Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik. Volume XI Nomor I Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 136-155 DOI: https://doi. org/10. 58374/sepakat. Available online at: https://ejurnal. id/index. php/Sepakat SINODALITAS GEREJA DAN PEMAHAMAN TENTANG GENDER : KAJIAN PERSPEKTIF ENSIKLIK MULIERIS DIGNITATEM DI PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA SASI KEFAMENANU-NTT Anselmus Yata Mones1. Maria Andika Feka2 Sekolah Tinggi Pastoral St. Petrus Keuskupan Atambua *anselmojata@gmail. Alamat: Jl Eltari. Km. Naiola. Kec. Bikomi. Kab. TTU-NTT Korespondensi penulis: anselmoja@gmail. Abstract. Women continue to be victims of domestic violence, sexual harassment, and other forms of gender-based violence in various places. This research aims to deeply understand the synodality of the Church in shaping the congregation's understanding of gender. The meaning of synodality is closely related to the mission or service of the Church, which also involves women, thus requiring principles to further shape the understanding of gender from the perspective of Mulieris Dignitatem. The method used in this research is a qualitative descriptive method where the tools used for data collection are observation and The research results show that the community's understanding of gender is still limited to the equality of men and women. Understanding how to honor women as partners in God's creation and act like God in holiness has not yet been fully realized in real life. All congregants must comprehend gender understanding in the Church to prevent discrimination that can cause women to feel marginalized and perceive themselves as a weak, small, alienated, and useless group. However, on the contrary, women must always be taken into account, especially their role in responding to God's work of salvation. Synodality becomes a bridge to understanding gender and a key to further understanding gender in the perspective of Mulieris Dignitatem. Keywords: Synodality of the Church. Gender. Mulieris Dignitatem. Abstrak. Wanita masih menjadi korban kekerasan domestik, pelecehan seksual, dan kekerasan berbasis gender lainnya diberbagai tempat. Penelitian ini bertujuan untuk memaknai secara mendalam sinodalitas Gereja dalam membentuk pemahaman umat tentang gender. Makna sinodalitas ini berkaitan erat dengan misi atau pelayanan Gereja yang di dalamnya juga terlibat kaum perempuan sehingga diperlukan prinsipprinsip untuk semakin membentuk pemahaman tentang gender perspektif Mulieris Dignitatem. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif di mana alat yang digunakan untuk mengumpulkan datanya adalah observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman umat akan gender masih sebatas kesetaraan pria dan wanita. Pemahaman akan tatacara menghargai perempuan sebagai patner ciptaan Allah dan bertindak menyerupai Allah dalam kekukudusan belum begitu dimaknai dalam kehidupan nyata. Pemahaman gender dalam Gereja harus dipahami oleh semua umat agar tidak terjadi diskriminasi yang dapat membuat perempuan selalu tercehkan, merasa diri sebagai kelompok lemah, kecil, terasingkan dan tak berguna. Namun sebaliknya perempuan harus selalu diperhitungkan terutama perannya dalam menganggapi karya keselamatan Allah. Sinodalitas menjadi jembatan untuk memahami gender dan kunci untuk lebih memahami gender dalam perpektif Mulieris Dignitatem. Kata kunci: Sinodalitas Gereja. Gender. Mulieris Dignitatem. Received: Februari 14, 2025. Revised: 18 Maret, 2025. Accepted: 21 Maret, 2025. Published: Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 136-155 LATAR BELAKANG Sinodalitas menjadi suatu harapan bagi Gereja pada abad XXI ini. Paus Fransiskus melihat adanya harapan pada peringatan 50 tahun berdirinya sinode para uskup oleh Paus Paulus VI (Hilario, 2. Dengan dicetuskan harapan baru bagi Gereja. Paus Fransiskus secara khusus mengajak seluruh komponen Gereja untuk melihat kembali misi Gereja dalam dunia yang semakin berubah terutama hal penting yang harus digali yakni krisis yang dialami oleh Gereja, yang menyebabkan Gereja tidak bertahan pada misi yang sebenarnya (Tomatala, 2. Tugas misi mencakup sesuatu yang luas dan mendalam sebagaimana tuntutan-tuntutan kehidupan pada masa kini (Susanto, 2. Misi Gereja yang sesungguhnya adalah mewartakan Sabda Allah di tengah dunia. Gereja mewartakan apa yang didengarnya, diterima dan kemudian disampaikan kepada yang lain (Inriani, 2. Gereja adalah pewarta. Sebagai pewarta. Gereja harus mampu memahami apa yang diterima dan kemudian disampaikan kepada orang lain. Misi Gereja tidak hanya diwartakan oleh orang-orang tertentu dalam hal ini kaum klerus, tetapi juga menjadi tugas dan tanggung jawab setiap orang yang percaya pada Kristus, termasuk kaum perempuan. Dokumen Mulieris Dignitatem menekankan martabat dan panggilan kaum perempuan mendapatkan posisi yang setara dan penghargaan terhadap harkat dan martabat perempuan diangkat (Eduardus, 2. Perempuan tidak dilihat sebagai yang terbelakang, yang suaranya tidak diperhitungkan, tetapi justru perempuanlah yang menggenapi karya keselamatan (Ujan, 2. Sebagaimana Bunda Maria memiliki peran amat penting dalam karya keselamatan. Ia menjadi teladan iman bagi seluruh umat, ketaatan dan kerendahan hatinya menjadi contoh bagi semua orang beriman. Dalam diri perempuan. Maria menjadi suatu kepenuhan waktu. Pemenuhan inilah yang mengangkat martabat perempuan. Ia yang kecil dan sederhana dipilih oleh Allah menjadi untuk Bunda Allah, karena dialah yang melahirkan Yesus. Anak Allah (Theotoko. (Kebingin, 2. Sebagai Bunda Allah. Maria yang adalah seorang perempuan dengan segala kepenuhan rahmat yang dimiliki. Ia mempersembahkan dirinya untuk