Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-932 KONSEP PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PERENCANAAN DESA WISATA NGLANGGERAN Neni Widaningsih1, Rizkya Tri Dona2, Rafli Triyana3, Kalih Dzikraa Widagdo4, Fitri Rahmafitria5, Armandha Redo Pratama6 Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Dr. Setiabudi No.229, Kota Bandung, Jawa Barat Email Korespondensi: neni.w30@upi.edu ABSTRAK Desa Wisata dengan konsep Community Based Tourism menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama baik dari proses perencanaan sampai pengelolaan. Dalam hal ini masyarakat diharapkan dapat turut andil dan mengalami peningkatan kesejahteraan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu bagaimana Masyarakat Lokal dapat membangun konsep pemberdayaan Masyarakat serta menganalisis dampaknya bagi kesejahteraan Masyarakat. Objek dalam penelitian ini adalah Masyarakat lokal Desa Wisata Nglanggeran.Variabel yang diteliti meliputi penyelenggaraan wisata, persepsi dampak dari aspek ekonomi, lingkungan, sosial dan budaya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan survei berbasis kuesioner terhadap 40 responden dan pendekatan kualitatif dilakukan dengan wawancara kepada 2 responden. Hasil penelitian ini menunjukan konsep pemberdayaan Masyarakat melalui POKDARWIS dan penerapan Teori Actors menghasilkan partisipasi Masyarakat yang baik juga dapat memajukan kehidupan Masyarakat lokal Desa Nglanggeran serta menjadi pendorong positif dalam keberlanjutan desa wisata. Kata Kunci: Persepsi Masyarakat; Perencanaan Wisata; Pemberdayaan Masyarakat; Desa Wisata Nglanggeran ABSTRACT A Tourism Village with the concept of Community-Based Tourism places the community as the main actor from the planning process to management. In this regard, the community is expected to participate and experience an improvement in welfare. This research aims to find out how the local community can build the concept of community empowerment and analyze its impact on community welfare. The object of this research is the local community of Nglanggeran Tourism Village. The variables studied include tourism management, perception of impacts from economic, environmental, social, and cultural aspects. The research method used is a mixed method. The quantitative approach is conducted with a questionnaire-based survey of 40 respondents, and the qualitative approach is conducted with interviews with 2 respondents. The results of this study indicate that the concept of community empowerment through POKDARWIS and the application of Actor Theory results in good community participation, also advancing the local community's life in Nglanggeran Village and serving as a positive driver for the sustainability of the tourism village. Keywords: Community Perception; Tourism Planning; Community Empowerment; Nglanggeran Tourism Village 56 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-932 PENDAHULUAN Desa Wisata merupakan masyarakat yang tergabung dibawah sebuah pengelolaan yang memiliki kesadaran, mempunyai keterampilan khusus, dan ikut memberdayakan potensi pariwisata yang ada di desa mereka (Wonosari Pegandon, 2022). Desa wisata menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, sehingga dalam perkembangannya, desa wisata tidak akan terlepas dari kelompok sadar wisata yang melakukan pemberdayaan Masyarakat (F., 2015). Dengan adanya peningkatan wisatawan yang berkunjung pada Desa Wisata diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat lokal serta kesejahteraan masyarakat dan melestarikan alam juga budaya tradisional (Nurrahman, 2018). Menurut Sunaryo (2013), pengembangan Desa Wisata yang berbasis masyarakat (Community Based Tourism atau CBT) adalah pelibatan masyarakat dengan kepastian ada manfaat yang diperoleh oleh mereka. Ada syarat yang harus dipenuhi dalam pengembangan konsep CBT yaitu; adanya akses, partisipasi, kontrol dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, politik dan lingkungan (Wahyuni, 2018). CBT menekankan bahwa partisipasi dan pelibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan harus dimulai sejak perencanaan, diikuti dengan andil dalam menajemen serta pengambilan keputusan (Wiwin, 2018) (SUDROS, 2018). Dalam buku Konsep Dasar Pengabdian Kepada Masyarakat: Pembangunan dan Pemberdayaan, dari Eko Sudarmanto dkk (2020:21), pemberdayaan masyarakat merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan martabat masyarakat kurang mampu dengan cara memotivasi juga mengembangkan potensi yang berasal dari Masyarakat itu sendiri. Teori Actors melihat masyarakat sebagai subyek yang dinilai dan dapat melakukan perubahan apabila adanya kendali serta mendapatkan kebebasan bertanggung jawab atas ide, keputusan serta tindakan yang dilakukan (Maarif, 2021). Pembangunan yang diarahkan ke perubahan struktur, pembangunan untuk pemberdayaan masyarakat dan pembangunan yang diarahkan dalam koordinasi lintas sektor, merupakan poin penting dalam pemberdayaan Masyarakat (Maani, 2011). Yogyakarta menjadi salah satu provinsi yang berhasil dalam pengembangan desa wisata (F., 2015). Daerah yang berada dibagian tengah selatan pulau Jawa ini memiliki luas sekitar 3.186 km2 dengan populasi penduduk 3.677 juta pada tahun 2021 (Humas Pemda DIY, 2021). Jumlah desa wisata yang dimiliki Yogyakarta pada berbagai elemen atau kategori mencapai 205 di tahun 2023 (Pariwisata, 2023). Desa wisata Nglanggeran yang terletak di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang meraih predikat Desa Wisata Terbaik Dunia 2021 dari United Nation World Tourism Organization (UNWTO) (Kustiani, 2021) dan juga Memenangkan Sustainable Tourism Award sebagai Desa Wisata terbaik ASEAN dengan kategori CBT (kemenparekraf, 2021). Struktur ekonomi masyarakat Desa Nglanggeran didominasi oleh mata pencaharian utama berupa pertanian, berkebun, dan peternakan. Oleh karena itu, kegiatan pariwisata di desa ini dianggap sebagai pekerjaan sampingan bagi sebagian besar penduduk. Kesadaran potensi wisata mendorong mereka untuk tetap memperhatikan kelestarian lingkungan Desa Nglanggeran. Sehingga dibentuk Kelompok Sadar Wisata Nglanggeran (POKDARWIS) guna mengelola pariwisata secara berkelanjutan dan dapat berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat lokal. Dengan Gunung Api Purba sebagai point of interest, Desa Wisata Nglanggeran mampu meningkatkan kesejahteraan Masyarakat lokal. Selain atraksi alam, Desa 57 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-932 Nglanggeran memiliki wisata buatan yaitu Embung yang merupakan sebuah penampungan air untuk Perkebunan (Kemenparekraf, 2022). Adanya pariwisata membuat masyarakat sadar dalam memperkuat perencanaan, pengelolaan serta pemberdayaan agar pariwisata di Desa Nglanggeran tetap bertahan dan maju. Dengan ini penulis mencari tahu bagaimana cara masyarakat dapat beradaptasi sehingga dapat memiliki andil dan kontribusi untuk menjadi bagian dari pelaku wisata . Serta untuk mengatahui apakah dalam konsep pemberdayaan Desa Nglanggeran sudah menerapkan Teori Actors. Harapan serta tujuan dari adanya penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui apa pendekatan dan strategi pemberdayaan yang dilakukan agar seluruh masyarakat dapat berpartisipasi dalam perencanaan pariwisata di Desa Nglanggeran. Dalam pengembangan pariwisata berbasis CBT, penelitian ini dapat memberikan solusi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pariwisata dengan memperhatikan faktorfaktor yang mempengaruhi partisipasi Masyarakat. Selain itu, penelitian ini juga dapat memberikan wawasan mengenai konsep CBT yang melibatkan komunitas lokal dalam perencanaan, manajemen, pengambilan keputusan, serta pemberdayaan masyarakat lokal. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan pariwisata dengan memberikan manfaat ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan yang berkelanjutan bagi komunitas lokal. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Desa Wisata Nglanggeran, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Yogyakarta. Lokasi ini telah dipilih sebagai objek penelitian dikarenakan merupakan desa wisata terbaik dengan penerapan konsep CBT-nya. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode penelitian campuran, yang merupakan pendekatan penelitian dengan menggabungkan atau mengasosiasikan bentuk kualitatif dan kuantitatif(Prof. Dr. Ir. Sasmoko, 2020). Penggunaan wawancara dan pembagian kuisioner sebagai instrument berasal dari modul praktikum Perencanaan Pariwisata lampiran 7. Hal ini untuk mengetahui persepsi Masyarakat lokal terhadap adanya pariwisata yang ada di Desa Nglanggeran. Seluruh variable diukur menggunakan kuisioner skala likert dengan skala 1 sampai dengan 5. Dimana skala 1 menjelaskan “sangat tidak setuju” lalu berlanjut hingga skala 5 menjelaskan “sangat setuju” terkait pernyataan yang sudah dicantumkan pada modul praktikum lampiran 7. Dalam proses pengambilan data kuisioner didistribusikan secara acak dibantu oleh pembimbing dari Desa Nglanggeran kepada 40 warga sekitar desa, serta Masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata atau sering disebut juga POKDARWIS. Kuisioner ini dibagikan dengan maksud tujuan untuk memperoleh data secara kuantitatif mengenai persepsi responden terhadap variable