J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian Volume 5. Number 2. Oktober 2022 E-ISSN: 2599-2872 P-ISSN: 2549-8150 Pages: 1-7 ANALISIS WILAYAH BASIS DAN MULTIPLIER EFFECT KOMODITAS PADI DI KALIMANTAN UTARA Hendris1. Syah Enggar Dupa Permana1. Nurul Fauziah1 Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Borneo Tarakan E-Mail: hendris@borneo. Diterima: 18 Agustus 2022 Disetujui: 15 September 2022 ABSTRACT Efforts to develop rice commodities in North Kalimantan Province must pay attention to the conditions of each region because then it can be known which areas are the basis of rice commodities, so that the aspect of regional planning becomes a very important thing because each region has a strategic value that is in accordance with the potential in each of these areas. This study aims to . identify the production base area for rice commodities. knowing the characteristics of the distribution of rice commodities. knowing the multiplier effect of rice The data analysis method uses Location Quotient analysis method, locality and specialization coefficient analysis, and Basic Service Ratio and Regional Multiplier analysis. The results showed the area of the basis of rice commodity production in North Kalimantan Province is in Malinau Regency. The distribution of rice commodities in North Kalimantan Province is not concentrated in one regency/municipal area but is spread across all regions and regencies/cities in North Kalimantan Province and does not specialize in rice commodities in one particular area. Based on the results of the Basic Service Ratio (BSR) and Regional Multiplier (RM) analysis, rice commodities are able to support food crop agricultural activities in North Kalimantan Province. Key words: BSR. LQ. Regional Multiplier. Rice. ABSTRAK Upaya pengembangan komoditas padi di Provinsi Kalimantan Utara perlu memperhatikan aspek kondisi setiap wilayah karena dengan melihat kondisi tersebut dapat diketahui mana saja wilayah yang basis komoditas padi, sehingga aspek perencanaan wilayah menjadi satu hal yang sangat penting karena masing-masing wilayah dengan potensi sumberdaya yang ada mempunyai nilai strategis wilayah. Tujuan penelitian ini adalah . mengidentifikasi wilayah basis produksi komoditas padi. mengetahui karakteristik penyebaran komoditas padi. mengetahui dampak pengganda . ultiplier effec. komoditas padi. Metode analisis data menggunakan metode analisis Location Quotient, analisis koefisien lokalita dan spesialisasi, dan analisis Basic Service Ratio dan Regional Multiplier. Hasil penelitian menunjukkan wilayah basis produksi komoditas padi di Provinsi Kalimantan Utara adalah di Kabupaten Malinau. Penyebaran komoditas padi di Provinsi Kalimantan Utara tidak terkonsentrasi pada satu wilayah kabupaten/kota saja melainkan tersebar di seluruh wilayah dan kabupaten/kota yang ada di Provinsi Kalimantan Utara tidak menspesialisasikan komoditas padi pada satu wilayah tertentu. Berdasarkan hasil analisis Basic Service Ratio (BSR) dan Regional Multiplier (RM), komoditas padi mampu mendukung kegiatan pertanian tanaman pangan di Provinsi Kalimantan Utara. Kata kunci: BSR. LQ. Padi. Regional Multiplier. PENDAHULUAN Dalam rangka pembangunan sektor pertanian baik secara nasional maupun daerah, tahapan awal yang dapat dilakukan untuk memperoleh keunggulan komparatif maupun kompetitif yang berdasarkan pada konsep efisiensi adalah melalui pendekatan Memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif merupakan