Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat p-ISSN: 2797-9407, e-ISSN: 2797-9423 Volume 6, nomor 2, 2026, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/bajpm. Edukasi Strategi Manajemen Bimbingan dan Konseling dalam Menumbuhkan Self Confidence Siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo Muhamad Tajudin*. Ashfa Khoirun NisaAo. Ida Farida Institut Agama Islam An-Nawawi. Purworejo. Indonesia *Coresponding Author: tajudien21@gmail. Dikirim: 02-04-2026. Direvisi: 23-04-2026. Diterima: 25-04-2026 Abstrak: Tujuan utama kegiatan pengabdian ini adalah untuk memaparkan edukasi strategi manajemen bimbingan dan konseling dalam menumbuhkan self confidence siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo. Wawancara, observasi partisipan, dan catatan tertulis merupakan pilar utama strategi pengumpulan data studi kualitatif deskriptif ini, yang bertujuan untuk memberikan gambaran holistik. Reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan merupakan tiga langkah utama dari pendekatan analitik interaktif yang digunakan penelitian ini. Penulis menggunakan metodologi triangulasi yang meliputi triangulasi sumber, metode/teknik, dan teori sebagai alat validasi data dalam penelitian ini. Meskipun demikian, menurut temuan penelitian, siswa menunjukkan gejala kurang percaya diri, seperti takut berbicara atau bertanya ketika mereka tidak memahami suatu konsep, gugup berdiri di depan kelas atau tetap diam ketika dipanggil oleh guru, menarik diri secara sosial, dan meragukan kemampuan pengambilan keputusan mereka sendiri. Fungsi manajemen POAC (Perencanaan. Pengorganisasian. Pelaksanaan dan Pengendalia. diintegrasikan dengan teknik bimbingan dan konseling klasik dalam strategi manajemen bimbingan dan konseling MTs Negeri 2 Purworejo. Strategi ini menggunakan berbagai pendekatan, termasuk bertanya, menciptakan interaksi yang berhasil antara pengajar, murid, dan wali murid, serta memotivasi dan mendukung siswa. Dari temuan ini, penulis merekomendasikan agar madrasah mengembangkan dan mereplika layanan bimbingan dan konseling berbasis manajemen POAC secara lebih sistematis dan kolaboratif, sehingga penguatan self confidence, perkembangan pribadiAesosial, dan pencapaian akademik siswa dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan di berbagai konteks satuan pendidikan. Kata Kunci: Manajemen. Bimbingan Konseling. self confidence. Layanan Klasikal. Abstract: The main purpose of this community service initiative is to provide training on guidance and counselling management strategies aimed at fostering self-confidence among students at State Madrasah Tsanawiyah 2 Purworejo. Interviews, participant observation, and written records are the mainstays of this descriptive qualitative study's data gathering strategy, which aims to provide a holistic picture. Data reduction, data display, and conclusions make up the three primary steps of an interactive analytic approach that this research employs. The author used a triangulation methodology which includes source, method/technique, and theory triangulation as a data validity tool in this investigation. Still, students exhibit symptoms of low self-confidence, such as being afraid to speak out or ask questions when they don't understand a concept, being nervous to stand up in front of the class or remain silent when called upon by the teacher, withdrawing socially, and doubting their own decision-making abilities, according to the study's findings. Management functions of POAC (Planning. Organizing. Actuating, and Controllin. are integrated with classical guidance and counseling techniques in the guidance and counseling management strategy of MTs Negeri 2 Purworejo. This strategy uses a variety of approaches, including asking questions, creating successful interactions between teachers, students, and parents, and