Kondisi ini menimbulkan persoalan penelitian yang penting, yaitu adanya kesenjangan antara tingginya intensitas diskursus publik di media sosial dengan realisasi penjualan kendaraan listrik di pasar. Dengan kata lain, masih belum jelas bagaimana dan sejauh mana video reviu mobil listrik di YouTube berperan dalam membentuk persepsi dan minat konsumen yang kemudian dikaitkan dengan dinamika penjualan kendaraan listrik di Indonesia. Di sisi lain, sebagian besar penelitian terdahulu yang mengkaji kendaraan listrik dan media sosial masih memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, banyak studi berfokus pada pengukuran niat beli . urchase intentio. atau sikap konsumen melalui survei kuantitatif, tanpa mengaitkannya dengan data penjualan aktual. Kedua, penelitian yang memanfaatkan media sosial umumnya menganalisis konten yang diproduksi oleh perusahaan atau influencer. Diskursus Digital dan Penjualan Kendaraan Listrik di Indonesia: Pendekatan Netnografi sementara diskursus yang berkembang di kolom komentar sebagai representasi interaksi sosial konsumen masih relatif kurang dieksplorasi. Ketiga, kajian yang menggunakan pendekatan netnografi sering kali berdiri sendiri sebagai analisis kualitatif, tanpa dikombinasikan dengan data pasar atau pengalaman empiris Padahal, dalam konteks kendaraan listrik, keputusan pembelian dipengaruhi oleh interaksi yang kompleks antara persepsi digital, faktor struktural pasar, serta pengalaman penggunaan nyata (Putri & Rahman, 2. Keempat, dalam konteks Indonesia, penelitian yang secara khusus mengaitkan video reviu mobil listrik di YouTube, diskursus publik di kolom komentar, dan data penjualan resmi dari lembaga industri seperti GAIKINDO masih sangat terbatas. Berdasarkan celah tersebut, penelitian ini memosisikan diri untuk mengisi gap riset dengan mengintegrasikan tiga pendekatan utama. Pertama, penelitian ini menggunakan pendekatan netnografi untuk menganalisis kolom komentar YouTube pada video reviu mobil listrik sebagai representasi diskursus publik dan e-WOM digital. Kedua, temuan netnografi tersebut dikaitkan dengan data penjualan kendaraan listrik dari GAIKINDO guna memberikan konteks empiris terhadap dinamika pasar. Ketiga, penelitian ini melibatkan wawancara pemilik mobil listrik untuk mengonfirmasi atau menegasikan narasi yang berkembang di media sosial berdasarkan pengalaman penggunaan nyata. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana persepsi dan diskursus publik yang terbentuk dalam kolom komentar YouTube pada video reviu mobil listrik berperan dalam membentuk sikap dan minat konsumen, serta bagaimana peran tersebut dikaitkan dengan tren penjualan kendaraan listrik di Indonesia. Penelitian ini tidak bertujuan menguji hubungan kausal, melainkan memahami peran diskursus digital sebagai katalis kognitif dan sosial dalam proses adopsi kendaraan listrik. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain netnografi sebagai metode utama, yang dikombinasikan dengan analisis data sekunder kuantitatif dan wawancara Kombinasi metode ini digunakan untuk memahami peran diskursus digital dalam membentuk persepsi dan minat konsumen, serta keterkaitannya dengan dinamika penjualan kendaraan listrik di Indonesia. Pendekatan netnografi digunakan untuk memahami diskursus digital yang terbentuk secara alami melalui interaksi pengguna di media sosial, khususnya dalam kolom komentar, yang merefleksikan persepsi, pengalaman, dan evaluasi audiens terhadap suatu konten atau produk. (Lutfi et al. , 2. Netnografi digunakan sebagai metode utama untuk menganalisis diskursus publik yang berkembang secara alami dalam kolom komentar YouTube. Netnografi merupakan adaptasi metode etnografi ke dalam konteks komunitas daring yang memungkinkan peneliti mengamati dan menafsirkan makna, pola interaksi, serta konstruksi sosial yang terbentuk dalam ruang digital tanpa intervensi langsung terhadap partisipan (Kozinets, 2. Pendekatan ini relevan untuk mengkaji bagaimana persepsi dan opini mengenai kendaraan listrik dibangun, dinegosiasikan, dan disebarluaskan melalui interaksi antarpengguna YouTube. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas tiga jenis utama. Pertama, data netnografi yang diperoleh dari kolom komentar YouTube pada tiga video reviu mobil listrik di Indonesia. Pemilihan video dilakukan secara purposive dengan kriteria: . video membahas reviu kendaraan listrik yang dipasarkan di Indonesia, . memiliki jumlah penayangan yang tinggi dan kolom komentar yang aktif, serta . dipublikasikan dalam periode yang relatif berdekatan agar memungkinkan analisis keterkaitan temporal dengan data penjualan. Pemilihan tiga video tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh konten kendaraan listrik di YouTube, melainkan untuk menangkap diskursus yang paling intens dan relevan dalam periode tertentu. Diskursus Digital dan Penjualan Kendaraan Listrik di Indonesia: Pendekatan Netnografi Kedua, data penjualan kendaraan listrik diperoleh dari laporan resmi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO). Data ini mencakup angka penjualan wholesales dan retail kendaraan listrik dalam periode sebelum dan sesudah publikasi video reviu yang Data penjualan digunakan untuk mengidentifikasi pola pertumbuhan pasar serta mengamati kemungkinan keterkaitan antara intensitas diskursus digital dan dinamika penjualan kendaraan listrik (GAIKINDO, 2. Ketiga, data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pemilik mobil listrik di Indonesia. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria: . telah menggunakan mobil listrik minimal enam bulan, . pernah mengakses konten video reviu mobil listrik di YouTube sebelum atau setelah pembelian, dan . bersedia menceritakan pengalaman penggunaan serta proses pengambilan keputusan pembelian. Wawancara ini bertujuan untuk mengonfirmasi atau menegasikan narasi yang berkembang di media sosial berdasarkan pengalaman empiris pengguna. Pengumpulan data netnografi dilakukan dengan mengidentifikasi, mengarsipkan, dan mendokumentasikan komentar-komentar yang relevan dari kolom komentar YouTube pada ketiga video yang dipilih. Komentar dipilih secara purposive dengan mempertimbangkan relevansi terhadap topik kendaraan listrik, seperti persepsi terhadap harga, jarak tempuh, infrastruktur pengisian daya, keamanan baterai, biaya perawatan, serta perbandingan dengan kendaraan berbasis mesin pembakaran internal. Untuk menjaga konteks diskursus, komentar dianalisis secara berurutan dan tidak dipisahkan dari alur percakapan antar pengguna. Data penjualan kendaraan listrik dikumpulkan melalui dokumentasi laporan bulanan dan tahunan GAIKINDO. Data tersebut kemudian disusun dalam bentuk deret waktu untuk mengamati tren penjualan dan perubahan pola pertumbuhan sebelum dan sesudah periode publikasi video reviu yang dianalisis. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur, baik secara daring maupun luring, dengan durasi rata-rata 45Ae60 menit per informan. Pendekatan semi-terstruktur dipilih agar peneliti memiliki kerangka pertanyaan yang konsisten, sekaligus memberikan ruang bagi informan untuk mengemukakan pengalaman dan pandangan secara mendalam. Analisis data netnografi dilakukan menggunakan analisis tematik, mengikuti tahapan yang dikemukakan oleh Braun dan Clarke . Tahap pertama adalah familiarization, di mana peneliti membaca dan memahami seluruh komentar secara berulang untuk menangkap konteks diskursus. Tahap kedua adalah open coding, yaitu pemberian kode awal pada komentar yang mengandung makna relevan, seperti optimisme terhadap EV, skeptisisme, kekhawatiran infrastruktur, legitimasi sosial, dan pembandingan dengan kendaraan ICE. Tahap ketiga adalah axial coding, di mana kode-kode awal dikelompokkan ke dalam tema-tema yang lebih luas. Tahap keempat adalah theme refinement, yaitu evaluasi dan penajaman tema agar merepresentasikan pola diskursus secara konsisten. Data penjualan dianalisis secara deskriptif dengan mengamati tren dan perubahan pola penjualan