Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Legitimasi Agama terhadap Perlawanan Rasisme: Analisis Film Pengepungan di Bukit Duri Perspektif Emile Durkheim The Legitimacy of Religion in the Resistance to Racism: An Analysis of the Film "The Siege on Duri Hill" from the Perspective of Emile Durkheim Taufikurrohman1. Haqqul Yaqin2 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Jl. Ahmad Yani No. Jemur Wonosari. Kec. Wonocolo. Surabaya. Jawa Timur 60237. Indonesia e-mail: Muhamadfiqy008@gmail. com, haqqulyaqin@uinsa. ABSTRACT This study aims to examine in depth how religion functions as a source of moral and social legitimacy in confronting and resisting racism as depicted in Joko AnwarAos film The Siege at Bukit Duri. The film was chosen because it portrays complex social dynamics where religion operates not only as a belief system but also as a moral foundation that strengthens solidarity amid social tension and identity This research employs a qualitative method with a content analysis design to interpret the symbolic meanings of scenes that portray discrimination, injustice, and the communityAos resistance against social and political hegemony. yOmile DurkheimAos theory serves as the main framework to explain religionAos role as a social fact that shapes collective consciousness, maintains moral order, and reinforces human values. The findings show that religious symbols such as the hijab, religious figures, and the slogan Auwe are all the sameAy act as forms of moral legitimacy that strengthen solidarity against discrimination. The urgency of this research lies in its contribution to expanding the sociology of religion through popular media, which reflects contemporary social realities and demonstrates how religious values can become a means of resistance to domination. Keywords: Film. Religion. Legitimacy. Racism. Emile Durkheim ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana agama berperan sebagai sumber legitimasi moral dan sosial dalam menghadapi serta menolak praktik rasisme yang tergambar dalam film Pengepungan di Bukit Duri. Film ini dipilih karena menampilkan dinamika sosial yang kompleks, di mana agama berfungsi tidak hanya sebagai sistem kepercayaan, tetapi juga sebagai landasan moral yang memperkuat solidaritas di tengah ketegangan sosial dan konflik identitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan rancangan analisis konten untuk menafsirkan pesan simbolik dari adegan-adegan yang menampilkan diskriminasi, ketidakadilan, serta bentuk perlawanan masyarakat terhadap hegemoni sosial dan politik. Teori yOmile Durkheim dijadikan acuan dalam menjelaskan fungsi agama sebagai fakta sosial yang membentuk kesadaran kolektif, menjaga tatanan moral, serta meneguhkan nilai kemanusiaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol keagamaan seperti hijab, dan slogan Aukita semua samaAy berfungsi sebagai legitimasi moral yang memperkuat solidaritas terhadap tindakan diskriminatif. Namun, legitimasi agama disini mempunyai sifat ambivalen di satu sisi memiliki peran sebagai kekuatan untuk menyatukan suatu kelompok di sisi lain, dapat berpotensi sebagai eksklusivitas suatu kelompok. Urgensi penelitian ini terletak pada kontribusinya dalam memperluas kajian sosiologi agama melalui media film yang mampu mencerminkan realitas sosial masyarakat modern sekaligus menunjukkan bagaimana nilai religius dapat menjadi sarana resistensi terhadap dominasi. Kata Kunci: Film. Agama. Legitimasi. Rasisme. Emile Durkheim FIRST RECEIVED: 2025-10-08 REVISED: 2025-11-06 https://doi. org/10. 25299/ajaip. ACCEPTED: 2025-10-31 PUBLISHED: 2025-11-14 Corresponding Author: Taufikurrohman AJAIP is licensed under Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International Published by UIR Press Taufikurrohman. Haqqul Yaqin: Legitimasi Agama terhadap Perlawanan Rasisme: Analisis Film Pengepungan di Bukit Duri Perspektif Emile Durkheim Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 PENDAHULUAN Film merupakan salah satu media budaya yang paling berpengaruh dalam merefleksikan realitas sosial dan moral masyarakat. Melalui bahasa visual, film tidak hanya menceritakan peristiwa, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai, konflik sosial, serta ideologi yang membentuk cara pandang publik. Dalam konteks Indonesia yang plural, film sering dijadikan wadah untuk mengungkap isu-isu yang sensitif seperti identitas, agama, dan Melalui cara penyampaiannya yang visual dan emosional, film mampu menyentuh perasaan penonton dan mengajak mereka merenungkan realitas sosial yang ada. (Muthmainnah, 2. Film memiliki fungsi sosial yang signifikan karena mampu menggambarkan fenomena kehidupan masyarakat secara