motivating and supporting students. Based on these findings, the authors recommend that @2026 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Tajudin dkk. Edukasi Strategi Manajemen Bimbingan dan Konseling dalam. madrasahs develop and replicate POAC-based guidance and counselling services in a more systematic and collaborative manner, so that studentsAo self-confidence, personal and social development, and academic achievement can be continuously enhanced across various educational settings. Keywords: Management . Guidance and Counseling . Self Confidence . Classical Services. PENDAHULUAN Setiap individu yang mempunyai bakat dan kapasitas dalam dirinya wajib untuk diarahkan di antara potensi yang krusial untuk ditingkatkan adalah kepercayaan terhadap diri sendiri. Menurut Spencer, salah satu ciri yang dimiliki oleh para peraih prestasi dan pelaku terbaik adalah rasa percaya diri yang melimpah(Monika et al. , 2. Sikap positif dan kepercayaan pada kemampuan, keterampilan, dan kapasitas diri sendiri untuk mencapai tujuan merupakan inti dari rasa percaya diri(Kurniawati et al. , 2. Ini termasuk keyakinan bahwa seseorang mampu mencapai tujuan dan mengatasi tantangan. Mengembangkan rasa percaya diri merupakan bagian penting dari pendidikan setiap siswa, begitu pula kemampuan untuk berinteraksi dengan berani dengan orang lain di dalam dan di luar kelas. Siswa harus memiliki rasa percaya diri sebagai kualitas pribadi(Jalil, 2. Tingkat rasa percaya diri seseorang dapat dibentuk oleh paparan mereka terhadap informasi baru dan orang-orang yang mereka ajak berinteraksi. Menurut Hayati dan Herdin . , memperoleh pengetahuan dan pengalaman praktis merupakan faktor kunci dalam meningkatkan rasa percaya diri. Kemampuan untuk memiliki keyakinan pada kemampuan diri sendiri dan tempatnya di dunia adalah apa yang kita maksud ketika kita berbicara tentang kepercayaan diri(Gori et al. , 2. Self confidence atau rasa percaya diri merupakan aspek penting yang harus dimiliki setiap siswa karena berperan langsung dalam pembentukan konsep diri yang Siswa yang memiliki self confidence cenderung mampu menunjukkan perilaku positif, seperti berani mencoba hal baru, aktif berpartisipasi dalam pembelajaran, serta mampu mengambil keputusan secara mandiri(Hakim et al. , n. Anak yang percaya diri lebih cenderung untuk berbicara, mengambil inisiatif, dan membentuk ikatan yang lebih kuat dengan orang lain. Sebaliknya juga benar: siswa yang tidak percaya diri akan mengalami kesulitan yang jauh lebih besar dalam menjalani kehidupan sekolah dan berinteraksi dengan teman sebaya mereka. Siswa dengan kecemasan, keraguan, atau takut membuat kesalahan akan kesulitan berinteraksi dengan orang lain dan menyesuaikan diri dengan situasi baru. Prestasi akademik siswa serta pertumbuhan emosional dan sosial mereka sama-sama terpengaruh oleh gangguan ini. Siswa, khususnya mereka yang kurang percaya diri, mungkin mengalami peralihan dari pendidikan dasar menuju pendidikan menengah pertama, atau pendidikan menengah pertama di bawah naungan Islam yaitu MTs sangat sulit. Perubahan kurikulum yang kompleks, peningkatan standar akademik, dan koneksi sosial yang lebih luas dengan kelompok teman sekelas yang lebih beragam adalah tantangan yang harus diatasi oleh siswa di SMP Negeri Islam 2 Purworejo. Siswa mungkin merasa cemas dan kurang percaya diri selama fase transisi ini, terutama dalam menghadapi mata pelajaran baru serta beradaptasi dengan metode pembelajaran yang lebih mandiri(Mulyati & Dimenggo, 2. Dalam lembaga pendidikan Madrasah Tsanawiyah 2 Purworejo, permasalahan rendahnya self confidence dalam belajar masih menjadi tantangan yang perlu @2026 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Tajudin dkk. Edukasi Strategi Manajemen Bimbingan dan Konseling dalam. mendapatkan perhatian. Penulis menemukan bahwa kondisi