Gamaproionukleus Mei 2021, 2. : 16-23 E-ISSN 2775-7560 Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Probing-Prompting Berbasis Active Learning Terhadap Hasil Belajar Fisika Pada Siswa Kelas X MIA SMA Negeri 1 Palu The Effect of Using Probing-Prompting Learning Model Based on Active Learning on Physics Learning Outcomes in Class X MIA Students of SMA Negeri 1 Palu Zulfikar Is Paudi SMA Negeri 1 Palu Sulawesi Tengah Jl. Gatot Subroto No 70 Palu-Sulawesi Tengah *E-mail : cindy_zulfikar@yahoo. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penggunaan model pembelajaran probing-prompting berbasis active learning terhadap hasil belajar fisika pada siswa kelas X MIA SMA Negeri 1 Palu. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen dengan desain The Non Equivalen Pretest-Posttest Design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X MIA SMA Negeri 1 Palu. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan sampel penelitian adalah kelas X MIA A berjumlah 28 siswa sebagai kelompok eksperimen dan kelas X MIA B berjumlah 28 siswa sebagai kelompok Intrumen hasil belajar fisika berupa tes pilihan ganda yang telah divalidkan melalui validitasi. Tes hasil belajar fisika yang diperoleh menunjuhkan bahwa nilai rata-rata kelompok eksperimen 79 dengan standar deviasi 3,23. Pada kelas kontrol diperoleh nilai rata-rata 61,3 dengan standar deviasi 3,51. Uji hipotesis Uji-t . ua piha. , diperoleh thitung = 4,84 dan t. = 2,004 pada taraf nyata = 0,05. Ini berarti bahwa nilai thitung berada pada daerah penolakan H0. Sehingga dapat disimpulkan yaitu adanya pengaruh model pembelajaran probing-prompting berbasis active learning terhadap hasil belajar fisika pada siswa kelas X MIA SMA Negeri 1 Palu. Kata kunci: Model Pembelajaran. Probing-Prompting. Active Learning. Hasil Belajar. Fisika Abstract This study aims to determine whether there is an effect of using a probingprompting learning model based on active learning on physics learning outcomes in class X MIA SMA Negeri 1 Palu. This type of research is a quasi-experimental study with the design of The Non Equivalent PretestPosttest Design. The population of this study were all students of class X MIA SMA Negeri 1 Palu. The sampling technique used in this study was purposive sampling, with the research sample being class X MIA A totaling 28 students as the experimental group and class X MIA B totaling 28 DOI : 10. 37304/jpmipa. Gamaproionukleus Mei 2021, 2. : 16-23 E-ISSN 2775-7560 students as the control group. The physics learning outcome instrument is in the form of a multiple choice test that has been validated through validation. The physics learning outcome test obtained shows that the mean value of the experimental group is 79 with a standard deviation of 3. In the control class, an average value of 61. 3 with a standard deviation of 3. 51 was Hypothesis test t-test . wo partie. , obtained t = 4. 84 and t . = 2. 004 at the real level = 0. This means that the value of t is in the rejection area of H0. So it can be concluded that there is an effect of the active learning-based probing-prompting learning model on physics learning outcomes in class X MIA SMA Negeri 1 Palu. Keywords: Learning Models. Probing-Prompting. Active Learning. Learning Outcomes. Physics PENDAHULUAN Secara umum ada dua faktor yang mempengaruhi dalam proses belajar siswa, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang datangnya dari dalam diri siswa. Faktor tersebut antara lain faktor fisiologis . esehatan dan keadaan tubu. , psikologis minat, bakat, intelegensi, emosi, kelelahan, dan cara belajar. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang datangnya dari luar diri siswa. Faktor tersebut antara lain lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, dan lingkungan alam. Pembelajaran fisika bertujuan untuk mengantarkan siswa memahami konsep-konsep dasar fisika dengan tepat sesuai dengan pandangan para ahli, serta dapat menggunakan konsep tersebut ketika memecahkan masalah fisika yang relevan. Rendahnya kualitas pembelajaran menyebabkan keterampilan proses siswa yang . meliputi memprediksi, mengukur, mengklasifikasi, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan relatif masih rendah, karena siswa kurang diberi kesempatan untuk menemukan konsep materi fisika sendiri. Sebagai dampak dari lemahnya penerimaan konsep tersebut, menjadikan siswa berasumsi bahwa mata pelajaran fisika adalah mata pelajaran yang sangat sulit, rumit, dan banyak rumus sehingga membuat mereka tidak menyukai pelajaran fisika. Hal-hal tersebutlah yang memungkinkan sebagai penyebab hasil belajar fisika siswa rendah. Berdasarkan fakta dilapangan, menunjukan bahwa pembelajaran fisika masih berpusat pada guru, atau masih menggunakan pembelajaran konvensional sehingga berpengaruh terhadap hasi belajar. Dalam model ini, guru cenderung sebagai pusat lainnya. Sehingga kondisi tersebut tidak menumbuh kembangkan aspek kemampuan dan aktifitas siswa yang diharapkan, informasi siswa yang hanya mengandalkan buku cetak saja tanpa menggunakan media pembelajaran bahkan dapat berakibat membosankan pada diri siswa untuk menerima pelajaran. Siswa hanya dianggap sebagai pendengar saja tanpa melibatkan mereka dalam Kondisi ini akan berdampak pada keaktifan dan motivasi siswa dalam proses belajar mengajar bahkan mengakibatkan rendahnya hasil belajar. Proses pembelajaran haruslah diperhatikan bukan hanya DOI : 10. 37304/jpmipa. Gamaproionukleus Mei 2021, 2. : 16-23 E-ISSN 2775-7560 tentang media pembelajaran apa yang digunakan oleh guru namun, penentuan model pembelajaran apa yang di gunakan oleh guru sangat menunjang keberhasilan suatu proses pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran yang baik akan memberikan kemudahan serta hasil yang baik pula dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Dari hasil observasi guru juga mengatakan bahwa hasil belajar siswa sangat kurang pada mata pelajaran fisika meskipun fisika adalah mata pelajaran umum namun pembelajaran fisika juga sangat berpengaruh pada mata pelajaran kejuruan sehingga boleh dikatakan pembelajaran fisika dan hasil belajar pada mata pelajaran fisika juga sangat penting. Dalam pembelajaran fisika dibutuhkan suatu pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada guru saja . eacher centere. , melainkan harus berpusat pada siswa . tudent centere. Student-centered learning (SCL) merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai pusat kegiatan pembelajaran. Pada pembelajaran yang berpusat pada siswa akan terjadi interaksi antara siswa dengan guru dan antar siswa. Sehingga pembelajaran fisika tidak hanya berupa produk fisika melainkan mengarah pada proses fisika. Dalam kondisi ini faktor kompetensi guru sangat dituntut, dalam arti guru harus mampu mengemas pembelajaran yang lebih menarik dan disukai oleh siswa, khususnya dalam hal memilih model dan teknik pembelajaran yang memenuhi student centered learning yang sesuai pembelajaran fisika. Adapun cara yang ditempuh untuk mengatasi permasalahanpermasalahan di atas adalah dengan melakukan inovasi dalam pembelajaran. Salah satu pendekatan pembelajaran inovatif yang dapat di terapkan dalam pembelajaran fisika untuk mengembangkan hasil belajar fisika siswa adalah menggunakan model probing-prompting berbasis active learning. Bahwa probing-prompting berbasis active learning sifatnya menuntun dan menggali pengetahuan siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari dan metode pembelajaran aktif sangat menyenangkan karena menuntut siswa