aspek utama dalam pengukuran suatu komoditas sehingga dapat bersaing dengan komoditas lainnya di pasar, sehingga sangat penting untuk mengetahui apakah suatu komoditas memiliki kriteria keunggulan tersebut. Tahap awal untuk menuju efisiensi adalah melalui usaha pengembangan komoditas yang ditinjau baik dari aspek penawaran komparatif (Syahab et al. , 2. Menurut Hendris & Januar . , salah satu aspek yang kurang mendapat perhatian dalam proses perencanaan pembangunan selama ini adalah kurangnya perhatian terhadap masalah-masalah secara regional. Dalam mengembangkan suatu komoditas pertanian perlu didasarkan pada potensi komoditas dan sumberdaya yang ada di wilayah Selanjutnya menurut Windiarti & Kusmiati J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian 5. : 1-7. Oktober 2022 SETYAWAN et al. Ae Running title is about five words . dalam mengembangkan suatu komoditas pertanian, salah satu aspek yang sangat penting dilakukan adalah perencanaan wilayah karena masing-masing wilayah sesuai dengan potensi sumber dayanya masing-masing memiliki nilai Komoditas padi merupakan salah satu indikator perekonomian nasional Indonesia, hal ini menjelaskan bahwa perkembangan harga beras sebagai cerminan bagi sebuah negara sebagai Manajemen produksi usahatani padi memiliki dampak kepada pengelolaan konsumsi dan sektor lainnya (Hendris & Sirait, 2. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Utara pada tahun 2020 luas panen padi di Provinsi Kalimantan Utara adalah 11. 605 hektar, produktivitas padi mencapai 34,66 kuintal/hektar dengan produksi padi sebesar 40. 221 ton terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2019 produksi padi sebesar 33. 357 ton. Sebaran produksi padi di Provinsi Kalimantan Utara juga tidak merata di seluruh kabupaten, kondisi ini menyebabkan wilayah basis komoditas padi hanya terpusat pada satu daerah/kabupaten saja sehingga dapat mempengaruhi daya dukung usahatani padi terhadap kegiatan pertanian di Provinsi Kalimantan Utara (Badan Pusat Statistik, 2. Pengembangan sub sektor tanaman pangan khususnya padi pada setiap wilayah di Provinsi Kalimantan Utara selama ini masih terbatas hanya pada usaha hbudidaya saja . n far. belum banyak pengembangan ke arah agribisnis sehingga belum mampu memberikan nilai tambah terhadap komoditas unggulan sehingga dapat menghambat perencanaan pengembangan pertanian di daerah. Kondisi ini juga banyak dipengaruhi oleh pemanfaatan teknologi pasca panen yang masih belum bisa diterapkan dengan baik yang seharusnya dapat meningkatkan nilai tambah (Dewi & Santoso. Upaya pengembangan komoditas padi di Provinsi Kalimantan Utara perlu memperhatikan beberapa aspek salah satunya adalah kondisi setiap daerah karena dengan melihat kondisi eksistingnya dapat dianalisa wilayah wilayah sebagai daerah basis komoditas padi, sehingga tahap perencanaan dalam pengembangan wilayah menjadi sangat penting sesuai kondisi sumberdaya yang dimiliki wilayah tersebut sebab setiap wilayah dengan potensinya memiliki nilai strategis yang berbeda-beda. Menurut Budiharsono . , kegiatan ekonomi dapat dibagi menjadi sektor basis dan non basis secara implisit. Kedua sektor tersebut memiliki hubungan yang saling berkaitan sehingga memunculkan teori ekonomi basis. Semakin banyak aktivitas ekonomi yang basis pada suatu wilayah, maka secara positif juga meningkatkan pendapatan daerah tersebut, barang/jasa mendorong meningkatnya jumlah kegiatan ekonomi basis di wilayah tersebut. Selanjutnya sektor basis komoditas padi