percaya diri siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo kebanyakan memiliki sikap self confidence yang rendah. Tanda-tanda kondisi ini meliputi kurangnya kepercayaan diri saat berbicara di depan kelas, keengganan untuk menyuarakan ide atau mengajukan pertanyaan ketika bingung, dan kurangnya partisipasi sama sekali ketika instruktur memintanya. Karena mereka meragukan kemampuan pengambilan keputusan mereka sendiri, siswa seringkali menyendiri, pendiam, dan tidak banyak berbicara(Mulyati & Dimenggo, 2. Siswa yang memiliki rasa percaya diri rendah lebih berkemungkinan untuk menjauh dari orang lain. , bereaksi negatif terhadap kemunduran, kesulitan berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain, dan kesulitan menerima diri mereka apa adanya(Al-Ghaffar et al. , 2. Secara keseluruhan, jelas bahwa siswa sangat diuntungkan dari akses ke layanan konseling dan bimbingan. Karena setiap anak di sekolah memiliki tantangan uniknya masingmasing, baik akademis maupun lainnya, program konseling dan bimbingan berbasis sekolah sangat penting(Hasanahti, 2022. Urgensi pengabdian ini terletak pada kenyataan bahwa sebagian besar siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo masih menunjukkan gejala self confidence yang rendah, seperti takut berbicara atau bertanya ketika tidak memahami materi, gugup saat diminta tampil di depan kelas, menarik diri dari pergaulan dengan teman sebaya, serta meragukan kemampuan pengambilan keputusan mereka sendiri. Kondisi ini bukan hanya menghambat keberanian siswa dalam berpartisipasi aktif di kelas, tetapi juga berdampak pada perkembangan pribadi, sosial, dan pencapaian akademik mereka secara keseluruhan, sehingga madrasah membutuhkan strategi yang terstruktur untuk mengatasinya. Di sisi lain, sudah terdapat upaya manajemen bimbingan dan konseling di madrasah yang memanfaatkan fungsi POAC dan layanan klasikal, namun masih perlu diperkuat dan direplika secara lebih sistematis dan kolaboratif agar benar-benar mampu menumbuhkan self confidence siswa secara berkelanjutan dan menjadi model layanan BK yang dapat diadaptasi oleh satuan pendidikan lain dengan karakteristik serupa. Tujuan artikel ini untuk menggambarkan pentingnya strategi dalam menumbuhkan self confidence siswa di sekolah maupun madrasah untuk mencapai berhasilnya seorang siswa dalam proses pembelajaran. Pasi Sahlberg menegaskan bahwa indikator keberhasilan pendidikan tidak terbatas pada pencapaian akademik semata, melainkan mencakup peran sekolah dalam mengembangkan kompetensi kehidupan siswa, di antaranya kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi. wi putri April et al. , 2. Berjalan dengan latar belakang di atas peneliti akan memaparkan bagaimana strategi manajemen bimbingan dan konseling Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo dalam menumbuhkan self confidence siswa. METODE PELAKSANAAN KEGIATAN Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian ini dirancang mengikuti kerangka manajemen POAC yang telah diterapkan dalam layanan bimbingan dan konseling di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo, di mana tahap perencanaan diawali dengan identifikasi masalah rendahnya self confidence siswa melalui observasi dan informasi dari wali kelas, lalu penyusunan program layanan bimbingan klasikal berbasis kebutuhan yang memuat tujuan, materi, metode, dan strategi untuk mendorong keberanian siswa mengungkapkan pendapat dan berpartisipasi aktif di @2026 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Tajudin dkk. Edukasi Strategi Manajemen Bimbingan dan Konseling dalam. kelas(Sumarto. Tahap mengoordinasikan peran guru BK, wali kelas, guru mata pelajaran, dan orang tua, termasuk pembagian tugas dalam pelaksanaan layanan, sehingga dukungan terhadap peningkatan kepercayaan diri siswa dapat terjalin secara terpadu di lingkungan