simbolik, bahkan lebih efektif daripada teks akademik dalam menyampaikan pesan moral dan sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, perfilman Indonesia memperlihatkan perkembangan yang cukup menarik karena banyak karya mulai mengangkat isu-isu sosial yang berkaitan dengan keberagaman, perbedaan identitas, serta relasi antar kelompok dalam masyarakat. Sejalan dengan ini, film nasional semakin sering menampilkan persoalan identitas budaya, agama, dan kelas sosial sebagai bentuk refleksi terhadap dinamika kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk (H. Hidayat dkk. , 2. Melalui cara ini, sinema Indonesia berperan penting dalam membentuk kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai kemanusiaan dan toleransi. Salah satu film Indonesia yang menyoroti isu sosial dan keagamaan adalah Pengepungan di Bukit Duri karya Joko Anwar. Film ini tidak hanya menghadirkan ketegangan dan aksi, tetapi juga memperlihatkan potret relasi sosial yang kompleks di lingkungan sekolah. Melalui cerita yang berlatar pada masa pasca reformasi. Joko Anwar berusaha menggambarkan bagaimana identitas agama dan kekuasaan sosial dapat menciptakan ketegangan antarindividu maupun kelompok. Cerita ini menjadi cerminan dari realitas sosial Indonesia yang masih berhadapan dengan isu diskriminasi, rasisime dan dominasi terhadap kelompok tertentu. Lewat karakter dan konflik yang dihadirkan, film ini mengajak penonton untuk melihat kembali bagaimana nilai kemanusiaan dan toleransi diuji di tengah situasi sosial yang penuh prasangka. Dengan demikian. Pengepungan di Bukit Duri bukan sekadar tontonan, tetapi juga menjadi bentuk refleksi sosial yang menyingkap dinamika kekuasaan dan identitas agama dalam kehidupan masyarakat Indonesia masa kini. Fenomena rasisme dan diskriminasi berbasis etnis merupakan masalah sosial yang belum sepenuhnya terselesaikan di Indonesia. Meskipun negara ini menjunjung tinggi semangat Bhinneka Tunggal Ika, kenyataan menunjukkan bahwa kelompok minoritas, terutama etnis Tionghoa, masih kerap menghadapi perlakuan tidak adil. Dalam hal ini, seharusnya kita kembali melihat sejarah kelam Indonesia. Sejak masa kolonial Belanda, masyarakat Tionghoa ditempatkan dalam posisi sosial yang ambivalen sebagai perantara ekonomi antara pemerintah kolonial dan penduduk pribumi (Asnia & Ningsih, 2. Posisi ini kemudian menciptakan stigma dan jarak sosial yang bertahan hingga era modern. Peristiwa 1965 dan kerusuhan Mei 1998, diskriminasi terhadap etnis Tionghoa semakin terlihat dalam bentuk kekerasan, perampasan hak, serta pembatasan ruang sosial (Rahmadani dkk. , 2. Bentuk diskriminasi ini tidak hanya bersifat langsung, tetapi juga terselubung melalui sistem sosial, kebijakan publik, dan praktik kultural yang meminggirkan kelompok minoritas (Ilham, 2. Taufikurrohman. Haqqul Yaqin: Legitimasi Agama terhadap Perlawanan Rasisme: Analisis Film Pengepungan di Bukit Duri Perspektif Emile Durkheim Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Penelitian tentang representasi etnis dan agama dalam film Indonesia memperlihatkan bahwa sinema sering berfungsi sebagai cermin sosial yang memantulkan dinamika ketimpangan dan konstruksi identitas di masyarakat. Penelitian (Sutandio dkk. , 2. menjelaskan bagaimana etnis Tionghoa ditampilkan dalam film-film Indonesia masa kini. Melalui empat film populer, yakni Sapu Tangan Fang Yin. Ngenest. A Man Called Ahok, dan Susi Susanti: Love All, mereka menemukan bahwa sinema Indonesia tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga merefleksikan cara masyarakat memandang identitas dan perbedaan sosial. Meski stereotip fisik masih tampak, tokoh Tionghoa kini digambarkan lebih terbuka, peduli, dan nasionalis. Film-film tersebut memperlihatkan perubahan makna dari citra Auyang lainAy menjadi bagian aktif dari masyarakat Indonesia. Hasil ini menunjukkan bahwa film dapat menjadi ruang negosiasi antara kekuasaan, etnisitas, dan perjuangan sosial. Sementara itu, (Tuhri, 2. menunjukkan bahwa film dengan tema keagamaan di Indonesia dan Malaysia lebih banyak menampilkan agama sebagai simbol identitas atau moralitas Dalam temuannya, agama dalam film berfungsi sebagai Aubahasa kulturalAy untuk menandai kebaikan dan kebenaran, namun jarang dihadirkan sebagai kekuatan sosial yang dapat mengoreksi relasi kuasa dan dominasi. Ia menegaskan bahwa film cenderung menormalisasi harmoni simbolik, tetapi abai terhadap konflik sosial yang lebih dalam seperti rasisme dan ketimpangan ekonomi. Artinya, agama dalam film Indonesia masih terjebak dalam peran moral yang statis menenangkan konflik, bukan menantangnya. Kajian lain oleh. Nurul Fauziah. Ratna Puspita . menegaskan bahwa film-film dakwah di Indonesia