AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Vol. No. Juni, 2024 pp. xAex ISSN: 2354-8576 (Prin. ISSN:0000-0000 . http://doi. PENGARUH PENDIDIKAN ORANG TUA TERHADAP PENGALAMAN PAI PADA SISWA KELAS X DI MAN 1 MADIUN TAHUN PELAJARAN 2023-2024 Alfiati1. Mahfud Saiful Ansori2. Alfi Laili Hidayati3 Sekolah Tinggi Agama Islam Madiun1 Sekolah Tinggi Agama Islam Madiun2 Sekolah Tinggi Agama Islam Madiun3 Email : Alfiati@gmail. Mahfudsaifulansori@gmail. Alfilailihidayati@gmail. Abstrak Partisipasi orang tua dalam pendidikan agama di rumah dianggap krusial dalam meningkatkan pengalaman belajar PAI siswa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kontribusi pendidikan orang tua terhadap kualitas pengalaman belajar PAI siswa kelas X di MAN 1 Madiun tahun pelajaran 2023Ae2024. Metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus diterapkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan analisis dokumen pada siswa, orang tua, dan guru PAI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi tematik dan praktik keagamaan bersama orang tua memperdalam refleksi konseptual, sementara literasi digital orang tua memoderasi efektivitas pembelajaran daring. latar belakang pendidikan formal dan kondisi sosial-ekonomi orang tua juga memengaruhi intensitas keterlibatan dan pengalaman multimodal siswa. Temuan ini menegaskan pentingnya pemberdayaan literasi digital dan pembentukan komite orang tua PAI untuk meningkatkan sinergi rumahAesekolahAekomunitas. Kata Kunci : Pendidikan Orang Tua. Pengalaman PAI. literasi Digital. Studi Kasus. MAN 1 Madiun. Abstract Parental involvement in home-based religious education is considered crucial for enhancing studentsAo Islamic Religious Education (PAI) learning experience. This study aims to identify the contribution of parental religious education to the quality of the PAI learning experience of tenth grade students at MAN 1 Madiun in the 2023Ae2024 academic year. A descriptive qualitative method with a case study approach was employed through semiAcstructured interviews, participatory observation, and document analysis involving students, parents, and Vol. 12 No. 1 | 78 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam PAI teachers. Findings indicate that thematic communication and joint religious practices between parents and students deepen conceptual reflection, while parentsAo digital literacy moderates the effectiveness of online learning. parentsAo formal education background and socioAceconomic conditions also influence the intensity of engagement and studentsAo multimodal These results highlight the importance of empowering digital literacy and establishing PAI parent committees to enhance homeAeschoolAecommunity synergy. Keyword : Parental Education. PAI Learning Experience. Digital Literacy. Case Study. MAN 1 Madiun. PENDAHULUAN Pada era pendidikan global yang semakin kompetitif, kualitas pembelajaran agama Islam memegang peranan strategis dalam membentuk karakter moral dan spiritual generasi muda. Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak hanya berfungsi sebagai penyampaian pengetahuan keagamaan, melainkan juga sebagai wahana pembentukan nilai dan pengalaman spiritual yang menjadi landasan perilaku siswa di masa depan. Data dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 menunjukkan bahwa tingkat partisipasi orang tua dalam proses pendidikan berkorelasi positif dengan motivasi belajar dan komitmen siswa terhadap pelajaran yang dianggap bernilai secara sosial dan budaya, termasuk PAI (OECD, 2. UNESCO dalam Education for All Global Monitoring Report 2015 menegaskan pentingnya kemitraan antara sekolah dan keluarga untuk meningkatkan kualitas pendidikan karakter, karena keterlibatan orang tua mampu memperkuat praktik pembelajaran yang terjadi di sekolah (UNESCO, 2. Di Indonesia, implementasi Kurikulum 2013 menempatkan PAI sebagai salah satu mata pelajaran utama dalam pengembangan kompetensi spiritual siswa, sehingga mendukung sinergi antara pengetahuan teoretis dan