Ulum Janah1. Anna Anganita Theresia Latumeten2 Kompetensi Universitas Balikpapan IDENTITAS KESULTANAN KUTAI KARTANEGARA MELALUI SIMBOL UKIRAN TAMBAK KARANG Ulum Janah1. Anna Anganita Theresia Latumeten2 Universitas Balikpapan1,2 pos-el: ulum. jannah@uniba-bpn. id1, anna@uniba-bpn. ABSTRAK Tambak karang adalah sebuah seni ukir milik masyarakat Kutai, khususnya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Seni ukir ini memiliki keunikan tersendiri karena mengambil kisah kelahiran Putri Karang Melenu, sosok ibu yang melahirkan Raja-Raja Kutai berikutnya. Tambak karang menjadi objek kajian semiotik pada penelitian ini dengan memanfaatkan semiotika Charles Sander Pierce. Melalui metode kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan simbol dalam tambak karang sebagai salah satu simbol identitas Kesultanan Kutai Kartanegara. Penelitian dilakukan dengan menggunakan prosedur penelitian lapangan di mana peneliti langsung datang mengamati pada saat acara Erau Tenggarong berlangsung, khususnya pada saat ritual beluluh sultan dan ritual pelas. Hal itu dikarenakan tambak karang banyak dibuat pada saat ritual-ritual tersebut. Peneliti mengumpulkan data-data berkenaan tambak karang serta melakukan wawancara kepada pemangku adat sakral kesultanan yang mengetahui tentang makna pembuatan tambak karang, selain itu dokumentasi berupa gambar-gambar tambak karang dibuat melalui foto-foto untuk memperjelas proses analisis serta dokumentasi literatur tentang silsilah Kutai juga menjadi tambahan data dalam penelitian ini. Hasilnya pertama menunjukkan bentukbentuk ukiran yang terdapat di dalam tambak karang dan kedua menunjukkan makna simbol yang dapat mengungkap identitas Kesultanan Kutai. Kartanegara. Kata kunci: Tambak Karang. Identitas. Simbol. Kesultanan Kutai Kartanegara. ABSTRACT Tambak karang is one of the carving art owned by the Kutai community, especially the Kutai Kartanegara Ing Martadipura Sultanate. This carving art has its own uniqueness because it takes the story of the birth of Princess Karang Melenu, the mother who gave birth to the next Kings of Kutai. Tambak Karang becomes the object of semiotic study in this study by utilizing Charles Sander Pierce's semiotics. Through qualitative methods, this study aims to show the symbols in tambak karang as one of the symbols of the identity of the Kutai Kartanegara Sultanate. The study was conducted using field research procedures where researchers directly came to observe during the Erau Tenggarong event, especially during the sultan's belulu ritual and the pelas This is because tambak karang are often made during these rituals. Researchers collected data regarding tambak karang and conducted interviews with sacred customary leaders of the sultanate who knew about the meaning of making tambak karang, in addition, documentation in the form of pictures of coral ponds was made through photographs to clarify the analysis process and documentation of literature on the Kutai genealogy also became additional data in this study. The first result shows the forms of carvings found in the tambak karang and secondly shows the meaning of symbols that can reveal the identity of the Kutai Kartanegara Sultanate. Keywords: Tambak Karang. Identity. Symbol. Kesultanan Kutai Kartanegara. PENDAHULUAN Identitas diperlukan untuk memperkenalkan jati diri pada khalayak. Hal ini tidak hanya Vol. No. Juni 2025 sebatas perkenalan umum semata, lebih dari itu identitas menjadi sebuah eksistensi bagi masyarakat itu sendiri. Harkat dan martabat masyarakat dapat Ulum Janah1. Anna Anganita Theresia Latumeten2 Kompetensi Universitas Balikpapan diakui melalui salah satunya dengan adanya identitas tersebut. Penelitian sebelumnya mengenai identitas budaya juga pernah diteliti oleh Dewi dan Hanneman tahun 2005 dengan mengangkat judul AuIdentitas sebagai dinamika sosial dari sudut pandang Stuart Hall: Studi Kasus Kelompok Etnis Cina Pasar Baru JakartaAy . Hasilnya terdapat hubungan dinamika identitas orang Cina Pasar baru dan munculnya masyarakat dalam sebuah konteks dunia yang terus berubah. Selain itu. Hall masyarakat tidak dapat ditampilkan secara murni karena terjadiannya tidak kebudayaan lain. Identitas akan selalu bergerak atau dinamis dan terus berlangsung tanpa henti (Dewi & Hanneman, 2. Perbedaan dengan penelitian ini jelas pertama dari sisi objek penelitian, penelitian ini lebih condong pada ukiran tambak karang dalam ritual yang ada di Kesultanan Kutai dan kajian yang digunakan yang digunakan menggunakan semiotika Charles Sanders Pierce di mana melihat tambak karang sebagai ikon, indeks, indeks simbol. Rangkaian tambak karang salah satunya ukiran naga secara ikon menyerupai bentuk hewan secara visual berupa ular ini sejalan dengan pengertian ikon itu sendiri yaitu gambar atau bentuk yang menyerupai objek nyata yaitu bentuk ular, dan ukiran ini merupakan bentuk kesakralan pertama juga dalam tambak karang. Dari sisi indeks, tangga merupakan alat yang digunakan oleh naga untuk dapat turun dari rumah Petinggi Hulu Dusun. Hal itu sesuai menghubungkan sebab akibat nyata. Terakhir simbol kolam merupakan bentuk suatu hal yang diyakini dan disepakati oleh masyarakat sebagai tempat naga turun yaitu Sungai Mahakam, yang sejalan dengan pemahaman bahwa simbol merupakan tanda yang memiliki makna dan disepakati bersama dalam budaya Berdasarkan kedua penelitian di atas memiliki perbedaan kajian yang secara otomatis dari segi analisis juga berbeda penelitian sebelumnya menggunakan sudut pandang Stuart Hall untuk melihat sebagai dinamika sosial, sedangkan pada penelitian ini melihat dari sisi semiotika Charles Sanders Pierce Kesultanan Kutai dengan melihat tambak karang dalam rangkaian ritual yang ada pada saat Erau berlangsung. Namun, kedua penelitian ini sama-sama memiliki persamaan yaitu membahas juga identitas budaya dalam kelompok Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Stuart Hall mengenai sebagaimana sebuah produk sehingga identitas dapat dibentuk sesuai dengan dinamika sosial yang terjadi di kelompok masyarakat (Dewi & Hanneman, 2. Dinamika sosial yang terdapat dalam kelompok masyarakat juga dipengaruhi atas pengetahuan-pengetahuan dari berbagai masyarakat yang menempati wilayah tertentu dan menjadikan mereka Dalam kelompok masyarakat, identitas yang dimiliki dapat juga dilihat dari simbol-simbol budaya. satunya tambak karang dari Kesultanan Kutai Kartanegara. Tambak karang merupakan salah satu seni ukir yang digunakan pada saat acara beluluh sultan dan acara pelas di saat perayaan Ritual Erau di Kesultanan Kutai Kartanegara. Tambak karang diyakini sebagai gambaran lahirnya Putri Karang Melenu. Ibu Suri Kerajaan Kutai Kartanegara pertama kali yang menurunkan raja-raja . ang sekarang sultan setelah Islam masu. di Wilayah Kutai Kartanegara. Tambak karang secara ekspresif sebagai bentuk dari pengaruh tiruan imajinatif Vol. No. Juni 2025 Ulum Janah1. Anna Anganita Theresia Latumeten2 Kompetensi Universitas Balikpapan masyarakat adat terhadap kisah Putri Karang Melenu (Janah, 2. Tambak Karang tidak hanya sekadar menjadi sebuah karya ukir tradisional, tetapi menjadi simbol identitas keberadaan Kesultanan Kutai Kartanegara, di mana mereka terlahir dari sepasang Raja dan Ratu yang kelahirannya tidak biasa. Hal tersebut menjadi pembeda bahwa seorang pemimpin atau penguasa dilahirkan atau terlahir memiliki keistimewaan tidak seperti orang Dengan demikian, seorang pemimpin atau penguasa menjadi sosok yang perlu dijadikan contoh sehingga mereka harusnya memiliki marwah kepemimpinan dari latar belakangnya agar dapat menjadi teladan dan Keyakinan yang dipercaya tersebut masyarakat adat . Berdasarkan kebenaran konstitutif didasari keyakinan, di mana masyarakat tersebut yakin atas suatu tindakan dalam kelompoknya tanpa perlu berpikir ulang. Hal itu menjadi prinsip keyakinan atau kepercayaan karena tidak ada keraguan di dalamnya. Dalam konteks kebudayaan terdapat empat tataran yang menjadi muara kebenaran konstitutif yaitu legenda, mitos, kepercayaan lokal, dan Mitos kelahiran raja atau putri atau penguasa kerajaan yang tidak biasa, eksistensialnya oleh sebagian orang . asyarakat di wilayah kekuasaan kerajaa. karena berkaitan dengan proses adaptasi masyarakat terhadap ruang dan waktu. Keyakinan kebenaran atas eksistensi seperti itu tidak datang tiba-tiba, tetapi hasil renungan dari akumulasi pengalaman empiris, baik secara lahir . maupun batin . bahwa seorang penguasa kerajaan sebelumnya terlahir dengan berbagai peristiwa mistis yang jika dinalar memang tidak masuk akal, tetapi jika ditarik garis merah, raja atau putri tidaklah mungkin hanya orang biasa seperti manusia pada umumnya. Mereka keistimewaan yang dapat membedakan diri mereka dengan manusia biasa karena mereka dianggap sebagai sosok pemimpin dan pengayom bagi rakyat yang dipimpinnya (Thohir, 2. Tambak karang dipilih sebagai objek penelitian karena masih banyak yang tidak mengetahui tentang tambak karang, terutama masyarakat di sekitar Tenggarong, baik di Tenggarong sendiri, di Samarinda, maupun di Balikpapan. Hal tersebut sangat penting karena tambak karang yang terdapat pada acara Erau juga sebagai warisan budaya tak benda yang perlu diketahui masyarakat luas tidak hanya oleh orang-orang di Kesultanan. Bentuk-bentuk yang ada dalam tambak karang saat Erau merupakan bagian dari cerita Silsilah Kutai berupa Kelahiran Puteri Karang Melenu sehingga hal ini penting untuk dikaji lebih lanjut agar banyak orang mengetahui makna dibalik pembuatan tambak karang saat Erau berlangsung untuk menunjukkan identitas budaya dari pemilik adat. Berdasarkan pembahasan tentang tambak karang sangat menarik untuk diuraikan lebih lanjut dengan mengetahui cara kerja simbol dari tambak karang dalam menunjukkan identitas Kesultanan Kutai Kartanegara. Simbol Kesultanan Kutai Kartanegara dari tambak karang dalam tulisan ini diuraikan dalam dua hal: Pertama, identitas Kesultanan Kutai Kartanegara melalui tambak karang saat Ritual Beluluh Sultan dan kedua identitas Kesultanan Kutai Kartanegara melalui tambak karang saat Ritual Bepelas. Vol. No. Juni 2025 METODE PENELITIAN Penelitian pendekatan semiotika Charles Sander Peirce untuk mengetahui simbol-simbol mulai dari ikon, indeks, dan simbol Ulum Janah1. Anna Anganita Theresia Latumeten2 Kompetensi Universitas Balikpapan dalam tambak karang yang digunakan dalam ritual Beluluh Sultan dan ritual Bepelas yang diambil di Tenggarong saat Erau berlangsung, tepatnya di Kesultanan Kutai. Hal dilakukan untuk menunjukkan simbol dalam tambak karang sebagai salah satu simbol identitas Kesultanan Kutai Kartanegara. Melalui dua rangkaian ritual, simbol tambak karang dapat dijelaskan secara utuh dan empiris. Lebih lanjut, sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi dua yaitu primer dan sekunder. Sumber data primer berupa tambak karang pada acara Erau yang dibuat pada saat ritual Beluluh Sultan dan ritual Pelas. Sumber data sekunder berupa artikel-artikel terkait dengan Erau yang memuat tambak karang, hasil wawancara, foto-foto pembuatan tambak karang serta Kutai Teknik pengambilan data melalui foto-foto yang diambil saat pembuatan tambak karang, wawancara dengan Pembangku Adat Sakral Kesultanan Kutai, yaitu Bapak Awang Imaludin, yang memimpin jalannya ritual saat Erau dan yang mengetahui tentang pembuatan tambak karang untuk keperluan ritual Terakhir dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya berkenaan dengan Erau yang juga ada membahas tentang tambak karang di Hal tersebut dikarenakan penelitian-penelitian lain belum ada yang membahas tambak karang secara Keabsahan digunakan untuk analisis data dilakukan dengan teknik triangulasi data berupa penggunaan triangulasi teori Semiotika Charles Sanders Pierce yang dapat menjelaskan tipe-tipe tanda seperti ikon, indeks, dan simbol dalam nuansanuansa yang dapat dibedakan melalui ukiran-ukiran yang ada dalam tambak karang disertai penggunaannya pada saat ritual Beluluh Sultan dan ritual Pelas. Penggolongan hubungan kenyataan dan jenis dasar itu melihat fungsi sebagai tanda yang dapat Kesultanan Kutai yang dimaknai berdasarkan tambahan informasi dari hasil wawancara. Vol. No. Juni 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Simbol identitas Kesultanan Kutai Kartanegara salah satunya diperlihatkan dalam tambak karang, sebuah ukiran beras warna warni. Tambak karang yang dalam ritual adat baik Beluluh Sultan maupun Bepelas dihamparkan di bagian bawah balai 41 dan di bagian bawah tilam yang dilapisi kain warna kuning. Tambak karang sebagai salah satu simbol identitas Kesultanan Kutai Kartanegara kelahiran atau kemunculan Putri Karang Melenu yang tidak biasa seperti pada manusia umumnya. Kisah tersebut dijelaskan berdasarkan naskah kuno Silsilah Kutai yang telah ditransliterasi dan diterjemahkan berikut ini. Anak ular sawah yang mereka temukan tersebut diasuh layaknya seorang bayi. Seiring berjalan waktu, anak ular itu tumbuh besar dan bertransformasi menjadi naga. Perubahan ini membuat suami istri takut. Pada satu malam, mereka mendapatkan mimpi gadis cantik. Gadis itu meminta untuk dibuatkan tangga agar naga dapat keluar rumah. Tangga yang diminta itu akhirnya selesai dibuat sehingga naga dapat Ia diikuti oleh pasangan itu ke tepi sungai, lalu naga itu berenang sebanyak tujuh kali dari hulu ke hilir, ke arah Tepian Batu. Di sana, ia berkeliling melingkar sebanyak tiga kali kiri dan kanan, sebelum akhirnya menyelam. Tak lama, angin kencang, dan petir Setelah peristiwa Ulum Janah1. Anna Anganita Theresia Latumeten2 tersebut, pelangi muncul, dan buih pun berkumpul, mengisi Sungai Mahakam. Dari tumpukan buih yang tinggi, tangis bayi terdengar. Bayi itu dilapisi cahaya dan dinaungi awan serta dikelilingi Angin sepoi-sepoi, sementara hujan rintik-rintik, bunga-bunga bermekaran di tepi Bayi perempuan itu terbaring beralas gong, diangkat oleh naga dan Lembu Suana. Bayi itu bernama Putri Karang Melenu. (Sayekti, 2. Kisah Putri Karang Melenu pada kutipan di atas, dalam tambak karang dapat terlihat pada corak dasar menceritakan tentang naga yang menuju sungai dalam kisah Putri Karang Melenu. dengan ukiran naga yang terdapat di setiap sisi . , ukiran tangga sebagai penggambaran alat yang digunakan naga untuk turun ke sungai . , kolam berfungsi sebagai sungai tempat naga diturunkan . , dan ukiran gelembung yang muncul setelah naga itu diturunkan ke sungai . Terdapat pula ukiran pelangi . bahasa kutai pada sketsa . yang muncul setelah fenomena alam menggambarkan banyak bunga yang ada di pinggir sungai. apat dilihat di sketsa Semua motif itu selalu ada dalam pembuatan keseluruhan tambak karang, karena corak-corak tersebut adalah dasar penggambaran Putri Karang Melenu dalam salah satu rangkaian Beluluh Sultan. Gambar 1. Sketsa dan Foto Asli Tambak Karang Genta Vol. No. Juni 2025 Kompetensi Universitas Balikpapan Gambar 1. Sketsa Naga Ukiran merupakan bentuk kesakralan pertama Naga melambangkan kuasa yang membawa hal-hal positif dan berkah bagi manusia, terutama di kalangan masyarakat Kutai. Simbol naga dianggap sebagai hal yang religius, berfungsi sebagai penghubung antara dunia manusiawi dan dunia Ilahi. Dalam mitologi. Ilahi digambarkan sebagai dewa atau jelmaan manusia sebagai keturunannya dan berperan sebagai penguasa, dalam hal ini berkaitan dengan sosok Putri Karang Melenu yang kelahirannya dianggap gaib, sebagai titisan dewa, yang untuk zaman sekarang diwujudkan sosok penguasa kerajaan yaitu Sultan Kutai Kartanegara. Dengan lambang-lambang menimbulkan rasa hormat dan takut, namun tetap dengan tatanan dan maksud yang unik. Lambang-lambang tersebut tidak hanya memicu imajinasi para pengikutnya, tetapi juga menciptakan gambaran tentang komunikasi antara rakyat dan penguasa (Janah, 2. Gambar 1. 2 Sketsa Tangga Tempat naga melangkah turun disimbolkan dalam bentuk ukiran tangga, di saat naga turun diiringi kasih sayang orang tua angkatnya yaitu. Petinggi Hulu Dusun melepaskannya pergi ke sungai Mahakam. Tangga juga menyimbolkan alat yang kokoh dalam mencapai suatu tujuan atau keinginan dan harapan Ulum Janah1. Anna Anganita Theresia Latumeten2 Dengan demikian, sebuah tangga harus dapat menopang beban orang yang menggunakannya agar tidak patah (Janah, 2. Gambar 1. 3 Sketsa Kolam Kompetensi Universitas Balikpapan Ukiran pelangi pada tambak karang menunjukkan keindahan cahaya berasal dari matahari. Penafsiran tentang pelangi dapat dilihat sebagai sinar dari Pencipta alam semesta, yang memberi berkah seperti simbol mitologi kelahiran Putri Karang Melenu yang bercahaya dan selanjutnya yang melahirkan Raja-Raja Kutai Kartanegara serta memberikan berkah pula pada rakyat sekitarnya (Janah, 2. Gambar 1. 4 Sketsa Buih Ukiran Kolam dalam tambak karang dapat menggambarkan tiga makna. Kolam dapat berupa gambaran imajinasi sungai Mahakam, tempat naga turun. Kolam juga melambangkan sumber air serta kebutuhan hidup manusia. Terakhir, kolam menggambarkan lokasi Putri Karang Melenu membersihkan diri, saat pertama menginjakkan kaki di tanah melalui Upacara Erau (Janah, 2. Sementara itu, buih menyimbolkan menegangkan, yang merujuk pada kisah kelahiran atau kemunculan Putri Karang Melenu melalui fenomena alam yang hebat seperti angin kencang dan kilat guntur dengan suara keras. Setelah fenomena tersebut reda muncul buih di Sungai Mahakam. Ini menunjukkan bahwa kelahiran seorang penguasa sering kali disertai dengan situasi maupun peristiwa yang memacu adrenalin di sekelilingnya. Oleh karena itu dibutuhkan ketulusan dalam menanggapinya agar bisa memperoleh berkah dalam kepemimpinannya (Janah. Gambar 1. 5 Sketsa Pelangi (Ketari dalam bahasa Kuta. Vol. No. Juni 2025 Gambar 1. 6 Sketsa Taman Taman merupakan wujud imajinasi bunga-bunga yang muncul setelah peristiwa alam, saat naga tenggelam di sungai Mahakam dalam kisah Putri Karang Melenu. Hal tersebut juga menyimbolkan bahwa bunga merupakan ungkapan rasa yang tidak terkatakan sehingga menjadi sangat berarti dalam kehidupan manusia. Taman sendiri menyimbolkan tempat untuk bersantai menikmati keindahan alam (Janah. Berdasarkan uraian bagian-bagian dari tambak karang di atas, dapat dilihat simbol kelahiran atau kemunculan Putri Karang Melenu. Simbol-simbol tersebut merupakan sebuah alih wahana dari sebuah cerita Silsilah Kutai Kartanegara yaitu ratu yang menurunkan raja-raja . ekarang sulta. di Tanah Kutai. Hal tersebut untuk menunjukkan identitas dari sebuah sejarah di masa lalu yang masih kuat diyakini dan dipertahankan sampai masa sekarang. Semua itu, tidak lepas dari upaya menjaga dan melestarikan sebuah adat dan martabat suatu bangsa agar dapat dikenali dan dihargai oleh bangsa yang lain. Upaya semacam ini juga terlihat pada budaya Batak melalui rumah adat Ulum Janah1. Anna Anganita Theresia Latumeten2 Kompetensi Universitas Balikpapan Jabu Parsaktian Datu Parulas Paultop, yang dipenuhi ornamen gorga sarat Sinaga et al. menemukan bahwa bangunan tersebut memuat sepuluh jenis simbol utama yang dimaknai secara denotatif dan Melalui semiotika, ornamen-ornamen ini tidak hanya memperindah, tetapi juga merepresentasikan nilai adat, kosmologi, dan identitas komunitas lokal Ai sebagaimana halnya tambak karang Kesultanan Kutai Kartanegara. Tambak karang dalam Upacara Erau yang menyimbolkan identitas Kutai diperkuat dalam beberapa ritual sakral. Beberapa menggunakan tambak karang sebagai simbol tersebut antara lain Beluluh Sultan dan Bepelas. Kedua ritual tersebut lebih lanjut dibahas dalam tulisan ini karena secara spesifik kemunculan dari pendiri-pendiri awal . ikal bakal pendir. Kerajaan Kutai Kartanegara. pemimpin-pemimpin dalam Beluluh Sultan seperti penjelasan berikut. Balai 41 yang terbuat dari bambu kuning berfungsi sebagai singgasana sultan dalam Prosesi Beluluh Sultan. Ini menggambarkan singgasana Putri Karang Melenu yang berada di menjejakkan kaki ke bumi. Dinamakan balai 41 karena jumlah bambu yang digunakan untuk membuatnya sebanyak 41 potong. Namun, dilihat dari segi angka 41 sendiri, jika disumkan, didapati Angka ini melambangkan bahwa segala sesuatu melalui tiga fase: permulaan, perjalanan atau proses hidup, dan akhir perjalanan Selain itu, angka 3 dalam Pancasila, juga merupakan simbol persatuan, di mana isinya adalah AoPersatuan IndonesiaAo. Oleh karena itu, balai 41 melambangkan pusat bersatunya masyarakat di wilayah Kutai Kartanegara pada kegiatan upacara adat (Janah, 2. Tambak Karang pada Beluluh Sultan Simbol Kelahiran atau Kemunculan Putri Karang Melenu Dalam Erau terdapat ritual Beluluh Sultan yang memperkuat simbol dari kisah kelahiran atau kemunculan Putri Karang Melenu, ibu ratu pertama Kerajaan Kutai Kartanegara . ekarang Kesultanan Kutai Kartanegar. Beluluh Sultan juga dipahami sebagai penyucian diri sultan, di mana seorang pemimpin juga sama seperti manusia pada umumnya yang perlu ada perbaikan dalam diri sehingga dapat memimpin kerajaannya dengan baik. Pada prosesi Beluluh Sultan, tambak karang yang telah dibuat diletakkan di bagian bawah balai 41. Balai 41 berupa bambu kuning yang dibuat sedemikian rupa untuk tempat dudukan raja ataupun Vol. No. Juni 2025 Gambar 2 Balai 41 dan perlengkapanperlengkapan Beluluh Sultan (Sumber dokumen pribadi penelit. Balai 41 juga terbuat dari bambu kuning, di mana warna tersebut adalah Kerajaan melambangkan kehidupan yang makmur serta sejahtera. Dengan demikian, balai 41 tidak hanya menyimbolkan pusat terbentuknya persatuan di masyarakat Kutai Kartanegara, tetapi juga menjadi Sultan Ulum Janah1. Anna Anganita Theresia Latumeten2 Kompetensi Universitas Balikpapan diharapkan dapat membawa pada kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat dan wilayahnya (Janah, 2. Pemaknaan balai 41 dalam Beluluh Sultan juga dapat mengibaratkan simbol kemunculan Putri Karang Melenu setelah fenomena alam yang terjadi ketika naga menyelam di dalam Sungai Mahakam. Di saat itu, terlihat bayi bercahaya (Putri Karang Melenu saat bay. yang dipayungi oleh mega yang berbalut Pelangi. Bayi tersebut terbaring beralas gong yang diangkat oleh naga dan Lembu Suana, tunggangan Raja Aji Betara Agung Dewa Sakti dan permaisurinya. Putri Karang Melenu yang gerakannya sangat cepat seperti kilat, yang dipercaya secara mitolog. yang berdiri di atas batu. Gong tempat berbaring dari bayi Putri Karang Melenu ini dalam Beluluh Sultan dapat disimbolkan pada balai 41. Selain itu, rangkaian yang membawa kemunculan Putri Karang Melenu disimbolkan dari tambak karang yang berada di bawah Dengan kata lain, tambak karang menjadi representasi alur cerita kelahiran atau kemunculan Putri Karang Melenu dengan balai 41 sebagai tempat berbaringnya, yang nantinya dalam aplikasi pelaksanaan Beluluh Sultan balai tersebut diduduki oleh Sultan Kutai Kartanegara sebagai keturunannya. kemunculan Aji Batara Agung Dewa Sakti, suami dari Putri Karang Melenu. Kerajaan Kutai Kartanegara. Kisah kelahiran dan kemunculannya diceritakan pada silsilah Kutai Kartanegara ditransliterasi dan diterjemahkan berikut Di sebuah tempat Bernama Gunung Jaitan Layar, terdapat suami istri lanjut usia, bernama Petinggi Jaitan Layar dan Babu Jaitan Layar. Meski telah lama berumah tangga dan berumur tua, mereka tidak memiliki anak. Mereka memohon agar diberikan seorang anak kepada Dewata Agung. Doa mereka dikabulkan. Pada suatu malam di tengah hujan, turunlah dewa ke bumi dan membawa bayi laki-laki, lalu diberikan ke pasangan suami istri tersebut. Bayi tersebut berbedung petola, mengenakan lampin kuning, satu tangannya menggenggam telur, memengang keris emas. Aji Batra Agung Dewa Sakti disematkan sebagai namanya. (Sayekti. Tambak Karang pada Bepelas Simbol Kelahiran atau Kemunculan Aji Batara Agung Dewa Sakti Ritual Bepelas adalah upacara yang keseluruhan jiwa raga sultan, supaya kuat dalam melaksanakan tanggung jawab menjadi pemimpin selayaknya adat istiadat yang telah turun-temurun Berdasarkan adat yang terjaga. Kesultanan Kutai Kartanegara dan seluruh masyarakat sekitarnya diharapkan dapat hidup sejahtera dan damai (Janah. Rosdiana, & Indriastuty. Rangkaian ritual Bepelas juga merupakan simbol kelahiran atau Vol. No. Juni 2025 Cerita tentang kelahiran atau kemunculan Aji Batara Agung Dewa Sakti tersebut jika dilihat dari rangkaian bepelas dapat dijelaskan melalui simbol-simbol yang terdapat pada perlengkapan dan proses ritual tersebut dilaksanakan. Dari segi Tombak Sangkok Piatu milik Aji Batara Agung Dewa Sakti. Tombak pusaka tersebut digunakan untuk berburu (Rachim. Selain itu, terdapat perlengkapan lain berupa tali juwita, kain cinde, janur kuning, daun sirih, dan buah pinang diikatkan jadi satu dalam sebuah kantung kuning pada tombak tersebut. Selanjutnya, ada tapak liman yaitu selembar kasur Ulum Janah1. Anna Anganita Theresia Latumeten2 berwarna kuning dan dilapisi kain kuning bermotif merah digunakan sebagai alas untuk merebahkan Sangkok Piatu yang dinamakan Tiang Ayu pada ritual Bepelas . ihat gambar 3 dan . bawah tapak liman terdapat lukisan tambak karang sama seperti tambak karang pada waktu Beluluh Sultan. kedua sisi tiang ayu terdapat Gong Raden Galuh dan Batu Tijakan, keduanya adalah pusaka yang menjadi simbol pertama saat Putri Karang Melenu . ang masih bay. muncul dari permukaan air Mahakam. Gambar 3 Tapak Liman (Sumber dokumen pribadi penelit. Gambar 4 Tiang Ayu sebelum didirikan (Sumber dokumen reborneo. Berdasarkan perlengkapan tersebut, beberapa dapat ditarik benang merah lahirnya Aji Batara Agung Dewa Sakti. Tapak liman mengibaratkan lampin kuning yang membungkus bayi Aji Batara Agung Dewa Sakti juga kain cinde serta tali juwita mengibaratkan Vol. No. Juni 2025 Kompetensi Universitas Balikpapan bedung petola saat dibawa oleh dewa untuk diserahkan kepada Petinggi Jaitan Layar yang kala itu tidak memiliki anak. Proses ritual Bepelas sendiri juga merupakan simbol gambaran saat permohonan Petinggi Jaitan Layar untuk memiliki anak dikabulkan oleh Dewata Agung. Di mana, pelaksanaan ritual dilakukan di malam hari sesuai dengan cerita kemunculan Aji Batara Agung Dewa Sakti di muka bumi berdasarkan silsilah Kutai Kartanegara yaitu AuKetika suatu tengah malam turun hujan, dewa ke bumi mengantarkan seorang bayi putra dewa dan menyerahkannya kepada suami istri Petinggi Jaitan LayarAy. Bepelas penyatuan antara Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti dan permaisurinya. Putri Karang Melenu, ditandai dengan penggabungan tambak karang dan perlengkapan ritual Bepelas seperti tapak liman, kain cinde dan tali juwita. Keseluruhan baik tambak karang merupakan simbol kelahiran atau kemunculan pendiri Kerajaan Kutai Kartanegara pertama kali. Gambar 5 Tali Juwita dan Kain Cinde yang dipegang Sultan saat Ritual Pelas (Sumber dokumen Selain itu. Bepelas sebagai simbol tegaknya Kesultanan Kutai Kartanegara melalui pendirian tiang ayu tidak lepas dari pedoman yang merujuk pada kitab Panji Selaten dengan jumlah 39 pasal Ulum Janah1. Anna Anganita Theresia Latumeten2 Kompetensi Universitas Balikpapan dan Braja Niti berisi 164 pasal (Kutai. Dengan dikuatkannya aturan melalui simbol tiang ayu berupa senjata tombak pusaka Sangkok Piatu, hal tersebut memberikan pemahaman bahwa akar aturan tersebut harus kuat seperti pendiri sebelumnya dan harus tetap dikokohkan sehingga tidak punah tergerus perkembangan zaman. Dengan demikian, identitas dari Kesultanan Kutai dan masyarakat di sekitarnya masih dapat terus terjaga dan dikenali oleh masyarakat lain Kartanegara dalam menjaga identitas sebagai suatu kerajaan yang mendiami Wilayah Kutai dan masih memiliki marwah leluhur atas tanah Kutai di tengah perkembangan masyarakat yang dinamis berusaha mempertahankan adat budaya yang masih melekat salah satunya berupa tambak karang yang digunakan dalam ritual Beluluh Sultan dan ritual Bepelas. Kedua ritual tersebut merupakan pengingat atas kelahiran atau kemunculan pendiri Kerajaan Kutai Kartanegara pertama kali yaitu Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti dan permaisurinya. Putri Karang Melenu. Tambak karang memiliki peran lebih banyak dalam menyimbolkan kelahiran Putri Karang Melenu terutama di ritual Beluluh Sultan, sementara di ritual Bepelas tambak karang menyimbolkan penyatuan antara keduanya. Penyatuan tersebut menjadi suatu penguat dan pedoman tata aturan bagi seluruh kelompok atau masyarakat yang hidup di tanah Kutai. Dengan demikian, baik masyarakat asli ataupun pendatang diharapkan dapat ikut serta menjaga aturan yang telah ada yang masih tetap Kesultanan Kutai Kartanegara. Penelitian tentang tambak karang lebih lanjut berikutnya dapat dilakukan dengan memaknai mantra pembuatan tambak karang yang sampai sekarang peneliti masih susah untuk mendapatkannya agar dapat dilihat makna simbolik dibalik mantra saat membuat tambak karang di Kesultanan Kutai Kartanegara. Hal tersebut diharapkan dapat melengkapi penelitian tambak karang tidak hanya sebatas identitas Kesultanan Kutai Kartanegara bisa dari sisi lainnya/ KESIMPULAN Tambak karang sebagai salah satu bentuk ukiran yang menceritakan tentang kelahiran Putri Karang Melenu. Tambak karang memiliki corak Dasar di mana terdapat naga sebagai ikon dengan ukiran naga yang diletakkan di setiap sisi tambak karang. Ikon naga merupakan penggambaran hewan visual yang disakralkan pertama kali dalam kisah kelahiran Putri Karang Melenu. Ukiran tangga sebagai indeks penggambaran alat yang digunakan naga untuk turun ke Sungai Mahakam, kolam sebagai simbol kesepakatan pemaknaan tempat atau Sungai yang menjadi tempat naga Sementara itu gambar gelembung merupakan ikon riak atau semacam gelombang air yang muncul saat air dimasuki benda besar. Pelangi sebagai indeks yang muncul dikarenakan adanya fenomena alam berupa pembiasan cahaya matahari saat melewati tetesan Terakhir taman merupakan simbol yang dimaknai atas kesepakatan bersama sebagai penggambaran bunga yang muncul di pinggir sungai setelah terjadi fenomena alam. Penggunaan tambak karang dalam ritual Beluluh Sultan dan ritual Pelas menjadi identitas Kesultanan Kutai Kartanegara. Identitas suatu kelompok atau masyarakat sangat diperlukan, terutama bagi kelanjuntan berkehidupan di masa Kesultanan Kutai Vol. No. Juni 2025 DAFTAR PUSTAKA