justru memperlihatkan ambiguitas antara idealisme spiritual dan logika pasar. Dalam artikelnya Dakwah dalam Film Islam di Indonesia, ia menilai bahwa agama dalam media populer sering dikomodifikasi dan diperlakukan sebagai produk moral. Film dakwah lebih banyak menekankan Autanda-tanda kesalehanAy seperti busana atau ritual, sementara pesan keadilan sosial sering diredam oleh narasi personal dan emosional. Sejalan dengan ini, (M. Hidayat , 2. menemukan bahwa praktik diskriminasi terhadap etnis Tionghoa masih terjadi di ruang sosial dan politik Indonesia, sehingga memperkuat konteks realitas sosial dalam film Pengepungan di Bukit Duri yang menampilkan ketegangan etnis dan kekerasan simbolik. Selain dengan hal ini, (Harefa & Lase, 2. menunjukkan bahwa sekolah sering menjadi ruang reproduksi stigma dan ketimpangan sosial, di mana siswa dari kelompok tertentu mengalami marginalisasi. Fakta ini relevan dengan representasi SMA Duri dalam film yang menggambarkan kegagalan institusi pendidikan sebagai refleksi kondisi sosial yang rapuh. Dengan demikian, agama tidak lagi berfungsi sebagai energi sosial yang memobilisasi solidaritas, tetapi menjadi produk budaya yang dipasarkan untuk membangun citra moral masyarakat modern. Dari beberapa kajian tersebut terlihat bahwa film di Indonesia memang banyak membahas persoalan etnis, moralitas, dan agama, tetapi belum ada yang menempatkan agama sebagai fakta sosial yang hidup dan bekerja dalam konflik sosial sebagaimana dikemukakan yOmile Durkheim. Menurut Durkheim, agama adalah sistem simbol dan praktik yang membentuk kesadaran moral bersama yang memungkinkan masyarakat bersatu dan bertindak secara kolektif. Dalam konteks ini, legitimasi agama berfungsi sebagai dasar moral yang memberi makna terhadap tindakan sosial, termasuk tindakan perlawanan terhadap ketidakadilan. Urgensi penelitian ini terletak pada relevansinya terhadap kondisi Taufikurrohman. Haqqul Yaqin: Legitimasi Agama terhadap Perlawanan Rasisme: Analisis Film Pengepungan di Bukit Duri Perspektif Emile Durkheim Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 sosial Indonesia kontemporer yang masih diwarnai diskriminasi etnis dan kegagalan institusional dalam menegakkan nilai kemanusiaan. Film Pengepungan di Bukit Duri menghadirkan refleksi kritis terhadap masalah ini, sekaligus membuka ruang pembacaan baru tentang bagaimana agama dapat berfungsi sebagai kekuatan sosial yang menumbuhkan empati dan kesadaran kolektif. Secara teoritis, penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan sosiologi agama dengan menerapkan teori yOmile Durkheim ke dalam analisis media populer, suatu pendekatan yang masih jarang dilakukan dalam konteks Indonesia. Secara akademik, penelitian ini memperluas diskursus representasi film dari sekadar persoalan identitas menjadi analisis tentang legitimasi moral dan solidaritas sosial. Sedangkan secara praktis, penelitian ini menegaskan bahwa film bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga medium moral yang dapat menumbuhkan kesadaran sosial terhadap bahaya rasisme dan pentingnya keadilan kolektif. Melalui pendekatan ini, penelitian ini diharapkan mampu memperlihatkan bahwa agama, tetap menjadi sumber nilai sosial yang relevan untuk menghadapi fragmentasi moral dalam masyarakat modern. Dari latar belakang tersebut, maka masalah utama penelitian ini adalah bagaimana agama memberi legitimasi terhadap perlawanan rasisme dalam film Pengepungan di Bukit Duri jika dilihat melalui perspektif Emile Durkheim? Pertanyaan ini penting karena membuka pemahaman baru mengenai fungsi agama tidak hanya sebagai sarana spiritual, tetapi juga sebagai instrumen sosial dalam merespons ketidakadilan. Sejalan dengan itu, tujuan penelitian ini adalah untuk: . menganalisis representasi rasisme dan diskriminasi dalam film Pengepungan di Bukit Duri . menjelaskan peran agama sebagai legitimasi moral dan sosial terhadap perlawanan rasisime serta . menginterpretasikan fenomena tersebut menggunakan teori Emile Durkheim tentang agama sebagai fakta sosial dan sumber solidaritas kolektif. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif dengan rancangan analisis konten (Nababan & Marpaung, 2. Metode ini dipilih karena penelitian tidak berfokus pada penghitungan statistik, tetapi pada penafsiran makna simbolik dan sosial dari sebuah teks budaya. Analisis konten memungkinkan peneliti untuk mengkaji pesan eksplisit maupun Sebagaimana yang debicarak oleh Ambarwati dkk. bahwa bagian metode dalam artikl jurnal nasional semakain mengarah pada tulisan naratif kualitatif yang jelas. Data utama penelitian berasal dari film Pengepungan di Bukit Duri, sedangkan data pendukung diperoleh dari buku, artikel, dan jurnal yang relevan. Karena jumlah adegan cukup terbatas, peneliti memakai teknik purposive sampling untuk memilih bagian film yang dianggap paling sesuai dengan fokus penelitian sehingga fokus penelitian semakin tajam (Langputeh dkk. Meskipun adegan yang menampilkan legitimasi agama dalam film relatif terbatas, penelitian ini tetap relevan karena pendekatan kualitatif menekankan kedalaman makna, bukan kuantitas data. Sejalan dengan ini. Lenaini . penggunaan teknik purposive sampling dan snowball dalam penelitian kualitatif telah diterapkan secara umum. Melalui purposive sampling dan perspektif Durkheim, simbol agama dapat dipahami sebagai penopang solidaritas sosial sekaligus legitimasi dalam perlawanan terhadap diskriminasi dan Taufikurrohman. Haqqul Yaqin: Legitimasi Agama terhadap Perlawanan Rasisme: Analisis Film Pengepungan di Bukit Duri Perspektif Emile Durkheim Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Pengumpulan data dilakukan dengan menonton film berulang kali, mencatat dialog penting, serta mengumpulkan dokumen dan literatur pendukung. Data kemudian dianalisis dengan model Miles dan Huberman, yang meliputi tiga tahap: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Qomaruddin & SaAodiyah, 2. Data yang diperoleh kemudian dipilih dan dipilah sesuai kebutuhan penelitian melalui tahap reduksi, lalu disajikan dalam bentuk yang lebih teratur agar mudah dianalisis. Tahap akhir adalah penarikan kesimpulan, yang menghasilkan pemahaman mendalam terhadap makna film. Dengan cara ini, penelitian tidak hanya menampilkan isi cerita, tetapi juga menyingkap bagaimana agama ditampilkan sebagai landasan legitimasi agama dan sosial dalam menentang diskriminasi serta rasisme. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa media, khususnya film, berperan penting dalam membentuk kesadaran bersama di tengah masyarakat. HASIL DAN PEMBAHASAAN Representasi Rasisme Dan Diskriminasi Dalam Film Pengepungan Di Bukit Duri Film Pengepungan di Bukit Duri adalah karya terbaru dari sutradara Joko Anwar yang tayang pada April 2025. Diproduksi oleh Come and See Pictures bersama Amazon MGM Studio, film ini menghadirkan genre aksi thriller dengan sentuhan drama sosial. Berbeda dengan karya-karya Joko Anwar sebelumnya yang lebih banyak bermain di ranah horor, film ini menampilkan kritik tajam terhadap rasisme dan diskriminasi, kegagalan pendidikan, dan perlawanan sosial. Cerita film mengambil latar Indonesia tahun 2027, masa ketika kondisi sosial digambarkan rapuh. Konflik etnis, diskriminasi rasial, dan kekerasan struktural mendominasi kehidupan masyarakat. Sekolah, yang seharusnya menjadi ruang pendidikan dan perlindungan, justru dipotret sebagai cerminan kegagalan sosial. SMA Duri, tempat sebagian besar cerita berlangsung, digambarkan sebagai sekolah penuh kekerasan, stigma negatif, dan dianggap sebagai tempat AubuanganAy. Situasi ini menegaskan bahwa kegagalan sistemik tidak hanya terjadi di tingkat negara, tetapi juga di institusi dasar, yakni pendidikan. Gambar 1. Cover Film (Sumber: Film Pengepungan di Bukit Duri,2. Pada gambar 1. dari kacamata peneliti film ini sebagai teks budaya yang sangat relevan untuk dianalisis dari perspektif sosial dan agama. Kajian sosial menunjukkan bahwa diskriminasi etnis dan rasisme masih menjadi persoalan substansial di Indonesia. Sebagai contoh, memperingatkan bahwa diskriminasi rasial dan etnis merupakan persoalan hak asasi manusia, hukum, dan sosial yang terus muncul di berbagai daerah(Suryani & Dewi, 2. menegaskan bahwa kelompok etnis Tionghoa masih mengalami prasangka dan isolasi sosial di banyak area masyarakat (M. Hidayat dkk. , 2. Stereotip dan ketidaksetaraan akses sosial tetap menjadi hambatan bagi integrasi sosial yang adil(Purnamasari dkk. , 2. Di sisi Taufikurrohman. Haqqul Yaqin: Legitimasi Agama terhadap Perlawanan Rasisme: Analisis Film Pengepungan di Bukit Duri Perspektif Emile Durkheim Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 lain, kajian media juga menunjukan bahwa film dan media populer adalah arena penting dalam membentuk sebuah narasi sosial dan moral. Dalam konteks agama dan solidaritas, pendidikan kewarganegaraan harus memiliki peran yang sangat penting dalam hal menghadapi rasisme sebagai bagian dari proses pembentukan sikap toleransi di lingkungan pendidikan (Anggraini, 2. Dengan demikian, film Pengepungan Di Bukit Duri dapat membuka ruang analisis yang strategis bagaimana institusi pendidikan yang AugagalAy diposisikan sebagai arena konflik identitas dan bagaimana agama sebagai nilai moral bisa muncul sebagai legitimasi bagi perlawanan terhadap rasisme dalam narasi film. Gambar 2. Scene Menit 04. 