tertentu seperti terkait penyelenggaraan wisata dan dampak pariwisata. Selanjutnya Wawancara dilakukan kepada 2 responden yang di pilih secara purposive karena merupakan warga yang aktif dalam kegiatan pariwisata. Hal ini bertujuan untuk mencakup berbagai lapisan Masyarakat dengan berbagai kelompok mulai dari usia, jenis kelamin dan latar belakang baik secara sosial dan ekonomi. Wawancara yang dilakukan ini bertujuan untuk mendapatkan wawasan yang lebih mendalam mengenai topik yang diteliti. Data yang sudah didapatkan akan dicantum dalam bentuk table dan dijelaskan dalam bentuk deskriptif agar lebih mudah dipahami, terutama untuk penilaian kuisioner dengan responden yang lebih banyak dari responden wawancara. 58 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-932 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Desa Nglanggeran Secara Umum Sejak diresmikan menjadi Desa Wisata Terbaik dengan konsep Community Based Tourism oleh ASEAN di tahun 2017, Desa Wisata Nglanggeran menjadi salah satu desa wisata yang diminati oleh wisatawan. Di sisi lain sebelum Desa Nglanggeran mulai merintis kegiatan pariwisata, sebagian besar masyarakat lokal merasa potensi yang ada di daerah ini tidaklah menarik (Wahyuni, 2018). Terutama pada saat itu sumber daya alam yang dimiliki Gunung Api Purba digunakan oleh masyarakat lokal untuk mencari nafkah dengan menjual batuan dan batang pohon yang ditebang. Dari fenomena tersebut organisasi Karang Taruna melihat adanya bahaya kerusakan alam sehingga mengambil inisiatif untuk melakukan penggalian ide terkait potensi apa yang bisa di kembangkan. Maka dari situ Pemerintah Desa Nglanggeran mempercayakan Karang Taruna untuk melakukan pengelolaan lahan Gunung Api Purba yang di cetus dalam SK Kepala Desa Nglanggeran No. 05/KTPS/1999 per tanggal 12 Mei 1999. Secara tidak langsung berdasarkan pendekatan pemberdayaan, POKDARWIS Nglanggeran mendapatkan tanggung jawab dalam hal pengambilan keputusan yang harus mendasar pada sumber daya pribadi, langsung, dan demokratis (Noor, 2011). Dalam pelaksanaan konsep Community Based Tourism diperlukan adanya pemberdayaan masyarakat sebagai upaya peningkatan martabat lapisan masyarakat bawah dengan segala keterbatasannya (Noor, 2011). Pemberdayaan merupakan bagian dari konsep pembangunan ekonomi yang bersifat people-centered, participatory, empowerment and sustainable (Chambers, 2006). Sehingga konsep pemberdayaan ini dilaksanakan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan standar, melainkan lebih kepada mencari alternatif pertumbuhan akan ekonomi lokal. Menurut Friedmann dalam (Noor, 2011), kerangka pemberdayaan masyarakat dapat dikaji dengan 3 (tiga) aspek : 1) Enabling, yaitu memberikan suasana yang kondusif sehingga masyarakat dapat berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing sehingga tidak ada masyarakat yang tidak memiliki daya 2) Empowering, merupakan suatu usaha yang nyata untuk memperkuat potensi masyarakat. 3) Protecting, yaitu membela serta melindungi kepentingan masyarakat, sehingga dapat terdorong untuk terus berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. Desa Wisata Nglanggeran masih memiliki keterikatan erat pada nilai-nilai budaya nenek moyang. Membuktikan adanya keberlanjutan kearifan lokal melalui praktik gotong royong, kerja bakti, dan upacara syukuran. Desa Nglanggeran berusaha untuk tetap mewadahi tradisi melalui berbagai pergelaran seni tradisional di pendopo, dan pewarisan kesenian melalui kelompok seni. Hal ini menjadi elemen krusial dalam menjaga kekayaan budaya. Seperti yang dijelaskan oleh Bapak S yang telah di wawancara pada 20 November 2023, praktek gotong royong dicerminkan dalam pembangunan rumah mereka yang tidak memerlukan tukang untuk membangun tetapi dengan mengandalkan satu sama lain. Adapun acara Tayub yang diadakan tiap setahun sekali (wajib diadakan dan diperintah oleh juru kunci disana) dan dilakukan oleh para wanita dari masyarakat Desa Nglanggeran itu sendiri, sekarang acara tersebut juga menjadi salah satu tarian yang ditampilkan kepada wisatawan. Pengembangan dan perencanaan pariwisata di Desa Nglanggeran sudah berhasil berfokus kepada masyarakat lokal terutama dalam kesadaran mereka terhadap hadirnya pariwisata. Hal ini disebabkan karena pengelola sering melakukan penyuluhan atau 59 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-932 sosialisasi mengenai pariwisata sehingga persepsi dan partisipasi Masyarakat dapat meningkat (Anggi Ratna Juwita, 2017). Kegiatan pariwisata di Desa Nglanggeran telah membuktikan bahwa daya saing ekonomi dapat ditingkatkan tanpa mengorbankan keseimbangan dan kerukunan