Lestari et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 4: . p: 54-61 ISSN 2809-6541 Received: 7 Maret 2025 Accepted: 15 Agustus 2025 Published online: 19 Agustus 2025 Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung DOI: 10. 30659/jmhsa. Original Papers Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Dismenorea pada Remaja Putri di SMA Negeri 10 Semarang Dina Lestari1. Atika Zahria Arisanti1*. Endang Susilowati1 Program Studi Kebidanan Universitas Islam Sultan Agung Corresponding Author: dinalestari51837@gmail. Dysmenorrhea is a common gynecological problem with a high prevalence worldwide. In most European and Asian countries, the average prevalence reaches 73. In Indonesia, several studies have reported that the incidence exceeds 60%. Objective: This study aimed to determine the relationship between age at menarche, nutritional status, and junk food consumption with the occurrence of dysmenorrhea. Methods: A quantitative descriptive study with a cross-sectional design was conducted. The sampling technique employed stratified random sampling, involving 58 respondents who met the inclusion criteria. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed using the Chi-square test. Results: Univariate analysis showed that the majority of respondents experienced moderate dysmenorrhea . 9%), had a normal age at menarche of 12Ae14 years . 4%), had undernutrition . 2%), and frequently consumed junk food . 7%). Bivariate analysis revealed significant associations between dysmenorrhea and age at menarche . = 0. nutritional status . < 0. , and junk food consumption . < 0. Conclusion: There is a significant relationship between age at menarche, nutritional status, and junk food consumption with the severity of dysmenorrhea. These findings highlight the need for early health education targeting adolescent girls to promote balanced nutrition and healthy eating patterns as preventive measures for dysmenorrhea. Keywords: age at menarche, dysmenorrhea, junk food consumption, nutritional status PENDAHULUAN Dismenorea merupakan keluhan ginekologis akibat ketidakseimbangan hormon progesteron dalam darah sehingga mengakibatkan timbulnya rasa nyeri yang terjadi saat haid dan menyebabkan kram di bagian bawah perut, nyeri selangkangan, nyeri pungung, nyeri pinggang dan nyeri paha yang terjadi sesaat sebelum dan/atau selama periode Lestari et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 4: . p: 54-61 ISSN 2809-6541 menstruasi (Budi Prayitno, 2. Prevalensi dismenorea di dunia dengan kejadian sebesar 425 jiwa . %) wanita yang mengalami dismenorea, 10-15% diantaranya mengalami dismenorea berat (Nurwana et al. , 2. Prevalensi dismenorea di Indonesia sebesar 107. ,25%), yang terdiri dari 59. 671 jiwa . ,89%) mengalami dismenorea primer dan 9. ,36%) mengalami dismenorea sekunder (Nuriya Sari, 2. , dijawa tengah 1. jiwa (Elsera et al. , 2. Hasil penelitain yang pernah di lakukan teridentifikasi dismenorea terjadi pada 73,7% pada siswi MTs Medan (Mouliza, 2. 87,6% siswi SMA Makasar (Pratiwi, 2. dan 61,7% pada mahasiswi farmasi (Pundati. Tia Martha. Colti Sistiarani, 2. Penyebab terjadinya dismenorea adalah ketidakseimbangan hormon dalam tubuh, salah satunya prostaglandin. Kadar prostaglandin yang meningkat akan merangsang peningkatan frekuensi serta amplitudo kontraksi otot polos uterus, yang kemudian menyebabkan timbulnya nyeri haid . (Husaidah, 2. Selain ketidaksimbangan hormon, dari beberapa studi menyebutkan terdapat faktor risiko lain yang menyebabkan timbulnya dismenorea, antara lain faktor yang memengaruhi terjadinya dismenorea yakni faktor psikis. Indeks massa tubuh (IMT), riwayat keluarga, olahraga, usia menarche, siklus menstruasi, mengkonsumsi alkohol, dan pengaruh hormon prostaglandin yang dapat dilihat dengan kadar malondialdehide dalam tubuh (Irianti, 2. Perokok dan penggunaan alkohol juga berhubungan dengan terjadinya dismenorea, cemas, stres, depresi (Gunawati and Nisman, 2. , aktivitas fisik, durasi menstruasi (Putri et al. , 2. , konsumsi makanan berlemak dan konsumsi kafein (Mesele et al. , 2. , konsumsi gula berlebih dan volume darah saat menstruasi (Muluneh et al. , 2. , stress (Jeon et al. , 2. Nulipara . elum