26 Rasisme (Sumber: Film Pengepungan di Bukit Duri,2. Diawal film tepatnya tahun 2009 kita sudah disuguhkan gambaran yang sangat menyedihkan terhadap saudari Edwin. Bahwasannya, diperlihatkan ketika Cik Silvi dan saudaranya Edwin serta Sanca teman dari mereka hendak pulang dari sekolah, akan tetapi di tengah perjalanan mereka di hadang oleh para massa kerusuhan yang menjarah serta mendiskriminasi orang-orang thionghoa yang sedang melakukan aktivitas sehari-hari dengan kata-kata rasisme seperti yang di Gambar 1. 2 scene menit 04. 26 Au Woi. ada Cina! Ada Cina!!Ay. Dalam hal ini, mereka Edwin dan saudarinya yang termasuk dari kalangan etnis thioghoa menjadi korban rasisime, diskriminasi serta kriminalisasi, mereka di seret oleh massa dari bus hingga ke sebuah lorong hingga saudari Edwin menjadi korban pemerkosaan yang dimana itu salah satu perbuatan yang sangat tercela. Sehingga membuat saudari Edwin mempunyai trauma yang sangat kelam. Sejalan dengan ini, kerusuhan tersebut ditandai oleh tindakan-tindakan rasial yang cepat meluas, mulai dari ujaran rasisime, diskriminasi termasuk dalam perusakan, penjarahan, pembakaran, penganiayaan, pelecehan seksual, dan pembunuhan (Aziz dkk. , 2. Sasaran utama tindakan-tindakan ini adalah warga keturunan Tionghoa. Dalam hal ini, membuktikan kritikan keras terhadap para petugas keamanan yang kurang komprehensif dalam menjaga masa aksi sehingga masa tidak terkendali dan merusak serta menjarah toko-toko milik etnis Thionghoa. Gambar 3. Scene menit 04. 19 Rasisme (Sumber: Film Pengepungan di Bukit Duri,2. Taufikurrohman. Haqqul Yaqin: Legitimasi Agama terhadap Perlawanan Rasisme: Analisis Film Pengepungan di Bukit Duri Perspektif Emile Durkheim Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Gambar 4. Scene Menit 19. 05 Diskriminasi (Sumber: Film Pengepungan di Bukit Duri,2. Digambarkan dalam scane menit 04. 19 gambar 1. 3 di perlihatkan banyak tulisan poster rasisime terhadap etnis thionghoa. AyCina. Babi Ngepet Perampas HartaAy tulisan poster membuktikan ketidak mampunya Negara dalam menangani konflik yang berkepanjangan. Beberapa pesan yang disampaikan sangat eksplisit, seperti contoh spanduk yang menyerukan pembakaran dan penghancuran warga Tionghoa. diskeriminasi terjadi dimana-mana hingga masuk ke ranah sekolah (Annie Pohlman,Winnifred Louis, 2. Jika melihat fungsi sekolah hendaknya melakukan tugas sebagaimana fungsinya. Sekolah sebagai latar cerita juga penting dianalisis. SMA Duri digambarkan gagal menjalankan fungsinya sebagai ruang Guru kehilangan wibawa, siswa brutal, dan kekerasan menjadi hal biasa. Sejalan dengan ini, diperlihatkan pada gambar 1. 4 scene 19. 05 diskriminasi antar siswa sering terjadi, mereka melakukan kekerasan, menyiksa, memukuli, hingga memburu siswa yang beretnis thionghoa untuk di eksekusi. Situasi ini memperlihatkan bahwa diskriminasi tumbuh subur ketika institusi sosial gagal berfungsi. Pendidikan seharusnya bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga proses internalisasi nilai keadilan sosial (Qomaruddin & SaAodiyah, 2. Film ini menegaskan bahwa runtuhnya pendidikan mempercepat munculnya rasisime dan jika tidak di tanami dan dipupuk makna dan arti saling menghargai antar semua golongan yang berbeda sejak dini khususnya di lembaga-lembaga pendidikan yang ada maka konflik akan rentan terjadi dan terus menjadi problem bangsa dan negara. Untuk itulah betapa pentingnya menempatkan sekolah sebagai pencetak dan pembentukan karakter siswasiswi sebagai penerus generasi bangsa yang selaras dengan falsafah AuBhineka Tunggal IkaAy yang sering kita sebut dengan Pancasila. Edwin (Morgan Oe. , seorang guru pengganti keturunan Tionghoa, menjadi pusat Ia datang ke SMA Duri bukan hanya untuk mengajar, tetapi juga untuk menjalankan misi pribadi menemukan keponakannya yang hilang, sebuah janji terakhir kepada kakaknya yang telah meninggal. Identitas Edwin sebagai keturunan Tionghoa membuatnya sering berhadapan dengan stigma sosial. Hal ini memperlihatkan bagaimana diskriminasi tidak hanya menjadi isu kolektif, tetapi juga merasuki ranah personal (Arifianto, 2. Konflik memuncak ketika kerusuhan sosial melanda kota, dan SMA Duri ikut terjebak dalam Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman berubah menjadi arena survival, di mana siswa, guru, dan masyarakat harus berjuang menghadapi situasi kacau. Edwin bersama guru lain. Diana, berusaha melindungi siswa sekaligus mencari jalan keluar. Dengan menggabungkan narasi personal dan sosial, film ini memperlihatkan bagaimana individu menghadapi dilema moral dalam situasi ekstrem. Selain menyoroti gerakan massa, film menampilkan konflik personal Edwin sebagai narasi paralel. Edwin berjuang menjalankan tugas sebagai guru sekaligus mencari keponakan yang