aktif dan membuat siswa berpikir cepat dalam menyelesaikan masalah, melatih rasa percaya diri, melatih tanggung jawab dan jiwa kepemimpinan, dan pelajarannya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari . Penelitian yang relevan pernah dilakukan oleh Maryam . teknik probing-prompting dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas IID SMP Negeri 3 Palu. Hal ini berdasarkan hasil tes pada siklus I diperoleh murid yang tuntas secara individu sebanyak 27 orang dan 12 orang yang belum tuntas. Ketuntasan klasikal yang di peroleh sebesar 69,2%. Pada siklus II, siswa yang tuntas individu sebanyak 36 orang dari 39 orang siswa, sedangkan tuntas klasikal mencapai 92%. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penggunaan model pembelajaran probing-prompting berbasis active learning terhadap hasil belajar fisika pada siswa kelas X MIA SMA Negeri 1 Palu. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai bahan masukan dalam upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar fisika, diharapkan dapat menjadi pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah yang dipelajari sehingga meningkatkan motivasi dan hasil belajar, dan dapat memberikan informasi dan kajian dalam pengembangan model pembelajaran yang tepat untuk pembelajaran siswa di DOI : 10. 37304/jpmipa. Gamaproionukleus Mei 2021, 2. : 16-23 E-ISSN 2775-7560 BAHAN DAN METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen. Desain penelitian ini menggunakan AuThe Non Equivalen Pretest-Posttest DesignAy atau rancangan Pratest-Pascatest yang tidak ekuivalen, yaitu menggunakan kelas-kelas yang sudah ada sebagai kelompoknya, dengan memilih kelaskelas yang sudah ada di perkirakan sama keadaan/kondisinya. Tabel 1. Desain Penelitian Kelas A (Ekperime. B (Kontro. Tes Awal Pelakuan Tes Akhir Sugiyono. Keterangan : X : Perlakuan dengan model pembelajaran probing prompting berbasis active learning O : Tes awal dan tes akhir Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Palu pada tahun ajaran 2019/2020 semester genap. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X MIA SMA Negeri 1 Palu tahun ajaran 2019-2020 yang berjumlah 2 kelas, dan cara penarikan sampel dalam penelitian ini adalah teknik penarikan sampel secara purposive sampling. Instrument yang digunakan pada penelitian ini divalidkan oleh validator yang kemudian diujikan dengan menggunakan validitas item tes. Hasil validasi item tes, jumlah soal yang diuji cobakan ada 40 butir soal, soal yang diterima sebanyak 23 butir soal, 2 butir soal direvisi, dan 15 butir soal ditolak karena tidak memenuhi kriteria. Data yang dikumpulkan dari hasil penelitian ini selanjutnya diolah dengan menggunakan teknik analisis statistik yaitu uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak. Uji homogenitas varians digunakan untuk mengetahui apakah varians antara pretest dan post-test sama atau berbeda, dan uji hipotesis digunakan untuk melihat apakah hipotesis yang telah dirumuskan didukung oleh data yang telah dikumpulkan. HASIL dan PEMBAHASAN Hasil Penelitian Uji Normalitas Adapun data hasil perhitungan disajikan pada Tabel 2: Tabel 2. Normalitas Distribusi Tes Akhir dan Tes Akhir pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Uraian Sampel DOI : 10. 