melayani. Ia sadar bahwa sebagai seorang hamba Tuhan, tugasnya ialah melayani sesuai dengan kehendak Allah. Martabat setiap perempuan dan panggilannya adalah kesatuan dengan Allah. Maria menjadi model pertama yang menunjukkan kepada Gereja martabat sesungguhnya dari setiap ciptaan. (Ujan, 2. Sebagai ciptaan, baik itu laki- SINODALITAS GEREJA DAN PEMAHAMAN TENTANG GENDER : KAJIAN PERSPEKTIF ENSIKLIK MULIERIS DIGNITATEM DI PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA SASI KEFAMENANU-NTT laki maupun perempuan, semuanya dipanggil kepada kesucian atau kesatuannya yang erat dengan Allah. Penciptanya. Mulieris Dignitatem juga menggambarkan tentang dua dimensi penting yang dimiliki oleh perempuan. Pertama, keibuan. Untuk menjadi seorang ibu, seorang perempuan harus memberikan seluruh dirinya untuk mengandung dan melahirkan. Proses pertumbuhan seorang anak dalam rahim seorang ibu adalah suatu misteri yang hanya bisa dimengerti oleh seorang ibu. Melalui insting keibuannya, ia belajar memahami persekutuan atau persatuan dengan Allah. Kedua, keperawanan demi kerajaan Allah. Pernikahan bukan satu-satunya jalan untuk memahami misteri kesatuan dengan Allah. Setiap orang yang dipanggil oleh Allah telah diberikan rahmat sehingga kepadanya ia mampu untuk menjalani tugas panggilan dengan bebas dan penuh tanggung jawab. Keperawanan kaum perempuan merupakan upaya membaktikan seluruh hidup mereka pada jalan yang telah Tuhan tentukan bagi mereka. Hal ini bukan hanya berlaku bagi kaum perempuan tetapi juga bagi kaum laki-laki yang memilih jalan hidup serupa. Persembahan diri secara total kepada Allah dilaksanakan dengan mengikrarkan tiga nasehat injil yakni kemurnian, kemiskinan dan ketaatan. Dengan ketiga kaul ini, orang semakin mendekatkan diri pada Allah. Kaul mengandung suatu kewajiban berupa pelayanan dan pengudusan diri (Wiliam, 2. Kaul merupakan jalan hidup bagi kemuliaan Allah. Hal ini berarti bahwa pengikraran ketiga kaul tersebut dapat menjadi sarana dan wujud pemulihan pribadi manusia sebagai citra Allah (Zebua, 2. Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa gender bukan sekedar penyetaraan antara perempuan dan laki-laki dengan sikap, sifat dan karakternya. Gender yang dimaksudkan adalah pengakuan untuk mengangkat atau menjunjung tinggi martabat kaum perempuan. Perempuan tidak boleh dipandang sebagai makhluk yang lemah dan tidak diperhitungkan tetapi sebaliknya justru harus mendapat tempat yang istimewa yang setara dengan laki-laki karena karena kedudukan dan peran perempuan itu sangat penting dalam kehidupan semua manusia. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 136-155 KAJIAN TEORITIS Dalam sinodalitas. Gereja berjuang untuk keluar dari dalam dirinya dan melihat setiap aspek kehidupan yang diwarnai dengan kehadiran perempuan. Gender menjadi suatu topik yang perlu didalami agar dapat memahami peran perempuan dalam kehidupan Gender merupakan suatu konsep kebudayaan yang digunakan untuk membedakan peran, sikap atau perilaku dan karakter yang dimiliki oleh seorang laki-laki dan perempuan dalam masyarakat (Zega, 2. Gereja Katolik memandang bahwa manusia diciptakan setara baik sebagai laki-laki maupun sebagai perempuan, dalam martabat sebagai gambaran Allah, untuk saling melengkapi satu sama lain (KGK. Dalam penelitian terdahulu sebagaimana diungkapkan oleh Langobelen, menemukan bahwa pada masyarakat Lamaholot memiliki ideologi yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi pelbagai peran dalam kehidupan sosial masyarakat (Langobelen, 2. Kultur budaya sebagaimana dibangun oleh masyarakat Lamaholot telah menjadi mapan dan tak terbantahkan yang menyebabkan ketidakadilan gender pada kaum perempuan. Dalam penelitian lain sebagaimana diungkapkan oleh Harnowo, dkk. ,bahwa diskriminasi terhadap perempuan dipicuh oleh perilaku perempuan itu sendiri yakni cara berpakaian dan penampilan fisik yang sangat fulgar dapat mendorong terjadinya kekerasan terhadap kaum perempuan (Harnowo et al. , 2. Berdasarkan beberapa hasil penelitian terdahulu sebagaimana diungkapkan diatas, masih terdapat gap atau kesenjangan yang sangat mencolok antara harapan akan kesetaraan gender dan perilaku ketimpangan yang tidak menghargai gender. Harapannya adalah bahwa sinodalitas memberi dampak yang baru bagi pemahaman umat akan gender seturut dokumen Mulieris Dignitatem. Fakta yang terjadi saat ini, dalam kehidupan perempuan masih dilihat sebagai warga kelas dua, kekerasan terhadap perempuan, pelecehan, diskriminasi dan masalah masalah lainnya seolah membuat perempuan tak berdaya. Demikianpun peran perempuan dalam kehidupan sehari-hari seolah tak berdaya berhadapan dengan dominasinya kaum laki-laki. Peran yang seolah tak memberi ruang persamaan pada kaum perempuan inilah yang kemudian ditegaskan SINODALITAS GEREJA DAN PEMAHAMAN TENTANG GENDER : KAJIAN PERSPEKTIF ENSIKLIK MULIERIS DIGNITATEM DI PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA SASI KEFAMENANU-NTT dalam dokumen Mulieris Dignitatis, di mana harkat dan martabat perempuan mendapat tempat yang setara dengan kaum laki-laki (Ujan, 2. Sinodalitas menjadi keadaan berahmat bagi manusia untuk merefleksikan sikapnya terhadap gender. Dalam sinodalitas, umat berjalan bersama, berdialog satu sama lain untuk mencari solusi bersama. Menurut rasul Paulus empat hal prinsipil yang perlu diperhatikan dalam kegiatan sinodal, di ataranya adalah, pertama. karunia atau rahmat merupakan pemberian secara cuma-cuma dari Allah berkat karya Roh kudus dalam setiap pribadi manusia, bukan karena usaha pribadi atau kebaikan yang dilakukan setiap pribadi (Situmorang, 2. Orang-orang yang dianggap lemah atau yang kelihatan hanya memiliki sedikit rahmat justru harus