hilang. Identitasnya sebagai keturunan Taufikurrohman. Haqqul Yaqin: Legitimasi Agama terhadap Perlawanan Rasisme: Analisis Film Pengepungan di Bukit Duri Perspektif Emile Durkheim Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Tionghoa membuat ia sering mendapat stigma buruk dari kalangan siswa maupun siswi. Dengan begitu, film ini berhasil mempertemukan narasi personal . erjuangan keluarg. dengan narasi kolektif . ksi dem. menegaskan bahwa strategi naratif ini memperkuat daya emosional film sekaligus menyampaikan kritik sosial secara halus (Nicola & Rahmiaji. Sehingga dalam hal ini, dapat memberikan pemahaman yang kompleks mengenai Rentannya terjadinya konflik terjadi karena kurangnya edukasi dalam menangani sebuah konflik. Selaras dengan ini, deperlihatkan dampak rasisme yang jika tidak di tangani dengan serius sehingga mejalur ke ranah sekolah. Para siswa kalangan etnis thionghoa selalu mendapatkan prilaku diskriminasi dari kalangan siswa-siswa yang menganggap mereka Akan tetapi, pada dasarnya mereka dari kalangan etnis thioghoa merupakan warga negara Indonesia asli. Orang Tionghoa telah terpinggirkan sejak masa penjajahan Belanda. Kebijakan pemisahan Belanda menempatkan orang Tionghoa sebagai perantara ekonomi, yang pada gilirannya menciptakan jarak sosial dari penduduk asli. Situasi ini diperparah oleh berbagai tindakan diskriminatif setelah kemerdekaan, terutama setelah tragedi 1965, ketika orang Tionghoa sering dicurigai memiliki pandangan politik tertentu. Hingga masa reformasi tahun 1998, penduduk Tionghoa terdampak kerusuhan besar, yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan kerugian ekonomi yang signifikan Fenomena ini menunjukkan bagaimana konstruksi identitas agama dan nasional seringkali menjadi alat politik. Identitas seringkali digunakan untuk membedakan antara "kita" dan "mereka", yang pada akhirnya berujung pada diskriminasi. Namun, dari perspektif studi agama, identitas seharusnya dipahami sebagai jembatan penghubung, bukan penghalang pemisah (Rahman, 2. Agama sebenarnya mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan universal, seperti welas asih, keadilan, dan penghormatan terhadap perbedaan. Namun, dalam realitas sosial, agama seringkali dipolitisasi untuk mempertahankan kekuasaan atau memperkuat dominasi kelompok tertentu (Siswandi,2. Peran Agama Sebagai Legitimasi Moral Dan Sosial Terhadap Perlawanan Rasisme Dalam Film Pengepungan Di Bukit Duri Film juga menampilkan adegan-adegan penting yang memberi makna lebih luas, misalnya demonstrasi pad film tersebut ketika massa meneriakkan Aukita semua samaAy. Adegan ini memperlihatkan bahwa perlawanan terhadap diskriminasi tidak hanya lahir dari individu, tetapi juga menjadi gerakan kolektif yang memperoleh dukungan moral dari agama. Kehadiran tokoh agama dan simbol hijab dalam barisan demo menjadi bukti bahwa perjuangan sosial dapat memperoleh legitimasi spiritual (Muhammaddin dkk. , 2. Dalam kehidupan sosial, agama memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir, berperilaku, dan menetapkan aturan dalam masyarakat. Agama bukan hanya sebatas kepercayaan spiritual, tetapi juga menjadi dasar dalam membangun jati diri bersama suatu kelompok. Nilai-nilai budaya masyarakat setempat banyak dipengaruhi oleh ajaran agama yang diwariskan dari generasi ke generasi, baik melalui kegiatan ibadah, tradisi, maupun simbol-simbol sosial yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, memahami hubungan antara agama dan budaya lokal menjadi hal yang penting dalam kajian sosial dan antropologi masa kini (Arianti , 2. Taufikurrohman. Haqqul Yaqin: Legitimasi Agama terhadap Perlawanan Rasisme: Analisis Film Pengepungan di Bukit Duri Perspektif Emile Durkheim Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Gambar 5. Potongan Scene 09. 45 Kita Semua Sama (Sumber: Film Pengepungan di Bukit Duri,2. Adegan gambar 2. 6 demonstrasi menjadi titik fokus representasi perlawanan dalam Seruan Aukita semua samaAy menunjukkan bahwa perjuangan menentang diskriminasi rasial diposisikan sebagai perjuangan moral bersama. Film mengemas aksi kolektif ini dengan gaya visual yang kuat close-up wajah peserta demo, slow motion pada momen solidaritas, dan pengulangan slogan sebagai elemen emosional. Teknik audio-visual ini efektif memindahkan pesan dari ranah politik ke ranah moral, sehingga penonton merasakan bahwa rasisme adalah masalah universal (Leander, 2. Keberadaan simbol religius, seperti jilbab pada beberapa demonstran, mempertegas bahwa tuntutan melawan diskriminasi bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga etis. Jilbab di ranah publik sering dibaca sebagai simbol ganda identitas pribadi dan legitimasi sosial (Maya, 2. Dengan menempatkan jilbab di tengah aksi demo, film mengisyaratkan bahwa agama memberi bobot moral pada perjuangan dan perlawanan simbol agama di ruang publik dapat menjadi representasi moralitas kolektif dan media perlawanan terhadap dominasi budaya sekuler. Hal ini sejalan dengan ekspresi religious di ruang publik, terutama dalam konteks sosial dan dominasi sosial. Dengan demikian, kehadiran simbol keagamaan dalam adegan demonstrasi dapat dibaca sebagai bentuk legitimasi sosial yang memperkuat kesatuan moral dan memperluas jaringan dukungan terhadap perjuangan melawan diskriminasi( Hidayat, 2. Gambar 6. Scene 09. 