madrasah maupun keluarga(Hasanahti, 2022. Pada tahap pelaksanaan . , layanan bimbingan klasikal diwujudkan melalui kegiatan diskusi kelas, tanya jawab terarah, komunikasi yang hangat dan efektif, serta pemberian motivasi dan penguatan positif, sehingga siswa memiliki banyak kesempatan berlatih berbicara, mengemukakan gagasan, dan tampil di depan teman sebaya dalam suasana yang aman dan suportif(Sabarrudin et al. , 2. Selanjutnya, tahap pengendalian . dilakukan melalui observasi berkelanjutan terhadap perubahan perilaku siswa, refleksi bersama guru BK dan wali kelas, serta tindak lanjut bagi siswa yang masih menunjukkan kepercayaan diri rendah, sehingga program penguatan self confidence dapat dimonitor, dievaluasi, dan disempurnakan secara terus-menerus sesuai perkembangan siswa dan kebutuhan madrasah(Sugiyono, 2. HASIL KEGIATAN Setelah rangkaian program pengabdian dilaksanakan, terlihat adanya perubahan positif pada kondisi self confidence sebagian siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo. Siswa yang sebelumnya cenderung pasif, enggan bertanya, dan memilih diam ketika diminta berpendapat mulai menunjukkan keberanian untuk menyampaikan ide sederhana di kelas dan lebih aktif terlibat dalam kegiatan diskusi. Rasa cemas dan takut salah saat tampil di depan teman sebaya memang belum hilang sepenuhnya, namun intensitas dan frekuensinya berangsur menurun, ditandai dengan semakin banyak siswa yang bersedia maju presentasi atau menjawab pertanyaan guru meskipun masih dengan rasa gugup. Perubahan ini mengindikasikan bahwa intervensi penguatan self confidence melalui layanan bimbingan dan konseling di madrasah mulai memberikan dampak terhadap cara siswa menilai dan mengekspresikan kemampuan dirinya(Sabarrudin et al. , 2. Dari sisi kelembagaan, pengabdian ini juga berkontribusi terhadap penguatan strategi manajemen bimbingan dan konseling di madrasah. Penerapan fungsi manajemen POAC (Perencanaan. Pengorganisasian. Pelaksanaan, dan Pengendalia. dalam program BK membantu guru BK menyusun rencana layanan yang lebih terarah untuk peningkatan self confidence, mengorganisasi jadwal dan pembagian peran dengan wali kelas, serta melaksanakan layanan klasikal dan kelompok secara lebih sistematis. Kegiatan pendampingan mendorong guru BK untuk tidak hanya fokus pada penanganan kasus individual, tetapi juga pada pengembangan program preventif dan pengembangan diri siswa yang diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran dan layanan klasikal di kelas. Melalui refleksi bersama di akhir program, guru BK dan pihak madrasah mulai memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai langkah-langkah pengelolaan BK yang efektif untuk menjawab persoalan rendahnya kepercayaan diri siswa(Sumarto, 2. Pengabdian ini juga memperkuat pola komunikasi dan kerja sama antara guru BK, wali kelas, orang tua, dan pihak manajemen madrasah dalam mendukung perkembangan self confidence siswa. Melalui sosialisasi dan interaksi yang dibangun selama kegiatan, wali kelas dan orang tua menjadi lebih menyadari pentingnya memberikan dukungan emosional, kesempatan berpendapat, serta penguatan positif @2026 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Tajudin dkk. Edukasi Strategi Manajemen Bimbingan dan Konseling dalam. terhadap usaha dan prestasi siswa di rumah maupun di sekolah. Madrasah memperoleh model layanan BK berbasis manajemen POAC yang dapat direplikasi dan dikembangkan di kelas atau tingkat yang lain, sehingga upaya menumbuhkan self confidence, mengembangkan kompetensi pribadiAesosial, dan meningkatkan pencapaian akademik siswa memiliki peluang lebih besar untuk berlanjut secara berkesinambungan di lingkungan madrasah(Milenda & Muhroji, 2. IMPLEMENTASI KEGIATAN DAN PEMBAHASAN Kondisi Self Confidence Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo Menurut Pradipta yang dikutip oleh(Fajri & Paujan, 2. , kurangnya self confidence dapat menyebabkan berbagai masalah, karena kepercayaan diri adalah bagian penting dari kepribadian seseorang yang berfungsi untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Individu dengan kepercayaan diri rendah atau yang kehilangan rasa percaya diri cenderung memiliki pandangan negatif tentang dirinya, merasa kurang yakin dengan kemampuannya, dan memiliki pemahaman yang salah mengenai kapasitas yang dimilikinya. Rasa percaya diri atau self confidence adalah elemen krusial yang perlu dimiliki oleh setiap pelajar karena memengaruhi secara langsung pembentukan citra diri yang positif(Rosyida et al. , 2. Pelajar dengan rasa percaya diri yang baik cenderung menunjukkan interaksi yang positif, seperti keberanian untuk mencoba hal-hal baru, keterlibatan aktif dalam proses belajar, serta kemampuan untuk mengambil keputusan secara mandiri. Kepercayaan diri juga mendukung siswa dalam menyampaikan pendapat, menerima tanggung jawab, dan membangun hubungan sosial secara lebih efektif. Sisi lain, pelajar yang kurang percaya diri akan menghadapi berbagai kendala, terutama dalam interaksi di lingkungan kelas dan sekolah. Mereka sering merasa cemas, ragu, atau takut untuk membuat kesalahan, sehingga mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan. Keadaan ini tidak hanya menghalangi kemajuan akademik, tetapi juga memengaruhi perkembangan sosial dan emosional pelajar(Anggraini & Darmawanti, 2. Tingkat siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo sebagian masih memiliki self confidence yang rendah. Kondisi ini ditunjukkan oleh kurangnya keberanian siswa dalam mengungkapkan ide dan pendapat, adanya keraguan dalam menyampaikan gagasan, serta kecenderungan menghindari interaksi sosial dengan teman sebaya akibat rasa malu dan takut. Dalam proses pembelajaran, siswa juga menunjukkan kecemasan ketika diminta berpartisipasi aktif, khususnya saat berdiskusi atau tampil di depan kelas, karena khawatir melakukan kesalahan kondisi self confidence siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo masih membutuhkan perhatian lebih khususnya siswa yang memiliki self confidence atau kepercayaan diri rendah(Mulyati & Dimenggo, 2. Tingkat kepercayaan diri yang rendah pada siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, terutama yang berhubungan dengan situasi keluarga dan latar belakang pendidikan siswa dari jenjang Sekolah Dasar. Latar belakang keluarga seorang siswa memiliki peranan yang signifikan dalam menentukan seberapa besar rasa percaya diri yang mereka miliki. Siswa yang tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan perhatian dan dukungan yang terbatas umumnya menunjukkan kepercayaan diri yang rendah. Minimnya dukungan emosional, komunikasi yang tidak terjalin dengan baik antara orang tua dan anak, serta pola pengasuhan yang terlalu keras atau @2026 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Tajudin dkk. Edukasi Strategi Manajemen Bimbingan dan Konseling dalam. justru terlalu longgar dapat menyebabkan siswa merasa kurang diperhatikan dan meragukan kemampuan dirinya. Kondisi ekonomi keluarga yang kurang mendukung juga turut memengaruhi kepercayaan diri siswa, karena keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan belajar kerap menimbulkan rasa rendah diri saat berinteraksi dengan teman sebaya(Mulyati & Dimenggo, 2. Strategi Manajemen Bimbingan Konseling dalam Menumbuhkan Self Confidence Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo Berdasarkan hasil wawancara, strategi dalam menumbuhkan self confidence siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo dilaksanakan melalui layanan bimbingan klasikal yang dirancang dan diterapkan secara sistematis di dalam kelas. Layanan bimbingan ini diberikan kepada seluruh siswa dalam satu kelas sehingga setiap peserta didik