Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2129-2139 Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Volume Pembelian Beras IR 64 di Kecamatan Trucuk. Kabupaten Klaten Analysis of Factors Influencing the Volume of IR 64 Rice Purchases in Trucuk District. Klaten Regency Tri Aryanto*. Siswanto Imam Santoso. Kustopo Budiraharjo Progran Studi Agribisnis. Fakultas Peternakan dan Pertanian. Universitas Diponegoro Jl. Prof Soedarto No. Tembalang. Kecamatan Tembalang. Kota Semarang. Jawa Tengah *Email: triaryanto603@gmail. (Diterima 13-02-2025. Disetujui 25-06-2. ABSTRAK Kecamatan Trucuk memiliki struktur sosial-ekonomi yang heterogen, dengan masyarakat yang sebagian besar bekerja di sektor pertanian, perdagangan, dan jasa. Kondisi ini memberikan pengaruh langsung terhadap pola konsumsi beras, terutama dalam memilih jenis beras yang dikonsumsi. Analisis terhadap faktor-faktor yang memengaruhi volume pembelian beras IR 64 di wilayah ini menjadi penting untuk memahami dinamika konsumsi dan kebutuhan pasar beras secara lebih mendalam. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi volume pembelian beras IR 64 di Kecamatan Trucuk. Kabupaten Klaten dan mengetahui pengaruh masing-masing faktor terhadap volume pembelian beras IR 64. Penelitian ini dilaksanakan pada pada bulan Desember 2024 di Kecamatan Trucuk. Kabupaten Klaten. Metode penelitian menggunakan metode survey. Metode analisis menggunakan analisis regresi linier berganda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan volume pembelian beras rata-rata sebesar 7,2 kg/bulan, rata-rata pendapatan sebesar Rp1. 000/bulan, harga beras berkisar Rp14. 000/kg sampai Rp18. 000/kg. Secara serempak pendapatan, jumlah anggota keluarga, dan harga berpengaruh terhadap volume pembelian beras IR 64. Berdasarkan hasil secara parsial diketahui bahwa pendapatan, jumlah anggota keluarga, dan harga berpengaruh terhadap volume pembelian beras IR 64. Kata kunci: beras, perilaku konsumen, volume pembelian ABSTRACT Trucuk District has a heterogeneous socio-economic structure, with the majority of people working in the agriculture, trade, and service sectors. This condition has a direct influence on rice consumption patterns, especially in choosing the type of rice consumed. Therefore, an analysis of the factors that influence the volume of IR 64 rice purchases in this area is important to understand the dynamics of rice consumption and market needs in more depth. The purpose of this study was to analyze the factors that influence the volume of IR 64 rice purchases in Trucuk District. Klaten Regency and to determine the influence of each factor on the volume of IR 64 rice purchases. This study was conducted in December 2024 in Trucuk District. Klaten Regency. The research method used a survey method. The analysis method used multiple linear regression Based on the results of the study, the average rice purchase volume was 7. 2 kg/month, the average income was IDR 1,499,000/month, and the price of rice ranged from IDR 14,000/kg to IDR 18,000/kg. Simultaneously, income, number of family members, and price affect the volume of IR 64 rice purchases. Based on partial results, it is known that income, number of family members, and price affect the volume of IR 64 rice purchases. Keywords: rice, consumer behavior, purchase volume PENDAHULUAN Beras merupakan bahan pangan pokok bagi sebagian besar penduduk di Indonesia. Beras merupakan komoditi strategis karena memengaruhi kebijakan dalam suatu negara yang menjadikan beras sebagai sumber pangan pokok. Beras memiliki peran yang sangat penting dalam ketahanan pangan. Peran beras sebagai makanan pokok di Indonesia sampai saat ini sulit disubstitusikan dengan jenis makanan pokok yang lain (Alfath, 2. Daerah di wilayah timur Indonesia yang dahulu menjadikan makanan pokok non-beras seperti jagung dan sagu seiring Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Volume Pembelian Beras IR 64 di Kecamatan Trucuk. Kabupaten Klaten Tri Aryanto. Siswanto Imam Santoso. Kustopo Budiraharjo berjalannya waktu justru beralih mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok dalam Rasio konsumsi beras penduduk Indonesia jika dibandingkan dengan jumlah penduduk negara lain terus mengalami peningkatan (Atmaja et al. , 2. Beras merupakan kebutuhan pokok utama bagi penduduk Indonesia, termasuk di Kecamatan Trucuk. Kabupaten Klaten, yang mayoritas penduduknya adalah konsumen beras. Beras jenis IR 64 menjadi salah satu varietas yang banyak diminati karena memiliki karakteristik seperti tekstur pulen, harga relatif terjangkau, dan ketersediaan yang stabil di pasar. Permintaan terhadap beras IR 64 tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan sehari-hari, namun juga oleh berbagai faktor lain yang saling berkaitan, seperti pendapatan, jumlah anggota keluarga, dan harga. Kecamatan Trucuk memiliki struktur sosial-ekonomi yang heterogeny. Beras merupakan salah satu hasil pertanian yang menjadi kebutuhan dasar manusia. Penduduk Indonesia menjadikan beras sebagai bahan makanan pokok. Permintaan akan beras lebih tinggi dari pada hasil pangan lainnya (Darsan, 2. Banyaknya penduduk Indonesia yang beralih mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok meningkatkan jumlah permintaan akan beras. Sehingga perlu peningkatan hasil produksi untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan beras, dimana jumlah penduduk setiap tahunnya meningkat sehingga tingkat konsumsi beras pun semakin bertambah (Febriani, 2. Beras adalah butir padi yang telah dipisahkan dari kulit luarnya . dengan cara digiling dan disosoh menggunakan alat pengupas dan alat penggiling serta alat penyosoh. Beras merupakan komoditas pangan yang sangat strategis bagi negara-negara di wilayah Asia tidak terkecuali bagi negara Indonesia karena hingga saat ini sekitar 95% penduduk Indonesia masih memanfaatkan beras sebagai komoditas pangan utama (Ikasari et al. , 2. Beras merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat Indonesia. Beras sebagai bahan makanan mengandung nilai gizi cukup tinggi yaitu kandungan karbohidrat sebesar 360 kalori, protein sebesar 6,8 gr, dan kandungan mineral seperti kalsium dan zat besi masing-masing 6 dan 0,8 mg (Mamilianti, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2024 di Kecamatan Trucuk. Kabupaten Klaten. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey, pemilihan lokasi penelitian ditentukan secara purposive, yaitu di Kecamatan Trucuk. Pengambilan sampel dengan Quota Sampling yaitu berdasarkan jumlah pasar yang tersedia, yaitu Pasar Tradisional Jeto. Pasar Tradisional Trucuk. Pasar Tradisional Babad dan Pasar Tradisional Wanglu, setiap lokasi pengambilan sampel sebanyak 25 responden. Kriteria responden yang membeli beras IR 64 dengan kriteria usia 17 tahun atau sudah berkeluarga. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder, data primer merupakan data yang diambil dari sumber utama yang didapatkan secara Data sekunder merupakan data yang diambil dari studi Pustaka, dari data buku, jurnal dan literatur yang berkaitan. Analisis kuantitatif pada penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Analisis regresi linear berganda yaitu suatu alat analisis yang bertujuan untuk menguji pengaruh terhadap variabel terikat terhadap dua atau lebih variabel bebas. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan sebelum melakukan uji regresi linier berganda. Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi, kedua variabel . ebas maupun terika. mempunyai distribusi normal atau setidaknya mendekati normal. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Uji Kolmogorov-Smirnov (KS) adalah salah satu uji statistik yang digunakan untuk memeriksa apakah suatu sampel berasal dari distribusi probabilitas tertentu, atau apakah dua sampel independen memiliki distribusi yang sama. Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik merupakan serangkaian pengujian yang dilakukan sebelum melakukan analisis regresi linear. Pengujian ini penting untuk memastikan bahwa model regresi yang digunakan memenuhi syarat-syarat tertentu agar estimasi yang dihasilkan valid dan tidak bias. Uji asumsi klasik terutama digunakan dalam regresi linear berganda, tetapi prinsip-prinsipnya dapat diterapkan dalam konteks lain. Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas merupakan pengujian untuk mengetahui model regresi ditemukan adanya Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2129-2139 korelasi antar variabel bebas. Terjadi atau tidaknya multikolinearitas dapat dideteksi dengan melihat nilai dari matriks Pearson Correlation (PC). Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF) dan nilai tolerance. Jika nilai tolerance > 0,1 dan nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas antar variabel independen dalam model regresi. Jika nilai tolerance < 0,1 dan VIF > 10, maka dapat disimpulkan terdapat multikolinieritas antar variabel independen (Suari et al. , 2. Uji Heteroskedastisitas Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari suatu residual pengamatan ke pengamatan yang lain. Uji heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan cara melihat grafik plot apabila membentuk pola tertentu yang teratur maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Analisis regresi linier berganda Analisis regresi linier berganda adalah metode yang powerful untuk menguji hubungan terhadap variabel dependen dan beberapa variabel independen (Yuliara, 2. Adapun persamaan model regresi linier berganda tersebut adalah : Y = a b1X1 b2X2 b3X3 Keterangan: = Perilaku konsumen dalam pembelian beras IR 64 a = konstanta b1, b2, b3 = Koefisien regresi = Variabel tingkat pendapatan (R. = Variabel jumlah anggota keluarga (Jumla. X3 = Variabel harga (Rp/K. 1 Uji F Uji statistik f pada dasarnya menunjukkan apakah variabel independen yang berupa tingkat pendapatan, jumlah anggota keluarga, harga, yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama - sama terhadap variabel dependen yaitu volume pembelian (Herdioko dan Wijanarko, 2. Hipotesis sebagai berikut : Ho : b1 = b2 = b3 = 0, artinya variabel independen tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen . H1 : b1 O b2 O b3 O 0, artinya variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: Jika nilai sig F O 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima, berarti variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Jika nilai sig F > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak berarti variabel independent tidak berpengaruh terhadap variabel dependen. Uji t Uji t merupakan metode statistik yang esensial dalam analisis data karena kemampuannya untuk membandingkan rata-rata dua kelompok. Dengan memperhatikan asumsi-asumsi yang berlaku serta memahami jenis uji t yang tepat untuk digunakan, peneliti dapat memperoleh kesimpulan yang lebih valid dalam pengujian hipotesis mereka. Hipotesis sebagai berikut : Ho : b1= 0 . b2 = 0 . b3 = 0, artinya variabel independen tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen . H1 : b1 O 0 . b2 O 0 . b3 O 0, artinya variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: Jika nilai sig F O 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima, berarti variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Jika nilai sig F > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak berarti variabel independent tidak berpengaruh terhadap variabel dependen. Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Volume Pembelian Beras IR 64 di Kecamatan Trucuk. Kabupaten Klaten Tri Aryanto. Siswanto Imam Santoso. Kustopo Budiraharjo 3 Uji Koefisien Determinasi Uji Koefisien Determinasi digunakan untuk melihat layak atau tidak suatu penelitian yang dilakukan dengan melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Untuk mengukur kemampuan variabel independen dalam menjelaskan keragaman variabel dependen yang diteliti. Nilai Adj-R memiliki range terhadap 0OuR2 O1. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Trucuk terletak di daerah dataran rendah pada ketinggian 130 mdpl. Terletak pada 110,3AAe110,45A bujur timur dan 7,30AAe 7,45A lintang selatan. Kecamatan Trucuk secara wilayah sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Ceper dan Pedan, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Bayat, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Cawas, dan sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kalikotes. Jarak Kantor Kecamatan Trucuk ke Ibukota Kabupaten Klaten sejauh 10 km. Suhu Rata-rata di Kecamatan Trucuk Musim panas berlangsung selama 1,9 bulan dari 7 September sampai 3 November, dengan suhu tertinggi harian rata-rata di atas 32AC. Bulan terpanas dalam setahun di Kecamatan Trucuk adalah Oktober, dengan rata-rata suhu terendah 23AC dan tertinggi 32AC. Musim bersuhu dingin berlangsung selama 3 bulan dari 6 Desember sampai 8 Maret, dengan suhu tertinggi harian rata- rata di bawah 30AC. Wilayah Kecamatan Trucuk terdiri dari 18 wilayah desa, 197 Rukun Warga (RW) dan 487 Rukun Tetangga (RT). Desa dengan jumlah rukun warga terbanyak adalah desa bero dengan jumlah 18. Jumlah rukun warga terkecil adalah desa karangpakel, puluhan, dan mandong sebanyak 7. Untuk desa dengan jumlah rukun tetangga yang terbanyak adalah desa sajen sebanyak 49 diikuti desa bero sebanyak 38 rukun tetangga, sedang untuk desa dengan jumlah rukun tetangga terkecil adalah desa puluhan sebanyak 15 rukun tetangga. Identitas Responden Responden penelitian ini berjumlah 100 orang konsumen yang membeli beras IR 64 di Kecamatan Trucuk. Kabupaten Klaten. Beberapa aspek yang terdapat dalam identitas responden penelitian, yaitu jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, data responden dapat dilihat pada tabel 1. Konsumen merupakan salah satu faktor penting dalam bisnis yang bergerak di bidang pangan. Perilaku konsumsi pangan akan terus berubah mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. No. Tabel 1. Identitas Responden Penelitian Komponen Jumlah Persentase --- jiwa ----- % --Jenis Kelamin Laki-laki 40,00 Perempuan 60,00 Jumlah 100,00 Umur 16,00 26,00 37,00 21,00 Jumlah 100,00 Pendidikan 5,00 SMP 37,00 SMA 42,00 DIPLOMA 2,00 SARJANA 14,00 Jumlah 100,00 Pekerjaan Ibu Rumah Tangga 23,00 Pedagang 30,00 Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2129-2139 Petani 19,00 Pegawai Swasta 14,00 Wirausaha 14,00 Jumlah 100,00 Sumber: Data Primer Penelitian Diolah, 2025 Pendapatan Pendapatan responden dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi beberapa taraf, sehingga dapat diketahui untuk menunjukkan angka pendapatan dari responden. Gambaran pendapatan responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 2. Pendapatan seseorang merupakan suatu imbalan atas hasil kerjanya. Pendapatan seseorang akan memengaruhi dari daya beli seseorang, sebab pendapatan akan mengetahui sejauh mana seseorang memiliki dan mampu dalam daya beli menjadi seorang konsumen. Tabel 2. Pendapatan Responden Pendapatan Jumlah --- Rp/bulan ----- jiwa --500. 38,00 30,00 Persentase --- % --32,00 Jumlah 100,00 Sumber: Data Primer Penelitian Diolah, 2025 Berdasarkan data, rata-rata pendapatan responden sebesar Rp1. 000, nilai rata-rata didapatkan dari perhitungan penjumlahan pendapatan responden dibagi dengan jumlah responden. Pendapatan responden dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu, kelompok 1 dengan pendapatan Rp500. 000Rp1. 000/bulan, kelompok 2 dengan pendapatan Rp1. 000-Rp2. 000/bulan, kelompok 3 dengan pendapatan Rp2. 000-Rp3. 000/bulan. Mayoritas responden memiliki tingkat pendapatan yang relatif rendah dan belum mencapai standar kesejahteraan yang ditetapkan pemerintah daerah melalui UMK. Hal ini sesuai dengan pendapat Wahyuni . yang menyatakan bahwa dasar penetapan upah minimum adalah langkah memperoleh penghasilan yang layak untuk mencapai kesejahteraan pekerja dengan memperhatikan aspek produktivitas dan banyaknya tenaga kerja yang ingin mendapatkan pekerjaan pada level upah yang tinggi sementara tidak memiliki standar kemampuan yang cukup dengan mempertimbangkan pekerjaan, usia dan Berdasarkan data kategori kelompok nomor 1 sebesar 32 jiwa dengan persentase 32%. Hal ini menunjukkan bahwa Sebagian masyarakat berada pada kategori yang dianggap kurang memenuhi kebutuhan hidup layak sesuai dengan standar minimum. Adapun responden dengan pendapatan mencukupi sesuai kebutuhan hanya mencapai 30 jiwa atau 30%. Persentase ini sangat kecil dibandingkan dengan kategori lainnya, yang menunjukkan bahwa hanya sedikit responden yang mampu melampaui standar kesejahteraan minimum yang ditentukan. Faktor-faktor seperti rendahnya tingkat pendidikan, keterbatasan akses ke pekerjaan formal, dan minimnya keterampilan khusus berkontribusi terhadap kondisi ini. Kelompok kecil responden dengan pendapatan tinggi cenderung berasal dari sektor pekerjaan formal atau memiliki keterampilan khusus yang lebih tinggi. Hal ini menegaskan pentingnya peran pendidikan dan pelatihan kerja dalam meningkatkan pendapatan individu dengan adanya sikap terhadap kinerja Hal ini sesuai dengan pendapat Kristianto . yang menyatakan bahwa kinerja karyawan dapat diukur dengan kuantitas, kualitas, efisiensi, standar profesional, kemampuan, penilaian, ketepatan, pengetahuan, dan kreativitas. Jumlah anggota keluarga Jumlah anggota keluarga menjadi pertimbangan dalam pengambilan volume pembelian seseorang, seseorang dengan jumlah keluarga yang banyak akan memiliki volume pembelian yang banyak. Jumlah anggota keluarga yang berjumlah lebih banyak cenderung akan meningkatkan volume pembelian yang akan dilakukan oleh seseorang, sehingga jumlah anggota keluarga sangat berpengaruh terhadap daya beli dari seseorang. Jumlah anggota keluarga akan memengaruhi pola daya beli seseorang untuk memiliki kebutuhan dan peningkatan dari jumlah volume pembelian yang dilakukan. Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Volume Pembelian Beras IR 64 di Kecamatan Trucuk. Kabupaten Klaten Tri Aryanto. Siswanto Imam Santoso. Kustopo Budiraharjo Tabel 3. Jumlah Anggota Keluarga Responden Jumlah Anggota Keluarga Jumlah Persentase 1 Orang 2 Orang 3 Orang 4 Orang 5 Orang --- jiwa --9 --- % --9,00 19,00 42,00 5,00 Jumlah 100,00 Sumber: Data Primer Penelitian Diolah, 2025 Berdasarkan data yang diperoleh dari 100 responden, kelompok jumlah anggota keluarga dengan jumlah 1 orang sebanyak 9 orang dengan persentase 9%, untuk kelompok dengan jumlah 2 orang sebanyak 19 orang dengan persentase 19%. Berdasarkan jumlah anggota 3 orang sebanyak 42 orang dengan persentase 42%, selanjutnya dengan jumlah 4 orang untuk sebanyak 25 orang dengan persentase 25%, kelompok 5 orang sebanyak 5 orang dengan persentase 5%. Jumlah anggota keluarga berpengaruh terhadap daya beli seseorang yang akan menentukan jumlah pembelian yang Hal ini sesuai dengan pendapat Zamrodah . yang menyatakan bahwa jumlah anggota keluarga memengaruhi permintaan dan konsumsi terhadap barang yang dibeli. Ukuran jumlah keluarga maka akan semakin banyak jumlah barang tersedia untuk dikonsumsi, lebih cepat menghabiskan produk yang dibelinya dan diharuskan persediaan yang lebih banyak. Jumlah anggota keluarga akan memengaruhi dari konsumen dalam kebutuhan yang akan dibelinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Yanti dan Murtala . yang menyatakan bahwa anggota keluarga akan memengaruhi konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian barang. Besarnya tanggungan keluarga berpengaruh pada kebutuhan pokok keluarga akan bahan pangan yang akan memengaruhi keputusan konsumen dalam melakukan pembelian pangan. Harga Harga memengaruhi pola konsumsi Masyarakat, termasuk dalam pembelian beras IR 64, seiring dengan naik turunnya harga beras IR 64, proporsi pengeluaran untuk pembelian beras IR 64 untuk kebutuhan dasar akan naik dan menurun. Harga merupakan penentu pemilihan produk yang nantinya akan berpengaruh terhadap minat beli dari konsumen. Penetapan harga haruslah sesuai dengan produk yang diinginkan oleh konsumen. Fluktuasi harga akan memengaruhi konsumen dimana kenaikan harga akan membuat konsumen mencari alternatif dari barang yang akan dikonsumsi oleh konsumen. Harga Rp14,000 Rp15,000 Rp15,500 Rp16,000 Rp17,000 Rp18,000 Tabel 4. Harga Jumlah Persentase --- jiwa --7 --- % --7,00 33,00 1,00 25,00 11,00 23,00 Jumlah 100,00 Sumber: Data Primer Penelitian Diolah, 2025 Berdasarkan data yang diiperoleh dari 100 responden, kelompok harga dengan harga Rp14,000 sebanyak 7 orang dengan persentase 7% selanjutnya untuk kelompok dengan harga Rp15,000 sebanyak 33 orang dengan persentase 33%. Berdasarkan harga Rp15,500 sebanyak 1 orang dengan persentase 1% selanjutnya dengan harga Rp16,000 sebanyak 25 orang dengan persentase 25% kelompok harga Rp17,000 sebanyak 11 orang dengan persentase 11%, kelompok dengan harga Rp18,000 sebanyak 23 orang dengan persentase 23%. Harga merupakan salah satu faktor yang sangat memengaruhi konsumen dalam memutuskan volume pembelian suatu produk atau jasa yang Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2129-2139 ditawarkan, apalagi untuk produk dan jasa yang merupakan kebutuhan sehari-hari . ebutuhan Hubungan harga dengan volume pembelian menyatakan strategi penetapan harga sangat berpengaruh terhadap penjualan maupun pemasaran produk yang ditawarkan, karena harga mempunyai peran yang sangat besar dalam menentukan volume pembelian yang dilakukan oleh para konsumen. Hal ini sesuai dengan pendapat Suryana . yang menyatakan bahwa semakin tinggi harga suatu produk yang ditawarkan, maka semakin kecil pula tingkat keputusan pembelian. Volume pembelian Volume pembelian merupakan jumlah dari beras yang diinginkan oleh konsumen, semakin sesuai keinginan dan kebutuhan konsumen akan memengaruhi jumlah volume pembelian konsumen. Volume pembelian konsumen benar-benar membeli produk yang dibutuhkan sesuai kebutuhannya. Tabel 5. Volume Pembelian Volume Pembelian Jumlah Persentase --- kg/bulan --5 --- jiwa --38 --- % --38,00 10,00 20,00 4,00 28,00 Jumlah 100,00 Uji Normalitas Uji normalitas data digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi kedua variabel mempunyai distribusi yang normal atau tidak. Berdasarkan hasil uji normalitas data dengan SPSS 0 menggunakan uji one sample Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa signifikansi Kolmogorov-Smirnov secara keseluruhan residual sebesar 0,200 maka data berdistribusi normal karena nilai signifikansi yang dihasilkan yaitu > 0,05, yang berarti Ho diterima dan Hi ditolak. Sebaran data yang dikumpulkan dalam suatu pengamatan sebaiknya memenuhi asumsi Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah variabel-variabel dalam penelitian apakah mempunyai sebaran distribusi normal atau tidak. Hal ini sesuai dengan pendapat Fazizah . yang menyatakan bahwa uji normalitas data digunakan untuk menguji dan mengetahui variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi yang normal. Model regresi yang baik adalah model regresi yang memiliki distribusi normal atau mendekati normal, sehingga layak dilakukan penguji secara statistik. Pengujian normalitas data dalam penelitian ini menggunakan Test of Normality Kolmogorov-Smirnov dalam program SPSS. Dasar pengambilan keputusan ini dilakukan berdasarkan probabilitas, jika probabilitas > 0,05 maka distribusi model regresi normal. Hal ini sesuai dengan pendapat Priyatno . yang menyatakan bahwa jika nilai K-S memiliki probabilitas signifikansi > = 0,05 maka variabel tersebut terdistribusi secara normal. Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah terdapat adanya korelasi antara variabel bebas dalam model regresi, uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui bagaimana adanya korelasi antar variabel dalam model regresi. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadinya Tabel 6. Hasil Uji Multikolinearitas Model VIF Pendapatan Jumlah Anggota Keluarga Harga Sumber: Data Penelitian Diolah, 2025 Berdasarkan hasil pengolahan SPSS versi 22. 0 seperti yang sudah tercantum dalam table 9, diperoleh nilai Tolerance pada masing masing variabel independen > 0,9 dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) kisaran rendah, nilai ini jauh di bawah ambang batas 12, yang menunjukkan tidak ada peningkatan varians yang signifikan karena multikolinieritas. Hal ini sesuai dengan Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Volume Pembelian Beras IR 64 di Kecamatan Trucuk. Kabupaten Klaten Tri Aryanto. Siswanto Imam Santoso. Kustopo Budiraharjo pendapat Priyatno . yang menyatakan bahwa apabila angka VIF kisaran rendah dibawah ambang batas 12 maka tidak ada multikolinearitas sehingga model regresi bebas dari Uji multikolinearitas merupakan uji yang digunakan untuk menguji apakah terdapat adanya korelasi terhadap variabel bebas dalam model regresi. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas merupakan suatu uji yang digunakan untuk menguji apakah terdapat adanya korelasi antara variabel bebas dalam model regresi. Uji heteroskedastisitas akan mengetahui bagaimana adanya korelasi atau tidak, model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antara variabel independen. Uji heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan cara melihat nilai Tabel 7. Hasil Uji Heteroskedastisitas Model Sig Pendapatan Jumlah Anggota Keluarga Harga Berdasarkan hasil analisis dengan uji Glejser diketahui bahwa nilai signifikansi masing- masing variabel independen lebih dari 0,05, maka dapat dikatakan bahwa tidak terjadi masalah dalam uji Hal ini sesuai dengan pendapat Ghozali . yang menyatakan bahwa apabila uji Glejser dilakukan dengan mengamati signifikansi pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen nilai Absolute Ut (AbsU. Apabila probabilitas signifikansi di atas tingkat kepercayaan 5% maka model regresi tidak mengandung adanya Uji heteroskedastisitas merupakan uji yang digunakan dalam suatu model analisis regresi untuk mengetahui apakah terjadi ketidaksamaan variabel independen dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Priyatno . yang menyatakan bahwa jika varians dari residual pada suatu pengamatan ke pengamatan yang lain berbeda maka disebut heteroskedastisitas dan jika sama disebut homoskedastisitas. Hasil analisis regresi linier berganda Hasil analisis regresi dengan aplikasi SPSS versi 22. 0 menunjukkan persamaan regresi linier berganda sebagai berikut : Y = 5,429 0,268 X1 0,232 X2 - 0,752 X3 Nilai Adj-R sebesar 0,586 atau 58,6%. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen yaitu pendapatan, jumlah anggota keluarga, dan harga mampu menjelaskan sebesar 58,6% variasi nilai volume pembelian beras IR 64 sedangkan sisanya sebesar 41,4% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam penelitian. Uji F Berdasarkan data hasil analisis pengaruh serempak dari variabel independen . endapatan, jumlah anggota keluarga, dan harg. terhadap volume pembelian beras IR 64 menunjukkan bahwa nilai F hitung sebesar 47,682 dengan signifikansi 0,000 yang menunjukkan bahwa variabel independen secara serempak memengaruhi volume pembelian beras IR 64. Berdasarkan hasil uji secara serempak menyatakan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima apabila nilai signifikansi O 0,05 (Lampiran . Hal ini sesuai dengan pendapat Soekarwati . yang menyatakan bahwa apabila sighit O 0,05 menyatakan bahwa terdapat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen . olume pembelia. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pendapatan, jumlah anggota keluarga, dan harga secara serempak berpengaruh terhadap volume pembelian beras IR 64. Uji t Uji t merupakan suatu uji yang digunakan untuk menguji koefisiensi regresi secara parsial dengan menentukan formula statistic yang akan diuji. Untuk mengetahui apakah suatu variabel independen berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel dependen. Uji t digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik terhadap kedua kelompok tersebut. Uji t menggunakan metode dalam analisis data karena kemampuannya untuk membandingkan rata-rata dua kelompok variabel yang akan diuji. Dengan melihat asumsi yang berlaku serta memahami jenis uji t dapat mengetahui Kesimpulan yang lebih valid. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2129-2139 Tabel 8. Hasil Uji t Model Sig Pendapatan Jumlah Anggota Keluarga Harga Sumber: Data Primer Penelitian Diolah, 2025 Berdasarkan hasil uji t diketahui bahwa pendapatan, jumlah anggota keluarga, dan harga secara parsial berpengaruh terhadap volume pembelian beras IR 64 dengan nilai signifikansi O 0,05. Hal ini sesuai dengan pendapat Efendi . yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh dari variabel independen terhadap dependen yang menunjukkan signifikansi dengan nilai < 0,05. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai Secara serempak variabel independen . endapatan, jumlah anggota keluarga, dan harg. berpengaruh terhadap volume pembelian beras IR 64 secara signifikan. Secara parsial variabel pendapatan, jumlah anggota keluarga, dan harga berpengaruh secara signifikan terhadap volume pembelian beras IR 64. DAFTAR PUSTAKA