praktik spiritual sehari-hari (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2. Madrasah Aliyah Negeri (MAN) sebagai lembaga pendidikan berbasis agama memiliki tanggung jawab ganda untuk menyiapkan peserta didik yang kompeten intelektual dan matang secara spiritual agar dapat berkontribusi positif dalam masyarakat plural. Studi nasional oleh Badan Litbang Kementerian Agama RI menunjukkan adanya kesenjangan antara penguasaan materi PAI dan kedalaman penghayatan spiritual siswa di madrasah negeri, khususnya pada jenjang sekolah menengah atas (Rohmatullah, 2. Survei internal MAN 1 Madiun pada tahun pelajaran 2022/2023 mencatat bahwa sekitar 40 % siswa kelas X melaporkan keterbatasan dukungan orang tua dalam mendiskusikan nilai-nilai keagamaan di rumah, yang dapat memengaruhi daya serap dan antusiasme mereka terhadap pembelajaran PAI (Nur & Hidayat, 2. Dengan demikian, penyelarasan pengajaran formal Vol. 12 No. 1 | 79 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam di sekolah dan pendidikan keagamaan yang diberikan oleh orang tua di rumah menjadi aspek penting yang perlu diteliti secara mendalam. Secara historis. Pendidikan Agama Islam di Indonesia diatur oleh Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Pedoman Pendidikan Agama Islam di Madrasah yang terbaru diterbitkan pada tahun 2023. Pedoman tersebut menekankan pendekatan integratif yang menggabungkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya taat dalam ritual keagamaan, tetapi juga memahami konteks dan makna nilai-nilai Islam dalam masyarakat kontemporer (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2. Kurikulum ini mengadopsi prinsip multidisipliner, memadukan materi fiqh, tafsir, akidah, dan moral serta menyediakan ruang bagi penerapan nilai dalam kegiatan ekstrakurikuler, seperti pengabdian masyarakat dan kepenghayatan seni Islam. Penelitian Rohmatullah . mengemukakan bahwa meskipun kerangka kurikulum telah optimal, tantangan muncul dari variabilitas latar belakang pendidikan keagamaan orang tua yang ikut menentukan ekstensitas diskusi dan pendalaman materi PAI di luar kelas. Lebih lanjut. Kurniawan . menemukan bahwa karakteristik demografis dan tingkat pendidikan orang tua di lingkungan sekolah menengah berpengaruh signifikan terhadap pembentukan keyakinan religius dan komitmen praktis siswa dalam aktivitas keagamaan Di sisi lain, kebijakan penguatan literasi digital, termasuk penyediaan modul daring PAI selama masa pandemi, menuntut peran orang tua sebagai fasilitator teknologi untuk mendukung akses siswa terhadap bahan ajar digital. Namun, kemampuan literasi digital orang tua masih bervariasi, mengingat generasi saat ini berada pada transisi antara milenial dan awal generasi Z, sehingga adaptasi terhadap media pembelajaran digital memiliki tingkat keberhasilan yang berbeda di tiap keluarga (Putra & Sari, 2. Konteks Madrasah Aliyah Negeri 1 Madiun, dengan keragaman sosial ekonomi dan budaya di Kota Madiun, menciptakan dinamika tersendiri dalam bagaimana orang tua memfasilitasi pendidikan agama di rumah, sehingga menghasilkan pengalaman PAI yang beragam pada siswa. Berdasarkan kajian teoretis tentang keterlibatan orang tua, beberapa model telah dikembangkan untuk menjelaskan mekanisme bagaimana pendidikan orang tua memengaruhi hasil belajar siswa. Bronfenbrenner . , melalui theory of human ecology, menekankan pentingnya interaksi sistem mikro, yaitu lingkungan keluarga dan sekolah, dalam membentuk perkembangan individu. Dalam konteks ini, orang tua sebagai agen primer memiliki pengaruh langsung melalui pola asuh, nilai, dan praktik keagamaan yang diterapkan sehari-hari. Epstein . mengembangkan model kemitraan sekolah, keluarga, dan komunitas yang Vol. 12 No. 1 | 80 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam mengidentifikasi enam bentuk keterlibatan orang tua: komunikasi, pembelajaran di rumah, peran sukarelawan, pengambilan keputusan, dan kolaborasi dengan komunitas. Model ini relevan untuk memahami bagaimana orang tua dapat mendukung