pernah melahirkan ana. , kegemukan, dan penderita darah rendah atau anemia (Sari, 2. Dampak Dismenorea sejumlah besar remaja perempuan diantaranya pada aspek sosial, akademik, dan bahkan psikologis kehidupan, rasa nyaman terganggu, aktifitas menurun, pola tidur terganggu, selera makan terganggu, hubungan interpersonal terganggu, kesulitan berkonsentrasi pada pekerjaan dan dapat memicu depresi (Putri et al. Kegagalan dalam mengatasi permasalahan dismenorea ini dapat menyebabkan beban sosial dan keuangan bagi keluarga, tetangga, masyarakat, dan dunia pada umumnya (Molla et al. , 2. Selain itu remaja putri yang mengalami dismenorea saat menstruasi dapat menimbulkan gangguan aktivitas seperti tingginya tingkat absen dari sekolah, keterbatasan kehidupan sosial, performa akademik, serta aktivitas olahraganya dan bahkan secara psikologi penderita dismenorhea sering mengalami mudah marah, cepat tersinggung, tidak dapat konsentrasi, sulit tidur, lelah, dan merasa depresi, di sekolah juga mengalami perubahan emosi dengan terjadinya sifat sensitif terhadap perkataan guru maupun teman (Silaban et al. , 2. Penelitian Ameade et al. dismenorea saat menstruasi ini memengaruhi aktivitas sehari- hari hingga 61,2% dari responden. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Syderman et al. terhadap 1580 wanita yang mengalami kelelahan 83%, sakit kepala 82%, dyschezia 37% dan disuria sebesar 35%. Dalam penelitiannya juga dilaporkan bahwa 59% menahan diri dari aktivitas sosial karena dismenorea, serta ketidakhadiran di sekolah terjadi 14% setiap bulan dan 45% terjadi beberapa kali dalam satu tahun. Dismenorea atau nyeri haid merupakan kondisi yang wajar, akan tetapi kadang rasa nyeri yang ditimbulkan bisa sangat Oleh karena itu diperlukan perawatan untuk membantu meredakannya, upaya yang dapat dilakukan diantaranya adalah beristirahat, menghindari makanan yang mengandung garam dan kafein, menghindari Khoerunissa et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 4: . p ISSN 2809-6541 tembakau dan alkohol, melakukan pijat pada perut dan punggung bagian bawah, mengonsumsi suplemen makanan, mengendalikan stres, melakukan akupunktur atau akupresur. Berolahraga secara rutin juga dinilai mampu untuk mengurangi nyeri haid. Apabila langkah-langkah diatas tidak cukup membantu maka dianjurkan untuk menemui dokter (Kementerian Kesehatan Direktorat Jendral Pelayanan Kesehatan 2. Mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya dismenorea menjadi penting sebagai salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri dismenorea termasuk perubahan gaya hidup, seperti pola makan yang sehat dan olahraga teratur, penggunaan obat-obatan yang diresepkan oleh profesional kesehatan, serta metode alternatif seperti terapi fisik atau terapi panas dingin. Yanti et al. , memberikan kegiatan penyuluhan tentang pengetahuan dan pemahaman yang ilmiah, akurat dan dapat dipercaya akan dapat membantu remaja putri untuk mengerti dan paham dismenorea serta tata cara mengatasinya dismenorea (Rahmawati, 2. dan memberikan edukasi tentang dismenorea pada remaja sehingga dapat mengidentifikasi masalah kesehatan reproduksi yang berkaitan dengan dismenorea dan mengatasi keluhan dismenorea dengan tepat sehingga dapat mengurangi ketidaknyamanan selama menstruasi (Putri et al. , 2. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi deskriptif dan rancangan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI di SMA Negeri 10 Semarang, dengan jumlah sampel sebanyak 58 responden yang diperoleh berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan perangkat lunak SPSS, sedangkan analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komisi Bioetik dengan nomor: 382/IX/2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi deskriptif dan rancangan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI di SMA Negeri 10 Semarang, dengan jumlah sampel sebanyak 58 responden yang diperoleh berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan perangkat lunak SPSS, sedangkan analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komisi Bioetik dengan nomor: 382/IX/2024. HASIL Dismenorea Variable Pengetahuan Dismenorea Ringan Dismenorea Sedang Dismenorea Berat