Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. Edukasi Pentingnya Kesehatan Reproduksi pada Remaja SMK Kesehatan Edukasi Pentingnya Kesehatan Reproduksi pada Remaja SMK Kesehatan Binatama Yogyakarta Binatama Yogyakarta Received: 02 Desember 2025 Revised: 10 Desember 2025 Accepted: 24 Desember 2025 Nur Yeti Syarifah1. Muryani2 Prodi Keperawatan Program Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Husada Yogayakrta Prodi Pendidikan Profesi Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Husada Yogayakrta *e-mail: syarifahsyifa09@gmail. com1, muryanifarelleza@gmail. Abstract Abstract Theadolescent reproductive health health program program isis aa service service effort effort to help adolescents achieve good The of information, information, counseling counseling services, and life skills education. Theexistence advocacy institutions, institutions, education, education, and and reproductive reproductive health health consultations for adolescents is The reach,resulting resulting inin minimal minimal protection protection and and assistance to realize adolescent reproductive This Thiscommunity service aims aims toto help help the the government government improve improve the the level of reproductive health in of of TheThe is counselingthe in the counselingororin-depth in-depthdiscussions discussions on on the the problems facing of of The Theresults obtained are are based based on on aa population population of 40 adolescents from the Binatama Health Health VocationalSchool Schoolwith girls,amounting Vocational Keywords:Education. Education. Reproductive ReproductiveHealth. Health. Adolescents Adolescents Keywords: Abstrak Program kesehatan reproduksi remaja merupakan upaya pelayanan untuk membantu remaja memiliki status kesehatan reproduksi yang baik melalui pemberian informasi, pelayanan konseling dan pendidikan ketrampilan hidup. Keberadaan lembaga advokasi. Edukasi dan konsultasi kesehatan reproduksi bagi remaja yang ada saat ini masih terbatas jangkauan sehingga perlindungan serta bantuan untuk mewujudkan hak-hak reproduksi para remaja masih minim. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membantu pemerintah meningkatkan derajat kesehatan reproduksi pada remaja melalui edukasi akan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi remaja dengan metode yang kami gunakan adalah penyuluhan berupa edukasi serta konseling atau diskusi secara mendalam terhadap permasalahan yang dihadapi remaja dengan hasil yang diperoleh berdasarkan populasi sebanyak 40 remaja yang bersal dari SMK Kesehatan binatama dengan jumlah reponden terbesar pada remaja putri sebanyak 23 responden. Kata kunci: Edukasi. Kesehatan Reproduksi. Remaja PENDAHULUAN Masa remaja adalah masa dengan rentang usia berkisar 10 sampai 24 tahun dan merupakan suatu fase peralihan dari masa kanak-kanak . menuju masa dewasa . dan normal terjadi pada kehidupan manusia. Dalam periode tersebut seorang remaja akan banyak sekali mengalami perkembangan dan pertumbuhan guna mencari identitas dan jati dirinya. Berbagai perubahan akan muncul baik dari sisi psikologis, fisik . dan sosial lingkungan. Problematika kaum remaja dapat terjadi sehubungan dengan adanya perbedaan kebutuhan . dan aktualisasi dari kemampuan penyesuaian diri . remaja terhadap lingkungan tempat hidupnya dan tumbuh berkembang sebagai seorang pribadi manusia dan makhluk sosial. Masa transisi ini merupakan masa yang kritis bagi remaja, disaat muncul keinginan lepas mandiri dari ketergantungan orang tua, rasa ingin tahu yang berlebihan dan mulai rentan terhadap perilaku beresiko. Adapun salah satu perilaku yang beresiko pada remaja adalah adanya Kehamilan tidak diinginkan (KTD) yaitu suatu kondisi dimana terjadi kehamilan yang tidak diharapkan oleh kedua belah pihak maupun satu pihak Istilah Kehamilan tidak diinginkan bisa juga diartikan sebagai Kehamilan Tidak Dikehendaki (Unwanted Pregnanc. Kehamilan yang tidak dikehendaki adalah kehamilan yang terjadi karena alasan waktu yang tidak tepat atau karena kehamilan tersebut tidak diinginkan. P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Nur Yeti Syarifah. Muryani A ISSN: 1978-1520 Hasil penelitian World Health Organization (WHO) menyebutkan terdapat 19% dari 16 juta remaja berusia 15-19 tahun di seluruh dunia mengalami kehamilan tidak diinginkan pada tahun 2011. Di Indonesia angka KTD juga cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2013 diketahui bahwa dari jumlah penduduk remaja terdapat 34 juta atau 19,6% mengalami KTD dan angka seks bebas diseluruh kota besar di Indonesia melampaui angka 50%. (Emilia, et al. , 2. Hasil kajian data diwilayah Yogyakarta pada pendataan keluarga tahun 2009 jumlah anak dan remaja usia 7- 21 tahun sebanyak 66. 476 atau 21,81 % dari jumlah jiwa yang ada, hal ini menunjukkan bahwa anak dan remaja perlu mendapat perhatihan dan penanganan yang serius. Sehingga kondisi tersebut menjadi perhatian khusus bagi kita sehingga kami tertarik untuk menjadi bagian dari pemerintah Yogyakarta dalam mendukung kesehatan reproduksi pada remaja khususnya di lingkup SMA atau SMK, yang salah satunya adalah SMK Bina Tama. SMK ini berdiri sejak tahun 1979 dan memiliki jumlah siswa yang sangat banyak bahkan cenderung meningkat dari tahun ketahun, dengan jumlah peserta mayoritas perempuan, dimana kajian data survey berdasarkan wawancara dengan 5 orang siswa menyatakan bahwa sebelumnya belum pernah mendapatkan edukasi akan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, berdasarkan kondisi tersebut penulis merasa konsen untuk terlibat dalam ningkatkan derajat kesehatan remaja melalui edukasi Pentingnya Kesehatan Reprodusi pada Remaja di SMA Bina Tama Yogyakarta. METODE Penyuluhan dan Edukasi Kesehatan Reproduksi merupakan metode kegiatan yang kami lakukan pada siswa smk kesehatan binatama dengan jumlah sasaran 40 responden. Adapun tahapan pelaksanaan ini dimulai dari observasi kajian data melalui wawancara dan pengamatan secara langsung dilokasi bersama guru BK, kemudian penulis mengajukan permohonan izin untuk melakukan pengabdian masyarakat yang ditindaklanjuti dengan surat izin, setelah mendapatkan izin penulis kontrak waktu dengan guru BK dan mencari waktu yang bisa digunakan oleh kedua belah pihak, agar kegiatan ini dapat berjalan lancar tanpa mengganggu pembelajaran yang sudah terjadwal, dilaksanakan pada hari kamis 12 juni 2025, sedangkan pelaksanan kegiatan Edukasi dilaksanakan pada hari rabu 18 Juni 2025 di ruang kelas 11 yang dihadiri oleh 40 siswa. Kegiatan ini dilakukan pada saat selesai pelajaran pertama, yang dimulai dengan pre test secara lisan tentang pemahaman responden terhadap kesehatan reproduksi, dilanjutkan dengan penyampain materi 30 menit, dilanjutkan dengan Tanya jawab edukasi secara mendalam terhadap siswa yang memiliki keinginan untuk mengetahui kesehatan reproduksi secara mandalam, hal ini penulis lakukan untuk mengetahui sejauh mana keinginan remaja dalam menjaga kesehatan reproduksinya, kegiatan Tanya jawab dan eduksi terbimbing dilakukan kurang lebih 15 menit, dan diakhiri dengan penutup berupa Tanya jawab dan penyerahan hadiah kepada peserta terpilih yang telah aktif mengikuti kegiatan diskusi selama kegiatan berlangsung. Gambar 1 Kegiatan Survey wawnacara dan kontrak waktu pelaksanaan edukasi pada SMK Kesehatan Binatama Sleman Yogyakarta. P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 first_pageAeend_page Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. HASIL DAN PEMBAHASAN Menjaga kesehatan reproduksi atau kespro adalah hal yang sangat penting, terutama pada Sebab, masa remaja adalah waktu terbaik untuk membangun kebiasaan baik menjaga kebersihan, yang bisa menjadi aset dalam jangka panjang. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remaja adalah orang yang berusia 12 hingga 24 tahun. Masa remaja merupakan peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa yang artinya, masa remaja adalah proses pengenalan pengetahuan kesehatan reproduksi sebenarnya sudah dimulai pada masa ini. Secara sederhana, reproduksi berasal dari kata AureAy yang berarti kembali dan AuproduksiAy yang artinya membuat atau Pada kondisi ini remaja yang mengalami kurangnya edukasi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi nyatanya bisa memicu terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu seorang remaja membutuhkan informasi yang sesuai dengan perkembangannya, termasuk tentang seksualitas dan kaitannya dengan tubuh, komunitas, budaya, masyarakat, kesehatan mental, dan hubungan dengan keluarga, teman sebaya, dan pasangan romantis. Menurut WHO . pendidikan reproduksi dini pada remaja melalui kegiatan comprehensive sexuality education (CSE) atau pendidikan seks komprehensif sejak awal, merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan karena kegiatan ini menjadi metode yang telah terbukti secara efektif dalam meningkatkan pemahaman seksualitas dan reproduksi pada remaja. Proses ini juga termasuk pemahaman mengenai tubuh, orientasi seksual, hubungan seksual yang sehat, dan pencegahan kehamilan serta infeksi menular seksual (IMS). Adapun manfaat dari kegiatan CSE ini diantaranya. meningkatkan pengetahuan dan sikap positif remaja terhadap kesehatan reproduksi, menunda kegiatan seksual di bawah umur, mengurangi jumlah pasangan seksual, meningkatkan penggunaan kontrasepsi dan kondom saat aktif secara Metode kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh penulis ini berupa edukasi dan penyuluhan melalui ceramah, diskusi, tanya jawab dan demonstrasi. Penyuluhan atau edukasi dipercayai sebagai metode pendekatan yang paling ampuh untuk menghasilkan peningkatan kognitif remaja dan menstimulus remaja untuk memperbaiki perilaku agar tercipta tingkat kesehatan yang mandiri. Di sisi lain, edukasi seperti ini sangat penting untuk mematahkan paradigma tradisional bahwa kesehatan reproduksi remaja merupakan suatu hal yang tabu untuk didiskusikan atau di bicarakan apalagi dengan lawan jenis yang bukan pasangannya, namun bukan berarti remaja tidak membutuhkan edukasi tetapi justru remaja sangat membutuhkan ilmu dan wawasan ini agar dapat mengetahui cara menjaga kesehatan reproduksi ataupun dalam berperilaku. Hal ini sesuai dengan pemaparan Kurniawan & Maryanti . yang menyatakan bahwa walaupun tidak sedikit remaja yang telah mengenal seks, namun banyak yang menganggap bahwa obrolan seks merupakan hal yang tabu. Pemateri juga menyampaikan terkait studi empiris yang relevan bahwa dominan remaja justru tidak menanyakan kesehatan reproduksi kepada orang tuanya, melainkan kepada temannya (Nurmansyah et al. , 2. pada saat sosialisasi berlangsung, pemateri juga memberikan pertanyaan spontanitas untuk membangun komunikasi yang interaktif, terdapat dua peserta yang menjawab bahwa pengetahuan kesehatan reproduksi remaja serta penyakit-penyakit apa saja yang ditimbulkan dari organ reproduksi yang tidak sehat, serta satu peserta yang bertanya tentang cara menjaga kesehatan reproduksi remaja agar tetap mencapai kesehatan remaja yang optimal. P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Nur