pendidikan agama anak, baik melalui diskusi tematik, pendampingan ibadah, maupun partisipasi dalam kegiatan madrasah. Sementara itu. Hoover-Dempsey dan Sandler . mengusulkan bahwa motivasi orang tua untuk terlibat dipengaruhi oleh keyakinan kemampuan diri dalam membantu anak, persepsi dampak keterlibatan terhadap hasil belajar, serta undangan formal dan informal dari sekolah. Pomerantz. Moorman, dan Litwack . menyoroti bahwa keterlibatan yang bersifat emosional dan suportif, seperti dukungan afektif dan penguatan nilai, memiliki dampak lebih besar pada pengalaman dan sikap belajar siswa dibandingkan keterlibatan yang terlalu kontrol-heavy. Selain itu. Social Learning Theory yang diusung oleh Bandura . melihat proses pembelajaran anak dipengaruhi oleh observasi dan imitasi perilaku orang tua, dimana siswa memodelkan sikap religius orang tua seperti cara berdoa dan membaca Al-QurAoan. Keseluruhan teori ini memberikan landasan konseptual untuk menganalisis bagaimana interaksi antara orang tua dan siswa memengaruhi pengalaman pembelajaran PAI. Teori Kolb menggarisbawahi pentingnya siklus belajar yang melibatkan pengalaman konkret, refleksi, konsep abstrak, dan eksperimen aktif. Dalam konteks PAI, pendekatan ini memfasilitasi siswa untuk mengalami nilai-nilai Islam melalui praktik langsung, seperti simulasi manasik haji, kajian kitab, dan kegiatan sosial keagamaan. Mezirow . menambahkan dimensi transformative learning, di mana refleksi kritis terhadap pengalaman memungkinkan terjadinya perubahan perspektif yang mendalam. Sari dan Jones . dalam penelitian mereka tentang pembelajaran pengalaman di PAI menegaskan bahwa siswa yang didukung oleh lingkungan rumah yang menguatkan nilai-nilai relasional dan kontemplatif lebih mampu melakukan refleksi kritis, sehingga pengalaman pembelajaran menjadi bermakna dan mendorong pertumbuhan spiritual. Rohmatullah . juga mencatat bahwa inovasi digital, seperti penggunaan platform e-learning untuk materi PAI, meningkatkan peluang siswa mengalami pembelajaran multimodal, selama orang tua mampu memfasilitasi akses teknologi dan menjadi moderator diskusi di rumah. Di MAN 1 Madiun, kurikulum PAI telah berupaya mengintegrasikan pembelajaran eksperimental melalui kegiatan ekstrakurikuler dan pengabdian masyarakat, namun efektivitasnya sangat bergantung pada dukungan lanjutan yang diberikan di lingkungan rumah (Putra & Sari, 2. Ketika orang tua aktif mendampingi refleksi siswa setelah kegiatan keagamaan, misalnya melalui dialog terstruktur dan penyediaan Vol. 12 No. 1 | 81 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam literatur pendukung, pengalaman belajar di sekolah cenderung berdampak lebih kuat pada pembentukan karakter siswa. Meski kerangka kurikulum dan teori pembelajaran telah memadai, realitas di lapangan menunjukkan tantangan signifikan terkait pengalaman siswa dalam pembelajaran PAI di MAN 1 Madiun. Berdasarkan data survei internal pada tahun ajaran 2022Ae2023, tingkat kepuasan siswa terhadap pengalaman pembelajaran PAI hanya mencapai rata-rata 3,2 dari skala 5, yang mengindikasikan kebutuhan untuk perbaikan model pengajaran dan dukungan eksternal (Nur & Hidayat, 2. Wawancara mendalam dengan guru PAI mengungkap bahwa faktor pendidikan orang tua di rumah berkontribusi pada variasi intensitas diskusi keagamaan dan kedalaman refleksi siswa, sehingga tidak semua siswa memperoleh kesempatan yang sama untuk menginternalisasi materi pelajaran (Putra & Sari, 2. Observasi kelas juga menunjukkan bahwa ketika siswa tidak mendapatkan keteladanan atau fasilitasi diskusi keagamaan di rumah, mereka cenderung mengadopsi pendekatan pasif dalam pembelajaran PAI, sehingga pengalaman belajar terbatas pada aspek kognitif tanpa motivasi afektif yang kuat (Desforges & Abouchaar, 2. Lebih lanjut, perbedaan latar belakang sosial ekonomi orang tua memunculkan disparitas akses terhadap sumber belajar tambahan, seperti buku tafsir modern dan pelatihan keagamaan, yang pada akhirnya memengaruhi bagaimana siswa merasakan relevansi PAI dalam kehidupan sehari-hari (Hadi, 2. Permasalahan ini menjadi sentral mengingat tujuan PAI yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan sikap spiritual dan komitmen religius siswa. Dalam tinjauan pustaka, sejumlah penelitian telah mengkaji keterlibatan orang tua dalam pendidikan umum dan pengaruhnya terhadap prestasi akademik, karakter, dan motivasi belajar Misalnya. Epstein . dan Hoover-Dempsey dan Sandler . meneliti mekanisme umum keterlibatan orang tua di ranah sekolah dan rumah, sementara Desforges dan Abouchaar . menyajikan meta-analisis dampak luas keterlibatan orang tua. Namun, sebagian besar studi tersebut berfokus pada hasil kognitif atau karakteristik belajar umum, dan hanya sedikit yang menelaah khusus bagaimana pendidikan orang tua memengaruhi pengalaman pembelajaran PAI. Sari dan Jones . mengangkat dimensi pengalaman, tetapi terbatas pada konteks sekolah internasional, sedangkan Nur dan Hidayat . meneliti prestasi PAI di madrasah negeri tanpa menyoroti aspek pengalaman subjektif siswa. Kurniawan . meneliti hubungan pendidikan orang tua dan karakter keagamaan, namun menitikberatkan pada sikap religius sebagai outcome akhir, bukan pada proses pengalaman pembelajaran. Gap ini menjadi semakin menonjol mengingat pergeseran paradigma PAI yang menekankan Vol. 12 No. 1 | 82 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam pembelajaran berbasis pengalaman dan digitalisasi materi, namun belum banyak diikuti oleh penelitian yang memadukan variabel konteks keluarga sebagai determinan pengalaman siswa (Rohmatullah, 2. Penelitian terkini dalam bidang pendidikan agama menekankan pentingnya inovasi metode dan pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa. Pomerantz. Moorman, dan Litwack . menegaskan bahwa keterlibatan orang tua yang bersifat suportif dan berfokus pada nilai afektif menghasilkan dampak yang lebih signifikan dibandingkan keterlibatan yang bersifat instruksional semata. Kurniawan . memaparkan bahwa literasi digital orang tua memegang peranan penting dalam memfasilitasi siswa mengakses modul daring dan sumber belajar Islam kontemporer, sehingga menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih dinamis. Pendekatan Experiential Learning 4. 0 yang mengintegrasikan pembelajaran praktik, refleksi digital, dan kolaborasi virtual menawarkan landasan baru untuk memahami pengalaman PAI di era teknologi (Rohmatullah, 2. Lebih lanjut, state of the art menunjukkan kecenderungan penerapan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menganalisis hubungan kompleks antara variabel keluarga, motivasi internal siswa, dan hasil pembelajaran agama, memberikan ketepatan analisis lebih tinggi dibandingkan metode konvensional (Kurniawan, 2. Dalam konteks MAN 1 Madiun, kombinasi digital parental engagement dan metode analisis mutakhir belum diimplementasikan secara komprehensif, sehingga penelitian ini berpotensi menjadi yang pertama menggabungkan variabel pendidikan orang tua, pengalaman PAI, dan literasi digital dalam satu model empiris di lingkungan madrasah negeri. Berdasarkan latar belakang, kajian teoretis, permasalahan, gap analysis, dan state of the art di atas, penelitian ini dirancang untuk menjawab kebutuhan empiris dan praktis terkait pengaruh pendidikan orang tua terhadap pengalaman PAI siswa. Tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis sejauh mana pendidikan keagamaan orang tua berkontribusi pada kualitas pengalaman belajar siswa kelas X di MAN 1 Madiun pada tahun pelajaran 2023Ae2024, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Penelitian ini sejalan dengan prinsip kemitraan sekolah dan keluarga yang dikemukakan Epstein . dan direkomendasikan oleh Pedoman PAI Kementerian Agama RI . Secara khusus, studi ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik pendidikan agama yang diberikan oleh orang tua di rumah, menggambarkan pengalaman pembelajaran PAI siswa dalam hal motivasi, kedalaman refleksi, dan partisipasi aktif, serta menguji model hubungan antarvariabel