Mazrikhatul MiAoah:Pendampingan Preventif Bullying melalui P5 di Sekolah MenengahA. | 69 ABDINA: Jurnal Sosial Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 3. No. Juli Ae Desember 2024 ISSN: 2962-2646 . https://ejournal. id/index. php/abdina/index PENDAMPINGAN PREVENTIF BULLYING MELALUI P5 DI SEKOLAH MENENGAN PERTAMA MANARUL QURAoAN Mazrikhatul MiAoah1. Nur Azizah2. Nurul Hidayati3 1,2,3 IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan mazrikhatulmiah@gmail. com 1, nurazizah@iai-tabah. id 2, nurulhidayati@iai-tabah. Abstract: This mentoring program aims to provide comprehensive insights as a preventive effort against bullying behavior through the Pancasila Student Profile Strengthening Project at SMP Manarul QurAoan. The approach employs lecture methods combined with project-based learning, involving direct participation in poster creation and campaigning. The program begins with an initial socialization session on the concept of bullying, its impacts, and prevention strategies, conducted during the first week of mentoring. In the second week, student empowerment activities are carried out to raise awareness through investigations involving teachers and students. Subsequently, students create anti-bullying posters to voice their concerns regarding bullying threats and conduct anti-bullying campaigns alongside teachers to raise community awareness about the dangers of bullying that must be The results indicate an increase in studentsAo knowledge, highlighting that bullying fundamentally contradicts Islamic values and constitutes behavior that must be The acquired knowledge contributes to shaping students into individuals who are devoted to God and possess noble character. Regarding attitudes, the mentoring program effectively shifts the mindset of both victims and perpetrators, making them realize that bullying behavior is highly detrimental. It also enhances social attitudes, including mutual respect, global diversity awareness, tolerance, and empathy. In terms of skills, the service program based on the Pancasila Student Profile (P. concept fosters the development of critical thinking related to bullying, independence and responsibility within groups, creativity, and cooperation . otong royon. through the process of creating and campaigning anti-bullying posters. Keywords: P5. Mentoring. Bullying Prevention. SMP Manarul QurAoan. Abstrak: Pendampingan ini bertujuan untuk memberikan wawasan komprehensif sebagai upaya pencegahan perilaku bullying melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di SMP Manarul QurAoan dengan menggunakan metode ceramah, berbasis project, terlibat langsung dalam pembuatan poster dan mengkampanyekannya, yang mana hal ini diawali dengan sosialisasi awal tentang konsep bullying, dampak dan upaya pencegahannyannya yang dilaksanakan pada minggu pertama pendampingan, pemberdayaan siswa dalam upaya penyadaran melalui kegiatan investigasi terhadap guru dan siswa yang dilaksanakan pada minggu kedua, pembuatan poster anti-bullying untuk menyuarakan aspirasi siswa terhadap ancaman bullying dan kampanye anti bullying yang dilaksanakan oleh siswa dan guru guna menyadarkan masyarakat tentang bahaya bullying yang harus dicegah. Hasil pendampingan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan pengetahuan siswa bahwa bullying pada 70 | ABDINA: Jurnal Sosial Dan Pengabdian Kepada Masyarakat | Vol. 3 No. 2, 2024 hakikatnya tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan merupakan perilaku yang harus Maka dengan pngetahuan yang didapatkan akan membentuk sebagai manusia yang taat kepada Tuhan dan berakhlak mulia. Sedangkan dalam ranah Sikap : Pendampingan dapat mengubah mindset bahwa bullying baik menjadi korban