37304/jpmipa. Postest Eksperimen 4,39 7,81 Kontrol 6,53 7,81 Gamaproionukleus Mei 2021, 2. : 16-23 E-ISSN 2775-7560 Berdasarkan Tabel 2 dengan menggunakan uji Chi-Kuadrat dengan kriteria penerimaan , dimana untuk nilai X2hitung kelas eksperimen maupun kelas kontrol lebih kecil dari pada nilai X2tabel . Artinya, hasil ini menunjukan bahwa data pretest dan posttest kelas eksperimen maupun kelas kontrol distribusi normal. Uji Homogenitas Data hasil pengujian statistik dapat dilihat pada Tabel 3: Tabel 3. Hasil Uji Homogenitas Postest Kelas Eksperimen Dan Kelas Kontrol Uraian Nilai Varians Postest Eksperimen Kontrol 10,43 12,29 Keputuasan 1,18 2,66 Homogen Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa nilai lebih kecil dari nilai maka berdasarkan kriteria pengambilan keputusan dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan varians antara kelas eksperiman dan kelas kontrol atau dengan kata lain varians antara kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama atau homogen. Uji Hipotesis (Uji-. Data hasil pengujian statistik dapat dilihat pada Tabel 4: Tabel 4. Uji-T Pada Tes Akhir (Posttes. Uraian Tes Akhir (Posttes. ( = 0,. Keputusan 4,84 2,00488 H0 ditolak Berdasarkan data Tabel 4 diketahui thitung ttabel atau 4,84 2,00488. hal ini menunjukan bahwa nilai thitung berada pada daerah penolakan H0, dengan demikian maka H1 deterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada Pengaruh Model Pembelajaran Probing-Prompting Berbasis Active Learning Terhadap Hasil Belajar Pada Siswa Kelas X MIA SMA Negeri 1 Palu. Pembahasan Penelitian ini menggunakan dua sampel yaitu kelas X MIA A sebagai kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran Probing-Prompting Berbasis Active Learning dan kelas X MIA B sebagai kelas kontrol menggunakan model pembelajaran direct instruction (DI). Setelah kedua kelas diberikan perlakuan, selanjutnya kelas eksperimen dan kelas kontrol diberi tes akhir . Berdasrkan analisis kuantitatif kemampuan tes akhir siswa diperoleh nilai rata-rata untuk kelas eksperimen yaitu 79 dan 61,3 untuk kelas kontrol. Untuk kelas eksperimen, nilai yang diperoleh telah mencapai standar nilai KKM yaitu 75%. Sedangkan pada kelas kontrol belum mencapai standar KKM. Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa nilai yang diperoleh pada kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Hal ini menunjukan bahwa menggunakan model pembelajaran Probing-Prompting Berbasis Active Learning lebih DOI : 10. 37304/jpmipa. Gamaproionukleus Mei 2021, 2. : 16-23 E-ISSN 2775-7560 berpengaruh dari pada menggunakan model pembelajaran Direct Intruction (DI) pada siswa kelas X MIA SMA Negeri 1 Palu. Berdasarkan data hasil penelitian, nilai rata-rata yang diperoleh kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran Probing-Prompting Berbasis Active Learning lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Untuk kelas eksperimen Nilai rata-rata yang diperoleh telah mencapai KKM yaitu 79, sedangkan untuk kelas kontrol berada dibawah KKM yaitu 61,3. Selama pengamatan yang telah dilakukan, siswa yang berada pada kelas eksperimen lebih semangat mengikuti pembelajaran dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini dikarenakan model pembelajaran yang digunakan pada kelas eksperimen lebih menyenangkan yang disertai dengan pertanyaan yang menuntun, hal tersebut dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran sampai akhir. Sedangkan pada kelas kontrol, pembelajarannya sangat monoton, guru lebih aktif dari pada siswa, sehingga ketika siswa disuruh untuk mengerjakan dipapan tulis, siswa akan merasa kurang percaya diri dan pasif dalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung. Ketercapaian yang diperoleh pada hasil observasi sudah baik, namun ada beberapa kekurangan dari metode yang ditemukan diakhir proses pembelajaran terutama pada tahap evaluasi yaitu ada sebagian siswa yang bergantung pada jawaban teman. Hal ini berdampak pada hasil hasil analisis belajar siswa yang masih banyak belum mencapai KKM. Meskipun nilai rata-rata yang diperoleh siswa yaitu 79, tapi siswa yang tuntas hanya berjumlah 17 orang siswa dari 28 orang siswa, nilai KKM hanya 60,71%. Dari 11 orang yang belum tuntas itu, hanya ada 7 orang yang masih sangat kurang dari