Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal Volume 7. , 2025, 100-110 ________________________________________________________________ Korelasi Tingkat Pengetahuan denngan Perilaku Swamedikasi Obat Analgesik di Masyarakat Semper Barat. Jakarta Utara Zainul Islam*. Endang Sulistyaningsih. Fanni Luthfianti Fakultas Farmasi dan Sains Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA *Corresponding author: zainul_islam@uhamka. Received: 02 October 2024. Accepted: 25 June 2025 Abstrak: Swamedikasi merupakan tindakan seseorang dalam menentukan serta memakai obat secara mandiri guna menangani penyakit atau gejalanya. Manfaat dari praktik ini termasuk efisiensi biaya dan membantu meringankan beban layanan kesehatan. Namun memiliki risiko apabila dilakukan tanpa pengetahuan yang memadai, dapat menimbulkan efek samping maupun beban biaya tambahan. Pengetahuan yang baik sangat mendukung perilaku swamedikasi yang benar di masyarakat. Jenis obat yang kerap dipakai saat swamedikasi adalah analgetik, yang berfungsi menekan rasa nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara tingkat pengetahuan dengan perilaku swamedikasi dalam penggunaan obat analgesik pada masyarakat di Kelurahan Semper Barat. Jakarta Utara. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan instrumen berupa kuesioner yang sudah melalui uji validitas dan reliabilitas. Sebanyak 400 responden dari 9 RW di Kelurahan Semper Barat berpartisipasi dalam penelitian ini. Data diolah melalui analisis Chi-square dan Spearman-rho. Data hasil penelitian diperoleh bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup . ,3%) serta berperilaku cukup . ,5%). Analisis Chi-square, sebagian besar karakteristik tidak berkorelasi signifikan dengan pengetahuan maupun perilaku, kecuali pendidikan. Hasil uji Spearman-rho memperlihatkan adanya korelasi bermakna . = 0,. antara pengetahuan dengan perilaku swamedikasi Kata kunci: Analgesik. Pengetahuan. Perilaku. Swamedikasi. Abstract: Self-medication is a person's action in determining and using medicine independently to treat a disease or its symptoms. The benefits of this practice include cost efficiency and helping to ease the burden of health services. However, there are risks if done without adequate knowledge. it can cause side effects or additional costs. Good knowledge greatly supports correct self-medication behavior in the community. The type of drug that is often used during self-medication is analgesics, which function to suppress pain. This study aims to analyze the correlation between the level of knowledge and self-medication behaviour in the use of analgesic drugs in the community in Semper Barat Village. North Jakarta. The research design used a quantitative approach with an instrument in the form of a questionnaire that had passed validity and reliability tests. Four hundred respondents from 9 RW in Semper Barat Village participated in this study. Data were processed through Chi-square and Spearman-rho analysis. The research data showed that the majority of respondents had a sufficient level of knowledge . 3%) and behaved sufficiently . 5%). In the chi-square analysis, except for education, most characteristics did not correlate significantly with knowledge or behaviour. The results of the Spearman-rho test showed a significant correlation . = 0. between knowledge and analgesic selfmedication behaviour. Keywords: Analgesics. Knowledge. Behaviour. Self-medication DOI: 10. 15408/pbsj. 100 | I s l a m e t a l Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. PENDAHULUAN Pengobatan mandiri merupakan pelayanan kesehatan yang sering dipilih warga guna menyembuhkan penyakitnya sendiri. Obat untuk swamedikasi yang digunakan meliputi obat tradisional dan obat modern secara mandiri guna melindungi diri dari penyakit serta gejalanya (Melizsa, et all. , 2. Berdasarkan laporan BPS tahun 2021 tercatat bahwa praktik swamedikasi masih banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia dan memakai obat modern sebesar 84,23% dan di DKI Jakarta sebesar 85,69%. Jumlah ini melampaui proporsi masyarakat yang lebih memilih pergi ke dokter untuk berobat (Pratiwi, 2. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat lebih memilih swamedikasi untuk penanganan pertama ketika merasakan keluhan suatu penyakit. Ketidaktepatan dosis dan informasi obat sering kali terjadi pada pelaksanaan swamedikasi di Ketidaktepatan ini dapat mengakibatkan masalah kesehatan jika terus berlanjut dalam jangka panjang. Rendahnya wawasan seseorang mampu menyebabkan pemakaian obat yang tidak tepat pada swamedikasi (RaAois et al. , 2. Peran apoteker sangat penting dalam membantu, menasihati, serta memberikan informasi obat kepada pasien yang ingin melaksanakan swamedikasi (Khuluq, 2. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, sebesar 35,2% keluarga di Indonesia tercatat memiliki persediaan obat untuk keperluan pengobatan mandiri. Persediaan obat di rumah mencakup obat keras sebesar . ,7%), antibiotik . ,8%), obat bebas, sediaan tradisional, serta obat yang belum Penggunaan kedua jenis obat tersebut dalam swamedikasi mengindikasikan praktik yang tidak rasional. (Kemenkes RI, 2. Penelitian di apotek daerah Tampan Pekanbaru menyatakan bahwa nyeri merupakan faktor utama penyebab terbesar seseorang memilih pengobatan sendiri (Muharni et al. , 2015. Harahap et al. , 2. Penggunaan analgesik-antipiretik saat swamedikasi untuk keluhan nyeri mencapai 50,6%. (Lestari et al. , 2. Ketidaktepatan penggunaan obat dalam swamedikasi nyeri cukup tinggi dan dapat berdampak negative seperti reaksi hipersensitivitas, gangguan pencernaan, chronic kidney disease (CKD) dan sirosis pada dosis berlebihan (Melizsa, et all. , 2. Penelitian di Kecamatan Tambalang, sebanyak 28,9% responden tidak tepat menggunakan obat swamadikasi karena mengkonsumsi antibiotic dan asam mefenamat. (Rakhmawatie & Anggraini, 2. Penelitian di Kabupaten Demak sebesar 31% responden tidak tepat dalam menggunakan obat swamedikasi (Pratiwi, et all. , 2. Studi di Blora memperlihatkan bahwa ada korelasi yang bermakna antara pengetahuan dan perilaku swamedikasi obat anti nyeri. Semakin rasional pola penggunaan analgesik di masyarakat, maka semakin rendah kemungkinan munculnya gejala yang tidak diinginkan. Penelitian di Blora menunjukan ada korelasi yang bermakna antara pengetahuan dan perilaku swamedikasi obat pereda Hal ini menunjukkan bahwa pemakaian obat nyeri yang lebih rasional akan memperkecil risiko timbulnya gejala yang merugikan. (Melisza, et al. , 2. METODE 1 Desain Penelitian Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif non-eksperimental dengan desain cross-sectional, serta mengandalkan kuesioner untuk memperoleh data mengenai pengetahuan dan perilaku. Populasi masyarakat kelurahan sampel barat dan jumlah sampel sebanyak 400 responden dengan kriteria usia 18-60 tahun, ber KTP di Semper Barat dan pernah melakukan swamedikasi obat analgesik. Studi ini telah disetujui secara etik oleh Komite Etik Penelitian Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA melalui surat keputusan nomor 03/23. 03/02341. 101 | I s l a m e t a l Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. 2 Analisis Data Uji Chi-square pada analisis univariat dimanfaatkan untuk melihat ada tidaknya korelasi karakteristik responden terhadap pengetahuan dan perilaku, sementara uji Spearman-rho pada analisis bivariat digunakan guna menilai korelasi antara pengetahuan dan perilaku responden. HASIL DAN DISKUSI Berdasarkan hasil uji, kuesioner pengetahuan dan perilaku menunjukan nilai r hitung yang lebih besar dari r tabel . dan CronbachAos alpha > 0,60, sehingga dapat dikategorikan valid serta reliabel. Data penduduk dewasa di Semper Barat Jakarta Utara sebanyak 43. 037 orang. Hasil pengitungan sempel menggunakan rumus slovin diperoleh 400 responden yang memenuhi syarat inklusi dan Pengetahuan Pasien Tabel 1. Karakteristik dan Pengetahuan Responden Karakteristik Kurang Cukup Baik Total Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Perguruan tinggi Non perguruan tinggi Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Usia Total Berdasarkan data pada tabel 1, menunjukan dari total 400 responden, sebanyak 16% termasuk kategori pengetahuan kurang, 64,3% kategori cukup dan 19,8% baik. Data tersebut menampilkan rata-rata responden mempunyai wawasan yang cukup baik terkait swamedikasi penggunaan obat Tingkat pengetahuan yang cukup baik bisa dipengaruhi dengan berbagai aspek, contohnya aspek lingkungan, semakin intens seseorang berkomunikasi dengan orang lain, semakin besar kemungkinan pengetahuannya meningkat. Namun, jika informasinya kurang dari tenaga kesehatan maka akan menimbulkan praktik pengobatan yang tidak rasional (Lydya et al. , 2. Tingkat Pengetahuan cukup baik pada laki-laki . ,5%) lebih baik dibanding perempuan. Karena Laki-laki mungkin lebih sering mendapatkan informasi terkait kesehatan melalui berbagai sumber, seperti internet, teman, atau pengalaman pribadi. Mereka juga lebih cenderung untuk mencari informasi terkait kondisi kesehatan yang dialami (Alves et al. , 2. Tingkat Pengetahuan tertinggi terdapat pada responden dengan pendidikan terakhir non-perguruan tinggi, yaitu sebesar 65,4% dalam kategori cukup baik, dibandingkan dengan responden berpendidikan perguruan Kondisi ini mungkin disebabkan oleh dominasi responden yang merupakan ibu rumah tangga dan memiliki pendidikan SMA/SMK. Pengetahuan pada kelompok masyarakat berpendidikan rendah . on perguruan tingg. tidak semata-mata diperoleh dari bangku sekolah, melainkan juga dari pengalaman langsung serta pergaulan di lingkungan sekitar. (Wulandari et al. , 2. 102 | I s l a m e t a l Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. Responden yang bekerja memiliki tingkat pengetahuan tertinggi pada kategori cukup baik, yakni sebesar 64,9%, dibandingkan dengan mereka yang tidak bekerja. Orang yang bekerja sering berinteraksi sehingga informasi terkait kesehatan mudah didapat dari teman, internet atau pengalaman Mereka juga lebih cenderung untuk mencari informasi terkait kondisi kesehatan yang dialami (Purwoko, 2. Berdasarkan usia, kelompok responden berusia 40-50 tahun menunjukkan proporsi tertinggi dalam perilaku yang cukup baik, yaitu sebesar 73,6%, dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Faktor yang mempengaruhi adalah karena mayoritas masyarakat yang mengikuti penelitian ini usia 40-50 Kemudian. Hasil riset Ilmi dkk . juga membuktikan bahwa sebesar 67% usia diatas 30 tahun lebih sering melaksanakan swamedikasi analgesik. Hal itu mempengaruhi pengetahuannya dalam swamedikasi obat analgesik (Ilmi et al. , 2. Tingkat pengetahuan memiliki beberapa bagian-bagian yang terikat dari variabel yang diteliti. Bagian yang terikat dalam tingkat pengetahuan seperti, pengetahuan tentang pemilihan obat yang sesuai dengan gejala penyakit, golongan obat yang dipakai dalam swamedikasi, cara pemakaian obat dalam swamedikasi, efek samping obat, cara penyimpanan obat, dan tanggal kadaluarsa obat. Penjelasan tentang tingkat pengetahuan responden yang termasuk dalam kategori tertentu akan diuraikan dibawah ini. Gambar 1. Grafik Tingkat Pengetahuan Responden Berdasarkan Subvariabel Grafik diatas didapatkan responden yang banyak menjawab benar di bagian tanggal kadaluarsa obat mencapai . %) dan responden yang paling banyak menjawab salah pada bagian golongan obat yang digunakan dalam swamedikasi mencapai . ,15%). Minimnya pengetahuan responden terkait golongan obat yang dipakai dalam swamedikasi karena beberapa responden tidak memperhatikan logo obat ketika membeli obat dan sebagian juga banyak yang tidak paham warna dari masing-masing logo obat tersebut serta tidak memahami golongan obat mana saja yang bisa dipakai untuk swamedikasi. 103 | I s l a m e t a l Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. Perilaku Pasien Table 2. Karakteristik dan Perilaku Pasien Karakteristik Kurang Cukup Baik Total Perguruan tinggi Nonperguruan tinggi Bekerja Tidak Bekerja Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Pekerjaan Usia Berdasarkan tabel diatas dari 400 responden terdapat 34,5% yang mempunyai perilaku baik, 52,5% perilaku cukup dan 13% perilaku kurang. Mayoritas responden menunjukan perilaku swamedikasi cukup baik. Namun, kurangnya pengetahuan responden terkait upaya pengobatan dengan analgesic dapat mempengaruhi praktik swamedikasi secara tidak rasional (Susanti & Dewi, 2. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 68,3% responden laki-laki memiliki perilaku yang cukup baik, proporsi ini lebih tinggi dibandingkan dengan responden perempuan. Laki-laki cendrung lebih berhati-hati dan sistematik dalam mengambil keputusan terkait mengobati diri sendiri, lebih proaktif dalam mencari informasi kesehatan dan pengalaman dalam melakukan swamedikasi. (A. Sari et , 2. Berdasarkan tingkat pendidikan, responden dengan tingkat pendidikan non-perguruan tinggi menunjukkan perilaku cukup baik tertinggi, yaitu sebesar 53%, dibandingkan dengan responden yang berpendidikan perguruan tinggi. Faktor yang mempengaruhi nya adalah karena penelitian ini mayoritas yang mengikuti Ibu Rumah Tangga yang berpendidikan terakhir non perguruan tinggi. Pengetahuan yang diperoleh masyarakat yang berpendidikan non perguruan tinggi tidak hanya berasal dari pendidikan formal, tetapi juga dari pengalaman sehari-hari dan interaksi sosial, yang dapat berdampak pada perilaku mereka (Wulandari et al. , 2. Perilaku berdasarkan pekerjaan diperoleh hasil tertinggi sebanyak 54,3% yang bekerja memiliki perilaku yang cukup baik dibanding yang tidak tibekerja. Faktor yang memengaruhi adalah pekerja memiliki kecenderungan untuk lebih aktif mencari informasi kesehatan, misalnya melalui internet atau media lain. Dengan demikian, mereka dapat melakukan swamedikasi secara lebih bijak karena memahami jenis obat yang dibutuhkan serta cara penggunaannya (Purwoko, 2. Perilaku berdasarkan usia diperoleh hasil tertinggi sebanyak 65,6% warga yang berusia 51-60 tahun memiliki perilaku yang cukup baik di banding usia lainnya. Faktor yang mempengaruhi adalah karena Orang yang berusia 51-60 tahun umumnya memiliki lebih banyak pengalaman dalam menangani masalah kesehatan sehari-hari. Pengalaman ini membuat mereka lebih paham mengenai gejala, jenis obat yang tepat, dan dosis yang diperlukan, sehingga perilaku swamedikasi mereka cenderung lebih 104 | I s l a m e t a l Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. Hasil riset Ilmi , dkk . juga membuktikan bahwa sebesar 67% usia diatas 50 tahun lebih sering melaksanakan swamedikasi analgesik. Hal itu mempengaruhi pengetahuan serta perilaku nya dalam swamedikasi obat analgesik (Ilmi et al. , 2. Bagian terkait dari perilaku swamedikasi seperti, aspek perilaku mencakup penyesuaian obat dengan keluhan yang dialami, pemilihan jenis dan golongan obat yang digunakan untuk swamedikasi, cara penggunaan obat yang tepat, kewaspadaan terhadap efek samping, metode penyimpanan yang benar, dan pengecekan tanggal kedaluwarsa obat. Distribusi jawaban responden tentang perilaku dijelaskan sebagai berikut. Gambar 2. Grafik Perilaku Swamedikasi Obat Responden Berdasarkan Subvariabel Berdasarkan grafik menunjukkan bahwa perilaku benar tertinggi terdapat pada pemeriksaan tanggal kadaluarsa obat . %), sedangkan perilaku terendah tercatat pada pemilihan obat sesuai gejala . %) dan pemilihan obat untuk swamedikasi . %). Minimnya responden yang mempunyai perilaku baik dalam memilih obat sesuai gejala penyakit dan memilih obat yang digunakan dalam swamedikasi disebabkan karena responden tidak melihat kandungan obat yang tertera dalam obat yang dipilih dan responden juga tidak mengetahui logo obat dan golongan obat yang digunakan. Relasi Karakteristik Responden terhadap Pengetahuan dan Perilaku Tabel 3. Relasi Karakteristik Responden terhadap Pengetahuan dan Perilaku Karakteristik Jenis Kelamin Usia Pendidikan Pekerjaan P-value Pengetahuan 0,279 0,725 *0,002 0,217 P-value Perilaku 0,102 0,398 0,662 0,976 Berdasarkan uji chi square