di Provinsi Kalimantan Utara harus memiliki dampak pengganda . ultiplier effec. yang ditimbulkan dalam memicu kegiatan ekonomi wilayah, seperti yang dinyatakan oleh Pertiwi et al. bahwa pertumbuhan ekonomi disuatu wilayah berhubungan erat dengan peran masing-masing sektor yang ada di daerah tersebut. Keterkaitannya adalah kegiatan perekonomian di daerah tersebut dapat dipicu oleh kontribusi yang diberikan oleh sektor-sektor yang ada di wilayah tersebut. Keterkaitan itu dapat dilihat melalui analisis Basic Service Ratio dan Regional Multiplier. Berdasarkan gambaran permasalahan tersebut maka penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran kondisi sosial ekonomi wilayah pertanian khususnya komoditas padi di Provinsi Kalimantan Utara mengingat adanya potensi sumberdaya lahan yang luas untuk pengembangannya serta letak geografis Provinsi Kalimantan Utara yang direncanakan kedepannya sebagai penyangga bagi ibu kota baru Indonesia khususnya pada sektor Oleh sebab itu maka penelitian ini bertujuan untuk: . mengidentifikasi wilayah basis produksi komoditas padi. mengetahui karakteristik penyebaran komoditas padi. mengetahui dampak pengganda . ultiplier effec. komoditas padi di Provinsi Kalimantan Utara. BAHAN DAN METODE Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah di Provinsi Kalimantan Utara yang ditentukan secara sengaja . dengan pertimbangan bahwa lokasi ini memiliki potensi sumberdaya lahan pertanian yang masih sangat luas untuk pengembangan tanaman pangan khususnya komoditas padi serta posisinya sebagai wilayah perbatasan. Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Dinas Pertanian instansi/lembaga terkait lainnya dan melalui penelaahan buku-buku, majalah, jurnal, internet, dan dokumen-dokumen yang terkait dengan tujuan Pengumpulan data produksi tanaman pangan Provinsi Kalimantan Utara berdasarkan data time series selama lima tahun yakni tahun 20172021. J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian 5. : 1-7. Oktober 2022 SETYAWAN et al. Ae Running title is about five words Metode Analisis Data 1 Analisis Location Quotient Analisis LQ pada penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi wilayah basis dan non basis komoditas padi pada setiap wilayah kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Utara. Rumus LQ ditentukan sebagai berikut (Bangun, 2. yaUyaa = . ayaAEyay. aiyaAEyaiy. Keterangan: = Location Quotient produksi padi = Produksi padi pada tiap kabupaten/kota . on/h. = Total produksi tanaman pangan ditingkat kabupaten/kota . on/h. = Produksi padi pada tingkat provinsi . on/h. = Total produksi tanaman pangan ditingkat provinsi . on/h. Kriteria keputusan: LQ Ou 1 : wilayah kabupaten/kota tersebut merupakan wilayah basis produksi padi di Provinsi Kalimantan Utara. LQ < 1 : wilayah kabupaten/kota tersebut merupakan wilayah non basis produksi padi di Provinsi Kalimantan Utara. 2 Lokalita dan Spesialisasi Analisis Lokalita () bertujuan untuk melihat penyebaran . relatif aktivitas pertanian di suatu wilayah, dengan rumus sebagai berikut (Setiono, 2. = (Si/N. - (Si/N. Kriteria keputusan: Ou 1 : Komoditas padi terlokalisasi/terkonsentrasi di satu wilayah . abupaten/kot. Komoditas terlokalisasi/terkonsentrasi pada satu wilayah . abupaten/kot. Analisis Spesialisasi () bertujuan untuk melihat kekhususan wilayah terhadap jenis komoditas tertentu, dengan rumus sebagai berikut (Setiono, = (Si/S. - (Ni/N. Kriteria keputusan: Ou 1 : Suatu wilayah . abupaten/kot. mengkhususkan pada