kendaraan listrik dalam periode tertentu. Analisis ini tidak dimaksudkan untuk menguji hubungan kausal secara statistik, melainkan untuk memberikan konteks empiris terhadap temuan netnografi dan membantu interpretasi keterkaitan antara diskursus digital dan dinamika pasar. Data wawancara dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola pengalaman, motivasi pembelian, serta persepsi pengguna terhadap kesesuaian antara narasi media sosial dan realitas penggunaan kendaraan listrik. Hasil analisis wawancara kemudian dibandingkan dengan temuan netnografi sebagai bentuk triangulasi data. Untuk menjaga keabsahan penelitian, digunakan strategi triangulasi sumber dan metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data dari kolom komentar YouTube, data penjualan GAIKINDO, dan wawancara pemilik mobil listrik. Triangulasi metode dilakukan dengan mengombinasikan pendekatan netnografi, analisis data sekunder, dan Diskursus Digital dan Penjualan Kendaraan Listrik di Indonesia: Pendekatan Netnografi wawancara mendalam. Selain itu, peneliti juga melakukan pencatatan reflektif selama proses pengodean untuk meminimalkan bias interpretasi (Kozinets, 2. Pertimbangan etis dalam penelitian ini dilakukan dengan tidak menampilkan identitas pribadi pengguna YouTube maupun informan wawancara. Seluruh data digunakan untuk kepentingan akademik dan dianalisis secara anonim. Berdasarkan kajian pustaka tersebut, penelitian ini memandang video reviu mobil listrik di YouTube sebagai pemicu terbentuknya diskursus digital melalui interaksi dan electronic word of mouth . -WOM) di kolom komentar. Diskursus ini membentuk persepsi dan minat konsumen terhadap kendaraan listrik, namun pengaruhnya terhadap penjualan tidak bersifat Keputusan pembelian dimediasi oleh faktor struktural pasar, seperti harga, insentif pemerintah, dan kesiapan infrastruktur pengisian daya. Penjualan kendaraan listrik merefleksikan interaksi antara persepsi digital dan faktor struktural tersebut, sementara pengalaman pemilik kendaraan listrik digunakan sebagai validasi empiris terhadap narasi yang berkembang di media sosial. Gambar 1 Diagram Konseptual Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Netnografi pada Kolom Komentar YouTube Bagian berikut menyajikan hasil analisis netnografi berdasarkan visualisasi dan proses Interpretasi temuan dikaitkan dengan literatur pada bagian pembahasan. Tabel 1. Video Youtube yang Dianalisis Aspek Judul: Link: Host: Jumlah Penonton: Jumlah Komentar Judul: Link: Host: Jumlah Penonton: Keterangan Mobil Listrik atau Mobil Bensin ? Dengarkan Pendapat Fitra Eri | Helmy Yahya Bicara https://w. com/watch?v=lqY6LQ-UiXs Fitra Eri dan Helmy Yahya 1,2rb BYD M6: AVANZANYA MOBIL LISTRIK! https://w. com/watch?v=xk5tzep2zFs Ridwan Hanif Diskursus Digital dan Penjualan Kendaraan Listrik di Indonesia: Pendekatan Netnografi Jumlah Komentar Judul: Link: Host: Jumlah Penonton: Jumlah Komentar Perhatikan ini Sebelum Anda Membeli BYD ATTO 1 | First Drive https://w. com/watch?v=2EYA2kxtSDM Om Mobi 1,2rb Sumber: diolah penulis Kolom komentar diperlakukan sebagai ruang interaksi sosial digital tempat terbentuknya diskursus publik mengenai kendaraan listrik, yang mencerminkan persepsi, sikap, serta ekspektasi konsumen secara alami (Kozinets, 2. Analisis dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu visualisasi word cloud, proses coding, dan penyusunan hierarchy chart untuk memahami struktur makna yang berkembang. Daftar Kata Berikut ini adalah 30 kata yang paling sering muncul dalam kolom komentar vido youtube yang dianalisis: Tabel 3 Daftar Kata Kata Panjang Jumlah Persentase (%) Diskursus Digital dan Penjualan Kendaraan Listrik di Indonesia: Pendekatan Netnografi Tabel ini menunjukkan bahwa komentar YouTube tentang mobil listrik didominasi oleh pembahasan kendaraan dan harga, yang menandakan kuatnya pertimbangan rasional dalam diskursus warganet. Kata-kata terkait ekonomi dan keputusan pembelian muncul menonjol, diikuti oleh perbandingan merek