Total Sumber : Teheran et al 2018 Tabel 1. Distribusi Frekuensi Dismenorea Frekuensi . Presentase (%) 27,6% 37,9% 34,5% Berdasarkan Tabel 1. Distribusi Frekuensi Dismenorea menunjukkan bahwa dari 58 responden 37,9% mengalami dismenorea sedang dan 27,6% responden mengalami Khoerunissa et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 4: . p ISSN 2809-6541 dismenorea ringan Sikap Variable Sikap Dini < 8 tahun Normal 8-14 tahun Lambat >15 tahun Total Sumber: WHO 2022 Tabel 2. Distribusi Frekuensi Usia Menarche Frekuensi . Presentase (%) 32,8% 41,4% 25,9% 100,0 % Berdasarkan Tabel 2. Distribusi frekuensi usia menarche menunjukkan bahwa dari 58 responden 41,4% dengan usia menarche normal dan 25,9% dengan usia menarche Lambat. Status Gizi Tabel 3. Distribusi Frekuensi Status Gizi Variable Tindakan Frekuensi . Presentase (%) Gizi Kurang 36,2% Gizi Normal 34,5% Gizi Lebih 29,3% Total Sumber :Kementerian Kesehatan 2020 Berdasarkan Tabel 3. Distribusi frekuensi status gizi menunjukkan bahwa 58 responden 36,2% dengan status gizi kurang dan 29,3% status gizi lebih. Konsumsi Junk food Tabel 4. Distribusi Frekuensi konsumsi junk food Variable Tindakan Frekuensi . Presentase (%) 34,5 % Sangat sering 39,7 % Sering 25,9% Jarang Total Sumber : Bohara 2021 Berdasarkan Tabel 4. Distribusi frekuensi konsumsi junk food menunjukan bahwa dari 58 responden kategori mengkonsumsi junk food yang sering sebesar 39,7% dan yang jarang mengkonsumsi junk food sebesalr 25,9%. Hubungan Usia menarche dengan Dismenorea Tabel 5. Hubungan Usia Menarche dengan Dismenorea Dismenorea Khoerunissa et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 4: . p ISSN 2809-6541 Usia Menarche Dini Normal Lambat Dismenorea ,1%) Dismenorea Sedang . ,5%) Dismenorea Berat ,0%) ,1%) ,2%) ,2%) ,1%) ,9%) ,4%) p-value Sumber: Data Primer 2024 Berdasarkan Tabel 5. diketahui 18,9% usia menarche normal mengalami Dismenorea Hasil analisis diperoleh p-value 0,002 (< 0,. sehinggal Hal diterima dan H0 ditolak yang bermakna bahwa ada hubungan yang signifikan antara usia menarche dengan Hubungan dengan Dismenorea dengan Status Gizi Tabel 6. Hubungan Usia Menarche dengan Dismenorea Status Gizi Dismenorea Dismenorea Dismenorea Sedang Dismenorea Berat Ringan Gizi Kurang . ,1%) . ,8%) . ,1%) Gizi Normal ,4%) ,4%) ,6%) Gizi Lebih . ,9%) . ,6%) . ,7%) Sumber: Data Primer 2024 p-value Berdasarkan Tabel 6. diketahui 24,1% usia status gizi kurang mengalami dismenorea Hasil analisis diperoleh p vallue 0,000 (< 0,. sehingga Ha diterima dan H0 ditolak yang bermakna bahwa ada hubungan yang signifikan antara status gizi dengan dismenorea. Hubungan Dismenorea dengan Konsumsi Junk food Konsumsi junk Tabel 7. Hubungan konsumsi junk food dengan Dismenorea p-value Dismenorea Dismenorea Ringan ,7%) ,1%) Dismenorea Sedang . ,1%) . ,3%) Dismenorea Berat ,5%) ,1%) ,6%) Sumber: Data Primer 2024 ,4%) ,7%) Salngalt Sering Sering Jalralng Berdasarkan Tabel 4. 7 diketahui 29,3 % konsumsi junk food yang sering mengalami Khoerunissa et al. Midwifery Health Sci. Sultan Agung. 4: . p ISSN 2809-6541 Dismenorea sedang. Hasil analisis diperoleh p-value 0,000 (< 0,. sehinggal Ha diterima dan H0 ditolak yang bermakna bahwa ada hubungan yang signifikan antara konsumsi junk food dengan SIMPULAN Hasil penelitian yang berjudul AuAnalisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Dismenorea pada Remaja Putri di SMA Negeri 10 Semarang. Kecamatan Genuk. Kota Semarang. Provinsi Jawa TengahAy menunjukkan bahwa dismenorea paling banyak ditemukan pada kategori sedang . ,9%). Mayoritas responden mengalami menarche pada usia normal . Ae14 tahun. 41,4%), memiliki status gizi kurang . ,2%), serta sering mengonsumsi junk food (Ou4 kali per minggu. 39,7%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia menarche, status gizi, dan frekuensi konsumsi junk food dengan tingkat dismenorea. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor biologis dan pola konsumsi makanan memiliki peran penting terhadap kejadian Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan preventif yang terarah, khususnya melalui edukasi gizi seimbang dan pembiasaan pola makan sehat sebagai bagian dari program kesehatan reproduksi remaja. DAFTAR PUSTAKA