produksi komoditas padi. < 1 : Suatu wilayah . abupaten/kot. belum/tidak mengkhususkan pada produksi komoditas padi. Keterangan: = Jumlah produksi padi di kabupaten/kota = Jumlah produksi padi di Provinsi Kalimantan Utara Si = Total produksi tanaman pangan di di kabupaten/kota Ni = Total produksi tanaman pangan di Provinsi Kalimantan Utara 3 Basic Service Ratio dan Regional Multiplier Untuk mengetahui dampak pengganda . ultiplier effec. komoditas padi terhadap aktivitas sub sektor pertanian lainnya menggunakan analisis Basic Service Ratio (BSR) dan analisis Regional Multiplier (RM) dengan menggunakan formulasi sebagai berikut (Pasaribu & Soetriono, 2. BSR = (Sektor Basi. /(Non Basi. yacyaU = Oc yaeyayayayaya yaAyaoyayaya Oc yasyaya yaAyaoyayaya Oc yaeyayayayaya yaAyaoyayaya Keterangan: BSR = Basic Service Ratio = Regional Multiplier Sektor Basis = Jumlah produksi padi di wilayah basis Provinsi Kalimantan Utara Non Basis = Jumlah produksi padi di wilayah non basis Provinsi Kalimantan Utara Kriteria keputusan: BSR > 1 : Usahatani padi pada wilayah basis memiliki dampak pengganda pada usahatani padi di wilayah non basis. BSR O 1 : Usahatani padi pada wilayah basis belum memiliki dampak pengganda terhadap usahatani padi di wilayah non basis. HASIL DAN PEMBAHASAN Wilayah Basis Produksi Komoditas Padi di Provinsi Kalimantan Utara Untuk menentukan wilayah-wilayah yang merupakan sektor basis dari komoditas padi di Provinsi Kalimantan Utara maka terlebih dahulu dilakukan dengan menganalisis wilayah basis komoditas padi dengan menggunakan metode Location Quotient (Wibowo & Soetriono, 2. Analisis wilayah komoditas padi di Provinsi Kalimantan Utara menggunakan data produksi karena dianggap penting dalam perencanaan Hasil analisis LQ di Provinsi Kalimantan Utara ini hanya sebatas mengidentifikasi wilayahwilayah basis komoditas padi yang pada saat penelitian ini dilakukan masih berproduksi, data yang dianalisis adalah data sekunder yang tersedia baik dari Badan Pusat Statistik (BPS) maupun dinas/lembaga terkait. Hasil perhitungan analisis LQ komoditas padi dengan indikator produksi di setiap wilayah kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara dapat dilihat pada Tabel 1 berikut. Tabel 1. Nilai Location Quotient (LQ) Komoditas Padi di Provinsi Kalimantan Utara Location Quotient (LQ) RataRata Malinau 0,61 1,09 1,17 1,16 1,18 1,04 Bulungan 0,99 0,73 0,93 1,13 1,12 0,98 Kabupaten/Kota J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian 5. : 1-7. Oktober 2022 SETYAWAN et al. Ae Running title is about five words Tana Tidung 0,27 1,51 0,51 1,29 1,29 0,97 Nunukan 1,20 0,88 1,01 0,79 0,79 0,94 Tarakan 0,98 0,98 1,89 0,45 0,45 0,95 Sumber: Data diolah, 2021 Hasil analisis Location Quotient (LQ) pada Tabel 1 menunjukkan bahwa selama 5 tahun sejak tahun 2017 hingga tahun 2021 komoditas padi di Provinsi Kalimantan Utara pernah basis di 5 kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Malinau. Bulungan. Tana Tidung. Nunukan, dan Tarakan, namun jika dilihat dari nilai rata-rata koefisien LQ selama tahun 2017 Ae 2021 yang basis produksi padi hanya di Kabupaten Malinau karena memiliki nilai LQ > 1. Kondisi ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut mampu memenuhi kebutuhan padi di dalam wilayahnya, serta memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan wilayah lain. Sedangkan Kabupaten Bulungan. Tana Tidung. Nunukan, dan Kota Tarakan merupakan daerah nonbasis komoditas padi karena memiliki nilai LQ < 1. Nilai LQ produksi padi dalam kurun waktu 2017 Ae 2021 yang berfluktuasi disebabkan adanya kondisi geografis dan demografis dalam hal syarat tumbuh yaitu kondisi tanah dan iklim serta kualitas sumberdaya manusia berupa penerapan teknologi yang dimiliki setiap wilayah berbedabeda. Kabupaten Malinau sebagai wilayah basis produksi komoditas padi telah didukung dengan adanya program pemerintah daerah yaitu program unggulan beras daerah (Rasd. sehingga sebagian besar hasil panen padi yang dibudidayakan di wilayah tersebut dibeli dan dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Malinau melalui perusahaan daerah (Perusd. Dengan adanya kemitraan antara petani dan pemerintah daerah melalui perusahaan daerah tersebut menjadi faktor pendorong perkembangan komoditas padi di Kabupaten Malinau sehingga petani banyak membudidayakannya dibandingkan dengan komoditas tanaman pangan lainnya. Karakteristik Penyebaran Komoditas Padi di Provinsi Kalimantan Utara . Lokalita () Hasil pembahasannya dan pemahamannya melalui penggunaan analisis lokalita dan spesialisasi (Widyatami & Wiguna, 2. Alat analisis ini karakteristik penyebaran suatu komoditas. Oleh karena itu analisis ini bertujuan untuk mengetahui apakah komoditas padi menyebar ke seluruh wilayah atau terkonsentrasi di satu wilayah tertentu saja di Provinsi Kalimantan Utara serta apakah wilayah tersebut mengkhususkan pada komoditas tersebut atau tidak. Hasil analisis ini berpengaruh terhadap proses perencanaan dalam penetapan lokasi yang dapat mendorong aktivitas perekonomian pada sektor pertanian secara optimal. Perhitungan analisis lokalita komoditas padi berdasarkan indikator produksi di masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara dapat dilihat pada Tabel 2 berikut. Tabel 2. Nilai Lokalita () Komoditas Padi di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Malinau Bulungan Tana Tidung Nunukan Tarakan Kalimantan Utara 0,06 0,23 0,28 0,12 Lokalita () 2018 2019 2020 0,12 0,19 0,23 0,22 0,02 0,01 0,01 0,23 0,25 0,16 0,11 0,12 0,22 0,01 0,16 RataRata 0,09 0,22 0,01 0,22 0,11 Sumber: Data diolah, 2021 Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 2 dapat diketahui bahwa komoditas padi tidak terlokalita pada satupun wilayah kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara karena memiliki nilai < 1 walaupun diketahui pada analisis sebelumnya bahwa Kabupaten Malinau merupakan basis produksi padi. Nilai rata-rata koefisien lokalita komoditas padi di Provinsi Kalimantan Utara berdasarkan indikator produksi selama tahun 2017-2021 adalah 0,11, hal ini menunjukkan bahwa aktivitas usahatani padi tidak terpusat pada satu wilayah kabupaten/kota saja tetapi tersebar pada seluruh wilayah. Penyebaran menguntungkan karena suplai komoditas padi tidak tergantung kepada satu daerah saja melainkan juga dapat diperoleh dari wilayah lainnya, sehingga pada saat terjadi gagal produksi di suatu wilayah dapat tertutupi oleh wilayah lain yang ada di Provinsi Kalimantan Utara. Perkembangan koefisien lokalita komoditas padi di Provinsi Kalimantan Utara selama tahun 2017-2021 berfluktuasi, hal ini terjadi karena adanya perubahan luas lahan, produksi, dan . Spesialisasi () Hasil perhitungan analisis Spesialisasi () komoditas padi berdasarkan indikator produksi rentang waktu tahun 2017 Ae 2021 di masing-masing wilayah di Provinsi Kalimantan Utara dapat dilihat pada Tabel 3 berikut. Tabel 3. Nilai Spesialisasi () Komoditas Padi di Provinsi Kalimantan Utara Spesialisasi () Kabupaten/ RataKota Rata 