pada Tabel 3, jenis kelamin, usia, dan pekerjaan responden terbukti tidak berhubungan secara signifikan . > 0,. dengan tingkat pengetahuan. Sebaliknya, tingkat pendidikan terakhir menunjukkan hubungan yang signifikan dengan pengetahuan . = 0,. Temuan ini selaras dengan hasil penelitian Sari . yang juga menunjukkan hubungan bermakna . = 0,. Pengetahuan seseorang umumnya akan lebih baik seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan yang ditempuh (Pariyana et al. , 2. Sebaliknya, studi oleh Wulandari et al. menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan . = 0,. Kondisi ini dapat terjadi karena masyarakat memperoleh pengetahuan tidak hanya dari pendidikan formal, tetapi juga melalui pengalaman seharihari dan interaksi sosial di lingkungan sekitar (Wulandari et al. , 2. Jenis kelamin tidak memiliki korelasi yang signifikan dengan tingkat pengetahuan tentang swamedikasi analgesik . = 0,. Hasil serupa dilaporkan pada penelitian terdahulu, yang menyebutkan tidak ada hubungan signifikan . = 0,. Kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh kesamaan akses informasi yang dimiliki laki-laki dan perempuan, sehingga tidak berdampak pada pengetahuan mereka (Hardani et al. , 2. Namun, berbeda dengan temuan Wulandari et al. , . yang menyebutkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin dan tingkat pengetahuan. 105 | I s l a m e t a l Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. Pengetahuan perempuan dilaporkan lebih baik daripada laki-laki, kemungkinan karena mereka mempunyai lebih banyak waktu untuk membaca maupun berdiskusi dengan lingkungan sekitar (Wulandari et al. , 2. Usia tidak menunjukkan hubungan yang signifikan . = 0,. terhadap tingkat pengetahuan masyarakat mengenai swamedikasi obat analgesik. Hal ini disebabkan karena usia tidak menjadi faktor penghalang bagi masyarakat dalam memperoleh informasi, sebab pada berbagai kelompok umur, seseorang tetap memiliki peluang yang sama untuk aktif dan terpapar informasi (Wulandari et , 2. Namun, hasil ini berbeda dengan penelitian Triseptinora . yang menemukan adanya hubungan signifikan antara usia dan pengetahuan . = 0,. Penjelasan hasil Triseptinora didukung oleh teori Nursalam, yang menyatakan bahwa pertambahan usia biasanya diikuti oleh peningkatan kematangan serta kemampuan dalam berpikir dan bekerja. (Triseptinora, 2. Pekerjaan tidak menunjukkan adanya hubungan signifikan . = 0,. dengan pengetahuan. Temuan ini sesuai dengan penelitian Purwoko . , yang juga melaporkan bahwa pekerjaan tidak berkorelasi secara bermakna dengan pengetahuan . = 0,. Meskipun ibu rumah tangga jarang bepergian ke luar rumah, mereka tetap bisa memperoleh informasi melalui interaksi langsung dengan orang lain, media sosial, maupun media massa, sehingga memungkinkan memiliki pengetahuan yang setara atau bahkan lebih baik daripada ibu yang bekerja (Purwoko, 2. Sebaliknya, hasil penelitian Ilmi et al. menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pekerjaan dan pengetahuan . = 0,. , di mana responden yang bekerja lebih sering berinteraksi di luar rumah sehingga lebih mudah memperoleh informasi (Ilmi et al. , 2. Uji chi-square yang ditampilkan pada Tabel 3 terlihat bahwa sebagian besar karakteristik responden tidak berhubungan secara signifikan . > 0,. dengan perilaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak berhubungan signifikan dengan perilaku . = 0,. Hal ini sejalan dengan studi Prihati et al. , yang melaporkan tidak adanya hubungan signifikan . = 0,. Jenis kelamin bukanlah faktor penentu utama dalam mendorong perilaku swamedikasi yang baik. Laki-laki dan perempuan memiliki kemungkinan yang sama dalam hal keterpaparan informasi dan keaktifan mengenai swamedikasi (Khairunnisa et al. , 2. Berbeda dengan pendapat Hebeeb dan Geahart . dalam Efayanti . , yang menyatakan adanya hubungan antara jenis kelamin dengan perilaku pengobatan sendiri, di mana perempuan cenderung lebih rasional dan aktif melakukan swamedikasi, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya. (Efayanti et al. ,2. Usia tidak memiliki hubungan yang signifikan . dengan perilaku swamedikasi obat analgesik pada masyarakat. Karena, usia bukan menjadi faktor utama yang mempengaruhi masyarakat untuk berperilaku baik atau buruk, masyarakat dengan kategori usia yang berbeda tersebut memungkinkan untukmemiliki pengalaman dalam informasi yang sama mengenai swamedikasi. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan studi sebelumnya yang menemukan adanya hubungan signifikan antara usia dan perilaku . = 0,. Hal ini disebabkan karena usia seseorang dapat memengaruhi pola pikir serta kemampuan dalam memahami suatu hal. Selain itu, teori juga menyebutkan bahwa semakin bertambah usia, maka semakin banyak pengalaman yang diperoleh dan pola pikir menjadi lebih matang dalam mengambil keputusan (Khairunnisa et al. , 2. Pendidikan tidak menunjukkan adanya hubungan signifikan . = 0,. dengan perilaku swamedikasi analgesik pada masyarakat. Hasil ini berbeda dengan penelitian Ilmi et al. , yang menemukan adanya hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dan perilaku . = 0,. Hal ini dikarenakan pendidikan yang lebih tinggi memungkinkan seseorang memperoleh informasi kesehatan yang lebih baik, sehingga dapat memengaruhi keputusan dalam melakukan pengobatan (Ilmi et al. , 2. Selain itu, penelitian Efayanti . juga menyebutkan bahwa pendidikan merupakan faktor yang sangat berpengaruh, sebab individu dengan pendidikan tinggi cenderung tidak mudah terpengaruh iklan dan lebih teliti membaca label obat sebelum mengonsumsinya (Lenggu, 2. 106 | I s l a m e t a l Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. Pekerjaan tidak memiliki hubungan signifikan dengan tingkat pengetahuan . = 0,. maupun perilaku . = 0,. Hasil ini sejalan dengan penelitian Khairunnisa et al. , yang juga menemukan bahwa pekerjaan tidak berkaitan dengan perilaku . = 0,. Hal ini disebabkan baik responden yang bekerja maupun tidak bekerja tetap menerapkan perilaku swamedikasi yang baik. Selain itu, pekerjaan di luar bidang kesehatan menyebabkan individu yang bekerja belum tentu memiliki pengetahuan atau pengalaman kesehatan lebih baik dibandingkan yang tidak bekerja (Khairunnisa et al. , 2. Sebaliknya, penelitian Ilmi et al. menunjukkan hasil berbeda, di mana terdapat hubungan signifikan . = 0,. antara pekerjaan dan perilaku swamedikasi analgesik. Hal ini dijelaskan karena responden yang bekerja cenderung lebih sering berinteraksi di luar rumah, sehingga lebih mudah memperoleh informasi yang dapat memengaruhi perilaku swamedikasi mereka (Ilmi et al. , 2. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Swamedikasi Tabel 4. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Swamedikasi Variabel Tingkat Pengetahuan Perilaku Koefisien Korelasi 0,126 0,126 P-value *0,011 *0,011 Berdasarkan uji Spearman rho, diketahui bahwa tingkat pengetahuan memiliki hubungan dengan perilaku, dengan nilai signifikansi p = 0,011. Temuan ini selaras dengan penelitian Melisza et al. , yang juga melaporkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan dan perilaku dengan nilai p = 0,000. Dari hasil analisis korelasi diperoleh koefisien sebesar 0,126, yang mengindikasikan adanya hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi analgesik, namun kekuatan hubungan tergolong lemah. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan: Hasil uji chi square dari karakteristik responden dengan pengetahuan dan perilaku hanya pendidikan yang hubungan secara signifikan . dengan tingkat pengetahuan Hasil uji korelasi spearman rho didapatkan pengetahuan berhubungan dengan perilaku . Namun, memiliki kekuatan hubungan yang lemah. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan apresiasi kepada Pimpinan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, khususnya Fakultas Farmasi dan Sains, atas dukungan fasilitas penelitian, serta kepada Pimpinan Kelurahan Semper Barat atas izin yang diberikan untuk melakukan penelitian di wilayahnya. DAFTAR PUSTAKA