atau pelaku harus menyadari perilaku tersebut sangat merugikan dan dengan adanya pendampingan dapat meningkatkan sikap sosial meliputi saling menghargai, . ebhinekaan globa. toleransi, empeti dan sebagainya, dan dalam ranah keterampilan : Pengabdian yang dilaksanakan dengan mengusung konsep P5 merupakan pengembangan beberapa karaktek yang dilaksanakan dalam bentuk pemberdayaan peserta dampingan dengan analisa kritis terkait bullying, kemandirian dalam bertanggung jawab secara kelompok, kreatifitas dan kerjasama . otong royon. dalam pembuatan poster anti bullying dan Kata Kunci: P5. Pendampingan. Preventif Bullying. SMP Manarul QurAoan. Pendahuluan Survei yang dilakukan oleh Plan Indonesia dan Semai Jiwa Amini (SEJIWA) pada tahun 2008, membuktikan bahwa tindak bullying pernah terjadi di sekolah. Survei ini 500 siswa SMP dan SMA di tiga kota besar di Indonesia yakni Jakarta. Surabaya dan Yogyakarta, yang mencatat terjadinya tingkat kekerasan sebesar 67. persen di tingkat SMA dan 66,1 persen di tingkat SMP. Bullying tercatat sebesar 43,7 persen untuk tingkat SMA dan 41,2 persen untuk tingkat SMP, dengan kategori tertinggi bullying secara psikologis berupa pengucilan. Peringkat kedua ditempati bullying secara verbal berupa ejekan, dan terakhir bullying secara fisik berupa pukulan. 1 Bullying merupakan perilaku yang menggunakan kekuatan yang digunakan untuk melukai seorang indivindu atau beberapa orang secara fisik atau secara psikologis. Tattum. Delwyn & Herbert dalam Wibowo dkk mengungkapkan ditemukan bahwa anak-anak yang menjadi korban bullying memiliki harga diri yang rendah, dan melihat diri mereka dalam hal negatif menjadi beberapa masalah, lebih cemas, popular, dan kurang bahagia dibandingkan anak-anak yang tidak pernah diganggu. 3 Bullying dapat muncul pada laki-laki dan perempuan dalam bentuk verbal, fisik, relasional, dan cyber. mengelompokkan bullying menjadi tiga kategori yaitu bullying fisik, bullying verbal, dan bullying psikogis. Para siswa yang menjadi korban dari bullying sering mendapatkan masalah sebagai dampak dari tindakan bullying yang dilakukan pelaku seperti masalah pada mental dan kesehatan fisik. Biasanya masalah yang sering dialami korban bullying adalah masalah mental yaitu merasa tidak aman saat berada dilingkungan sekolah dan selalu 1 Hariyanto Wibowo. Fijriani Fijriani, and Veno Dwi Krisnanda. AuFenomena Perilaku Bullying Di Sekolah,Ay Orien: Cakrawala Ilmiah Mahasiswa 1, no. : 157Ae66, https://doi. org/10. 30998/ocim. 2 Hatika Mutiasari and Linda Yarni. AuFenomena Bullying Dalam Kalangan Siswa Di Smp Negeri 1 Tara,Ay Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan Dan Kebudayaan . 72Ae86, https://doi. org/10. 59031/jkppk. 3 Wibowo. Fijriani, and Krisnanda. AuFenomena Perilaku Bullying Di Sekolah. Ay 4 Agus Supriyanto. Hardi Prasetiawan, and Amien Wahyudi. AuIdentifikasi Perilaku Bullying Di Tingkat Sekolah Menengah,Ay Jurnal Fokus Konseling 4, no. : 192, https://doi. org/10. 26638/jfk. 5 Yunita Bulu. Neni Maemunah, and Sulasmini. AuFaktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Bullying Pada Remaja Awal,Ay Nursing News . 54Ae66, https://publikasi. id/index. php/fikes/article/download/1473/1047. Mazrikhatul MiAoah:Pendampingan Preventif Bullying melalui P5 di Sekolah MenengahA. | 71 merasa takut dengan pelaku yang berpengaruh pada penurunan minat belajar siswa disekolah karena selalu merasa terancam. 6 Bullying tergolong kepada perilaku yang tidak baik atau perilaku menyimpang, hal ini dikarenakan bahwa perilaku tersebut memiliki dampak yang cukup serius. Bullying dalam jangka pendek dapat menimbulkan perasaan tidak aman, terisolasi, perasaan harga diri yang rendah, depresi, atau menderita stress yang dapat berakhir dengan bunuh diri. Dalam jangka panjang, korban bullying dapat menderita masalah emosional dan perilaku. Di antara penyebab adanya perilaku bulliying adalah mudahnya mengakses media digital sehingga kadang ada menggunakannya dengan kurang bijak dan berefek kepada perilaku dan Di Indonesia, anak-anak usia 6-14 tahun menggunakan media seperti televisi dan internet lebih tinggi dari populasi pada umumnya. 8 Hal ini juga dituturkan oleh Syafika dkk yang menjelaskan bahwa oleh tayangan sinetron televisi yang mengangkat kisah keberutalan, perkelahian dan secara tidak langsung memberikan dampak negatif pada fungsi kognitif/pradigma berfikir dan psikologis anak dan remaja 9 Di antara kasus yang berkembang adalah Perilaku bullying yang berdampak pada sebuah fakta seperti pada kasus di Indonesia pada tahun 2005 salah satu remaja putri yang berusia 13 tahun yang berasal dari sekolah di Bekasi, gadis ini mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri yang di temukan di kamar mandi rumahnya. Diketahui alasan nya sebab gadis tersebut sering merasa malu karena di ejekin oleh teman sekelasnya sebagai anak penjual bubur. 10 Burdick-Will dalam Evianingrum mengungkapkan bahwa Kasus-kasus agresivitas pelajar sekolah di sejumlah negara yang membahayakan warga sekolah menunjukkan bahwa pendidikan di sekolah belum berhasil dalam menyediakan ruang yang aman dan nyaman bagi segenap warga sekolah. Contoh praktik pendidikan di Amerika Serikat terutama di Chicago menunjukkan bahwa sekolah yang berkinerja buruk, memiliki korelasi dengan banyaknya kasus kekerasan dan bullying di kalangan siswa. Paparan tentang jenis kekerasan yang sering terjadi di sekolah penting untuk dipahami karena kekerasan memiliki pengaruh negatif terhadap prestasi akademik maupun non akademik. Kekerasan dalam masyarakat disebabkan antara lain oleh adanya konten kekerasan di media, keluarga yang mengalami disfungsi, pelecehan anak, kekerasan dalam rumah tangga, perkembangan emosi dan kognitif yang buruk, narkoba, geng, kemiskinan, dan akses pendidikan yang tidak merata. 12 Dan kurangnya kemampuan berempati seringkali menjadi penyebab utama terjadinya perilaku bullying. 13 Dan untuk upaya pencegahan atau langkah preventif dari bullying adalah dengan mengoptimalisasi 6 Hatika Mutiasari and Linda Yarni. AuFenomena Bullying Dalam Kalangan Siswa Di Smp Negeri 1 Tara. Ay 7 Yuli Permata Sari and Welhendri Azwar. AuFenomena Bullying Siswa: Studi Tentang Motif Perilaku Bullying Siswa Di SMP Negeri 01 Painan. Sumatera Barat,Ay Ijtimaiyya: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam 10, 2 . : 333Ae67, https://doi. org/10. 24042/ijpmi. 8 Ahmad Baliyo Eko Prasetyo. AuBullying Di Sekolah Dan Dampaknya Bagi Masa Depan Anak,Ay El-Tarbawi 4, 1 . : 19Ae26, https://doi. org/10. 20885/tarbawi. 9 Nurul Syavika et al. AuBentuk Emosi Bullying Dan Korban Bullying Di Sekolah (Studi Kasus SMP Negeri 27 Meda. ,Ay Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi . https://doi. org/10. 33087/jiubj. 10 Syavika et al. 11 Ariefa Efianingrum. Siti Irene Astuti Dwiningrum, and Riana Nurhayati. AuAktivitas Sekolah Yang Rentan Terjadi Bullying Kalangan Siswa,Ay Foundasia . 37Ae43, https://doi. org/10. 21831/foundasia. 12 Efianingrum. Dwiningrum, and Nurhayati. 13 Efianingrum. Dwiningrum, and Nurhayati. 72 | ABDINA: Jurnal Sosial Dan Pengabdian Kepada Masyarakat | Vol. 3 No. 2, 2024 kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang sarat dengan nilai-nilai karakter yang harus dimiliki oleh setiap siswa. Salah satu upaya mewujudkan visi dari kemendikbud yaitu dengan penetapan kurikulum merdeka. Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 262/M/2022, struktur kurikulum pada pendidikan dasar dan menengah dibagi menjadi dua kegiatan utama, yaitu pembelajaran intrakulikuler dan projek penguatan profil pelajar Pancasila. Pembelajaran intrakulikuler yang dimaksud adalah kegiatan rutin dan terjadwal berdasarkan muatan pelajaran yang Sedangkan projek penguatan profil pelajar Pancasila merupakan kegiatan korikuler, projek untuk menguatkan Pencapaian profil pelajar Pancasila dikembangkan berdasarkan tema tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. Projek tersebut tidak diarahkan untuk mencapai target capaian pembelajaran tertentu, sehingga tidak terikat pada konten mata pelajaran. 14 Lebih lanjut sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Nomor 22 Tahun 2020 Tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Tahun 2020-2024, (Jakarta: Dirjen Peraturan Perundang-undangan, 2020: . terdapat enam dimensi profil pelajar Pancasila yaitu: . Beriman. Bertakwa Kepada Tuhan YME, dan Berkahlak Mulia, . Berkebinekaan Global, . Gotong Royong, . Mandiri, . Bernalar Kritis, dan . Kreatif. Dalam praktiknya enam dimensi profil pelajar pancasila ini merupakan karakter yang harus dimiliki/melekat oleh seluruh pelajar baik dalam kegiatan intrakulikuler maupun ekstrakulikuler dan pelaksanaannya bisa secara mandiri dalam setiap pelajaran dan juga dapat terintegrasi dengan beberapa mata pelajaran dengan proyek yang dapat dilakukan bersama. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. dalam pelaksanannya untuk membentuk sebagai manusia yang karakter baik dalam hubungannya kepada Allah juga kepada sesama muslim lainnya . akhluk sosia. Sebagai makhluk sosial pasti butuh adanya interaksi dan komunikasi sehingga tercipta harmoni keindahan dalam P5 membutuhkan keterlibatan berbagai pihak seperti di SMP Manarul QurAoan Paciran dengan konsep pencegahan bullyiing di kalangan siswa dan santri karena SMP Manarul QurAoan berada di bawah naungan yayasan maAohad Manarul QurAoan yang berdiri sejak tahun 2011, merupakan lembaga pendidikan yang berada Oleh karenanya, siswa yang ada di SMP Manarul QurAoan cukup heterogen. Yang artinya, berpeluang untuk terjadi bullying sehingga perlu adanya langkah preventif sebagai pemberdayaan. Hasil dan Pembahasan Pendampingan preventif bulliying melalui P5 di SMP Manarul QurAoan pada tahun 2024 dilakukan secara terstruktur dan berkesinambungan dengan bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan harmonis bagi seluruh siswa dan santri . ebas dari bulliyin. : langkah pertama dengan mengedukasi dan Sosialisasi dengan media yang relevan bagi siswa tentang Bullying. Edukasi ini mencakup definisi bullying, jenis-jenisnya . isik, verbal, sosial, sibe. , dampaknya terhadap korban, serta pentingnya menjaga saling menghormati dalam interaksi, (Dalam hal ini, pendamping berperan sebagai narasumber sosialisasi yang berlangsung selama 120 menit. 14 Prasetiyani Pujiastuti. Ngasbun Egar, and Yovitha Juliejantiningsih. AuImplementasi Projek Penguatan Profile Pelajar Pancasila Dimensi Kemandirian Dan Gotong Royong Di SD Negeri Plosogaden Kabupaten TemanggungAy 13, no. : 224Ae34. 15 Pujiastuti. Egar, and Juliejantiningsih. Mazrikhatul MiAoah:Pendampingan Preventif Bullying melalui P5 di Sekolah MenengahA. | 73 selanjutnya untuk menghilangkan budaya bulliying juga melakukan pelatihan keterampilan sosial meliputi cara berinteraksi dengan baik, menyelesaikan konflik secara damai, serta mengenali tanda-tanda bullying dan cara melaporkannya. Mengajarkan empati dan menghargai perbedaan dengan pendekatan yang melibatkan latihan simulasi atau role-play. Penguatan nilai-nilai Islam dalam pencegahan bullying melalui integrasi nilai Islam dalam pembelajaran khususnya berkaitan dengan konsep setiap muslim adalah bersaudara dan menyadari tujuan dari kehidupan manusia adalah menjadi Insan Kamil serta mengaplikasikan nilai-nilai sebagai muslim yang memiliki pribadi sosial yang baik, yang mana pendekatan keteladan dan pembiasaan dapat diterapkan pada hal ini. Setelah dilakukan edukasi terkait bullying maka langkah berikutnya adalah pemberdayaan peserta didik. Dimana dalam kegiatan ini siswa diberi tugas untuk melakukan investigasi kepada siswa dan guru dengan menggunakan instrument yang sudah disediakan. Hal ini dapat melatih siswa dan santri agar mampu mengenali berbagai jenis bullying . isik, verbal, sosial, dan sibe. dan cara-cara melaporkan atau menghindari situasi bullying. Pendampingan berikutnya adalah dengan pembentukan tim Anti-bullying atau kelompok khusus yang terdiri dari siswa, santri, dan guru yang bertugas memantau dan mengawasi potensi terjadinya bullying. kelompok ini dapat melakukan pengawasan di area-area tertentu di lingkungan pesantren, seperti asrama, ruang kelas, dan area kegiatan ekstrakurikuler. Memberikan pelatihan anggota tim untuk dapat mengenali tanda-tanda bullying, baik yang terjadi secara fisik, verbal, atau sosial, serta memberikan pendampingan kepada korban dan pelaku. tim ini juga bertugas untuk memberikan edukasi kepada teman-teman sebayanya agar mereka lebih peduli terhadap sesama. Pendampingan selanjutnya dengan pembuatan poster anti bullying, hal ini sebagai bagian dari kegiatan pendampingan, pembuatan poster anti bullying dapat menjadi sarana edukatif dan kreatif untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya saling menghargai dan mencegah kekerasan di lingkungan sekolah. Kegiatan ini dapat dimulai dengan memberikan pemahaman kepada siswa tentang bentuk-bentuk bullying, dampaknya, serta nilai-nilai empati dan toleransi. Selanjutnya, siswa diajak untuk menuangkan pesan-pesan anti bullying melalui gambar dan kata-kata yang positif dan inspiratif dalam poster yang mereka buat secara individu atau berkelompok. Selain mengembangkan kreativitas, aktivitas ini juga mendorong siswa untuk lebih peduli terhadap sesama dan menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif. Langkah terakhir adalah kampanye anti bullying dengan membawa hasil dari poster yang telah dibuat, kampanye anti bullying sebagai kegiatan pendampingan merupakan upaya sistematis untuk membangun kesadaran dan kepedulian siswa terhadap pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, ramah, dan bebas dari Melalui kampanye ini, siswa didampingi untuk memahami berbagai bentuk bullyingAibaik fisik, verbal, maupun sosialAiserta dampak negatif yang ditimbulkannya terhadap korban. Dengan melibatkan siswa secara aktif, kampanye ini tidak hanya menjadi media edukasi, tetapi juga mendorong tumbuhnya empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial, sehingga nilai-nilai positif dapat tertanam kuat dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Pengabdian dengan judul Pendampingan preventif bulliying melalui P5 di SMP Manarul QurAoan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan para siswa SMP dalam pencegahan bullying terjadi di sekolah maupun pesantren, berikut kami paparkan dalam temuan hasil: 74 | ABDINA: Jurnal Sosial Dan Pengabdian Kepada Masyarakat | Vol. 3 No. 2, 2024 Pengetahuan :Sebelum mendapatkan pendampingan, sebagian siswa masih menganggap bullying adalah hal yang lumrah terjadi di dunia pendidikan sehingga menjadi hal yang dinormalisasikan, maka dengan adanya pendampingan yang diawali dengan sosialisasi dan edukasi secara komprehensif terkait bullying dapat meningkat pengetahuan siswa bahwa bullying pada hakikatnya tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan merupakan perilaku yang harus dihindari. Maka dengan pngetahuan yang didapatkan akan membentuk sebagai manusia yang taat kepada Tuhan dan berakhlak Sikap : Pendampingan dapat mengubah mindset bahwa bullying baik menjadi korban atau pelaku harus menyadari perilaku tersebut sangat merugikan dan dengan adanya pendampingan dapat meningkatkan sikap sosial meliputi saling menghargai, . ebhinekaan globa. toleransi, empeti dan sebagainya. Keterampilan : Pengabdian yang dilaksanakan dengan mengusung konsep P5 merupakan pengembangan beberapa karaktek yang dilaksanakan dalam bentuk pemberdayaan peserta dampingan dengan analisa kritis terkait bullying, kemandirian dalam bertanggung jawab secara kelompok, kreatifitas dan kerjasama . otong royon. dalam pembuatan poster anti bullying dan mengkampanyekannya. Tingkat Ketercapaian Target Kegiatan Pendampingan dengan menggunakan P5 sebagai upaya pencegahan bullying merupakan hal yang sangat urgen untuk dilakukan mengingat moral bangsa yang terus tergerus sehingga dibutuhkan langkah preventif. Dalam pendampingan ini memiliki dampak yang cukup signifikan bagi lembaga: Membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia, gotong royong, dan bernalar kritis melalui pendekatan holistik dan berbasis pengalaman langsung karena siswa diajak untuk mengenali nilai-nilai kemanusiaan, memahami perbedaan, serta membangun empati dan kepedulian terhadap sesama. Meningkatnya kesadaran dan pemahaman tentang bullying melalui sesi sosialisasi kepada seluruh siswa dan santri mengenai apa itu bullying, dampak buruknya, dan pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan damai. Pembicaraan ini mencakup definisi bullying, jenis-jenis bullying . isik, verbal, sosial, sibe. , serta cara mengenali dan mengatasi bullying. Selain itu penyuluhan juga dilakukan kepada Guru dan Pengasuh Pesantren. Dalam hal ini dapat dilakukang melalui kegiatan pelatihan kepada guru dan pengasuh mengenai cara mengenali tanda-tanda bullying, serta teknik komunikasi yang efektif dalam menangani masalah ini di lingkungan pesantren. Perubahan Perilaku Pelaku Bullying. Melalui pendekatan edukatif, reflektif, dan empatik dalam kegiatan pendampingan, pelaku diajak untuk memahami dampak buruk dari tindakan mereka terhadap korban, baik secara emosional maupun sosial. Dengan bimbingan yang tepat, pelaku bullying mulai menyadari bahwa perilaku agresif bukanlah cara yang sehat untuk mengekspresikan emosi atau memperoleh pengakuan. Proses ini sering kali melibatkan konseling, dialog terbuka, serta keterlibatan dalam kegiatan positif seperti kerja tim, kampanye damai, dan proyek sosial. Hasilnya, banyak pelaku yang mengalami perubahan sikap menjadi lebih sadar diri, bertanggung jawab, dan mampu menjalin hubungan sosial yang lebih sehat. Perubahan perilaku ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan harmonis. Pemulihan dan Pemberdayaan Korban Bullying, dengan adanya sosialisasi dan edukasi terkait bulliying membawa dampak pada korban bullying yaitu korban diberikan Mazrikhatul MiAoah:Pendampingan Preventif Bullying melalui P5 di Sekolah MenengahA. | 75 ruang aman untuk bercerita, mendapat dukungan emosional, serta dibantu memahami bahwa mereka tidak bersalah atas perlakuan yang mereka terima. Selain itu, pemberdayaan dilakukan melalui pelatihan keterampilan sosial, keterlibatan dalam kegiatan positif seperti seni, olahraga, atau proyek P5, serta dorongan untuk mengambil peran aktif dalam kampanye anti bullying. Dengan pendekatan ini, korban tidak hanya pulih dari luka batin, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, berani bersuara, dan mampu membantu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih inklusif dan suportif. Meningkatnya Hubungan Sosial Antar Santri dengan berupaya mengaplikasikan nilai-nilai empati, kerja sama, dan saling menghargai, santri diajak