2017 2018 2019 2020 2021 Malinau Bulungan Tana Tidung Nunukan Tarakan -0,32 -0,29 -0,20 -0,32 -0,31 -0,02 -0,12 -0,02 -0,05 -0,06 -0,42 -0,44 -0,37 -0,49 -0,49 0,07 -0,04 0,02 -0,19 -0,19 0,4 0,4 0,4 0,5 0,5 -0,29 -0,05 -0,44 -0,07 0,46 J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian 5. : 1-7. Oktober 2022 SETYAWAN et al. Ae Running title is about five words -0,26 Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai rata-rata koefisien Spesialisasi () komoditas perkebunan selama periode tahun 2017 Ae 2021 tidak ada yang nilainya lebih dari satu (<. Nilai tersebut menunjukkan Provinsi Kalimantan Utara menspesialisasikan komoditas padi pada satu kabupaten/kota tertentu atau tidak mengkhususkan untuk memproduksi tanaman pangan tertentu, sebab untuk mengkhususkan suatu wilayah pada satu jenis komoditas tidak memungkinkan karena adanya kecenderungan masyarakat dalam memenuhi permintaan pasar yang beraneka ragam serta untuk mencegah terjadinya kegagalan produksi pada satu jenis pengusahaan komoditas. Menurut Hakim et al. , kelebihan spesialisasi adalah suatu wilayah akan lebih fokus pada satu jenis tanaman unggulan saja sehingga peluang untuk meningkatkan daya saing akan lebih besar, namun disisi lain terdapat kelemahannya yaitu jika kondisi perekonomian tidak stabil maka akan sangat berdampak pada kegiatan pertanian tersebut karena tidak ada alternatif komoditas lainnya. Dampak Pengganda (Multiplier Effec. Usahatani Padi di Provinsi Kalimantan Utara Analisis Basic Service Ratio (BSR) dan Regional Multiplier (RM) dapat memberikan gambaran bagaimana peranan sektor basis komoditas padi terhadap kegiatan pertanian tanaman pangan di Provinsi Kalimantan Utara. Hasil analisis Basic Service Ratio (BSR) dan Regional Multiplier (RM) komoditas padi rentang waktu tahun 2017 Ae 2021 di Provinsi Kalimantan Utara terlihat pada Tabel 4 Tabel 4. Nilai Basic Service Ratio (BSR) dan Regional Multiplier (RM) Komoditas Padi di Provinsi Kalimantan Utara N Tah Basic Service Ratio Regional Multiplier (BSR) (RM) 0,97 2,03 0,27 4,69 1,59 1,63 2,09 1,48 2,08 1,48 Sumber: Data diolah, 2021 Basic Service Ratio (BSR) 2,09 2,08 Gambar 1. Basic Service Ratio Komoditas Padi di Provinsi Kalimantan Utara Berdasarkan hasil analisis pada Gambar 1, selama 5 tahun dari tahun 2017 hingga 2021 nilai indeks BSR mengalami kecenderungan meningkat. Nilai tertinggi adalah pada tahun 2021 yaitu sebesar 2,08 yang artinya usahatani padi sanggup mendorong perekonomian di Provinsi Kalimantan Utara. Nilai BSR tersebut lebih besar dari satu (Ou. yang berarti bahwa 1 bagian dari produksi padi dipakai untuk memenuhi kebutuhan wilayah basis sedangkan 1,08 bagian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan wilayah non basis. Nilai BSR terendah ada pada tahun 2018 dengan nilai sebesar 0,27, yang dapat diartikan bahwa usahatani padi pada wilayah basis di tahun tersebut belum mampu mampu mendukung perekonomian di Provinsi Kalimantan Utara. Permintaan akan komoditas padi dari wilayah itu sendiri maupun dari wilayah lainnya dapat sangat mempengaruhi naik dan turunnya nilai indeks BSR oleh karena itu, untuk terus mempertahankan nilai BSR selalu lebih besar dari satu (Ou. , maka keberlanjutan dan peningkatan produksi komoditas padi harus dikembangkan. Berdasarkan nilai BSR yang berkembang selama tahun 2017 hingga 2021, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa komoditas padi berkontribusi dalam bentuk nilai tambah terhadap wilayah basis dan dapat mendukung