Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 1. No 1. Agustus 2023, hal 1-9 E-ISSN: 3025-0102 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SOMATIC. AUDIOTORY. VISUAL. AND INTELLECTUAL (SAVI) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PUISI SISWA KELAS IV SD Fitriani1. Abdul Rahman2, & Hamzah Pagarra3 Universitas Negeri Makassar. Indonesia E-mail: fitriani15032001@gmail. E-mail: a. rahman@unm. E-mail: hamzah. pagarra@unm. Artikel Info Abstrak Received: 16 Juni 2023 Accepted: 13 Juli 2023 Published: 14 Agustus 2023 Permasalahan dalam penelitian ini adalah rendahnya kemampuan membaca puisi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran SAVI untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa kelas IV SD Inpres BTN IKIP 1 Kota Makassar. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) untuk meningkatkan kemampuan kemampuan membaca puisi siswa kelas IV SD Inpres BTN IKIP 1 Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan dua siklus yang masing-masing terdiri dari tahapan kegiatan meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/observasi dan refleksi. Fokus dari penelitian ini adalah penerapan model SAVI dan Kemampuan membaca puisi. Setting dan subjek penelitian ini adalah seorang guru dan seluruh siswa kelas IV B yang berjumlah 23 orang yang terdiri dari 11 orang siswa laki-laki dan 12 orang siswa perempuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui lembar observasi guru dan siswa, tes, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Hasil penelitian penerapan model pembelajaran somatic, audiotory, visual, and intellectual (SAVI) dalam meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa kelas IV SD Inpres BTN IKIP 1 Kota Makassar pada siklus I berada pada kategori kurang dan pada siklus II mengalami peningkatan yaitu berada pada kategori baik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model somatic, audiotory, visual, and intellectual (SAVI) dalam pembelajaran membaca puisi dapat meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa kelas IV SD Inpres BTN IKIP 1 Kota Makassar. This is an open access article under the CC BY-SA Copyright A 2023 by Author. Published by CV Arthamara Media. Kata Kunci: problem based learning, kemampuan pemecahan masalah, pembelajaran matematika PENDAHULUAN Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar lebih menekankan pada keterampilan berbahasa siswa. Salah satu aspek yang mendukung keterampilan berbahasa yang baik dan benar adalah dengan menguasai kosakata (Magdalena dkk. , 2. Kosakata adalah kumpulan kata-kata yang memudahkan seseorang dalam menggunakan bahasa. Semakin banyak kata yang dikuasai, maka semakin baik pula bahasa yang digunakan karena tanpa sebuah kosakata yang benar, bahasa tidak dapat berfungsi secara terstruktur dan akan sulit untuk dipahami. Penguasaan dan pemahaman kosakata dalam pembelajaran bahasa mutlak harus ditingkatkan agar proses belajar mengajar dapat Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 1. No 1. Agustus 2023, hal 1-9 E-ISSN: 3025-0102 berjalan dengan baik sehingga siswa dapat menghubungkan aspek yang terdapat pada keterampilan Keterampilan berbahasa memiliki aspek pendukung. Menurut Santika dan Nasution . terdapat empat aspek keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Setiap aspek keterampilan tersebut memiliki kaitan dengan ketiga keterampilan lainnya. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa bermula dari belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu dilanjutkan dengan belajar membaca dan Oleh karena itu. Keempat aspek keterampilan bahasa harus mendapat perhatian sepenuhnya pada proses pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pada keterampilan membaca. Membaca merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang perlu dipelajari dan Melalui kegiatan membaca seseorang dapat menggali berbagai informasi, pengetahuan, dan pengalaman baru. Hal ini dikarenakan aktivitas membaca bersifat reseptif atau menerima. Pengetahuan dan informasi yang diperoleh pada kegiatan membaca akan menjadi kunci untuk membuka wawasan dan pengetahuan seseorang (Dafit, 2. Dengan membaca, seseorang dapat mengembangkan kemampuan untuk memproses ilmu pengetahuan, mempelajari berbagai disiplin ilmu, dan menerapkan dalam hidup. Membaca puisi merupakan pengungkapan kata-kata indah yang memiliki makna. Pengungkapan perasaan melalui puisi dituangkan dalam bentuk kata-kata yang dipilih dengan mempertimbangkan keindahan dan makna agar isi puisi dapat tersampaikan dengan baik kepada para pendengar (Zannah, 2. Setiap puisi mempunyai suasana dan makna yang berbeda. Oleh karena itu, seorang pembaca puisi harus memahami puisi agar bisa membacakan dan memahami makna dengan tepat. Kemampuan membaca puisi ditentukan oleh beberapa faktor. Menurut Aristhi dan Manuaba . salah satu faktor yang berpengaruh adalah model pembelajaran yang digunakan guru. Guru harus menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pada pembelajaran puisi. Guru seharusnya menggunakan model pembelajaran yang lebih kreatif, efektif, dan menyenangkan dalam pembelajaran (Sari dkk. , 2. Penggunaan model pembelajaran yang kreatif dan efektif dapat memicu siswa untuk aktif pada proses pembelajaran. Selain itu, pemiliham model pembelajaran yang tepat juga dapat membuat siswa memahami konsepkonsep yang diajarkan dan meningkatkan keterampilan mereka. Dengan model yang tepat juga siswa berpotensi untuk meningkatkan minat, bakat, serta motivasi belajar mereka, terutama pada pembelajaran puisi. Dalam meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa diperlukan model pembelajaran yang Zahar dan Destian . berpendapat bahwa dengan menggunakan model SAVI (Somatic. Audiotory. Visual, and Intellectua. diharapkan dapat lebih meningkatkan kemampuan membaca puisi Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 1. No 1. Agustus 2023, hal 1-9 E-ISSN: 3025-0102 siswa menjadi lebih baik dan memiliki kepercayaan diri dengan memahami lafal, intonasi, jeda, dan ekspresi yang diperlukan dalam membaca puisi sehingga pada saat pembelajaran puisi siswa bisa mendapatkan nilai minimal KKM atau lebih. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa penerapan model SAVI dalam pembelajaran di kelas dapat memberikan pengaruh terhadap kemampuan membaca puisi siswa. Penelitian yang dilakukan Ibrahim . tentang model pembelajaran SAVI (Somatic. Auditory. Visual. Intelectua. untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kemampuan membaca puisi siswa meningkat dengan menggunakan model pembelajaran SAVI. Selain itu, penelitian yang telah dilakukan oleh Herawati. Ika, dan Ayuningrum . menunjukkan bahwa dengan menggunakan model SAVI dapat meningkatkan kemampuan mendeklamasikan atau membacakan puisi. Berdasarkan observasi awal di kelas IV SD Inpres BTN IKIP 1 Kota Makassar yang dilakukan pada 30 Januari 2023, diperoleh informasi bahwa siswa belum memiliki kemampuan membaca puisi dengan baik. Ketika membaca puisi, siswa hanya sekedar membaca tanpa memperhatikan beberapa ketentuan dalam membaca puisi seperti lafal, intonasi, jeda, dan ekspresi. Secara teori, siswa mampu memahami materi tentang puisi dengan baik. Namun, ketika mempraktekkan membaca puisi, siswa tidak memperhatikan penggunaan lafal, intonasi, jeda, dan ekspresi. Setelah melakukan observasi di kelas IV SD Inpres BTN IKIP 1, ditemukan bahwa siswa belum memiliki kemampuan membaca puisi dengan baik itu disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor dari guru dan faktor siswa. Adapun faktor dari guru yaitu: . guru belum menerapkan model pembelajaran sesuai dengan pembelajaran puisi, hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, sehingga hasil pembacaan puisi yang sesuai kriteria belum tersampaikan dengan baik . guru hanya memberikan tugas kepada siswa untuk membuat puisi dan membacakannya di depan temantemannya, tanpa menjelaskan hal-hal apa yang harus diperhatikan ketika membaca puisi. Sedangkan faktor siswa yaitu: . siswa sekedar membacakan puisi tanpa memperhatikan lafal, intonasi, jeda, dan ekspresi, . siswa merasa malu membaca puisi di depan teman-teman serta gurunya. Untuk mengatasi hal tersebut, terkhusus bagi guru untuk dapat menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar yang hendak dicapai siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan sebagai alternatif yaitu model pembelajaran SAVI (Somatic. Audiotory. Visual, and Intellectua. Model pembelajaran SAVI adalah model pembelajaran yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah memanfaatkan semua alat indra. Pencetus model pembelajaran SAVI ini adalah Dave Meir di Lake Ganeva. Teori yang mendasari Meir dalam mencetuskan SAVI adalah belajar aktif yang diistilahkan dengan Belajar Berdasarkan Aktivitas (BBA). SAVI merupakan akronim dari somatic, audiotory, visual, dan intellectual yang memiliki arti belajar melalui pemanfaatan gerakan tubuh. Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 1. No 1. Agustus 2023, hal 1-9 E-ISSN: 3025-0102 ands on, aktivitas fisi. dimana belajar dimaknai dengan mengalami dan melakukan untuk dapat mengaktualkan kemampuan analisis dalam memecahkan masalah (Sutarna, 2. Sebagaimana diungkapkan Dave Meier Aumodel pembelajaran SAVI adalah model yang menyajikan sistem secara lengkap untuk melibatkan panca indra dan emosi dalam proses belajar yang merupakan cara belajar secara alamiAy (Alfiani, 2016, h. Menurut Sari . 9, h. AuBelajar Berdasarkan Aktivitas (BBA) berarti bergerak aktif secara fisik ketika belajar, dengan memanfaatkan indra sebanyak mungkin, dan membuat seluruh tubuh /pikiran terlibat dalam proses belajarAy. Terdapat empat unsur dalam model SAVI yaitu somatic . elajar dengan berbuat dan bergera. , audiotory . elajar dengan mendengar dan berbicar. , visual . elajar dengan mengamati dan menggambarka. , dan intellectual . elajar dengan (Habibiyah. Keempat membangkitkan kecerdasan terpadu siswa secara penuh melalui penggabungan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual, memunculkan suasana belajar yang lebih baik, menarik, dan efektif, mampu membangkitkan kreativitas dan meningkatkan kemampuan psikomotor siswa dan memaksimalkan ketajaman konsentrasi siswa melalui pembelajaran secara visual, audiotory, dan intellectual. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK merupakan salah satu upaya yang dilakukan guru untuk meningkatkan kualitas peran dan tanggung jawab guru khususnya dalam pengelolaan pembelajaran. Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah salah satu jenis penelitian tindakan yang digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas dan mutu pembelajaran di kelas (Sanjaya, 2. Penelitian tindakan kelas (PTK) atau lazim disebut dengan classroom Action Research yaitu penelitian tindakan yang dilakukan di kelas. Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV B SD Inpres BTN IKIP 1 Kota Makassar, yang aktif terdaftar pada semester genap tahun pelajaran 2022/2023 dengan jumlah siswa 23 orang, yang terdiri dari 11orang siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Sedangkan peneliti sendiri bertindak sebagai guru model. Tempat penelitian ini dilaksanakan di kelas IV B SD Inpres BTN IKIP 1 Kota Makassar, tahun ajaran 2022/2023 pada semester genap. Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2022/2023 dengan menyesuaikan jadwal pembelajaran kelas IV SD Inpres BTN IKIP 1 Kota Makassar. Prosedur penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan sesuai dengan jenis penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Oleh karena itu, penelitian ini menerapkan langkah-langkah dari penelitian tindakan kelas yang dimulai dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/observasi, dan refleksi. Empat langkah dalam penelitian tindakan kelas Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 1. No 1. Agustus 2023, hal 1-9 E-ISSN: 3025-0102 dilaksanakan dan membentuk satu siklus. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan sebanyak II siklus dimana setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan apa yang ingin dicapai dan telah dirancang. Selanjutnya, pembelajaran di kelas dilakukan dengan menerapkan model somatic, audiotory, visual, and intellectual (SAVI) yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa kelas IV SD Inpres BTN IKIP 1 Kota Makassar. Teknik penguumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah observasi, tes, dan Observasi adalah suatu metode yang dilakukan dengan cara mengadakan suatu pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis. Dalam penelitian tindakan kelas, observasi menjadi hal yang sangat penting dalam pengumpulan data karena observasi sebagai proses pengamatan langsung. Kegiatan observasi dilakukan untuk mengamati semua yang terjadi di dalam kelas saat terjadi tindakan dengan mencatat hal-hal yang terjadi secara teliti mulai dari hal yang Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi guru dan siswa. Tes adalah satu alat evaluasi yang dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana hasil yang telah dicapai setelah mengikuti proses pembelajaran. Tes dilakukan untuk mengumpulkan informasi kemampuan membaca puisi siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan model SAVI. Tes yang digunakan berupa tes keterampilan dimana siswa diminta membaca puisi dengan lafal, intonasi, jeda, dan ekspresi yang tepat. Teknik dokumentasi digunakan untuk memperkuat data yang diperoleh selama observasi dan memberikan gambaran secara konkret mengenai kemampuan membaca puisi siswa selama proses Dokumen yang terkait dengan penelitian beserta pengambilan foto saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah indikator proses dan indikator hasil kemampuan membaca puisi. Indikator proses yaitu proses dikatakan baik jika keterlaksanaan langkah-langkah model Somatic. Audiotory. Visual, and Intellectual (SAVI) terlaksana dengan baik atau mencapai kualifikasi Ou75%. Sedangkan Indikator keberhasilan kemampuan membaca puisi dikatakan baik apabila mencapai kualifikasi O 75% secara klasikal. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini dilakukan berdasarkan prosedur PTK yang terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pelaksanaan tindakan berlangsung selama dua siklus pada semester genap tahun ajaran 2023 dengan subjek penelitian kelas IV SD Inpres BTN IKIP 1 Kota Makassar. Data penelitian berupa nilai kemampuan membaca puisi siswa yang diperoleh dengan melakukan tes kemampuan membaca puisi pada akhir siklus tiap pertemuan. Pelaksanaan penelitian Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 1. No 1. Agustus 2023, hal 1-9 E-ISSN: 3025-0102 terdiri dari dua siklus pembelajaran, setiap siklus pembelajaran terdiri dari dua pertemuan. Siklus 1 dimulai pada tanggal 09 Mei 2023 dan 10 Mei 2023, siklus II pada tanggal 13 Mei 2023 dan 15 Mei Hasil penelitian berupa data hasil belajar siswa yang diperoleh melalui tes akhir siklus I dan siklus II serta data observasi terhadap aktivitas belajar siswa dan aktivitas mengajar guru menggunakan lembar observasi model checklist. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa model pembelajaran Somatic. Audiotory. Visual, and Intellectual (SAVI) dalam pembelajaran membaca puisi dapat meningkatkan kemampuan membaca puisi dengan baik. Berdasarkan hasil belajar siklus I didapati nilai rata Ae rata siswa yaitu 53,26 dengan persentase ketuntasan 26,08% dan jumlah siswa yang tuntas atau yang mendapatkan nilai Ou75 berjumlah 6 orang sedangkan siswa yang tidak tuntas mendapatkan nilai O75 yaitu 17 orang. Dari hasil belajar di atas menunjukkan bahwa proses pembelajaran pada siklus I belum tuntas karena sesuai dengan KKM yang telah ditetapkan bahwa proses pembelajaran di kelas dikatakan tuntas secara klasikal apabila 75% siswa dikelas mendapat nilai Ou75. Ketidak tuntasan pada siklus I ini disebabkan karena guru kurang memusatkan perhatian siswa, serta siswa yang masih canggung dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat pada lembar observasi guru dan siswa selama proses Berdasarkan hasil belajar siklus II didapati nilai rata Ae rata siswa yaitu 82,24 dengan persentase ketuntasan 82,60% dan jumlah siswa yang tuntas atau yang mendapatkan nilai Ou75 berjumlah 19 orang dan siswa yang mendapatkan nilai O75 yaitu 4 orang. Maka proses pembelajaran pada siklus II dilaksanakan berdasarkan hasil dari refleksi siklus I, kekurangan- kekurangan yang ada pada siklus I diperbaiki pada siklus II. Berdasarkan analisis data tes dan hasil tes siswa pada siklus II hal ini berarti bahwa pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus II ketuntasan belajar siswa secara klasikal termasuk ke dalam kategori tuntas. Pembahasan Penelitian ini berlangsung selama dua siklus, setiap siklus diadakan sebanyak dua kali Pada siklus I hasil yang diperoleh belum maksimal karena masih terdapat kekurangan, baik dari kegiatan guru dan aktivitas siswa. Kekurangan yang ditemukan pada saat proses pembelajaran yaitu kesulitan guru dalam memadukan keempat karakteristik dalam SAVI secara utuh, siswa merasa canggung dalam menyampaikan pendapatnya di depan guru serta kemampuan berfikir siswa masih kurang. Pada siklus II proses pembelajaran berlangsung lebih baik dengan adanya pemanfaatan somatic dalam pembelajaran yaitu pembelajaran yang memanfaatkan dan melibatkan tubuh, dimana pada tahap persiapan guru mengadakan ice breaking di tengah proses pembelajaran sehingga menimbulkan Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 1. No 1. Agustus 2023, hal 1-9 E-ISSN: 3025-0102 rasa semangat siswa dalam belajar. Pada tahap penyampaian berlangsung audiotory yang bermakna belajar harus melalului mendengarkan, menyimak, berbicara, dan mengemukakan pendapat. Pada tahap ini siswa mulai mendengarkan penjelasan guru dengan baik, mampu mengemukakan pendapat setelah mengamati puisi serta mampu memberikan tanggapan terhadap teman yang membaca puisi. Pada tahap pelatihan berlangsung visual bermakna belajar dengan menggunakan panca indra untuk memperoleh informasi dengan melihatnya secara langsung. Pada tahap ini guru memperlihatkan beberapa gambar profesi serta memberikan masing-masing penjelasan tiap profesi serta menayangkan video pembacaan puisi. Penerapan model pembelajaran SAVI berdampak pada proses pembelajaran yaitu membantu membangkitkan kreativitas dan psikomotorik siswa dalam belajar, menciptakan lingkungan belajar yang positif, dan memaksimalkan ketajaman konsentrasi. Berdasarkan pernyataan yang diuraikan diatas sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Nainggolan . menyatakan bahwa dengan penerapan model SAVI siswa menjadi lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran, siswa aktif dalam menanggapi pembacaan puisi yang dilakukan teman sekelas, suasana belajar yang lebih menarik dan efektif, meningkatkan kecerdasan siswa secara penuh melalui penggabungan gerak fisik dengan aktivitas intelektual, dan mampu meningkatkan kreativitas serta kemampuan psikomotor siswa. Perubahan yang terjadi dalam proses pembelajaran yang telah dilaksanakan ini menjadi salah satu pemicu dalam meningkatkan nilai rata-rata siswa di kelas. Siswa yang telah mencapai indikator yang sebelumnya sudah ditetapkan yaitu kemampuan membaca puisi siswa dapat dikatakan meningkat apabila siswa yang berada di kelas tersebut telah memenuhi kriteria kemampuan membaca puisi yang ditetapkan yaitu berada pada kategori baik dengan presentase 75%, oleh karena itu penelitian dianggap berhasil dalam melaksanakan penelitian. Adapun hasil penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan oleh Ibrahim . dan Herawati. Ika dan Ayuningrum . menunjukkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran SAVI dapat meningkatkan kemampuan membaca puisi Adapun yang menjadi perbedaan penelitian dengan penelitian terdahulu yaitu pemilihan subjek dan proses pembelajaran di kelas, peneliti memilih subjek siswa kelas IV SD Inpres BTN IKIP 1 Kota Makassar dan menggunakan tema pembelajaran cita-citaku serta berlangsung secara langsung di Berdasarkan siklus I dan siklus II yang diperoleh, hal ini sesuai dengan hipotesis yang diuraikan oleh peneliti telah terbukti bahwa dari keseluruhan proses yang dilaksanakan dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi menunjukkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran SAVI ini dapat membantu dalam proses pembelajaran dan kemampuan membaca puisi siswa di kelas IV SD Inpres BTN IKIP 1 Kota Makassar. Dengan demikian secara umum proses pembelajaran pada Siklus II telah berjalan sebagaimana mestinya. Analisis hasil presentase ketuntasan belajar siswa pada Siklus I, dan Siklus II dapat dilihat dari tabel di bawah ini: Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 1. No 1. Agustus 2023, hal 1-9 E-ISSN: 3025-0102 Tabel 1. Presentase Ketuntasan Belajar Klasikal Siswa Siklus Nilai Rata-Rata Presentase Ketuntasan Belajar Siklus I 53,62 26,08% Siklus II 82,24 82,60% Data di atas menunjukkan terjadinya peningkatan ketuntasan belajar pada siklus I dan siklus II. Meningkatnya ketuntasan belajar siswa melalui penggunaan model pembelajaran somatic, audiotory, visual, and intellectual sehingga dapat meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran SAVI dapat membantu siswa membaca puisi dengan memperhatikan lafal, intonasi, jeda, dan ekspresi. Hal ini dibuktikan dengan hasil kegiatan guru dan aktivitas siswa serta hasil tes kemampuan membaca puisi siswa. Uraian peningkatan dapat dilihat dari setiap siklus, pada siklus I kegiatan mengajar guru dan aktivitas siswa berada pada kategori kurang dan mengalami peningkatan pada siklus II menjadi baik. Kemampuan membaca puisi siswa pada siklus I belum mencapai ketuntasan yang ditentukan dan berada pada kategori kurang, sedangkan pada siklus II kemampuan membaca puisi siswa sudah meningkat, hal itu dilihat dari presentase ketuntasan yang mengalami peningkatan dan berada pada kategori baik. DAFTAR PUSTAKA