Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index Model Cooperative Learning dan PBL pada Mata Pelajaran Ekonomi dalam Menunjang Keberhasilan Profil Pelajar Pancasila Hanif Prasetyo Wibowo1. Trisno Martono2 Universitas Sebelas Maret Surakarta. Indonesia Email: hanifpewe1@student. Abstrak Penelitian ini menjelaskan mengenai pembelajaran ekonomi dengan model Cooperative learning dan Problem Based Learning (PBL) dalam menunjang keberhasilan Profil Pelajar Pancasila di SMA N 1 Surakarta. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi proses perencanaan, dan pelaskaan pada mata pelajaran ekonomi, serta mengidentifikasi ketercapaian Profil Pelajar Pancasila dengan model PBL dan Cooperative Learning. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif. Menggunakan teknik observasi, wawancara, dan analisis dokumen untuk pengumpulan data. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perencanaan pembelajaran pada mata pelajaran ekonomi di SMA N 1 Surakarta sudah baik dan sesuai dengan tuntutan Kemdikbud. Modul ajar yang telah dibuat guru telah sesuai dengan standar komponen minimum modul ajar dari Kemdikbud. Proses pelaksanaan pembelajaran pada mata pelajaran ekonomi di SMA N 1 Surakarta sudah berjalan dengan sangat baik, dan sesuai dengan prinsip kunci penguatan Profil Pelajar Pancasila yaitu pembelajaran yang bersifat berpusat pada peserta didik dan kontekstual. Model pembelajaran yang digunakan guru fase E adalah PBL, dan fase F adalah Cooperative learning. Guru fase E adalah menggunakan metode ceramah dan role playing, dan fase F adalah ceramah, kontekstual, dan diskusi kelompok . ooperative learnin. Ketercapaian Profil Pelajar Pancasila di SMA Negeri 1 Surakarta melalui model pembelajaran Cooperative Learning dan PBL adalah bernalar kritis, gotong royong dan berkebhinekaan global, mandiri, kreatif. Profil Pelajar Pancasila di SMA Negeri 1 Surakarta diantaranya diwujudkan melalui pelaksanaan pembelajaran, projek P5, dan kegiatan tersendiri dari satuan pendidikan. Kata Kunci: Profil Pelajar Pancasila. Model Pembelajaran. Metode. Materi. Evaluasi PENDAHULUAN Dalam UU No. 20 Tahun 2003, tertulis bahwa tujuan pendidikan ialah untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia secara fisik dan intelektual sehingga mereka memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri dan lingkungan mereka dalam rangka pembangunan bangsa. Peran Pendidikan sangatlah penting bagi tiap manusia untuk dapat lebih memahami suatu ilmu, moral, etika, dan kemandirian. Peran pendidikan sangatlah penting untuk mempersiapkan serta mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, kompetitif, dan meningkatkan rasa kebersamaan kepada sesama manusia (Alpian et al. , 2. Pendidikan ada tidak dan bukan hanya untuk sekedar meningkatkan kecerdasan dan juga intelektualitas peserta didik, namun juga harus dapat membentuk karakter peserta didik itu sendiri. Pendidikan karakter merupakan salah satu metode upaya yang dapat digunakan untuk membentuk karakter peserta didik, yang merupakan upaya untuk menanamkan nilainilai karakter, yaitu pengetahuan, kesadaran, dan tindakan, dan kemudian menerapkan nilainilai ini terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan negara Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index (Omeri, 2015, hlm. Pendidikan karakter sangat memberikan dampak untuk peserta didik tidak hanya dalam jangka pendek, tetapi juga dalam jangka panjang. Pendidikan karakter sangat penting untuk manusia agar dapat menghadapi persaingan global, membangun hubungan dengan orang lain dengan baik, serta menjadi warga negara yang dapat bertanggung jawab (Omeri, 2. Dalam era globalisasi ini, tidak cukup hanya pendidikan kognitif saja yang ditekankan, namun juga pendidikan moral, dan sosial. Dalam pendidikan, karakter seseorang dapat dibangun menjadi lebih baik melalui pendidikan karakter dan pendidikan moral (Astuti et al. , 2. Menurut Revalina et al. 3, hlm. dalam penelitiannya, terdapat penurunan moral pada peserta didik dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila, yaitu nilai agama, kemanusiaan, dan persatuan. Menurut data dari APJII . konten yang diakses peserta didik jauh dari hal pendidikan, perilaku masyarakat dalam mengakses internet berdasarkan konten ialah 45,3% untuk konten video, bermain game 17,1%, dan mendengarkan musik 13,3%. Hasil Survei Integritas Peserta Didik yang dilakukan oleh Kementerian Agama menunjukan bahwa pada tahun 2020, indeks Karakter Peserta Didik (IKPD) Sekolah Menengah berada di angka 71,41. Pada tahun tahun 2021 menunjukan IKPD pada jenjang pendidikan berada pada angka 69,52. Pada tahun 2020 kurikulum mengalami perubahan kembali, menjadi Kurikulum Merdeka. Merdeka Belajar merupakan salah satu konsep dari Kurikulum Merdeka, konsep ini untuk memulihkan peserta didik dari krisis pembelajaran dan learning loss akibat pandemi COVID-19 (Suryana, et al. , 2. Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka lebih relevan dengan kebutuhan serta kondisi saat ini, selain itu pembelajaran dalam kurikulum ini juga dijalankan melalui kegiatan projek sehingga pembelajaran bersifat interaktif, hal ini memberikan kesempatan untuk siswa untuk mengeksplorasi kondisi lingkungan sekitar untuk membantu dalam mengembangkan karakter dan Profil Pelajar Pancasila (Handayani et al. Faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan Profil Pelajar Pancasila cukup banyak. Dalam penelitian yang dilakukan Sutiyono . 2, hlm. minim serta rendahnya guru akan pemahaman untuk menerjemahkan Profil Pelajar Pancasila serta rasa ingin belajar guru untuk belajar mengenai Profil Pelajar Pancasila menggunakan media internet. Menurut penelitian yang dilakukan Aryani . pelaksanaan pembelajaran menggunakan model berbasis proyek, dapat membantu untuk meningkatkan keterampilan peserta didik seperti kreatif, bekerja sama, memecahkan masalah, berkomunikasi, dan berkolaborasi, kemampuan ini sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dari Profil Pelajar Pancasila. Rudiawan . menyebutkan salah satu upaya atau usaha untuk membangun karakter Profil Pelajar Pancasila ialah dengan menggunakan model pembelajaran berbasis proyek, usaha untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila, harus dikembangkan oleh pendidik. Penelitian yang dilakukan oleh Dewi . mengatakan Project Based Learning merupakan model pembelajaran yang paling efektif dalam mengembangkan pembelajaran abad 21, dan dapat membantu dalam menunjang keberhasilan Profil Pelajar Pancasila. Penelitian (Hariyanti, et al. , 2. mengatakan bahwa penerapan (PBL) dengan dibantu Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index menggunakan media puzzle yang dilakukan di kelas X-4 SMA N Pakusari dapat membantu mewujudkan Profil Pelajar Pancasila dengan baik. Hasil observasi pra penelitian menunjukan bahwa SMA N 1 Surakarta bukan sekolah penggerak, namun model pembelajaran yang telah digunakan oleh guru bervariatif, diantaranya PBL dengan metode diskusi kelompok dimana guru menerangkan materi terlebih dahulu, selanjutnya peserta didik diberikan tugas. Dalam melakukan pembelajaran menggunakan Kurikulum Merdeka guru ekonomi di SMA Negeri 1 Surakarta tidak terdapat kesulitan, guru sering mengaitkan materi dengan kondisi sehari-hari. SMA Negeri 1 Surakarta juga telah melaksanakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. , fase E terlaksana di bulan Oktober 2023 dan untuk fase F di bulan Desember. Guru sudah menggunakan media pembelajaran yang berbasis teknologi diantaranya menggunakan Power Point, word wall, quiziz. Google form. Sebelum memulai pembelajaran guru juga melaksanakan mini quiz mengenai materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikut. Keterlibatan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran cukup partisipatif, karena guru dalam melaksanakan metode serta model yang mengharuskan siswa aktif dalam pembelajaran. Dalam penelitian ini berfokus pada model PBL dan cooperative, terdapat model pembelajaran lain yang akan diteliti yaitu model kooperatif. Penelitian ini juga mencari tahu bagaimana proses perencanaan, dan pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran tersebut menggunakan metode observasi, wawancara, dan studi dokumen. Penelitian ini juga mencari tahu mengenai bagaaimana proses asesmen sumatif membantu menunjang keberhasilan Profil Pelajar Pancasila. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, dan jenis studi kasus. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini ialah narasumber yang terdiri dari perwakilan peserta didik fase E dan fase F, guru ekonomi fase E dan fase F, serta wakil kepala sekolah bidang kurikulum, kemudian catatan hasil observasi lapangan, dan dokumen. Pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ialah menggunakan teknik purposive sampling, yaitu sampel yang digunakan ialah yang sesuai dengan kriteria kebutuhan penelitian. Adapun kriteria informan atau narasumber dari peserta didik, yaitu peserta didik dengan kelas atau jenjang fase yang sedang mendapatkkan pelajaran ekonomi dan menggunakan kurikulum Merdeka, dan peserta didik yang memiliki keunggulan/menonjol dalam salah satu indikator Profil Pelajar Pancasila. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan ialah teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Data yang telah terkumpul duji validitasnya dengan teknik uji validitas menggunakan 2 jenis teknik, yaitu teknik triangulasi sumber data dan triangulasi teknik, dimana peneliti akan mencari informasi dari sumber yang sama dengan teknik yang Teknik analisis data ini yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik menurut Miles dan Huberman, menurut (Sugiyono, 2. teknik analisis data ialah data dianalisis dengan cara interaktif dan berulang kali metode analisis data model. Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index HASIL DAN PEMBAHASAN Proses perencanaan pembelajaran ekonomi di SMA N 1 Surakarta Pada tahap analisis capaian pembelajaran (CP) yang digunakan sebagai dasar Menyusun Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), baik guru fase E atau fase F telah melaksanakan analisis CP untuk merancang TP dan ATP serta modul ajar. Pada dokumen ATP yang telah dibuat guru ekonomi fase E dan fase F terdapat komponen capaian pembelajaran dan telah sesuai dengan CP yang dirumuskan oleh Kemdikbud. Tahapan selanjutnya yang dilakukan oleh guru ekonomi dalam merencanakan pembelajaran ialah menyusun dan mengembangkan modul ajar. Dalam penelitian ini modul ajar yang digunakan ialah modul ajar dengan materi Lembaga keuangan non-bank . ntuk fase E), dan materi Perdagangan Internasional . ntuk fase F). Pada komponen identitas modul, bagian yang dicantumkan sudah sesuai dengan standar modul ajar menurut Kemdikbud, yaitu kelas, semester, dan tahun ajaran dalam modul ajar yang disusun, alokasi waktu. Dalam modul ajar guru ekonomi fase E dan fase F telah mencantumkan kompetensi awal peserta didik. Komponen Profil Pelajar Pancasila yang akan dikembangkan sudah ada dalam modul ajar yang dibuat oleh guru. Komponen ini merupakan salah satu komponen baru dalam kurikulum Merdeka yang tidak terdapat dalam modul ajar atau Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di kurikulum sebelumnya. Dalam komponen inti yang terdapat di modul ajar materi Lembaga non-bank (Fase E) dan Perdagangan Internasional (Fase F) di SMA N 1 Surakarta menunjukan terdapat tiga komponen yaitu Tujuan Pembelajaran. Kegiatan Pembelajaran, dan Rencana asesmen. Bentuk tujuan pembelajaran dalam modul ajar yang tercantum berupa pengetahuan, dan juga pemahaman peserta didik. Kegiatan pembelajaran dalam modul ajar yang telah dibuat oleh guru telah ditulis dengan langkah-langkah pembelajaran. Hal ini tertulis dalam langkahlangkah yang dimulai dari pendahuluan, kemudian kegiatan inti, dan penutup. Dalam rencana asesmen yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Rencana asesmen dapat berupa asesmen diagnostik dan juga asesmen sumatif ataupun asesmen formatif menyesuaikan dengan kebutuhan penilaian yang dilakukan. Proses pelaksanaan pembelajaran ekonomi di SMA N 1 Surakarta Dalam pelaksanaan pembelajaran tidak seluruhnya sesuai dengan modul ajar yang telah dirancang guru sebelumnya. Model pembelajaran yang digunakan guru ekonomi di kelas E8 dalam melaksanakan pembelajaran adalah PBL. Dalam pembelajaran yang dilaksanakan guru pada materi leasing . ewa gun. memberikan sebuah gambaran masalah dalam kehidupan sehari-hari pada asesmen, dan pada materi yang disampaikan. Dalam modul ajar model pembelajaran materi leasing model ajar yang digunakan adalah PBL. Penggunaan model PBL ini membuat peserta didik merasa lebih paham dan lebih mudah mengerti terkait pembelajaran yang dilakukan. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru fase E juga menggunakan model project based, untuk project based learning guru memberikan praktek jual beli dalam kelas dalam materi permintaan dan penawaran, namun untuk project based learning yang bersifat outing class guru masih belum melaksanakan, karena pertimbangan waktu dan keamanan peserta didik. Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index Model pembelajaran yang digunakan guru kelas F11 adalah cooperative learning. Dalam pembelajaran guru memberikan tugas dalam bentuk kuis yang dilaksanakan dalam bentuk kelompok, yang dimana kelompok harus menjawab pertanyaan berbentuk contoh kasus yang telah disediakan oleh guru di power point dan peserta didik berdiskusi sebelum menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Dalam modul ajar model pembelajaran materi perdagangan internasional model ajar yang digunakan adalah blended learning. Metode merupakan sebuah prosedur atau cara yang terstruktur yang dipakai dalam mencapai sebuah tujuan secara efisien, dengan urutan serta langkah-langkah yang teratur dan terstruktur (Hidayat et al. , 2. Penggunaan metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru sudah mulai bervariasi. Metode yang digunakan guru ketika melaksanakan pembelajaran adalah metode ceramah, role playing, diskusi interaktif, kontekstual, reward and punishment, serta tanya jawab. Guru ekonomi di kelas E8 dalam melaksanakan pembelajaran adalah metode ceramah, diskusi interaktif, dan role playing . ermain pera. , sedangkan guru kelas F11 menggunakan metode ceramah, kontekstual, interaktif, dan diskusi kelompok. Peserta didik setelah selesai diberikan penjelasan materi dengan metode ceramah, peserta didik diajak untuk bermain peran mengenai materi yang dijelaskan, guru meminta 23 peserta didik untuk maju, kemudian guru memberikan pengertian atau penjelasan, kemudian anak yang mendapat peran yang sesuai dengan penjelasan yang diberikan guru untuk maju ke depan. Penggunaan metode role playing dan reward and punishment dapat membantu peserta didik menjadi lebih dapat memahami materi yang disampaikan, peserta didik menjadi lebih antusias serta tertarik ketika pembelajaran, saat menggunakan metode reward and punishment peserta didik merasa lebih tertantang dan menambah motivasi untuk menjawab pertanyaan dari guru. Pada kelas F11 dalam materi perdagangan internasional guru memberikan materi singkat mengenai kurs jual dan kurs beli, serta ekspor impor serta contoh masalah kontekstual mengenai materi kepada peserta didik, kemudian guru memberikan pertanyaan interaktif mengenai contoh kasus yang pernah dirasakan oleh peserta didik. Menurut PP No. 19 Tahun 2005 dalam (Phafiandita et al. , 2022 hlm. Evaluasi pendidikan adalah bagian dari proses pendidikan yang wajib dilakukan. Evaluasi yang digunakan guru ekonomi SMA N 1 Surakarta dalam pengajaran yaitu evaluasi diagnostik, formatif dan sumatif. Dalam asesmen yang dilaksanakan guru pada fase E dan fase F, asesmen diagnostik ditanyakan di awal pembelajaran oleh peserta didik sebagai pertanyaan pemantik, kemudian asesmen formatif yang dilakukan menggunakan metode tertulis secara individu, yang dimana soal dibacakan dan didikte oleh guru kemudian peserta didik menjawab pertanyaan di kertas. Selain itu guru juga memberikan asesmen formatif yang bersifat lisan sebagai nilai keaktifan peserta didik. asesmen formatif yang dilakukan menggunakan media Google form, yang dimana soal diberikan oleh guru melalui Gform kemudian peserta didik menjawab pertanyaan di link yang telah dipersiapkan oleh guru sebelumnya. Selain itu guru juga memberikan asesmen formatif yang bersifat diskusi kelompok. Jumlah soal asesmen sumatif yang terdapat dalam Asesmen sumatif Akhir Semester ASAS sebanyak 40 soal, 35 soal berbentuk pilihan ganda dan 5 soal berbentuk essai. Jumlah soal berdasarkan tingkat kesulitan dalam ASAS ekonomi fase E dan F tidak berimbang. Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index Jumlah soal yang masuk kategori mudah (C1. dalam ASAS fase E berjumlah 24 atau 57%, kemudian yang termasuk dalam tingkat sedang berjumlah 2 (C. atau sebesar 71%, dan yang termasuk dalam kategori sulit (C4. C5. berjumlah 9 soal atau sebesar Jumlah soal yang masuk kategori mudah (C1. dalam ASAS fase F berjumlah 18 atau sebesar 51. 43%, kemudian yang termasuk dalam tingkat sedang berjumlah 1 (C. atau 86%, dan yang termasuk dalam kategori sulit (C4. C5. berjumlah 16 soal atau 71% Jumlah soal dalam (ASAS) baik fase E dan fase F soal masih didominasi oleh soal di tingkatan mudah. Proporsi jumlah soal dalam ASAS fase E dan fase F dalam mata pelajaran ekonomi dapat dilihat dalam tabel berikut: 25,71% 5,71% 68,57% Level 1 (C1,C. Level 2 (C. Level 3 (C4,C5,C. Gambar 1. Persentase level Kognitif pada Soal ASAS semester ganjil fase F Ekonomi 2023 45,71% 51,43% 2,86% Level 1 (C1,C. Level 2 (C. Level 3 (C4,C5,C. Gambar 2. Persentase level Kognitif pada Soal ASAS semester ganjil fase F Ekonomi 2023 Capaian Profil Pelajar Pancasila dalam Mata Pelajaran Ekonomi di SMA N 1 Surakarta Dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila disamping melaksanakan pelaksanaan pembelajaran, di SMA Negeri 1 Surakarta juga melaksanakan kegiatan lainnya, seperti PPKGLS (Program Pengembangan Karakter Gerakan Literasi Sekola. Dimensi Profil Pelajar Pancasila yang dirasakan oleh peserta didik kelas E8 ketika menggunakan model pembelajaran PBL adalah bernalar kritis, kreatif dan juga mandiri. Hal Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index tersebut dirasakan manfaatnya oleh peserta didik untuk kehidupan sehari-hari dan untuk jangka waktu ke depan. Dimensi Profil Pelajar Pancasila yang dirasakan oleh peserta didik kelas F11 ketika menggunakan model pembelajaran kooperatif adalah bernalar kritis, gotong royong dan juga kreatif. Peserta didik merasakan seperti saling bantu, bekerja sama dan membuat peserta didik menjadi lebih tahu cara belajar ekonomi selain membaca dan Model PBL dan cooperative learning membantu guru dalam menunjang keberhasilan Profil Pelajar Pancasila dalam mata pelajaran ekonomi pada dimensi bernalar kritis, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, dan kreatif. Penggunaan metode role playing dan diskusi kelompok membantu menunjang keberhasilan Profil Pelajar Pancasila khususnya dalam dimensi bernalar kritis, mandiri, kreatif, dan bergotong royong. Penggunaan metode role playing ini membantu peserta didik fase E untuk dapat diajak langsung memahami kondisi lingkungan sekitar dalam mempelajari Metode diskusi kelompok dirasakan peserta didik saat pembelajaran antara peserta didik yang lebih paham dan belum paham untuk dapat saling membantu melalui tutor sebaya. Selain itu metode yang digunakan guru ialah kontekstual, dengan metode kontekstual guru mengajak peserta didik dapat melihat, berpikir dan mengaitkan langsung mengenai contoh kegiatan ekonomi dalam keseharian. Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS) dapat membantu mewujudkan Profil Pelajar Pancasila dengan cara menganalisa soal yang terdapat dalam soal ASAS. Dalam ASAS fase E dan fase F soal yang diberikan, tingkat berpikir di tingkat C4 . cukup banyak sehingga hal ini membuat peserta didik memerlukan nalar lebih untuk mengerjakan. Dalam ASAS peserta didik memerlukan tingkat berpikir yang tinggi sehingga dalam ASAS terdapat perwujudan nilai Profil Pelajar Pancasila khusunya dalam dimensi bernalar kritis, selain itu dimensi beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa juga ditekankan dalam soal ASAS, karena peserta didik memerlukan kejujuran untuk mengerjakan ASAS tersebut. KESIMPULAN Proses perencanaan pembelajaran ekonomi di SMA 1 Surakarta sudah berjalan baik dan sesuai dengan standar Kemdikbud. CP, dokumen ATP, modul ajar yang dibuat oleh guru telah sesuai dengan standar komponen minimum dari Kemdikbud. Model pembelajaran yang digunakan oleh guru fase E dalam melaksanakan pembelajaran adalah PBL. Model pembelajaran yang digunakan oleh guru fase F dalam menyampaikan pembelajaran ekonomi adalah cooperative learning. Pelaksanaan model pembelajaran sudah baik dan sesuai dengan prinsip kunci penguatan Profil Pelajar Pancasila Metode Pembelajaran yang digunakan oleh guru fase E ialah metode ceramah dan role playing, dan fase F ialah ceramah, kontekstual, interaktif, dan diskusi kelompok. Asesmen Pembelajaran yang dilaksanakan guru terdapat tiga jenis, yaitu asesmen diagnostik, formatif dan asesmen sumatif. Proporsi jumlah soal ASAS tidak ideal. Jumlah soal ASAS fase E dan fase F masih didominasi oleh soal yang bertingkat mudah. Model Pembelajaran PBL yang dilakukan oleh guru ekonomi atau fase E dapat membantu mewujudkan Profil Pelajar Pancasila khususnya dalam dimensi mandiri, kreatif, dan gotong royong. ASAS membantu mewujudkan Profil Pelajar Pancasila dimensi bernalar kritis, dan beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa. Jumlah soal ASAS yang memiliki tingkat C4 cukup banyak sehingga peserta didik memerlukan daya nalar lebih Kognisi: Jurnal Ilmu Keguruan ISSN . : 2987-0240 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2024 https://afeksi. id/journal3/index. php/kognisi/index untuk mengerjakan soal tersebut. Selain itu soal ASAS dapat membantu mewujudkan dimensi bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa, karena peserta didik memerlukan kejujuran untuk mengerjakan ASAS tersebut. Penelitian ini dapat menambah ilmu dan pengetahuan mengenai kondisi pembelajaran untuk menunjang keberhasilan Profil Pelajar Pancasila pada mata pelajaran ekonomi di tingkat SMA. Penelitian ini berfokus bagaimana proses perencanaan, pelaksanaan model PBL dan cooperative learning dalam mata pelajaran ekonomi di SMA N 1 Surakarta dan bagaimana dalam membantu mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya dapat meneliti di jenjang SD. SMP, atau SMK. Selain itu, sebaiknya peneliti selanjutnya dapat meneliti salah satu topik yang berfokus yang telah dibahas di atas, sehingga penelitian selanjutnya dapat menjadi penelitian yang lebih rinci. DAFTAR PUSTAKA