antarwarga. Dengan meningkatnya ekonomi khususnya dari Homestay (mendapatkan pendapatan tertinggi) memberikan dampak yang sangat signifikan kepada masyarakat (menurut penuturan narasumber yang diwawancara pada 20 November 2023). Masyarakat dipersiapkan sebagai pelaku wisata melalui berbagai pelatihan, termasuk Bahasa Asing, Search and Rescue (SAR), dan kewirausahaan, menegaskan keseriusan dalam pengelolaan sektor pariwisata. Terdapat pula beberapa komunitas yang dibentuk seperti griya cokelat yang beranggotakan ibu-ibu PLTN atau komunitas karawitan yang bermula dari anak-anak, atau kelompok PKK yang merupakan ibu-ibu pengurus katering juga lainnya. Dengan memberikan pelatihan dan melibatkan Masyarakat dalam komunitas tertentu maka pengelola telah memenuhi indikator prinsip dari CBT yaitu mengakui, mendukung dan mengembangkan kepemilikan komunitas dalam industry pariwisata (Rahmafitria, 2018). Pada awal menjadi Desa Wisata ada beberapa waktu dimana perilaku wisatawan tidak sejalan dengan tatanan nilai dan norma yang ada sehingga pengelola berupaya untuk memberikan pemahaman mengenai karakter wisatawan. Maka dimasa depan pengelola berharap agar Masyarakat dapat beradaptasi dengan setiap wisatawan yang datang dari berbagai kawasan. Namun sayangnya Desa Nglanggeran belum benar-benar memberdayakan seluruh lapisan masyarakat lokal untuk berpartisipasi dalam kegiatan pariwisata, hanya Masyarakat yang tergabung dalam komunitas tertentu yang terikat kemitraan dengan POKDARWIS. Sehingga beberapa masyarakat memutuskan untuk tetap bekerja sebagai petani dan peternak. Konsep pemberdayaan Masyarakat Desa Nglanggeran diaplikasikan melalui POKDARIWS dimana seluruh anggotanya merupakan warga asli di Desa ini. Didalamnya terdapat beberapa komunitas seperti Karang Taruna, Ibu-ibu PKK, Komunitas Seni, dan komunitas pekerja tani yang nantinya komunitas ini akan diberdayakan pada kegiatan pariwisata di Desa Nglanggeran. Peran dan persepsi aktor dalam pemberdayaan Masyarakat di Desa Nglanggeran Pemberdayaan masyarakat lokal melalui POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata) merupakan strategi penting dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. POKDARWIS bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh kelompok sadar wisata, sehingga masyarakat mampu ikut menentukan jenis dan tingkat pemberdayaan secara tepat (Laraswati, 2020). Pengembangan budaya lokal melalui POKDARWIS dapat meningkatkan kesejahteraan stakeholder yang terlibat dan menjadi faktor penting dalam pengembangan budaya lokal (Ines Wulan Sari, 2021). Selain itu, POKDARWIS juga berperan dalam meningkatkan pendapatan serta meningkatkan partisipasi masyarakat, melestarikan lingkungan, dan memperkuat jaringan sosial di masyarakat lokal. Dalam pembangunan serta pengembangan pariwisata yang akan secara langsung melibatkan masyarakat, dapat membawa dampak positif maupun negatif bagi masyarakat sekitar (I Gde Pitana dan I Ketut Surya, 2009). Maka dari itu saat masyarakat mulai menyadari potensi yang ada, harus dilakukannya pemberdayaan bagi masyarakat agar mereka dapat mengelola pariwisata di sekitar dengan baik. Dalam pemberdayaan atau pengkapasitasan masyarakat ini, pemerintah harus turut andil untuk mengajak, 60 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-932 memotivasi, dan mendorong masyarakat agar mampu mengembangkan wisata di sekitar mereka atau di desa mereka (Wahyuni, 2018). Pemberdayaan mengandung dua arti yang pertama adalah memberikan kekuatan atau mengalihkan kekuatan dan yang kedua adalah memberikan kemampuan serta memberikan peluang kepada pihak lain atau dalam Bahasa Inggris yakni to give power or authority and to give ability to or enable (Pranarka, 1996). Tabel dibawah adalah hasil penilaian para responden yang telah didapat. Dari banyaknya pernyataan dapat dilihat bagaimana tanggapan masyarakat terkait dari pernyataan yang ada pada lampiran 7. Pernyataan 1 hingga 8 memberikan pernyataanpernyataan yang dapat disetujui oleh responden mengenai persepsi masyarakat terkait penyelenggaraan wisata. Pernyataan 01.01 hingga 03.04 memberikan pernyataan terkait persepsi masyarakat terhadap dampak pariwisata, meliputi dampak ekonomi, dampak sosial & budaya pariwisata, dan dampak lingkungan. Tabel 1.1 Persepsi terkait Penyelenggaraan Wisata No Pernyataan 1 Kawasan Desa Wisata Nglanggeran memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi Kawasan WisataBerkelanjutan di Pegunungan 2 Nilai 3 0 1 0 2 0 Pariwisata dapat meningkatkan kemajuan desa setempat 0 0 3 Kegiatan wisata di Kawasan Desa Wisata Nglanggeran harus menjaga kelestarian budaya masyarakat lokal 0 0 4 Kegiatan wisata di Kawasan Desa Wisata Nglanggeran harus dipromosikan secara luas baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah 0 0 2 7 33 (4.76%) (16.67%) (78.57%) 7 Pengembangan Wisata di Kawasan Desa Wisata Nglanggeran harus melibatkan masyarakat sekitar Kedatangan wisatawan/ pengunjung/ pembeli memberikan manfaat bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat sekitar Masyarakat bersedia menyediakan fasilitas dan sarana wisata yang layak bagi wisatawan/ pengunjung/ pembeli Produk lokal harus diwadahi dalam pengembangan wisata 0 0 0 0 7 6 29 (16.67% (14.29%) (69.05%) ) 1 10 31 (2.38%) (23.81%) (73.81%) 0 0 0 0 8 9 10 4 5 11 31 (26.19%) (73.81%) 2 4 36 (4.76%) (9.52%) (85.71%) 3 5 34 (7.14%) (11.90%) (83.33%) 6 11 25 (14.29% (25.19%) (59.52%) ) 0 10 32 (23.81%) (72.19%) 61 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-932 Tabel 1.2 Persepsi Dampak Pariwisata No Sub Indikator Dampak Ekonomi 1.1 Pariwisata dapat meningkatakan perekonomian masyarakat 1.2 Pariwisata membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat 1.3 Pariwisata menjadi sektor penyumbang pendapatan unggulan bagi daerah 1.4 Pariwisata meningkatkan daya saing masyarakat terhadap perkembangan ekonomi global Dampak Sosial & Budaya Pariwisata 2.1 Kegiatan pariwisata dapat melestarikan budaya lokal 2.2 Pariwisata merupakan alat untuk membantu mempromosikan budaya lokal kepada masyarakat luas 2.3 Pariwisata menuntut peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia 2.4 Wisatawan asing membawa pengaruh buruk terhadap moralitas masyarakat 2.5 Pariwisata dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan masyarakat Pariwisata dapat membawa pengaruh globalisasi yang 2.6 tidak sesuai dengan norma dan adat yang berlaku di masyarakat Dampak Lingkungan 3.1 Pariwisata dapat menjaga keseimbangan ekosistem yang ada di sekitarnya jika dikelola secara benar 3.2 Pariwisata dapat menjadi media pendidikan lingkungan bagi wisatawan dan masyarakat sekitar 3.3 Pariwisata dapat meningkatkan volume sampah 3.4 Pariwisata dapat meningkatkan polusi Tingkat Persepsi 1 2 3 0 0 0 0 4 5 3 10 29 (7.14%) (23.81%)(69.05%) 0 1 3 7 31 (2.38%) (7.14%) (16.67%)(73.81%) 2 2 4 8 26 (4.76%) (4.78%) (9.52%) (19.05%)(61.90%) 0 1 5 14 22 (2.38%) (11.90%)(33.33%)(52.28%) 1 9 32 (2.38%) (21.43%)(76.19%) 0 0 1 12 29 (2.38%) (28.57%)(69.05%) 0 0 3 13 26 (7.14%) (30.95%)(61.90%) 13 9 10 4 5 (30.95%)(21.43%)(23.81%) (9.52%) (11.90%) 19 6 6 5 6 (45.24%)(14.29%)(14.29%)(11.90%)(14.29%) 15 10 9 5 3 (35.71%)(23.81%)(21.43%)(11.90%) (7.14%) 1 1 5 15 20 (2.38%) (2.38%) (11.90%)(35.71%)(47.62%) 2 1 3 16 20 (4.76%) (2.38%) (7.14%) (38.09%)(47.62%) 6 4 12 14 6 (14.29%) (8.52%) (28.57%)(33.33%)(14.29%) 11 6 15 7 3 (26.19%)(14.29%)(35.71%)(16.67%) (7.14%) Berdasarkan tabel di atas, banyak masyarakat yang sadar dan merasakan akan adanya potensi pariwisata yang ada di Desa Nglanggeran. Seperti pada pernyataan 1 dimana 31/40 warga menjawab sangat setuju terkait pernyataan bahwa kawasan Desa Nglanggeran memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata berkelanjutan di pegunungan. Dominan Masyarakat menjawab sangat setuju untuk pernyataan terkait penyelenggaraan wisata, Seperti yang disampaikan oleh Bapak S yang telah diwawancara pada 20 November 2023 lalu, pariwisata adalah sektor penyumbang ekonomi terbesar di daerah Gunung Kidul dan amat terasa oleh warga Desa Nglanggeran. Terutama saat masa pandemi Covid-19 menyerang Indonesia dan membuat sektor pariwisata di daerah Desa Nglanggeran turun, membuat masyarakat kembali kepada pekerjaan awal mereka 62 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-932 (bertani, ternak dan lainnya). Hal ini juga membuat ekonomi di desa sedikit menurun akibat tidak adanya wisatawan yang datang. Terlihat juga dari tabel hasil kuesioner terkait persepsi masyarakat bahwa ekonomi Desa Nglanggeran meningkat dengan adanya pariwisata, walaupun masih ada Masyarakat yang tidak terlibat dalam kepariwisataan di Desa Nglanggeran. Sehingga diharapkan masyarakat yang tidak di libatkan setidaknya jangan terkena dampak negative (Elis Nurvantina, 2018). Namun sebagian warga sangat setuju terkait pariwisata yang membuat limbah sampah di desa mereka meningkat, dapat dilihat pada pernyataan 03.03 bahwa masyarakat memberi skor 3 dan 4 terkait limbah sampah yang meningkat. Ini disetujui oleh bapak D dan bapak S yang telah diwawancara sebelumnya, bahwa pariwisata berdampak pada meningkatnya limbah sampah di Desa Nglanggeran. Sebagian warga juga merasa pariwisata membuat persaingan dalam ekonomi semakin ketat (pada pernyataan 01.04). Meski adanya persaingan dari tingkat ekonomi, menurut Bapak D warga tetap rukun dan menjalin hubungan yang baik dengan sesama. POKDARWIS sendiri mengambil peran mereka dengan melakukan musyawarah dan membuat warga semakin sadar bahwa pariwisata membuat dampak baik untuk mereka. POKDARWIS juga selalu mengikutsertakan masyarakat dalam segala kegiatan yang ada di Desa Nglanggeran, seperti seminar atau acara yang dilakukan dari orangorang diluar desa seperti membatik, belajar bahasa asing dan lainnya. Mereka juga melestarikan budaya dan mengenalkan budaya yang ada di Desa Nglanggeran dengan baik (penuturan dari bapak D saat diwawancara penulis). Seperti melakukan Gelar Potensi Seni yang memamerkan kesenian tradisional Desa Nglanggeran yaitu Jathilan, Dolanan anak, Reok, Gejok Lesung, dll. Generasi muda di usahakan untuk memahami dan mengerti mengenai budaya nya sendiri melalui pelatihan karawitan yang biasanya dilakukan di balai pertemuan. Dapat dilihat dari hasil responden bahwa pemberdayaan di Desa Nglanggeran berjalan dengan baik, walau banyaknya rintangan seperti adanya ketidaksamaan saat berpendapat atau adanya ego yang besar, masyarakat Desa Nglanggeran tetap dapat menyelesaikannya dengan baik. Konsep pemberdayaan Masyarakat di Desa Nglanggeran. Pemberdayaan masyarakat di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, D.I Yogyakarta, merupakan suatu proses yang secara menyeluruh memberikan kekuatan kepada masyarakat yang sebelumnya merasa tidak memiliki kemampuan untuk berdaya. Desa Nglanggeran dikenal memiliki potensi alam, jumlah penduduk yang signifikan, dan daya tarik wisata yang telah berhasil dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Program pemberdayaan ini melibatkan berbagai lembaga seperti PAUD, TK, SD, kelompok wanita tani, posyandu balita, dan POKDARWIS. Dengan melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat, baik dalam bentuk kontribusi finansial, dukungan materi, ide-ide konstruktif, maupun upaya tenaga, hasilnya adalah masyarakat desa yang kini lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka, terutama kebutuhan pangan pokok (Fian Ardianto¹, 2017). Desa Nglanggeran menerapkan pemberdayaan masyarakat dengan fokus pada desa wisata, merangkul perubahan struktural yang signifikan. Konsep ini melibatkan masyarakat dalam mengelola potensi lokal dan mendukung pariwisata berkelanjutan. Pemberdayaan tersebut mencakup : 1. Stratifikasi Sosial dan Kelompok Sosial 63 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-932 Pemberdayaan masyarakat di Desa Nglanggeran telah membuka ruang bagi perubahan dalam struktur sosial, termasuk statifikasi sosial dan kelompok sosial. Melalui program pemberdayaan, masyarakat desa memiliki akses yang lebih merata terhadap kesempatan ekonomi dan pendidikan. Hal ini meminimalkan ketidaksetaraan dalam masyarakat dan membentuk kelompok-kelompok sosial yang lebih inklusif. 2. Mata Pencaharian Pengembangan desa wisata di Desa Nglanggeran dapat mempengaruhi mata pencaharian masyarakat lokal. Sebagai contoh, pemberdayaan masyarakat melalui program-program ekonomi kreatif dan pelatihan kewirausahaan dapat mengubah pola mata pencaharian, membantu masyarakat yang sebelumnya bergantung pada sektor pertanian untuk bertransisi ke pekerjaan yang terkait dengan pariwisata. 3. Proses Sosial dan Sistem Nilai Pemberdayaan masyarakat juga mencakup perubahan dalam proses sosial dan sistem nilai. Dengan melibatkan masyarakat dalam pengembangan desa wisata, terjadi peningkatan kesadaran akan pentingnya kerjasama, keberlanjutan, dan pelestarian lingkungan. Ini mengarah pada perubahan dalam sistem nilai yang lebih menghargai keberlanjutan dan tanggung jawab sosial. 4. Ritual Adat dan Kesenian Pengembangan desa wisata di Desa Nglanggeran mencakup pelestarian dan promosi ritual adat dan kesenian lokal. Pemberdayaan masyarakat secara langsung terlibat dalam upaya ini, memastikan bahwa tradisi lokal dijaga dan diperkenalkan kepada pengunjung dengan cara yang menghormati dan memahami nilai-nilai budaya masyarakat setempat. 5. Akses Pendidikan dan Kesehatan Pemberdayaan masyarakat di Desa Nglanggeran juga berdampak pada akses pendidikan dan kesehatan. Melalui pengembangan desa wisata, pendapatan tambahan yang diperoleh oleh masyarakat dapat digunakan untuk memperbaiki akses pendidikan bagi anggota keluarga mereka. Selain itu, peningkatan ekonomi dapat meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan. Penerapan Teori Actors dengan melibatkan pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat setempat menjadi kunci keberhasilan. Penelitian oleh Jones et al. (2022) menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat di desa wisata menciptakan perubahan sosial, ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan memperkuat identitas budaya lokal. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat di Desa Nglanggeran bukan hanya mengatasi kemiskinan, tetapi juga menjadi pendorong positif dalam transformasi dan keberlanjutan desa wisata. Teori Actors dapat diaplikasikan untuk memahami lebih mendalam proses pemberdayaan masyarakat di Desa Nglanggeran. Teori ini menyoroti peran penting dari berbagai aktor, termasuk pemerintah dan organisasi non-pemerintah, dalam menggerakkan, mengeksplorasi, dan menggabungkan sumber daya yang tersedia guna memupuk keberdayaan masyarakat. Lebih lanjut, teori ini menegaskan kepentingan otonomi daerah dan keterbukaan politik dalam meningkatkan kapasitas keberdayaan Masyarakat (Karjuni Dt Maani, 2011). 64 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-932 Gambar 1.1 Teori Actor – Pemberdayaan Desa Nglanggeran Dalam kerangka Teori Actors, pemberdayaan masyarakat di Desa Nglanggeran dapat dihubungkan dengan perubahan struktural, penyelesaian masalah ketidaksetaraan, dan koordinasi lintas-sektor. Melalui penerapan teori ini, pembangunan diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat, peningkatan kesejahteraan, dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan desa. Pemberdayaan masyarakat di Desa Nglanggeran secara positif mempengaruhi peningkatan kesejahteraan dan tingkat kemandirian masyarakat. Melalui berbagai program dan inisiatif, masyarakat desa mampu mengoptimalkan potensi alam, penduduk, dan pariwisata untuk memenuhi kebutuhan mereka dan meningkatkan standar hidup. Selain itu, peran aktor-aktor terlibat, otonomi daerah, dan keterbukaan politik juga memberikan kontribusi yang signifikan dalam melancarkan proses pemberdayaan masyarakat di Desa Nglanggeran. KESIMPULAN Konsep pemberdayaan Masyarakat melalui POKDARWIS di Desa Wisata Nglanggeran telah dilakukan dengan baik terutama dalam penambahan daya Masyarakat yang terlibat dalam komunitas tertentu. Dalam proses perencanaan sampai evaluasi dilakukan pendekatan melalui musyawarah bersama. Hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi Masyarakat cukup positif mengenai pariwisata di Desa Nglanggeran meskipun pada awalnya ada dampak yang dirasakan Masyarakat meliputi pencemaran lingkungan dan tergesernya norma tradisional. Namun hal tersebut dapat teratasi karena sudah ada upaya berupa pemahaman dan pendampingan untuk pencegahan serta membuka pola pikir Masyarakat. Berdasarkan teori milik Friedmann dan Teori Actors, Desa Nglanggeran sudah melaksanakan tiga aspek dalam pemberdayaan Masyarakat, yaitu; 1) Enabling, melalui usaha untuk tetap menanamkan nilai tradisional dan musyawarah 2) Empowering, melalui sosialisasi dan pelatihan mengenai kewirausahaan, kepariwisataan, dan produk lokal 3) Protecting, dengan memanfaatkan pekerjaan utama Masyarakat lokal sebagai daya tarik wisata. Sehingga pembangunan pariwisata di Desa Nglanggeran terarah pada peningkatan kapasitas masyarakat, kesejahteraan dan partisipasi masyarakat. 65 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-932 Meskipun telah dilaksanakan dengan meliputi aspek-aspek tersebut, konsep pemberdayaan Masyarakat ini belum berhasil secara menyeluruh. Hal ini disebabkan oleh ketidak merataan manfaat yang didapatkan oleh berbagai lapisan Masyarakat. Selain itu ada perbedaan dalam tingkat keterlibatan masyarakatnya. Oleh karena itu, penting untuk adanya evaluasi menyeluruh terhadap konsep pemberdayaan ini yang meliputi analisis distribusi sumber daya, tingkat keterlibatan Masyarakat, serta dampak yang dirasakan setiap Masyarakat. Sehingga upaya pemberdayaan Masyarakat melalui POKDARWIS dapat menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan bagi semua yang terlibat. Evaluasi ini juga bukan hanya pada Masyarakat saja, melainkan untuk pemerintah juga. Dengan ini manfaat dari pemberdayaan akan menyeluruh, dan dapat menjadi pembelajaran untuk pemerintah mengembangkan desa wisata lainnya bukan hanya di sekitar daerah Gunung Kidul saja melainkan seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta maupun seluruh Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Ardianto, F., Purwandari, I., & Manumono, D. (2017). Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Nglanggeran Kecamatan Patuk Kabupaten Gunung Kidul Di Yogyakarta. Jurnal Masepi, 2(2). Chambers, R. (2006). Participatory mapping and geographic information systems: whose map? Who is empowered and who disempowered? Who gains and who loses?. The Electronic Journal of Information Systems in Developing Countries, 25(1), 1-11. Fatchurrohman, L. N. (2015). Institutional entrepreneurship pemuda dalam mengembangkan pokdarwis desa wisata Nglanggeran. Jurnal Studi Pemuda, 4(2), 281-295. Hannaji, N., Bagiastra, I. K., & Kurniansah, R. (2022). Pemberdayaan Masyarakat Dalam Mengembangkan Pariwisata Di Desa Wisata Bayan Oleh. Journal Of Responsible Tourism, 2(1). Hermawati, P. R. (2020). Komponen kepariwisataan dan pengembangan community based tourism di desa wisata nglanggeran. Pariwisata, 7(1), 31-43. Humas Pemda DIY. (2021). Jumlah kependudukan DI Yogyakarta. Retrieved from kependudukan.jogjaprov.go.id:https://kependudukan.jogjaprov.go.id/statistik.cle ar Juwita, A. R., & Rahmafitria, F. (2017). Pengaruh Persepsi Masyarakat Terhadap Pengembangan Desa Wisata Ciburial Kabupaten Bandung. Tourism Scientific Journal, 3(1), 1-17.Pitana, I. G. I. K. S. D., & Diarta, I. (2009). Pengantar ilmu pariwisata. Kemenparekraf. (2021, November 4). Desa Wisata Nglanggeran Jadi Wakil Indonesia pada Ajang Best Tourism Village UNWTO. Retrieved from kemenparekraf.go.id: https://www.kemenparekraf.go.id/ragam-pariwisata/Desa-Wisata-NglanggeranJadi-Wakil-Indonesia-pada-Ajang-Best-Tourism-Village-UNWTO Kemenparekraf. (2022, Maret 31). Desa Wisata Nglanggeran. Retrieved from jadesta.kemenparekraf.go.id: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/nglanggeran Kustiani, R. (2021). 130 Desa Wisata di Yogyakarta Segera Menyusul Nglanggeran. tempo.co. Laraswati, M. P. (2020). Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pokdarwis Untuk Mengembangkan Desa Wisata. Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 16, 58-69. 66 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-932 Maani, K. D. (2011). Teori ACTORS dalam Pemberdayaan Masyarakat. DEMOKRASI Vol. X No. 1, 53-66. Maarif, S. D. (2021, Maret 29). Mengenal Teori Pemberdayaan Masyarakat Menurut Para Ahli. Retrieved from Tirto.Id: https://tirto.id/mengenal-teori-pemberdayaanmasyarakat-menurut-para-ahli-gbyu Noor, M. (2011). Pemberdayaan Masyarakt. Jurnal Ilmiah Civis, Volume I, No 2. Nurrahman, F. (2018). Pemberdayaan Masyarakat dalam Pembangunan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community-Based Tourism) Melalui Kelompok Sadar Wisata. E-Journal UNDIP, 1. Nurvantina, E., Rahmafitria, F., & Marhanah, S. (2018). Analisis Persepsi Pengelola Dan Masyarakat Mengenai Program Community Based Tourism Di Kampung Wisata Kreatif Eco Bambu Cipaku. Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation, 1(1), 23-36. Pariwisata, D. (2023). Desa Wisata dan POKDARWIS. Pitana, I. G. I. K. S. D., & Diarta, I. (2009). Pengantar ilmu pariwisata. Pranarka, O. S. (1996). Pemberdayaan: konsep, kebijakan dan implementasi. Jakarta: Center for strategic and international studies. Rahmafitria, S. &. (2018). Analisis Persepsi Pengelola dan Masyarakat Dalam Pengembangan Program Pelibatan Masyarakat di Wana WIsata Kawah Putih. Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation, 80-94. Rahmafitria, F., Purboyo, H., & Rosyidie, A. (2019). Agglomeration in Tourism: The Case of SEZs in Regional Development Goals. MIMBAR : Jurnal Sosial Dan Pembangunan, 35(2), 342–351. Sari, I. W., & Pinasti, V. I. S. (2022). Strategi Pokdarwis Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata (Studi Kasus Desa Wisata Giyanti, Wonosobo). Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi, 11(2), 84-95. Sasmoko, M. (2020, November 02). NEURORESEARCH: BENTUK LAIN DARI METODE CAMPURAN. Retrieved from research.binus.ac.id: https://research.binus.ac.id/edutech/2020/11/neuroresearch-bentuk-lain-darimetodecampuran/#:~:text=Metode%20campuran%20merupakan%20pendekatan%20pe nelitian,asumsi%20dan%20juga%20penyelidikan%20metode. Soepomo, S. R. F., Rahmafitria, F., & Daluarti, M. H. (2013). Analisis persepsi pengelola dan masyarakat dalam pengembangan program pelibatan masyarakat di Wana Wisata Kawah Putih. Sumber, 301, 2014. Sudarmanto, E. R. (2020). Konsep Dasar Pengabdian Kepada Masyarakat: Pembangunan dan Pemberdayaan. Wahyuni, D. (2018). Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengembangan Desa Wisata Nglanggeran, Kabupaten Gunung Kidul. Jurnal Masalah-Masalah Sosial, vol 9 no 1. Wiwin, I. W. (2018). Community Based Tourism dalam Pengembangan Pariwisata Bali. Pariwisata Budaya, Vol. 3 , 69-75. Wonosari Pegandon. (2022, Maret 22). Apa itu Desa Wisata dan Bagaimana Konsep Pengembangannya? Retrieved from wonosari.kendalkab.go.id: https://wonosari.kendalkab.go.id/kabardetail/ZHJxaHA5MkxNUWhxRjNDY2kr cDZXQT09/apa-itu-desa-wisata-dan-bagaimana-konsep-pengembangannya.html Yogyakarta, A. D. (2023). Desa wisata dan POKDARWIS. Bappeda Jogjakarta. 67