diberi perhatian secara khusus atau didahulukan. Diversitas atau keberagaman bukan menjadi suatu alasan untuk menciptakan pemisahan, melainkan menjadi tempat bertumbuhnya suatu persekutuan atau persatuan. Kedua. rahmat Allah secara cuma-cuma. Setiap rahmat yang manusia terima merupakan berkat berlimpah dari Allah. Hal ini bukan semata-mata karena kebaikan yang telah manusia lakukan, melainkan karena kemurahan hati Allah kepada manusia. Allah memberikan rahmat berlimpah itu dengan menganugerahkan Yesus Kristus untuk datang ke dalam dunia dan membebaskan manusia dari belenggu dosa. Allah mengutus PuteraNya yang Tunggal agar manusia beroleh kasih karunia di hadapan-Nya. Roh kudus yang diutus untuk memberikan kekuatan bagi Gereja pun diberikan kepada setiap orang dengan rahmat yang berbeda-beda (Yanto. Firmanto. , & Aluwesia, 2. Setiap rahmat yang dimiliki oleh setiap anggota umat beriman biar kecil sekalipun adalah suatu kekayaan bersama dalam komunitas umat beriman apabila saling berbagi dan melengkapi satu dengan yang lain. Di sini diperlukan kerendahan hati satu dengan yang lain untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing warga umat beriman. Ketiga. Mengutamakan yang lemah. Rasul Paulus menganalogikan situasi ini seperti tubuh. Tubuh manusia yang terdiri dari banyak anggota memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Anggota tubuh yang lemah harus diperhatikan dan dirawat secara khusus. Anggota yang dianggap rapuh dan tidak memiliki kekuatan justru kehadirannya sangat penting dan sangat dibutuhkan untuk melengkapi anggota yang lain. Maka dari itu, setiap anggota harus dihargai dan dihormati. Sekecil apapun perannya, namun ia tetap harus dihormati. Kenyataan yang dapat kita alami dalam keseharian hidup Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 136-155 kita yakni ketika berhadapan dengan orang tua yang sudah tidak berdaya apa-apa. Terkadang kehadirannya kurang diperhitungkan karena dinilai tidak produktif dalam berbagai aspek. Kurang dihargai dan dihormati selalu terjadi. Padahal karena kehadiran merekalah maka anak-anak diberi kesempatan untuk menikmati hidup di dunia ini. Karena itu setiap umat beriman diundang untuk saling menghargai satu dengan yang lain sehingga tercipta kesatuan. Keempat. Diversitas bukan pemisah. Keberagaman yang dimiliki setiap kelompok bukan menjadi jalan terciptanya perpecahan tetapi justru harus menjadi sarana dalam mempersatukan semua orang. Seperti semboyan bangsa kita adalah walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu. Perbedaan adalah cirikhas manusia. Hal itu sudah melekaterat namun setiap orang diundang untuk menerima perbedaan yang ada dan menjadikannya sebagai suatu kekayaan. Setiap umat kristen menerima rahmat yang berbeda dan perbedaan rahmat itu menjadikan setiap anggota Gereja saling membutuhkan, saling melengkapi dan saling menyempurnakan berkat rahmat Roh Kudus yang mempersatukan semua perbedaan itu dalam Kristus (Hilario, 2. , karena karunia yang diberikan itu bukan untuk kepentingan pribadi orang perorangan, melainkan untuk memenuhi apa yang telah Allah rencanakan. Sinodalitas memberi ruang kerlibatan kepada seluruh umat Allah dalam mencari solusi bersama terhadap masalah yang dihadapi termasuk di dalamnya penuntasan terhadap persoalan gender. Gereja menekankan bahwa laki-laki dan perempuan saling melengkapi secara biologis, psikologis, dan spiritual (Emanuel Martasudjita. Agus Widodo, 2. Perbedaan mereka dipandang sebagai kekayaan, bukan kekurangan. Gereja secara tegas menolak diskriminasi terhadap Gender dalam kehidupan masyarakat dan berusaha menekankan pentingnnya pendekatan pastoral yang penuh kasih dan pemahaman terhadap individu yang menglami ketidasusian Gender, sambil tettap mempertahankan ajaran tradisionalnya. Gereja menolak secara tegas terhadap Auteori queerAy, dinama memandang gender sebagai spektrum sosial atau konstruksi sosial yang sepenunya cair (Harnowo et al. , 2. Penelitian ini memiliki sebuah harapan baru atas pemaknaan terhadap harkat dan martabat kaum gender melalui kegiatan sinodalitas. Pemahaman yang dimaksud adalah keutuhan pandangan terhadap martabat pria dan wanita seturut dokumen Mulieris SINODALITAS GEREJA DAN PEMAHAMAN TENTANG GENDER : KAJIAN PERSPEKTIF ENSIKLIK MULIERIS DIGNITATEM DI PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA SASI KEFAMENANU-NTT Dignitatis. Pemahaman yang utuh akan persamaan gender akan berdampak pada cara pandang terhadap laki-laki dan wanita dalam kehidupan sehari. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Menurut Creswell penelitian kualitatif adalah pendekatan yang mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh individu atau kelompok berasal dari masalah sosial atau masalah kemanusian (Creswell, 2. Teknik pengumpulan data yang digunakan di sini adalah observasi dan wawancara. Dalam kegiatan observasi, peneliti hadir bersama dengan partisipan untuk mengumpulkan data langsung dari lapangan, dimana peneliti terlibat sendiri dalam memperhatikan subjek yang diteliti (Raco, 2. Peneliti juga melakukan wawancara dengan beberapa narasumber yang terlibat aktif melayani umat. Melalui kedua teknik tersebut, peneliti mengumpulkan data, dan sesudahnya, peneliti membuat analisis terhadap data yang sudah diperoleh dari berbagai sumber, baik dari sumber data primer yakni informan dan hasil observasi maupun dari sumber data sekunder yakni buku-buku, artikel, majalah, dokumen dan berbagai sumber dari hasil penelitian terdahulu. Jadi, dalam penelitian ini, peneliti tidak hanya melakukan interaksi langsung, melainkan juga dengan mengandalkan informasi yang ada dalam berbagai literatur yang telah tersedia. Peneliti menempuh langkah-langkah berikut untuk mengumpulkan data. Pertama, pengumpulan data. (Gay. Mills. Geoffrey, 2. Peneliti mengumpulkan data dari berbagai sumber baik dari observasi dan wawancara maupun dari dokumen dan sumber data yang topiknya relevan. Kedua, seleksi dan reduksi data. Reduksi data yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok dengan tujuan untuk menyederhanakan semua data yang telah dikumpulkan di lapangan (Creswell, 2. Setelah melakukan observasi dan wawancara, serta mengumpulkan berbagai dokumen yang relevan dengan permasalahan, peneliti mengelompokkan data tersebut agar mudah untuk diakses ketika dilakukan analisis data. Ketiga, analisis data. Di sini, peneliti menganalisis hasil observasi dan wawancara, serta isi dokumen dengan menggunakan analisis kritis dengan tujuan mencari dan menemukan informasi yang relevan dengan tujuan penelitian. Keempat, setelah melakukan analisis, peneliti menafsirkan data yang ditemukan untuk sampai akhirnya merumuskan kesimpulan. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 136-155 HASIL DAN PEMBAHASAN Data kasus gender di Paroki St. Antonius Padua Kekerasan berbasis gender Kekerasan beberbasis gender merupakan suatu masalah serius yang mengancam integritas manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Istilah kekerasan seksual beberbasis gender merujuk pada tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap seseorang berdasarkan jenis kelamin atau identitas gender mereka (Jatmikowati et al. , 2. Kekerasan yang berbasis gender sering terjadi pada perempuan dan anak, termasuk kelompok pria dan non-biner, terutama dalam konteks ketidaksetaraan gender. Kekerasan berbasis gender sering kali didorong oleh norma dan praktik budaya yang mendukung ketidaksetaraan gender (Purwanti, 2. Hal ini terjadi dalam berbagai konteks, termasuk di rumah tangga, tempat kerja, atau dalam masyarakat secara umum. Faktor-faktor seperti ketidaksetaraan sosial, kekuasaan, dan stereotip gender memainkan peran penting dalam munculnya dan berlanjutnya kekerasan berbasis gender. Ada beberapa bentuk kekerasan yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat di antaranya adalah: kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan psikologis emosional, kekerasan ekonomi dan kekerasan verbal. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap beberapa tokoh mengungkapkan bahwa beberapa kasus kekerasan yang berbasis gender masih sering terjadi. Misalnya bapak MB mengatakan bahwa Au kekerasan dalam rumah tangga seperti pemukulan, atau tendangan terhadap istri masih sering terjadi, suami menendang atau memukul istri hanya karena masalah sepeleAy Hal lain diungkapkan oleh PU bahwa Audikampung ini sering kali terjadi penghinaan atau ejekan terhadap orang-orang yang lemah dan tidak memiliki sandaran hidupAy Demikianpun AM, mengatakan bahwa : Aueksploitasi sesksual dan perdangangan manusia masih saja terjadi di lingkungan kami ini, banyak perempuan dijanjikan untuk kerja di luar negri dengan iming-iming gaji besar, ternyata mereka dipekerjakan sebagai budak seks di negera orangAy Berbagai kasus sebagaimana diungkapkan di atas merupakan sebuah fenomena yang masih sering terjadi. Demkianpun dampak yang timbul sebagai akibat dari kekerasan berbasis gender menjadi suatu hal yang sulit untuk dihindari. Pendirita mengalami depresi, trauma, kurang percaya diri, merasa bersalah dan bahkan isolasi SINODALITAS GEREJA DAN PEMAHAMAN TENTANG GENDER : KAJIAN PERSPEKTIF ENSIKLIK MULIERIS DIGNITATEM DI PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA SASI KEFAMENANU-NTT sosial merupakan akibat yang sering kali dialami. Upaya untuk mengatasi kekerasan berbasis gender belum membuahkan hasil yang berdampak pada rasa hormat dan penghargaan terhadap sesama. Praktik budaya yang merugikan gender Budaya adalah keseluruhan pola perilaku, pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, dan kebiasaan yang diperoleh dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat (Rahmawati, 2. Ada beberapa elemen budaya diantarannya adalah bahasa dan komunikasi, nilai dan norma sosial, kepercayaan dan agama, adat dan tradisi, seni dan estetika serta pengetahuan dan teknologi. Semua unsur diatas membentuk pola perilaku komunitas tertentu (Hendra et al. , 2. Pemahaman tentang budaya penting untuk menghargai keragaman manusia, mengelola interaksi antar budaya, dan memahami dinamika sosial dalam skala lokal maupun global. Budaya bukan entitas statis, melainkan konstruksi yang terus berevolusi dan dinegosiasikan oleh anggota masyarakat (Rahmawati, 2. Namun dalam praktiknya sering kali mengabaikan kepentingan gender dan cendrung merugikan gender. Praktik yang merugikan ini memiliki dampak yang sangat luas terutama seperti preferensi laki-laki, sistem mas kawin yang menyebabkan perempuan dianggap properti yang dibeli. Dalam hasil wawancara terhadap tokoh masyarakat di temukan bahwa praktik budaya yang merugikan gender sering kali terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini diungkapkan oleh bapak AM sebagai berikut: Ausering kali istri tidak dihargai sebagai patner atau pasangan hidup, istri dianggap sebagai budak yang siap melayani apapun yang dikehendaki oleh suaminya sebab ia dibelis . dengan harga mahalAy Demikianpun bapak PT, seorang kepala suku di lingkungan ini mengungkapkan Auseorang ibu . tidak punya hak bicara dalam memutuskan mahar anak perempuannya, dan bahkan tidak boleh mendengarkan pembicaraan tentang keputusan tersebut, mereka harus berada di dapur untuk memasak atau melayaniAy Praktik budaya yang merugikan gender adalah tradisi atau kebiasaan yang memiliki dampak negatif terhadap kesejahteraan, kesehatan, atau hak asasi manusia, terutama perempuan dan anak perempuan. Praktek seperti ini, secara sadar mengebiri peran kaum Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 136-155 perempuan sebagai patner laki-laki yang perlu dipandang setara. Perempuan bukanlah manusia kelas dua yang dapat melakukan apa saja jika dibutuhkan. Dalam keluarga menjadi pilar utama. berperan sebagi ibu, istri dan sekaligus sebagai pengasuh/pendidik anak-anak dan menjaga keutuhan keluarga. dalam bidang sosial, perempuan berkontribusi secara signifikan terhadap kegiatan sosial kemasyarakatan, mereka berperan dalam kehesi sosial dan dalam pembangunan komunitas. Dalam budaya peerempuan menjadi penjaga dan penerus budaya (Ans et al. , 2. Perempuan memainkan peran kunci dalam melestarikan, menjaga, dan meneruskan tradisi serta nilainilai budaya dalam suatu masyarakat. Dalam berbagai komunitas dan kelompok masyarakat, perempuan memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk identitas budaya generasi berikutnya. Perempuan juga dianggap sebagai penjaga pengetahuan tradisional dan kearifan lokal yang sering kali berkaitan dengan pengobatan tradisional, pertanian, atau cara-cara hidup yang berkelanjutan. Mereka memiliki peran penting dalam memastikan pengetahuan ini diteruskan ke generasi berikutnya (Ginting et , 2. Peran inilah yang perlu disadari secara baik dan setara oleh kaum laki-laki agar tidak terjadi pratek budaya yang dapat merugikan gender terutama kaum perempuan dan anak-anak. Paradigma perempuan dan laki-laki menurut umat Paroki St. Antonius Budaya Timor, pada umumnya, seperti banyak budaya tradisional lainnya, cenderung patriarkal. Laki-laki adalah memiliki peran dan tanggung jawab yang lebih, dibandingkan dengan perempuan. laki-laki dianggap sebagai pemimpin keluarga dan masyarakat, ia adalah tonggak utama dalam menghidupi keluarga. sedangkan wanita hanya berperan sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. adala perbedaan yang mencolok pandangan terhadap pemahaman pria dan wanita terutama dalam kaitannya dengan pembagian peran dan tanggung jawab dalam kehidupan keluarga dan masyrakat, sedangkan perempuan lebih fokus pada pekerjaan rumah tangga, pengasuhan anak, dan pekerjaan yang dianggap 'ringan' seperti menenun atau berkebun skala kecil. seorang ibu rumah tangga mengungkapkan bahwa : Au suami saya setiap hari berada dikebun dan saya menyiapkan makan siang untuk suami saya yang bekerja di kebunAy SINODALITAS GEREJA DAN PEMAHAMAN TENTANG GENDER : KAJIAN PERSPEKTIF ENSIKLIK MULIERIS DIGNITATEM DI PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA SASI KEFAMENANU-NTT seorang ibu lainnya mengatakan. Ausaya menjaga anak-anak saya di sekolah, dan suami saya mencari nafkahAy Demikian dalam penerima warisan laki-laki biasaya sebagai penerima utama dari warisan tanah atau properti lainnya, sedangkan wanita bisa juga menerima itu tetapi tetapai dalam porsinya yang lebih kecil. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa laki-laki memiliki status sosial masyarakat yang lebih tinggi dibanding perempuan. sering lakilaki dianggap sebagai pemimpin dan pengambil keputusan utama dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, sedang perempuan cenderung memiliki status sosial yang lebih rendah dalam konteks publik. Praktik-praktik tradisional seperti disebutkan di atas tentu tidak sejalan dengan prinsip-prinsip kesetaraan gender modern. Kesetaraan gender mengacu pada keadaan di mana laki-laki dan perempuan memiliki status yang setara dan mendapatkan kesempatan serta perlakuan yang sama dalam semua aspek kehidupan. Kesetaraan gender bukan berarti laki-laki dan perempuan harus menjadi sama, tetapi hak, tanggung jawab, dan kesempatan mereka tidak boleh bergantung pada apakah mereka dilahirkan sebagai lakilaki atau perempuan. Gerakan feminis dicetus oleh Gloria Steinem . dan teman-teman, yang merupakan gerakan sosial dan politik dan bertujuan untuk mencapai kesetaraan gender, memperjuangkan hak-hak perempuan, dan mengatasi berbagai bentuk diskriminasi yang dialami oleh perempuan, belum berdampak kepada akar rumput terutama dalam budaya Meskipun ada pembagian peran yang jelas, budaya Timor juga memiliki beberapa aspek yang bertujuan melindungi perempuan: sistem belis . as kawi. : Meskipun kontroversial, sistem ini awalnya dimaksudkan untuk menghargai dan melindungi perempuan dalam pernikahan. perempuan tidak boleh melakukan aktivitas layaknya suami istri sebelum memberikan mas kawin. selain itu penghormatan terhadap peran ibu dalam masyarakat sangat tinggi. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 136-155 Sinodalitas : Solusi pemahaman terhadap gender Sinodalitas merupakan dimensi esensial Gereja, yang dapat diartikan bahwa apa yang Tuhan kehendaki dari kita telah hadir dalam kata AusinodeAy. Sinode merupakan kata kuno dalam tradisi Gereja, yang mengarah pada wahyu. Kata sinode terdiri dari dua kata yakni kata sin yang berarti AudenganAy, dan kata hodos yang berati AujalanAy. Sedangkan St. Yohanes Krisostomus menegaskan bahwa sinhodos berati Aunama berdiriAy untuk Auberjalan bersamaAy. Kata sinode kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin menjadi synodus atau concillium. Arti concillium mengarah pada sidang atau pertemuan yang diadakan oleh pihak otoritas tertentu yang sah. Walaupun kata sinode dan concillium berasal dari akar kata yang berbeda, namun memiliki makna yang sama yakni mengarah pada pertemuan yang diadakan Tuhan, yang dihubungkan dengan pertemuan umat Allah dalam Kristus pada akhir zaman. Meskipun sinodalitas tidak ditemukan dalam ajaran dokumen Konsili Vatikan II, namun sinodalitas tetap berada dalam pusat ajaran pembaharuan yang ditetapkan oleh Gereja sebagai umat Allah memprioritaskan martabat dan misi bersama semua orang yang telah dibabtis untuk menjalankan kekayaan yang ada melalui karisma, panggilan dan pelayanan mereka. Maka dapat disimpulkan bahwa sinodalitas mengarah pada perjalanan umat Allah bersama dengan Allah untuk melakukan suatu karya misi tertentu yang telah dipercayakan kapadanya. Sinodalitas menjadi suatu proses dalam berjalan bersama (Hilario, 2. Berjalan bersama dengan Tuhan dan juga berjalan bersama dengan sesama yang ada di sekitar kita. Sinodalitas itu menekankan kebersamaan. Berjalan bersama bukan berjalan sendiri. Dimensi kebersamaan inilah yang menjadi suatu kekayaan dalam misi Gereja yang harus dijadikan sebagai tanggung jawab bersama. Berdasarkan data sebaimana diungkapkan diatas dapat diberi catatan berikut: Sinodalitas adalah pertemuan yang dilakukan oleh para pemimpin Gereja. Sinodalitas bukan hanya berkaitan dengan pertemuan atau perkumpulan bersama untuk mengambil keputusan atau ketetapan tertentu, tetapi lebih dari itu sinodalitas menekankan adanya dan terbentuknya persekutuan. Persekutuan merupakan hubungan antarmanusia dan juga hubungan manusia dengan Allah Penciptanya (Timotius, 2. Sedangkan persekutuan menurut Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada umat SINODALITAS GEREJA DAN PEMAHAMAN TENTANG GENDER : KAJIAN PERSPEKTIF ENSIKLIK MULIERIS DIGNITATEM DI PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA SASI KEFAMENANU-NTT di Korintus yakni mengambil bagian bersama-sama dengan orang lain dalam sesuatu dan memberi bagian kepada orang lain (Harianto, 2. Persekutuan menghendaki agar setiap orang bergandengan tangan dengan sesamanya untuk berjalan menuju tujuan yang hendak dicapai demi kebaikan bersama . onum commun. Setiap orang tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan berjalan bersama dengan sesama dan Tuhan untuk melaksanakan suatu karya tertentu. Berjalan bersama bertujuan agar Gereja dapat melaksanakan dengan baik setiap tugas misi Gereja. Sinodalitas menjadi salah satu solusi yang ditawarkan Paus Fransiskus untuk menjawabi persoalan diskriminasi terhadap kaum perempuan dari masa ke masa, dan bahkan masih ada hingga saat ini. Sinodalitas melahirkan komunitas dan solidaritas. Dengan adanya berbagai pertemuan yang diadakan, maka suatu komunitas dengan sendirinya terbentuk. Menurut Ervina, komunitas ialah kesatuan hidup manusia yang berada dalam suatu tempat tertentu dimana ada interaksi yang berkesinambungan sesuai dengan kebiasaan atau adat istiadat dan merasa menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan (Ervina, 2. Komunitas menjadi tempat untuk saling berbagi antara satu dengan yang lain. Dalam komunitas orang bisa berkumpul bersama, berdoa bersama dan saling berbagi baik itu pengalaman maupun hal-hal lain yang, sinodalitas melahirkan Partisipasi merupakan keikutsertaan masyarakat dalam suatu kegiatan yang dimulai dengan perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi. Partisipasi bertujuan untuk meningkatkan kontrol diri dan inisitif masyarakat yang memiliki keunikan sumber daya atau potensi (Hilario, 2. Partisipasi yang dimaksudkan dalam sinodalitas yakni partisipasi umat beriman dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan kepada mereka. Orang yang bersinode adalah orang yang turut terlibat. Sebagaimana sinode melibatkan para anggota Gereja, demikian pula para anggota Gereja harus turut andil dalam setiap kegiatan yang Gereja kerjakan. Keempat. Misi dan pelayanan. Misi adalah tugas dan perintah yang diberikan Kristus kepada Gereja-Nya untuk diwartakan kepada seluruh dunia (Zasa, 2. Misi yang disampaikan harus kontekstual dan mampu untuk menjawabi kebutuhan umat dan Gereja setempat. Orang yang bermisi harus menjadi orang yang pandai menyesuaikan diri dengan situasi dan keadaan apapun yang akan dijumpai di tempat ia bermisi. Misi tidak hanya sekedar pergi meninggalkan Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 136-155 tanah kelahiran dan berkarya di tempat yang baru, tetapi misi yang dimaksudkan dalam sinodalitas adalah misi yang berakar pada umat. Misi harus sampai pada titik dimana orang melayani tanpa menuntut untuk dilayani kembali. Misi mengajak orang untuk melayani dan turut berpartisipasi. Misi juga berarti meninggalkan segala hal Aekeluarga dan sahabat, harta dan jabatan, perasaan nyaman dan kewibawaan Ae untuk mempersatukannya kembali. Sinodalitas merangkul kaum perempuan. Sinodalitas menuntun setiap orang untuk berjalan menuju satu tujuan yakni kekudusan di hadapan hadirat Allah. Berbicara tentang kaum perempuan maka peranperan perempuan menjadi suatu pembicaraan yang hangat. Peran berarti apa yang kita kerjakan atau yang kita lakukan. Peran setiap orang berbeda-beda dan tidak menetap dalam dirinya. Hal ini harus disesuaikan dengan apa yang dilakukan saat ini. Kalau seorang anak perempuan yang masih kecil memiliki peran yang berbeda dari ibunya meskipun pada hakekatnya keduanya adalah sama-sama perempuan. Setiap perempuan memiliki perannya tersendiri. Bagi setiap perempuan untuk dapat mengasihi diri sendiri dan juga sesama mereka, ia harus mampu menyadari siapa dia dan apa pekerjaan yang sedang digeluti (Maryani & Arifin, 2. Setiap perempuan memiliki kodrat untuk menjadi seorang ibu, dengan mempersembahkan seluruh dirinya kepada pasangannya dan untuk sama-sama membina keluarga, sebagaimana menjadi perhatian utama dalam ensiklik Mulieris Dignitatis. Oleh karena itu, seorang perempuan bukanlah kaum terpinggirkan melainkan ia juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan seorang laki-laki. Sinodalitas menjadi salah satu solusi yang ditawarkan Paus Fransiskus untuk menjawabi persoalan diskriminasi terhadap kaum perempuan yang masih hingga dewasa ini terdengar dalam kehidupan masyarakat. Nilai luhur yang dimiliki oleh setiap perempuan. Perempuan adalah salah satu manusia dari semua makhluk ciptaan Allah bersama dengan laki-laki dan mempunyai hak-hak asasi untuk menjalani segala kegiatan dalam hidupnya (Prior, 2. Pada awal penciptaan. Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan . dk Kej 1:. Allah menjadikan mereka menurut gambar dan rupa-Nya Allah tidak menciptakan laki-laki untuk lebih tinggi derajatnya dari perempuan, melainkan menjadikan keduanya setara atau sama di hadapan-Nya. Perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki agar keduanya menjadi pasangan yang saling melengkapi SINODALITAS GEREJA DAN PEMAHAMAN TENTANG GENDER : KAJIAN PERSPEKTIF ENSIKLIK MULIERIS DIGNITATEM DI PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA SASI KEFAMENANU-NTT antara satu dengan yang lain, bukan sebaliknya untuk menguasai antara yang satu dengan yang lain. Perempuan diciptakan untuk menjadi teman yang sepadan dengan laki-laki maka sudah seharusnya keduanya saling membutuhkan, saling menyempurnakan. Karena itu ensilklik menagaskan bahwa Mulieris Dignitatis Perempuan tidak boleh dipandang sebagai makhluk yang lemah dan tidak diperhitungkan tetapi sebaliknya justru harus mendapat tempat yang istimewa yang setara dengan laki-laki karena karena kedudukan dan peran perempuan itu sangat penting dalam kehidupan semua manusia. Penghambat pemahaman tentang gender. Setiap perempuan harus memiliki kesadaran penuh dan mengetahui martabatnya yang luhur dan mulia di hadapan Allah. Jika seorang perempuan sadar dan tahu, maka ia akan menjunjung tinggi martabatnya. Banyak perempuan di Indonesia khususnya di Nusa Tenggara ini, yang masih terpengaruh oleh budaya patrialistik. Budaya ini memberikan kepada laki-laki kekuasaan untuk menentukan susunan masyarakat di tangan laki-laki (Parsudi, 2. karena perannya sebagai kepala keluarga dan bertanggung jawab untuk mencari nafkah. Alasan inilah yang membuat sejumlah laki-laki menganggap perempuan lebih rendah darinya. Selain itu, dengan tinggal dan hidup dalam kebudayaan yang menjunjung tinggi laki-laki, maka perempuan akan menjadi bahan cibiran bagi masyarakat apabila perempuan tidak takluk pada laki-laki. Perempuan menjadi kaum yang lemah dan akibatnya perempuan selalu menjadi yang terbelakang. Bahkan sebagian besar orang beranggapan bahwa tugas perempuan hanya di dapur, sedangkan laki-laki yang berhak untuk duduk bersama para tamu, berbicara dan menyampaikan pendapatnya. Gender menjadi suatu fenomena iman. Berbicara tentang gender tidak bisa hanya dilihat dari segi kehidupan sosial masyarakat tertentu. Gender memiliki nilai yang luas, baik nilai sosial budaya maupun juga nilai spiritual atau nilai kerohanian. Manusia dijuluki sebagai makhluk Tuhan AuHomo DivinusAy atau AuHomo ReligiusAy. Julukan ini sebenarnya mau menegaskan bahwa hidup manusia tidak pernah terlepas dari rahmat Allah. Hal ini terlihat jelas dalam diri Bunda Maria yang menunjukkan martabat tertinggi seorang perempuan yakni mencapai suatu kekudusan. Ia memelihara martabatnya yang luhur sebagai ciptaan Allah (Ujan. Ia mempersembahkan dirinya untuk melaksanakan kehendak Allah. Hal ini juga Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 136-155 yang mendorong banyak kaum perempuan untuk melibatkan diri dalam tugas pelayanan Gereja dengan mempersembahkan seluruh hidup pada Allah dengan kaul-kaul kebiaraan. Membentuk pamahaman tentang gender. Dokumen Mulieris Dignitatem menggambarkan martabat dan panggilan kaum Hal ini secara langsung menggarisbawahi peran perempuan dalam konteks kehidupan menggereja dan dalam konteks iman kristiani. Hal pokok yang ditekankan dalam dokumen ini yaitu (Ujan, 2. : pertama, perempuan sebagai AupembukaAy sejarah keselamatan umat manusia. Dalam diri perempuan yang lemah, kecil dan terpinggirkan Allah berkenan mengutus Anak-Nya untuk tinggal dalam rahim Maria. Di sini jelas bahwa karya keselamatan Allah terjadi bagi manusia. Maria menjadi perempuan yang menggenapi waktu penyelamatan yang Allah telah tentukan. Peristiwa ini menjadi kunci sejarah keselamatan (MD . Kedua, manusia, laki-laki dan perempuan, diciptakan Allah menurut gambar dan rupa-Nya untuk menjalin relasi timbal balik. Keduanya membentuk satu kesatuan yang abadi. KESIMPULAN DAN SARAN Sinodalitas merupakan suatu kegiatan yang melibatkan banyak pihak, hampir seluruh elemen terkait turut mengambil bagian. Sinodalitas tidak hanya menyentuh satu aspek kehidupan kristiani tetapi mencakup seluruh aspek. Hal ini menjadi suatu kekayaan bagi Gereja untuk terus-menerus bangkit dan penuh semangat mengarungi perjalanan menuju tujuan semua orang kepada kehendak dan rencana Allah. Sinodalitas menjadi momen berahmat agar semua orang mengarahkan hati kepada Allah dalam iman kepada Tuhan. Sinodalitas mengarahkan Gereja untuk melihat dan memperhatikan sekeliling hidupnya, tempat tinggalnya dan tempat kerjanya kepada yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel, yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan dari orang lain. Dalam sinodalitas, segala perbedaan yang diciptakan manusia mesti ditiadakan karena setiap perbedaan merupakan keunikan setiap pribadi yang bermanfaat sebagai kekayaan bagi banyak orang. Oleh karena itu sudah sepantasnya orang berbangga dengan adanya perbedaan-perbedaan. Sinodalitas juga menjadi jembatan bagi solidaritas. Berbagi dengan sesama adalah suatu keharusan bagi para murid Kristus agar semua orang di dunia ini hidup dalam kelimpahan. SINODALITAS GEREJA DAN PEMAHAMAN TENTANG GENDER : KAJIAN PERSPEKTIF ENSIKLIK MULIERIS DIGNITATEM DI PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA SASI KEFAMENANU-NTT Semua manusia diciptakan dengan hakekat yang sama. Oleh karena itu manusia harus saling menghormati dan menghargai. Semua ciptaan itu sungguh istimewa di mata Tuhan. Karena keistimewaannya inilah maka sebaiknya kita patut bersyukur kepada Tuhan yang memberi kepada kita, laki-laki dan perempuan, harkat dan martabat yang setara-sederajat. Dalam perspektif Mulieris Dignitatem, perempuan menjadi garda terdepan dalam sejarah karya keselamatan. Ia yang dahulunya tidak dianggap dan dipandang rendah sebagai yang terbelakang justru sekarang ini menjadi yang terdepan karena kemurahan hati Allah. Persembahan hidup yang total kepada pelayanan kasih Allah menjadi suatu hal yang mulia. Banyak perempuan dengan tulus hati mempersembahkan diri pada misi Allah untuk menyerupai Sang Pencipta sebagaimana dilakukan oleh Maria wanita pertama yang membuka tabir keselamatan bagi dunia. DAFTAR REFERENSI Ans. Taek. Dato. Barros Mbiri. Leto Bere. Bulqiyah. Program, . Pemerintahan. Tinggi. Sosial. Politik. Timur. Ilmu. , & Negara. Upaya Pelestarian Tradisi Budaya Suku Matabesi Dalam Modernisasi. Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4. , 2246Ae2255. http://journal. id/index. php/cdj/article/view/14073 Creswell. Qualitative inqury & Research Design (Choosing Among Five Approache. SAGE Publications. Eduardus. Peran Perempuan Dalam Gereja Katolik. Jurnal Ledalero. Emanuel Martasudjita. Agus Widodo. Sinodalitas Gereja (Vol. Issue . Kanisius. Ervina. TRANSFORMASI TRADISI BUDAYA RUWATAN BUMI KAITANNYA DENGAN NILAI-NILAI SILA PERTAMA PANCASILA. Disertasi. Gay. Mills. Geoffrey. Educational Research: Competences for analysis and Application. In Pearson (Vol. Issue . https://revistas. br/index. php/rce/article/download/1659/1508http://hipatia Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 136-155 com/hpjournals/index. php/qre/article/view/1348\nhttp://w. com/doi/abs/10. 1080/09500799708666915\nhttps://mckinseyonsociety. downloads/reports/Educa Ginting. Akbar. Srg. , & Hasim. Peran Wanita dalam Pengumpulan dan Penyebaran Hadis Abu Bakar . Sebagai istri Nabi Muhammad SAW . Aisyah memiliki akses langsung. Mikraj. A L, 5. , 115Ae126. Harianto. Teologi Pastoral. Andi. Harnowo. Purwendah. , & . Diskriminasi terhadap perempuan korban kekerasan seksual di Kabupaten Banyumas dalam prespektif religiusitas. YINYANG: Jurnal Studi Islam. Gender. Dan Anak, 18. , 283Ae304. https://doi. org/10. 24090/yinyang. Hendra. Nur Adzani. , & Muslim. Dakwah Islam dan Kearifan Budaya Lokal. Journal of DaAowah, 2. , 65Ae82. https://doi. org/10. 32939/jd. Hilario. Menuju Gereja yang Sinodal: Memahami Gagasan Sinodalitas Sebagai Cara Hidup dan Cara Bergerak Gereja di Milenium Ketiga. Jurnal Ledalero, 5420. samarinda no 23 Inriani. Gereja Misioner di Tengah Masyarakat Kalimantan Tengah Indonesia Yang Plural. Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH), 3. , 88Ae106. https://doi. org/10. 37364/jireh. Jatmikowati et al. a Model and Material of Sex Education for Early-AgedChildren. Cakrawala Pendidikan. No. 03, 434Ae448. https://journal. id/index. php/cp/article/view/7407/pdf Kebingin. Aktualisasi Misi Gereja pada Zamannya. In Cleon (Vol. Issue Langobelen. Dekonstruksi Kultur Patriarki Masyarakat Lamaholot: Tinjauan atas Pengalaman Ketidakadilan Gender Kaum Perempuan di LamabungaAeAdonara dari Perspektif Teologi Feminis Kristen. , 1Ae23. Maryani. , & Arifin. Konstruksi identitas melalui media sosial. Journal of Communication Studies. Parsudi. Konflik sosial dan alternatif pemecahannya. Antropologi Indonesia. Prior. REFORMASI PANTEKOSTAL SEBAGAI PEREMAJAAN SINODALITAS GEREJA DAN PEMAHAMAN TENTANG GENDER : KAJIAN PERSPEKTIF ENSIKLIK MULIERIS DIGNITATEM DI PAROKI SANTO ANTONIUS PADUA SASI KEFAMENANU-NTT KEKRISTENAN PALING RADIKAL SEJAK PEMBARUAN JOHN CALVIN. Jurnal Ledalero. https://doi. org/10. 31385/jl. Purwanti. Kekerasan Berbasis Gender. In Bildung. Bildung. Raco. METODE PENELlTlAN KUALlTATlF: JENIS. KARAKTERISTIK. DAN KEUNGGULANNYA. PT Grasindo, 146. Rahmawati. Konsep Pendidikan Komunikasi dan Kebudayaan. Journal on Education, 5. , 14762Ae14776. https://doi. org/10. 31004/joe. Situmorang. Tinjauan Teologis Motivasi Pemberian Persembahan Sebagai Dalam Kehidupan Ibadah Pribadi Kristiani Masa Kini . ( Studi Analisis Kasus Di Gereja Gbi Glow Fellowship Centre Thamrin Residence Jakarta Pusat ). Jurnal Teologi Dikaiosune, 1. , 43Ae59. Susanto. Gereja Yang Berfokus Pada Gerakan Misioner. FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, 2. , 62Ae80. https://doi. org/10. 34081/fidei. Timotius. Gereja yang Bertumbuh dan Berkembang. In Andi. Andi. Tomatala. Gereja Yang Visioner dan Misioner di Tengah Dunia yang Berubah. Integritas: Jurnal Teologi, 2. , 127Ae139. https://doi. org/10. 47628/ijt. Ujan. Surat Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II Tentang Martabat dan panggilan Kaum Wanita Mulieris Dignitatem. Dokpen KWI, 1Ae37. Wiliam. Moral Spesial. In Kanisius (Vol. Issue . http://repositorio. ni/2986/1/5624. Yanto. Firmanto. , & Aluwesia. Peran Roh Kudus dalam Sakramen Krisma. Pengurapan Orang Sakit dan Imamat. Pastoralia, 4. , 45Ae72. https://ejournal. id/index. php/pastoralia/article/view/77 Zasa. Gereja Yang Berpusat Pada Hadirat Tuhan Studi Eksposisi Injil Markus 3:13-15. Jurnal Kadesi, 5. , 163Ae188. https://doi. org/10. 54765/ejurnalkadesi. Zebua. Etika Pelayanan Pastoral Bagi Kaum Muda Di Tengah Kemajemukan Dalam Gereja. Jurnal Biblika-Komprehensif-Profesional, 3. , 3Ae25. https://osf. io/3bwqu/ Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 136-155 Zega. Perspektif Alkitab Tentang Kesetaraan Gender dan Implikasinya Bagi Pendidikan Agama Kristen. Didache: Journal of Christian Education, 2. , https://doi. org/10. 46445/djce.