untuk lebih terbuka dalam berinteraksi, membangun komunikasi yang sehat, serta menyadari pentingnya keberagaman karakter dan latar belakang antar individu. Aktivitas seperti diskusi kelompok, permainan kolaboratif, proyek bersama, dan kampanye anti bullying menciptakan ruang bagi santri untuk saling mengenal lebih dekat dan mempererat ikatan Seiring waktu, atmosfer lingkungan menjadi lebih harmonis, di mana santri merasa diterima, didukung, dan mampu menyelesaikan konflik secara damai. Hal ini tidak hanya memperkuat solidaritas di antara mereka, tetapi juga mendorong terbentuknya komunitas pondok pesantren yang inklusif dan bebas dari kekerasan Suasana sekolah pun mulai berubah: siswa merasa lebih tenang, tidak takut untuk berekspresi, dan berani melaporkan jika terjadi tindakan kekerasan. Guru juga menjadi lebih peka dan responsif terhadap dinamika sosial di kelas. Dengan meningkatnya rasa aman ini, proses belajar-mengajar berlangsung lebih efektif, hubungan antar siswa membaik, dan tercipta budaya positif yang mendukung tumbuh kembang karakter siswa secara utuh. Lingkungan sekolah yang aman bukan hanya bebas dari kekerasan, tetapi juga menjadi tempat yang menyenangkan dan penuh semangat untuk belajar serta Peningkatan Kualitas Karakter peserta didik, nilai penting seperti empati, tanggung jawab, toleransi, kejujuran, dan keberanian dalam menyuarakan kebenaran. Mereka tidak hanya diajarkan untuk menolak perilaku bullying, tetapi juga untuk menjadi bagian dari solusiAisebagai pelindung, pendukung, dan teman yang peduli. Dengan sering dilibatkan dalam diskusi nilai, simulasi situasi sosial, serta proyek berbasis aksi . eperti kampanye damai atau kegiatan P. , karakter siswa berkembang secara Mereka menjadi pribadi yang lebih bijak dalam bersikap, lebih peduli terhadap sesama, dan lebih mampu menjaga hubungan sosial yang sehat. Peningkatan karakter ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi pelajar yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Penguatan Nilai-nilai Agama dan Moral, mengintegrasikan ajaran agama dengan nilai-nilai kemanusiaan, peserta didik diajak untuk memahami bahwa perilaku saling menghargai, menolong sesama, dan menjauhi kekerasan merupakan bagian dari implementasi iman dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan seperti refleksi keagamaan, kajian akhlak, diskusi tematik, serta praktik ibadah bersama, membantu siswa menanamkan nilai moral secara mendalam dan konsisten. Ketika nilai agama dipahami tidak hanya sebagai teori, tetapi juga sebagai pedoman perilaku, maka siswa lebih sadar akan tanggung jawabnya sebagai individu yang harus menjaga kedamaian, keadilan, dan kasih sayang di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Penguatan ini menciptakan suasana belajar yang lebih beretika, harmonis, dan bermakna, sekaligus membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia. Perubahan Sikap Komunitas Pesantren terhadap Bullying, seluruh elemen pesantren mulai memahami bahwa bullying adalah bentuk kekerasan yang bertentangan dengan ajaran Islam dan prinsip akhlakul karimah. Sikap permisif mulai digantikan 76 | ABDINA: Jurnal Sosial Dan Pengabdian Kepada Masyarakat | Vol. 3 No. 2, 2024 dengan tindakan preventif dan edukatif, seperti memberikan pembinaan akhlak, membentuk forum komunikasi antar santri, serta menyediakan ruang konseling yang Komunitas pesantren kini lebih terbuka dalam membahas isu bullying dan berupaya menjadi bagian dari solusi, bukan lagi pembiaran. Perubahan ini memperkuat pesantren sebagai lingkungan pendidikan yang tidak hanya menekankan ilmu dan ibadah, tetapi juga menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan sosial. Peningkatan Keterampilan Mengatasi Konflik, santri menjadi lebih matang dalam merespons perbedaan dan tekanan sosial, serta mampu membangun hubungan yang lebih sehat dan harmonis dengan sesama. Peningkatan ini sangat penting dalam menciptakan budaya pesantren yang mendukung pertumbuhan karakter positif dan ketahanan sosial di kalangan peserta didik. Gambar 1: Pembuatan Poster dan Gambar 2: Edukasi dan Sosialisasi terkait Bullying Setelah diadakan pendampingan, maka tindak lanjut dari kegiatan tersebut adalah: adanya penerapan sistem pelaporan dan pengawasan, dalam artian terdapat saluran pelaporan yang aman dan mudah diakses bagi korban bullying atau bagi mereka yang menyaksikan kejadian bullying. Ini bisa berupa kotak saran, aplikasi pesan, atau komunikasi langsung dengan guru/pengasuh pesantren yang dipercaya dan m enjamin kerahasiaan identitas pelapor agar mereka merasa aman untuk melaporkan kejadian tanpa takut ada pembalasan atau stigma. Pemantauan dan Evaluasi Rutin terhadap perkembangan lingkungan pesantren, termasuk observasi dalam kegiatan sehari-hari, untuk memastikan tidak ada bentuk bullying yang terjadi. Evaluasi tahunan terhadap program pencegahan bullying dilakukan untuk menilai keberhasilan dan mencari solusi bagi permasalahan yang masih ada. Pembinaan karakter dan kegiatan positif secara berkelanjutan dengan cara: menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler yang membangun karakter, seperti olahraga, seni, atau keterampilan lainnya, yang mengajarkan kerja sama, saling menghargai, dan keterampilan sosial. Memperkuat pembinaan karakter dalam keseharian pesantren melalui pengajaran tentang nilai-nilai moral, etika, dan norma sosial yang sejalan dengan ajaran Islam. Dan Penyusunan Laporan kegiatan pencegahan Anti bullying. Kesimpulan Dan Saran Mazrikhatul MiAoah:Pendampingan Preventif Bullying melalui P5 di Sekolah MenengahA. | 77 Pendampingan pencegahan bullying sebagai implementasi kegiatan P5 di sekolah berbasis pesantren dapat dilakukan dengan serangkaian tahapan yang berkelanjutan, yaitu : sosialisasi awal tentang konsep bullying, dampak dan upaya pencegahannyannya yang dilaksanakan pada minggu pertama pendampingan, pemberdayaan siswa dalam upaya penyadaran melalui kegiatan investigasi terhadap guru dan siswa yang dilaksanakan pada minggu kedua, pembuatan poster anti-bullying untuk menyuarakan aspirasi siswa terhadap ancaman bullying dan kampanye anti bullying yang dilaksanakan oleh siswa dan guru guna menyadarkan masyarakat tentang bahaya bullying yang harus dicegah. Pengetahuan :Sebelum mendapatkan pendampingan, sebagian siswa masih menganggap bullying adalah hal yang lumrah terjadi di dunia pendidikan sehingga menjadi hal yang dinormalisasikan, maka dengan adanya pendampingan yang diawali dengan sosialisasi dan edukasi secara komprehensif terkait bullying dapat meningkat pengetahuan siswa bahwa bullying pada hakikatnya tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan merupakan perilaku yang harus dihindari. Maka dengan pngetahuan yang didapatkan akan membentuk sebagai manusia yang taat kepada Tuhan dan berakhlak Sikap: Pendampingan dapat mengubah mindset bahwa bullying baik menjadi korban atau pelaku harus menyadari perilaku tersebut sangat merugikan dan dengan adanya pendampingan dapat meningkatkan sikap sosial meliputi saling menghargai, . ebhinekaan globa. toleransi, empeti dan sebagainya. Keterampilan: Pengabdian yang dilaksanakan dengan mengusung konsep P5 merupakan pengembangan beberapa karaktek yang dilaksanakan dalam bentuk pemberdayaan peserta dampingan dengan analisa kritis terkait bullying, kemandirian dalam bertanggung jawab secara kelompok, kreatifitas dan kerjasama . otong royon. dalam pembuatan poster anti bullying dan mengkampanyekannya. Daftar Pustaka