dan negara asal. Temuan ini mengindikasikan bahwa minat beli mobil listrik terutama dipengaruhi oleh pertimbangan harga, biaya, dan persepsi terhadap merek, dengan aspek teknis sebagai pendukung. Awan Kata Gambar 2. Awan Kata (Word Clou. Hasil visualisasi word cloud menunjukkan bahwa kata-kata yang paling sering muncul dalam kolom komentar berkaitan erat dengan aspek fungsional dan ekonomis kendaraan listrik. Kata-kata seperti harga, baterai, murah, listrik, pajak mendominasi diskursus, menunjukkan bahwa perhatian utama audiens masih berfokus pada pertimbangan rasional dan utilitarian. Selain itu, muncul pula kata-kata seperti mahal, pajak, biaya, dan toyota, yang merefleksikan dimensi emosional dan psikologis dalam menilai kendaraan listrik dan perbandingan dengan kendaraan konvensional. Dominasi kata-kata tersebut mengindikasikan bahwa diskursus publik mengenai mobil listrik belum sepenuhnya bergeser ke aspek simbolik atau gaya hidup, melainkan masih berada pada tahap evaluasi risiko dan manfaat dasar. Temuan ini sejalan dengan literatur yang menyebutkan bahwa pada tahap awal adopsi teknologi, konsumen cenderung lebih sensitif terhadap isu biaya, risiko, dan keandalan dibandingkan aspek citra atau identitas (IEA, 2. Bagan Hierarki Gambar 3. Bagan Hierarki (Hierarchy Char. Diskursus Digital dan Penjualan Kendaraan Listrik di Indonesia: Pendekatan Netnografi Hasil coding menunjukkan bahwa komentar YouTube tentang mobil listrik paling banyak berisi persepsi kognitif, seperti pembahasan mengenai mobil, listrik. BYD, bensin, baterai. BBM, dan hybrid. Hal ini menunjukkan bahwa warganet cenderung menilai mobil listrik secara rasional dengan membandingkan aspek teknis dan fungsionalnya dengan kendaraan Diskusi ini mencerminkan proses berpikir dan pertimbangan sebelum muncul ketertarikan untuk membeli. Aspek minat beli terlihat dari kemunculan kata-kata seperti harga, beli, harganya, pajak, biaya, jual, dan baru. Temuan ini menunjukkan bahwa ketertarikan membeli mobil listrik sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi, terutama keterjangkauan harga dan biaya Minat beli muncul bukan secara spontan, tetapi sebagai hasil dari perhitungan untungAerugi. Selain itu, terdapat pengaruh sosial dari konteks YouTube, yang ditunjukkan melalui kata-kata seperti Indonesia. China. Jepang, pemerintah. Toyota. BYD, serta nama figur publik. Hal ini menandakan bahwa opini warganet tidak hanya dibentuk oleh produk itu sendiri, tetapi juga oleh narasi negara, kebijakan, dan kredibilitas reviewer yang membahas mobil listrik. Sementara itu, aspek emosi relatif lebih kecil, dengan kata-kata seperti murah, mahal, dan Emosi berperan sebagai penguat atau pelemah persepsi dan minat beli, bukan sebagai faktor utama. Secara keseluruhan, hasil coding ini menunjukkan bahwa komentar YouTube memengaruhi minat membeli mobil listrik terutama melalui pertimbangan rasional dan sosial, dengan emosi sebagai faktor pendukung. Analisis Keterkaitan Data Penjualan Kendaraan Listrik Untuk memberikan konteks empiris terhadap temuan netnografi, bagian berikut mengaitkan diskursus digital dengan data penjualan kendaraan listrik. Hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan pangsa pasar kendaraan listrik tidak terjadi secara merata di seluruh merek, melainkan terkonsentrasi pada merek-merek tertentu yang mampu memanfaatkan momentum pasar dan membangun persepsi positif di mata konsumen. Dalam konteks penelitian ini, data tersebut menguatkan temuan netnografi bahwa diskursus publik di media sosialAikhususnya melalui video reviu mobil listrikAilebih banyak berfokus pada merek-merek yang baru masuk dan menawarkan nilai baru, seperti harga yang lebih kompetitif, teknologi baterai, dan fitur kendaraan. Namun demikian, meskipun terdapat keterkaitan temporal antara meningkatnya perhatian publik terhadap kendaraan listrik dan pertumbuhan pangsa pasar EV, data ini juga menunjukkan bahwa pengaruh media digital terhadap penjualan bersifat tidak langsung. Penurunan total pasar otomotif menegaskan bahwa keputusan pembelian tetap dipengaruhi oleh faktor struktural, seperti kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, dan daya beli konsumen. Oleh karena itu, peningkatan pangsa pasar kendaraan listrik lebih tepat dipahami sebagai hasil interaksi antara diskursus digital, strategi produsen, dan kebijakan pasar, bukan semata-mata akibat eksposur media sosial. Hasil wawancara menunjukkan adanya pola yang sama, namun disertai perbedaan sikap, dalam melihat peran YouTube dan pengalaman menggunakan kendaraan listrik. Pada wawancara pertama, keputusan membeli kendaraan listrik terutama dipengaruhi oleh faktor kebijakan dan kemudahan mobilitas, khususnya manfaat bebas ganjil-genap. Informan tidak menunjukkan kekhawatiran berarti terhadap teknologi kendaraan listrik karena memandangnya sebagai teknologi baru yang akan terus berkembang. Dalam proses pengambilan keputusan. YouTube dimanfaatkan sebagai sumber informasi tambahan, terutama untuk memahami aspek teknis seperti jarak tempuh baterai serta membantu memilih merek dan tipe kendaraan. Kolom komentar justru memperkuat keyakinan informan karena memberikan gambaran ringkas dari pengalaman pengguna lain. Setelah menggunakan Diskursus Digital dan Penjualan Kendaraan Listrik di Indonesia: Pendekatan Netnografi kendaraan listrik, informan merasa puas dan bersedia merekomendasikannya, terutama karena efisiensi biaya dan manfaat kebijakan yang dirasakan langsung. Sebaliknya, wawancara kedua menunjukkan sikap yang lebih berhati-hati. Informan juga aktif menggunakan YouTube sebelum membeli, terutama untuk menilai kualitas kendaraan serta memahami kelebihan dan kekurangannya. Namun, keputusan pembelian lebih didorong oleh kebutuhan praktis akan kendaraan dibandingkan keyakinan penuh terhadap teknologi kendaraan listrik. Informan masih menyimpan keraguan terkait keberlanjutan jangka panjang, khususnya mengenai daya tahan teknologi dan kepastian masa depan kendaraan listrik. Dalam hal ini, kolom komentar YouTube tidak sepenuhnya memperkuat keyakinan, melainkan justru menambah keraguan karena beragamnya pendapat dan pengalaman pengguna. Meskipun pengalaman penggunaan dinilai sesuai dengan ekspektasi awal, informan belum bersedia merekomendasikan kendaraan listrik kepada orang lain karena masih melihatnya sebagai teknologi yang sedang berada dalam tahap transisi. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa video reviu berperan penting dalam membentuk persepsi dan minat konsumen, meskipun pengaruhnya terhadap penjualan tidak bersifat langsung dan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Netnografi menemukan bahwa kolom komentar YouTube menjadi ruang diskusi aktif mengenai manfaat dan risiko kendaraan listrik, yang didominasi oleh pertimbangan praktis seperti harga, biaya operasional, jarak tempuh, dan ketersediaan infrastruktur pengisian daya. Selain itu, peran reviewer dan pengalaman pengguna lain turut memperkuat diskursus ini, menjadikan media sosial sebagai referensi penting dalam tahap awal pengambilan keputusan konsumen. Analisis data penjualan menunjukkan bahwa meskipun pasar otomotif nasional mengalami perlambatan, pangsa pasar kendaraan listrik tetap meningkat, meskipun tidak merata antar merek. Pertumbuhan ini lebih terlihat pada merek yang mampu menawarkan nilai relevan bagi konsumen dan didukung oleh harga yang kompetitif, insentif kebijakan, serta kesiapan infrastruktur. Wawancara juga mengungkapkan bahwa video reviu di YouTube berfungsi sebagai sumber informasi awal dan alat pembanding sebelum pembelian, namun keputusan akhir tetap ditentukan oleh kesesuaian antara informasi digital dan pengalaman nyata pengguna. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa video reviu berperan sebagai pendukung keputusan konsumen, namun adopsi kendaraan listrik di Indonesia memerlukan dukungan kebijakan konsisten, harga kompetitif, serta penguatan infrastruktur untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA