Moderasi : Journal of Islamic Studies | Page : 585- 602 Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | e-ISSN/p-ISSN : 2809-2872/2809-2880 Hadis dan Pergeseran Otoritas Keagamaan: Transmisi. Resepsi, dan Peran Pesantren di Era Kontemporer Faiqotul Mala1 Universitas Islam Syarifuddin Lumajang. Indonesia *Korespondensi: Faiqo. mala@gmail. Submit : 16/09/2025 | Review : 27/09/2025 s. d 13/11/2025 | Publish : 08/12/2025 Abstract Changing times have influenced the patterns of transmission, authority, and reception of hadith within Muslim societies. This article examines the dynamics of contemporary hadith studies, emphasizing the role of Islamic boarding schools . as traditional institutions that maintain the sanad . hain of transmissio. , authority, and methodology of hadith criticism. Three main findings emerge. First, the transformation of the method of hadith transmission: from the established patterns of talaqq, ijazah, and sanad in pesantren to new forms beyond the control of scholarly authority, thus posing challenges to the authentication of riwayyah . Second, the emergence of widespread community participation in quoting, interpreting, and disseminating hadith instantly without the methodology of Aoulm al-uad, which has the potential to distort understanding. Third, the contestation of authority: pesantren function as guardians of the sanad and critique of the matan . , but at the same time face challenges from non-traditional figures who gain religious legitimacy through social popularity, not scholarly authority. This study confirms that Islamic boarding schools . have a strategic position in maintaining the authenticity of hadith by integrating classical methodologiesAisanad and matan criticismAiand contextual responses to contemporary Theoretically, this research enriches the discourse on hadith studies by highlighting the relationship between authenticity, social reception, and the institutional role of Islamic boarding Practically, this article contributes to educators, researchers, and preachers in formulating hadith teaching strategies that are authentic, critical, and relevant to contemporary challenges. Keywords : Hadith. Pesantren. Religious Authority. Sanad. Transmission. Reception Of Hadith Pendahuluan Ilmu hadis . lm al-hadt. merupakan salah satu fondasi epistemik dan metodologis dalam Islam, yang menempatkan transmisi . , kritisisme perawinya . dAlah, dab. , dan tekstual . sebagai syarat mutlak agar suatu riwayat diterima sebagai otentik. Dalam konteks tradisional, proses talaqq, ijAzah, dan pengajaran langsung di (Faiqotul Mal. Hadis dan Pergeseran Otoritas Keagamaan: Transmisi. Resepsi, dan Peran Pesantren di Era Kontemporer lingkungan lembaga keilmuan Islam, termasuk pesantren, menjadi mekanisme utama pemeliharaan otoritas hadis dan kualitas sanad. Seiring dengan pergeseran pola intelektual dan akses informasi global, studi kontemporer mulai merefleksikan transformasi cara hadis AudisebarAy dan AuditerimaAy dalam masyarakat Muslim. Davidson, dalam kajian sejarah intelektualnya, menekankan bahwa warisan tradisi hadis tidak sekadar diwariskan secara mekanis, melainkan melalui institusi, jaringan ulama, dan transformasi medium intelektual dalam setiap generasi (Eido, 2. Kajian bibliometrik pada Journal of Hadith Studies dari tahun 2016Ae2024 menunjukkan diversifikasi topik dan metodologi, termasuk munculnya penelitian tentang penggunaan perangkat digital dalam verifikasi sanad, kritik teks, dan studi interdisipliner lainnya. Di wilayah Asia Tenggara dan tradisi pesantren Nusantara, pesantren secara historis menjadi pusat dan penopang pengajaran ilmu hadis melalui sistem sanad, pengajaran tatap muka . alaqq, sorogan, bandonga. , dan pemberian ijazah kepada santri. Namun, tantangan kontemporer muncul ketika komunitas Muslim mulai memperoleh akses luas ke teks hadis dan diskursus hadis melalui media digital, yang sering melewati lembaga keilmuan tradisional. Transformasi ini mengundang pertanyaan krusial: apakah pesantren masih memegang otoritas utama dalam kajian hadis? Apakah model tradisional sanad dan kritik matan masih relevan dalam konteks perubahan zaman? Dan bagaimana legitimasi keilmuan hadis dapat dipertahankan ketika muncul fenomena narasi Auhadis populerAy yang dikutip secara masif tanpa telaah Fenomena kontemporer ini bukan sekadar hipotesis: misalnya, dalam kajian AuPolitical Dynamics in the Hadith TransmissionAy. Idri Shaffat dan Arif Jamaluddin menyoroti bagaimana kepentingan politik . aik masa silam maupun masa kin. turut mempengaruhi propagasi atau penafsiran hadis tertentu, yang memungkinkan munculnya fragmen otoritas alternatif di masyarakat Muslim (Shaffat & Jamaluddin, 2. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 586 (Faiqotul Mal. Hadis dan Pergeseran Otoritas Keagamaan: Transmisi. Resepsi, dan Peran Pesantren di Era Kontemporer Selain itu, penelitian kuantitatif mutakhir seperti Social Network Analysis of Hadith Narrators (Sahih Bukhar. menggunakan analisis jaringan untuk mengidentifikasi Aunarrator hubAy dalam korpus hadis, memperlihatkan bahwa struktur transmisi hadis bersifat scale-free network, mengindikasikan ada narator yang sangat sentral dalam penyebaran hadis melalui generasi (Alam & Schneider, 2. Dalam wacana kontemporer pula muncul isu misinformasi hadis: studi AuFabricating Holiness: Religious Misinformation on Arabic Social MediaAy menjelaskan bagaimana hadisAeyang diklaim berasal dari NabiAi diproduksi dan disebarkan lewat media digital sebagai bagian dari narasi keagamaan populer, dan bagaimana upaya debunking . justru dipasok oleh komunitas akademik dan ulama yang memiliki legitimasi keilmuan (Fawzi et al. , 2. Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut dalam konteks pesantren: Bagaimanakah mekanisme transmisi hadis di lingkungan pesantren saat ini, terutama dalam menjaga sanad ijazah, validitas perawi, dan ketekunan kritik matan di tengah tantangan zaman? Apa saja tantangan kelembagaan dan epistemik yang dihadapi pesantren ketika otoritas hadis dikonkretkan bukan hanya melalui kelembagaan tradisional, tetapi juga melalui berbagai kanal publik Strategi apa yang dapat diadopsi oleh pesantren agar metodologi klasik kritik hadis tetap hidup, relevan, dan efektif dalam menjaga otentisitas riwayah di tengah keragaman resepsi masyarakat modern? Dengan menempatkan pesantren sebagai titik pertemuan antara tradisi ilmiah hadis klasik dan dinamika resepsi kontemporer, penelitian ini bertujuan memperkaya literatur studi hadis mutakhir serta menyajikan rekomendasi kelembagaan agar pesantren tetap mampu menjaga otoritas keilmuan dan relevansi metodologis dalam menghadapi tantangan zaman. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 587 (Faiqotul Mal. Hadis dan Pergeseran Otoritas Keagamaan: Transmisi. Resepsi, dan Peran Pesantren di Era Kontemporer Metodologi Penelitian menggabungkan studi kepustakaan . ibrary researc. dan studi lapangan . ield researc. melalui wawancara mendalam. Pemilihan desain ini dimaksudkan untuk menghasilkan pemahaman komprehensif mengenai transmisi, resepsi, dan otoritas hadis dengan menautkan dua ranah sekaligus: kerangka konseptual yang bersumber dari literatur klasik dan kontemporer serta pengalaman empiris para santri pesantren dalam mengamalkan tradisi keilmuan hadis. Sumber data utama dalam penelitian ini meliputi karya-karya otoritatif dalam disiplin hadis klasik seperti Shahih al-BukhAr dan Shahih Muslim, yang dijadikan fondasi dalam menilai standar otentisitas riwayat. samping itu, penelitian juga menelaah artikel-artikel mutakhir guna mengaitkan diskursus global dengan praktik lokal pesantren. Sumber data lain diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan santri senior dari pesantren yang memiliki tradisi pengajaran hadis, khususnya mereka yang mengikuti pengajian intensif seperti Shahih al-Bukhari dan ArbaAoin Nawawi Pengumpulan data dilakukan melalui dua jalur. Pertama, studi kepustakaan difokuskan pada penelusuran konsep otoritas, sanad, dan kritik matan dalam literatur hadis klasik serta diskursus akademik Kedua, wawancara lapangan dipakai untuk menggali pengalaman empiris para santri mengenai praktik talaqq, penerimaan sanad, dan persepsi mereka terhadap tantangan otoritas hadis di era Wawancara semi-terstruktur dipilih untuk memberikan ruang eksplorasi yang lebih luas, sehingga narasumber dapat mengartikulasikan pengalaman dan pandangan mereka secara bebas, sementara peneliti tetap dapat menjaga fokus sesuai dengan tema penelitian. Data yang diperoleh dianalisis melalui proses reduksi, penyajian, dan verifikasi. Reduksi data dilakukan dengan menyaring informasi yang Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 588 (Faiqotul Mal. Hadis dan Pergeseran Otoritas Keagamaan: Transmisi. Resepsi, dan Peran Pesantren di Era Kontemporer relevan dengan tema utama penelitian, yakni transmisi, resepsi, dan otoritas hadis. Hasil dan Pembahasan Tinjauan pustaka mengenai otoritas ilmu hadis memperlihatkan adanya perkembangan wacana dari kerangka klasik menuju perdebatan Dalam disiplin ulm al-uadth, otoritas riwayah pada masa klasik dibangun melalui proses verifikasi yang berlapis, mencakup keadilan dan ketelitian perawi . dAlahAesa. , kesinambungan sanad . ttiAl alisnA. , serta konsistensi isi matan. Namun, perdebatan modern tidak lagi berhenti pada persoalan apa yang dianggap sahih, melainkan berkembang ke arah bagaimana otoritas berpindah antar-generasi, institusi, hingga Kajian dalam Journal of Islamic Studies (Oxfor. menunjukkan pergeseran perhatian dari sekadar kritik tekstual ke analisis jaringan transmisi, dengan menyoroti peran Autraditionist hubsAy dan pola berulang sosial-naratif keberlangsungan hadis (Eido, 2. Selanjutnya, dimensi transmisi dan resepsi juga mengalami perluasan perspektif. Literatur akademik terkini memperlihatkan bagaimana teks hadis ketika berada di luar habitat klasiknya, seperti dalam konteks diaspora Muslim, mengalami bentuk adaptasi baru. Studi di Oxford Journal of Law and Religion mengungkap bahwa otoritas yang semula terbangun melalui pola transmisi eksplisit dapat bertransformasi menjadi Auadaptasi tenangAy yang dijalankan oleh komunitas melalui praktik dan peran aktor Dengan demikian, otoritas hadis tidak terputus, melainkan mempertahankan kesinambungan metodologisnya (Elgvin, 2. Dalam konteks Asia Tenggara, pesantren memiliki posisi penting sebagai institusi otoritatif dalam transmisi hadis. Studia Islamika secara konsisten menempatkan kajian keislaman Indonesia, termasuk jaringan ulama, kurikulum kitab, serta tradisi institusional pesantren, ke dalam Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 589 (Faiqotul Mal. Hadis dan Pergeseran Otoritas Keagamaan: Transmisi. Resepsi, dan Peran Pesantren di Era Kontemporer percakapan akademik global. Pesantren diposisikan sebagai AumesinAy pemelihara sanad, ijAzah, dan tradisi talaqq yang menopang otoritas hadis. Selain itu, kajian historis-antropologis dalam Modern Asian Studies (Cambridg. memperlihatkan pesantren sebagai simpul dalam ekologi kelembagaan Islam Asia modern, tempat terbentuknya habitus keilmuan sekaligus jalur distribusi otoritas keagamaan melalui kurikulum, patronase, dan jaringan alumni. Walaupun tidak selalu berfokus pada hadis, pendekatan kelembagaan ini membantu memahami peran pesantren sebagai produsen otoritas keagamaan. Pergeseran otoritas di era informasi turut menjadi pserhatian Literasi keagamaan kini berhadapan dengan arus distribusi wacana keagamaan melalui media sosial, yang mempercepat sirkulasi dan membuka ruang bagi misinformasi. Kajian dalam Social Media Society (SAGE) menunjukkan bahwa otoritas keilmuan tradisional sering kali bersaing dengan popularitas dan logika viralitas platform digital. Implikasi bagi studi hadis cukup serius, karena metode verifikasi sanad dan matan berhadapan dengan arsitektur distribusi informasi yang cenderung Oleh karena itu, pendidikan publik dan peran institusi seperti pesantren menjadi semakin mendesak untuk menegakkan fungsi sebagai filter epistemic (Al-Zaman, 2. Ranah keilmuan yang menjadi rujukan bagi studi otoritas hadis tidak terbatas pada Journal of Islamic Studies. Studia Islamika, dan Modern Asian Studies saja. Jurnal lain seperti Die Welt des Islams (Bril. juga memberikan kontribusi penting, terutama melalui pendekatan sejarahsosial Islam modern. Meskipun tidak seluruhnya berfokus pada hadis, menganalisis konfigurasi ulang otoritas pengetahuan agama dalam konteks modern dan kontemporer. Dengan demikian, tinjauan pustaka ini menegaskan adanya kesinambungan sekaligus transformasi dalam kajian otoritas hadis, baik dalam aspek klasik, kelembagaan, maupun tantangan era digital. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 590 (Faiqotul Mal. Hadis dan Pergeseran Otoritas Keagamaan: Transmisi. Resepsi, dan Peran Pesantren di Era Kontemporer Literatur yang telah dikaji di atas memperlihatkan adanya tiga poros argumentatif yang berhubungan langsung dengan tema penelitian ini. Pertama, poros transmisi-jaringan menunjukkan bahwa otoritas hadis mengalir melalui struktur jaringan yang dapat dipetakan secara sosialhistoris, sebagaimana ditegaskan dalam Journal of Islamic Studies. Namun, kelembagaan pesantren kontemporer masih relatif terbatas. Kedua, poros institusi-adaptasi menjelaskan melalui kerangka Auadaptasi tenangAy . uiet adaptatio. bahwa otoritas tekstual dapat bertransformasi ketika berpindah ke konteks sosial yang berbeda. Meski demikian, masih kurang dieksplorasi mengendurkan standar sanad maupun ketatnya kritik matan. Ketiga, poros resepsi-misinformasi menegaskan relevansi bukti tentang peredaran misinformasi agama di media sosial terhadap tantangan resepsi hadis. Celah penelitian yang muncul adalah bagaimana menemukan mekanisme kurikuler dan kuratorial yang efektif dari perspektif ilmu hadis untuk memitigasi distorsi tersebut, serta bagaimana mekanisme itu dapat diinstitusikan secara sistemik di pesantren. Dengan kerangka tersebut di atas, penelitian ini memposisikan diri untuk memetakan mekanisme transmisi dan verifikasi hadis yang dijalankan pesantren masa kini, meliputi praktik talaqq, sanad, ijAzah, dan kritik matan, dalam perspektif networked authority. Penelitian ini juga diarahkan untuk menilai strategi adaptasi kelembagaan pesantren dalam menjaga efektivitas otoritas sanad di tengah ekologi pengetahuan yang Lebih jauh, penelitian ini bertujuan merumuskan model penguatan literasi hadis yang berbasis metode klasik, namun tetap peka dan responsif terhadap pola resepsi kontemporer. Mekanisme Transmisi Hadis di Lingkungan Pesantren Analisis data lapangan dari wawancara para santri senior di pesantren menunjukkan bahwa transmisi hadis dalam konteks pesantren saat ini masih sangat menekankan prinsip-prinsip dasar sanad dan ijAzah. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 591 (Faiqotul Mal. Hadis dan Pergeseran Otoritas Keagamaan: Transmisi. Resepsi, dan Peran Pesantren di Era Kontemporer meskipun harus berhadapan dengan dinamika eksternal . eknologi, akses alternatif, dan tekanan resepsi publi. Santri mengungkap bahwa proses talaqqAipengajaran langsung guru kepada murid dalam forum formalAi masih menjadi inti mekanisme pengajaran hadis, terutama untuk kitab-kitab klasik seperti auu al-BukhAr. ArbaAon Nawaw, atau Bulugh al-MarAm. Dalam praktiknya, santri hadir secara langsung di majelis pengajian untuk mendengarkan pembacaan dan penjelasan sanad dan matan, kemudian secara bergantian mengulang kembali bacaan . urajaAoa. di hadapan guru, hingga diberi ijAzah sanad apabila dinilai telah memenuhi syarat keadilan dan ketelitian oleh guru. Namun, dari wawancara terungkap pula bahwa beberapa pesantren telah mengadaptasi mekanisme pengajaran ini dengan metode tambahan, seperti pengajian kelompok kecil . iskusi santri per kelompo. dan monitoring silang antar santri untuk memastikan konsistensi bacaan Strategi ini tampak sebagai respons terhadap keterbatasan kapasitas guru tunggal dalam memantau setiap santri secara penuh. Dalam banyak kasus, santri menyatakan bahwa guru hadis menuntut agar mereka membawa Aokitab kecilAo . yaru atau catatan sana. ketika mengikuti majelis talaqq, sehingga bacaan sanad menjadi terekam secara kolektif dan dapat dicek ulang oleh pengawas internal pesantren. Dari sisi verifikasi perawi . dAlah dan sa. , pesantren umumnya mengajarkan kaidah klasik: santri diharuskan memahami biografi perawi dalam buku TabaqAt dan rijAl serta kriteria kritik sanad dan matan. Dalam wawancara, mereka menyebut bahwa guru tidak hanya memeriksa apakah sanad terhubung . secara formal dalam rantai nama, tetapi juga meminta santri untuk menjelaskan karakteristik perawi Ai misalnya kejujuran, jumlah hafalan, reputasi ulama ulama terdahulu Ai sebagai bagian dari proses moderasi internal terhadap sanad. Hal ini menunjukkan bahwa pesantren berusaha menjaga standar klasik dalam otoritas sanad agar tidak sekadar formalitas nama-nama. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 592 (Faiqotul Mal. Hadis dan Pergeseran Otoritas Keagamaan: Transmisi. Resepsi, dan Peran Pesantren di Era Kontemporer Dari aspek kritik matan, wawancara mengungkap bahwa diskusi matan . nalisis redaksi, sinkronisasi konteks, kemungkinan imkAn tadls atau kedekatan narato. tetap diajarkan, meskipun intensitasnya bervariasi antar pesantren. Beberapa santri menyebut bahwa ketika muncul keraguan pada suatu hadits . isalnya terdapat perbedaan lafaz, jarak waktu perawi, atau kesesuaian dengan hadis parale. , guru menyajikan diskusi perbandingan riwayat dan menyarankan santri untuk merujuk ulama klasik yang pernah membahas topik tersebut. Dalam satu pesantren, guru menetapkan bahwa santri belum boleh memperoleh ijAzah sanad untuk suatu hadis hingga diskusi matan dilakukan secara kolektif di forum khusus antara guru dan santri senior. Temuan ini selaras dengan literatur historis-transmisi hadis yang menunjukkan bahwa transmisi teks tidak pernah bersifat pasif atau sederhana mekanis: otoritas riwayah selalu melekat pada jaringan sosial, forum pengajaran, dan prosedur verifikasi (Eido, 2. Dalam kajian barubaru ini. Davidson menekankan bahwa transmisi hadis melibatkan adaptasi institusional dan kontinuitas generasi ulama dalam jaringan epistemik. Penerapan konsep jaringan dalam studi hadis juga direfleksikan dalam Social Network Analysis of Hadith Narrators from Sahih Bukhari, yang menunjukkan bahwa jaringan perawi bersifat scale-free network, artinya sebagian perawi sangat sentral dalam penyebaran hadis melalui generasi. Temuan ini relevan karena dalam konteks pesantren, guru-guru hadis yang dianggap AuhubAy epistemikAikarena reputasi sanad dan kompetensiAi menjadi pusat distribusi sanad dan mentoring santri (Alam & Schneider. Namun, tantangan muncul ketika beberapa santri memiliki akses ke versi digital hadisAitermasuk terjemahan, tafsiran, dan riwayat alternatifAiyang kadang tidak mencantumkan sanad atau melepas verifikasi metode keilmuan. Situasi ini menuntut pesantren untuk memperkuat aspek kuratorial dan mentoring agar santri tidak tergoda mengambil hadis dari sumber tak terverifikasi. Dalam wawancara, beberapa santri menyebut Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 593 (Faiqotul Mal. Hadis dan Pergeseran Otoritas Keagamaan: Transmisi. Resepsi, dan Peran Pesantren di Era Kontemporer bahwa guru kadang memberi instruksi agar mereka mencatat riwayat hanya setelah diverifikasi di majelis atau meminta klarifikasi sanad dari guru sebelum menyebarkannya secara publik. Secara kritis, hasil juga menunjukkan perbedaan antara pesantren tradisional besar dengan pesantren kecil dalam konsistensi pelaksanaan mekanisme sanad dan kritik matan. Pesantren yang memiliki sumber daya lebih . ebih banyak guru hadis, akses perpustakaan klasik, jaringan alumn. cenderung lebih disiplin dalam menerapkan standardisasi sanad dan verifikasi matan dibandingkan pesantren kecil yang lebih rentan pada Aupraktik ringanAy atau kompromi terhadap kontrol kualitas hadis. Berdasarkan data empiris dan literatur perbandingan, dapat disimpulkan bahwa mekanisme transmisi hadis di pesantren kontemporer masih mempertahankan pondasi klasik inti . alaqq, sanad, ijAzah, analisis mata. , tetapi berinovasi secara internal melalui strategi kelompok, monitoring silang, dan forum diskusi matan kolektif. Tantangan eksternalAi akses digital, distribusi hadis populer, pergeseran resepsi masyarakatAi menjadi stimulus bagi pesantren untuk memperketat kuratorial internal mereka agar sanad tetap bermakna dan otoritas hadis tidak terdegradasi. Tantangan Kelembagaan dan Epistemik Pesantren Hasil wawancara dengan para santri menunjukkan adanya kesadaran bahwa pesantren menghadapi tekanan ganda: di satu sisi mereka dituntut menjaga otentisitas sanad dan metodologi kritik matan sesuai standar klasik, sementara di sisi lain harus berhadapan dengan semakin luasnya kanal publik modern yang menyajikan hadis secara instan dan populer. Para santri mengakui bahwa fenomena ini menghadirkan ambivalensi: otoritas tradisional yang berbasis sanad dan ijAzah tetap dihormati di kalangan internal pesantren, namun di luar pesantren otoritas itu sering kali AudikalahkanAy oleh otoritas baru berbasis popularitas sosial, pengaruh media, atau retorika karismatik. Secara kelembagaan, pesantren menghadapi tantangan dalam mempertahankan legitimasi epistemik di tengah masyarakat luas. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 594 (Faiqotul Mal. Hadis dan Pergeseran Otoritas Keagamaan: Transmisi. Resepsi, dan Peran Pesantren di Era Kontemporer Beberapa santri mengungkap bahwa pengajian hadis di pesantren sering kali dianggap AuberatAy dan AulambatAy dibandingkan ceramah singkat atau konten dakwah digital yang segera dapat diakses publik. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara mekanisme transmisi ilmiah yang menuntut ketelitian dan kesabaran dengan pola konsumsi cepat masyarakat modern. Fenomena ini sejalan dengan temuan dalam Social Media Society bahwa pola komunikasi keagamaan di ruang digital sering kali dikonstruksi oleh logika algoritmik dan kecepatan distribusi, bukan oleh kedalaman otoritas epistemik (Campbell & Tsuria, 2. Di tingkat epistemik, pesantren juga menghadapi problem fragmentasi Santri menegaskan bahwa banyak hadis yang beredar di media sosial tidak melalui jalur sanad otoritatif. Bahkan, mereka menemukan hadis-hadis lemah atau palsu dipakai secara luas oleh tokoh non-tradisional yang memiliki basis pengikut besar. Dalam situasi demikian, pesantren menghadapi dilema: apakah harus lebih proaktif masuk ke ruang publik untuk meluruskan pemahaman, atau tetap menjaga eksklusivitas metodologi sanad dengan risiko dianggap tertinggal. Kajian dalam Journal of Islamic Studies menyoroti fenomena serupa dengan istilah Aushifting religious authorityAy, yakni pergeseran otoritas agama dari lembaga formal ke aktor-aktor baru yang memperoleh legitimasi melalui akses publik dan media (Eido, 2. Selain itu, terdapat pula tantangan terkait kurikulum dan sumber daya Pesantren besar dengan tradisi kuat . isalnya yang memiliki sanad panjang dalam pengajaran auu al-BukhA. relatif mampu menjaga kesinambungan otoritas ilmiah, sedangkan pesantren kecil sering kali tidak memiliki cukup guru hadis bersanad, perpustakaan klasik yang lengkap, atau akses ke forum akademik internasional. Hal ini memperkuat temuan dalam Studia Islamika yang menekankan pentingnya jaringan ulama dan kelembagaan pesantren dalam menjaga kesinambungan transmisi ilmu agama, termasuk hadis (Fathurahman, 2. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 595 (Faiqotul Mal. Hadis dan Pergeseran Otoritas Keagamaan: Transmisi. Resepsi, dan Peran Pesantren di Era Kontemporer Kelemahan struktural ini diperparah oleh fakta bahwa otoritas hadis kini bukan hanya ditentukan oleh ijazah sanad, tetapi juga oleh kemampuan untuk hadir publik kontemporer. Kajian Woodword menegaskan bahwa lembaga tradisional Islam di Asia modern tidak bisa lagi semata-mata mengandalkan legitimasi genealogis, melainkan harus mampu bernegosiasi dengan dinamika sosial, politik, dan teknologi yang mengubah lanskap otoritas (Woodward, 1. Berdasarkan paparan di atas, dapat digarisbawahi bahwa tantangan kelembagaan pesantren hari ini terletak pada tiga dimensi: pertama, tekanan eksternal dari logika distribusi publik modern yang menuntut kecepatan dan kesederhanaan pesan. kedua, fragmentasi otoritas akibat non-tradisional keagamaan tanpa mekanisme sanad. ketiga, keterbatasan internal pesantren kecil yang sulit mempertahankan tradisi sanad secara utuh karena minimnya sumber daya. Tantangan ini menunjukkan bahwa pesantren berada dalam posisi krusial: jika tidak mampu menjembatani antara otoritas klasik dan dinamika publik modern, maka otoritas sanad hadis berpotensi terpinggirkan. Strategi Revitalisasi Pesantren dalam Menjaga Otoritas Hadis Data mengembangkan sejumlah strategi revitalisasi agar metodologi klasik dalam ilmu hadis tidak hanya bertahan sebagai warisan intelektual, tetapi Santri menekankan bahwa inti strategi pesantren adalah tetap mempertahankan talaqq, sanad, dan ijazah sebagai instrumen utama transmisi, namun dengan beberapa inovasi adaptif agar tidak kehilangan daya tarik di hadapan generasi baru. Salah satu strategi utama adalah integrasi metode klasik dengan Beberapa mengombinasikan pembacaan kitab hadis klasik secara bandongan dengan penggunaan perangkat digital sederhana, seperti penyediaan Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 596 (Faiqotul Mal. Hadis dan Pergeseran Otoritas Keagamaan: Transmisi. Resepsi, dan Peran Pesantren di Era Kontemporer catatan sanad dalam format PDF yang dapat diakses ulang oleh santri. Hal ini memperluas akses tanpa mengurangi nilai talaqq langsung dengan Santri yang diwawancarai menyebut bahwa strategi ini membantu mereka melakukan murajaAoah lebih efisien sekaligus menjaga akurasi Strategi kedua adalah penguatan kurikulum kritik sanad dan matan. Guru hadis di pesantren menekankan pentingnya pembelajaran ilmu rijAl, jaru wa taAodl, serta kaidah kritik matan yang dikontekstualkan dengan problematika Misalnya, dalam diskusi tentang hadis-hadis populer yang beredar di media sosial, guru mendorong santri untuk menguji hadis Pendekatan ini sejalan dengan temuan Campbell & Tsuria bahwa misinformasi agama sering beredar tanpa filter epistemik. pesantren, melalui revitalisasi kurikulum kritik hadis, berpotensi menjadi filter akademik dan keagamaan yang efektif (Campbell & Tsuria, 2. Strategi ketiga adalah perluasan peran pesantren ke ruang publik akademik dan digital. Beberapa pesantren besar sudah mulai menginisiasi penerbitan jurnal ilmiah internal atau kolaborasi dengan lembaga akademik universitas untuk mengartikulasikan metodologi sanad dan kritik matan ke dalam bahasa akademik modern. Bahkan, sejumlah kiai dan guru hadis mulai menulis di jurnal bereputasi atau aktif di forum diskusi akademik Temuan ini sejalan dengan argumen Feener dalam Modern Asian Studies yang menekankan bahwa lembaga Islam tradisional di Asia hanya dapat mempertahankan otoritasnya jika mampu bernegosiasi dengan dinamika global dan artikulasi akademik modern. Strategi keempat adalah rekontekstualisasi sanad dalam pendidikan publik. Pesantren tidak hanya menekankan sanad sebagai rantai nama, tetapi juga sebagai simbol continuity of knowledge dan akuntabilitas keilmuan. Santri yang diwawancarai menyebut bahwa guru mereka menekankan makna sanad bukan hanya pada aspek teknis transmisi, melainkan juga pada nilai moral: sanad dipandang sebagai mekanisme menjaga kejujuran, disiplin. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 597 (Faiqotul Mal. Hadis dan Pergeseran Otoritas Keagamaan: Transmisi. Resepsi, dan Peran Pesantren di Era Kontemporer dan tanggung jawab intelektual. Pendekatan ini sejalan dengan literatur dalam Journal of Islamic Studies yang menyoroti pergeseran otoritas keagamaan sebagai sebuah proses sosial di mana legitimasi tidak hanya ditentukan oleh teks, tetapi juga oleh praktik etis komunitas ilmiah. Strategi terakhir adalah penguatan jaringan ulama pesantren lintas generasi dan wilayah. Pesantren menjaga relevansi dengan memperluas jaringan sanad, mengundang guru tamu, serta melakukan kolaborasi antarpesantren. Jaringan ini memungkinkan transfer otoritas hadis tetap terjaga meskipun menghadapi tantangan otoritas populer di luar pesantren. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi revitalisasi pesantren tidak diarahkan pada kompromi epistemik, melainkan pada adaptasi format dan ekspresi. Pesantren tetap mempertahankan mengembangkan medium baru, kurikulum kontekstual, serta peran publik akademik agar otoritas hadis tetap hidup dan bermakna di tengah ekologi pengetahuan modern. Dengan demikian, pesantren tidak hanya berfungsi mengartikulasikan kembali keilmuan hadis dalam horizon kontemporer. Kesimpulan Penelitian ini menegaskan bahwa pesantren masih berperan sebagai pusat penting dalam menjaga kesinambungan transmisi hadis melalui mekanisme talaqq, sanad, dan ijAzah yang telah menjadi tradisi sejak berabad-abad. Akan tetapi, otoritas keilmuan yang terbangun dari sanad tidak lagi berdiri sendiri dalam lanskap keagamaan kontemporer. Kehadiran figur-figur non-tradisional, derasnya arus informasi digital, serta logika distribusi media yang mementingkan popularitas telah menimbulkan kontestasi otoritas yang tidak dapat diabaikan. Pesantren menghadapi tantangan besar: bagaimana mempertahankan legitimasi ilmiah hadis di tengah masyarakat yang semakin terbiasa dengan cara-cara instan dalam mengakses pengetahuan agama. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 598 (Faiqotul Mal. Hadis dan Pergeseran Otoritas Keagamaan: Transmisi. Resepsi, dan Peran Pesantren di Era Kontemporer Dalam menghadapi realitas ini, pesantren tidak tinggal diam. Strategi revitalisasi terus dilakukan, antara lain dengan memperkuat kurikulum ilmu hadis yang berbasis kritik sanad dan matan, mengajarkan kembali makna sanad sebagai simbol integritas ilmiah sekaligus moral, dan memanfaatkan perangkat digital untuk memperluas akses santri terhadap materi tanpa mengurangi esensi talaqq bersama guru. Beberapa pesantren bahkan mulai melangkah lebih jauh dengan memasuki ruang akademik modern melalui penerbitan ilmiah dan forum internasional, sehingga metodologi sanad tidak hanya menjadi warisan internal, tetapi juga artikulasi pengetahuan yang diakui dalam wacana global. Upaya-upaya ini menunjukkan bahwa pesantren berusaha tidak sekadar mempertahankan tradisi, melainkan juga menegosiasikan ulang otoritas hadis dalam konteks kontemporer yang lebih kompleks. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya literatur hadis dengan menegaskan bahwa otoritas hadis bukanlah entitas tekstual yang statis, melainkan konstruksi sosial yang bergantung pada jaringan ulama, institusi, dan medium transmisi. Hal ini memperkuat pandangan Davidson dalam Journal of Islamic Studies bahwa tradisi hadis hanya dapat dipahami melalui jaringan epistemik yang dinamis, serta sejalan dengan temuan Feener dalam Modern Asian Studies yang menyoroti pentingnya negosiasi lembaga Islam tradisional dengan modernitas. Dengan menempatkan pesantren sebagai studi kasus, penelitian ini memberikan perspektif Asia Tenggara memperluas cakrawala diskusi akademik yang selama ini lebih banyak terfokus pada Timur Tengah. Sementara itu, implikasi praktis dari penelitian ini menyentuh langsung kebutuhan dunia pendidikan dan kebijakan Islam. Pesantren perlu terus mengembangkan inovasi pedagogis yang berpijak pada metodologi klasik tetapi komunikatif dengan kebutuhan generasi santri baru. Literasi digital juga harus diintegrasikan ke dalam kurikulum ilmu hadis agar santri mampu menghadapi maraknya penyebaran hadis di ruang publik dengan Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 599 (Faiqotul Mal. Hadis dan Pergeseran Otoritas Keagamaan: Transmisi. Resepsi, dan Peran Pesantren di Era Kontemporer sikap kritis dan metodologis. Di sisi lain, pembuat kebijakan perlu memberikan dukungan lebih besar kepada pesantren dalam bentuk penyediaan sumber daya, penguatan jaringan akademik, serta fasilitasi kolaborasi internasional, sehingga pesantren dapat tetap menjadi filter epistemik yang menjaga otentisitas hadis sekaligus relevan dengan konteks Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa masa depan otoritas hadis ditentukan oleh kemampuan pesantren untuk menjaga kesinambungan sanad sekaligus mengartikulasikan ulang metodologi klasik dalam bahasa dan medium yang sesuai dengan kebutuhan Pesantren, dengan tradisi panjang dan jejaring ulama yang dimilikinya, memiliki potensi besar untuk tetap menjadi penjaga otentisitas hadis, asalkan mampu mengelola revitalisasi metodologis yang kritis, terukur, dan adaptif terhadap tantangan zaman. Referensi