pengembangan wilayah non basis di Provinsi Kalimantan Utara. Untuk melihat hubungan antar wilayah basis dan keterkaitannya dengan wilayah lain baik yang terjadi secara langsung ataupun tidak maka dapat menggunakan analisis Regional Multiplier (RM) sebagai kelanjutan dari BSR. Alat analisis ini juga berfungsi untuk mengetahui dampak pengganda . ultiplier effec. yang timbul dari dampak aktivitas kegiatan sektor basis yang dapat dilihat melalui koefisien angka pengganda (Wibowo & Januar, 4,69 Regional Multiplier (RM) Kalimantan -0,22 -0,27 -0,19 -0,31 -0,31 Utara Sumber: Data diolah, 2021 2,03 1,63 1,48 1,48 1,59 Tahun 0,97 Gambar 2. Regional Multiplier Komoditas Padi di Provinsi Kalimantan Utara 0,27 Tahun J-PEN Borneo: Jurnal Ilmu Pertanian 5. : 1-7. Oktober 2022 SETYAWAN et al. Ae Running title is about five words Berdasarkan hasil analisis pada Gambar 2 terlihat bahwa nilai indeks Regional Multiplier (RM) komoditas padi di Provinsi Kalimantan Utara sejak tahun 2017 hingga tahun 2021 secara keseluruhan mengalami kecenderungan menurun namun masih mempunyai nilai lebih dari satu (RM>. Artinya bahwa kegiatan usahatani padi di wilayah kabupaten/kota basis dapat memberikan dampak pengganda . ultiplier effec. terhadap kegiatan perekonomian daerah khususnya pada sektor tanaman pangan di Provinsi Kalimantan Utara. Efek pengganda yang ditimbulkan yaitu meningkatnya pendapatan dan tenaga kerja yang terserap dengan baik yang berasal langsung dari kegiatan usahatani tersebut maupun dari kegiatan sekunder dari hasil komoditas padi. Selama kurun waktu 2017-2021, nilai paling tinggi adalah tahun 2018 sebesar 4,69 yang berarti 1 bagian untuk memenuhi kebutuhan wilayah basis sedangkan sisanya 3,69 bagian merupakan dampak penambahan yang dapat dialami oleh wilayah non basis. Nilai RM terendah terjadi pada tahun 2020 dan 2021 dengan nilai RM yang sama yaitu 1,48. Secara keseluruhan nilai RM yang mengalami fluktuasi yang cenderung menurun selama kurun waktu 5 tahun terakhir ini lebih disebabkan adanya perkembangan produksi padi yang diperoleh, yaitu produksi yang dihasilkan di wilayah basis ataupun produksi padi secara keseluruhan di Provinsi Kalimantan Utara. KESIMPULAN Wilayah basis produksi komoditas padi di Provinsi Kalimantan Utara hanya terdapat di Kabupaten Malinau dengan nilai LQ=1,04. Penyebaran komoditas padi tidak terkonsentrasi pada satu wilayah kabupaten/kota saja tetapi tersebar diseluruh wilayah dan di Provinsi Kalimantan Utara tidak ada yang menspesialisasikan komoditas padi pada satu wilayah tertentu. Berdasarkan analisis Basic Service Ratio dan Regional Multiplier, usahatani padi mampu mendukung aktivitas pertanian tanaman pangan di Provinsi Kalimantan Utara. Dalam memacu pertumbuhan pertanian tanaman pangan daerah, maka pemerintah daerah hendaknya memprioritaskan pembangunan pertanian pada komoditas yang menjadi basis produksi daerah. Untuk meningkatkan dampak pengganda yang ditimbulkan oleh pertumbuhan sektor pertanian basis terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dapat dilakukan dengan peningkatan keterkaitan ekonomi antar wilayah non basis. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Borneo Tarakan melalui Hibah DIPA Universitas Borneo Tarakan Skema Program Riset Kompetensi Dosen (RKD) Tahun 2021. Selain itu ucapan terimakasih juga disampaikan kepada Badan Pusat Statistik (BPS). Dinas Pertanian, dan instansi terkait atas dukungannya dalam penyelesaian penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA