e-ISSN: 2721-6632 p-ISSN: 2721-6624 Vol 6. No 1. April 2025 . http://sttmwc. id/e-journal/index. php/haggadah PRAKSIS PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI KALANGAN GEN Z Mulina Tarigan STT Misi William Carey Medan mulina_trg83@yahoo. Abstract: This study aims to explain the praxis of community Christian Religious Education among Gen Z GEPKIN in Langkat district. The church will always be within the scope of a society, while society will be built by the church. Human selfishness today can occur due to a lack of teaching in the family, school, and church. It is very important for a Christian Religious Education teacher . ereinafter abbreviated as PAK) or a servant of God to have a heart and concern about this, how to respond and make important breakthroughs in the midst of ministry in an increasingly modern era. The research method used is quantitative, with a survey data collection approach, the sample is taken from the adolescent population in GEPKIN Langkat Regency, with a questionnaire as the main data collector. At the end of the research, it was concluded that the praxis of Christian Religious Education among the community among Gen Z GEPKIN in Langkat district is in the medium category of 74%. Keywords: praxis of Christian Religious Education. Gen Z. Abstraksi: Penelitian ini bertujuan menjelaskan praksis Pendidikan Agama Kristen masyarakat di kalangan gen Z GEPKIN se-kabupaten Langkat. Gereja akan selalu berada dalam lingkup suatu masyarakat, sementara masyarakat akan terbangun salah satunya oleh Keegoisan manusia zaman sekarang dapat terjadi akibat kurangnya pengajaran dalam keluarga, sekolah, dan gereja. Sangat penting bagi seorang pengajar Pendidikan Agama Kristen . elanjutnya disingkat PAK) atau hamba Tuhan untuk memiliki hati dan kepedulian tentang hal ini, bagaimana cara menyikapi dan membuat terobosan penting di tengah pelayanan pada zaman yang semakin modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, dengan pendekatan pengumpulan data survei, sampelnya diambil dari populasi remaja di GEPKIN Kabupaten Langkat, dengan kuesioner sebagai pengumpul data yang pokok. Di akhir riset disimpulkan bahwa praksis Pendidikan Agama Kristen masyarakat di kalangan gen Z GEPKIN se-kabupaten Langkat ada dalam kategori sedang sebesar 74%. Kata Kunci: Praksis pendidikan agama Kristen. gen Z. PENDAHULUAN Perbincangan mengenai hubungan gereja dan masyarakat selalu relevan diadakan mengingat keduanya merupakan dua hal yang tidak terpisahkan, meskipun perbincangan ini bukan hal yang mudah dilakukan. Gereja dan masyarakat berbeda secara kelembagaan, namun merupakan suatu kesatuan, keduanya saling membutuhkan. Gereja akan selalu berada dalam lingkup suatu masyarakat, sementara masyarakat akan terbangun salah satunya oleh gereja. Keduanya berada dalam sebuah kesatuan wilayah, entah dalam satu desa, dalam satu kota, dalam satu pulau, dalam satu negara, dan dalam satu dunia. Masyarakat yang dimaksud di sini ada kalanya menunjuk kepada semua orang yang ada dalam suatu wilayah di mana gereja berada . ermasuk gereja itu sendir. , ada kalanya menunjuk kepada orang-orang yang bukan anggota gereja . on Kriste. , dan ada kalanya menunjuk kepada pemerintah atau lembaga kenegaraan di mana gereja itu hadir. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 11 Sejak kehadirannya . istoris-institusiona. , gereja sudah bersinggungan dengan masyarakat, yakni lebih dari dua ribu tahun yang lampau. Sehingga, pengalaman mengenai hal ini sudah sangat banyak, yang manis maupun yang pahit. Pengalaman manis itu didapatkan ketika gereja dan masyarakat dapat hidup berdampingan secara toleran. Pengalaman pahit itu didapatkan ketika gereja dan masyarakat berseteru, baik secara 'tertutup' maupun secara 'terbuka'. Biasanya yang menjadi penyebab utama adalah kesombongan, di mana masing-masing pihak merasa sebagai yang paling memiliki kuasa melebihi yang lain. Biasanya masyarakat yang demikian adalah yang memegahkan 'ideologinya' untuk menekan gereja, dan gereja yang demikian adalah yang memegahkan 'teologinya' untuk menekan masyarakat. Ayang. Mardin, dan Ricard dalam penelitiannya tahun 2023 menulis bahwa gereja seharusnya mengajarkan nilai-nilai perdamaian yaitu: mengajarkan toleransi, mengajarkan hidup dalam damai, dan mengajarkan hidup dalam Dalam segala situasi akan bermunculan apa yang disebut sebagai 'perongrong toleransi antara masyarakat dengan gereja di dalamnya. Mereka adalah provokator yang berniat untuk memecah belah hubungan baik dari keduanya. Contoh mengenai hal ini banyak dijumpai dalam Alkitab. Salah satunya terbaca pada Injil Markus 12:13-17. Meskipun memang nas ini tidak berbicara secara khusus mengenai gereja . elainkan sebagai umat Israel yang sedang terjajah oleh bangsa Romaw. , namun secara prinsipil dapat menunjuk kepada isu yang sama, paling tidak sebagai sebuah analogi yang sangat Perikop ini sekaligus merupakan salah satu nas yang sangat menarik dalam Alkitab. Dari nas tersebut di atas, secara aplikatif dapat dipetik paling tidak tiga pesan mengenai hubungan gereja dengan masyarakat. Pertama. Kristus mengajak anggota gereja untuk menunjukkan 'penghargaan' kepada semua pemimpin dalam masyarakat manapun. Sebab kepemimpinan dalam masyarakat harus tetap ada, bahkan harus kuat. Karena kepemimpinan yang lemah hanya akan mengundang timbulnya anarkisme. Namun tidak seharusnya menjadi diktator karena hanya akan memicu pemberontakan/revolusi. Kedua. Kristus mengajak anggota gereja memberikan penghargaan yang 'proporsional'. Jangan sampai menghargai pemimpin masyarakat berlebih-lebihan, apalagi menganggap kedudukannya menjadi sama seperti Tuhan Allah. Ketiga. Kristus mengajak anggota gereja untuk membangun 'persatuan' dalam masyarakat yang penuh dengan kemajemukan. Sebab kemajemukan merupakan anugerah yang indah dan sangat berharga. Ajakan Kristus di atas tentu saja berlaku juga bagi gereja di Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai kapan pun. Untuk itu, sebagai bagian yang melekat dari gereja di Indonesia, gereja di Kabupaten Langkat sudah seharusnya untuk selalu memberikan perhatian mengenai pentingnya pemahaman yang benar seputar hubungan gereja dengan masyarakat dalam proses pelayanannya. Dalam rangka pelaksanaan misi tersebut, melalui riset ini peneliti mengangkat judul penelitian Praksis Pendidikan Agama Kristen Masyarakat di Kalangan Gen Z GEPKIN Se-Kabupaten Langkat. Pembentukan karakter dan pengembangan potensi remaja adalah hal penting yang harus dilakukan gereja, karena jika tidak melakukan pembentukan karakter dan pengembangan potensi remaja, kekristenan akan kehilangan generasi selanjutnya yang akan meneruskan pekerjaan/pelayanan. Masa remaja dikenal sebagai masa yang penuh kegoncangan karena mereka masih dalam taraf mencari identitas. Periode ini merupakan periode yang paling berat karena masa ini penuh dengan perubahan-perubahan fungsi biologis, kognisi, afektif dan sosial. 2 Ada banyak remaja zaman sekarang sangat pintar dalam bidang digital elektronik tapi sangat buruk perilaku dalam keluarga dan masyarakat. Pembentukan karakter anak-anak dalam rumah tangga Kristen bukanlah hal yang aneh. Sebab tidak mungkin bagi orang tua Kristen membentuk karakter yang tidak sesuai dengan identitas orang tuanya. Karakter membantu dalam setiap aspek kehidupan karena Ayang Emiyati. John Mardin, and Ricard. AuPeran Gereja Dalam Mengajarkan Perdamaian Di Tengah Masyarakat Majemuk,Ay Didache: Journal of Christian Education 4, no. : 149Ae165. Ester Octavia Panjaitan. Budiono Simbolon, and Kogilambal. AuPengaruh Konseling Terhadap Pembentukan Karakter,Ay HAGGADAH: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 2, no. : 116. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 12 memberikan orang integritas, pengaruh, dan menjadikan mereka saksi Kristus yang efektif. Namun kenyataannya banyak sekali anak-anak Kristen yang berkarakter buruk, banyak sekali orang Kristen yang dipenjara, bahkan anak-anak pendeta pun cacat di mana-mana. Keegoisan manusia zaman sekarang dapat terjadi akibat kurangnya pengajaran dalam keluarga, sekolah, dan gereja. Sangat penting bagi seorang pengajar Pendidikan Agama Kristen . elanjutnya disingkat PAK) atau hamba Tuhan untuk memiliki hati dan kepedulian tentang hal ini, bagaimana cara menyikapi dan membuat terobosan penting di tengah pelayanan pada zaman yang semakin modern. Benarlah kata firman Tuhan bahwa di zaman akhir kasih orang semakin dingin dan tidak mau merubah karakter buruk yang dibawa dari pengaruh orang tua maupun keluarga, lingkungan, tontonan dan sebagainya. Tidaklah mudah untuk membuka pikiran dan perasaan para orang tua baik yang Kristen atau non-Kristen untuk hal ini, karena kesibukan dalam bekerja untuk mendapatkan kebutuhan keluarga yang sulit tercukupi. Di samping itu, ketidakstabilan emosi keluarga yang merasa kurang beruntung, bertambah parah akibat tidak adanya pengajaran dari keluarga. Sebenarnya keluarga memiliki peranan yang penting karena merekalah yang dipilih dan ditetapkan Tuhan untuk mengajar dan membimbing anak-anak yang mereka lahirkan dalam keluarga. Masalah yang terjadi pada remaja sebagai contoh di daerah Kabupaten Langkat banyak sekali kecelakaan lalu lintas khusus remaja putra-putri yang mengenderai sepeda motor yang sangat kencang tanpa mengikuti aturan lalu lintas, tidak memakai helm, mendahului tanpa jalur yang benar, tidak memakai kaca spion, tidak ada SIM. STNK dan Ada juga baru-baru ini remaja putra di Kabupaten Langkat kecelakaan kerja kena sengatan listrik akibat ketelodaran, hamil di luar nikah, pergaulan bebas tanpa peduli nasehat orang tua, melakukan berbagai tindakan kriminalitas, pertengkaran di jalanan dan banyak lagi jenis-jenis tindakan buruk. Ada banyaknya kasus kenakalan dan kecerobohan remaja diduga karena kurangnya edukasi yang baik dari orang tua yang menyebabkan remaja kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, bunuh diri, persoalan pergaulan yang tidak baik, pemberontakan, sikap demonstrasi yang menyebabkan kerusuhan dalam masyarakat, dan segala hal yang merusak mental dan tubuh fisik remaja tersebut. Dunia kejahatan akan membawa banyak manusia baik anak-anak maupun orang dewasa, untuk berontak kepada Tuhan pemilik hidup manusia, dengan cara mengerjakan yang jahat, namun Tuhan Yesus tidak pernah gagal selalu membuka jalan. 4 Keluarga seringkali kurang peduli dalam mengajar anak remaja disebabkan kesibukan waktu, kerja, persoalan ekonomi, hubungan suami-istri yang tidak baik, juga orang tua yang juga tidak cakap mengajar dan kurangnya pengetahuan. Ada berbagai penelitian sebelumnya yang telah membicarakan soal pelayanan kepada generasi Z. Penelitian oleh Kristyowati tahun 2021 menemukan bahwa generasi Z membutuhkan layanan rohani berdasarkan ajaran Alkitab dalam ibadah kreatif, dan mereka membutuhkan dukungan untuk mengembangkan iman dan spiritualitas yang kuat, dan mereka membutuhkan pelatihan untuk menghadapi dunia menggunakan AI. Atau perlu membangun jati diri untuk mengatasi masalah dan tantangan waktu. 5 Imanuel Herman Prawiromaruto dan Kalis Stevanus di tahun 2023 mengungkapkan bahwa pembentukan karakter Kristen hanya dapat dicapai melalui penerapan pendidikan rohani, baik secara individu maupun kelompok. Oleh karena itu, lembaga pendidikan Kristen perlu lebih menekankan pada pengembangan rohani dalam pembentukan karakter. Warseto Freddy Sihombing dan Seri Antonius dalam penelitiannya di tahun 2022, menyebutkan bahwa gereja harus menyediakan landasan teologis yang memadai bagi Handreas Hartono. AuMembentuk Karakter Kristen Pada Anak Keluarga Kristen,Ay KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kriste. 2, no. : 62Ae69. Budiono Simbolon. Andhy Stephanus, and Maria Yehuryana. AuPeran Pendidikan Mengubah Karakter Anak Remaja Gereja Beth-El,Ay HAGGADAH: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 3, no. : 28. Yuli Kristyowati. AuGenerasi Z Dan Strategi Melayaninya,Ay Ambassadors: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 2, no. : 23Ae34. Imanuel Herman Prawiromaruto and Kalis Stevanus. AuPendidikan Karakter Kristen Melalui Pengutamaan Formasi Rohani,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 7, no. : 543Ae556. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 13 pelayanan pendidikan gereja lokal dalam bentuk layanan pendidikan agama Kristen dan berbagai bentuk penjangkauan lainnya kepada umat beriman. 7 Situmorang di tahun 2020 menyebutkan bahwa PAK Gereja dan keteladanan orang tua sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak. Oleh karena itu, sangat penting untuk mendidik anak agar mereka tidak mengalami kendala dalam kehidupan bermasyarakat, dan mampu mengatasi berbagai permasalahan dan kendala yang muncul dalam pergaulan di masyarakat yang Yang menjadi konsentrasi peneliti adalah untuk usia remaja di tahun 2024-2025 yang sering disebut generasi Z. Karakteristik generasi Z menurut Gazali di antaranya: multitasking, teknologi, terbuka, audio-visual, kreatif, inovatif, kritis, kolaborasi. Dari berbagai pendapat di atas, dalam artikel ilmiah ini potensi diri adalah kemampuan seseorang remaja yang dapat dikembangkan. Remaja masa kini dikenal sebagai "penduduk asli digital" karena mereka cenderung terus-menerus menggunakan perangkat mereka. Masa remaja menjadi periode peralihan dari kanak-kanak kepada kedewasaan. Masa ini menjadi periode kritis yang akan memengaruhi masa depan Anda. Perkembangan tubuh dan kejiwaan yang pesat. 10 Keadaan peralihan dari kanak-kanak kepada kedewasaan tidak Perubahan yang terjadi akan menghadirkan remaja dengan berbagai masalah yang harus mereka hadapi. Penelitian ini bertujuan menjelaskan praksis Pendidikan Agama Kristen masyarakat di kalangan gen Z GEPKIN se-kabupaten Langkat. Mengapa gereja harus mengajar? Colson dan Ridgon mengusulkan lima alasan penting yaitu: Kristus mengharapkannya. Injil menuntutnya, sejarah membuktikannya, umat membutuhkannya, dan situasi sekarang menuntut itu. 11 Jadi kebutuhan orang percaya secara individu memerlukan pelayanan pendidikan Kristen. Ketika menemukan orang Kristen yang dewasa, seimbang, serta orang Kristen yang bersaksi, kita akan tahu bahwa di balik kemajuan mereka terdapat pengajaran serta pelatihan yang efektif. Demikianlah untuk gen Z juga memerlukan pelayanan pendidikan Kristen yang efektif. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang dipakai dalam riset ini adalah kuantitatif. Penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan filosofi positivisme yang digunakan untuk mempelajari populasi atau sampel tertentu. 12 Strategi penelitian yang berfokus pada penggunaan statistik dan pengumpulan informasi tentang suatu fenomena. Dalam hal ini yang hendak diteliti adalah fenomena perilaku gen Z di Kabupaten Langkat. Sarwono menyebut dalam pendekatan kuantitatif ada kuantifikasi variabel yang menghasilkan nilai besaran angka. 13 Sifat penelitian ini adalah deskriptif, karena hanya ada satu variabel, yaitu praksis Pendidikan Agama Kristen. Dari sudut pengumpulan data, penelitian yang digunakan adalah penelitian survei, yaitu penelitian yang sampelnya diambil dari satu populasi dengan kuesioner sebagai pengumpul data yang 14 Dari sudut tempat, riset ini adalah penelitian lapangan,15 meneliti di wilayah GEPKIN Kabupaten Langkat. Warseto Freddy Sihombing and Seri Antonius. AuMembangun Teologi Pendidikan Agama Kristen Di Gereja Lokal,Ay Jurnal Teruna Bhakti 5, no. : 126Ae235. Ester Lina Situmorang. AuPendidikan Agama Kristen Gereja Dan Keteladanan Orangtua Terhadap Pembentukan Karakter Anak Sekolah Minggu,Ay OSFPREPRINTS 3, no. : 59Ae86. Kristyowati. AuGenerasi Z Dan Strategi Melayaninya. Ay Titik Haryani. AuPentingnya Pengembangan Potensi Remaja Di Gereja Sebagai Generasi Penerus Gereja Dan Bangsa,Ay TEOKRISTI: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani 2, no. : 104Ae Howard P. Colson and Raymond M. Ridgon. Kurikulum Pendidikan Kristen Di Gereja Lokal (Malang: Gandum Mas, 2. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitiatif Dan R&D (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2. Jonathan Sarwono. Strategi Melakukan Riset: Kuantitatif. Kualitatif. Gabungan (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2. Andreas B. Subagyo. Pengantar Riset Kuantitatif & Kualitatif (Bandung: Kalam Hidup, 2. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk Pendidikan Agama Kristen dalam Gereja Lokal Pendidikan Agama Kristen dalam gereja adalah praksis PAK untuk mengajarkan firman Tuhan di gereja lokal dengan tujuan membangun pemuridan Kristen dalam kehidupan anggota gereja dengan cara yang mewujudkan Amanat Agung Yesus Kristus. PAK dalam gereja lokal adalah proses pembelajaran dan pengajaran yang berpusat pada Kristus dan berdasarkan Alkitab. PAK merupakan bagian penting dari kekristenan dan dapat diterapkan di gereja lokal. PAK dalam gereja lokal dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, seperti PAK Anak. PAK Remaja Pemuda, dan PAK orang PAK dalam gereja lokal dapat disampaikan melalui berbagai cara, seperti sekolah minggu, kelas pemuridan, dan metode kelompok sel. PAK merupakan komponen utama agama Kristen dan dapat diterapkan di sekolahsekolah maupun gereja-gereja setempat. Hal ini tentu saja memerlukan pembahasan yang serius dalam kerangka pastoral gereja. Dalam perannya sebagai tempat persekutuan antara orang percaya dan Tuhan, gereja terikat oleh ajaran firman Tuhan, yang terkandung dalam Alkitab. Pendidikan merupakan tujuan Amanat Agung yang diberikan Yesus kepada kita. Penyampaian firman Tuhan kepada gereja oleh pendeta dan pendeta setempat dapat dilakukan melalui penerapan prinsip pengajaran PAK. Sepanjang sejarah gereja yang panjang, telah ada catatan jujur tentang kekuatan dan kelemahan gereja selama keberadaannya di bumi. Dasar teologis PAK di gereja lokal adalah dasar alkitabiah tentang pentingnya doktrin PAK, yang terdiri dari misi, proses, dan tujuan PAK. Tujuan Pendidikan Agama Kristen adalah untuk memberikan umat pengalaman belajar yang teratur sepanjang hidup mereka melalui liturgi ibadah, terutama khotbah dan pembacaan Kitab Suci. Sementara itu, tujuan Pendidikan Agama Kristen menurut LeBar adalah kedewasaan dalam Kristus bagi kemuliaan Allah". Maksudnya adalah bahwa kedewasaan dalam Kristus, baik iman, perbuatan dan kasih, adalah gol akhir dari tujuan Pendidikan Agama Kristen, baik di sekolah maupun di gereja. Beberapa konsep pengajaran PAK gereja di antaranya:19 pembelajaran holistik. PAK harus mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. persekutuan dan komunitas, konsep PAK di gereja menekankan pentingnya komunitas. Iman. pendidikan berbasis Alkitab, semua pengajaran dalam PAK harus berlandaskan pada Alkitab. pelayanan dan misi. PAK tidak hanya berfokus pada pengajaran dalam gereja, tetapi juga mengajak jemaat untuk terlibat dalam pelayanan dan misi. keterlibatan generasi muda, mengintegrasikan generasi muda dalam PAK sangat penting untuk memastikan keberlanjutan iman. pengembangan kepemimpinan. PAK juga bertujuan untuk membentuk pemimpin gereja masa depan. adaptasi terhadap perubahan sosial. PAK perlu responsif terhadap perubahan sosial dan budaya. evaluasi dan refleksi. PAK yang efektif memerlukan evaluasi berkelanjutan untuk memahami pencapaian dan area yang perlu Metode Pendidikan Agama Kristen dalam Gereja Lokal Ada beberapa metode pengajaran PAK dalam gereja lokal seperti yang dituliskan Steven Tubagus,20 yaitu: penerapan teknologi dalam PAK mengintegrasikan teknologi Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Revisi V. (Jakarta: Rineka Cipta, 2. Paulus Lilik Kristianto. Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen (Yogyakarta: Andi Offset. Sihombing and Antonius. AuMembangun Teologi Pendidikan Agama Kristen Di Gereja Lokal. Ay Robert R. Boehlke. Sejarah Perkembangan Pikiran Dan Praktik Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Boiliu. AuPembelajaran Pendidikan Agama Kristen Dalam Keluarga Di Era Digital,Ay Te Deum: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan 10, no. : 107Ae119. Steven Tubagus. AuMakna Pendidikan Agama Kristen Dalam Alkitab,Ay BONAFIDE: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 2, no. : 25Ae45. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 15 dalam pendidikan agama, seperti penggunaan aplikasi Alkitab, video pembelajaran, dan platform pembelajaran daring, dapat meningkatkan keterlibatan jemaat, terutama generasi Teknologi memungkinkan akses yang lebih luas terhadap materi ajaran dan memfasilitasi pembelajaran yang lebih interaktif. Selanjutnya pembelajaran kontekstual mengadaptasi materi PAK agar relevan dengan konteks sosial dan budaya jemaat setempat. Ini dapat mencakup penggunaan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari jemaat dan diskusi tentang isu-isu yang dihadapi masyarakat. Berikutnya adalah pelatihan berbasis proyek, menerapkan metode pembelajaran berbasis proyek, di mana jemaat dapat belajar melalui pengalaman langsung, seperti proyek sosial atau misi kemanusiaan. Ini memberikan kesempatan bagi jemaat untuk menerapkan iman mereka secara praktis. Metode lainnya adalah pendekatan multikultural, mengingat keragaman dalam jemaat, penting untuk mengembangkan kurikulum PAK yang mencakup berbagai perspektif budaya. Ini membantu jemaat untuk memahami dan menghargai perbedaan dalam konteks iman Kristen. Selanjutnya metode kolaborasi dengan komunitas, menggandeng organisasi atau komunitas lain dalam mengembangkan program PAK. Kerja sama ini dapat memperluas jaringan pelayanan dan memberikan pengalaman yang lebih kaya bagi jemaat. Haan dan Arifianto mengusulkan metode yang agak berbeda,21 yaitu: integrasi teori dan praktik, mengaitkan ajaran Alkitab dengan praktik hidup sehari-hari. Siswa diajak untuk melihat bagaimana nilai-nilai Kristen dapat diterapkan dalam konteks mereka, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat. Selanjutnya penggunaan metode interaktif, menerapkan metode pembelajaran aktif, seperti diskusi kelompok, permainan peran, dan studi kasus, untuk meningkatkan partisipasi siswa dan membuat pembelajaran lebih Metode lainnya refleksi dan doa, memberikan waktu bagi siswa untuk melakukan refleksi pribadi dan doa, membantu mereka menginternalisasi ajaran yang telah dipelajari serta membangun hubungan spiritual yang lebih dalam. Dilanjutkan dengan pengembangan karakter, fokus pada pengembangan karakter melalui ajaran moral dan etika Kristen. Mengajarkan nilai-nilai seperti kasih, pengampunan, dan keadilan, serta memberikan contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian pendidikan berbasis komunitas, melibatkan siswa dalam kegiatan pelayanan masyarakat, sehingga mereka dapat menerapkan nilai-nilai Kristen secara langsung dan belajar tentang kepedulian terhadap sesama. Program Pendidikan Agama Kristen dalam Gereja Lokal Senduk menyebutkan beberapa jenis kebaktian yang dapat dijalankan di gereja, yang di antaranya ada kebaktian anak-anak, remaja & pemuda, kaum wanita, kaum bapa, persekutuan doa, kebaktian rumah tangga, kebaktian pendalaman Alkitab, dll. Artinya, kebaktian remaja-pemuda memang sepatutnya mendapat tempat dan waktu pelayanan yang khusus. Untuk itu Pramono dan kawan-kawan mengusulkan pembelajaran PAK secara intens,23 dengan beberapa kegiatan di antaranya: studi Alkitab mendalam, mengadakan sesi pembelajaran yang fokus pada analisis teks Alkitab, termasuk konteks historis dan teologisnya. Siswa diajak untuk memahami makna ayat-ayat secara Kegiatan lainnya retreat, menyelenggarakan retreat spiritual yang dirancang untuk refleksi pribadi dan pertumbuhan iman. Ini bisa mencakup doa, meditasi, dan diskusi tentang pengalaman spiritual. Selain itu, ada diskusi teologis, mengadakan diskusi mendalam tentang isu-isu teologis, moral, dan etika dalam konteks modern, mendorong siswa untuk berpikir kritis dan berbagi pandangan. Kegiatan lainnya adalah pelayanan Haan and Y. Arifianto. AuProfesionalisme Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Tinjauan Alkitabiah Upaya Teladan Guru Masa Kini,Ay Shalom: Jurnal Teologi Kristen 2, no. : 15Ae26. Senduk. Pedoman Pelayanan Pendeta 2 (Jakarta: Yayasan Bethel, 2. Pramono. Saptorini, and J. Purba. AuImplementasi Pemuridan Kristen Dalam Keluarga Di Era Disrupsi,Ay TELEIOS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 1, no. : 144Ae154. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 16 sosial, mengintegrasikan kegiatan pelayanan di masyarakat sebagai bagian dari Siswa dapat belajar tentang kasih dan pengabdian melalui tindakan nyata. Akhirnya kegiatan mentoring dan bimbingan, menyediakan bimbingan dari pemimpin gereja atau mentor spiritual yang dapat membimbing siswa dalam perjalanan iman mereka dan membantu mengatasi tantangan. Hendrawan dan kawan kawan mengusulkan pembimbingan rohani dengan kegiatan-kegiatan berikut:24 mendengarkan secara aktif, seorang pembimbing perlu mendengarkan dengan penuh perhatian, menciptakan ruang yang aman bagi individu untuk berbagi perasaan, keraguan, dan pengalaman spiritual mereka. Berikutnya pendekatan personal, setiap individu memiliki perjalanan spiritual yang unik. Pembimbing harus memahami konteks dan latar belakang spiritual setiap orang untuk memberikan arahan yang tepat. Kegiatan lain refleksi dan doa, mengajak individu untuk merenungkan pengalaman mereka dan berdoa bersama dapat membantu mereka dalam menemukan jawaban atau kedamaian dalam situasi yang sulit. Selanjutnya pengetahuan teologis, pembimbing perlu memiliki pemahaman yang kuat tentang doktrin dan ajaran agama untuk memberikan arahan yang akurat dan relevan. Kemudian kegiatan spiritual, mengusulkan kegiatan seperti retreat, meditasi, atau studi Alkitab dapat memperdalam pengalaman spiritual dan memberikan kesempatan untuk pertumbuhan iman. Darmawan dan Objantoro mengusulkan beberapa program gereja untuk remaja. Pertama-tama diusulkan kelas Pendidikan Agama Kristen. Mengadakan kelas PAK khusus untuk remaja yang mengajarkan dasar-dasar iman Kristen, nilai-nilai moral, dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Program ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman teologis dan membantu remaja mengembangkan iman yang Selanjutnya diusulkan Kelompok Persekutuan Remaja. Membentuk kelompok persekutuan bagi remaja untuk berkumpul, berbagi pengalaman, dan mendiskusikan topiktopik yang relevan dengan kehidupan mereka. Ini juga memberikan kesempatan untuk membangun hubungan yang saling mendukung. Program lainnya adalah Kegiatan Sosial dan Pelayanan. Mengajak remaja untuk terlibat dalam kegiatan sosial seperti bakti sosial, pengabdian masyarakat, dan program pelayanan gereja. Kegiatan ini membantu mereka mengembangkan empati dan rasa tanggung jawab sosial. Program lain adalah Retret Remaja. Menyelenggarakan retret bagi remaja untuk memberikan mereka waktu untuk merenung, berdoa, dan memperdalam hubungan mereka dengan Tuhan. Retret ini juga dapat menjadi momen untuk membangun persahabatan di antara mereka. Program selanjutnya Kegiatan Seni dan Kreativitas. Mengadakan program seni seperti drama, musik, atau seni visual yang memungkinkan remaja mengekspresikan diri dan bakat mereka. Kegiatan ini dapat menjadi sarana untuk menarik minat remaja dalam pelayanan gereja. Hal lain yang perlu diprogramkan adalah Konseling dan Pendampingan, menyediakan layanan konseling bagi remaja yang menghadapi masalah pribadi atau Pendampingan dari pemimpin gereja atau mentor dapat membantu mereka mengatasi tantangan yang mereka hadapi. Program Pendidikan Agama Kristen Untuk Gen Z Program yang diadakan gereja untuk remaja jika dikemas dan disiapkan dengan baik maka program tersebut dapat membangun remaja Kristen dengan baik oleh karena kegiatan yang positif tersebut membuat remaja memiliki waktu yang baik dan komunitas yang menguatkan mereka di masa perkembangan yang sangat menekan karena perubahan fisik dari anak ke dewasa. Hendrawan. Tri Angin, and A. Yeniretnowati. AuPENDIDIKAN KELUARGA KRISTEN: REGENERASI PEMIMPIN MELALUI PEMURIDAN DAN IMPLIKASINYA,Ay In Jurnal Teologi Amreta 4, 2 . A Darmawan and E. Objantoro. AuSignifikansi Ineransi Alkitab Bagi Pendidikan Kristen,Ay Sola Scriptura: Jurnal Teologi 1, no. : 36Ae52. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 17 Pada tahun 2020 dalam penelitiannya Panjaitan menjelaskan bahwa semua umat Tuhan harus memahami tanggung jawab mereka terhadap kesejahteraan masyarakat Dalam banyak hal. Tuhan telah menyatakan perhatian yang besar terhadap orang miskin, yang membutuhkan dan yang tertindas. Tuhan telah mengatur agar Israel menjadi contoh dalam hal perhatian terhadap kesejahteraan umum. Meskipun orang-orang Yahudi berada di pengasingan. Tuhan mengingatkan mereka untuk terus bekerja untuk kesejahteraan kota. Perintah untuk mengusahakan kesejahteraan kota Babel dalam Yeremia 29:7 dianggap tidak biasa, tetapi ini harus dipahami sebagai perhatian terhadap kesejahteraan rakyat. Demikian pula, gereja saat ini harus dapat berfungsi sebagai agen perubahan sosial dalam mengarahkan moral, karakter dan etika masyarakat sesuai dengan kehendak Tuhan, serta memahami tanggung jawabnya terhadap kesejahteraan masyarakat Sari Asi Situmorang tahun 2023 dalam penelitiannya menyebut Generasi Z merupakan kelompok remaja yang perlu dibimbing dan dilayani oleh gereja. Cara yang dapat dilakukan gereja untuk melayani Generasi Z adalah dengan menjadikan diri mereka sebagai ruang bersama. Ruang bersama berarti menyediakan kesempatan bagi remaja untuk mengikuti kebaktian gereja dan menciptakan ruang bersama. Dengan berbagi tempat, remaja dapat saling mengenal dan menemukan kehadiran Tuhan melalui penderitaan orang lain. Selain itu, remaja dapat menghadirkan Kristus melalui kepedulian dan perhatian mereka terhadap kesulitan yang dihadapi orang lain. Oleh karena itu, ruang bersama melalui berbagi tempat merupakan upaya yang harus dilakukan gereja untuk melayani Generasi Z. 27 Keterlibatan antargenerasi dalam pelayanan gereja dapat terjadi apabila gereja telah menyediakan ruang bagi mereka. Sejalan dengan pemahaman dalam Alkitab, di mana gereja adalah sekumpulan orang percaya yang memiliki tujuan bahwa mereka hadir untuk menjadi gereja guna menjangkau dunia yang sangat jatuh dan memanggil kembali kepada Tuhan. Tindakan seperti itu akan mencerminkan misi Kristus di dunia. Fibry Jati Nugroho mengusulkan beberapa upaya gereja dalam menanggulangi masalah-masalah sosial, khususnya masalah kemiskinan, sebagai pelaksana amanat Tuhan di dunia, gereja perlu: pertama, senantiasa menyuarakan kritik profetiknya tanpa pandang bulu terhadap praktik penyalahgunaan kekuasaan, yang berakibat pada ketidakadilan dan menciptakan sistem yang memiskinkan masyarakat. kedua, perbaikan rohani dalam gereja perlu terus ditingkatkan, hingga gereja memiliki kesalehan sosial dan kepedulian sosial terhadap masyarakat. ketiga, kesalehan sosial ini kemudian menjadi praksis gereja, yang tidak hanya memiliki spiritualitas kepada Tuhan, tetapi juga mampu memberikan dampak spiritualitasnya kepada masyarakat sekitar, sehingga umat dapat merasakan bahwa Tuhan juga hadir di tengah-tengah pergumulan mereka. Joni M. Gultom berkata generasi digital memiliki proporsi yang besar jumlahnya di gereja, namun karunia Roh Kudus dalam melayani dan memimpin di gereja lokal mengalami stagnasi. Pengembangan karunia melayani dan memimpin merupakan langkah penting bagi keberlanjutan gereja, penjangkauan jiwa dan pembentukan spiritualitas. Tindakan gereja dalam mengembangkan karunia melayani dan memimpin di era digital kepada generasi Z adalah: pertama, fokus pengajaran eskatologi sebagai landasan penting untuk memicu karunia melayani dan memimpin Gen Z semakin efektif. kedua, metode pengembangan karunia memimpin dan melayani ini dapat digunakan dalam ruang-ruang virtual yang dimediasi oleh gereja-gereja lokal tertentu, seperti dalam kebaktian Misa, komunitas Sel dan pertemuan doa virtual. ketiga, pengembangan karunia melayani dan memimpin ditunjukkan kepada Generasi Z yang telah dimuridkan. keempat, gereja Tutur Parade Tua Panjaitan. AuTanggung Jawab Umat Tuhan Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat: Kajian Biblika Perjanjian Lama,Ay HAGGADAH: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 1, no. : 55Ae64. Sari Asi Situmorang. AuURGENSI GEREJA SEBAGAI RUANG BERSAMA: SEBUAH UPAYA GEREJA BAGI GENERASI Z,Ay DIAKONIA 3, no. : 99Ae111. Fibry Jati Nugroho. AuGEREJA DAN KEMISKINAN: DISKURSUS PERAN GEREJA DI TENGAH KEMISKINAN,Ay Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat 3, no. : 100Ae112. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 18 memediasi pelayanan sabda, pujian dan penyembahan, serta komunitas bagi Generasi Z agar selalu terhubung dengan jiwa. Joni MP Gultom mengatakan indeks spiritual Generasi Z hanya 3,50 dibandingkan dengan nasional 3,79. Mereka tidak terbiasa dengan kekristenan dan telah meninggalkan Penyebabnya adalah rendahnya praktik pribadi di waktu yang tenang, kontemplasi Alkitab, dan penginjilan-pemuridan pribadi. Sebanyak 66% anak muda yang dibesarkan di gereja-gereja Kristen akhirnya pergi dan 35% mengatakan gereja itu tidak relevan dan Jadi Gultom menjelaskan misi gereja dalam mengembangkan praktik pribadi dan penginjilan-pemuridan pribadi Generasi Z, kemudian menjelaskan strategi dan metode untuk menjangkau generasi digital. Perlu ada kegiatan latihan spiritual pribadi setiap hari dengan bimbingan dari orang tua, dan saudara spiritual serta bimbingan spiritual yang intensif, sehingga kualitas spiritualitas meningkat, melahirkan influencer Kristen Generasi Z, mereka dapat mengantisipasi masalah kesepian dan menjadi generasi spiritual dan kepemimpinan yang kuat. Gereja harus mampu menjadi mentor dan panutan dalam pemuridan dan penginjilan. Sumber Data Populasi adalah sekelompok orang atau benda yang serupa dalam satu atau lebih hal dan mewakili pertanyaan utama suatu penelitian tertentu. Dengan kata lain, populasi terdiri dari semua individu yang ingin kita generalisasikan. 31 Populasi dalam penelitian ini adalah generasi Z di GEPKIN Bukit Moria. Adapun jumlah anggota jemaat kaum mudaremaja . enerasi Z) di GEPKIN Bukit Moria dan cabang-cabang di Kabupaten Langkat hingga akhir tahun 2024 tercatat 129 jiwa, dengan rincian dalam tabel berikut: Tabel 1. Jumlah Anggota Youth GEPKIN Bukit Moria No. Nama Gereja Jumlah Youth GEPKIN Bukit Moria GEPKIN Pondok Pujian GEPKIN Sp. Kutabulu GEPKIN Buluhduri GEPKIN Marike GEPKIN Kinangkong JUMLAH TOTAL Sampel adalah bagian dan angka yang diambil dari populasi yang dapat dipelajari secara rinci. Sampel juga dapat dikatakan sebagai versi miniatur suatu populasi. Nawawi menjelaskan konsep sampel sebagai bagian populasi yang mewakili keseluruhan 32 Menurut Sidik dan Denok, sampel adalah sebagian dari populasi yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Dengan kata lain, sampel merupakan perwakilan dari Joni Manumpak Parulian Gultom. AuSTRATEGI PENGEMBANGAN KARUNIA MELAYANI DAN MEMIMPIN DALAM GEREJA LOKAL PADA GENERASI Z DI ERA DIGITAL,Ay Vox Dei: Jurnal Teologi dan Pastoral 3, no. : 224Ae243. Joni Manumpak Parulian Gultom. AuMISI GEREJA DALAM PENGEMBANGAN PRAKTEKPENGINJILAN PRIBADIDAN PEMURIDANGENERASI Z,Ay Manna Raflesia 9, no. 358Ae377. Sutrisno Hadi. Statistik. Jilid 2 (Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada, 1. Hadari Nawawi. Metode Penelitian Bidang Studi Sosial (Yogyakarta: Gajah Mada University Press. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 19 populasi. 33 Peneliti mengambil sampel yang mewakili populasi berdasarkan teknik pengambilan sampel. Sugiyono mengatakan bahwa probability sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama kepada setiap unsur . populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. 34 Andreas B. Subagyo menyatakan bahwa kunci untuk memilih sampel yang representatif adalah keacakan . emberikan anggota populasi kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampe. 35 Peneliti akan menggunakan teknik acak untuk menentukan sampel penelitian. Dalam prosedur pengambilan sampel acak, semua individu dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam sampel. Orang-orang ini mempunyai kesempatan yang sama jika mereka mempunyai karakteristik yang sama atau dianggap setara. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pengambilan sampel acak untuk memilih sampel dari populasi tanpa memperhatikan strata dalam populasi. Sumanto juga mengatakan bahwa pengambilan sampel acak adalah proses pemilihan sampel sedemikian rupa sehingga setiap orang dalam populasi memiliki kesempatan dan kebebasan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Untuk memilih sampel, peneliti menggunakan teori yang dikembangkan Arikunto, yaitu sampel diambil 10-30% dari populasi tergantung kemampuan peneliti dari segi waktu, tenaga dan dana. juga sempit luasnya wilayah pengamatan. 37 Maka sampel ditentukan sejumlah 30% dari 129 yaitu sejumlah 39 orang generasi Z dari GEPKIN Bukit Moria. Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner sebagaimana telah disebutkan di bagian awal bab ini. Dari sudut pengumpulan data, penelitian yang digunakan adalah penelitian survei, yaitu penelitian yang sampelnya diambil dari satu populasi dengan kuesioner sebagai pengumpul data yang pokok. 38 Kuesioner adalah serangkaian dokumen yang ditujukan untuk memperoleh informasi dari responden dalam bentuk laporan tentang diri mereka sendiri dan apa yang mereka ketahui. 39 Kuesioner yang disebarkan berisi daftar pernyataan yang jawabannya diberikan menggunakan skala Likert pada skala 1 sampai 5. Secara teknis, pengujian validitas dapat didukung oleh penggunaan kisi-kisi Sugiyono mengatakan, tabel tersebut memuat nomor item variabel yang disurvei, indikator acuan, serta pertanyaan atau pernyataan yang dijelaskan menggunakan indikator tersebut. 40 Kisi-kisi membuat pemeriksaan validasi lebih mudah dan sistematis. Tabel berikut menunjukkan kisi pernyataan untuk survei. Tabel 2. Kisi-kisi Instrumen Penelitian Variabel Dimensi Indikator Praksis Bentuk Pendidikan Pentingnya komunitas Pendidikan Agama Kristen Landasan Alkitab Agama Kristen Ppelayanan misi Keterlibatan generasi muda Pembentukan pemimpin masa depan Metode Pendidikan Penerapan teknologi Agama Kristen Kegiatan sosial Item Sidik Priadana and Denok Sunarhi. METODE PENELITIAN KUANTITATIF (Tangerang: Pascal Books, 2. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitiatif Dan R&D. Subagyo. Pengantar Riset Kuantitatif & Kualitatif. Sumanto. Metode Penelitian Sosial Dan Pendidikan: Aplikasi Kuantitatif Dan Statistik Dalam Penelitian (Yogyakarta: Andi Offset, 2. Arikunto. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Subagyo. Pengantar Riset Kuantitatif & Kualitatif. Arikunto. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Sugiyono. Statistika Untuk Penelitian (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 20 Sesuai konteks sosial dan budaya Kerjasama antar komunitas Penerapan dengan praksis keseharian Program Pendidikan 1. Mengajarkan dasar-dasar iman Agama Kristen dalam Kristen gereja lokal Kelompok persekutuan Kegiatan sosial Retreat Program seni Program Pendidikan 1. Menanamkan rasa tanggungjawab Agama Kristen untuk Gen Z Tersedianya ruang bersama Pelayanan sosial Pelatihan kepemimpinan Karunia melayani Instrumen penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah instrumen kuesioner, daftar pertanyaan sejumlah 20 item yang disusun oleh peneliti dan dijawab oleh responden. Validitas dan Reliabilitas Data Karena instrumen merupakan alat pengumpul data, maka diperlukan kondisi tertentu agar data yang diperoleh dari pengukuran bersifat valid dan reliabel. 41 Sugiyono menyatakan bahwa instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data . bersifat valid. 42 Untuk memperoleh data yang valid dan reliabel, maka penelitian kuantitatif menguji instrumen penelitian dan penelitian kualitatif menguji data. Uji validitas menentukan seberapa akurat dan tepat suatu alat ukur . dapat menjalankan fungsi pengukurannya. 43 Maka peneliti akan mengadakan uji coba instrumen untuk melihat ketepatan instrumen. Uji validitas untuk dilakukan dengan metode korelasi Pearson, yang penghitungannya menggunakan alat bantu Statistical Product Service Solution (SPSS). Dari sana diperoleh rhitung untuk dibandingkan dengan rkriteria yang nilainya diperoleh dari tabel. AuSemakin besar nilai r hitung terhadap rkriteria, semakin tinggi pula ketepatan ramalan tes tersebutAy. Uji validitas instrumen dilakukan kepada dua puluh orang . responden dengan butir instrumen sebanyak 20 butir. Berdasarkan tabel nilai-nilai r-Product Momen pada taraf signifikansi 5%, dengan n = 20, ditetapkan r kriteria sebesar 0. Jika r hitung > r kriteria, maka soal valid. Jika r hitung < r kriteria, maka soal tidak valid. Hasil uji validitas instrumen adalah sebagai berikut: Tabel 3. Uji Validitas Instrumen Butir pernyataan R Ae hitung R Ae kriteria Status Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Sasmoko. Metode Penelitian Pengukuran Dan Analisa Data (Tangerang: HITS, 2. Sugiyono. Statistika Untuk Penelitian. Saifuddin Azwar. Reliabilitas Dan Validitas (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. Sasmoko. Metode Penelitian Pengukuran Dan Analisa Data. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 21 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Setelah dilakukan uji validitas untuk instrumen angket, diperoleh seluruh butir instrumen . Adapun koefisien reliabilitas instrumen dianalisa dengan menggunakan koefisien Alpha Cronbrach: . reliabilitas kurang dari 0. 6 adalah buruk. reliabilitas antara 0. 6 Ae 8 adalah dapat diterima. reliabilitas lebih dari 0. 8 adalah baik. 45 Koefisien reliabilitas instrumen dengan jumlah butir yang valid sejumlah 12 butir maka diperoleh indeks reliabilitas sebesar seperti pada tabel SPSS yang digunakan. Jika nilai Cronbach's Alpha lebih dari 0. 8 maka dapat dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian dari setiap variabel terbukti reliable. Tabel 4. Uji Reliabilitas Instrumen Case Processing Summary Cases Valid Excludeda Total Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items Tabel output SPSS di atas, yakni kolom bagian kiri menunjukkan tentang jumlah sampel atau responden yang dianalis adalah n = 20 orang. Karena tidak ada yang kosong . awaban responden terisi semu. , maka jumlah yang valid adalah 100%. Kolom sebelah kanan diterjemahkan sebagai berikut: n adalah jumlah butir pernyataan dalam angket. Nilai CronbachAos Alpha adalah 0. 906, sehingga sesuai dengan koefisiennya, reliabilitas lebih dari 0. 8 adalah baik. Jadi instrumen angket dikatakan valid dan reliable, sehingga dapat disebar sebagai angket penelitian. Pengolahan Data Karena variabel dalam penelitian ini ada satu, maka analisis data yang dikerjakan adalah mendeskripsikan data untuk variabel penelitian praksis Pendidikan Agama Kristen. Analisis statistika deskripsi digunakan untuk mendeskripsikan ciri-ciri variabel yang diteliti, yaitu mengetahui nilai skor minimum, skor maksimum, rentang . , rata-rata . , dan standar deviasi. Di bawah ini adalah tabel output SPSS untuk deskripsi data. Analisis statistika deskripsi digunakan untuk mendeskripsikan ciri-ciri variabel yang diteliti, yaitu mengetahui nilai skor minimum, skor maksimum, rentang . , rata-rata . , dan standar deviasi. Prayitno Dwi. Paham Analisa Statistik Data Dengan SPSS (Jakarta: Media Kom, 2. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 22 Tabel 5. Deskripsi Data Descriptive Statistics Range Praksis PAK Valid N . Minimum Maximum Mean Std. Deviation Data ini menunjukkan tanggapan responden penelitian sebanyak 39 orang yang telah mengisi angket penelitian. Tampilan tabel output SPSS menunjukkan jumlah responden . sebanyak 39 orang. Dari 39 responden, skor paling rendah adalah 84 . , skor paling tinggi adalah 99 . selisih antara nilai tertinggi dengan yang terendah adalah 15 . Rata-rata nilai responden adalah 91. dengan standar deviasi 3. Penarikan Kesimpulan Penarikan kesimpulan menggunakan norma kategorisasi sebagai berikut: Tabel 6. Norma Kategorisasi Kategori Kriteria Rendah X < M Ae 1SD Sedang M Ae 1SD < X < M 1SD Tinggi X Ou M 1SD Keterangan: X = Kriteria pengukuran M = Mean . ata-rat. SD = Standar Deviasi Setelah data penelitian dikumpulkan, akhirnya dapat ditarik kesimpulan penelitian. Untuk mengetahui tingkat praksis Pendidikan Agama Kristen di GEPKIN Kabupaten Langkat, perhitungannya diperoleh dari distribusi normal yang diperoleh dari mean dan standar deviasi. Hasilnya kemudian disajikan dalam tiga kategori, yaitu rendah, sedang dan tinggi. Penarikan kesimpulan penelitian diberikan lewat tabel berikut ini: Tabel 7. Distribusi Frekuensi Tanggapan Responden Kategori Kriteria Frekuensi Rendah X < M Ae 1SD X < 91. 82 Ae 3. X < 88. Sedang M Ae 1SD < X < M 1SD 617 < X < 91. 617 < X < 95. Tinggi X Ou M 1SD X Ou 95. Jumlah Persentase (%) Keterangan: Rata-rata nilai responden adalah 91. dengan standar deviasi Dari tabel di atas diperoleh hasil bahwa remaja yang menilai tingkat praksis PAK di gereja dengan kategori rendah sebesar 16% . kategori sedang sebesar 74% . dan kategori tinggi sebesar 10% . CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 23 Implikasi Teologis Praktis Beberapa ayat Alkitab relevan dengan pendidikan Kristen dalam gereja, seperti 1 Petrus 2:9-10 dan Efesus 4:11-16. Dalam tulisan Rasul Petrus dikatakan "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah " Selanjutnya Rasul Paulus dalam Surat Efesus menyatakan bahwa fungsi utama kepemimpinan dalam gereja adalah memperlengkapi semua orang kudus, yaitu setiap anggota jemaat, supaya mereka mampu dan memadai untuk melakukan pekerjaan Gereja lokal adalah perkumpulan pengikut atau murid Yesus secara lokal. Gereja lokal merupakan bagian dari Gereja Universal. Gereja lokal merupakan pusat ibadah dan tempat untuk bertemu dengan orang-orang yang seiman. Maka PAK dalam gereja lokal penting untuk membentuk spiritualitas peserta didik, baik jemaat remaja maupun masyarakat di sekitarnya. PAK juga dapat membantu gereja dalam menjawab tantangan dari dalam dan luar gereja. Dalam konteks pendidikan Kristen ketika mengajar, gereja sebagai pendidik sering kali menstandardisasi konten yang akan dipelajari, metode pembelajaran, media pembelajaran yang dipakai, dan model komunikasi. Keseragaman ini telah menghalangi setiap peserta didik untuk mengembangkan potensi intelektualnya, karena setiap siswa mempunyai kepribadian yang berbeda. Menurut Tari dan Hasihoran, pendidik bertanggung jawab atas perkembangan anak didiknya dalam melaksanakan tugasnya. 46 Lebih jauh lagi, para pendidik dituntut memiliki kemampuan untuk memutakhirkan kompetensi mengajarnya dan menyelenggarakan pendidikan secara komprehensif. Gereja perlu menyadari bahwa kecerdasan manusia memiliki banyak yang disebut kecerdasan ganda, yang dapat dikembangkan dan dioptimalkan oleh para pendidik. Menurut Nurul Rahmadani, pendidik perlu memahami berbagai kecerdasan untuk mengetahui minat belajar siswa. 47 Penerapan strategi pembelajaran berdasarkan kecerdasan majemuk diharapkan menolong peserta didik untuk menemukan potensinya. Para pelayan gereja sebagai tenaga pendidik, pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan dan keputusan pimpinan gereja harus dapat menampilkan mutu kerja dan kesetiaan kepada pimpinan gereja demi melaksanakan visi dan misi gereja, agar tercipta lingkungan pendidikan yang mendukung. Sumarni dkk menyebut. AuManajemen sekolah dan lingkungan sekolah yang mendukung mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kompetensi profesional pendidik. Ay48 Oleh karena itu, pimpinan gereja dan pendidik bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung yang membantu mencapai tujuan pendidikan di gereja. Komunikasi memainkan peran penting dalam pendidikan. Pelayan gereja sebagai pendidik komunitas remaja perlu membangun komunikasi yang baik dengan remaja . nak didi. dan orang tua mereka. Dalam proses pembelajaran, pendidik mengajar hanya beberapa jam dan kemudian peserta didik lebih banyak berkomunikasi dengan orang tua mereka di rumah. Di samping itu, komunikasi yang baik antara pendidik dan orang tua siswa memberikan kontribusi yang besar terhadap proses belajar mengajar anak didik di Komunikasi antara siswa dan orang tua biasanya berjalan di luar jam kebaktian gereja untuk mengetahui kemajuan belajar remaja, membahas perilakunya, dan membahas bagaimana kegiatan belajar mengajar selama ini dilaksanakan di gereja. Ezra Tari and R. Hasiholan Hutapea. AuPeran Guru Dalam Pengembangan Peserta Didik Di Era Digital,Ay Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi 1, no. : 1Ae13. Nurul Rahmadhani. AuUpaya Meningkatkan Minat Belajar IPS Melalui Strategi Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences Pada Siswa Kelas V,Ay Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar 7, no. 1847Ae1855. Ayu Nyoman Murniati N. Sumarni and Y. Yuliejantiningsih. AuPengaruh Peran Kepala Sekolah Dan Iklim Sekolah Terhadap Motivasi Kerja Guru Sekolah Dasar Negeri Di Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Semarang,Ay Jurnal Manajemen Pendidikan (JMP) 9, no. : 260Ae268. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 24 PENUTUP Di akhir penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa praksis Pendidikan Agama Kristen masyarakat di kalangan gen Z GEPKIN se-kabupaten Langkat ada dalam kategori sedang sebesar 74%. Peneliti menyarankan agar para pendidik di gereja dituntut memiliki kemampuan untuk memutakhirkan kompetensi mengajarnya dan menyelenggarakan pendidikan secara komprehensif. Penerapan strategi pembelajaran berdasarkan kecerdasan majemuk diharapkan menolong peserta didik untuk menemukan potensinya. Pimpinan gereja dan pendidik bekerja sama untuk menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung yang membantu mencapai tujuan pendidikan di gereja. Di samping itu, pelayan gereja sebagai pendidik komunitas remaja perlu membangun komunikasi yang baik dengan remaja . nak didi. dan orang tua mereka. REFERENSI