50 Indentitas Agama (Sumber: Film Pengepungan di Bukit Duri,2. Serta digambar diperlihatkan adanya demo dari kalangan aktivis agama yang hadir dalam barisan demonstran menambah dimensi penting. Kehadiran mereka memberi sinyal bahwa perjuangan melawan diskriminasi bukan hanya sah secara politik, tetapi juga dibenarkan secara spiritual. Agama berfungsi sebagai sumber daya moral dan jaringan sosial yang memperluas dukungan terhadap aksi kolektif (Basyari, 2. Adegan ini menunjukkan bagaimana legitimasi agama membantu memperluas solidaritas lintas identitas. Namun, legitimasi agama juga menyimpan ambivalensi. Simbol agama bisa dimobilisasi untuk tujuan eksklusi (Ahmad Subakir, 2. Dalam film ini, tanda inklusif terlihat jelas agama ditampilkan sebagai faktor penyatu, bukan pemecah. Identitas umat beragama dibentuk melalui interaksi sosial, simbol, dan legitimasi moral yang dilekatkan pada tindakan kolektif. Taufikurrohman. Haqqul Yaqin: Legitimasi Agama terhadap Perlawanan Rasisme: Analisis Film Pengepungan di Bukit Duri Perspektif Emile Durkheim Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Dalam hal ini, simbol keagamaan berperan ganda: sebagai tanda identitas kelompok dan sebagai sarana pembentukan solidaritas sosial (Khasri, 2. Sejalan dengan ini, simbolsimbol keagamaan sebagai bentuk manifestasi spiritual yang memengaruhi perilaku sosial dan memperkuat ikatan moral dalam masyarakat (Samsurizal & Sadi, 2. Meski demikian, keterbatasan jumlah adegan religius membuat analisis harus berhati-hati agar tidak berlebihan dalam menarik kesimpulan. Film tidak hanya menggambarkan realitas sosial, tetapi juga menawarkan kritik. Dengan menampilkan adegan demo yang penuh simbol solidaritas, film mengajak penonton merefleksikan kondisi nyata masyarakat. film bisa menjadi medium efektif untuk menanamkan nilai toleransi dan integrasi (Sulistiawati dkk. , 2. Maka. Pengepungan di Bukit Duri tidak hanya sekadar tontonan populer, melainkan juga teks budaya yang membawa pesan moral. Secara keseluruhan, film ini merepresentasikan perlawanan terhadap rasisme melalui aksi demonstrasi, simbol agama, dan narasi personal tokoh utama. Kehadiran tokoh agama dan jilbab dalam adegan demo menunjukkan bahwa agama berfungsi sebagai legitimasi moral yang memperkuat tuntutan keadilan. Dengan menggabungkan narasi personal dan kolektif, film ini memperlihatkan bahwa rasisme adalah masalah struktural yang hanya bisa dilawan dengan solidaritas bersama. Agama dalam film ini tampil sebagai perekat solidaritas sekaligus energi simbolik yang memperkuat perjuangan melawan diskriminasi. Interpretasi Perlawanan Rasisme Dalam Perspektif yOmile Durkheim Durkheim menegaskan bahwa agama adalah fakta sosial yang memiliki kekuatan mengikat, berada di luar individu, tetapi memengaruhi tindakan kolektif. Fakta sosial ini berfungsi membentuk kesadaran moral dan solidaritas masyarakat. Dalam film Pengepungan di Bukit Duri, hal ini tergambar jelas pada adegan demonstrasi pada gambar 2. 6 dan 2. ketika massa menyerukan Aukita semua samaAy dengan kehadiran tokoh agama dan simbol Perlawanan terhadap diskriminasi menjadi sahih bukan hanya karena tuntutan politis, tetapi juga karena diposisikan sebagai norma moral kolektif (Fathoni dkk. , 2. Durkheim juga melihat agama sebagai medium pembentukan kesadaran kolektif bersama tentang apa yang benar dan salah. Adegan demonstrasi dapat dibaca sebagai ritual sosial modern pengulangan slogan, visualisasi massa, dan keterlibatan simbol agama menciptakan momen Ritual sosial semacam ini meneguhkan identitas kolektif dan memperbarui ikatan moral masyarakat (Mubayanah & Amin, 2. Artinya, meski berbentuk protes, demonstrasi dalam film ini sejajar dengan fungsi ritual religius yang menghidupkan kembali solidaritas masyarakat sosial. Selain sebagai ritual, agama juga tampil sebagai mediator antara pengalaman personal dan perjuangan kolektif. Tokoh Edwin, yang menghadapi stigma etnis, menemukan ruang legitimasi dalam demonstrasi. Kehadiran tokoh agama memperlihatkan bahwa perjuangan personal ini bukan hanya kepentingan minoritas, tetapi bagian dari perjuangan moral bersama. Dalam perspektif Durkheim, fungsi integratif agama bekerja di sini, menyatukan individu yang berbeda latar dalam satu norma kolektif (Virgianti & Hanani 2. Konsep solidaritas mekanik dan organik Durkheim juga relevan untuk membaca film ini. Solidaritas mekanik muncul dari kesamaan nilai dalam masyarakat sederhana, sedangkan solidaritas organik hadir dalam masyarakat kompleks melalui diferensiasi fungsi. Film menunjukkan bahwa meski Taufikurrohman. Haqqul Yaqin: Legitimasi Agama terhadap Perlawanan Rasisme: Analisis Film Pengepungan di Bukit Duri Perspektif Emile Durkheim Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 latar etnis dan agama berbeda, massa demonstrasi dapat membentuk solidaritas organik dengan menjadikan agama sebagai bahasa moral universal. Dengan kata lain, agama berfungsi sebagai Aulem perekatAy yang memungkinkan kelompok heterogen bersatu Namun. Durkheim juga mengingatkan kembali adanya potensi ambivalensi. Fakta sosial seperti agama bisa menyatukan, akan tetapi dapat dipakai untuk alat pemisah. Dalam film ini, simbol agama digunakan secara inklusif untuk melawan rasisme dan diskriminasi, namun tetap ada risiko jika simbol itu diklaim hanya untuk satu kelompok. Selaras dengan ini, simbol agama dalam film bisa sekaligus mempersatukan dan mempertegas batas identitas (Tuhri, 2020. Oleh karena itu, legitimasi agama dalam film ini perlu dipahami sebagai strategi simbolik yang diarahkan pada solidaritas universal. Film juga menggambarkan situasi anomie ketika norma sosial melemah. SMA Duri digambarkan kacau guru kehilangan wibawa, kekerasan merajalela, dan diskriminasi menjadi normal. Kondisi ini mencerminkan apa yang Durkheim sebut sebagai Auketiadaan aturan bersama. Ay Kehadiran agama di momen demonstrasi berfungsi mengembalikan norma, memberi arah moral baru yang melawan Dengan kata lain, agama dipakai untuk mengisi kekosongan nilai sosial (Pangeran , 2. Meski singkat, legitimasi agama dalam film menjadi poros moral yang memberi arah perjuangan. Dengan demikian, interpretasi Durkheim memberi pemahaman bahwa film Pengepungan di Bukit Duri adalah teks sosial yang menghadirkan agama sebagai perekat masyarakat di tengah anomie dan diskriminasi (Almuarif dkk, 2. Simbol agama bukan sekadar ornamen visual, tetapi fakta sosial yang menata kembali norma, memperkuat kesadaran kolektif, dan memberi legitimasi moral untuk melawan rasisme. Interpretasi ini sejalan dengan gagasan bahwa media populer seperti film adalah wahana reproduksi norma. Pengepungan di Bukit Duri tidak hanya menghibur, melainkan juga memperbaharui kesadaran publik tentang bahaya rasisme dan diskriminasi. Dengan menghadirkan agama sebagai legitimasi, film ini mengajarkan bahwa solidaritas kolektif tidak hanya bisa muncul dari politik, tetapi juga dari nilai moral bersama yang dipelihara oleh Implikasinya. Durkheim membantu kita memahami bahwa agama tidak hilang dalam masyarakat modern, melainkan bertransformasi melalui medium budaya. Film menjadi Auruang sakral baruAy tempat nilai-nilai kolektif dipertontonkan dan dihidupkan ulang. Solidaritas yang dibangun melalui film inilah yang menunjukkan relevansi teori Durkheim di era kontemporer (Virgianti & Hanani, 2. Lebih jauh, penggunaan agama sebagai legitimasi moral juga memperlihatkan bahwa perlawanan terhadap rasisme tidak hanya berbasis kepentingan kelompok, tetapi juga kesadaran moral yang bersifat publik. Ketika agama dijadikan dasar legitimasi, maka tuntutan kesetaraan memperoleh bobot yang lebih besar melawan diskriminasi berarti menjaga norma kolektif yang dijunjung bersama. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa agama dalam film Pengepungan di Bukit Duri berfungsi sebagai sumber legitimasi moral dan sosial dalam perlawanan terhadap rasisme. Simbol-simbol keagamaan seperti hijab, tokoh agama, dan slogan Aukita semua samaAy menjadi representasi nilai keagamaan yang memperkuat solidaritas kolektif. Melalui pendekatan Durkheimian, agama dipahami sebagai fakta sosial yang menumbuhkan kesadaran moral Taufikurrohman. Haqqul Yaqin: Legitimasi Agama terhadap Perlawanan Rasisme: Analisis Film Pengepungan di Bukit Duri Perspektif Emile Durkheim Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 bersama dan mendorong tindakan kolektif melawan ketidakadilan. Film ini menegaskan bahwa nilai keagamaan tidak berhenti pada ranah spiritual, tetapi juga bekerja sebagai energi sosial yang membentuk empati, kesetaraan, dan resistensi terhadap dominasi sosial. Dengan demikian, agama menjadi landasan moral yang mampu menyatukan perbedaan identitas dan meneguhkan perlawanan terhadap bentuk-bentuk diskriminasi di masyarakat modern. DAFTAR PUSTAKA