JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA http://jktp. com/jktp/index VOLUME 06 NOMOR 02 DESEMBER 2023 ISSN 2654 - 5756 ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI. POLA ASUH. PENYAKIT INFEKSI DENGAN KEJADIAN GIZI KURANG PADA BALITA USIA 12-59 BULAN THE RELATIONSHIP OF NUTRITIONAL KNOWLEDGE. PARENTING PATTERNS, INFECTIOUS DISEASES WITH UNDERNUTRITION IN TODDLER AGES 12-59 MONTHS Rosmin M. Tingginehe . Evelin Ardhya Novita Tumbiri Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih. Jayapura. Indonesia Abstrak Article history Received date: 22 Desember 2023 Revised date: 28 Desember 2023 Accepted date: 29 Desember 2023 *Corresponding author: Rosmin M. Tingginehe. Universitas Cenderawasih. Jayapura. Indonesia, 29@gmail. Anak balita usia 12-59 bulan merupakan kelompok usia yang paling sering mengalami kekurangan gizi. Di Indonesia, masalah ini menjadi fokus kesehatan masyarakat, mengingat dampak jangka panjangnya pada perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi, pola asuh, dan penyakit infeksi dengan status gizi pada balita usia 12-59 bulan. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Ria. Kota Jayapura dengan menggunakan desain cross-sectional. Sampel penelitian adalah ibu yang memiliki balita usia 12 Ae 59 bulan yang berjumlah 91 orang yang ditetapkan menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur pengetahuan gizi, observasi pola asuh, dan catatan medis untuk penyakit infeksi. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 54,9% balita usia 12 Ae 59 bulan masuk dalam kategori status gizi kurang. Pengetahuan gizi . = 0,. , pola asuh . = 0,. dan penyakit infeksi . = 0,. memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Ria. Temuan ini mengindikasikan bahwa perbaikan status gizi dapat dilakukan melalui peningkatan pengetahuan ibu tentang gizi dan pola asuh yang baik, serta pencegahan penyakit infeksi pada balita. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk melakukan studi longitudinal untuk mengkaji dampak jangka panjang dari faktor-faktor ini terhadap status gizi anak. Temuan ini dapat berkontribusi dalam pengembangan kebijakan dan program yang ditargetkan untuk mengatasi masalah gizi kurang pada anak-anak di Indonesia. Kata Kunci: Pengetahuan gizi, pola asuh, penyakit infeksi, gizi kurang Abstract Children aged 12-59 months are the age group most frequently experiencing nutritional deficiencies. In Indonesia, this issue has become a public health focus, considering its long-term impact on child development. This study aims to determine the relationship between nutritional knowledge, parenting patterns, and infectious diseases with the nutritional status of children aged 12-59 The research was conducted in the working area of Puskesmas Tanjung Ria. Jayapura City, using a cross-sectional design. The research sample consisted of 91 mothers with children aged 12 Ae 59 months, selected using simple random sampling technique. Data were collected through questionnaires measuring nutritional knowledge, observation of parenting patterns, and medical records for infectious diseases. Data analysis used the chi-square test. The results showed that 54. 9% of children aged 12 Ae 59 months fell into the category of poor nutritional status. Nutritional knowledge . = 0. parenting patterns . = 0. , and infectious diseases . = 0. were significantly related to the nutritional status in the working area of Puskesmas Tanjung Ria. These findings indicate that improvements in nutritional status can be achieved through increasing mothers' knowledge about nutrition and good parenting, as well as preventing infectious diseases in toddlers. For future research, it is suggested to conduct a longitudinal study to examine the longterm impact of these factors on children's nutritional status. These findings can Rosmin M. Tingginehe. Evelin Ardhya Novita Tumbiri. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 80-85 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. contribute to the development of targeted policies and programs to address the issue of poor nutrition in children in Indonesia. Keywords: Nutritional knowledge, parenting patterns, infectious diseases, toddlers, malnutrition PENDAHULUAN Gizi kurang adalah kondisi gizi yang disebabkan oleh kurangnya asupan nutrisi yang dibutuhkan selama periode waktu ketika tubuh memecah simpanan makanan di bawah lapisan lemak dan organ tubuh. Gizi kurang adalah keadaan gizi berdasarkan indeks massa tubuh menurut umur (BB/U). Ambang batas antropometri status gizi adalah balita dianggap kurus jika berat badan menurut usia (BB/U) -3,0 SD sampai O -2,0 SD (Kemenkes. Anak balita usia 12-59 bulan merupakan kelompok usia yang paling sering mengalami kekurangan gizi atau KEP (Kurang Energi Protei. dan termasuk salah satu kelompok rawan gizi di masyarakat (Alamsyah et al. , 2. Kekurangan gizi pada masa balita sangat terkait dengan perkembangan otak sehingga dapat mempengaruhi kecerdasan anak dan berdampak pada pembentukan kualitas sumber daya manusia di masa mendatang (Diniyyah & Susila Nindya, 2. Kementerian Kesehatan Indonesia pada tahun 2022 melaksanakan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menemukan presentase gizi kurang tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur . ,4%). Prevalensi gizi kurang di Provinsi Papua sebesar 18,7%. Data prevalensi balita gizi kurang tertinggi berdasarkan kabupaten/kota di provinsi Papua terjadi di Kabupaten Asmat. Sedangkan prevalensi Kota Jayapura sebesar 15,8% (SSGI, 2. Puskesmas Tanjung Ria masih menghadapi permasalahan dengan gizi. Hasil pelaporan status gizi balita di Puskesmas Tanjung Ria menunjukkan prevalensi balita gizi kurang pada tahun 2021 sebesar 5,8%. Prevalensi gizi kurang tahun 2022 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya . ,4%). Namun, berdasarkan data per Maret 2023 prevalensi gizi kurang mengalami peningkatan signifikan menjadi 10,1%. Masalah gizi seperti gizi kurang pada balita merupakan akibat dari berbagai faktor yang saling terkait. Hasil penelitian (K. Pibriyanti, 2. menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan status gizi Karena gizi kurang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi, jika pengetahuan gizi ibu baik maka diharapkan status gizi ibu dan anak juga baik. Seorang ibu dengan pengetahuan gizi yang baik akan memperhatikan kebutuhan gizi anaknya agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Hasil penelitian (SaAodiah et al. , 2. menunjukkan ada hubungan antara pola asuh dengan status gizi pada balita. Pemberian makan yang baik sangat penting untuk asupan nutrisi, tidak hanya dari segi apa yang dimakan anak, tapi sikap ibu juga berperan. Penelitian yang dilakukan oleh (Nurjannah, 2. menemukan ada hubungan penyakit infeksi dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Jeunieb Kabupaten Bireuen Tahun 2019. Penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan yang berkaitan dengan gangguan gizi dimana kesehatan yang menurun mempengaruhi nafsu makan dan menyebabkan kehilangan makanan akibat muntah dan diare, yang keduanya dapat disebabkan oleh kemiskinan dan lingkungan yang tidak sehat serta sanitasi yang buruk (Simangusong, 2. Penelitian ini memiliki signifikansi penting dalam memahami kompleksitas masalah gizi kurang pada balita usia 12-59 bulan, khususnya dalam konteks Indonesia. Dengan mengkaji pengaruh faktor-faktor seperti pengetahuan gizi, pola asuh, dan penyakit infeksi terhadap prevalensi gizi kurang, studi ini berkontribusi pada pengembangan strategi intervensi yang lebih efektif. Khususnya di daerah dengan tingkat prevalensi tinggi seperti Puskesmas Tanjung Ria, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk inisiatif lokal yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas gizi dan kesehatan balita. Selain itu, temuan ini dapat menjadi referensi penting dalam literatur kesehatan masyarakat dan nutrisi, khususnya dalam konteks pengembangan program gizi dan kesehatan anak di Indonesia dan negara-negara dengan kondisi serupa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan gizi, pola asuh dan penyakit infeksi dengan status gizi balita 12 Ae 59 bulan. Pemahaman yang mendalam tentang bagaimana faktor-faktor ini saling berinteraksi dan berdampak pada status gizi balita akan membantu pemerintah, lembaga kesehatan, dan para praktisi dalam merumuskan kebijakan dan program yang tepat guna untuk mengatasi masalah gizi kurang. METODE Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif melalui pendekatan analitik observasional dengan desain cross-sectional. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Ria pada Juni Ae Juli 2023. Sampel penelitian berjumlah 91 orang ibu yang memiliki balita usia 12 Ae 59 bulan yang ditentukan dengan teknik simple random sampling. Ibu yang memiliki balita yang mengalami gangguan gizi kronis dan mengalami gangguan kesehatan selain penyakit infeksi dikecualikan dalam penelitian ini. Pengumpulan data karakteristik ibu, pengetahuan gizi, pola asuh dan kejadian penyakit infeksi dilakukan dengan wawancara menggunakan kuisioner. Kuisioner pengetahuan gizi meliputi pertanyaan tentang sumber makanan yang mengandung protein tinggi, frekuensi pemberian makan yang tepat, jenis vitamin dan mineral yang dibutuhkan balita setiap hari, dan tanda-tanda gizi kurang pada balita. Kuisioner pola asuh terdiri dari pertanyaan tentang porsi, jenis makanan, dan cara pemberian makanan. Sedangkan kejadian infeksi diukur dengan memberikan pertanyaan tentang riwayat penyakit infeksi yang dialami oleh balita dalam 6 bulan terakhir. Rosmin M. Tingginehe. Evelin Ardhya Novita Tumbiri. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 80-85 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Pengumpulan data status gizi dilakukan pengukuran antropometrik tinggi dan berat badan balita. Peneliti menggunakan alat timbangan injak dengan ketelitian 0,1 kg. Analisa data dilakukan dengan analisis univariat dan analisis bivariat. Analisis univariat untuk melakukan distribusi frekuensi dari masing-masing variabel dengan menampilkan nilai absolut dan persentase. Sedangkan analisis bivariat dilakukan untuk menguji hubungan pengetahuan gizi, pola asuh dan penyakit infeksi dengan status Analisis bivariat menggunakan uji chi-square dengan derajat kepercayaan yang digunakan adalah 95% . Kajian etis menjadi pusat penelitian ini, dengan persetujuan etik dan persetujuan informasi yang didapat dari semua informan (Flick Uwe, 2018. Roshaidai Siti & Arifin, 2. Penelitian ini mematuhi prinsip-prinsip etis, memastikan kesejahteraan dan integritas informan (Denzin, 2. Surat keterangan laik etik dikeluarkan oleh Komite Etik Penelitian Kesehatan Poltekkes Kemenkes Jayapura No. 219/KEPK-J/Vi/2023. HASIL Tabel 1. Karakteristik Responden No. Karakteristik Ibu Umur ibu . < 20 20 Ae 35 > 35 Pendidikan Ibu Sekolah menengah pertama Sekolah menengah atas Perguruan tinggi Pekerjaan ibu Tidak bekerja Bekerja Pendapatan keluarga Rendah Tinggi Jumlah anak dalam Total Tabel 1 menunjukkan sebagian besar ibu berada dalam kelompok umur 20 Ae 35 tahun . ,1%). Sebanyak 76,9% memiliki pendidikan terakhir sekolah menengah atas. Hampir semua ibu tidak bekerja . ,9%). Berdasarkan pendapatan keluarga, 76,8% masuk dalam kategori berpendapatan rendah. Sebagian besar ibu memiliki jumlah anak <4 orang . ,5%). Tabel 2 menunjukkan sebanyak 54,9% anak balita 12 Ae 59 bulan memiliki status gizi dalam kategori kurang. Sebagian besar ibu memiliki pengetahuan yang kurang tentang gizi . ,3%). Hanya 46,2% ibu yang memberikan pola asuh dalam kategori baik. Tabel 2 juga menunjukkan sebanyak 57,1 balita 12 Ae 59 bulan memiliki riwayat penyaki infeksi. Tabel 2. Distribusi responden berdasarkan status gizi, pengetahuan gizi, pola asuh dan penyakit infeksi No. Variabel Status gizi Kurang Baik Pengetahuan Kurang Baik Pola asuh Kurang Baik Penyakit infeksi Ada Tidak ada Total Tabel 3. Faktor yang berhubungan dengan status gizi balita 12 Ae 59 bulan Rosmin M. Tingginehe. Evelin Ardhya Novita Tumbiri. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 80-85 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Variabel Pengetahuan gizi Kurang Baik Pola asuh Kurang Baik Penyakit infeksi Ada Tidak ada p-value Status Gizi 0,000 0,000 0,000 Total Tabel 3 menunjukkan pengetahuan gizi ibu . = 0,. , pola asuh . = 0,. dan penyakit infeksi . = 0,. berhubungan dengan status gizi balita 12 Ae 59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Ria. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukan ada hubungan pengetahuan gizi dengan status gizi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh K. Pibriyanti . dimana ada hubungan signifikan antara pengetahuan ibu dengan status gizi. Penelitian yang dilakukan oleh Berlina . , sejalan dengan penelitian ini dimana terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan ibu dengan status gizi, dan penelitian Indrayani et al. , . juga sejalan dengan penelitian ini dimana terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan ibu dengan status gizi. Pengetahuan gizi adalah apa yang diketahui ibu tentang bagaimana cara pemilihan bahan pangan, pengolahan makanan dan penyajian makanan kepada anak (Anggraini, 2. Pemilihan makanan yang tidak tepat serta kurangnya pemahaman ibu tentang nutrisi dapat menyebabkan masalah gizi yang berdampak pada status gizi Pengetahuan ibu tentang gizi berperan penting dalam manajemen rumah tangga dan ini berpengaruh pada keputusan ibu dalam memilih bahan makanan untuk keluarga. Ibu yang memiliki pengetahuan gizi yang memadai akan lebih memahami dan mengakui pentingnya status gizi yang baik untuk kesehatan keluarga (Lamia et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan pola asuh dengan status gizi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sukmiati & Nafisah . dimana ada hubungan signifikan antara pola pemberian makan dengan status gizi balita, selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Kurnia Wardhani et al. dimana ada hubungan signifikan antara pola pemberian makan dengan status gizi balit, dan penelitian yang dilakukan oleh SaAodiah et al. , . juga sejalan dengan penelitian ini dimana terdapat hubungan signifikan antara pola asuh dengan status gizi balita. Cara pemberian makanan oleh ibu kepada anak balita meliputi beberapa aspek seperti perencanaan menu, pengolahan, penyajian, dan metode pemberian makan itu sendiri. Tujuannya adalah untuk memastikan anak memperoleh nutrisi yang cukup dalam hal variasi, jumlah, dan kualitas gizi. Ini merupakan strategi penting untuk memenuhi kebutuhan gizi anak balita (Lestari, 2. Pola pemberian makan yang efektif adalah yang sesuai dengan tipe, jumlah, dan jadwal makan yang tepat untuk anak. Kesuksesan dalam memenuhi kebutuhan gizi anak sangat bergantung pada ibu. Pola makan yang sehat dan bervariasi sering kali terkait dengan pengetahuan serta keterampilan ibu dalam menyusun makanan yang memenuhi standar gizi. Terdapat variasi dalam pola makan balita, misalnya beberapa hanya mengkonsumsi nasi dan sayur, sementara yang lain mungkin lebih suka bubur, terutama jika mengalami kesulitan makan, bahkan sampai usia dua tahun atau lebih. Selain itu, beberapa ibu cenderung memilih makanan siap saji yang lebih praktis, yang dapat mempengaruhi variasi pengolahan makanan untuk anak (Purwani et al. Pekerjaan orang tua, khususnya ibu, juga memainkan peran penting dalam pola asuh yang berdampak pada status gizi balita. Ibu yang bekerja di rumah cenderung memiliki lebih banyak waktu untuk merawat dan memberi asuhan yang lebih baik kepada anaknya, dibandingkan dengan ibu yang bekerja di luar rumah. Hal ini dikarenakan waktu yang lebih singkat yang dihabiskan bersama anak dapat mengurangi waktu dan perhatian yang diberikan ibu dalam aspek perawatan dan pemenuhan kebutuhan gizi anak (Djola, 2. Pendapatan keluarga menjadi faktor penting dalam daya beli ketahanan pangan keluarga. Hal ini dapat disebabkan pada keluarga dengan pendapatan yang tinggi dapat berpeluang besar bagi keluarga untuk membeli makanan yang bergizi untuk anaknya sehingga asupan gizi pada anak dapat tercukupi. Sebaliknya, keluarga berpendapatan rendah yang membeli makanan dalam jumlah sedikit memilih jenis makanan yang dibeli nya, sehingga menyebabkan kurangnya kualitas dan variasi makanan yang diperoleh, sehingga dapat mempengaruhi keadaan gizi anak dibawah 5 tahun (Djola, 2. Selain pekerjaan dan pendapatan, faktor yang mempengaruhi pola asuh adalah jumlah anak dalam keluarga. Semakin banyak jumlah anak dalam keluarga, maka ada kecenderungan bahwa orang tua tidak begitu menerapkan pola asuh secara maksimal pada anak karena perhatian dan waktunya terbagi antara anak yang satu dengan anak yang lainnya (Juhardin et al. , 2. Rosmin M. Tingginehe. Evelin Ardhya Novita Tumbiri. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 80-85 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan penyakit infeksi pada balita dengan status gizi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurjannah . yang menunjukkan ada hubungan penyakit infeksi dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Jeunieb Kabupaten Bireuen. Provinsi Aceh Tahun, selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Syari . sejalan dengan penelitian ini dimana terdapat hubungan penyakit infeksi dengan status gizi balita, dan penelitian yang dilakukan oleh Sukamto . juga sejalan dengan penelitian ini dimana terdapat hubungan signifikan antara penyakit infeks. dengan status gizi (OR 7,425 CI 95%: 3,056-18,. Infeksi merupakan jenis penyakit yang timbul akibat mikroorganisme patogen dan memiliki karakteristik yang sangat berubah-ubah. Proses munculnya penyakit infeksi umumnya melibatkan interaksi antara tiga elemen utama yaitu agen penyebab penyakit, host atau manusia, dan faktor lingkungan (Notoatmodjo, 2. Masalah kesehatan utama yang sering dihadapi adalah penyakit infeksi, yang seringkali terkait dengan masalah gizi. Baik kekurangan gizi maupun infeksi sering kali berkaitan dengan kemiskinan dan kondisi lingkungan yang tidak sehat, seperti sanitasi yang buruk. Infeksi juga diketahui mengganggu respon imun normal tubuh dan menguras energi. Salah satu penyebab utama dari gizi buruk, terutama pada anak-anak, adalah penyakit infeksi seperti diare, campak, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan rendahnya asupan gizi yang disebabkan oleh ketersediaan pangan yang terbatas atau pola asuh yang tidak adekuat (Adriani, 2. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Secara akademik, temuan ini dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan gizi dan pola asuh dalam kurikulum keperawatan, terutama untuk calon perawat yang akan bekerja dengan anak-anak. Dalam praktik keperawatan, penelitian ini menyoroti pentingnya peran perawat dalam pendidikan gizi dan dukungan pola asuh yang tepat bagi orang tua, serta peran mereka dalam identifikasi dan penanganan gizi kurang pada balita. Penelitian ini juga menggarisbawahi kebutuhan untuk strategi intervensi yang lebih terfokus pada faktor sosioekonomi dan akses layanan kesehatan dalam mengatasi masalah gizi kurang. Peneliti mengakui penelitian ini memiliki keterbatasan metodologis. Sampel yang digunakan terbatas hanya pada 91 balita dari satu lokasi, sehingga tidak mencakup variasi kondisi yang lebih luas. Desain cross-sectional yang diterapkan hanya memberikan gambaran pada satu titik waktu, membuat sulit untuk mengidentifikasi hubungan sebab-akibat. Ketergantungan pada data self-reported dari kuesioner dapat menimbulkan isu akurasi karena subjektivitas responden. Pada penelitian ini variabel potensi konfounding tidak diukur dan dikontrol. KESIMPULAN Status gizi pada balita usia 12 Ae 59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Ria. Kota Jayapura berhubungan dengan pengetahuan ibu tentang gizi, pola asuh dalam hal pemberian makanan dan kejadian penyakit infeksi. Upaya peningkatan pengetahuan ibu tentang gizi dan pola asuh perlu dilakukan secara rutin kepada ibu sejak masa kehamilan. Pencegahan balita dari kejadian penyakit infeksi perlu dilakukan dengan pemberian imunisasi secara lengkap serta pengobatan segera dan tuntas jika balita terdiagnosa penyakit infeksi. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk menggunakan desain case control atau cohort prospektif dengan wilayah yang lebih luas. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada pihak Puskesmas Tanjung Ria yang telah menerima dan mendukung serta memfasilitasi dalam melakukan penelitian ini. REFERENSI