memiliki peluang yang setara untuk mengembangkan potensi diri, terutama dalam membangun self confidence(Mulyati & Dimenggo, 2. Pendekatan tersebut sejalan dengan pandangan Prayitno menjelaskan bahwa bimbingan klasikal adalah layanan konseling yang ditujukan kepada semua siswa dengan tujuan mendukung perkembangan pribadi, sosial, akademik, dan karier secara maksimal(Prada, 2. Melalui pelaksanaan layanan ini, siswa tidak hanya diarahkan untuk mengenal dan memahami dirinya, tetapi juga dibiasakan untuk berani menyampaikan pendapat, menjalin interaksi yang positif, serta memperkuat keyakinan terhadap kemampuan yang dimiliki. Menurut L. Gibson dalam(Canida & Farisi, 2. , menyatakan bahwa bimbingan konseling klasikal merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk kelompok dengan aktivitas yang dirancang secara terencana dan terorganisasi untuk menyampaikan informasi maupun pengalaman kepada peserta. Dalam praktiknya, bimbingan klasikal berorientasi pada pemberian informasi dan eksplorasi karier, misalnya melalui kegiatan kunjungan siswa ke berbagai perguruan tinggi atau institusi kampus. Kegiatan tersebut bertujuan memberikan wawasan serta menumbuhkan motivasi siswa terkait pilihan dan perencanaan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Dari pengertian di atas bahwa Bimbingan Konseling klasikal merupakan layanan bimbingan yang dilaksanakan secara berkelompok dengan kegiatan yang dirancang dan diorganisasi secara sistematis untuk menyampaikan informasi serta pengalaman kepada siswa. Melalui orientasi pada pemberian informasi dan eksplorasi karier, seperti kunjungan ke perguruan tinggi atau institusi kampus, bimbingan klasikal berperan penting dalam memperluas wawasan siswa serta meningkatkan motivasi mereka dalam merencanakan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bimbingan klasikal adalah salah satu bentuk layanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan secara berkelompok di dalam kelas oleh guru atau konselor untuk menyampaikan informasi, memberikan arahan, dan membantu siswa secara serentak. Layanan ini menghasilkan banyak siswa dapat dijangkau dalam waktu yang bersamaan sehingga pelaksanaannya lebih efektif dan efisien(Riadi et al. , 2. Selain berorientasi pada penyampaian materi, bimbingan klasikal juga bertujuan mendukung siswa dalam memahami potensi diri, menumbuhkan sikap positif, serta mengembangkan kemampuan sosial, emosional, dan akademik sesuai dengan tahap perkembangan mereka(Hermatasiyah, 2. Layanan bimbingan konseling klasikal dinilai efektif karena mampu mencakup seluruh siswa dalam satu kelas sekaligus, sehingga guru bimbingan dan konseling dapat memberikan pendampingan secara @2026 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Tajudin dkk. Edukasi Strategi Manajemen Bimbingan dan Konseling dalam. komprehensif kepada semua peserta didik. Strategi manajemen serta layanan bimbingan dan konseling memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan self confidence siswa di Madrasah Tsnawiyah Negeri 2 Purworejo. Kepercayaan diri menjadi salah satu unsur utama dalam pembentukan kepribadian peserta didik karena berpengaruh terhadap keberanian menyampaikan pendapat, kemampuan menjalin interaksi sosial, dan keaktifan dalam proses pembelajaran. Lauster menjelaskan bahwa self confidence merupakan keyakinan individu terhadap potensi yang dimilikinya sehingga mampu bertindak tanpa diliputi kecemasan yang berlebihan(Hidayati, 2. Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling perlu dirancang dan dikelola secara terencana dan sistematis agar pengembangan kepercayaan diri siswa dapat tercapai secara maksimal. Layanan bimbingan dan konseling Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo menggunakan fungsi manajemen POAC (Perencanaan. Pengorganisasian. Pelaksanaan, dan Pengendalia. untuk secara sistematis menerapkan taktik yang meningkatkan kepercayaan diri siswa. George R. Terry menyatakan bahwa pengelolaan merupakan proses menetapkan dan meraih tujuan dengan memanfaatkan sumber daya manusia serta non-manusia melalui langkah-langkah perencanaan, pengaturan, pelaksanaan, dan pengawasan(Syahputra & Aslami, 2. Gagasan manajemen ini sejalan dengan pandangan ini. Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui penggunaan sumber daya manusia dan non-manusia yang paling efisien, manajemen mencakup serangkaian operasi yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengaturan (Egbe, 2. Dalam konteks ini, fokus administrasi adalah meningkatkan harga diri siswa melalui program konseling dan bimbingan madrasah. Tabel 1. Kerangka Manajemen POAC dalam Manajemen Layanan BK dan Indikator Self Confidence Siswa di MTs Negeri 2 Purworejo. No. Fungsi Manajemen (POAC) Planning Organizing Actuating Controlling Strategi Manajemen Layanan BK Perencanaan layanan berbasis kebutuhan siswa Koordinasi guru BK, wali kelas, guru mata Pelajaran dan Orang Tua siswa Pemberian pertanyaan, munikasi efektif, dan motivasi Evaluasi dan tindak lanjut Bentuk Kegiatan Indikator Self Confidence Penyusunan program bimbingan klasikal, penentuan metode dan tujuan layanan Pembagian peran dan tanggung jawab Siswa memahami pentingnya percaya Diskusi kelas, tanya jawab, penguatan Observasi dan refleksi perkembangan siswa Siswa merasa diterima dan Berani berpendapat, aktif berdiskusi, percaya diri tampil Konsistensi sikap percaya diri siswa Pada tahap Planning . , guru bimbingan dan konseling Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo menyusun program layanan berdasarkan kebutuhan siswa yang menunjukkan kurangnya keberanian siswa dalam mengungkapkan ide dan pendapat, adanya keraguan dalam menyampaikan gagasan, kecenderungan menghindari interaksi sosial dengan teman sebaya akibat rasa malu dan takut dan dalam proses pembelajaran, siswa juga menunjukkan kecemasan ketika diminta berpartisipasi aktif, khususnya saat berdiskusi atau tampil di depan kelas. @2026 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Tajudin dkk. Edukasi Strategi Manajemen Bimbingan dan Konseling dalam. Perencanaan layanan mencakup penentuan tujuan, materi, metode, serta strategi Strategi yang direncanakan oleh guru bk Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo antara lain pemberian pertanyaan secara terarah, pembangunan komunikasi yang efektif antara guru dan siswa, serta pemberian motivasi dan penguatan positif. Perencanaan ini sejalan dengan prinsip bimbingan perkembangan yang menekankan pencegahan dan pengembangan potensi siswa sesuai dengan tugas Sesuai dengan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling perkembangan, pendekatan perencanaan layanan ini mengatur intervensi sesuai dengan ciri unik setiap siswa dan tujuan spesifik yang mereka miliki untuk pertumbuhan pribadi mereka sendiri. Pada tahap perencanaan ini, layanan bimbingan klasik dirancang untuk mendorong siswa untuk mengungkapkan pendapat mereka dengan menggunakan pendekatan yang memotivasi dan mengajukan pertanyaan(Wati et al. , 2. Selama fase perencanaan, instruktur bimbingan dan konseling Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo berkomunikasi dengan semua peserta program. Tujuannya adalah agar guru kelas, instruktur mata pelajaran, instruktur bimbingan dan konseling, dan orang tua dapat mengembangkan hubungan yang kuat berdasarkan rasa saling menghormati dan pengertian. Siswa didorong untuk aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran dan suasana belajar yang kondusif diciptakan oleh instruktur mata pelajaran dan guru kelas. Guru bimbingan dan konseling berperan sebagai manajer dan direktur layanan selama tahap ini. Tanggung jawab orang tua dalam menciptakan lingkungan rumah yang kondusif untuk belajar tidak dapat diremehkan. Misi yang dinyatakan oleh kelompok ini adalah untuk mempromosikan dialog dan persahabatan yang lebih baik di antara para pengajar di kelas dan siswa mereka. Pendekatan tersebut selaras dengan pandangan teori humanistik Carl Rogers yang menegaskan bahwa AuA climate of acceptance, empathy and understanding is essential for personal growthAy Apabila siswa merasakan adanya penerimaan dan penghargaan, mereka cenderung lebih percaya diri untuk mengemukakan pendapat serta menampilkan potensi yang dimilikinya(Wahyu. Tahap actuating . merupakan bagian paling esensial dalam strategi bimbingan dan konseling yang bertujuan untuk menumbuhkan self confidence. Strategi yang digunakan oleh guru BK Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo salah satunya melalui pendekatan melalui pemberian pertanyaan secara terarah, pembangunan komunikasi yang efektif, serta pemberian motivasi dan penguatan Pemberian pertanyaan bertujuan untuk melatih keberanian siswa dalam berpikir kritis dan menyampaikan pendapat, sementara komunikasi efektif membantu mengurangi kecemasan dan rasa takut siswa. Gambar 1. Guru BK berkolaborasi bersama orang tua siswa dalam menumbuhkan self confidence. @2026 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Tajudin dkk. Edukasi Strategi Manajemen Bimbingan dan Konseling dalam. Teori efikasi diri yang diusulkan oleh Bandura pada tahun 1997 menggambarkan efikasi diri sebagai "percaya pada kemampuan individu untuk merencanakan dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk menghadapi situasi yang mungkin terjadi (Heltty & Dina, n. Pendekatan terhadap layanan bimbingan dan konseling ini sejalan dengan teori ini. Kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuannya sendiri untuk merencanakan dan menanggapi tantangan di masa depan dengan tepat dikenal sebagai efikasi diri (Hady et al. , 2. Siswa memperoleh rasa percaya diri melalui interaksi yang meliputi berbicara satu sama lain dan mendapatkan komentar yang mendorong dari instruktur. Selain itu, menurut pandangan behaviorisme dari Burrhus Frederic Skinner . 4Ae1. , yang menekankan signifikansi penguatan dalam menciptakan perilaku yang diharapkan, memberikan rangsangan serta pujian secara teratur sesuai dengan teori ini(Ulum & Fauzi, 2. KESIMPULAN Jelas dari pembahasan sebelumnya bahwa Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo menggunakan layanan bimbingan dan konseling tradisional sebagai bagian dari pendekatan yang terencana, metodis, dan terintegrasi untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa. Program ini telah berhasil karena menjangkau setiap siswa dalam satu sesi dan memberi mereka kesempatan yang adil untuk membangun harga diri, kemampuan komunikasi, dan keberanian sosial mereka. Program Perencanaan berdasarkan kebutuhan siswa, pengorganisasian pihak-pihak terkait, implementasi strategi layanan yang tepat, dan evaluasi berkelanjutan terhadap perkembangan perilaku siswa merupakan Elemen kunci dari proses manajemen POAC (Perencanaan. Pengorganisasian. Pelaksanaan, dan Pengendalia. , yang sangat krusial untuk menjamin bahwa layanan berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Demikian, layanan bimbingan dan konseling yang dikelola secara profesional dan berbasis manajemen yang baik berperan signifikan dalam meningkatkan self confidence siswa serta mendukung perkembangan pribadi, sosial, dan akademik mereka secara optimal. Implikasi hasil penelitian Secara teoretis, pembahasan ini memperkuat integrasi konsep manajemen POAC dengan teori selfefficacy, pendekatan humanistik, dan teori behavioristik dalam layanan bimbingan dan konseling. Secara praktis, temuan ini menunjukkan bahwa pengelolaan layanan BK yang sistematis, kolaboratif, dan berorientasi pada pengembangan potensi mampu meningkatkan self confidence siswa secara bertahap. DAFTAR PUSTAKA