nilai KKM, 4 orang lainnya sudah mendekati nilai KKM. Pada kelas eksperimen penelitian memberikan model pembelajaran Probing-Prompting Berbasis Active Learning. Pada pembelajaran ini siswa dituntut untuk lebih aktif sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilotator yang membantu siswa jika mendapat kesulitan saat pembelajaran Dalam model pembelajaran ini guru menghadapkan siswa pada pertanyaan dan kemudian siswa diberikan waktu untuk melakukan diskusi kecil, setelah siswa sudah siap maka guru meminta siswa untuk menjawab secara acak, jika siswa menjawab dengan tepat maka guru meminta tanggapan siswa lain tentang jawaban tersebut. Namun jika siswa tersebut memberikan jawaban kurang tepat, tidak tepat, atau diam, maka guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut siswa berpikir aktif sampai dapat menjawab pertanyaan. Maka dari itu model pembelajaran Probing-Prompting Berbasis Active Learning merupakan model pembelajaran menggali dan menuntut siswa lebih aktif, berpikir cepat, melatih rasa percaya diri dan rasa tanggung jawab. Sedangkan pada kelas kontrol peneliti menggunakan model Direct Intruction (DI). Guru lebih aktif memberikan pengetahuan, sementara siswa hanya menerima. Kebanyakan siswa akan merasa kurang percaya diri untuk bertanya ataupun mengemukakan pendapatnya. Apabila terus berlanjut maka cara berpikir siswa pun hanya terbatas pada apa yang guru sampaikan selama proses pembelajaran berlangsung. Suasana belajar yang seperti ini cenderung monoton sehingga siswa menjadi bosan, tidak termotivasi dalam belajar dan tidak dapat mengembangkan wawasannya didalam kelas. Hal inilah yang menyebabkan hasil belajar siswa masih rendah pada kelas DOI : 10. 37304/jpmipa. Gamaproionukleus Mei 2021, 2. : 16-23 E-ISSN 2775-7560 Berdasarkan data di atas, hasil analisis posttest menunjukan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran probing-prompting berbasis active learning terhadap hasil belajar siswa kelas X MIA SMA Negeri 1 palu. Kelebihan model pembelajaran probing-prompting berbasis active learning didalam kelas dapat membantu siswa untuk bisa berpikir aktif, sehingga diharapkan melatih siswa meningkatkan kemampuan dalam belajar mandiri. Serta siswa jadi percaya diri dalam mengemukakan pendapat. Dengan model pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar fisika. Hal ini sesuai dengan penelitian Astuti . mengemukakan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran probing-prompting berbasis active learning terbukti mengalami peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Kelemahan model pembelajaran probing-prompting berbasis active learning didalam kelas waktu yang digunakan untuk diskusi sehingga materi yang disampaikan lebih sedikit. SIMPULAN Berdasarkan hasil data penelitian dapat disimpulkan yaitu adanya pengaruh hasil belajar fisika antara siswa yang mengikuti Model pembelajaran Probing-Prompting Berbasis Active Learning dengan siswa yang mengikuti Model pembelajaran Direct Intruction pada siswa kelas X MIA SMA Negeri 1 Palu. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh selama melakukan pembelajaran, maka penulis menyarankan : Kepada guru bidang studi fisika agar dapat menerapkan Model Pembelajaran Probing-Prompting Berbasis Active Learning pada materi-materi fisika untuk meningkatkan hasil belajar fisika. Bagi sekolah. Model Pembelajaran Probing-Prompting Berbasis Active Learning agar dapat dijadikan alternative pembelajaran di sekolah untuk mata pelajaran lainnya. Model Pembelajaran Probing-Prompting Berbasis Active Learning membutuhkan waktu yang cukup lama dalam pembelajaran, sebaiknya peneliti dapat memperhitungkan waktu di setiap fase pembelajaran agar lebih efesien, karena waktu menjadi kendala dalam proses REFERENSI