melalui SEM untuk mengungkap mekanisme pengaruh secara lebih rinci. Hasil penelitian diharapkan tidak hanya Vol. 12 No. 1 | 83 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam mengisi kekosongan akademis dalam literatur pendidikan agama, tetapi juga memberikan rekomendasi kebijakan dan praktik bagi MAN 1 Madiun, para orang tua, dan pemangku kepentingan pendidikan untuk memperkuat sinergi antara rumah dan sekolah dalam mewujudkan pembelajaran PAI yang lebih bermakna. METODE PENELITIAN Penelitian ini dirancang dengan spesifikasi penelitian berupa studi lapangan deskriptif pada siswa kelas X di Madrasah Aliyah Negeri 1 Madiun pada tahun pelajaran 2023Ae2024, dengan fokus pada pengalaman Pendidikan Agama Islam (PAI) dan konteks pendidikan keagamaan yang diberikan oleh orang tua di rumah. Jenis penelitian yang diadopsi adalah kualitatif deskriptif yang bertujuan menggambarkan secara mendalam bagaimana variabel pendidikan orang tua memengaruhi pengalaman belajar PAI siswa. Pendekatan studi kasus dipilih sebagai metode untuk menelaah satu konteks sosial secara holistik, memanfaatkan perspektif siswa, orang tua, dan guru PAI agar dapat memberikan pemahaman kontekstual yang komprehensif (Creswell, 2. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara semiterstruktur dengan sepuluh siswa dan delapan orang tua, di mana partisipan direkrut melalui purposive sampling dan snowball sampling berdasarkan rekomendasi guru PAI untuk memastikan variasi tingkat keterlibatan orang tua dalam pendidikan agama di rumah, observasi partisipatif selama proses pembelajaran PAI di kelas dan kegiatan pendukung di lingkungan rumah, serta studi dokumen seperti silabus PAI, catatan harian guru, dan rekaman kegiatan keagamaan keluarga untuk memvalidasi data wawancara (Bogdan & Biklen, 2. Pengumpulan data dilaksanakan dalam periode September sampai November 2023, memungkinkan peneliti mengamati praktik pendidikan agama orang tua dalam berbagai situasi dan konteks kegiatan siswa. Proses analisis data dilakukan menggunakan metode analisis tematik yang mencakup langkah-langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan Pada tahap reduksi, peneliti melakukan transkripsi penuh rekaman wawancara dan menerapkan teknik open coding untuk mengidentifikasi kategori awal. selanjutnya, axial coding digunakan untuk mengelompokkan tema-tema utama yang muncul (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. Tahap penyajian data melibatkan penyusunan narasi tematik dan representasi matriks agar memudahkan eksplorasi hubungan antarvariabel. Selama pengumpulan data, peneliti mencatat catatan lapangan dan jurnal refleksi harian untuk memantau peran subjektivitas peneliti dan menjaga keotentikan interpretasi data (Denzin & Lincoln, 2. Untuk memastikan validitas dan reliabilitas data, peneliti menerapkan triangulasi sumber, triangulasi teknik, serta audit trail, sesuai prinsip kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas. Vol. 12 No. 1 | 84 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam dan konfirmabilitas dalam penelitian kualitatif (Denzin & Lincoln, 2. Prosedur etika penelitian juga diikuti dengan memperoleh informed consent dari semua partisipan. Hasil analisis nantinya diharapkan memberikan rekomendasi praktis bagi pihak sekolah dan keluarga guna meningkatkan sinergi dalam pembelajaran PAI sehingga pengalaman belajar siswa menjadi lebih bermakna dan berkelanjutan. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menemukan bahwa pola komunikasi keagamaan antara orang tua dan siswa merupakan faktor fundamental yang memengaruhi pengalaman PAI. Sebagian besar siswa menyatakan bahwa diskusi tematik mengenai nilai-nilai Islam, khususnya sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran di sekolah, meningkatkan pemahaman konseptual dan kedalaman refleksi mereka terhadap materi (Nur & Hidayat, 2. Pada keluarga dengan komunikasi terbuka, orang tua tidak hanya menanyakan nilai hafalan atau tugas sekolah, tetapi juga memotivasi siswa untuk mengaitkan ajaran PAI dengan peristiwa aktual di lingkungan sekitar. Hal ini sejalan dengan temuan Epstein . bahwa keterlibatan orang tua melalui komunikasi berkualitas dapat meningkatkan motivasi internal siswa dan keterikatan afektif pada materi pelajaran (Epstein, 2. Sebaliknya, partisipan yang melaporkan komunikasi terbatas hanya berfokus pada aspek kognitif menunjukkan rendahnya antusiasme dan kesulitan mengaitkan teori PAI dengan praktik sehari-hari. Aspek keterlibatan dalam praktik keagamaan di rumah juga terbukti signifikan. Observasi dan wawancara mendalam menunjukkan bahwa siswa yang orang tuanya rutin melaksanakan ibadah berjamaah, tadarus Al-QurAoan, atau kajian kitab di rumah memiliki pengalaman pembelajaran PAI yang lebih holistik. Mereka melaporkan mampu mengintegrasikan skema teoretis dengan pengalaman nyata, misalnya ketika menerapkan prinsip fiqh dalam manajemen waktu ibadah (Bandura, 1. Model pembelajaran eksperimental Kolb . juga mendukung, bahwa pengalaman konkret di rumah dan refleksi bersama orang tua memperkuat siklus belajar siswaAimulai dari pengalaman konkret (Concrete Experienc. hingga percobaan aktif (Active Experimentatio. dalam kegiatan keagamaan (Kolb, 1. Oleh karena itu, sinergi antara praktik keagamaan orang tua dan materi PAI di sekolah menciptakan pembelajaran multimodal yang bermakna bagi siswa. Dalam konteks literasi digital, penelitian ini mengungkap variasi kemampuan orang tua dalam memfasilitasi akses modul daring PAI. Sekitar 60 % orang tua memiliki kendala teknis dalam mengoperasikan platform e-learning, sehingga siswa terpaksa mengandalkan teman atau guru untuk mengakses materi digital (Putra & Sari, 2. Padahal. Rohmatullah . Vol. 12 No. 1 | 85 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi dalam PAI dapat memperkaya konten melalui video, podcast, dan kuis interaktif apabila didukung parental engagement yang Kondisi di MAN 1 Madiun mengindikasikan perlunya pelatihan literasi digital bagi orang tua agar mereka dapat bertindak sebagai fasilitator pembelajaran di rumah, bukan hanya sebagai pengawas pasif. Hasil temuan juga menyoroti berbagai hambatan, antara lain keterbatasan waktu orang tua karena beban pekerjaan, perbedaan latar belakang pendidikan agama, dan faktor ekonomi yang membatasi akses sumber belajar tambahan. Hambatan-hambatan ini memicu disparitas pengalaman PAI antar siswaAisebagaimana diprediksi oleh teori ekologi Bronfenbrenner . , bahwa microsystem keluarga memengaruhi perkembangan individu secara langsung (Bronfenbrenner, 1. Temuan ini menuntut intervensi holistik yang melibatkan dukungan kebijakan sekolah dan komunitas, misalnya penyediaan perpustakaan digital PAI gratis dan koordinasi dengan lembaga keagamaan setempat untuk memberikan pelatihan bagi orang tua. Dalam kerangka analisis, teori Hoover-Dempsey dan Sandler . membantu menjelaskan motivasi orang tua untuk terlibat. Penelitian ini menemukan bahwa orang tua yang percaya kemampuan diri . elf-efficac. dalam membimbing anak secara langsung lebih aktif memfasilitasi diskusi keagamaan, sedangkan yang kurang yakin cenderung pasif atau bergantung sepenuhnya pada guru (Hoover-Dempsey & Sandler, 1. Oleh karena itu, perlu strategi peningkatan self-efficacy melalui workshop berbasis praktik yang mengajak orang tua melakukan simulasi pengajaran PAI sederhana di rumah. Berdasarkan model kemitraan Epstein . , penelitian ini merekomendasikan pembentukan komite orang tua PAI di setiap kelas yang bertugas merancang kegiatan pendalaman materi di luar jam sekolah, seperti ziarah religi, kunjungan ke pesantren, atau diskusi kelompok kecil. Komite ini akan bekerja sama dengan guru untuk menyusun modul diskusi dan evaluasi reflektif, sehingga keterlibatan orang tua menjadi lebih terstruktur dan Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan aspek pengambilan keputusan . ecision makin. dan kolaborasi dengan komunitas, sesuai dimensi kedua dan keenam model Epstein (Epstein, 2. Solusi lain yang diusulkan adalah pengembangan aplikasi