Yeti Syarifah. Muryani A ISSN: 1978-1520 Gambar 2 Penyampaian materi kesehatan reproduksi pada remaja Gambar 3 Diskusi dan Tanya Jawab Pentingnya Kesehatan Reproduksi pada Remaja Adapun karekteristik hasil analisa data univariat pengabdian masyarakat yang di lakukan di SMK Gama Tama Yogyakarta, adalah sebagai berikut : Tabel I Karekteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Prosentase Laki-laki Perempuan Jumlah Data sekunder terolah 2025 Berdasarkan tabel 1 karekteristik respon terbesar pada jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 23 responden . , dan terendah pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 17 responden . Usia remaja adalah masa dimana akan dimulainya proses seorang anak beranjak dewasa sehingga memiliki perubahan anggota tubuh seperti perubahan di postur tubuh. Perubahan ini dimulai sejak organ reproduksi remaja mulai matang, dan merupakan proses dimulainya masa peralihan anak menuju masa remaja. Proses atau masa transisi tersebut akan membawa sejumlah perubahan yang dapat diamati pada ketiga dimensi diantaranya: hormonal, sosial, dan kognitif, sehingga dengan adanya P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 first_pageAeend_page Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. masa transisi pada remaja yang ditandai dengan berbagai perubahan emosi, psikis, dan fisik dengan ciri khas yang unik. Pada tabel 1 karekteristik responden berdasarkan jenis kelamin terbanyak pada perempuan yaitu sebanyak 23 . 5%) responden. Hal ini menunjukkan seberapa besar antusiasme remaja dalam mengikuti kegiatan ini, selain menambah pengetahuan remaja juga dapat meningkatkan cara atau langkah-langkah dalam menjaga kesehatan reproduksinya, sebagaimana berikut ini : . Pakai handuk yang lembut, kering, bersih, dan tidak berbau atau lembab. , . Memakai celana dalam dengan bahan yang mudah menyerap keringat. Pakaian dalam (CD) diganti minimal 2 kali sehari. Pastikan area organ intim selalu dalam keadaan kering dan tidak Bagi wanita, hindari menggunakan sabun wangi, sabun sirih, deodoran, bedak, dan vaginal douche karena dapat menyebabkan kulit kelamin rentan iritasi. Bagi wanita, sesudah buang air kecil, membersihkan alat kelamin sebaiknya dilakukan dari arah depan menuju belakang agar kuman yang terdapat pada anus tidak masuk ke dalam organ reproduksi. Bagi wanita yang mulai memasuki masa menstruasi sebaiknya memperhatikan kebersihan alat reproduksi saat Pentingnya edukasi bagi remaja untuk mendapatkan informasi yang tepat tentang kesehatan reproduksi dan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi. Kesehatan Reproduksi Remaja merupakan kondisi kesehatan yang menyangkut masalah kesehatan organ reproduksi, yang kesiapannya dimulai sejak usia remaja ditandai oleh haid pertama kali pada remaja perempuan atau mimpi basah bagi remaja laki-laki. Sistem reproduksi sendiri diperlukan bagi makhluk hidup untuk menghasilkan, melindungi, serta mengangkut sel telur dan Selain itu hal yang perlu dipahami oleh remaja adalah dampak jika remaja tidak memahami perkembangan organ yang mulai bereproduksi yaitu dapat menimbulkan masalah karena kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi serta penyakit lainnya yang bisa timbul akibat kurangnya pemahaman seperti penyakit menular seksual dan infeksi seksual Tabel II Karekteristik Responden Berdasarkan Jurusan atau Peminatan Jenis Kelamin Jumlah Prosentase Keperawatan Kesehatan Masyarakat Farmasi Jumlah Data sekunder terolah 2025 Berdasarkan tabel 2 karekteristik respon terbesar pada jurusan keperawatan yaitu sebanyak 35 responden . , dan terendah pada jurusan kesehatan masyarakat sebanyak 2 responden . %). Pada tabel 2 karekteristik responden berdasarkan minat atau bakal dalam mengabil jurusan tertinggi pada remaja SMK keperawatan, disusul kemudian farmasi dan kesehatan masayarakat, hal ini membawa dampak yang baik bagi perubahan remaja, karena meraka akan mendapatkan paparan kesehatan reproduksi yang lebih banyak lagi baik melalui pendidikan formal maupun sumber lainnya seperti sumber pustaka baik yang dapat di akses melalui online maupun ofline. Kajian data yang dilakukan oleh penulis yang di akses secara online diantaranya adanya temuan data yaitu salah satu wilayah yang memiliki cakup rentan terhadap permasalahan kesehatan reproduksi remaja, berada di wilayah Yogyakarta, dimana kejadian kasus terkait kesehatan reproduksi pada tahun 2020, ditemukan sebesar 462 kasus kehamilan tidak diinginkan di luar nikah. Sebuah studi lain menyatakan bahwa faktor penyebab terjadinya seks di luar nikah yang paling sering diutarakan yaitu 57,7% remaja laki-laki memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, 38% remaja perempuan mengatakan bahwa hal tersebut terjadi tanpa direncanakan, dan 12,6% remaja perempuan mengakui bahwa adanya pemaksan hubungan seksual oleh pasangannya (SDKI, 2. Adanya kasus tersebut berkonsentris terhadap pentingnya edukasi mengenai kesehatan reproduksi bagi kalangan remaja. P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Nur Yeti Syarifah. Muryani A ISSN: 1978-1520 Pada dasarnya, pentingnya layanan kesehatan reproduksi remaja seperti Edukasi kesehatan reproduksi remaja ini adalah sebagai sebuah upaya pemberdayaan ataupun peningkatan kesejahteraan remaja. Disisi lainnya kesalahan informasi dapat menyebabkan remaja menjadi salah persepsi terhadap pengetahuan, sehingga dapat menyesatkan remaja untuk perilaku free sex, aborsi, hamil sebelum menikah dan terkena penyakit HIV. Dengan demikian melalui pendidikan kesehatan reproduksi, maka remaja akan lebih mudah mengenali dan memahami mengenai seksualitas, khususnya perilaku seks berisiko. KESIMPULAN DAN SARAN Kegiatan Edukasi Pentingnya Kesehatan Reproduksi di ikuti oleh 40 responden, dengan jumlah responden laki-laki sebanyak 17 orang dan perempuan sebanyak 23 orang Kesehatan reproduksi merupakan kondisi yang sangat penting dan bisa berdampak vital apabila tidak diperhatikan dengan baik, sehingga mempertahankan kesehatan reproduksi pada remaja perlu dukungan dan perhatian khusus bagi pemerintah khususnya tenaga kesehatan, oleh karena itu upaya lain yang bisa dilakukan program berkelanjutan adalah cara melakukan kebersihan atau personal higyne serta perawatan organ reproduksi, serta pemeriksaan kesehatan reproduksi secara berkala, hal ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman remaja agar dapat menjaga organ reproduksinya dengan sebaik-baiknya, dan terhindar dari penyakit akibat kelalaian dalam perawatan organ reproduksinya. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan Terimakasih penulis sampaikan kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan moral dan material dan tim yang terlibat dalam pelaksanan kegiatan pengabdian masyarakat ini Ketua STIKES Wira Husada Yogyakarta, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKES Wira Husada Yogyakarta, yang telah memberikan dukungan finansial program hibah pengabdian masyarakat di lingkungan STIKES Wira Husada Yogyakarta Kepala Sekolah SMK Kesehatan Binatama Yogyakarta yang telah memberikan support serta izin kepada kami dalam melaksanankan pegabdian masyarakat sehingga bisa dilaksanan dengan sangat baik dan lancar. Semua Tim Pengabdian Masyarakat dan Mahasiswa tercinta yang telah aktif turut serta dalam kegiatan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA