NAHIRU: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Ambon Vol. 1 No. : 44-61 e-ISSN 3109-3078 Submitted, 06 Maret 2025. Revised, 15 Mei 2025. Accepted, 14 Juni 2025. Published, 01 Agustus 2025 MENGGALI IMAMAT 5:5: RELEVANSI URGENSI PENYELESAIAN DOSA DALAM KEHIDUPAN KRISTEN ABAD 21 Joko Priyono Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Samarinda jokko0307@gmail. Abstract: Sin is the most fundamental problem in human life, as it destroys the relationship with God and has destructive spiritual and social consequences. In 21st-century Christianity, the urgency of sin resolution is increasingly neglected due to moral relativism and a theological crisis. This study aims to explore the meaning and urgency of sin resolution based on Leviticus 5:5 using a canonical exegetical method. The study employs historical, syntactical, contextual, and theological approaches to reveal the relevance of the text in light of ChristAos redemptive work. The findings show that the confession of sin and the act of restitution through offerings are key elements in reconciling humans with God. The sacrificial system in Leviticus serves as a typology of Christ's atonement, which offers the final solution to human sin. conclusion, sin resolution is not merely a legal demand but an urgent necessity for the church today to foster a holy, repentant, and reconciled Christian life. Key words: Leviticus 5:5. Sin Resolution. Canonical Exegesis. Holiness. Christ as Offering Abstrak: Dosa merupakan masalah paling fundamental dalam kehidupan manusia karena menghancurkan relasi dengan Allah dan membawa dampak destruktif secara spiritual maupun sosial. Dalam konteks kekristenan abad ke-21, urgensi penyelesaian dosa semakin terabaikan akibat relativisme moral dan krisis pemahaman teologis. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna dan urgensi penyelesaian dosa berdasarkan Imamat 5:5 melalui metode eksegesis kanonik. Penelitian ini memadukan pendekatan historis, sintaksis, kontekstual, dan teologis untuk menyingkap relevansi teks dalam terang karya penebusan Kristus. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengakuan dosa dan tindakan pemulihan melalui korban merupakan elemen kunci dalam pendamaian manusia dengan Allah. Korban dalam Imamat berfungsi sebagai tipologi dari pengorbanan Kristus, yang menjadi solusi final bagi dosa umat Kesimpulannya, penyelesaian dosa bukan hanya perintah hukum Taurat, tetapi juga kebutuhan mendesak bagi gereja masa kini untuk membentuk kehidupan Kristen yang kudus, bertobat, dan berdamai dengan Allah serta sesama. Kata-kata Kunci: Imamat 5:5. Penyelesaian Dosa. Eksegesis Kanonik. Kekudusan. Kristus sebagai Korban Copyright A2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license. Yabes. Prabowo PENDAHULUAN Pada era globalisasi yang ditandai dengan percepatan perubahan sosial, moralitas sering kali tereduksi menjadi sekadar relativisme nilai. Dunia kontemporer menyaksikan pergeseran paradigma etika yang signifikan, di mana dosa bukan lagi dipandang sebagai pelanggaran terhadap kehendak ilahi, tetapi sebagai konstruksi budaya yang dapat dinegosiasikan. Fenomena ini menimbulkan tantangan serius bagi tradisi iman Kristen dalam memaknai dan menyikapi dosa secara teologis dan Dalam perspektif teologis, dosa dipandang sebagai isu sentral yang mendasari seluruh permasalahan manusia. Lebih dari sekadar masalah ekonomi, pendidikan, atau sosial, dosa adalah akar dari keterpisahan manusia dari Allah. Alkitab menyatakan bahwa semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. Dosa ini memenjarakan manusia, mendorong mereka untuk condong pada kejahatan, seperti yang digambarkan dalam Kejadian 6:5. Akibatnya, manusia tidak dapat hidup selaras dengan sifat dan karakter Allah. Realitas keberadaan dosa memiliki dampak yang signifikan terhadap karakter dan kepribadian manusia, sehingga individu tidak dapat lagi hidup dalam kebenaran. Dosa telah mengubah seluruh tatanan kehidupan manusia, memengaruhi aspek-aspek seperti sejarah, misi, dan tujuan hidup. Menurut Lewy dan Tanhidy, konsekuensi dari dosa mencakup kerusakan hubungan antara manusia dengan Allah serta antara sesama manusia. Lebih jauh lagi, dampak paling fatal dari dosa adalah kematian, sebagaimana dinyatakan dalam Roma 6:23. 1 Hal ini menunjukkan bahwa dosa menjadi racun yang mematikan bagi kehidupan manusia. Dosa merupakan tindakan pemberontakan dan pelanggaran terhadap perintah-perintah Allah. Marantika mengatakan bahwa dosa bukan sekedar kesalahan ataupun kelemahan, bukan juga ketidaksempurnaan atau absennya kebaikan, melainkan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan hati Allah. 2 Namun, menurut manusia modern tindakan-tindakan iri hati, korupsi, dusta, benci dan sombong tidak dikategorikan sebagai dosa. 3 Dosa tidak lagi dipandang sebagai masalah yang sangat serius dan urgen untuk diselesaikan, mengingat konsep dosa sudah mulai memudar, mengalami penurunan nilai dan mulai kehilangan makna yang sebenarnya. Menurut Alistair McFadyen konsep dosa telah berubah menjadi sumber potensi yang memalukan bagi iman Kristen di dunia modern. 4 Pengertian dosa semakin kehilangan maknanya ketika dikaitkan dengan sex. Hal ini ditegaskan oleh pemimpin agama yang mengatakan bahwa LGBTQI bukanlah termasuk kategori 5 Pengajaran yang sehat dan Alkitabiah mengenai dosa yang disampaikan dari mimbar gereja, sering kali dipandang sebagai sesuatu yang usang, tidak relevan, dan kurang memiliki kejelasan Lewy & Jamin Tanhidy. AuPrinsip Hidup Menang Atas Dosa Menurut Rasul Paulus Dalam Roma 6,Ay Veritas Lux Mea: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 1, no. : 1Ae9. Chris Marantika. Doktrin Keselamatan Dan Kehidupan Rohani (Yogyakarta: Iman Press, 2. , 7. Lukito Daniel Lukas. Pudarnya Konsep Dosa. Literatur Saat Ini, vol. 59 (Malang: Literatur SAAT, 2. , 14. Alistair I McFadyen. Bound to Sin: Abuse. Holocaust, and the Christian Doctrine of Sin. Cambridge Studies in Christian Doctrine . 6 (Cambridge: Cambridge University Press, 2. , 4. Lukito Daniel Lukas. Pudarnya Konsep Dosa, 59:15. NAHIRU: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 1. 2025: 44-61 dalam fungsinya. 6 Bukti-bukti ini memperlihatkan adanya pergeseran konsep dosa dan realitas tentang fatalnya dosa. Dengan demikian, dosa benar-benar mengalami penurunan nilai dan diminimalkan sebagai kegagalan, kekurangan, salah asuh, kesalahan atau kekhilafan. Manusia modern tidak lagi memandang hukuman sebagai akibat dari dosa, tetapi mereka justru memandang dosa sebagai suatu kesalahan yang membutuhkan perawatan. Dunia saat ini telah secara terang-terangan dan diam-diam menolak konsep dosa yang biblikal, dan secara tidak langsung menolak urgensi dari penyelesaian dosa. Oleh sebab itu, gereja yang sejati harus menghadirkan pengajaran yang biblikal tentang dosa, sehingga banyak orang memiliki pemahaman yang tepat tentang urgensi penyelesaian dosa. Dalam kerangka inilah. Imamat 5:5 yang menekankan pentingnya pengakuan dosa sebelum kurban penghapus dosa dipersembahkan, menjadi teks yang sangat relevan untuk dibaca ulang dalam terang kehidupan Kristen abad ke-21. Kitab Imamat merupakan kitab yang menekankan kekudusan, sehingga setiap manusia yang hendak menghampiri Allah yang Kudus harus hidup kudus di hadapan Allah. Menurut Pasaribu kitab Imamat menjadi petunjuk yang mencakup tatacara ibadah, di mana sikap dan perbuatan harus dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Persekutuan antara manusia dengan Allah tidak 7 Tetapi dosa dapat merusak persekutuan manusia dengan Allah. Solusi yang diberikan untuk mendamaikan hubungan manusia dengan Allah adalah dengan memberikan persembahan korban hewan, di mana darah yang tercurah dapat memberikan pengampunan dosa serta mendamaikan kembali manusia dengan Allah. Penelitian sebelumnya telah mengkaji fungsi teologis ritus pengakuan dosa dalam Imamat 4Ae 5 dan relevansinya terhadap konsep pengampunan dalam Perjanjian Baru. Misalnya. Watts menegaskan bahwa Imamat 4Ae5 menjadi dasar bagi retorika pengampunan dalam surat-surat Ibrani dan karya Kristus sebagai kurban penghapus dosa. 8 Berbeda halnya dengan Ani Teguh Purwanto yang hanya menyoroti arti korban menurut kitab Imamat secara keseluruhan. 9 Sedangkan. Pangabean hanya menyoroti kontribusi kitab Imamat terhadap kekudusan gereja. 10 Dalam studi intertekstual. Onggosanusi menunjukkan bagaimana Paulus dalam Galatia dan Roma mereinterpretasi Leviticus 18:5 dan secara implisit juga prinsip dalam 5:5 untuk mendukung bahwa hukum bukan sekadar aturan tetapi perwujudan hidup dalam perjanjian baru dengan Kristus. Penjelasan di atas menunjukkan bahwa belum ada penelitian yang secara khusus membahas kitab Imamat 5:5 sebagai cerminan urgensi penyelesaian dosa. Oleh sebab itu, peneliti hendak James Betlby. AuPlantingaAos Model Warranted Christian Belief,Ay in Alvin Plantinga, ed. Deane Peter Baker (Cambridge: Cambridge University Press, 2. , 125. Irnawati Pasaribu. AuMakna Penting Kitab Taurat Bagi Gereja,Ay Persistor: Jurnal Kajian Ilmiah Teologi 1, 1 . : 38Ae48. James W. Watts. AuThe Rhetoric of Sin. Guilt, and Ritual Offerings,Ay in Ritual and Rhetoric in Leviticus (Cambridge University Press, 2. , 79Ae96, https://doi. org/10. 1017/CBO9780511499159. Ani Teguh Purwanto. AuArti Korban Menurut Kitab Imamat,Ay Journal Kerusso 2, no. 2 (September 5, 2. : 8Ae14, https://doi. org/10. 33856/kerusso. Lenny Susi Rumona Panggabean. AuKontribusi Kitab Imamat Terhadap Kekudusan Gereja,Ay Kerugma: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 5, no. : 30Ae40, https://doi. org/https://doi. org/10. 2500/kerugma. Eko Nugroho Onggosanusi. AuThe Living Tradition of Living in the Law,Ay Indonesian Journal of Theology 4, no. 1 (June 29, 2. : 100Ae126, https://doi. org/10. 46567/ijt. Yabes. Prabowo memaparkan urgensi penyelesaian dosa menurut kitab Imamat 5:5 melalui metode eksegesis. Penelitian ini adalah hendak menunjukkan bahwa dosa adalah masalah terbesar dalam kehidupan manusia yang harus segera diselesaikan. Adapun pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah Apa urgensi penyelesaian dosa menurut Imamat 5:5? METODE Penelitian ini dikategorikan sebagai studi Aukualitatif biblikaAy yang berbasis pada studi pustaka . ibrary researc. Pendekatan ini, sebagaimana dijelaskan oleh Subagyo, mencakup dua komponen utama: kajian eksegesis dan kajian Alkitab. 12 Kajian eksegesis bertujuan untuk menginterpretasi makna inheren dalam teks biblika. Sementara itu, kajian Alkitab berfokus pada investigasi Alkitab dan bagian-bagian konstituennya sebagai entitas tekstual. Pendekatan yang penulis pakai adalah pendekatan kanonik, di mana pendekatan ini memandang bahwa Alkitab adalah satu kesatuan yang utuh untuk membangun teologi yang Alkitabiah. Penulis menggunakan teks Biblia Hebraica Stuttgartensia atau BHS untuk menggali dan mendalami urgensi penyelesaian dosa dalam kitab Imamat 5:5. Penulis juga akan membandingkan teks tersebut dengan kitab LXX atau Septuaginta. Adapun langkah-langkah untuk menemukan makna teks Imamat 5:5 sebagai cerminan urgensi penyelesaian dosa adalah sebagai berikut: . Analisis Historis. Analisis Tulisan. Analisis Kontekstual. Analisis Eksegetikal untuk menggali makna teks tentang urgensi penyelesaian dosa menurut Imamat 5:5. Analisis Teologis. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Historis Penulis Kitab Imamat tidak diidentifikasi secara eksplisit dalam teks itu sendiri. Meskipun demikian, frasa AuTuhan berfirman kepada MusaAy muncul lebih dari dua puluh lima kali dalam naskah tersebut, dengan setidaknya satu kemunculan di setiap pasal, kecuali pada pasal 2, 3, 9, 10, dan 26. Schnittjer dan Dennis Green berpendapat bahwa kitab Imamat merupakan salah satu kitab yang ditulis oleh Musa, dengan peraturan-peraturan yang dicatat secara teliti. 13 Dalam Injil. Yesus merujuk pada sejumlah bagian dari Kitab Imamat dan mengaitkannya dengan sosok Musa, seperti yang tercatat dalam Markus 1:44. Selain itu. Rasul Paulus juga mengutip teks dari kitab ini, menyatakan. AuSebab Musa menulis . Ay yang dapat ditemukan dalam Roma 10:5. Hal ini menunjukkan bahwa baik Yesus maupun Paulus mengakui otoritas Kitab Imamat dan peran penting Musa sebagai penulis dan penyampai hukum dalam konteks ajaran Kristen. Andreas B. Subagyo. Pengantar Riset Kuantitatif Dan Kualitatif: Termasuk Riset Teologi Dan Keagamaan (Bandung: Kalam Hidup, 2. Seymour Feldman. The Torah. Gersonides (Malang: Gandum Mas, 2. , 305, https://doi. org/10. 3828/liverpool/9781904113447. Denis Green. Pembimbing Pada Pengenalan Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2. , 56. NAHIRU: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 1. 2025: 44-61 Penerima kitab ini khususnya ditujukan kepada para imam dan bangsa Israel mengenai pengajaran dan tanggung jawab, setelah Allah berkenan diam di tengah-tengah umat-Nya. Lasor menyatakan bahwa setiap orang adalah imam dengan Allah sebagai Rajanya. 15 Sedangkan, kepenulisan Kitab Imamat dapat ditelusuri melalui dua kemungkinan penanggalan: pertama, jika peristiwa Keluaran umat Ibrani ditetapkan sekitar abad ke-15 SM, maka Musa atau juru tulisnya mencatat undang-undang tersebut selama Zaman Perunggu Akhir, terkait dengan dinasti ke-18 Mesir. Kedua, jika peristiwa Keluaran diperkirakan terjadi pada abad ke-13 SM, maka hukum-hukum imamat mungkin ditulis pada masa transisi ke Zaman Besi Awal, bertepatan dengan pemerintahan Ramses II. 16 Wahyu yang diterima Musa dari Yahweh, yang tercantum dalam Kitab Imamat, berlangsung di "Kemah Pertemuan" dan di Gunung Sinai selama sebelas bulan setelah keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Secara struktur sosial, kebiasaan, dan adat istiadat masyarakat Israel dapat dijelaskan sebagai berikut: Perkawinan perempuan Israel umumnya dilakukan pada usia yang relatif muda, sehingga mereka sering kali menjadi ibu di usia dini dan menyusui anak-anak mereka dalam jangka waktu yang lama, biasanya hingga usia dua atau tiga tahun. Selain itu, mereka cenderung memiliki keluarga yang besar, sebagaimana tercermin dalam Mazmur 127:4-5. 17 Kondisi ini jelas berbeda dengan praktik yang umum di zaman modern. Dalam konteks perkawinan. Allah telah menetapkan monogami sebagai bentuk perkawinan yang ideal, yaitu perkawinan antara seorang pria dan satu Namun, masyarakat Israel juga mengizinkan praktik poligami, di mana seorang pria dapat memiliki lebih dari satu istri, dengan ketentuan hukum tertentu yang bertujuan untuk mencegah terjadinya ketidakadilan . Ul. 21:15-. Dalam hukum yang diatur dalam Kitab Imamat, individu yang terlibat dalam perzinahan dikenakan hukuman (Im. , sementara perceraian diizinkan karena "kekerasan hati" (Mat. , dengan perempuan yang dicerai diperbolehkan menikah kembali dengan mantan suaminya (Ul. 24:1-. Anak perempuan ahli waris hanya dapat menikah dengan pria dari suku bapaknya (Bil. , dan pernikahan campur dengan perempuan Kanaan dilarang (Ul. Terkait perbudakan, orang Israel dapat memiliki budak asing, baik yang ditawan dalam peperangan maupun yang dibeli, dan budak tidak boleh dibunuh oleh tuannya. jika terluka parah, ia harus dibebaskan. Budak Israel yang menjual diri karena hutang akan dibebaskan pada tahun sabat, tetapi jika memilih untuk tetap menjadi budak, telinganya harus ditindik sebagai tanda permanen (Kel. 21:4-6. Ul. 15:16-. Sementara dalam hal berpakaian, pakaian orang Israel terdiri dari baju dalam yang panjangnya sampai ke lutut. Bagian luar dikenakan lagi baju luar, yang harus berumbai sebagai tanda peringatan akan segala sesuatu yang telah difirmankan Allah (Bil. 15:38-. Green. Pembimbing Pada Pengenalan Perjanjian Lama, 56. Bush D. Hubbard. Lasor. Pengantar Perjnjian Lama 1: Taurat & Sejarah (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 214. Andrew E. Hill & John H. Walton. Survei Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2. , 126. JANE MARIA FURGHESTTI LIMA. The Book of Zechariah: The New International Commentary on the Old Testament. Atualidade Teolygica, vol. 2017 (Grand Rapids: Eerdmands, 2. , 224, https://doi. org/10. 17771/pucrio. Bakker. Sejarah Kerajan Allah 1: Perjanjian Lama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 385. Bakker, 385Ae88. Yabes. Prabowo Dalam konteks Timur Dekat kuno, masyarakat Ibrani melaksanakan upacara penyucian dan pengorbanan hewan sebagai bagian integral dari praktik keagamaan mereka, di mana para imam yang terorganisir bertanggung jawab atas pengelolaan tempat ibadah. Praktik pembasuhan dan pengudusan sebelum ibadah mencerminkan tradisi yang telah ada dalam agama-agama Mesopotamia dan Mesir, sementara agama Kanaan juga mencakup praktik kurban pendamaian dan kurban bakaran yang serupa dengan yang dilakukan oleh umat Ibrani. 20 Meskipun terdapat persamaan dalam struktur keimaman dan bentuk upacara keagamaan, terdapat pula perbedaan signifikan antara agama Ibrani dan agama-agama lain yang berkembang di Timur Dekat kuno. Perbedaan-perbedaan tersebut meliputi: . Gagasan wahyu ilahi dan teofani secara langsung. Konsep monotheisme yang ketat. Pemahaman mengenai pengaruh dari dosa manusia. Sifat etis dan moral yang tinggi dari agama Ibrani yang berlawanan dengan pemujaan dewa-dewi kesuburan dari bangsa Kanaan. Hakikat yang kudus serta benar dari Yahweh dibandingkan dengan kelakukan yang berubah-ubah dari ilah-ilah kafir. Tambahan lagi, banyak agama lain mempraktikkan kurban manusia. Analisis Tulisan Genre Kitab Imamat Genre Kitab Imamat adalah Hukum. Genre hukum dapat dikategorikan menjadi dua sub-genre Sub-genre pertama dikenal sebagai hukum kasuistik, sedangkan sub-genre kedua sering disebut sebagai hukum apodiktik. Namun dalam konteks Imamat 5:5 merupakan hukum kasuistik, di mana hukum kasuistik ini dapat diidentifikasi melalui struktur tata bahasa yang khas, yaitu pola Aujika. maka,Ay serta penggunaan kata ganti ketiga yang bersifat impersonal. Klausa AujikaAy merujuk pada situasi atau kasus yang sedang dibahas, sedangkan klausa AumakaAy menjelaskan sanksi hukum yang dikenakan atas pelanggaran yang terjadi. Jenis hukum ini dapat ditemukan dalam Kitab Keluaran 21 dan Ulangan 24:10. Dalam konteks isinya, hukum kasuistik dalam Perjanjian Lama lebih banyak mencakup kasus-kasus sipil atau kriminal dibandingkan dengan kasus-kasus yang bersifat Patrick lebih lanjut mengelompokkan hukum kasuistik menjadi hukum remedial, yang menetapkan solusi hukum bagi pelanggaran, dan hukum primer, yang menentukan hak dan kewajiban dalam hubungan hukum . ihat Kel. 22 Secara tata bahasa hukum kasuistik ini lebih Walton. Survei Perjanjian Lama, 129Ae30. Bottero. Religion in Acient Mesopotamia ((Chicago: Univ. of Chicago Press, 2. Susan Tower Hollis. Jan Assmann, and David Lorton. The Search for God in Ancient Egypt. Journal of the American Research Center in Egypt, vol. 39 (Ithaca: Cornell Univ. Press, 2. , https://doi. org/10. 2307/40001164. Hess. Israelite Religions (Grand Rapids: Baker, 2. John H. Walton. Ancient Near Eastern Thought and the Old Testament. Baker Academic, vol. 4 (Grand Rapids: Baker, 2. Dale Patrick. AuCasuistic Law Governing Primary Rights and Duties,Ay in Journal of Biblical Literature, 92 (JBL 92, 1. , 180Ae84, https://doi. org/10. 2307/3262951. NAHIRU: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 1. 2025: 44-61 kompleks dan mempunyai kata-kata yang lebih banyak dibandingkan hukum apodiktik. 23 Oleh sebab itu. PL menata semuanya itu, bukan dalam rangkaian, namun dalam Aukelompok-kelompok topicalAy. Tujuan Penulisan Kitab Kitab Imamat disusun dengan tujuan untuk mengedukasi bangsa Israel dan para imam tentang cara mendekati Allah melalui pengorbanan darah yang membawa pendamaian, serta untuk menjelaskan norma-norma kehidupan yang kudus yang telah ditetapkan oleh Allah bagi umat pilihan-Nya. Lasor menyatakan bahwa sebelum Israel berhadapan dengan kebiasaan-kebiasaan ibadat orang Kanaan. Allah memberikan rincian tentang ibadat untuk menyembah Allah dengan cara-cara yang benar, di mana peraturan-peraturan itu termuat dalam kitab Imamat. 24 Jeane merangkum menjadi dua tujuan yaitu: Pertama, bagaimana menyembah dan berjalan bersama Allah. Kedua, bagaimana bangsa telah memenuhi panggilannya sebagai sebuah bangsa para 25 Dennis Green mengemukakan bahwa tujuan utama dari kitab Imamat adalah untuk menjelaskan hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang diwajibkan sebagai pedoman hidup bagi bangsa Israel sebagai umat Allah. 26 Selain itu. Green menambahkan bahwa peraturan-peraturan ini berkaitan dengan pengasingan dan penyucian dari dosa serta kenajisan, sehingga peraturan mengenai korban menjadi fokus utama dalam kitab ini. Hill dan Walton memberikan pandangan bahwa Kitab Imamat pada dasarnya berfungsi sebagai panduan mengenai kekudusan, yang dirancang untuk memberikan arahan kepada masyarakat perjanjian dalam hal penyembahan yang suci dan kehidupan yang kudus. Dengan demikian, umat-Nya dapat merasakan kehadiran dan berkat Allah . ihat Im. 26:1-. 28 Berbagai hukum dan instruksi yang disampaikan bertujuan untuk mengubah mantan budak Ibrani menjadi sebuah kerajaan iman dan bangsa yang kudus . ihat Kel. 29 Secara ringkas, dapat disimpulkan bahwa tujuan utama Kitab Imamat tercermin dalam perintah. Auharuslah kamu kudus, sebab Aku ini Ay (Im. 11:44-. Anlisis Sintaksis (Gramatika. Sintaks dan Terjemaha. Analisis sintaksis dari teks ini akan digambarkan bersama dengan terjemahan dan ditunjukkan dalam Augaris besar eksegesisAy, sekalipun masih ada banyak pembahasan dalam buku-buku tafsiran mengenai kritik teks, dan perkembangan diakronik, tetapi penulis akan berfokus pada teks dalam bentuk akhir. BHS Leviticus 5:5 Robert L. Hubbard. Jr. William W. Klein. Craig L. Blomberg. Introduction to Biblical Interpretation: Pengantar Tafsiran Alkitab (Malang: Literatur SAAT, 2. , 235. Hubbard. Lasor. Pengantar Perjnjian Lama 1: Taurat & Sejarah, 213. Jeane Ch. Obadja. Survei Ringkas Perjanjian Lama (Surabaya: Momentum, 2. , 13. Green. Pembimbing Pada Pengenalan Perjanjian Lama, 57. Green, 57. Walton. Survei Perjanjian Lama, 131. Walton, 131. Yabes. Prabowo AoiEA A i ioui uoo a nAy u a A A cAa ui i oi i iei a u nAoa uABHS Leviticus 5:5 A i = i i ouiApartikel penghubung A ioiAkata kerja Qal waw konsekutif perfect, orang ketiga masculine tunggal yang berarti: AuDan ia akan jadiAAy / AuDan ia akan aday. AyA uo = uoo a nAyAparticle conjunction homonym 2 yang menunjuk pada hubungan kausal, di mana artinya: AuKetika, karena. Ay A ayAverb qal imperfect 3rd person masculine singular yang berarti: AuKetika ia akan menjadi bersalah. Ay. Au = u a A particle preposition yang berarti: Audi dalam. Ay. A a eAnumeral cardinal feminine singular absolute yang berarti: Ausatu. Ay. A = A A cAa uiAparticle preposition yang berarti: Audari. Ay A Aa uiAadjective both plural absolute yang berarti: Auini. Ay. A i = i oi i ieiAparticle conjunction yang berarti: Audan. Ay A oeiAverb hithpael waw consec perfect 3rd person masculine singular homonym 2 yang berarti: Audan ia akan mengaku diri sendiri. Ay. A a = a uAparticle relative yang berarti: Auyang, di mana. Ay. A oa = nAoaAverb qal perfect 3rd person masculine singular yang berarti: Auia telah berdosa. Ay. AoiEA A u = uAparticle preposition suffix 3rd person feminine singular homonym 2 yang berarti: Audi atasnyay Terjemahan Literal: Audan itu akan terjadi ketika ia menjadi bersalah atas salah satu dari ini, dan ia akan mengakui yang ia telah berdosa atasnyaAy. Terjemahan Penulis: AuJadi, ketika ia menjadi bersalah atas salah satu dari perkara-perkara ini, ia harus mengakui dosa yang telah diperbuatnya itu,Ay. Terjemahan ITB: AuJadi apabila ia bersalah dalam salah satu perkara itu, haruslah ia mengakui dosa yang telah diperbuatnya itu,Ay. Ayat di atas tidak bisa berdiri sendiri tanpa serangkaian ayat 1-6. Apabila dilihat dari ciri-cirinya ayat di atas tergolong dalam genre hukum kasuistik. Hal ini terlihat dari struktur tata bahasanya yang khas. Auapabila A. makaAy, serta pemakaian kata ganti ketiga impersonal di didalamnya. Klausa AuapabilaAy menggambarkan kasus yang dibahas, klausa AumakaAy menggambarkan hukuman legal bagi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan . Im. 5:1-. Frase Audan itu akan terjadi ketika ia menjadi bersalah atas salah satu dari ini,AAy mengacu pada salah satu dari kemungkinan pelanggaran dalam Imamat. 5:1-4. Dalam terjemahan Septuaginta klausa AAu Aa uiAiniAy dihilangkan. Hal ini dapat terlihat dari teks berikut. BGT Leviticus 5:5 aEA E AAE a AEA E aEIC. Kemungkinan hal ini ditiadakan karena klausa AuiniAy sudah diulang dalam ayat 4-5a. Garis Besar Eksegesis Secara Utuh Kasus-kasus Perbuatan Dosa (Im. 5:1-. Bagian pertama dari Imamat 5:1Ae4 menunjukkan betapa rentannya manusia terhadap dosa, bahkan dalam hal-hal yang tampaknya sepele atau tidak disadari. Tuhan menetapkan beberapa contoh konkret sebagai bentuk pengajaran hukum-Nya: seseorang yang mengetahui sumpah palsu tetapi enggan bersaksi. seseorang yang secara tidak sengaja menyentuh sesuatu yang najis. orang yang sembarangan bersumpah tanpa sadar. Dalam semua situasi ini, satu tema besar muncul: ketidaksadaran tidak membebaskan dari kesalahan. Dosa, baik yang disengaja maupun NAHIRU: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 1. 2025: 44-61 tidak disengaja, tetap diperhitungkan di hadapan Allah. Ini menunjukkan betapa seriusnya standar kekudusan dalam relasi umat dengan Tuhan, bahkan menyentuh dimensi sosial, ritual, dan moral. Penyelesaian Kasus-kasus Perbuatan Dosa (Im. 5:5-6. Ketika seseorang menyadari bahwa ia bersalah atas salah satu pelanggaran tersebut, respons yang dikehendaki Allah adalah pengakuan dosa secara pribadi dan tindakan pemulihan melalui Dalam konteks ini. Allah tidak hanya menuntut kesadaran moral, tetapi juga pertobatan yang diwujudkan secara ritual, yaitu mempersembahkan korban sebagai tebusan salah. Ini menunjukkan bahwa pengampunan tidak datang secara otomatis, melainkan membutuhkan pengakuan dan ketaatan pada jalan pemulihan yang ditetapkan oleh Allah sendiri. Hasil Penyelesaian Kasus-kasus Perbuatan Dosa (Im. 5:6. Sebagai respons atas pengakuan dan persembahan korban, imam menjalankan peran mediasi, yaitu mengadakan pendamaian bagi orang yang berdosa. Melalui tindakan imam tersebut, dosa itu dihapus dan hubungan yang rusak antara manusia dan Allah dipulihkan. Ini memperlihatkan karakter Allah yang adil sekaligus penuh kasih: Allah tidak membiarkan dosa tanpa tanggapan, tetapi Ia juga menyediakan jalan pengampunan melalui sistem korban yang akhirnya menunjuk kepada karya penebusan Kristus di Perjanjian Baru. Analisis Kontekstual Konteks Sebelum (Im. 4:1 Ae 5:. Bagian ini membahas tentang korban penghapus dosa, yaitu korban yang harus dipersembahkan apabila seseorang melakukan dosa yang tidak disengaja . Im. 4:2, 13, 22, . Korban ini juga dikenal sebagai korban pemurnian, karena bertujuan untuk memulihkan keadaan seseorang yang telah tercemar oleh dosa. Dalam peraturan yang diuraikan dalam teks ini, bobot kesalahan seseorang berbanding lurus dengan statusnya dalam komunitas. Dengan kata lain, semakin tinggi kedudukan seseorangAiseperti imam atau pemimpinAimaka semakin besar pula tuntutan korban yang harus dipersembahkan untuk penghapusannya. Hal ini menegaskan bahwa kepemimpinan rohani memiliki tanggung jawab yang lebih besar di hadapan Tuhan dan komunitas. Konteks Sesudah (Im. 5:14 Ae 6:. Pada bagian ini, fokus utama adalah korban penebus salah, yang dipersembahkan apabila seseorang melakukan pelanggaran terhadap sesuatu yang dikuduskan bagi Tuhan . Im. 5:14-. Bentuk dosa dalam konteks ini bukan hanya berupa pelanggaran ritual, tetapi juga mencakup tindakan mengambil sesuatu yang telah ditetapkan sebagai milik Tuhan atau hak orang lain. Secara khusus, dosa ini dapat dipahami sebagai tindakan mencuri dari Tuhan, sehingga konsekuensi yang diberikan bukan hanya berupa persembahan korban, tetapi juga pembayaran denda sebagai bentuk pemulihan keadilan. Oleh karena itu, korban penebus salah sering disebut sebagai korban perbaikan, karena mencakup dua aspek pemulihan: pemulihan dosa terhadap Tuhan (Im. 5:14-. pemulihan dosa terhadap sesama manusia (Im. 6:1-. Hubungan Intertekstual antara Imamat 4:1 Ae 5:13 dengan Imamat 5:14 Ae 6:7. Baik korban penghapus dosa maupun korban penebus salah memiliki tujuan yang sama, yaitu memulihkan Yabes. Prabowo hubungan yang rusak akibat ketidaktaatan seseorang terhadap Tuhan. Dalam konteks perjanjian antara Tuhan dan umat Israel, dosa dipahami sebagai suatu bentuk pelanggaran terhadap hubungan kovenantal antara seorang hamba dan tuannya. Oleh karena itu, kedua jenis korban ini bertindak sebagai ganti rugi, baik kepada Tuhan yang telah dihina melalui ketidaktaatan maupun kepada sesama yang dirugikan akibat tindakan dosa tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa dalam sistem keimaman Israel, pemulihan hubungan dengan Tuhan tidak dapat dilepaskan dari pemulihan hubungan dengan sesama manusia, sebab ketidaktaatan kepada Tuhan selalu membawa dampak sosial dalam kehidupan komunitas perjanjian. Analisis Eksegetikal Kasus-Kasus Perbuatan Dosa dalam Imamat 5:1-4 Dalam Imamat 5:1-4, penulis kitab Imamat mengidentifikasi sejumlah kasus perbuatan dosa yang memiliki pola serupa. Pola ini menunjukkan bahwa dosa yang dilakukan tidak disadari pada awalnya, tetapi seiring berjalannya waktu dan meningkatnya kesadaran, seseorang akhirnya memahami bahwa ia telah bersalah. Dengan demikian, karena waktu telah berlalu dan situasi awal tidak ditangani dengan benar, individu yang bersangkutan kini berada dalam kondisi bersalah dan harus menjalani prosedur pengorbanan penghapus salah sebagaimana ditetapkan dalam hukum Taurat. Struktur teks ini menggarisbawahi adanya perkembangan dalam tingkat kesalahan yang Hal ini terlihat melalui frasa-frasa yang digunakan dalam ayat-ayat tersebut. Sebagai contoh, dalam ayat 1, frasa "tetapi ia tidak mau memberi keterangan" mengindikasikan suatu tindakan kesengajaan dalam menahan informasi yang seharusnya disampaikan. Sementara itu, dalam ayat 2-4, frasa "tanpa menyadari hal itu" muncul sebanyak tiga kali, menunjukkan bahwa dosa-dosa ini awalnya terjadi dalam keadaan tidak disengaja. Namun, pada ayat 3 dan 4, frasa "tetapi kemudian ia mengetahuinya" muncul sebanyak dua kali, menandakan bahwa kesadaran akan dosa tersebut akhirnya muncul di kemudian waktu. Pola ini mengindikasikan adanya eskalasi dalam tingkat kesalahan dan kelalaian, di mana seseorang semakin lama semakin menyadari kesalahannya, tetapi tetap membiarkan dosa tersebut berlangsung tanpa tindakan perbaikan yang Secara terminologis, kata AudosaAy dalam teks ini berasal dari kata Ibrani A( oaAchataA. , yang memiliki makna dasar Aupelanggaran yang menyebabkan rasa bersalah. Ay Konsep ini menekankan bahwa dosa bukan hanya sekadar tindakan yang melanggar hukum Allah, tetapi juga membawa dampak moral dan spiritual yang mengharuskan individu bertanggung jawab atas pelanggarannya. Dalam Imamat 5:1-4, terdapat empat bentuk dosa yang dikategorikan, yaitu: Pertama, pelanggaran terhadap kewajiban memberikan kesaksian (Im. Seseorang yang mengetahui suatu perkara atau menyaksikan seseorang mengutuk, tetapi menolak untuk memberikan kesaksian, dianggap telah melakukan dosa. Hal ini menegaskan bahwa dalam sistem hukum Israel, keadilan bersifat kolektif, dan setiap individu memiliki tanggung jawab moral NAHIRU: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 1. 2025: 44-61 untuk menegakkan kebenaran. Dengan menahan informasi, seseorang secara tidak langsung berpartisipasi dalam ketidakbenaran dan harus menanggung konsekuensinya. Kedua, kontak dengan sesuatu yang najis secara tidak disengaja (Im. Seseorang yang tanpa sadar menyentuh bangkai binatang najisAibaik binatang liar, hewan ternak, maupun binatang yang mengeriap menjadi najis menurut hukum Taurat. Kenajisan ini bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga membawa dampak ritus dan moral, karena mengganggu status kesucian seseorang dalam komunitas perjanjian. Ketiga, kenajisan yang berasal dari manusia (Im. Bentuk dosa ini mencakup kontak dengan kenajisan manusia, seperti cairan tubuh atau penyakit yang menyebabkan ketidaktahiran. Awalnya, seseorang mungkin tidak menyadari bahwa dirinya telah terkena kenajisan ini, tetapi ketika akhirnya ia menyadari hal tersebut, maka ia bertanggung jawab untuk menjalani prosedur pentahiran sebagaimana yang telah ditetapkan. Keempat, sumpah yang diucapkan secara teledor (Im. Dosa ini terjadi ketika seseorang mengucapkan sumpah dengan tidak berpikir matang, baik untuk melakukan sesuatu yang baik maupun yang buruk. Sumpah yang tidak dipenuhi atau diucapkan secara sembarangan dianggap sebagai kesalahan yang memerlukan pertanggungjawaban. Kesalahan ini pada awalnya mungkin tidak disadari, tetapi setelah seseorang menyadarinya, ia tetap harus menjalani prosedur penghapusan kesalahan. Dari keempat kategori dosa ini, terlihat adanya gradualitas dalam tingkat kesalahan. Mulanya, seseorang dapat berdosa dengan menahan informasi . osa pasi. , kemudian meningkat menjadi dosa yang melibatkan ketidaktahiran . osa ritu. , dan akhirnya mencapai dosa yang berkaitan dengan perkataan yang tidak bertanggung jawab . osa verba. Keseluruhan struktur ini mengajarkan bahwa dalam hukum Taurat, dosa bukan hanya dinilai dari dampaknya terhadap individu, tetapi juga terhadap komunitas dan hubungan seseorang dengan Tuhan. Oleh karena itu, pemulihan melalui pengorbanan tidak hanya berfungsi untuk mendamaikan individu dengan Allah, tetapi juga memulihkan tatanan sosial dan spiritual dalam komunitas perjanjian. Alkitab menjelaskan perbuatan dosa-dosa di atas, dengan diawali klausa AuapabilaAy yang menjelaskan kasus-kasus yang dibahas. Sementara setelah kasus dijelaskan di awal kalimat, klausa AumakaAy mengakhiri kalimat untuk menggambarkan akibat dari pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan . Im. 5:1-. Akibat yang ditanggung oleh seseorang yang melanggar adalah: . Bagi dosa pertama akibatnya yakni Auharus menanggung kesalahannya sendiri. Ay. Bagi dosa kedua akibatnya yakni Aumenjadi najis dan bersalahAAy. Bagi dosa ketiga akibatnya yakni Aubersalah. Ay. Bagi dosa keempat akibatnya yakni Aubersalah dalam salah satu perkara ituAAy Dari keempat ayat di atas konsekuensi atau hukuman dari dosa yang dilakukan adalah harus menanggung kesalahannya . , menjadi najis . , dan bersalah . Dalam konteks ini kata Aurasa bersalah atau Aa yA . , muncul tiga kali, di mana hukuman ini merupakan hukuman yang serius dan mengacu pada AuhukumanAy untuk menimbulkan rasa bersalah, yang disebut konsekuensi. Penyelesaian Kasus-kasus Perbuatan Dosa (Im. 5:5-6. Bagian ini menjelaskan prosedur penyelesaian bagi individu yang telah melakukan dosa sebagaimana tercantum dalam Imamat 5:1-4. Penyelesaian tersebut mencakup dua langkah utama. Yabes. Prabowo yaitu pengakuan dosa dan penyajian korban penghapus dosa kepada Tuhan. Langkah pertama adalah pengakuan dosa yang telah diperbuat. Dalam teks Ibrani, frasa yang secara literal berbunyi "ia akan mengakui yang ia telah berdosa atasnya" diterjemahkan dalam berbagai versi Alkitab dengan nuansa yang berbeda. American Standard Version (ASV) menerjemahkannya sebagai "mengakui di mana dia berbuat dosa", yang menekankan aspek spesifik dari dosa yang dilakukan. New Century Version (NCV) menyatakan ". harus menceritakan bagaimana dia berdosa", yang mengindikasikan bahwa pengakuan dosa harus bersifat deskriptif. Sementara itu. New International Version (NIV) menuliskannya sebagai ". mereka harus mengakui dengan cara apa mereka telah berdosa", yang menunjukkan pentingnya menjelaskan metode atau bentuk kesalahan. New Living Translation (NLT) menyederhanakannya dengan terjemahan ". anda harus mengakui dosa anda", yang lebih bersifat langsung dalam menegaskan kewajiban untuk mengakui dosa tersebut. Dari berbagai terjemahan ini, dapat disimpulkan bahwa pengakuan dosa tidak hanya sekadar menyadari kesalahan, tetapi juga harus diungkapkan dengan jelas dan spesifik. Pengakuan ini bukan sekadar formalitas, melainkan suatu tindakan pertanggungjawaban yang menjadi dasar bagi langkah selanjutnya dalam proses pendamaian. Setelah mengakui kesalahannya, seseorang diwajibkan untuk mempersembahkan korban penghapus dosa kepada Tuhan. Imamat 5:6 secara literal menyatakan. AuPersembahan kesalahannya juga harus dipersembahkannya kepada TUHAN karena dosanya yang telah dilakukannya, seekor betina dari kawanannya, seekor domba atau kambing sebagai korban penghapus dosa. Jadi imam harus membuat penebusan atas namanya atas dosanya. AyTerjemahan Indonesian Terjemahan Baru (ITB) juga menegaskan bahwa korban ini harus berupa seekor domba atau kambing betina yang berfungsi sebagai korban penghapus dosa. Selain itu, ayat ini juga menyoroti peran imam dalam proses pendamaian, di mana imam bertindak sebagai perantara antara manusia dan Tuhan, memastikan bahwa dosa yang telah diakui mendapatkan penebusan yang sah dalam sistem hukum perjanjian. Dalam konteks ini kata Aurasa bersalah atau A( a yAasha. , mengacu pada AuhukumanAy untuk menimbulkan rasa bersalah, yang disebut konsekuensi. Jadi, pengakuan dosa dan mempersembahkan korban kepada Allah akan membebaskan seseorang dari rasa bersalah. Hal ini tercermin dalam kalimat AuDengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanyaAy. Dengan demikian, penyelesaian dosa dalam hukum Taurat bukan hanya bersifat simbolis, tetapi juga memiliki aspek moral dan liturgis yang menegaskan pentingnya pertanggungjawaban individu di hadapan Tuhan. Dua langkah pengakuan dosa dan penyajian korban penghapus dosa menunjukkan bahwa pemulihan hubungan dengan Tuhan tidak hanya membutuhkan kesadaran akan dosa, tetapi juga tindakan nyata dalam bentuk korban sebagai ungkapan pertobatan dan Hasil Penyelesaian Kasus-kasus Perbuatan Dosa (Im. 5:6. NAHIRU: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 1. 2025: 44-61 Kata AupendamaianAy ini berasal dari kata A( i u uAwekipe. dari kata dasar A( uAkapha. verb piel waw consec perfect 3rd person masculine singular yang berarti: Aumenutupi, menebus, dan Ay Ide dari kata ini adalah dengan adanya korban, maka Tuhan menutupi dosa dan mengampuni, sehingga murka Allah tidak ditimpakan pada orang yang melakukan korban. Hal ini bisa dikatakan sebagai pemulihan hubungan . ekonsiliasi antara orang berdosa dengan TUHAN yang Kudu. Orang tidak harus membayar denda kepada Tuhan atau kepada orang lain bersama dengan korban penghapus dosa. Sebabnya ialah karena mereka tidak mengambil sesuatu dari TUHAN atau orang lain, tetapi hanya menajiskan sesuatu. Schnittjer memberikan komentar: AuApakah yang dimurnikan oleh korban pemurnian? Bukan dosa orang yang membawa kurban ini. Pelanggaran peraturan dan penajisan upacara secara tidak disengaja sendiri bukanlah dosa . alaupun tidak menaati peraturan adalah dos. Lagi pula, pencemaran dan kenajisan ritual adalah soal Tanggung jawab pribadi untuk korban pemurnian didasarkan pada identitas kolektif umat Allah, di mana individu-individu berpartisipasi. Korban pemurnian membersihkan orang itu, perkemahan, dan terutama Kemah Suci sendiri dari pencemaran metaforis tetapi nyata yang diciptakan oleh hadirat kudus di tengah-tengah perkemahan yang secara ritual murni. Korban pemurnian diperlukan untuk mempertahankan kekudusan Kemah Suci sehingga kemuliaan Allah bisa tinggal di sana tanpa membawa kematian bagi umatAy. 30 Dalam korban ini, unsur penebusan adalah yang paling besar: Sebab mereka menajiskan kekudusan tempat yang didiami Allah, tempat itu harus ditebus bagi orang itu. Relevansi Urgensi Penyelesaian Dosa Dalam kehidupan Kristen abad ke-21, penyelesaian dosa tetap menjadi isu teologis yang sangat relevan, karena menyentuh fondasi utama iman Kristen yakni relasi antara manusia dan Allah yang Mahakudus. Pertama, dosa secara teologis bukan hanya pelanggaran moral, melainkan disfungsi relasional yang memutuskan persekutuan manusia dengan Allah . Yes. Konsep ini ditegaskan oleh Addai-Mensah yang menyatakan bahwa dosa adalah realitas eksistensial yang menghancurkan relasi manusia dengan Tuhan dan menjadi alasan utama perlunya penebusan melalui karya Kristus. 31 Dosa dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang menyimpang dari ketetapan Allah, yang pada akhirnya mendatangkan hukuman berupa rasa bersalah. Allah, sebagai Pribadi yang Mahakudus, menuntut umat-Nya untuk hidup dalam kekudusan agar dapat membangun persekutuan dengan-Nya. Dalam konteks hukum Taurat, korban penghapus dosa wajib dipersembahkan bagi mereka yang berbuat dosa "tidak dengan sengaja," suatu ungkapan yang dalam bahasa Ibrani merujuk pada kesalahan atau kelemahan. Hal ini mengindikasikan bahwa seseorang yang berbuat dosa menyadari pelanggarannya terhadap hukum Taurat, namun tidak melakukannya dengan sengaja, melainkan karena kelemahan diri atau godaan (Bdk. Rm. Oleh Feldman. The Torah, 328. MARIA FURGHESTTI LIMA. The Book of Zechariah: The New International Commentary on the Old Testament, 2017:94Ae96. Peter Addai-Mensah. AuA Theological Reflection on the Concept of Sin in Christianity,Ay E-Journal of Humanities. Arts and Social Sciences 1, no. 4 (August 26, 2. : 106Ae9, https://doi. org/10. 38159/ehass. Yabes. Prabowo karena itu, berbagai instruksi mengenai kekudusan dalam kitab Imamat semakin menegaskan ketidakmampuan manusia untuk hidup benar di hadapan Allah yang Mahakudus. Kedua, relevansi penyelesaian dosa menjadi sangat mendesak di tengah konteks modern di mana konsep dosa kian mengalami penurunan makna akibat dominasi budaya relativistik dan narsistik, yang justru menghapus kebutuhan akan pertobatan sejati. 32 Fenomena ini terlihat dalam gereja-gereja masa kini yang cenderung lebih menonjolkan liturgi pujian dan penguatan motivasi ketimbang liturgi pengakuan dosa. Ketiga, pembaruan pemahaman akan dosa dan pengakuannya dibutuhkan bukan hanya secara dogmatis, tetapi secara pastoral. Gudmundsdyttir menjelaskan bahwa pengakuan terhadap dosa memungkinkan umat percaya untuk mengalami pengampunan yang otentik, sekaligus memahami rahmat Allah secara penuh. Ia menekankan kembali pemikiran Luther bahwa dosa adalah ketidakpercayaan dan penempatan kepercayaan yang salah, bukan sekadar pelanggaran hukum moral. 33 Dengan memahami dosa sebagai ketidakpercayaan, umat diajak untuk merenungkan hubungan mereka dengan Allah dan memperbaiki kepercayaan yang mungkin telah salah arah. Hal ini menuntut pendekatan pastoral yang lebih sensitif dan mendalam, di mana pengakuan dosa menjadi jembatan untuk mengembalikan umat kepada pemahaman yang benar tentang kasih dan rahmat Allah. Keempat, urgensi penyelesaian dosa juga menjadi sarana untuk membentuk identitas baru umat sebagai manusia yang ditebus dan dikuduskan dalam Kristus. Bonhoeffer, sebagaimana dikaji oleh Knight, menunjukkan bahwa keselamatan bukan sekadar pembebasan dari dosa, melainkan partisipasi dalam kehidupan Kristus, yang menghasilkan komunitas manusia baru yang hidup dalam kebenaran dan kasih. 34 Dengan demikian, penyelesaian dosa menjadi langkah awal dalam perjalanan menuju identitas baru yang berakar pada kasih dan kebenaran, yang pada gilirannya memperkuat solidaritas dan komitmen umat dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran Kristus. Kelima, penebusan dosa tidak berhenti pada dimensi spiritual-vertikal saja, tetapi juga menyentuh dimensi sosial-horizontal. Dalam praktik pengakuan dosa dan rekonsiliasi, individu dipanggil untuk memperbaiki relasi dengan sesama. Sapalakkai menekankan bahwa sekalipun dosa telah diampuni melalui salib, umat tetap dipanggil untuk mengakui dan meninggalkan dosa secara sadar, serta membangun gaya hidup baru yang mencerminkan pertobatan. 35 Hal ini dipertegas dalam pendekatan psikospiritual oleh Cook dan Cowden, yang menunjukkan bahwa pengalaman Kristine Suna-Koro. AuConfession of Sin and the AoSinned-AgainstAo: An Inquiry from a Lutheran Perspective,Ay Liturgy 34, no. 1 (January 2, 2. : 21Ae29, https://doi. org/10. 1080/0458063X. Arnfryyur Guymundsdyttir. AuWhy Talk about Sin? LutherAos Understanding of Sin and Hopeful SinAa talk in the 21st Century,Ay Dialog 62, no. 3 (September 2. : 277Ae84, https://doi. org/10. 1111/dial. Mark Knight. AuSin and Salvation,Ay in The Oxford Handbook of Dietrich Bonhoeffer (Oxford University Press, 2. , 210Ae24, https://doi. org/10. 1093/oxfordhb/9780198753179. Rini Sumanti Sapalakkai. AuDoes Sin Still Come to Christians? The Perspective of 1 John 3:9,Ay PASCA : Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 19, no. 2 (January 31, 2. : 134Ae40, https://doi. org/10. 46494/psc. NAHIRU: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 1. 2025: 44-61 pengampunan dosa mengubah persepsi diri dan memperkuat relasi personal dengan Allah serta 36 Dengan demikian, cara penyelesaiannya adalah dengan mengakui dosa dan mempersembahkan korban penebus salah, sebagaimana ditegaskan dalam Perjanjian Baru: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan" . Yoh. Kitab Imamat juga mengajarkan bahwa domba yang dikorbankan merupakan tipologi Kristus sebagai Korban Penebus Salah yang sempurna (Yes. , yang membayar hutang dosa manusia di hadapan Allah. Penulis Ibrani menegaskan bahwa penebusan Kristus jauh melampaui sistem korban Perjanjian Lama, karena Ia masuk ke tempat kudus bukan dengan darah domba atau lembu, melainkan dengan darah-Nya sendiri, yang menghasilkan kelepasan kekal bagi umat-Nya (Ibr. Keenam, penyelesaian dosa dalam era kontemporer menuntut pendekatan yang juga menjawab tantangan budaya. PopCawski menjelaskan bahwa dosa tidak dapat didekati hanya sebagai kategori moral atau pelanggaran hukum, melainkan sebagai mysterium iniquitatis, suatu misteri kerusakan yang hanya bisa diatasi dengan mysterium salutis, karya keselamatan Kristus yang 37 Ketujuh, dalam aspek praksis gereja, pendidikan iman harus kembali menempatkan dosa dan anugerah sebagai narasi sentral untuk membentuk karakter rohani yang tangguh. Esqueda menyatakan bahwa pemahaman tentang dosa dan kasih karunia merupakan fondasi dalam pengajaran Kristen yang efektif untuk generasi masa kini. Ketujuh, korban berfungsi sebagai sarana pendamaian antara manusia dengan Allah. Dalam Septuaginta (LXX), istilah kapher berarti AumenutupiAy atau Aumemeteraikan,Ay yang lebih berkaitan dengan kenajisan daripada kesalahan moral seseorang. Istilah ini sering kali diterjemahkan sebagai pendamaian, yang mengacu pada tindakan Allah dalam menutupi kecemaran manusia melalui Prinsip ini mencapai puncaknya dalam karya keselamatan Kristus, di mana kebenaran-Nya menutupi dosa manusia sehingga Allah tidak lagi memperhitungkan kesalahan mereka. Kematian Kristus menjadi pemuasan yang sempurna bagi keadilan ilahi, sehingga murka Allah terhadap dosa manusia diangkat (Mrk. 3:29. Rm. Oleh karena itu, mereka yang percaya kepada Kristus diterima sebagai bagian dari keluarga Allah, karena kebenaran-Nya membatalkan hukuman atas dosa dan menyatakan kebenaran Allah dalam diri mereka. Karya penebusan Kristus bukan sekadar penghapusan dosa, tetapi juga pemulihan manusia dalam hubungan yang benar dengan Allah, yang pada akhirnya membawa mereka kepada hidup dalam penyembahan dan ketaatan kepada-Nya. Kedelapan, secara soteriologis penyelesaian dosa membawa pembaruan total, bukan hanya dalam hal posisi hukum di hadapan Allah, tetapi juga dalam dimensi etis, emosional, dan eksistensial manusia. Sarana utama penebusan dalam Perjanjian Baru adalah Kristus sendiri, yang menyerahkan diri-Nya sebagai korban penebusan . Tim. Dasar dari penebusan ini adalah darah Kristus yang tak bercacat cela (Kol. 1:14. 1 Pet. 1:18-. Penelitian Majid et al. Kaye V. Cook and Richard G. Cowden. AuAfter We Transgress GodAos Values: Relational Spirituality as a Paradigm for the Christian Experience of Reconciliation with God,Ay Frontiers in Psychology 16 (May 9, 2. 1Ae10, https://doi. org/10. 3389/fpsyg. JarosCaw M. PopCawski. AuReality of a Sin and How to Overcome It,Ay Roczniki Teologiczne 64, no. English Online Version . : 135Ae43, https://doi. org/10. 18290/rt. 5-7en. Octavio Javier Esqueda. AuSin and Christian Teaching,Ay Christian Education Journal: Research on Educational Ministry 8, no. 1 (May 1, 2. : 164Ae76, https://doi. org/10. 1177/073989131100800111. Yabes. Prabowo bahwa darah Kristus merupakan pusat dari sistem penebusan yang memulihkan, membenarkan, dan memampukan umat untuk hidup baru dalam kekudusan. 39 Selain itu, beberapa dampak teologis yang dihasilkan adalah: Pertama, rasa bersalah diangkat dari diri orang percaya . Yoh. 3:20-. Kedua, mereka dilepaskan dari kuasa dosa dan dikuduskan untuk melakukan perbuatan baik (Tit. Ketiga, kehadiran dosa secara terus-menerus dilenyapkan, karena dosa tidak lagi memiliki hak untuk berkuasa (Rm. Keempat. Roh Kudus dimeteraikan dalam hidup orang percaya sebagai jaminan keselamatan (Ef. 1:13-. Kelima, mereka memperoleh hak istimewa untuk menjadi hamba Kristus. Keenam, tujuan utama dari semua ini adalah untuk memuji kemuliaan Allah (Ef. 1:6, 12. 1 Kor. 6:19-. Dengan demikian, penyelesaian dosa bukan hanya kebutuhan teologis, tetapi juga kebutuhan eksistensial umat Kristen abad ini dalam menjawab krisis identitas spiritual dan etika sosial secara transformatif. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis eksegetikal dan teologis terhadap Imamat 5:5, penelitian ini menegaskan bahwa penyelesaian dosa merupakan urgensi utama dalam kehidupan umat Kristen abad ke-21. Dosa, dalam segala bentuknya, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, merusak relasi antara manusia dengan Allah serta membawa dampak sosial dan spiritual yang luas. Imamat 5:5 menunjukkan bahwa pengakuan dosa secara eksplisit dan tindakan pemulihan melalui korban adalah langkah penting yang dikehendaki Allah demi terjadinya pendamaian. Dalam terang Perjanjian Baru, korban dalam sistem Taurat menunjuk kepada pengorbanan Kristus sebagai jalan satu-satunya untuk pengampunan dan pemulihan relasi dengan Allah. Di tengah era modern yang cenderung menormalkan dosa dan mengaburkan konsep pertobatan, gereja dipanggil untuk kembali menegaskan pengajaran tentang dosa, pengakuan, dan anugerah Allah. Dengan demikian, urgensi penyelesaian dosa tidak hanya bersifat doktrinal, tetapi juga bersifat eksistensial dan pastoral, yang berperan penting dalam pembentukan identitas umat Allah yang kudus, bertobat, dan hidup dalam kebenaran Kristus. DAFTAR PUSTAKA