mobile PAI AuMitra ImanAy yang menyajikan ringkasan materi, kuis reflektif, dan fitur jurnal spiritual harian. Aplikasi ini memungkinkan orang tua memantau kemajuan belajar anak, memberikan umpan balik langsung, dan mengakses pelatihan singkat tentang metode pendampingan keagamaan. Penelitian Pomerantz. Moorman, dan Litwack . menegaskan bahwa umpan balik yang Vol. 12 No. 1 | 86 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam bersifat suportif dan berbasis nilai afektif memiliki dampak lebih besar pada pengalaman belajar siswa dibandingkan intervensi instruksional semata (Pomerantz. Moorman, & Litwack, 2. Selain itu, upaya peningkatan literasi digital orang tua dapat dilakukan dengan mengintegrasikan modul AuDigital ParentingAy ke dalam program ekstrakurikuler madrasah. Modul ini berisi pelatihan penggunaan platform e-learning, keamanan siber dasar, dan cara memoderasi diskusi daring antara siswa dan orang tua. Sebagai pendukung, sekolah dapat bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan lembaga swadaya masyarakat untuk menyediakan pelatih bersertifikat dan sarana akses internet gratis bagi keluarga kurang mampu. Secara teoretis, kombinasi intervensi di atas membentuk ekosistem pembelajaran PAI yang seimbang antara dukungan keluarga dan institusi sekolah. Intervensi ini juga menutup gap analitis yang diidentifikasi dalam kajian pustaka, yaitu minimnya studi yang menguji model empiris digital parental engagement dalam PAI di madrasah negeri (Kurniawan, 2. Dengan menerapkan Structural Equation Modeling (SEM) di tahap lanjutan penelitian, efektivitas setiap komponen intervensiAikomunikasi, praktik keagamaan, literasi digitalAidapat diukur secara kuantitatif untuk memastikan transferabilitas dan dependabilitas temuan (Kurniawan, 2. Keterbatasan penelitian ini antara lain cakupan partisipan yang relatif kecil dan konteks geografis terbatas di MAN 1 Madiun, sehingga hasil belum bisa digeneralisasi ke seluruh madrasah negeri di Indonesia. Penelitian lanjutan disarankan memperluas wilayah studi dan mengombinasikan metode kualitatif dengan kuantitatif untuk meningkatkan validitas eksternal. Selain itu, eksplorasi dampak jangka panjang dari intervensi AuMitra ImanAy dan komite orang tua perlu diukur dalam bentuk longitudinal study. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan orang tuaAi melalui komunikasi berkualitas, praktik keagamaan bersama, dan literasi digitalAimemiliki pengaruh signifikan terhadap pengalaman belajar PAI siswa kelas X di MAN 1 Madiun. Implementasi solusi yang direkomendasikan diharapkan tidak hanya mengatasi masalah disparitas pengalaman belajar, tetapi juga memperkuat kemitraan rumah-sekolah dalam mewujudkan pembelajaran PAI yang bermakna, kontekstual, dan berkelanjutan. KESIMPULAN Penelitian ini mengungkap bahwa pendidikan orang tua memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pengalaman pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) pada siswa kelas X di MAN 1 Madiun tahun pelajaran 2023Ae2024. Hasil analisis data memperlihatkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan serta keterlibatan orang tua dalam mendampingi Vol. 12 No. 1 | 87 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam proses belajar, semakin positif pengalaman siswa dalam pembelajaran PAI, yang ditandai dengan meningkatnya motivasi belajar, partisipasi aktif, dan penghayatan nilai-nilai Pola asuh suportif yang diterapkan orang tua juga berkorelasi dengan tingginya kepuasan siswa terhadap materi pembelajaran dan hubungan interpersonal di kelas. Meskipun demikian, terdapat variasi pengaruh pada kelompok siswa dengan latar belakang sosial budaya Implikasi praktis penelitian ini meliputi perlunya sekolah mengembangkan program sinergi orang tua dan guru melalui workshop, bimbingan, dan komunikasi rutin. Dengan demikian, kolaborasi yang efektif antara sekolah dan keluarga menjadi kunci untuk PAI. Penelitian menggunakan metode longitudinal dan sampel lebih beragam untuk generalisasi hasil. DAFTAR PUSTAKA