Kajian Metode Muqaran: Adab Murid terhadap Guru Menurut Imam Ghazali dan Kontekstualisasinya dengan Kode Etik Guru Indonesia Muhammad Faqih Mukaddam Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin. Indonesia Muhammadfaqihmukaddam399@gmail. Hairul Hudaya Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin. Indonesia hairulhudaya@uin-antasari. Abstract Teachers and students play a very important role in the educational The researcher found problems, namely the researcher's concern and anxiety regarding the decline in students' manners towards teachers and the existence of teachers who do not comply with the code of ethics as a teacher. To overcome this, researchers are trying to raise awareness about the relationship between rights and obligations that influence each other. In this case it is a teacher. The aim of this research is to describe student etiquette towards teachers according to Imam Ghazali and contextualize it with the Indonesian teacher code of ethics. This research uses a type of library research which is carried out with a descriptive qualitative approach. Data collection techniques include reading literature related to the researcher's research. The results of the research are that there is a very strong relationship between rights and In this case it is a teacher. If a teacher carries out his obligations well then a teacher also has the right to receive his rights. One of the rights of a teacher is to be respected by his students. The researcher analyzed that when a teacher carries out his obligations well, a teacher also gets his rights, one of which is respect for his students. the other hand, if a student is disrespectful to his teacher, then it is possible that some of his obligations as a teacher have not been fulfilled. Keywords: Student etiquette towards teachers. Indonesian teacher code of ethics. Abstrak Guru dan murid sangat berperan penting dalam proses pendidikan. Peneliti mendapatkian permasalahan yaitu keprihatinan dan kegundahan peneliti terkait tentang menurunnya adab murid terhadap guru serta adanya guru yang tidak mematuhi kode etik sebagai seorang guru. Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti berusaha menyadarkan tentang hubungan era tantara hak dan kewajiban yang saling mempengaruhi. Dalam hal ini adalah seorang guru. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan adab murid terhadap guru menurut Imam Ghazali dan kontekstualisasinya dengan kode etik guru Indonesia. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan . ibrary researc. yang Muhammad Faqih Mukaddam. Hairul Hudaya: Kajian Metode Muqaran: Adab Murid terhadap Guru Menurut Imam Ghazali dan Kontekstualisasinya dengan Kode Etik Guru Indonesia dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data meliputi membaca literatur yang terkait dengan penelitian peneliti. Hasil penelitian berupa adanya hubungan yang sangat era tantara hak dan Dalam hal ini adalah seorang guru. Apabila seorang guru melaksanakan kewajibannya dengan baik maka seorang guru juga berhak mendapatkan haknya. Salah satu hak seorang guru adalah dihormati Peneliti menganalisis bahwasanya ketika guru menjalankan kewajibannya dengan baik maka seorang guru juga mendapatkan haknya yaitu salah satunnya dihormati muridnya. Sebaliknya, jikalau murid yang tidak hormat kepada gurunya, maka kemungkinan ada sebagian kewajiban sebagai seorang guru yang belum terlaksanakan. Kata Kunci: Adab murid terhadap guru, kode etik guru Indonesia. Pendahuluan Akhlak bisa terbentuk jika terjadinya interaksi. Dalam dunia pendidikan terdapat salah satu bentuk interaksi yaitu murid dan guru. Hubungan guru dan murid adalah hubungan yang terikat dengan ilmu pengetahuan serta guru adalah sebagai pengganti peran orang tua ketika di sekolah. Dalam artian lain bahwasanya guru adalah sebagai orang tua murid kedua setelah orang tua di rumah (Ahmad Muntakib dkk, 166: 2. Guru dan murid sangat berperan penting dalam pendidikan terutama dalam proses pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar terjadi hubungan antara guru dan murid, tahu dan ketidaktahuan mengenai ilmu. Hal tersebut dapat berjalan ketika adanya kemauan dari kedua belah pihak untuk menjalankannya. Tujuannya yaitu untuk mendapatkan ilmu dan mengamalkan ilmu tersebut. Oleh karena itu, adab dalam belajar mengajar baik guru maupun murid harus menjadi perhatian serius. Hal ini karena letak keberkahan ilmu ketika murid mempunyai adab kepada gurunya, begitu juga guru mempunyai adab kepada muridnya. Terutama dalam hal peneliti berfokus membahas adab guru terhadap murid (Almaydza Pratama Abnisa, 93: 2. Peneliti mendapatkan permasalahan yaitu keprihatinan dan kegundahan dari peneliti yaitu disebabakan menurunnya adab murid dan guru saat ini. Guru adalah orang tua di sekolah bagi seorang murid yang harus memberikan teladan. Begitu juga dengan seorang murid harus menghormati gurunya. Akan tetapi yang terjadi di lapangan yaitu adanya pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh seorang guru. Contohnya ada seorang guru yang melanggar kode etik guru berkiatan dengan hal kejujuran. Ini merupakan sebuah permasalahan yang harus segera diatasi. Kemudian terjadi juga di lapangan yaitu adanya murid yang menganggap gurunya seperti teman. Seolah-olah tidak menghormati gurunya. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut, peneliti di sini menekankan dan menjelaskan secara mendalam terutama terkait adab murid terhadap guru. Pada pelaksanaan proses pendidikan banyak yang perlu diperhatikan yaitu salah satunya adalah adab guru dan murid. Baik adab guru terhadap murid maupun adab murid terhadap guru (Ferihana dan Azam Syukur Rahmatullah, 3628: 2. Perihal adab guru dan murid adalah konteks yang terkait dengan kode etik guru Indonesia. Secara arti, kode etik guru Indonesia adalah aturan-aturan dan asas yang disepakati oleh guru Indonesia sebagai pedoman sikap dan perilaku dalam melaksanakan tugas sebagai guru. Seorang guru harus memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan kode etik guru dalam bertindak, terlebih-lebih dengan konteks POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 Muhammad Faqih Mukaddam. Hairul Hudaya: Kajian Metode Muqaran: Adab Murid terhadap Guru Menurut Imam Ghazali dan Kontekstualisasinya dengan Kode Etik Guru Indonesia menjalin interaksi dalam proses pembelajaran terhadap seorang murid (Andi Marjuni, 96: 2. Perlu diketahui juga bahwasanya tokoh pendidikan Islam salah satunya adalah Imam Al-Ghazali. Beliau mempunyai kiprah dalam bidang pendidikan yaitu sebagai seorang yang ahli tasawuf dan juga sebagai pendidik (M. Zidny NafiAo Hasbi, 292: Imam Ghazali mempunyai perspektif tersendiri mengenai adab guru dan murid dalam pendidikan. Imam Ghazali adalah pemikir Islam yang terkemuka. Kitab-kitab yang dikarangan oleh beliau banyak tersebar di seluruh penjuru dunia dan digunakan dalam proses pembelajaran serta banyak juga yang menggunakan hasil ijtihad dari Salah satu kitab karangan Imam Ghazali yang sangat popular yaitu kitab Bidayatul Hidayah. Kitab tersebut membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan Salah satu hal dibahas dalam kitab tersebut adalah tentang akhlak murid terhadap guru (Zahrotul Muzdalifah, 3: 2. Imam Ghazali adalah salah satu tokoh yang mempunyai kiprah dalam pendidikan Islam. Salah satu pemikiran beliau yaitu mengenai adab guru dan murid. Berdasarkan permasalahan di atas, penulis berkeinginan untuk mengkaji pemikiran ilmuwan tersebut tentang adab guru dan murid dengan menghubungkannya pada kode etik guru Indonesia. Oleh karena itu penulis ingin mengangkat dengan sebuah judul AuKajian Motode Muqaran: Adab Murid terhadap Guru Menurut Imam Ghazali dan Kontekstualisasinya dengan Kode Etik Guru IndonesiaAy. Metode Berisi jenis penelitian, waktu dan tempat penelitian, target/sasaran, subjek penelitian, atau populasi dan sampel, prosedur, instrumen dan teknik analisis data serta hal-hal lain yang berkait dengan cara penelitiannya. target/sasaran, subjek penelitian, prosedur, data dan instrumen, dan teknik pengumpulan data, serta teknik analisis data serta hal-hal lain yang berkait dengan cara penelitiannya dapat ditulis dalam subsubbab, dengan sub-subheading. Sub-subjudul tidak perlu diberi notasi, namun ditulis dengan huruf kecil berawalkan huruf kapital. TNR-12 bold, rata kiri. Sebagai contoh dapat dilihat berikut. Hasil dan Pembahasan Biografi Imam Ghazali Imam Ghazali mempunyai nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Al-Thusi. Dia mempunyai beberapa gelar diantaranya yaitu Hujjatul Islam dan Zainuddin. Imam Ghazali berkebangsaan Persia asli yang lahir pada tahun 450 H / 1058 M di Thus . ekat Meshe. sebuah kota kecil di Khurasan . ekarang ini adalah negara Ira. dan beliau juga di sini. Al-Ghazali adalah salah seorang pemikir Islam yang muncul pada masa pasca puncak kemajuan Islam (Agus Setiawan, 32: Imam Ghazali adalah pemikir ulung Islam yang mempunyai bermacam-macam gelar diantaranya Hujjatul Islam yang mempunyai arti pembela Islam dan Zainuddin yang mempunyai arti hiasan agama. Gelar ini berdasarkan keilmuan beliau yang sangat luas, amalnya yang sangat banyak serta hidupnya yang penuh perjuangan dalam membela agama dan mempertahankan agama (Sarkowi, 286: 2. Al-Ghazali merupakan orang yang pertama kali mengintegrasikan antara sufisme dan syariAoah dalam sebuah sitem. Al-Ghazali belajar pertama dengan seorang POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 | 41 Muhammad Faqih Mukaddam. Hairul Hudaya: Kajian Metode Muqaran: Adab Murid terhadap Guru Menurut Imam Ghazali dan Kontekstualisasinya dengan Kode Etik Guru Indonesia sufi di negara Thus. Kemudian dia pindah ke Jurjan dan Naisabur untuk belajar ilmu agama kepada ulama besar yang bernama Imam Al-Haramain Diya Al-Diya Al-Juwaini. Beliau seorang direktur sekolah di Naisabur. Sekolah di Naisabur tersebut mempelajari mengenai ilmu teologi, hukum Islam, filsafat, logika, sufisme, dan ilmu-ilmu alam (Muhammad Baharuddin Yusuf, 678: 2. Imam Ghazali pada tahun 478 H / 1058 M. Al-Ghazali bertempat tinggal di AlMuaskar dan kemudian berpindah ke Baghdad untuk menjadi dosen di Perguruan Tinggi Nidzamiyah pada tahun 484 H / 1091 M. Beliau meninggal di Thus pada tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H / 19 Januari tahun 1111 M. Sebagai seorang pemikir Islam terbesar. Imam Ghazali tidak hanya terkenal dalam dunia Islam, melainkan juga terkenal di luar Islam. Oleh karena itu sangat wajar jika banyak penulis yang tertarik untuk mengkaji pemikiran beliau baik dari kalangan Muslim ataupun dari kalangan orientalis ( MelliFera Lubis. Hemawati H, dan Rahmi Utami, 158: 2. Al-Ghazali adalah tokoh terpenting dalam teologi AsyAoariyah. Pemikiran yang dikembangkannya tidak mempunyai perbedaan dengan seorang AsyAoariy sebagai tokoh pendiri aliran AsyAoariy. Persamaan pendapat Al-Ghazali dan Al-AsyAoariy dalam teologi Harun Nasution memberikan contoh persepsi Al-Ghazali seperti yang dikutip dari kitab beliau Al-Iqtishad fi Al-IAotiqad yang meliputi bahwa Tuhan memiliki sifat-sifat Qadim yang tidak identik dengan zat-Nya dan mempunyai wujud di luar zat. Al-QurAoan bersifat Qadim dan bukan makhluk, perbuatan dan daya manusia Tuhanlah yang Teologi Al-Ghazali juga dijumpai dalam kitab Ihya Ulumuddin. Dalam pembahasan QawaAoid Al-Aqaid. Al-Ghazali memiliki perbedaan pandangan yang sangat mendasar terhadap MuAotazilah (Jamaluddin dan Shabri Shaleh Anwar, 128131: 2. Pemikiran Imam Ghazali tentang Adab Murid Guru dan Murid Imam Al-Ghazali menjelaskan 12 macam hal yang berkaitan dengan adab murid terhadap guru. Adab yang dijelaskan dengan penekanan terhadap perilaku murid ketika menjalankan interaksi dengan gurnya. Baik dalam hal berbicara, cara bertanya, berdiskusi, sikap dihadapan guru, kesabaran dan penghormatan terhadap guru. Berikut penjelasan mengenai adab murid terhadap guru dalam kitab Bidayatul Hidayah yang berjumlah 13 adab yaitu sebagai berikut: (Hairul Fauzi, 5: 2. Menghormatinya dengan memberi salam (Syamruddin Nasution dan Khoiruddin Nasution, 67: 2. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwasanya seorang murid harus mengucapkan salam terlebih dahulu kepada gurunya sebagai bentuk ketaatan dan penghirmatan dengan gurunya. Imam Nawawi menambahkan agar meminta izin jikalau mau masuk ruangan guru. Imam Ghazali berkata yang artinya AuDan jika engkau seorang pelajar harus memiliki adab terhadap guru. Maka Adapun adab murid terhadap guru adalah mengucapkan salam terlebih dahulu. Ay Murid diperintahkan untuk mengucapkan salam ketika memasuki kelas. Hal ini telah disampaikan oleh Rasulullah Saw. dalam hadits beliau berikut ini: Aaua Uaeoeaia cea aeuasI aua aca aUaas aUe cea aaes O aua a cea aeaOsC aua A aaeaZacaoUa aeaE aUeea eaa cea aes ae a aa aO AOa AU aIALaeOU aua cea aaes ae a aA POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 Muhammad Faqih Mukaddam. Hairul Hudaya: Kajian Metode Muqaran: Adab Murid terhadap Guru Menurut Imam Ghazali dan Kontekstualisasinya dengan Kode Etik Guru Indonesia a a Aa aUa ea aOea aUa eaoaaUaA a aoa aE aE A a Aa aUae aOaa aaca ua A . AaOeaoaa aUa eauuac ) A Artinya: Telah menceritakan kepadaku ['Uqbah bin Mukra. : Telah menceritakan kepada kami [Abu 'Ashi. dari [Ibnu Jurai. : Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya: Dan telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin Marzu. : Telah menceritakan kepada kami [Rau. : Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Jurai. Telah mengabarkan kepadaku [Ziya. bahwa [Tsabi. -budak- 'Abdur Rahman bin Zaid: Telah mengabarkan kepadanya bahwasanya dia mendengar [Abu Huraira. berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Orang yang berkendaraan hendaklah memberi salam kepada pejalan kaki, orang yang berjalan kepada orang duduk, dan orang sedikit kepada orang banyak. "(Shahih Muslim no. Dalam mengucapkan salam ada beberapa bentuk yaitu pertama, orang yang berkendaraan hendaklah mengucapkan salam kepada orang yang berjalan kaki. Kedua, orang berjalan hendaklah memberi salam kepada orang yang duduk. Ketiga, orang yang sedikit hendaklah memberi salam kepada orang yang banyak. Sedikit berbicara saat di hadapan guru (M. Zainul Mukhtar, 14: 2. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwasanya adab murid terhadap guru yaitu seorang murid harus sedikit berbicara ketika dihadapan guru, baik ketika guru sedang menjelaskan pelajaran maupun tidak. Sedikit berbicara yang dimaksud adalah pembicaraan yang sifatnya mubah. Imam Al-Ghazali berkata yang artinya: AuSedikit berbicara ketika di depan guruAy. Berbicara dengan guru seharusnya hal-hal yang penting Baik hal bertanya maupun menyatakan pendapat. Hal ini sesuai dengan hadis nabi sebagai berikut: a a a U a ca Ues a caa eOa A cea aaO eOaI ae aUes aUeA a a e a e a e a a e a A eaa cea e e Avae a aA aE AL A Uaa O eaoaaEai aI U aa a A A aua aea asi aOaUeavA ua a AA a a a AeaA aa a a aa ea a a a aAsI eaaua aAeoo eaOa OauaAOaOA An aeaOaU caUaUa uaa aaUea e aAn aOauaA e aAn UeO ceAaiU aE ea acA e a a e aa An aAoaa aA a An caeUAU e ae aa e ac caU eaEaaeA a AeaUea aAeUa eaeaUeoaa eaeA a eA ca ea a A a aeA a a Aa aUaea aOaa a A a aA acaAoa eaAeaau aE ALa aA acaAoaLa AeeaeUa aOauaaI a aUeO Aoaa aeI aoaEA aA Uaa O aen aE a Aa a a a a AaOauA a Ae aeaO aUeae eaoaaE aa aaU e a aaE A a a a ae a a a e a a Aa aUaea aOaa eaoaaE aa au a A a aAe eaaOa aeEaaE aUa aaoa ae aE aa aaUe aUa auA aAo eaEaaUa aa a AaO aUe eOai aa aUa a Aa ae aOae eaO e aUeae aUa Oeao ae aE aa uaI A a AeaAeaau a aOauA ( Ao ) A a aAe aUaA e aAeaaeoaEeA Artinya: Telah mengabarkan kepada kami [Al Walid bin An Nadlr Ar Raml. dari [Masarrah bin Ma'ba. -dari Bani Al Harits bin Abu Al Haram dari Lakhmin- dari [Al Wadlii. Bahwa Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: Hai Rasulullah, kami dahulu adalah orang-orang jahiliyah penyembah berhala dan kami membunuh anak-anak kami, ketika itu kami mempunyai anak yang POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 | 43 Muhammad Faqih Mukaddam. Hairul Hudaya: Kajian Metode Muqaran: Adab Murid terhadap Guru Menurut Imam Ghazali dan Kontekstualisasinya dengan Kode Etik Guru Indonesia senang apabila saya memanggilnya. Suatu hari saya pun memanggilnya dan dia langsung menyahut dan mengikuti saya. Ketika saya sampai di sebuah sumur keluarga, saya langsung memegang tangannya dan saya ceburkan dia ke sumur, itulah akhir kebersamaan saya dengannya. Dia memanggil: "wahai ayahku, wahai ayahku. Rasulullah pun menangis sampai air matanya bercucuran. Lalu seseeorang yang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada laki-laki tersebut: kamu telah membuat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedih. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada orang tersebut: biarkan dia karena dia bertanya tentang sesuatu yang penting yang dihadapinya, kemudian Rasul berkata kepada laki-laki tersebut: Ulangi lagi cerita kamu tadi, lalu dia pun mengulangi ceritanya dan Rasul menangis lagi sampai bercucuran air matanya, membasahi jenggotnya, lalu beliau bersabda: Allah subhanahu wa Ta'ala telah menghapus dosa-dosa yang dilakukan pada masa jahiliyah oleh karena itu mulailah perbuatan kamu dengan lembaran baru yang bersih. (Sunan Darimi no. Seorang murid menurut Al-Ghazali jangan banyak berbicara ketika berada dihadapan gurunya, kecuali sudah minta izin sebelumnya kepada gurunya maupun diminta guru untuk berbicara. Maka tidak boleh berbicaranya semauanya ketika dihadapan guru. Tidak berbicara sesuatu selama tidak ditanya oleh gurunya (M. Zainul Mukhtar, 14: Adab murid terhadap guru yang ketika yaitu murid harus diam selama pembelajaran berlangsung terlebih gurunya sedang menjelaskan materi pelajaran. Dengan pengecualian seorang murid boleh berbicara jikalau seorang bertanya kepada Imam Al-Ghazali berkata yang artinya: AuDan tidak berbicara sesuatu yang tidak ditanyakan oleh gurunyaAy. Berkaitan dengan hal ini ada hadits nabi sebagai berikut: aA ua ac Uais a c UeAa AUAua ac eUeaa a c AUaoA A uaAUA cea aaO aaOa eaOAa e aa a e a e a a a a a a a ea a e a s A ac aI a c Ea aAva aeAeEAUa c aOaIA aA aUe aaO aiAUaA aUe aI cea aUaEiAUa a a a a ae a c a ae a aA aE aE A:A aEAUAeea aA a a a a Aa A A a aa aA aOeeaUA AeOa aOeU aeUeaAoaaI a eyaaIA:A a aUae aOa c a a e AaU aUa aa eaA A aOaUaA aOaCe auacaUAiA U A a a. aOeeaI aeUeaAoaI aa acaiaaCA a AoA ( Aeoaa caOaa aUe aaeA )UoEA Artinya: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya'qub menceritakan kepada kami. Abu Ja'far Muhammad bin Ubaidillah bin Abu Daud Al Munadi menceritakan kepada kami. Yazid bin Harun menceritakan kepada kami. Abu Ghassan Muhammad bin Mutharrif memberitakan kepada kami dari Hassan bin Athiyyah, dari Abu Umamah Al Bahili, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Malu dan enggan berbicara . ang menjadikan dos. adalah dua cabang dari keimanan, sedangkan kata-kata kotor dan bicara berlebih-lebihan adalah termasuk nifak " (Al Mustadrak no. Wajib bagi seorang murid mendengarkan ketika gurunya sedang menyampaikan sebuah materi pelajaran sembari menunjukkan perhatian yang besar terkait hal yang dijelaskan guru di depan. Walaupun seorang bisa jadi sudah mengetahui tentang ilmu POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 Muhammad Faqih Mukaddam. Hairul Hudaya: Kajian Metode Muqaran: Adab Murid terhadap Guru Menurut Imam Ghazali dan Kontekstualisasinya dengan Kode Etik Guru Indonesia Tidak menanyakan sesuatu sebelum meminta izin kepada gurunya terlebih dahulu (Lilik Kholisotin dan Lastaria, 56: 2. Seorang murid harus mempunyai sikap yang sopan dalam mengajukan sebuah pertanyaan kepada gurunya dalam pembelajaran. Misalnya menunggu gurunya selesai menjelaskan ataupun gurunya mempersilahkan muridnya untuk yang ingin bertanya. Bertanya sesuatu yang belum diketahui sangat dianjurkan. Akan tetapi jikalau pertanyaan tersebut sifatnya ingin menguji pengetahuan guru dan niat buruk lainnya maka tidak usah memberikan pertanyaan kepada guru. Imam Ghazali berkata yang artinya: AuTidak bertanya tentang sesuatu kepada guru sebelum meinta izin kepadanya terlebih dahuluAy. Berkaitan dengan hal ini ada hadits nabi sebagai berikut: Aaua UaueaI cea aaO aeAeaia aOaUa cea as a aua aOuaUO aua aeiaI aUe aaO uaeaan aUeA s aO cea asO aUe aUa a cea aaO Ea a a a a Aa aE aueA Aa aUaea aOa A a AA ca An aaUa Uea A a Aa eEaA aa a a As eaoaaE a ALa AeaaeoaEeaaI aUaa ceaA a AA a cAEAZ Aa aUae aOaa Ueaa aa aeaeUa A (A) c aA Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Abu Syaiba. dan [Ali bin Muhamma. keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami [Waki'] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufya. dari [Abu Isha. dari [Hani` bin Hani`] dari [Ali bin Abu Thali. ia berkata: "Ketika aku duduk di samping Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam 'Ammar bin Yasir meminta izin . ntuk bergabung dudu. , maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Izinkanlah dia, selamat datang kepada orang yang baik lagi berlaku baik. " (Sunan Ibnu Majah no. Seorang murid harus jikalau ingin menanyakan sesuatu harus melewati izin dari gurunya terlebih dahulu. Jikalau guru belum mengizinkan maka seorang murid harus menunda pertanyaannya. Tidak menentang ucapannya dengan berkata: AuFulan mengucapkan sesuatu yang berbeda dengan yang diucapkan guruAy (Mihmidaty YaAocub, 7: 2. Seorang murid tidak menetang ucapan guru dengan berkata AuFulan mengucapkan sesuatu yang berbeda dengan yang engkau ucapkan atau sejenisnyaAy. Dalam artian lain jangan menentang perkataan guru dengan ucapan yang lainnya. Imam Al-Ghazali berkata yang artinya: AuDan tidak menyanggah ucapan guru dengan perkataan si fulan berbeda dengan yang guru katakanAy. Berkaitan dengan hal ini ada hadits nabi sebagai berikut: aAua UueaaI c aaO Aeia ua a c Uaas ua Uea eUaa c aaO aia U UeAa A e aa e a a a a e a ea a a a a e a a e a a a e a a e a a a a a a a aO caeusa Aa aUaea aOaa a aAeUaaEa A a AA ca AesO aUe ce Ua aE aua aoaE aa Ava AaUeA a a a Aa aUaea aOaa a aia caAeae ) Oa A e aU ae Ua ae UaueaI ae aeaaE A a AA ca A A ( AOOA Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Abu Syaiba. berkata: telah menceritakan kepada kami [Aswad bin Ami. berkata: telah menceritakan kepada kami [Abdul Aziz bin Abu Salama. dari [Ubaidulla. dari [Nafi'] dari [Ibnu Uma. ia POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 | 45 Muhammad Faqih Mukaddam. Hairul Hudaya: Kajian Metode Muqaran: Adab Murid terhadap Guru Menurut Imam Ghazali dan Kontekstualisasinya dengan Kode Etik Guru Indonesia berkata: Pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kami berkata: "Kami tidak membandingkan antara Abu Bakr dengan seorang pun, begitu juga dengan Umar dan Utsman. Dan kami tidak pernah membanding-bandingkan antara para sahabat Nabi. " (Sunan Abu Daud no. Seorang murid tidak boleh membantah perkataan gurunya dengan membandingkannya dengan perkataan yang lain. Karena hal ini seakan-akan murid tersebut tidak menghargai dan menghormati gurunya. Tidak menyanggah pendapat guru apabila berbeda denganmu, sehingga terkesan seolah-olah murid lebih benar dari gurunya (Mihmidaty YaAocub, 7: 2. Tidak menyanggah pendapat dari guru jika berbeda pendapat dengan murid merupakan adab murid terhadap guru. Sehingga tidak menjatuhkan martabat dan mengurangi keberkahan. Jika terjadi perbedaan pendapat antara guru dan murid, maka murid tidak perlu mengungkapkannya secara terbuka ataupun dengan cara menyinggung perasaan dari guru. Imam Ghazali yang berkata yang artinya: AuTidak menyanggah pendapat guru apabila berbeda denganmu, sehingga terkesan seolah-olah dia lebih tau kebenaran dari pada gurunyaAy. Tidak menyanggah pendapat guru adalah menghindari adanya perselisihan. Berkaitan dengan hal ini ada hadits nabi sebagai A aua a cea aaesO aua aU aUe aaO aeUas aUe uacea aUe aUeaoaia aUe aUeeaA a aua aA aA A ac aA aUe Aa Aa aUaea aOaa aE aca aeaue aOa eaeaaI aOAa ae aa ae aea A a AA a Aau OaLAa a Oa aeoaai eaAooae acau OuaA ( A eaeaaC ) A e a a e a e a a ae a a a e a a Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Yunu. telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Zurai'] telah menceritakan kepada kami [Khali. dari [Abu Ma'sya. dari [Ibrahi. dari ['Alqama. dari [Abdulla. dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Sungguh akan menggantikanku dari kalian orang-orang yang berakal dan beradab, kemudian orang-orang setelahnya kemudian orang-orang setelahnya, dan janganlah kalian berselisih, niscaya hati kalian akan berselisih dan jauhilah oleh kalian perselisihan seperti keributan pasar. " (Musnad Ahmad no. Murid yang menyanggah pendapat gurunya dikarenakan dia mempunyai keyakinan yang kuat bahwasanya pendapatnya yang benar. Hal ini seakan-akan menentang guru sendiri. Tidak bertanya kepada teman satu majelis ketika berada di majelis guru (Galih Permana, 190: 2. Seorang murid jangan bertanya kepada teman satu majelis di majelis guru. Dalam pengertian lain jangan berbicara baik sendirian maupun dengan teman dalam satu majelis saat guru menjelaskan materi pelajaran. Imam Ghazali berkata yang artinya: AuDan tidak bertanya kepada teman duduk ketika berada di majelis guruAy. Hal ini berhubungan dengan salah satunya tidak berbicara yang mengkhawatirkan dosa. Tidak berbicara yang mengkhawatirkan dosa adalah salah satu cabang keimanan. Berkaitan dengan hal ini ada hadits nabi sebagai berikut: aA ua ac Uais a c UeAa AUAua ac eUeaa a c AUaoA A uaAUA cea aaO aaOa eaOAa e aa a e a e a a a a a a a ea a e a s A ac aI a c Ea aAva aeAeEAUa c aOaIA aA aUe aaO aiAUaA aUe aI cea aUaEiAUa a a a a ae a c a ae a POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 Muhammad Faqih Mukaddam. Hairul Hudaya: Kajian Metode Muqaran: Adab Murid terhadap Guru Menurut Imam Ghazali dan Kontekstualisasinya dengan Kode Etik Guru Indonesia aA aE aE A:A aEAUAeea aA a a aa Aa A A a aa aA aOeeaUA AeOa aOeU aeUeaAoaaI a eyaaIA:A a aUae aOa c a a e AaU aUa aa eaA A aOaUaA aOaCe auacaUAiA U A a a. aOeeaI aeUeaAoaI aa acaiaaCA a AoA A) Aeoaa caOaa aUe aaeAA(UoEA Artinya: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya'qub menceritakan kepada kami. Abu Ja'far Muhammad bin Ubaidillah bin Abu Daud Al Munadi menceritakan kepada kami. Yazid bin Harun menceritakan kepada kami. Abu Ghassan Muhammad bin Mutharrif memberitakan kepada kami dari Hassan bin Athiyyah, dari Abu Umamah Al Bahili, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Malu dan enggan berbicara . ang menjadikan dos. adalah dua cabang dari keimanan, sedangkan kata-kata kotor dan bicara berlebih-lebihan adalah termasuk nifak " Hadits ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim, dan keduanya tidak meriwayatkannya. Keduanya sama-sama berhujjah dengan para periwayatnya dari yang paling akhir. (Al Mustadrak no. Kitab Muroqil Ubudiyah yang merupakan syarah dari kitab Bidayatul Hidayah menjelaskan maksud dari tidak bertanya kepada teman dalam satu majelis yaitu bahwa seorang murid jangan bertanya kepada teman di majelisnya dan jangan juga tertawa Tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, akan tetapi duduk sambil menundukkan pandangannya dengan tenang dan sopan seakan-akan ia sedang shalat (Surya Kartini Indah Sari Siregar dkk, 8: 2. Seorang murid tidak boleh menoleh ke kiri dan arah lainnya ketika berada di depan gurunya. Akan tetapi duduklah dengan tenang,menundukkan kepala, sopan dan seolah-olah ia sedang shalat. Tujuannya agar seorang murid bisa menjaga fokusnya untuk memperhatikan dengan serius terkait hal-hal yang disampaikan oleh guru. Imam Ghazali berkata yang artinya: AuTidak menoleh ke kanan dan ke arah lain, akan tetapi sambil menundukkan pandangannya dengan tenang dan sopan seakan-akan ia sedang shalatAy. Beribadah harus fokus agar mendapatkan ilmu yang maksimal termasuk salah satunya dalam hal menuntut ilmu. Berkaitan dengan hal ini ada hadits nabi sebagai a vaAua Ua c esI aA AcA AUA A aUe aUeaaI cea aUa cea aasC aUe acaa aUe aaOA a a a e a aa e a a a e Aa A aa s a A cea aaIALa Aa aUaaE aoaEa aUaea aOaa aE uaI a A a AA ca a eaA ca A aUe aO aaea aUe A aa Ao aeaU aOaCe aa eaAeoaaE aEA a eA a a eAeaaE aUa aOaa eaAeoaaE aOua aAeiaUe a a eaie Uea aeaA a sa (A eaa aeaa ) OA U a a Aa aOaca aa eaa A U Ao aaU a Artinya: Telah menceritakan kepada kami ['Ali bin Khasyra. telah menceritakan kepada kami ['Isa bin Yunu. dari ['Imran bin Za'idah bin Nasyit. dari [Abu Khalid Al Walib. dari [Abu Huraira. dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman: Wahai anak Adam, fokuskanlah untuk beribadah kepadaku niscaya Aku penuhi dadamu dengan rasa cukup dan aku tutupi kefakiranmu, jika kamu tidak mengerjakannya Aku akan penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak menutupi kefakiranmu. " Dia berkata: Hadits ini hasan gharib, adapun Abu Kholid Al Walibi namanya adalah Hurmuz . (Sunan Tirmidzi no. POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 | 47 Muhammad Faqih Mukaddam. Hairul Hudaya: Kajian Metode Muqaran: Adab Murid terhadap Guru Menurut Imam Ghazali dan Kontekstualisasinya dengan Kode Etik Guru Indonesia Majelis adalah tempat adanya interaksi proses transfer ilmu dari guru kepada seorang murid. Oleh karena itu seorang murid jangan berbicara baik dalam bentuk pernyataan maupun pertanyaan yang belum mendapat izin dari guru. Tidak banyak bertanya kepada gurunya ketika gurunya sedang kelihatan lelah (Mamat Saeful Qodir, 5: 2. Seorang murid agar jangan mengajukan pertanyaan jikalau gurunya dalam keadaan seperti guru sedang sibuk, guru sedang lelah, guru sedang sedih, sedang sibuk memikirkan sesuatu. Murid bisa melihat keadaan si guru tersebut bisa atau tidaknya ketika itu ditanyai. Imam Ghazali berkata yang artinya: AuTidak banyak bertanya kepada gurunya ketika gurunya sedang kelihatan lelahAy. Banyak bertanya kepada guru apalagi guru sedang dalam keadaan lelah adalah tindakan memberatkan guru. Tidak memberatkan kepada seseorang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Berkaitan dengan hal ini ada hadits nabi sebagai berikut: a aA aUe eaeUaa aUe aaO aaea aI aE AvaA aAoaAeAeaia cea aU aUe aao aUe aaO caAvae a a a a (Aas ) aUA a AcaE Uea auacAZa Aa aUae aOaa aE aea aeI aan aUa a aeaea Artinya: Telah mengabarkan kepada kami [Qutaibah bin Sa'i. dari [Mali. dari [Abu Zina. dari [Al A'ara. dari [Abu Huraira. dia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, aku pasti memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali shalat. " (Sunan Nasa'i no. Seorang murid harus bisa melihat situasi dan kondisi. Ketika seorang guru terlihat lelah, maka pertanyaan yang ingin kita ajukan lebih baiknya ditunda saja. Apabila sang guru berdiri, maka murid pun berdiri (Muhammad Alif Anugrah Mungaran, 173: 2. Seorang murid harus berdiri ketika guru berdiri sebagai bentuk penghormatan kepada guru. Dan murid juga memberikan jalan untuk memudahkan guru lewat. Imam Ghazali berkata yang artinya: AuDan apabila berdiri, maka murid pun berdiriAy. Hal ini menunjukkan bahwasanya menunjukkan sikap patuh seorang murid kepada gurunya. Contoh yang lain yaitu seorang anak buah patuh kepada atasannya selama itu tidak melanggar perintah Allah Swt. Berkaitan dengan hal ini ada hadits nabi sebagai berikut: a a Aa aUaea aOaa aE eaUeea ua A a aA cea Ua aI aE aesO aUe aUee Ava Aaua aao aUeA a a Oa aUeaa A a e aA ea aea a . uAi )EE aoA a a a a e a ca a a Artinya: Telah menceritakan kepadaku Malik dari [Nafi'] dari [Abdullah bin Uma. bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika seorang budak patuh kepada tuannya dan bagus dalam ibadah kepada Allah, maka baginya dua kali pahala. " (Muwatha' Malik no. Ketika guru berdiri, seorang murid juga ikut berdiri. Hal ini adalah sebagai bentuk penghormatan kepada guru. Dengan adanya penghormatan maka keberkahan akan didapatkan seorang murid. Jangan mengikutinya dengan mengucapkan dan menanyainya (Badruddin, 186: 2. Ketika guru sudah berdiri dari sebuah majelis, maka seorang murid tidak boleh mengiringinya sambil menanyainya. Hal ini dikhawatirkan mengganggu aktivitas guru yang bersangkutan. Murid harus bisa menahan diri untuk tidak bertanya kepada guru apabila waktu dan kondisi yang ada tidak mendukung. Imam Ghazali berkata yang artinya: AuDan jangan mengikuti guru dengan berbicara dan menanyainyaAy. Ini adalah POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 Muhammad Faqih Mukaddam. Hairul Hudaya: Kajian Metode Muqaran: Adab Murid terhadap Guru Menurut Imam Ghazali dan Kontekstualisasinya dengan Kode Etik Guru Indonesia satu bentuk adab murid terhadap guru. Berkaitan dengan hal ini ada hadits nabi sebagai A aua a cea aaesO aua aU aUe aaO aeUas aUe uacea aUe aUeaoaia aUe aUeeaA a aua aA Aa aUaea aOaa aE aca aeaue aOa eaeaaI aOAa ae aa ae aea A a AA ca A aUe a a Aau OaLA)a a Oa aeoaai eaAooae acau Oua( A A eaeaaCA e a a e a e a a ae a a a e a a Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Yunu. telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Zurai'] telah menceritakan kepada kami [Khali. dari [Abu Ma'sya. dari [Ibrahi. dari ['Alqama. dari [Abdulla. dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Sungguh akan menggantikanku dari kalian orang-orang yang berakal dan beradab, kemudian orang-orang setelahnya kemudian orang-orang setelahnya, dan janganlah kalian berselisih, niscaya hati kalian akan berselisih dan jauhilah oleh kalian perselisihan seperti keributan pasar. " (Musnad Ahmad no. Pertanyaan yang ingin diajukan harus dilihat terlebih dahulu situasi dan kondisinya bagi seorang murid. Mengajukan pertanyaan ada aturan-aturan tertentu kepada seorang guru. Salah satunya tidak bertanya ketika gurunya sudah berdiri dalam kegiatan majelis yang sudah selesai. Tidak boleh bertanya kepada guru saat ditengah jalan hingga tiba ketempat tujuan (Radila dkk, 84: 2. Seorang murid tidak boleh bertanya kepada gurunya apabila gurunya masih di tengah jalan dan belum sampai kie tempat tujuan. Akan tetapi sampaikan pertanyaan tersebut ketika sudah sampai ke tempat tujuan. Memberikan pertanyaan kepada guru ketika beliau dalam perjalanan akan mengganggu kenyamanan guru dan dianggap tidak menghormati guru. Imam Al-Ghazali berkata yang artinya: AuTidak boleh bertanya kepada guru ditengah jalan hingga tiba ke tempat tujuanAy. Ini adalah satu bentuk adab murid terhadap guru. Hal ini sebagaimana hadis Rasulullah Saw. sebagai berikut: A aua a cea aaesO aua aU aUe aaO aeUas aUe uacea aUe aUeaoaia aUe aUeeaA a aua aA Aa aUaea aOaa aE aca aeaue aOa eaeaaI aOAa ae aa ae aea A a AA ca A aUe a a Aau OaLAa a Oa aeoaai eaAooae acau OuaA ( A eaeaaC ) A e a a e a e a a ae a a a e a a Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Yunu. telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Zurai'] telah menceritakan kepada kami [Khali. dari [Abu Ma'sya. dari [Ibrahi. dari ['Alqama. dari [Abdulla. dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Sungguh akan menggantikanku dari kalian orang-orang yang berakal dan beradab, kemudian orang-orang setelahnya kemudian orang-orang setelahnya, dan janganlah kalian berselisih, niscaya hati kalian akan berselisih dan jauhilah oleh kalian perselisihan seperti keributan pasar. " (Musnad Ahmad no. Seorang murid tidak boleh bertanya kepada guru sambil guru dalam keadaan Pertanyaan bisa diajukan jikalau seorang guru sudah dalam keadaan berduduk dan tenang. POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 | 49 Muhammad Faqih Mukaddam. Hairul Hudaya: Kajian Metode Muqaran: Adab Murid terhadap Guru Menurut Imam Ghazali dan Kontekstualisasinya dengan Kode Etik Guru Indonesia Tidak boleh berburuk sangka kepada guru atas tindakan-tindakan yang menurutnya secara lahirian kontroversional (Suriadi, 155: 2. Imam Al-Ghazali berkata yang artinya: AuTidak boleh berburuk sangka kepada atas tindakan-tindakan yang menurutnya secara lahirian kontroversionalAy. Hal ini sebagaimana yang ada pada hadis nabi yaitu sebagai berikut: a U eaUa U aaO Aa aI aE AvaAo U aaO aA sa e a A cea aeaaia aUe aua aUeea A e a ae e a c a a aea a a Aau OO eaaOI O aeua eOaALA Uaa O aE ua A Ao aOa a aOa a a a a e a aa ea a ( A) O OOA Artinya: Sunan Abu Daud 4271: Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Maslama. dari [Mali. dari [Abu Az Zina. dari [Al A'ra. dari [Abu Huraira. bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jauhilah oleh kalian buruk sangka, sebab buruk sangka adalah sejelek-jelek perkataan. Jangan saling mencari tahu . ib orang lai. dan jangan saling memata-matai. Seorang murid tidak boleh berburuk sangka kepada guru atas tindakan-tindakan yang kontroversial. Oleh karena itu itu, sifat suAoudzon sangat penting untuk menjadi kebiasan kita serta nilai-nilainya dari sifat suAoudzon wajib dihilangkan. Kode Etik Guru Indonesia Kode etik guru di Indonesia adalah norma dan asas yang disepakati serta diterima oleh seluruh pendidik di Indonesia sebagai pedoman bersikap dan bertingkah laku dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik. Kode Etik Guru Indonesia ditetapkan dalam Kongres I PGRI yang diadakan di Surakarta pada tahun 1945, dan kemudian disempurnakan dalam Kongres PGRI XXI di Jakarta pada tahun 2013. Kode etik ini terdiri dari sembilan item utama yang mencerminkan nilai-nilai profesionalisme dan dedikasi guru dalam mendukung pembangunan bangsa. Pertama, guru diwajibkan berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila. Kedua, guru harus memiliki dan melaksanakan kejujuran Ketiga, guru bertugas memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai dasar bimbingan. Keempat, guru diminta menciptakan suasana sekolah yang kondusif untuk mendukung hasil belajar. Kelima, guru diharapkan menjaga hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya. Keenam, guru secara pribadi dan bersama-sama berkewajiban mengembangkan serta meningkatkan mutu dan martabat Ketujuh, guru harus memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial. Ketujuh, guru juga bertanggung jawab memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai wadah perjuangan dan Terakhir, guru harus melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Kode etik guru ini adalah sesuatu yang harus diperhatikan serta dilaksanakan sebagai tolak ukur dari semua sikap dan perbuatan pendidik dalam menjalankan tugas kewajibannya sebagai seorang pendidik profesional dan dalam berbagai segi kehidupan, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. (Muhammad Rusmin. Nurul Aynun Abidin dan Risna Mosiba, 154-155: 2. POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 Muhammad Faqih Mukaddam. Hairul Hudaya: Kajian Metode Muqaran: Adab Murid terhadap Guru Menurut Imam Ghazali dan Kontekstualisasinya dengan Kode Etik Guru Indonesia Analisis Adab Murid terhadap Guru Menurut Imam Ghazali dan Kontekstualisasinya dengan Kode Etik Guru Indonesia Adab murid terhadap guru menurut Imam Ghazali ada 12 macam yaitu pertama menghormatinya dengan memberi salam. Kedua, sedikit berbicara saat di hadapan guru. Ketiga, tidak berbicara sesuatu selama tidak ditanya oleh gurunya. Keempat, tidak menanyakan sesuatu sebelum meminta izin kepada gurunya terlebih dahulu. Kelima, tidak menentang ucapannya dengan berkata: AuFulan mengucapkan sesuatu yang berbeda dengan yang engkau ucapkan atau sejenisnyaAy. Keenam, tidak menyanggah pendapat guru apabila berbeda denganmu, sehingga terkesan seolah-olah murid lebih benar dari Ketujuh. Tidak bertanya kepada teman satu majelis ketika berada di majelis Kedelapan, tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, akan tetapi duduk sambil menundukkan pandangannya dengan tenang dan sopan seakan-akan ia sedang shalat. Kesembilan, tidak banyak bertanya kepada gurunya ketika gurunya sedang kelihatan Kesepuluh. Apabila sang guru berdiri, maka murid pun berdiri. Kesebelas, jangan mengikutinya dengan mengucapkan dan menanyainya. Terakhir, yaitu tidak boleh bertanya kepada guru saat di tengah jalan hingga tiba ke tempat tujuan. Hasil analisis peneliti bahwasanya hubungan antara adab murid terhadap guru menurut Imam Ghazali dengan kode etik guru Indonesia yaitu terkait dengan hak dan kewajiban guru. Hal ini dinyatakan bahwasanya ketika peneliti menganalisis kedua konteks hal tersebut memuat hak dan kewajiban seorang guru. Dari hasil analisis peneliti terkait adab murid terhadap guru menyatakan bahwasanya peneliti memahami secara tersirat hal tersebut ada mengandung hak seorang guru terhadap murid. Contoh salah satu pendapat Imam Ghazali terkait adab murid terhadap guru adalah menghormati gurunya, misalnya dengan memberi salam. Seorang guru mempunyai hak terhadap muridnya untuk dihormati. (Sukamti, 42: 2. Hak-hak guru harus diperhatikan oleh seorang murid. Dalam hal ini yaitu murid harus menghormati Dikarenakan keberkahan ilmu seorang murid terletak ketika mempunyai adab yang baik kepada gurunya. Hasil analisis peneliti terkait kode etik guru Indonesia menyatakan bahwasanya guru mempunyai kewajiban yang harus dilaksanakan sesuai aturan yang sudah disepakati dalam bertindak baik terhadap murid dan lainnya. Artinya seorang guru dalam bersikap maupun menjalankan kewajiban sebagai guru tidak dapat sewenangwenang dikarenakan telah diatur dalam kode etik guru Indonesia. Di samping guru mempunyai hak, di sisi lain guru juga mempunyai kewajiban yang harus dilaksanakan. Salah satu kewajiban guru adalah memberikan bimbingan kepada murid. (Munirah, 157: Bimbingan dalam hal ini misalnya baik memberikan ilmu dalam bentuk kognitif, afektif maupun psikomotorik. Kognitif berupa seorang guru memberikan ilmu Afektif seorang guru memberikan contoh yang baik dalam bersikap. Serta psikomotorik berupa seorang guru memberikan sebuah keterampilan untuk muridnya. Berdasarkan kedua konteks di atas, dapat diketahui bahwasanya ketika seorang guru melaksanakan kewajibannya sebagai seorang guru, maka muridnya akan Dikarenakan hasil analisis peneliti, bahwasanya antara hak dan kewajiban memiliki hubungan yang sangat erat. Dalam hal ini adalah seorang guru. Pada hakikatnya adab murid terhadap guru adalah hak seorang guru. Jikalau seorang guru melaksanakan kewajibannya, maka seorang guru layak untuk mendapatkan haknya sebagai seorang guru. Peneliti menganalisis bahwasanya ketika guru menjalankan kewajibannya dengan baik maka seorang guru juga mendapatkan haknya yaitu salah POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. Januari-Juni 2025 | 51 Muhammad Faqih Mukaddam. Hairul Hudaya: Kajian Metode Muqaran: Adab Murid terhadap Guru Menurut Imam Ghazali dan Kontekstualisasinya dengan Kode Etik Guru Indonesia satunnya dihormati muridnya. Sebaliknya, jikalau murid yang tidak hormati kepada gurunya, maka kemungkinan ada sebagian kewajiban guru yang belum terlaksanakan. Simpulan Berdasarkan hasil analisis peneliti menyimpulkan bahwasanya terkait hubungan antara adab murid terhadap guru menurut Imam Ghazali dengan kode etik guru Indonesia yaitu didapatkan terkait hak dan kewajiban guru. Pada konteks adab murid terhadap guru sebenarnya di situ terletak hak seorang guru terhadap muridnya. Kemudian pada konteks kode etik guru Indonesia terdapat sebuah kewajiban seorang Dari hasil analisis kedua konteks tersebut peneliti menyimpulkan bahwasanya kedua konteks tersebut mempunyai hubungan yaitu memuat hak dan kewajiban seorang Pada hakikatnya adab murid terhadap guru adalah hak seorang guru. Jikalau seorang guru melaksanakan kewajibannya, maka seorang guru layak untuk mendapatkan haknya sebagai seorang guru. Peneliti menganalisis bahwasanya ketika guru menjalankan kewajibannya dengan baik maka seorang guru juga mendapatkan haknya yaitu salah satunnya dihormati muridnya. Sebaliknya, jikalau murid yang tidak hormati kepada gurunya, maka kemungkinan ada sebagian kewajiban guru yang belum Berkaca dari hasil temuan, peneliti memberikan saran kepada seorang guru agar selalu memperhatikan kewajibannya sebelum berpikir untuk mendapatkan hak. Hal ini berdasarkan analisis penulis bahwasanya hak dan kewajiban saling mempengaruhi. Jakalau seorang guru melaksanakan kewajibannya maka akan mendapatkan haknya yaitu salah satunya dihormati muridnya. Sebaliknya, jikalau ada murid yang tidak hormat kepada gurunya ada kemungkinan kewajiban yang belum terlaksana oleh seorang guru. Referensi